Pengertian Film, Sejarah, Jenis-jenis beserta Fungsi Film

Pengertian Film, Sejarah, Jenis-jenis beserta Fungsi Film

Film lahir di penghujung abad ke-19 sebagai bentuk dari perkembangan teknologi yang diciptakan oleh Thomas Alva Edison dan Lumiere Bersaudara yang kemudian disebut gambar bergerak (motion picture) alias film. Film juga semakin mengekalkan apa yang telah dilakukan manusia selama beribu-ribu tahun, yakni menyampaikan kisah, yang diceritakan tentu saja perihal kehidupan. Eric Sasono menulis, dibandingkan media lain, film memiliki kemampuan untuk meniru kenyataan sedekat mungkin dengan kenyataan sehari-hari.

Sejarah film di Indonesia ada fase-fasenya dimulai dari tahun 1900 yaitu:

  1. Fase pertama pada tahun 1900-1920, film masuk ke Indonesia. Film pada masa itu dikenal dengan nama “Gambar Hidoep” dimasa penjajahan Belanda, dan dibawa masuk oleh perdagangan
  2. Fase kedua pada tahun 1926, produksi film pertama di Indonesia. Film pertama yaitu Loetoeng Kasarung.
  3. Fase ketiga pada tahun 1955, pembentukan Festival Film Indonesia (FFI) dengan melihat perkembangan film yang semakin maju di indonesia. Karena perkembangan yang semakin maju sehingga tokoh di bidang perfilman yang dipelopori oleh Djamaludin Malik untuk menggagas dan membentuk FFI.
  4. Fase keempat pada tahun 1960-1970, kelesuan dan kebangkitan kembali perfilman Indonesia. Era 1960-an mengalami kemunduran disebabkan kondisi politik yang memanas dan membuat terbatasnya ruang gerak seniman film. Sehingga pada tahun yang sama tokoh seniman protes sehingga dikeluarkannya peraturan dari Menteri Penerangan, Budiharjo mengenai kebebasan berekspresi dalam seni.
  5. Fase kelima pada tahun 1980-1990, muncul persaingan dengan film asing dan sinerton televisi.
  6. Fase keenam pada tahun 2000-an, kebangkitan kembali perfilman Indonesia.

Pengertian Film

Pengertian Film

Film dalam pengertian sempit adalah penyajian gambar lewat layar lebar, tetapi dalam pengertian lebih luas bisa juga termasuk yag disiarkan TV. Dilihat dari sejarahnya, penemuan film sebenarnya berlangsung cukup panjang. Ini disebabkan karena film melibatkan masalah-masalah teknik yang cukup rumit, seperti masalah optik, lensa, kimia, proyektor, kamera, roll film bahkan sampai pada masalah psikologi.[1]

Film adalah gambar hidup, hasil dari seonggok seluloid yang diputar dengan mempergunakan proyektor dan ditembakkan ke layaryang dipertunjukkan di gedung bioskop. Film atau gambar hidup juga sering disebut movie. Film, secara kolektif sering disebut sinema. Gambar hidup adalah bentuk seni, bentuk populer dari hiburan, dan juga bisnis. Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda dengan kamera dan animasi.[2]

Film memiliki unsur yaitu gerak itu sendiri. Gerak intermiten proyektor, gerak yang mekanisme mengelabuhi mata manusia, memberikan kesan bergerak dari objek diam dalam seluloid. Perubahan gerak itu bisa berupa metamorfosis, dari suatu yang membentuk hasil final yang mungkin berupa interval panjang, yang akhirnya menjadi kesatuan yang utuh, antara perubahan bentuk pertama hingga akhir film akan menjadi sesuatu yang bermakna.

Sedangkan isi dari film akan berkembang kalau sarat dengan pengertian-pengertian, atau simbol-simbol, dan berasosiasikan suatu pengertian serta mempunyai konteks dengan lingkungan yang menerimanya. Film yang banyak mempergunakan simbol, tanda, dan ikon akan menantang penerimanya untuk semakin berusaha mencerna makna dan hakikat dari film itu.[3]

Jenis-jenis Film

Perkembangan film sampai saat ini mempunyai beberapa jenis, di antaranya sebagai berikut:

  • Film cerita adalah film yang di dalamnya terdapat atau dibangun dengan sebuah cerita. Film cerita mempunyai waktu penayangan yang berbeda-beda, lebih jelasnya yaitu:
  1. Film cerita pendek, film ini berdurasi dibawah 60 menit. Film cerita pendek diproduksi oleh mahasiswa perfilman dan pembuat film yang ingin melihat kualitas dari film.
  2. Film cerita panjang, yaitu film yang berdurasi lebih dari 60 menit. Bahkan ada film yang berdurasi sampai 120 menit. Film cerita dari hasil realita maupun imajinasi sangat membantu publik untuk melihat peristiwa yang sedang terjadi.
  3. Film berita adalah film mengenai fakta atau peristiwa yang benar-benar terjadi. Film berita sangat membantu publik untuk melihat peristiwa yang sedang terjadi.
  4. Film dokumenter adalah sebuah film yang menggambarkan kejadian nyata, kehidupan dari seseorang, suatu periode dalam kurun sejarah atau mungkin sebuah rekaman dari suatu cara hidup makhluk, dokumenter rangkuman perekaman fotografi berdasarkan kejadian nyata dan akurat. Menurut Onong dalam buku Komunikasi Massa, titik berat pada film dokumenter adalah fakta atau peristiwa yang terjadi. Bedanya dengan film berita adalah bahwa film berita harus mengenai sesuatu yang mempunyai nilai-nilai berita (news value) untuk dihidangkan pada penonton apa adanya dan dalam waktu yang sangat tergesa-gesa. Karena itu, mutunya sering tidak memuaskan. Sedang untuk membuat dokumenter dapat dilakukan dengan pemikiran dan perencanaan yang matang.
  5. Film kartun adalah film yang menghidupkan gambar-gambar yang telah dilukis. Terdapat tokoh dalam film kartun. Dalam pembuatan film kartun yang terpenting adalah seni lukis.[4]

Beberapa jenis film di atas merupakan perkembangan yang luar biasa dalam seni drama yang memasuki dunia perfilman yang semakin mengalami kemajuan. Film yang sarat dengan simbol-simbol, tanda-tanda, atau ikon-ikon akan cenderung menjadi film yang penuh tafsir.

Ia akan justru akan merangsang timbulnya motivasi untuk mengenal suatu inovasi. Suatu yang inovatif sifat apresiasinya juga tinggi, dengan demikian menawarkan pengetahuan yang mungkin baru atau sesuatu yang sifatnya mengingatkan kembali pada sesuatu yang pengetahuannya yang telah dikenal sebelumnya.[5]

Kebanyakan film merupakan kombinasi dari beberapa genre sekaligus kombinasi genre dalam sebuah film sering di istilahkan gendre hibrid (campuran) walapun begitu film tetap memiliki genre yang dominan. Genre juga dapat dibagi menjadi beberapa bagian khusus, seperti gendre induk primer, genre induk sekunder, serta genre khusus.

Genre Induk Primer

Genre induk primer merupakan genre-genre pokok yang telah ada dan populer sejak awal perkembagan sinema era 1900-an hingga 1930-an. Bisa kita katakan bahwa setiap film pasti mengandung setidaknya satu genre induk primer namun lazimnya sebuah film adalah kombinasi dari beberapa genre induk sekaligus. Tidak semua genre induk primer populer dan sukses dari masa ke massa.

Aksi

Film aksi berhubugan dengan adegan-adegan aksi fisik seru, menegangkan, berbahaya, nonstop dengan tempo yang cepat.Genre aksi adalah genre yang paling adaptif degan genre lainya.

Drama

Film drama umumnya berhubugan dengan tema cinta, cerita setting, karakter serta suasana yang memotret kehidupan nyata. Dan genre yang paling banyak di produksi karena jangkauan ceritanya yang sagat luas.

Epik Sejarah

Genre ini umumnya mengambil tema periode masa silam (sejarah) dengan latar sebuah kerajaan, peristiwa atau tokoh besar yang menjadi mitos, legenda atau bibilkal.

Fantasi

Film fantasi berhubugan dengan tempat, peristiwa, serta karakter yang tidak nyata.Film fantasi berhubungan dengan unsur magis, mitos, negri dongeng, imajinasi, halusinasi, serta alam mimpi.

Fiksi Ilmiah

Film fiksi ilmiah berhubugan dengan masa depan, perjalanan angkasa luar, percobaan ilmiah, penjelajahan waktu, investasi, atau kehancuran bumi. Fiksi ilmiah juga sering berhubungan dengan teknologi serta kekuatan yang berada di luar jangkauan teknologi masa kini.

Horor

Film horor memiliki tujuan utama memberikan efek rasa takut, kejutan serta teror yang mendalam bagi penontonya.Film horor umumnya mengunakan karakter-karakter antagonis non manusia yang berwujud fisik yang menyeramkan.

Komedi

Komedi adalah jenis film yang mengundang tawa bagi penontonya. Film komedi biasanya berupa drama ringan yang melebih-lebihkan aksi, situasi, bahasa, hingga karakternya.

Kriminal dan gangster

Film-film kriminal dan gangster berhubungan dengan aksi-aksi kriminal seperti, perampokan bank, pencurian pemerasan, perjudian, pembunuhan, persaingan antar kelompok, serta aksi kelompok bawah tanah yang bekerja di luar sistem hukum.

Musikal

Genre musikal adalah film yang mengkombinasi unsur musik, lagu, tari (dansa), serta gerak (koreografi).Lagu-lagu dan tarian biasanya mendominasi sepanjang film dan biasanya menyatu dengan cerita.Pengunaan musik dan lagu bersama liriknya biasanya mendukung jalanya alur cerita.

Petualangan

Film petualangan berkisah tentang perjalanan, eksplorasi, atau ekspedisi ke suatu wilayah asing yang belum pernah tersentuh.Film-film petualangan selalu meyajikan panorama alam eksotis seperti hutan rimba, pegunungan, savana, serta pulau terpencil.

Perang

Genre perang mengagkat tentang tema kengerian serta teror yang ditimbulkan oleh aksi perang.Film-film perang umumnya menampilkan adegan pertempuran seru baik di darat, laut, atau pun udara.Film-film perang biasanya memperlihatkan kegigihan, pegorbanan para tentara dalam melawan musuh-musuh mereka.

Western

Western adalah genre orisinil milik amerika.Tema film western umumnya seputar konflik antara pihak baik dan jahat. Karakter dalam genre ini adalah koboi, indian kavaleri, sheriff.

Genre induk sekunder

Genre induk sekunder adalah genre-genre besar dan populer yang merupakan pegembangan atau runtutan dari genre induk primer.Genre induk sekunder memiliki ciri-ciri karakter yang lebih kusus dibandingkan dengan genre induk primer.

Bencana

Film-film bencana (disaster) berhubungan dengan tragedi atau musibah baik sekala besar maupun kecil yang mengancam jiwa banyak manusia. Secara umum film bencana di bagi ke dalam dua jenis , bencana alam dan bencana buatan manusia. Bencana alam adalah aksi bencana yang melibatkan kekuatan alam yang merusak dalam sekala besar seperti angin topan, tornado dan sebagainya.Sedangkan bencana buatan manusia umumnya berhubugan dengan tindak kriminal atau faktor ketidak segajaan manusia seperti aksi terorisme, kebakaran gedung dan sebagainya.

Biografi

Biografi (sering diistilahkan biopic:biografy picture) secara umum merupakan pengembagan dari genre drama dan epik sejarah. Film biografi menceritakan pengalan kisah nyata atau kisah hidup seorang tokoh berpegaruh dimasa lalu maupun kini. Film biografi umumnya mengambil kisah berupa suka dan duka perjalanan hidup sang tokoh sebelum ia menjadi orang besar atau keterlibatan sang tokoh dalam sebuah peristiwa besar.

Detektif

Genre detektif merupakan pegembangan dari genre kriminal dan gangster dan lebih populer pada era klasik dari pada kini.Inti cerita umumnya berpusat pada sebuah kasus kriminal pelik yang belum terselesaikan.Alur ceritanya sulit diduga serta penuh dengan misteri.

Film Noir

Film noir yang bermakna “gelap” atau “suram” merupakan turunan dari genre kriminal dan gangster yang mulai populer pada awal dekade 1940-an hingga ahir 1950-an. Tema pada film noir selalu berhubugan dengan tindak kriminal seperti pembunuhan, pencurian serta pemerasan.

Melodrama

Melodrama merupakan pengembagan dari genre drama yang juga sering diistilahkan opera sabun atau film “ cengeng” (meguras air mata). Melo drama menggunakan cerita yang mampu menggugah emosi penontonya secara mendalam dengan dukungan unsur “melodi” (ilustrasi musik).

Olahraga

Film olahraga mengambil kisah seputar aktifitas olahraga, baik atlet, pelatih, agen maupun kompetisinya sendiri.Film olahraga biasanya diadaptasi dari kisah nyata baik biografi maupun sebuah peristiwa olahraga besar.

Perjalanan

Seperti halnya western genre perjalanan atau sering diistilahkan road film merupakan genre khas milik amerika yang sangat populer diera klasik.Film perjalanan sering bersinggungan dengan genre aksi, drama serta petualangan.

Roman

Roman seperti halnya melodrama merupakan pengembagan dari genre drama.Film roman lebih memusatkan cerita pada masalah cinta, baik kisah percintaanya sendiri maupun pencarian cinta sebagai tujuan utamanya. Tema roman pada umumnya adalah pasangan satu sama lain yang saling mencintai namun banyak ujian yang dihadapi.

Superhero

Superhero adalah sebuah genre fenomenal yang merupakan perpaduan antara genre fiksi-ilmiah, aksi, serta fantasi. Film superhero adalah kisah klasik perseteruan antara sisi baik dan sisi jahat, yakni kisah kepahlawanan sang tokoh super dalam membasmi kekuatan jahat.

Supernatural

Film supernatural berhubugan dengan makluk-makluk gaib seperti hantu, roh halus, keajaiban, serta kekuatan mental seperti membaca pikiran, masa depan, masa lalu, telekinesis, dan lainya. Film-film supernatural sangat mudah bersingungan dengan genre horor, fantasi drama dan fiksi ilmiah.

Spionase

Spionase atau agen rahasia adalah genre populer kombinasi antara genre aksi, petualagan, thriller, serta politik dengan karakter utama seorang mata-mata atau agen rahasia.Film spionase sering kali berlatar cerita periode perang dingin atau intrik internasioanal antar negara.Tema biasanya berurusan dengan senjata pemusnah masal yang dapat mengancam keamanan nasional.

Thriller

Film thriller memiliki tujuan utama memberi rasa ketegangan, penasaran, ketidakpastian serta kertakutan pada penontonya.Alur cerita film thriller sering kali bernbentuk aksi non stop, penuh misteri, kejutan, serta mampu mempertahankan intensitas ketegangan hingga klimaks filmnya.

Genre Khusus

Genre kusus jumplahnya bisa mencapai ratusan dan dapat berkombinasi dengan genre induk manapun sesuai dengan konteks cerita filmnya. Film drama misalnya dapat dipecah menjadi genre kusus berdasarkan tema cerita, seperti keluarga, anak-anak, remaja, cinta, pegadilan, politik, prostitusi, jurnalis, realigi, tragedi, hari natal, ganguan kejiwaan dan sebagainya, berdasarkan sumber cerita, genre drama bisa di pecah lagi menjadi beberapa genre kusus, seperti adaptasi literatur, kisah nyata, otobiografi, buku harian dan sebagainya.

Dari contoh tersebut tampak jelas jika satu gendre dapat berisi puluhan (bahkan ratusan) judul film. Genre sampai kapan pun akan terus berkembang secara dinamis dan tidak pernah akan berhenti sejalan dengan berkembangnya sinema.

Fungsi film

Fungsi Film

Film dengan kemampuan daya visualnya yang didukung audio yang khas, sangat efektif sebagai media hiburan dan juga sebagai media pendidikan dan penyuluhan. Film bisa diputar berulang kali pada tempat dan khalayak yang berbeda.[6]

Khalayak menonton film terutama untuk hiburan. Akan tetapi, dalam film terkandung fungsi informatif maupun edukatif, bahkan persuasif. Film dapat digunakan sebagai media edukasi untuk pembinaan generasi muda dalam rangka nation and character building.[7]

Kalau pers bersifat visual semata dan radio bersifat auditif semata, maka film dapat dijadikan media dakwah dengan kelebihannya sebagai audio visual. Keunikan film sebagai media dakwah ini antara lain:

  • Secara psikologis, penyuguhan secara hidup dan tampak yang dapat berlanjut dengan animation memiliki keunggulan daya efektifnya terhadap penonton.
  • Media film yang menyuguhkan pesan hidup dapat mengurangi keraguan yang disuguhkan, lebih mudah diingat dan mengurangi kelupaan.[8]

Walaupun beberapa orang sering berpendapat bahwa film adalah media untuk menghibur, tetapi faktanya banyak film yang menunjukkan fungsi yang lain. Pesan-pesan komunikasi massa akan dapat dikonsumsi oleh masyarakat dengan jumlah banyak, maka dalam prosesnya memerlukan media dan salah satunya adalah film.

Film mempunyai fungsi sebagai media massa memiliki kapasitas untuk membuat pesan yang sama secara serempak dan mempunyai sasaran yang beragam dari agama, etnis, status, umur, dan tempat tinggal. Hal tersebut sekaligus memerlukan komunikasi massa, untuk menyusun strategi agar pesan-pesannya dapat mencapai sasaran dengan jumlah yang besar. maka dari sini komunikasi massa mempunyai hubungan yang erat dengan film dalam penerpaan pesan pada khalayak.

Menurut Jalaluddin Rakhmat dalam buku komunikasi massa, ada lima langkah yang dibutuhkan untuk menyusun dan menyampaikan suatu pesan. Kelima hal tersebut adalah perhatian, kebutuhan, pemuasan, visualisasi, dan tindakan. Bila ingin mempengaruhi orang lain, rebut dahulu perhatiannya.

Selanjutnya, bangkitkan kebutuhannya, berikan petunjuk cara memuaskan kebutuhan tersebut, gambaran dalam pikirannya mengenai keuntungan dan kerugian yang akan diperoleh bila menerapkan pesan tersebut, dan akhirnya ia akan terdorong untuk bertindak.

Memenuhi kelima hal tersebut sangat mudah bagi media film di satu sisi dan di sisi lain media film memberikan ruang yang luas bagi kreativitas komunikator untuk tercapainya komunikasi massa yang efektif dan efisien.[9]

Sebut misalnya film The Deer Hunter dan Born on the Fourt of July, yang menunjukkan kepada kita kekejaman perang. Norm Rae, menunjukkan kepada kita bagaimana pekerja kasar sering kali diperas tenaganya. Film yang lain, seperti Rocky, menunjukkan kepada kita tentang impian Amerika yang didemonstrasikan untuk menunjukkan bahwa impian Amerika dapat menjadi kenyataan.

Seorang Public Relation dapat menggunakan kelebihan film untuk menunjang pekerjaan mereka.Dengan membuat film yang berhubungan dengan tindakan-tindakan kemanusiaan yang dilakukan oleh perusahaan atau organisasinya sebagai bentuk tindak sosial (social responsibility). Cara lainnya, seorang Public Relation dapat menggunakan film untuk menyampaikan perkembangan perusahaan, peuncuran produk, atau sistem baru.[10]

berdasarkan kesimpulan di atas, dapat kita pahami bahwa fungsi awal film adalah sebagai media hiburan. Namun, selain itu terdapat juga fungsi yang lain, yakni sebagai media penerangan (informatif), media pendidikan (edukatif), dan sebagian sebagai realitas kehidupan di sekeliling kita.

 

[1] Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, (Jakarta: Rajawali Pers, 2010), hlm. 136.

[2] Moh. Ali Aziz, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), hlm. 425.

[3] Khomsahrial Romli, Komunikasi Massa, (Jakarta: PT. Grasindo, 2016), hlm. 97.

[4]Ibid., hlm. 99

[5] Ibid., hlm. 100

[6] Cangara, Pengantar Ilmu…, hlm. 137

[7] Aziz, Ilmu Dakwah…, hlm. 425

[8]Ibid., hlm. 426

[9] Romli, Komunikasi Massa…, hlm. 101

[10] Rini Darmastuti, Media Relations Konsep, Strategi, dan Aplikasi, (Yogyakarta: CV. Andi Offset, 2012), hlm. 66.

         Zannira

Ali Ridho

Zamhari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *