Kriteria Khotib Jumat yang Ideal dalam Islam

727 views

Islam menyerukan kepada umat Islam untuk menunaikan Shalat Jumat. Menurut Prof. Faisal Islamil dalam bukuya Dinamika Kerukunan Antarumat Beragama, Shalat Jumat sebenarnya kewajiban individual (fadhua’ain) yang dikerjakan secara kolektif (berjamaah).

Shalat Jumat ditetapkan sebanyak dua rakaat dan didahului dengan khutbah yang disampaikan oleh seorang khotib. Dengan melaksanakan Shalat Jumat, berarti kewajiban Shalat Zhuhur sudah tidak ada lagi.[1]  Allah berfirman dalam Surah Jumah ayat 9.

Wahai orang-orang yang beriman, apanbila kamu sekalian diseru untuk menunaikan shalat pada hari jumat, amaka bersegeralah kamu menginat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Masih menurut Prof. Faisal Ismail, di dalam pelaksanaan Sholat Jumat tentu saja memerlukan kecakapan komunikasi seorang khatib. Berikut ini 8 ciri-ciri khotib yang layak menduduki mimbar-mimbar Jumat;

1.    Beriman kepada Islam

Sudah tentu bahwa keyakinan ini adalah mutlak. Seorang khatib hendaknya memegang teguh prinsip-prinsip akidah di dalam agama Islam. Dengan demikian, Islam harus dijadikan jalan hidup baginya.

2.    Sosok khotib hendaknya memiliki pandangan pluralis dan humanis yang memandang manusia seagama maupun yang berbeda agama sebagai kawan bukan musuh. Dengan demikian, sikap arif, santun, sopan dan mengutamakan kedamaian menjadi pribadi yang kuat dalam kesehariannya.

3.    Sorang Muslim yang pluralis dan humanis juga menaruh respek, penghargaan dan penghormatan kepada orang yang seagama maupun berbeda agama. Dengan demikian, kehidupan saling menghargai antarumat beragama bisa berlangsung.

4.    Sosok Muslim humanis pluralis juga seharusnya mengedepankan nilai-nilai toleransi dan keharmonisan dalam hidup, sehingga bisa menciptakan gotong royong dalam kehidupan bersosial.

5.    Sosok Muslim humanis pluralis hendaknya juga paham mengenai kitab suci. Ia tidak menafsirkan secara nafsunya semata, namun berdasarkan kebenaran dan fitrah manusia. Memahami teks tidak rigid namun fleksibel, dialektif dan kontekstual.

6.    Muslim pluralis humanis hendaknya juga mengedepankan nilai-nilai dan memperjuangkan rasa kemanusiaan. Adapun terkait  teologi, seorang humanis menyerahkan urusannya kepada masing-masing pemeluk agama.

7.    Seorang  Muslim humanis juga hendaknya memiliki sifat senang bermusyawarah untuk mencapai mufakat. Dengan karakter ini diharapkan seorang Muslim bisa mencai titik temu solusi yang sedang tejadi di tengah masyarakat; menang tanpa menyakiti, kalah tanpa merasa dilukai. Semua berlandaskan keadilan.[2]

Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga sendiri sudah melaksanakan program khutbah Jumat berbahasa isyarat ini kurang lebih 4 tahun, tepatnya sejak Januari 2014. Adapun detail pelaksanaannya sebagai berikut:

Prosesnya, perlu adanya jalinan komunikasi antara pengurus masjid, penerjemah bahasa isyarat dengan khotib. Pengurus masjid mula-mula memberitahukan kepada calon khotib, bahwa sebelum khotib naik mimbar, 3 hari sebelumnya sudah selesai membuat teks khutbah. Tujuan teks ini bukan untuk dibaca saat  naik mimbar, namun untuk dipelajari penerjemah khotib bahasa isyarat.

Setelah pengurus masjid menerima teks khutbah Jumat, pengurus masjid bisa mempostingnya di laman website masjid, atau mengirimkannya langsung kepada penerjemah bahasa isyarat  agar dipelajari. Dengan demikian,  penerjemah bahasa isyarat pun dituntut untuk menguasai isi khubah Jumat demi keefektifan pesan yang disampaikannya,

Di hari H-1, pengurus masjid mengingatkan kedua khotib bahwa Jumat esok adalah tugasnya. Tak lupa pula, pengurus masjid mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan seperti kelayakan mic, kebersihan, hingga kenyamanan kedua khotib.

Di Hari H, kedua khotib sudah bersiap  di shaf depan. Setelah master of ceremony mempersilahkan khotib pertama naik di atas mimbar, khotib kedua selanjutnya menyusul. Cara kerjanya cukup mudah, khotib penerjemah bahasa isyarat mengikuti apa yang disampaikan oleh khotib pertama.

Setelah khutbah pertama selesai, khutbah kedua pun sama seperti sebelumya, yakni khotib penerjemah bahasa isyarat mengikuti khotib pertama. Hal ini dilakukan sampai akhir tatkala hendak menunaikan Shalat Jumat. Terkait contoh teks khutbah Jumat, bisa dilihat seperti berikut ini;


[1] Faisal Ismail, Dinamika Kerukunan Antarumat Beragama, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 25

[2] Faisal Ismail, Dinamika Kerukunan Antarumat Beragama, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 29

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *