Mencegah Stres Politik

Mencegah Stres Politik

Mencegah Stres Politik


Oleh: Zakiya Fatihatur Rohma (Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

ACADEMIC INDONESIA — Pemilu telah usai. Saatnya menunggu pengumuman hasil suara pada tanggal 22 mei sesuai dengan jadwal yang ditetapkan KPU. Bebarapa caleg dan capres tentunya berharap menjadi pemenang dalam pemilu dan pilkada serentak tahun ini.

Namun, dalam sebuah perlombaan atau kontestasi politik harus ada yang kalah dan menang. Pihak yang menang tentu akan berbahagia dan pihak yang kalah sering kali dirundung duka. Bahkan, tidak menutup kemungkinan pihak yang kalah akan mengalami stres.  

Menjadi petarung politik harus mempunyai kesiapan mental dan materi yang matang. Kesiapan mental dapat memberikan sikap legowo untuk menerima kekalahan. Sedangkan kesiapan materi dapat mengatasi kerugian finansial selama masa kampanye. Tanpa kedua kesiapan tersebut sangat dimungkinkan terjadinya stres politik yang berujung menjadi pasien rumah sakit jiwa.

Sudah banyak kasus caleg gagal yang stres dan mengalami gangguan jiwa.  Bahkan, pasca pemilu 2014 terjadi kenaikan 20 persen orang yang mengalami gangguan jiwa. Mereka adalah para caleg yang tidak siap atau tidak mampu menerima kekalahan.

Ketidakmampuan tersebut karena perasaan telah banyak kehilangan dalam masa-masa kampanye. Tidak hanya kehilangan secara materil tapi juga non-materil seperti tenaga, pikiran dan harga diri. Seseorang yang kehilangan harga diri atau martabat menjadikan jiwanya tertekan, gelisah dan menderita kecemasan.

Nafsu Politik

            Nafsu memang melenakan. Seseorang yang menghabiskan waktunya untuk mengumbar nafsu, mengejar harta, kekuasaan dan ketenaran maka dia termasuk orang yang ghafil. Orang ghafil adalah orang yang mengalami ghaflah, kelalaian dan keterlenaan.

Demikian penjelasan Haidar Bagir dalam bukunya “Dari Allah menuju Allah”. Keterlenaan akan nafsu dapat membuat seseorang lupa akan jiwanya dan Tuhannya. Sehingga, hati dan jiwanya hanya dipenuhi nafsu dunia untuk mengejar kekuasaan. Jiwa nya menjadi sakit dan membutuhkan obat hati.

            Nafsu politik membuat seseorang menjadi ghafil. Jiwanya tidak lagi mengingat Tuhannya sebagai kekasihnya. Dia hanya mencari kepuasaan jasmani untuk mengejar ketenaran. Sehingga ketika yang dikejar tidak dapat dicapai hatinya menjadi kecewa dan tidak tenang. Dia melupakan sumber ketenangan hatinya yang sesungguhnya. Dia melupkana cara mendapatkan kenikmatan batin dan justru merusak nya dengan nafsu politik yang tidak terpenuhi.

            Seseorang yang tidak dapat menaklukkan nafsu politik sangat rawan mengalami stres. Dia tidak mampu menerima kekalahan karena telah lalai dan terlena dengan kekuasaan. Nafsu politik mendorongnya melakukan berbagai cara untuk menjadi pemenang. Jiwanya diliputi keresahan, kehawatiran dan ketakutan akan kekalahan. 

Kampanye Sehat

            Mencegah stres politik juga dapat dilakukan sejak masa kampanye. Para caleg atau capres cenderung mengalami tekanan berat pada masa kampanye karena banyak dana dan tenaga yang harus dikeluarkan. Mulai dari cetak baliho, membayar iklan televisi atau radio, dana serangan fajar dan membayar saksi dengan biaya tinggi. Tingginya biaya kampanye tersebut sebenarnya tidak hanya menimbulkan stres tapi juga dapat memicu korupsi.

            Mencari pola baru dalam kampanye sangat dibutuhkan untuk membangun kampanye yang lebih sehat. Kampanye sehat akan memperbaiki kualitas masyarakat. Kampanye sehat akan membuat mental caleg lebih sehat.

Tidak menggunakan hoax untuk menyerang lawan politik serta tidak menyogok rakyat untuk membeli suara mereka merupakan salah satu usaha mewujudkan kampanye yang sehat. Hal tersebut juga dapat mengurangi beban anggaran kampanye sehingga menurunkan tingkat stres para caleg.

            Cara lain untuk meminimalisir anggaran adalah dengan menggunakan sosial media sebagai media kampanye. Menurut Rebecca A. Hayes sosial media dapat merepresentasikan diri seseorang kepada khalayak dan mencitrakan dirinya dengan baik. Membangun citra seorang caleg sangat dibutuhkan untuk membentuk kepercayaan masyarakat.

Menggunakan sosial media sebagai alat menampilkan citra sangat efektif dilakukan. Biaya untuk mengakses sosial media sangat lah sedikit. Selain itu, sosial media dapat menjangkau kalangan milenial atau generasi muda untuk memperoleh dukungan suara.

Selain berkampanye, sosial media juga dapat dijadikan sebagai media pendidikan politik dengan memberikan pengetahuan dan informasi yang memadai. Hal tersebut akan mendorong dan menggerakkan partisipasi kalangan muda untuk memahami perpolitikan secara global dan khususnya perpolitikan di Indonesia. 

Isu Separatisme dan Tawaran Pemuda

Isu Separatisme dan Tawaran Pemuda

Isu Separatisme dan Tawaran Pemuda



“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri (Bung Karno).”

Kata-kata perjuangan di atas hendaknya lebih menyadarkan kita akan kondisi bangsa Indonesia saat ini. Isu separatisme yang kian hari kian hangat nampaknya menjadi perhatian masyarakat Indonesia secara luas. Apa yang sebenarnya terjadi?

Belum lama ini, Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau yang biasa disebut Kelompok Krimial Bersenjata (KKB) kembali melakukan perlawanan untuk menyebarkan narasi sebuah kemerdekaan. Berita terakhir, adanya sebuah kasus mengagetkan penembakan 31 tenaga proyek Jembatan Trans Papua oleh KKB.

Awalnya, kelompok separatis tersebut hanya menembak 24 pekerja, sedangkan 8 orang pekerja lainnya lantas melarikan diri ke rumah DPRD setempat, namun KKB mendatangi rumah tersebut dan langsung menembaki 7 pekerja lainnya. Adapun 1 pekerja Jembatan Trans Papua berhasil meloloska diri meskipun hingga saat ini belum diketahui keberadaan nasibnya.

Berlanjutnya perjuangan’ menuntut kebebasan menentukan nasibnya sendiri (self determination) yang dilakukan KKB tentu saja bukan tanpa alasan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa gerakan separatisme di tanah Merauke ini kian marak. Menurut LIPI (2009) terdapat 4 masalah krusial yang menjadi sumber kekecewaan; pertama peminggiran dan diskriminasi terhadap Orang Asli Papua (OAP), kedua belum optimalnya pembangunan sekto-sektor utama, ketiga terkait kekerasan politik dan pelanggaran HAM masa lalu, keempat merupakan politik Papua.

Belajar dari Sejarah

Pengertian separatis itu sendiri adalah sebuah gerakan yang sifatya mengacau atau menghancurkan yang dilakukan oleh segerombolan pengacau yang memiliki tujuan untuk memisahkan diri dari ikatan suatu negara (Abdul Qadir Jaelani: 2001).

Secara historis, Soekarno Presiden RI Pertama telah menegaskan bahwa Papua adalah bagian dari Indonesia. Dalam pidatonya 1963, sejak 17 Agustus 1945, Papua sudah final menjadi milik NKRI. Hal tersebut tak terlepas dari kebersamaan sebagai kaki-kaki pejuang di atas kepentingan bangsa yang berjuang mengusir kaum penjajah.

Salah satu sejarah yang berkesan adalah adanya Konferensi Meja Bundar (KMB). Perjanjian tersebut bukan hanya soal memerangi politik Devide at Impera yang diterapkan Belanda, namun juga membawa kembali Papua ke pelukan Ibu Pertiwi.

Kala itu, tentunya setiap rakyat Indonesia ingat betul bagaimana upaya pemerintahan Indonesia untuk membebaskan tanah Irian Barat dari Kolonial yang sengaja ingin menjadikan Irian sebagai negara boneka. Melalui Operasi Trikora 19 Desember 1961, operasi tersebut bukan hanya berarti bahwa Belanda negara pengganggu, namun juga posisi tawar secara politik dan posisi kepentingan negara atas Irian Barat.

Adanya sebuah perjanjian yang diprakarsai Amerika Serikat pada 1962 terkait terwujudnya pemindahan kekuasaan atas Papua Barat dari Belanda ke Indonesia juga tidak bisa dilupakan begitu saja. Hal ini secara resmi juga diserahkan oleh United Nation Temporary Excecutive Authority (UNTEA) pada 1 Mei 1963.

Puncaknya, di bawah pengawasan PBB pula, Bangsa Indonesia melaksanakan Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) yang memberikan pilihan kepada rakyat Papua untuk memisahkan diri atau bergabung dengan Republik Indonesia.

Atas peristiwa itu pula, pada Sidang Umum 19 November 1969, Resolusi PBB No. 2504 menetapkan bahwa hasil Pepera mengakui bahwa Irian Barat final menjadi milik Indonesia. Dengan demikian, apabila terjadi usaha melepaskan diri atau memisahkan diri dari negara yang dilakukan oleh sebagian kelompok, hal tersebut sama saja melakukan kegiatan ilegal dan dianggap mengikis kedaulatan NKRI.

Tawaran Pemuda

Tentu saja tidak mudah untuk menangani masalah yang sudah sekian lama menggurita. Namun, dengan kerendahan hati dan niat yang baik akan adanya persatuan bangsa, solusi atas masalah ini bisa diatasi. Pertama, hendaknya setiap pemuda giat mempelajari sejarah kebangsaan, sebab dengan sejarah sama saja kita memupuk identitas nasional kita sebagai bagian dari Bangsa Indonesia.  

Kedua, hendaknya setiap pemuda mempunyai pemikiran yang cemerlang bahwa adanya keanekaragaman suku, budaya, bahasa dan lain sebagainya merupakan kekayaan Indonesia yang harus dijaga keberlangsungannya. Ketiga,  adanya perbedaan tentu saja akan melahirkan hal-hal yang berbeda pula. Oleh karena itu, demi mempertahankan persatuan, setiap pemuda hendaknya lebih mengutamakan musyawarah mufakat untuk menentukan sebuah keputusan.

Keempat, memperkuat nilai-nilai toleransi di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penyebaran nilai-nilai toleransi bisa dilakukan melalui komunitas atau lembaga-lembaga pemuda dengan memanfaatkan narasi kekinian. Kelima tidak membeda-bedakan  perilaku, pembangunan nasional, maupun aspek-aspek kehidupan lainnya demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Keenam melestarikan budaya gotong-royong antar sesama anak bangsa. Melalui gotong-royong pula, sikap individualis serta sikap negatif tidak mau kompromi perlahan-lahan akan terkikis karena hubungan batin yang bisa mempererat persatuan dan kesatuan.

Belajar dari Bencana demi Bencana

Belajar dari Bencana demi Bencana

Belajar dari Bencana demi Bencana

Oleh: Zamhari, S.Kom.I

Belum kering air mata duka di tanah berjuluk Seribu Masjid Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), kini bencana gempa bumi disusul tsunami juga terjadi di Palu – Donggala Sulawesi Tengah. Hingga saat ini, korban jiwa telah mencapai 1.407 orang dan kemungkinan akan bertambah (Kompas, 4/10/2018).

Jika dilihat dari jumlah korban yang masuk hingga akhir ini, terlihat bahwa belum ada perubahan radikal yang lahir baik dari pemerintah maupun masyarakat untuk meminimalisir korban bencana. Hal ini tentunya memantik semangat bersama untuk terus berbenah agar kedepannya tak ada lagi korban bencana, khususnya yang bekaitan dengan gempa bumi dan tsunami.

Barangkali belum terlalu banyak masyarakat yang mengerti mengenai potensi gempa bumi yang  terjadi di Palu-Donggala baru-baru ini. Padahal, potensi gempa bumi tersebut sebenarnya sudah pernah ditulis oleh seorang jurnalis Kompas Ahmad Arief. Pada tahun 2012, Ahmad Arief menulis artikel ilmiah bertajuk Hikayat Runtuhnya Tanah Runtuh. Tulisan tersebut memaparkan bahwa berdasarkan penelitian yang telah disusun melalui data-data historis, wawancara para ahli hingga survei menyebutkan bahwa pernah ada gempa dan tsunami besar yang terjadi di Pulau Sulawesi.

Kemudian pada tahun 2017, Ahmad Arief kembali menulis sebuah tulisan yang bertajuk Waspadai Gempa Besar di Sulawesi. Tulisan Ahmad Arief tersebut lebih menekankan pembahasan mengenai potensi-potensi gempa bumi yang akan terjadi di sesar aktif Palu Koro. Dijelaskan Pula bahwa Sesar Palu Koro berpotensi gempa bumi sebab sesar ini merupakan jalur sesar paling tinggi pergerakannya di Indonesia dengan rata-rata per tahun 40 mm. Hal ini berbeda jauh dibandingkan Sesar Sumatera yang 10 mm per tahun dan di Jawa sekitar 1 mm per tahun. Secara historis, gempa yang terjadi sejak tahun 1.800 tercatat telah terjadi 18 kali tsunami di sekitar perairan ini hingga Selat Makassar.

Pentingnya Literasi

Begitu pentingnya sebuah literasi, meskipun tidak bisa secara akurat memprediksikan kapan dan di mana gempa akan terjadi, namun kiranya bijaksana hidup di negeri cincin api perlu digaungkan kembali mengingat bencana gempa bumi dan tsunami bisa saja terjadi tanpa kita sadari. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah menguatkan budaya literasi baik kemampuan secara menulis maupun membaca.

Alangkah lebih baiknya apabila tulisan yang memaparkan akan adanya potensi gempa bumi dan tsunami disambut dengan baik sebagai wujud meningkatkan kewaspadaan. Sayangnya, adanya berbagai tulisan ilmiah mengenai prediksi bencana gempa bumi maupun tsunami terkadang hanya dianggap tabu, angin lalu, mengada-ada dan ujung-ujungnya dapat mempengaruhi citra buruk bagi media bersangkutan.

Begitupun pihak media, sebaiknya terus menggalakkan informasi-informasi tentang mitigasi kebencanaan melalui penelitian, reportase dan investigasi ilmiah. Penulis yakin di era ini, media massa baik offline maupun online bisa lebih maksimal dengan dukungan dari bidang digital marketing media sosial. Alhasil, diharapkan keilmuan jurnalisme bencana yang akhir-akhir ini terus dikembangkan bisa mendapat perhatian khusus demi kepentingan masyarakat bersama.

Outputnya, pemerintah kedepannya bisa bekerjasama dengan wartawan atau jurnalis untuk membuat semacam karya tulisan ilmiah, reportase maupun investigasi kebencanaan di wilayahnya masing-masing. Tentu saja dalam hal ini pihak pemerintah harus meyakinkan kepada masyarakat bahwa informasi yang beredar bukan atas dasar untuk menakut-nakuti, namun lebih pada waspada siaga bencana.

Pemerintah sebaiknya juga segera mencanangkan strategi jitu guna meminimalisir banyaknya korban seperti halnya mengenai bahan, bentuk dan kekuatan bangunan di daerah rawan gempa. Mitigasi bencana tsunami terkait apa yang seharusnya dilakukan masyarakat bila terjadi tsunami hingga hal-hal yang terjadi setelah bencana alam terjadi. Dengan demikian, perubahan radikal yang diharapkan bisa lebih holistik meliputi prabencana, bencana dan pascabencana.

Dibalik melimpahnya sumber daya alam yang disediakan Tuhan, kita juga hidup di tengah-tengah tanah yang rawan bencana. Tugas kita adalah menjaga sekaligus saling mengingatkan untuk belajar dari bencana demi bencana agar tidak terulang lagi banyaknya korban jiwa.

 

*Mahasiswa Program Magister (S2)

Komunikasi dan Penyiaran Islam

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Banyak Bertanya

Banyak Bertanya

Banyak Bertanya

ACADEMIC INDONESIA — Menarik membaca buku bertajuk Filsafat Ilmu; Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan. Di dalam Bab III mengenai Ruang Lingkup dan Kedudukan Filsafat Ilmu telah dijabarkan dengan jelas bahwa filsafat merupakan mother of sains. Maknanya, filsafat menjadi ilmu pokok di dalam ilmu pengetahuan, bahkan untuk memperluas cabang ilmu juga diperlukan filsafat sebagai pengurai benang merah.

Namun, ada beberapa hal yang penulis garisbawahi mengenai buku karya Tim Dosen UGM tersebut. Pertama, terdapat di halaman 56 yang menjelaskan tentang perbedaan filsafat dan ilmu. Di buku tersebut dijelaskan bahwa filsafat dan ilmu mempunyai banyak kesamaan yakni keduanya tumbuh dari sikap reflektif dan sikap bertanya yang tidak memihak terhadap kebenaran.

Kalimat “sikap bertanya” mengingatkan penulis tentang kisah Bani Israil. Suatu hari, ada seorang konglomerat dari Bani Israil yang mati terbunuh. Kemudian dari kaumnya meminta pendapat kepada Nabi Musa agar diberi petunjuk siapakah pelakunya.

Nabi Musa pun memerintahkan kepada mereka untuk menyembelih seekor sapi (Baqarah). Namun, Bani Israil malah banyak bertanya yang tidak perlu, mulai dari warna, umur, jenis kelamin dan sebagainya. Padahal, bila dilihat dari makna bahasa, baqarah mempunyai arti sapi dalam pengertian umum tidak jantan tidak betina.

Dari cerita di atas, sebenarnya Bani Israil hanya ingin mempersulit diri untuk menemukan kebenaran. Dengan banyak bertanya, akan muncul hal-hal yang memberatkan sepertihalnya spesifikasi sapi yang hendak disembelih. Alhasil, begitulah cara membangkangnya Bani Israil, mereka mengaku bahwa sapi yang dimaksud susah sekali dicari.

Berpikir sendiri terlebih dahulu, maksimalkan potensi pikiran yang ada hingga akhirnya Anda akan mengatakan; Oalah….. Sekarang saya paham!

Dalam hal berfilsafat, bertanya adalah sebuah usaha untuk memperdalam wawasan. Begitupun dengan mempertanyakan. Yang perlu digarisbawahi manakala seorang filosofis yang hendak memecahkan masalah namun yang ia lakukan hanya banyak bertanya. Padahal, di dalam tradisi Islam, banyak bertanya merupakan hal yang kurang positif bila belum mencapai tingkatannya.

Lantas, seperti apa yang seharusnya dilakukan seorang muslim untuk memantik filsafat di dalam dirinya tanpa harus banyak bertanya? Di dalam Al Quran itu sendiri telah dijelaskan bahwa banyak ayat yang menjelaskan tentang berfilsafat. Kita tahu bahwa pangkal dari filsafat itu sendiri adalah berpikir; seperti halnya dalam surah Ali Imran ayat 190.

Allah Rabb telah menganugerahkan akal sebagai pembeda dari makhluk lainnya. Dengan akal, manusia bisa memahami semua ciptaan Allah baik yang di darat, laut maupun udara. Dengan akal pula, manusia diberikan kelebihan untuk menemukan kepuasan rasa penasarannya. Melalui akal, manusia bisa memaksimalkan potensinya guna mencari jalan keluar dan mencintai kebijaksanaan. Kenanglah bahwa banyak bertanya tanpa ilmu hanya akan mengeraskan hati.

Dari uraian di atas, penulis mencoba menegaskan bahwa sebesar apapun hasil pemikiran manusia, tetap saja manungsa niku mung sak derma (manusia hanya kecil, tidak ada apa-apanya). Kebenaran yang didapat hanya seluas pandangan panca inderanya. Tidak lebih. Sedangkan Allah Maha Menyeluruh.

Hoax dan Kepentingan Politik Ekonomi New Media

Hoax dan Kepentingan Politik Ekonomi New Media
Hoax dan Kepentingan Politik Ekonomi New Media

ACADEMIC INDONESIA — Menarik bila membaca keseluruhan dari artikel Dr. Hamdan Daulay, M. Si., MA bertajuk Mencegah Konflik di Tahun Politik. Sebuah refleksi mendalam tentang keadaan real hari ini yang mencerminkan jauhnya pergeseran budaya bangsa Indonesia.

Sekilas, memang adanya berita-berita palsu yang beredar di media sosial tidak terlalu mengkhawatirkan bagi sebagian masyarakat yang sudah memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Namun, tahukah bahwa berita-berita di media sosial itulah penyebab utama adanya kerusuhan, pertengkaran bahkan pembunuhan di tengah-tengah masyarakat hari ini.

Terhangat, tentu masih segar di ingatan kita betapa hiruk-pikuknya kegaduhan menjelang pesta demokrasi tahun ini. Bukan hanya soal “seksinya” jabatan menjadi presiden yang akan memimpin lebih dari 230 juta penduduk, lebih dari itu, hari ini yang dipertontonkan oleh media justru bagaimana cara meraih kekuasaan tertinggi tersebut dengan berbagai cara. Hitam, putih maupun abu-abu semua dipertontonkan.

Lalu, apa maksud dibalik kejadian semua ini? Kepentingan apa yang bermain di balik rentetan kasus-kasus yang sempat mengerutkan dahi masyarakat?

Relasi Kekuasaan dan Kekayaan

Dari kacamata penulis, adanya kegaduhan sosial yang marak akhir-akhir ini sebenarnya tidak berasal dari dua kubu Jokowi maupun Prabowo. Justru, menurut penulis, kehadiran medialah yang sebenarnya membuat semakin panas hubungan antara dua kubu tersebut.

Mengutip dari buku Vicent Moscow mengenai Politic Economy New Media; bahwa sejak lahirnya new media tidak bisa dilepaskan dari dua kepentingan, yakni kepentingan politik dan ekonomi. Kepentingan politik menyangkut tentang kekuasaan, seperti halnya dalam hal media adalah eksistensi media itu sendiri. Kaitannya, nantinya akan mengarah ke salah satu kubu.

Sedangkan dalam hal ekonomi, media berprinsip harus memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari aktivitas produksi konten baik video maupun tulisan. Hal inilah yang akhirnya akan menggoyahkan tingkat keobjektifitasannya sebuah media.

Sebagai contoh, Jawa Post News Network (JPNN) belum lama ini membuat salah satu berita mengenai KH. R. Najib Abdul Qadir Al Munawwir Pemimpin Pondok Krapyak Yogyakarta yang isinya kurang lebih merekomendasikan salah satu nama dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk menjadi calon wakil presiden.

Setelah ditelusuri, ternyata berita berjudul ‘Jika 2 Hari Ini Jokowi Tak Pilih Cak Imin, PBNU Angkat Kaki’, Minggu (5/8) tersebut hoax. Kurang lebih selama sepekan, pihak dari JPNN mengedit tulisan tersebut dan meminta maaf kepada masyarakat dan membuat berita baru.

Bila ditelisik lebih jauh, siapa yang bermain di JPNN tersebut akan menjawab kepentingan siapa yang menjadi prioritas. Baik kepentingan sebuah partai politik, nama individu atau bahkan medianya sendiri. Tak ayal, media pun memiliki kepentingan berupa kekuasaan (dalam hal ini branding). Sejak adanya berita palsu tersebut, tentu saja JPNN akan naik ranking dalam search engine. Ribuan link aktif dari berbagai situs berautority akan mengarah ke website tersebut.

Dari kepentingan ekonomi itu sendiri, sebuah media tentunya akan tetap mempunyai eksistensi manakala mempunyai ekonomi yang kuat. Semenjak adanya berita hoax di JPNN tersebut, pengguna internet (user) akan berlomba-lomba menjawab rasa penasaran mereka untuk mengunjungi laman website tersebut.

Kini, di tengah kebutuhan menghidupi para awak media, hadirnya new media juga dituntut untuk memberikan poduksi berita yang sejujur-jujurnya. Sampai kapan new media akan mejadi pengadu domba?

Mau Dibawa ke Mana  PLTA Peusangan-4? Sebuah Refleksi Peran Pemuda

Mau Dibawa ke Mana  PLTA Peusangan-4? Sebuah Refleksi Peran Pemuda

Mau Dibawa ke Mana  PLTA Peusangan-4? Sebuah Refleksi Peran Pemuda

Isra Novari

ACADEMIC INDONESIA — Dilansir dari laman web beritakini.co, PLTA peusangan-4 di Aceh kembali disebut-sebut, ini merupakan salah satu hasil kunjungan presiden Joko Widodo ke Korea Selatan. Selain nama PLTA-4 Peusangan nama PLTA Samarkilang 77MW di Bener Meriah ikut disebut-sebut pula.

Proyek PLTA-4 Peusangan tampaknya berhasil mengait dua perusahaan Korea yakni Hyundai Engineering and Construction  co. Ltd dan Korea South-East Power Corporation (KOEN). Kesepakatan ini merupakan hal yang positif bagi Indonesia dalam skala besar sebab dapat meyakinkan para investor  bahwa Indonesia merupakan tempat yang nyaman untuk berinvestasi.

Beberapa keuntungan lain mungkin akan dirasakan oleh beberapa perusahaan lokal dalam menambah pengetahuan dari kedua perusahaan asing yang ikut menjelma di Indonesia.

Lantas kesepakatan ini tampaknya akan mengundang  polemik dikalangan masyarakat, terkhusus masyarakat sekitaran Takengon dan Bener Meriah. Mau dibawa kemana PLTA-4 Peusangan?

Pertanyaan seperti ini tentu sudah lama bersarang dalam benak masyarakat Takengon, terlebih pemuda-pemuda yang menginginkan sebuah perubahan besar daerah mereka. Hasil yang belum tampak selain pintu terowongan yang dapat diintip dari pinggiran jalan raya membuat masyarakat berasumsi A, B… sampai Z sesuai dengan kecurigaan masing-masing.

Proyek ini ikut menjadi cerita panjang yang menjadi keyakinan masyarakat serta pemuda kritis dengan “ramalan” mereka bahwa Indonesia akan kembali terjajah, hal ini bukan tiada beralasan namun dilihat dan dicermati dengan baik-baik bahwa tenaga kerja lokal mulai tersingkirkan.

Sektor ketenagakerjaan menjadi sebuah permasalahan yang terus dihadapi Indonesia namun lagi dan lagi pemerintah memilih menarik tenaga kerja dari luar. Dalam hal ini pemerintah tidak 100% salah dalam memilih kebijakan karena tingkat pendidikan masyarakat kita yang masih rendah. Namun ini menjadikan rakyat semakin miris, sebab rakyat yang menjadi tuan rumah bukanlah menjadi raja namun menjadi pelayan dikerajaan sendiri.

Indonesia mau terus berdiam? Bukankah Indonesia akan segera menghadapi keuntungan demografi? Lantas siapa yang akan menikmati keuntungan itu jikalau bukan rayat? Usaha apa yang sudah dipersiapkan agar menjadi pemeran utama?  Banyak pertanyaan yang terus-menerus menguak.

Jawaban itu bersarang tepat pada pemilik pertanyaan. Harusnya proyek ini bukan hanya sekedar menjadi hal yang harus diprihatinkan bangsa Indonesia dan masyarakat lokal, ini harus menjadi cambuk untuk pemerintah agar bisa memperbaiki sistem pendidikan, melahirkan insan-insan yang berpendidikan dan berkarakter yang akan memotori kemajuan bangsa ini.

Proyek ini dapat menjadi pelita untuk mengurangi angka pengangguran di tanah Gayo sebagai putera-puteri daerah, namun apa yang terjadi? Sebagian besar dari kita adalah penonton, atau sebagian diatara kita adalah buruh kasar dalam proyek ini. Kenapa hanya menjadi buruh kasar?

Sebuah Refleksi Peran Pemuda

Ini tanah kita!!! Tingkat pendidikan yang rendah serta keahlian yang tidak dapat disuguhkan masyarakat dalam proyek besar ini adalaha salah satu kendalanya. Banyak dari kita lalai dengan kemajuan, terutama anak-anak muda baik pelajar atau mahasiswa. Mereka sudah dimanja dengan teknologi, hal ini menjadikan mereka malas untuk belajar bahkan rasa peduli akan masa depan mereka yang teramat sedikit.

“Pemuda” yang dibutuhkan negara ini adalah pemuda. Kebangkitan Islam? Penggeraknya adalah pemuda. Kemerdekaan Indonesia? Juga adalah pemuda. Tidak sepantasnya jikalau bangsa ini ingin bergerak maju namun pemudanya masih diam dan terus berkecamuk hanya dengan rasa prihatin saja.

BERGERAK!!! Itu adalah kata yang pantas untuk diri kita sendiri, menyadarkan diri bahwa Indonesia, bukan hanya Indonesia melainkan Tanah Gayo membutuhkan orang-orang yang cerdas, yang bergerak, yang berkarakter bukan yang hanya diam ditempat.

Hanya bisa menyaksikan dan menangisi. Ini saatnya pemuda bergerak. Di dunia ini tidak ada seorang yang bodoh yang ada hanya seorang yang malas. Sama halnya dengan sekarang, hanya sekedar membaca judul besar tentang negaramu kemudian berdalih dan mengacuhkannya.

Putera-puteri daerah kita harusnya tidak hanya berakhir sebagai buruh kasar atau sebagai seorang petani. Menjadi seorang petani bukan hal yang salah, namun seharusnya putera-puteri kita dapat menjadi petani berdasi, pengusah kopi atau bahkan menjadi lebih besar lagi.

Pemuda kita juga tidak boleh hanya fokus dibidang pertanian, sebab pembangunan di daerah kita bukan hanya dibidang pertanian. Ini termasuk pembangunan PLTA atau infrastruktur lainnya. Pemuda kita harus bergerak dibanyak bidang, “engineering” yang mencakup konstruksi, pertambangan, teknik lingkungan dan lainnya.

Pemuda kita juga bisa bergerak dibidang industri, karena mengembangkan kopi bukan hanya sekedar menjual kopi mentah. Dibidang politik dimana pemuda harusnya menjadi penggerak dan penggagas utama. Kita harus kembali melahirkan mutiara-mutiara abad 21 Indonesia teristimewa mutiara tanah Gayo.

Saya sebagai seorang mahasiswa banyak memperhatikan orang-orang disekitar saya, mereka memilih diam dengan persoalan negara. Diam pula saat daerahnya mungkin akan dijajah secara tidak langsung. Saya percaya bahwa pemuda Gayo adalah orang-orang yang disebut dengan generasi yang akan menunggangi Indonesia mendapatkan keuntungan demografi, bukan pemuda yang dilahirkan hanya untuk menyaksikan.

Proyek PLTA yang  menjadi tontonan bersama,  kita harusnya bukan menjadi buruh kasar, kita adalah pemilik kerajaan. Apa kita tidak bisa memegang peran penting dalam proyek itu?? Jika nasi sudah menjadi bubur bukan berarti kita tidak bisa meng-enak-kan rasanya.

Banyak yang diincar dari daerah kita, kita harus bersiap bukan berdiam. Bumi Indonesia kaya, begitu pula dengan daerah kita. Jadilah insan yang berpendidikan yang akan membawa agama dan bangsa yang besar ini pada kejayaannya.

Negara ini sudah merdeka sejak 73 tahun lalu, sekarang bukan penjajah yang menjadi musuh kita melainkan bangsa ini sendiri. Kita bukan lagi bersaing dengan orang kita sendiri melainkan dengan semua penduduk bumi. Pemuda kita harus bangkit, pemerintah perlu meng-amin-kan.

Pemerintah perlu mendukung dan mengawasi pemuda kita, sebagian besar permasalahan dari pemuda adalah perekonomian bagaimana pemuda akan bergerak jika pemerintah memilih diam dan membiarkan saja. Semua pihak harus bergerak sejalan agar bangsa ini benar-benar meraih kejayaannya.

Disamping itu, kebijakan ini juga bukan berarti dapat digunakan sebagai bahan kampanye, terlebih kampanye yang seolah mengkambing hitamkan salah satu pasangan calon presiden. Hal ini mengingat akan pesta demokrasi yakni pemilihan presiden secara langsung yang akan dihadapi bangsa yang besar ini.

Masyarakat juga harus jeli dalam mempertimbangkan pandangan mereka, sebab diera ini informasi mudah sekali beredar ditengah-tengah masyarakat baik informasi yang benar atau hoax.

Kami menitik beratkan persoalan ini kepada pergerakan dari rakyat Indonesia dan berbagai sektor yang terkait agar bergerak maju, meningkatkan kualitas pendidikan dan keahlian sehingga dapat mengatasi permasalahan ketenagakerjaan dan kenyamanan serta kepercayaan negara lain berinvestasi di negara kita.

Hari yang akan datang adalah milik kita, penggeraknya adalah kita sendiri. Mau menjadi apa bangsa ini adalah kebijakan kita. Setiap permasalahan di bangsa ini bukan milik satu atau dua orang saja melainkan seluruh rakyat Indonesia dalam ikatan ukhuwah.

Hari ini pula kita harus berani menentukan sikap “Tetap diam atau bergerak dan terus bergerak sampai kepada kejayaan”. Permaslahan yang dihadapi juga bukan tentang alat yang bisa digunakan untuk saling menjatuhkan, melainkan sebuah momentum untuk kita duduk bersama, kembali kepada hakikat musyawarah untuk sebuah kebijakan yang akan membawa bangsa ini kepada puncak kejayaannya.

Isra Novari

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Teknik Geofisika

Semester 3 Universitas Syiah Kuala.

“Menulis adalah tentang seberapa kamu ingin diingat, seberapa kamu ingin bermanfaat”