Pelajar Dihukum Mandi Oli; Solutifkah?

Pelajar Dihukum Mandi Oli; Solutifkah?

Pelajar Dihukum Mandi Oli
Pixabay.com

Miskin hati jika tidak suka memaafkan. Barangkali ungkapan tersebut menjadi salah satu pembuka tulisan yang baik.

Betapa tidak, belum genap sepekan pula kita pun dihebohkan kembali dengan adanya berita Bocah Dihukum Mandi Oli. Masih zamannyakah?

Kronologi Kejadian

Kejadiannya ketika pemilik bengkel sedang tidak ada, seorang bocah dengan inisial ALD (14) mencuri pedal persneling. Usut diusut, pemilik bengkel yang bernama Arif Alfian (37) pun mengetahui bahwa yang mencuri pedal miliknya adalah ALD.

Arif Alfian kemudian membawanya ke Kepala Dusun setempat. Setelah itu, Arif memberikan pilihan, ingin dilaporkan orang tuanya, atau memilih menyiram dirinya sendiri dengan oli. ALD kemudian menyiram dirinya sendiri dengan oli yang diketahui berada di dalam jerigen.

Beberapa hari kemudian, video tersebut mendapat banyak perhatian dari masyarakat. Bahkan, video ALD ketika menyiram dirinya dengan oli menjadi viral.

Arif tak menyangka akan seperti itu, padahal niatannya hanya ingin memberikan efek jera. Arif sama sekali tidak ingin menyakiti apalagi balas dendam terkait pencurian yang dilakukan anak tersebut.

Belum lama diketahui, ALD ternyata seorang yatim piatu. Arif mengaku menyesal atas perbuatannya. Ia bahkan ingin membantu biaya sekolahnya.

Andai Kesabaran Itu Ada Diawal

Sayang seribu sayang, meskipun Arif sampai ingin membantu biaya sekolah, kasus tersebut sudah terlanjur masuk ke ranah hukum.

Baca Juga 9 Siswa Ditampar Gurunya

Kita sebagai netizen barangkali juga merasakan betapa menyesalnya diri ketika sebenarnya kita ingin berbuat baik, namun kita melakukannya dengan cara yang tidak benar. Justru masalah yang akan mendatangi kita.

Kita lihat kasus di atas, sebenarnya pemilik bengkel mempunyai hati yang mulia, hanya saja barangkali pemilik bengkel sedang terlupa sehingga lebih mendahulukan hukuman daripada mengklarifikasi terlebih dahulu.

Betapa elok bila si pemilik bengkel menanyakan terlebih dahulu alasan ALD mencuri pedal persneling, tentu kejadian akan jauh berbeda. Pemilik bengkel bisa memaklumi seandainya jalan klarifikasi didahulukan.

Keluar dari Keegoan Meskipun Itu Milik Kita Sendiri

Hal penting yang bisa menjadi pelajaran pada kasus kali ini adalah keegoan. Terkadang kita merasa benar sendiri dengan apa yang kita lakukan sebab kita yang memiliki.

Namun hal yang perlu diingat, saat ini kita hidup di tengah masyarakat yang tak semua apa yang kita anggap benar menjadi benar di mata masyarakat.

Begitu pula dengan anggapan-anggapan yang kita pribadi anggap umum atau privasi, bisa jadi hal tersebut justru memicu perhatian public. Ada banyak yang tidak kita ketahui di dunia ini sehingga perlu komunikasi yang baik.

Oleh sebab itu, ada baiknya dalam setiap masalah antar manusia, semua diselesaikan dengan hati yang terbuka, mengutamakan kejujuran, kesabaran, kasih sayang dan welas asih.

Sebab tanpa adanya pendahuluan yang baik, kita hanya akan terjebak pada alur problem yang sebenarnya tidak perlu dan tidak menyelesaikan masalah.

Berapa persentase solusi jika ada yang mencuri kemudian dihukum, terlebih yang mencuri adalah anak kecil. Selain banyak dampak buruknya, pun terkadang sangat jauh dari kata untuk menemukan jalan solusi.

So, mulai sekarang berhati-hati dan mengutamakan keterbukaan adalah jalan utama. Sebab di era yang semakin canggih ini, opini bukan hanya dari dunia offline, bahkan dunia online di seluruh pelosok Nusantara pun bisa berpartisipasi tanpa tahu isi seluruh kejadiannya.

(Trending Topic 1) Kekerasan adalah Serendah-rendahnya Peradaban

(Trending Topic 1) Kekerasan adalah Serendah-rendahnya Peradaban

Slaps
Pixabay.com

ACADEMIC INDONESIA — Sebuah pesan di fanspage ACADEMIC INDONESIA mengatakan, “Admin, kok jarang update?”.  Sulit juga untuk menjawab, but inilah jawabannya. Sebuah tulisan yang hadir karena diingatkan hehe…

Memang, karena kesibukan di sana sini, kadang kegiatan menulis sering terbelengkalai. Barangkali jika pembaca “memaksa” untuk meng-update adalah sebuah keberuntungan bagi kami; sebab mau tidak mau kami pasti akan meng-update hehe…

Oh ya, sepekan ini di pikiran saya tidak lepas dari sebuah kasus kekerasan di dunia pendidikan yang kembali berulang. Seorang guru di Purwokerto menampar 9 muridnya, tepat di hadapan siswa-siswi lainnya.

Kabarnya, sang guru memerintahkan semua mahasiswa untuk merekam dan menyebarluaskan video tersebut agar menjadi pelajaran bagi seluruh siswa lainnya.

Alhasil, ada seorang mahasiswa yang menyebarkan video tersebut di group WA yang kemudian bocor sampai di Instagram dan akhirnya menjadi viral.

Menurut berbagai sumber, 9 siswa yang datang terlambat tersebut lantaran guru datang terlambat sehingga 9 murid tersebut nongkrong di kantin terlebih dahulu.

Meskipun sang guru sudah meminta maaf, hingga saat ini, kasus di atas sudah masuk ke Polres setempat dan sang guru menjadi tersangka yang dikaitkan dengan kekerasan anak.

Ilmu Padudon di Jawa

PADU. Orang jawa menyebutnya demikian. Bagi orang Jawa, ilmu padu itu penting. Bukan hanya soal dampaknya, namun juga prosesnya.

Di Jawa sendiri, padu artinya bertengkar namun hanya sampai di mulut. Dengan artian, Jawa sangat mengharamkan yang namanya “plak-plek” alias menyelesaikan masalah dengan kekerasan.

Orang Jawa sangat sadar betul bahwa orang yang namanya marah sebenarnya hanya faktor lelah. Oleh karenanya, separah-parahnya marah hanya dilampiaskan dengan kata-kata. Itulah ilmu padudon.

Kita melihat kasus di atas sebenarnya bertanya-tanya juga, sebab sebenarnya sang guru dalam keadaan sadar bahwa kekerasan dalam alasan apapun tidak akan dibenarkan. Namun sang guru berkata bahwa ia lakukan semua itu untuk menjadi pelajaran bagi siswa-siswa lainnya.

Bagi dirinya sendiri barangkali ada pembenaran, namun bagi orang lain terlebih bagi orang yang tua siswa bersusah payah mendidik anaknya dengan hati yang tulus tentu tidak akan terima.

Kekerasan adalah Serendah-rendahnya Peradaban

Siapapun orangnya pasti setuju bahwa kekerasan adalah serendah-rendahnya peradaban. Oleh sebab itu, tidak ada alasan untuk menggunakan kekerasan dalam kegiatan apapun.

Hal ini perlu ditegaskan agar menjadi perhatian bagi kita semua, baik kekerasan yang dilakukan murid kepada guru maupun guru kepada murid.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar kegiatan belajar mengajar bisa terlaksana dengan baik, tentu saja dalam kasus ini kami akan mengulasnya dalam ranah dunia komunikasi.

Pertama, bagi guru buatlah kesepakatan di dalam kelas baik soal jam masuk kelas, toleransi, atau perihal mendadak lainnya. Tak sedikit adanya kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah hanya gara-gara kesalahan komunikasi.

Si siswa sudah datang awal, namun guru terlambat namun tidak ada kabar lantaran perihal penting yang tidak bisa dicegah. Dalam hal tersebut, guru bisa memberikan pesan kepada ketua kelas bahwa dirinya terlambat.

Kedua, ada baiknya siswa memanfaatkan waktu untuk belajar mandiri bila guru belum datang. Siswa bisa membaca buku, berdiskusi, bahkan bisa saling tukar pengalaman terkait pelajaran yang aka berlangsung.

Waktu kosong jangan dijadikan alasan untuk membuang waktu secara percuma, terlebih main di kantin dan menghabiskan uang jajan. Ada banyak yang bisa dilakukan selain hal itu.

Ketiga, jalin suasana guru dan siswa yang kondusif. Hilangkan jarak antara siswa dan guru. Jalin komunikasi yang baik agar suasana semangat dalam menuntut ilmu benar-benar terasa.

Tak jarang siswa menjadi malas seketika bila gurunya sering terlambat, di kelas tidur, atau sering keluar. Di sisi lain, bila guru terlalu ketat, bisa jadi ketidakhadiran guru justru dinanti-nanti oleh siswanya.

Bagaimanapun juga peran guru adalah peran utama di dalam kelas. Menarik tidaknya pelajaran, semangat atau tidaknya, hidup atau tidaknya diskusi di kelas semua tergantung gurunya.

Tidak Ada Siswa yang Bodoh; Hanya …

Tidak Ada Siswa yang Bodoh; Hanya …

Tidak Ada Siswa yang Bodoh; Hanya …

ACADEMIC INDONESIA – Termangu membaca sebuah status di Facebook mengenai parodi pendidikan di Indonesia. Singkatnya, di dalam gambar tersebut ada berbagai jenis hewan-hewan.

Seekor monyet duduk di kursi sambil menjelaskan kepada kawan-kawan dihadapannya. Diantaranya ada kerbau, monyet,  buaya, kancil, monyet, siput dan ada juga burung emprit.

Seekor monyet bilang; “Kalian harus memanjat pohon tersebut sampai atas. Siapa yang duluan, dia yang jadi juaranya.”

Nah teman-teman pasti tahu siapa yang akan menjadi jawaranya.

Seperti Itukah Pendidikan di Indonesia?

Pelan namun pasti saya tersindir juga dengan parodi tersebut. Hingga sampai-sampai saya membenarkan sebagian dari makna parodi tersebut.

Hal di atas tak terlepas dari adanya berbagai diskusi bersama teman-teman yang merasakan bahwa pendidikan di negeri ini bukan mencari solusi untuk memerdekakan.

Malahan terkungkung semakin menyendiri lantaran fokus dengan apa yang tidak diketahui, fokus terhadap apa yang dia tidak bisa dan fokus terhadap kelemahan diri sendiri.

Bahayanya, siswa yang mengalami seperti itu akan melupakan bakat besarnya sendiri. Ia merasa tidak ada gunanya hidup bahkan merasa Tuhan tidak adil lantaran ia merasa memiliki banyak kekurangan.

Padahal, anggapan seperti itu sebenarnya tidak perlu. Satu kelemahan diri kadang menutup semua potensi diri sehingga menyebabkan siswa buta prestasi.

Apa yang Perlu Dimaksimalkan?

Banyak bila mencari kelemahan. Namun bila pencarian kelemahan tersebut bertujuan untuk kebaikan, kiranya bukan menjadi masalah.

Salah satu pokok bagian pendidikan yang terpenting adalah hadirnya guru. Guru adalah driver di dalam kelas yang akan membawa anak didiknya sampai ke tempat tujuan; dalam hal ini adalah cita-cita.

Seorang teman saya nyelethuk; “Mas, kalau sampeyan tidak cerdas, tidak usah jadi guru.”

“Cerdas bagaimana?” Timpal saya.

“Cerdas bukan hanya cerdas sebagai ilmuan, namun juga cerdas secara sosial dan kepribadian. Tak jarang rajin atau malasnya siswa tergantung gurunya di kelas,” balasnya.

Mengingat guru memiliki banyak penumpang dan tentunya setiap penumpang memiliki tujuan (baca cita-cita) masing-masing, tugas guru harus cerdas menyikapi setiap murid satu per satu.

Baca juga artikel Pesan Pendidikan dari Harvard University

Pendidikan di Indonesia Saat ini

Kita bersyukur saat ini semua elemen bangsa bahu membahu untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Berbagai peraturan pun kemarin sempat diubah mulai dari peraturan UNAS, skripsi dan hal-hal lain terkait pendidikan.

Sayangnya setiap pergantian menteri ada saja problemnya. Ada baiknya kita mencontoh negara tetangga yang fokus akan kualitas guru. Sebab, sebaik apapun sistem yang dirancang, bila gurunya belum siap barangkali hanya akan menimbulkan problem baru.

Saya yakin sepenuhnya bahwa semua materi bisa diajarkan, namun tetap dikembalikan sesuai kebutuhan dan kadar skill bakatnya masing-masing.

Bila seekor siput diberikan ujian memanjat pohon, barangkali bukan pohon seperti pohonnya kancil atau buaya. Karena siput tak memerlukan pohon seperti itu (pohon terlalu besar) untuk menjadi siput yang sejati.

Begitupula dengan yang lainnya, kancil, manuk emprit, buaya, monyet; untuk menjadi kancil sejati, buaya sejati, emprit sejati tidak harus memerlukan besaran pohon yang sama, hanya modifikasi cara dan kadarnya saja untuk benar-benar menjadi sejati.

So, maksimalkan kualitas guru, karena sebenarnya tak ada siswa bodoh; yang ada hanya belum menemukan guru yang tepat.

By Pembicara Seminar Pendidikan

Tidak Suka Air Putih? Baca Ulang Wawasan Anda

Tidak Suka Air Putih? Baca Ulang Wawasan Anda

Air Putih
pixabay.com

Penulis Henydhar Bramastivira Mahdani 

Mahasiswi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang

Air Putih — Akibat aktivitas yang terlalu padat membuat kita lupa untuk menjaga diri dengan cara minum air putih. Padahal di setiap kita melakukan kegiatan yang mengeluarkan tenaga dan pikiran pasti banyak ion-ion tubuh kita yang terbuang. Salah satu cara untuk mengisi ulang ion-ion yang terbuang tersebut adalah minum air putih.

Banyak orang bilang, “Minumlah air putih minimal 8 gelas atau 2 liter per hari supaya tubuhmu sehat”. Ternyata itu bukan sebuah ucapan belaka. Minum air putih minimal 8 gelas per hari ini memang mempunyai banyak manfaat.

Kesehatan harusnya kita jaga dalam hal apapun. Seperti menjaga lingkungan yang bersih, menjaga pikiran agar tidak stres, dan menjaga fungsi-fungsi organ tubuh agar tidak mudah diserang oleh penyakit. Semakin sibuk orang melakukan aktivitas haruslah semakin banyak ia menjaga kesehatan: berolahraga; makan buah dan sayur; dan minum air putih.

Kombinasi dari ketiga hal tersebut sudah mulai terlupakan mengingat kegiatan yang semakin sibuk. Juga ada sebagian orang yang menjaga kombinasi ketiga hal tersebut di sela-sela kesibukannya. Hanya sedikit dari bagian orang-orang yang tidak bisa melakukan kombinasi tersebut.

Berdasarkan riset di 13 negara yang dipublikasikan di European Journal of Nutrition, saat ini 1 dari 4 anak di Indonesia masih kurang minum air putih. Sebanyak 30% yang dikonsumsi bukanlah air putih. Sungguh sangat menyedihkan. Lalu apakah hal yang terjadi jika kita tidak mulai membiasakan minum air putih?

Kebiasaan

Menurut Ketua Indonesia Hydration Working Group (IHWG), dr. Budi Wiweko, minum air sejak kecil sangat penting. Ada data yang menunjukkan saat ini Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami peningkatan jumlah pasien penyakit degeneratif yang sangat tinggi.

Penyakit degeneratif meningkat salah satunya karena kurangnya mengkonsumsi air putih dalam kondisi yang minim. Sekitar 15% populasi warga Indonesia mengkonsumsi gula melewati ambang batas dari minimum. Padahal seharusnya konsumsi tidak boleh lebih dari 10%.

Peningkatan konsumsi gula dapat diperoleh dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis. Hal ini bisa disebabkan karena kebiasaan dari dini yang mulai sering mengkonsumsi gula daripada mengkonsumsi air putih.

Pada anak-anak yang aktif pada kegiatan tertentu perlu meminum 2 sampai 3 gelas air mineral sekitar 400 – 600 ml untuk mengurangi dehidrasi dan menstabilkan suhu tubuhnya, sedangkan untuk sisanya bisa dipenuhi saat berada di rumah dalam pengawasan orang tua.

Pada anak-anak pra-sekolah di usia 4 sampai 6 tahun membutuhkan 1,2 liter air mineral per hari (setara 5 sampai 6 gelas), sedangkan pada anak usia 7 sampai 9 tahun membutuhkan sekitar 1,5 liter air mineral (6 sampai 7 gelas) per hari.

Umumnya untuk anak remaja (sekitar usia 14 sampai 19 tahun) perempuan membutuhkan 1,8 liter per hari dan anak remaja laki-laki 2,6 liter per hari. Sedangkan untuk orang dewasa 2 liter perhari.

Biasakan untuk setiap bangun tidur dan hendak tidur minum air putih minimal segelas. Kegiatan ini untuk memenuhi kebutuhan air putih dalam tubuh. Lakukan juga kepada anak-anak.

Dampak Kekurangan

Tidak banyak orang yang mempedulikan dampak yang akan disebabkan jika kita kekurangan minum air putih. Apakah Anda sendiri memperdulikan dampaknya? Apa saja dampaknya?

Dehidrasi, merupakan kondisi tubuh yang tidak cukup mendapatkan cairan. Dehidrasi cukup berbahaya, karena jika dehidrasi berlangsung dalam waktu lama dan cukup parah maka bisa menyebabkan syok hingga berakhir dengan kematian.

Beberapa pemicu dehidrasi lainnya adalah muntah, diare, dan terjadinya pendarahan. Untuk menghindarkan tubuh dari dehidrasi perlu untuk minum air putih sesuai kebutuhan.

Kulit menjadi kusam, kekurangan air minum membuat kulit kehilangan kesegaran dan elastisitasnya yang membuat kulit terlihat kusam, kasar, dan mudah rusak. Dimana kurang cairan tubuh membuat enzim tidak mampu berfungsi dengan baik dalam menjaga kesehatan kulit. Dengan membiasakan minum air putih secara teratur, tubuh dapat terhindari dari masalah kulit yang terlihat kasar dan kusam tersebut.

Kurang konsentrasi, daya konsentrasi sangat tergantung dari kondisi kesehatan organ otak. Jika organ otak mengalami kekurangan cairan membuat timbulnya masalah, seperti kemampuan konsentrasi yang menurun, membuat seseorang sulit dalam memecahkan masalah, sering salah dalam mengambil keputusan, mudah untuk melakukan kesalahan, mudah lupa, sering melamun, dan lain sebagainya. Agar organ tidak mengalami gangguan tersebut maka diperlukan untuk minum air putih yang cukup agar tubuh tidak kekurangan asupan oksigen. Termasuk asupan oksigen ke otak bermasalah sehingga sel-sel otak menurun kinerjanya.

Mudah mengantuk, untuk mengetahui kekurangan minum air putih biasanya dirinya akan mudah sekali mengantuk. Hal itu karena air putih memiliki kegunaan yang salah satunya untuk menjaga kesegaran tubuh. Jika pada saat bangun tidur, tubuh masih terasa lemas, tidak bertenaga, dan mudah mengantuk perlu mencukupi kebutuhan minum air putih untuk mengembalikan tubuh yang sehat dan segar kembali.

Nyeri saat buang air kecil, kandung kemih membutuhkan cairan yang cukup agar bisa melakukan pembuangan cairan urine yang lancar. Kondisi cairan yang sangat sedikit di dalam tubuh menyebabkan kandung kemih mengalami infeksi dan menyebabkan rasa sakit pada saat buang air kecil.

Sebetulnya banyak dampak yang diperoleh jika kekurangan mengkonsumsi air putih. Itu hanya sebagian kecil dampak yang sering kita alami saat kekurangan air putih.

Faktor Kekurangan Minum

Berolahraga, karena banyak keringat yang dikeluarkan pada saat berolahraga menyebabkan ion-ion pada tubuh mulai berkurang. Semakin banyak gerakan yang menguras keringat menyebabkan tubuh semakin kehilangan ion-ionnya.

Contoh saja berlari pada waktu 20 menit untuk berlari sejauh 2,4 km, kalori yang terbakar adalah 144 kalori. Namun jika berlari dengan kecepatan tinggi dan menempuh jarak dua kali lebih jauh dalam jangka waktu yang sama, maka kalori yang terbakar adalah 288 kalori.

Tidur berlebihan, selama kita tidur maka kita tidak akan mengkonsumsi air minum dengan cukup. Maka tidurlah sesuai dengan porsi yang cukup agar tubuh memperoleh konsumsi air minum.

Pekerjaan yang sibuk, membuat kita lebih memprioritaskan pekerjaan daripada kebutuhan tubuh sendiri. Sempatkan untuk minum air putih sesuai dengan porsi.

Mulai untuk Mencukupinya

Terbayang kan jika sudah mulai mengalami dampak tersebut? Bagaimana jika dampaknya lebih parah? Perlu banyak cara untuk memenuhi kebutuhan air putih dalam tubuh. Siasati saja caranya.

Menurut saya dengan cara membawa tempat minum (botol) yang berisikan air putih kemana pun Anda pergi. Jika Anda berada di tempat makan, dan usahakan untuk menggunakan minum pendamping yaitu air putih.

Untuk para anak-anak, orang tua seharusnya mulai membiasakan mereka dengan minum air putih sebagai kebutuhannya. Kurangi untuk memberikan mereka makanan dan minuman yang manis-manis. Ajari mereka untuk memilih air putih sebagai pilihan utama untuk pemilihan minuman.

Menumbuhkan Nilai Karakter Melalui Permainan Tradisional

Menumbuhkan Nilai Karakter Melalui Permainan Tradisional

penulis Opini
Penulis Opini
  • Cahyo Hasanudin
  • Pascasarjana
  • Universitas Sebelas Maret Surakarta

ACADEMIC INDONESIA — Perubahan kondisi sosial-ekonomi yang dipacu oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, membawa serta perubahan–perubahan dalam cara berpikir, cara menghadapi hidup dan kehidupan ini.

Salah satu perubahan terlihat dengan semakin memudarnya rasa kemanusiaan, empati dan saling menghargai pada sesama manusia, belum lagi memudarnya sikap disiplin, jujur, rasa nasionalisme, kurang menghargai budaya lokal, atau pun primordialisme yang tak terkendali.

Kemajuan teknologi yang semakin pesat ternyata juga mempengaruhi aktivitas bermain anak. Sekarang, anak-anak lebih sering  bermain permainan digital  seperti video games, Playstation (PS), dan  games online (misalnya COC dan Pokemon-go yang lagi membooming di akhir tahun 2016 ini).

Permainan ini memiliki kesan sebagai permainan modern karena dimainkan menggunakan peralatan yang canggih dengan teknologi yang mutakhir, yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan permainan anak tradisional.

Permainan anak tradisional kadang tidak membutuhkan peralatan saat dimainkan kalaupun ada peralatan yang digunakan  hanyalah  peralatan yang sederhana yang mudah didapatkan, dan  biasanya ada di sekitar  anak saat bermain, seperti batu, ranting kayu, atau daun kering.

Mengharapkan mereka mau kembali mengenal permainan tradisional tersebut memang sulit, karena disamping teknologi yang tinggi dan tidak sederhana, permainan ini terkesan kuno. Namun sebenarnya banyak nilai-nilai yang dapat dipelajari dari setiap permainan tradisional. Misal permainan gobak sodor.

Gobak sodor sendiri memiliki banyak pengertian, ada yang mengatakan bahwa gobak sodor itu berasal dari bahasa Inggris dari kata “Go back to door” yang berarti kembali ke pintu. Melihat arti ini memang masuk akal juga bila permainan gobak sodor itu kembali ke pintu.

Karena permainan ini memang diharuskan kembali ke pintu/pangkalan awal setelah melewati pintu-pintu penjagaan lawan. Namun, di sebagian daerah di nusantara permainan gobak sodor sering disebut sebagai permainan galasin, galah asin, dan main asing.

Permainan gobak sodor dimainkan di lapangan terbuka dengan ukuran lapangan 9 X 4 m, lapangan harus berbentuk segi empat dan dibagi menjadi enam bagian dan diberi garis tengah. Permainan ini dibagi menjadi dua grup, yaitu grup lawan dan grup jaga, masing-masing grup terdiri dari tiga sampai lima orang.

Grup jaga harus menjaga garis horizontal dan vertikal. Seseorang yang berjaga di garis vertikal dia bisa mengakses semua garis, termasuk garis horizontal. Grup jaga bertugas menjaga garis-garis tersebut agar tidak dilewati oleh grup lawan. Grup lawan harus mampu melewati grup jaga, grup lawan yang dinyatakan berhasil yaitu mereka yang mampu melewati grup jaga dan mampu kembali ke posisi awal/pangkalan.

Permainan gobak sodor ini mampu meningkatkan kemampuan motorik, pengembangan otak kanan, juga mengembangkan kemampuan bersosialisasi anak, baik dalam bekerjasama maupun dalam memecahkan persoalan, melalui permainan tersebut.

Permaian gobal sodor ini sangat mengasyikkan sekaligus penuh kesulitan karena setiap orang harus melewati tim jaga secepat mungkin agar tidak terkena pegangan atau senggolan dari grup jaga, apabila terkena sentuhan tangan grup jaga maka dinyatakan kalah dalam permainan tersebut.

Keunikan permainan gobak sodor dapat dilihat dari pergantian grup. Grup jaga bisa berganti menjadi grup lawan atau sebaliknya. Sedangkan kemenangan dari permainan gobak sodor adalah dari banyaknya anggota tim yang mampu meloloskan diri dari tim jaga.

Permainan tradisional memiliki pengaruh dalam meningkatkan kompetensi interpersonal anak Sekolah Dasar. Kompetensi interpersonal tersebut dapat terangkum dalam nilai pendidikan karakter, nilai pendidikan karakter dalam permainan gobak sodor meliputi nilai yang berhubungan dengan diri sendiri, nilai yang berhubungan dengan sesama, nilai yang berhubungan dengan lingkungan, dan nilai kebangsaan.

Nilai-nilai tersebutlah yang nantinya akan membawa peserta didik untuk lebih bermartabat dalam mengemban hidup bermasyarakat, negara, dan agama.

Potret pendidikan karakter menyentuh sesuatu yang dalam pada hati manusia, seiring manusia memulai abad yang baru, manusia memiliki pemahaman yang lebih tajam tentang beberapa karakter yang penting dalam dunia pendidikan.

Mengutip pendapat salah satu pakar pendidikan karakter Thomas Lickona, beliau menyebutkan bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai operatif, nilai-nilai yang berfugsi dalam praktik. Pendidikan karakter mengalami pertumbuhan yang membuat suatu nilai menjadi budi pekerti, sebuah watak batin yang dapat diandalkan dan digunakan untuk merespon berbagai situasi dengan cara yang bermoral.

Selain itu, Kementerian Pendidikan Nasional juga menambahkan bahwa nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa dapat diidentifikasikan dari sumber agama, pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan.

Berdasarkan keempat sumber nilai itu, teridentifikasi sejumlah nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa yaitu, religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif,  mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.

Kedelapan belas nilai yang sudah diusung oleh Kementerian Pendidikan Nasional ini sudah kiranya dapat diintegrasikan pada sebuah permainan tradisional anak Indonesia.

 

BIODATA

Cahyo Hasanudin lahir di Bojonegoro pada tanggal 06 Mei 1988. Setamat dari SDN Geger Kec. Kedungadem Bojonegoro tahun 2000. Kemudian melanjutkan studi di MTs M2 Kedungadem, lulus tahun 2003. Tahun 2006 lulus dari MAN Negara Bali jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Pada program penerimaan mahasiswa baru pada tahun 2006 mendapat beasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan perikanan selama delapan semester, namun pada tahun 2007 pindah dari Universitas Muhammadiyah Malang dan pada tahun 2008 melanjutkan belajar di perguruan tinggi IKIP PGRI Bojonegoro hingga lulus pada tahun 2012.

Pada tahun 2013 melanjutkan belajar pada program pascasarjana di Universitas Sebelas Maret Surakarta dan lulus pada tahun 2014.

Penghargaan yang pernah diraih antara lain 1) juara II dalam pekan olahraga dan seni (porseni) olympiade Bidang Studi Ekonomi antar MA se-Bali pada tahun 2005, 2) Juara III Bidang Seni pada LKTM (Lomba karya Tulis Mahasiswa) antar jurusan se-Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tahun 2007, dan 3) sebagai kontributor terbaik dalam lomba penulisan puisi yang diselenggarakan oleh Sabana Pustaka pada tahun 2016

 

Full Day School (FDS), Setuju atau Tidak?

Full Day School (FDS), Setuju atau Tidak?

opini

  • Wulan Oktavia Sari
  • Pendidikan Matematika
  • IKIP PGRI BOJONEGORO

ACADEMIC INDONESIA — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, menegaskan tak akan surut dalam penerapan Full Day School (FDS) meski banyak ditentang berbagai kalangan masyarakat. FDS disebutnya menjadi jawaban untuk mengatasi permasalahan pendidikan di Tanah Air.

Menurutnya, sekolah itu sebagai school base management of education yaitu mengandaikan sekolah menjadi pusat manajemen belajar, sekolah sebagai manajemen masyarakat, dan sekolah sebagai manajemen keluarga. Tiga hal tersebut saat ini berjalan sendiri-sendiri sehingga perlu sinkronisasi.

Dengan penerapan FDS, pemerintah bisa menyamakan irama dari ketiga lingkungan itu untuk menanamkan pendidikan berbasis karakter kepada peserta didik.

Dalam pelaksanaan FDS, pemerintah tetap menerapkan Kurikulum 2013 (K13) sebagai bahan ajar wajib di sekolah. Kurikulum tersebut juga telah mencakup beragam materi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik di masing-masing daerah.

“Setelah kita hitung penambahan jam pelajaran pada FDS pada Senin-Jumat, tiap harinya bertambah 1 jam 20 menit. Anak SD paling molor sampai pukul 12.30 WIB. Kalau SMP hingga 13.30. Jadi untuk kegiatan ekskul itu tidak mengganggu sama sekali.” Ujarnya.

Jadi FDS tidak berarti siswa seharian penuh di sekolah, tetapi memastikan bahwa peserta didik dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, seperti kegiatan ekstrakulikuler.

Menurut Muhajir, FDS dapat membendung pengaruh-pengaruh buruk yang diterima anak saat orang tua sedang sibuk bekerja dan tak sempat mengawasi. Selama satu hari di sekolah, itu ada banyak hal yang bisa di pelajari anak-anak untuk menambah wawasan mereka.

Namun dari keputusan diatas, memancing sejumlah respon dari berbagai pihak. Sebagian besar masyarakat menganggap hal tersebut akan memberatkan siswa, mengingat sistem FDS mengharuskan siswa menjalankan aktivitas akademik secara penuh yaitu dari pagi sampai petang.

Seperti komentar dari Imam Prasodjo, “Ketahuilah pak Menteri bahwa terlalu banyak sekolah yang tak layak sebagai lingkungan belajar, atau bahkan tak layak sebagai tempat sekedar berkumpul. Lihatlah kondisi SD dan SMP di berbagai wilayah, apalagi daerah terpencil.

Angka statistik di Kemendikbud pasti tersedia yang menunjukkan berapa sekolah yang rusak, tak ada toilet, tak ada halaman bermain, atau bahkan sudah termasuk zona berbahaya”. Dari komentar tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada yang kurang setuju penerapan FDS dikarenakan fasilitas dan infrastruktur sekolah yang dianggap belum memadai.

Bukan hanya dari kalangan masyarakat biasa, artis tanah air dan juga dari jajaran pemerintahan pun ikut bersuara mengenai penerapan FDS ini. “Gagasan program Full Day School belum tepat diterapkan di Indonesia karena memang secara filosofis dan praktis, gagasan tersebut bermasalah”. Kata Anang Hermansyah.

“Dunia pendidikan kita ini jangan dijadikan kelinci percobaan. Ini bukan waktunya untuk menjadi kelinci percobaan, dan siswa-siswa kita juga bukan kelinci percobaan.” Ujar Fadli Zon (Wakil DPR-RI).

Selain banyak yang menolak penerapan FDS di Indonesia, ada banyak juga yang memberi apresiasi dan dukungan untuk penerapan FDS ini, misal dari para pendidik ternama yaitu Arif Rachman, Rhenald Kasali, dan Komaruddin Hidayat.

Masyarakat juga ada yang me-welcome-kan penerapan FDS ini, mereka beranggapan bahwa FDS membuat siswa menjadi proaktif terhadap kegiatan akademik, dan dinilai bisa bermanfaat terhadap tumbuh kembang siswa.

Harapan FDS

Dari mereka yang mendukung, mereka berharap agar hal tersebut diimbangi dengan fasilitas sekolah yang memadai juga tenaga pengajar yang profesional dalam mendidik.

Coba kita lihat Negara lain yang menerapkan sistem Full Day School, Singapura, China, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Amerika Serikat da Inggris. Sekarang kita ambil contoh dari negara Jepang. Mengapa harus Jepang? Karena dapat kita lihat, bahwa Jepang adalah negara yang disiplin akan waktu.

Pemerintah Jepang pun menerapkan sistem Full Day School (FDS) atau berangkat pagi pulang sore, kecuali untuk SD. Untuk tingkat SD biasa pulang pukul 13.00, sedangkan SMP pulang sekitar pukul 15.30, dan SMA pulangnya sekitar pukul 19.00. Lalu bagaimana dengan perkembangan anak-anak di Jepang?

Apakah fisik dan mentalnya menurun setelah menjalani aktifitas sehari di sekolah? Tentu tidak, mereka dididik menjadi pemuda yang tangguh, tidak ada rasa malas yang ada di dirinya.

Mereka terlihat lebih senang karena lebih sering berinteraksi dengan teman-teman, lebih bisa mengembangkan bakatnya, dan siswa lebih paham cara agar tidak mudah goyah dalam menyikapi arus globalisasi yang semakin maju. Mereka bahkan mampu menciptakan ide-ide baru untuk andil dalam era globalisasi ini.

Sekarang tergantung bagaimana kita menanggapi hal tersebut, seharusnya kita mendukung hal tersebut. Dikarenakan hal itu dilakukan bukan semata-mata untuk menjatuhkan mental anak negeri, malah sebaliknya.

Penerapan FDS malah memberikan berbagai dampak positif untuk perkembangan anak kedepannya. Namun juga harus diperhatikan dari segi fasilitas sekolah dan fisik dari peserta didik.

Orang tua dan guru harus membekali siswa tentang pentingnya gaya hidup sehat. Tidak lupa untuk menekankan olahraga dan makan makanan yang bergizi. Jangan sampai penerapan FDS ini menjadi boomerang bangsa karena banyak siswa yang tumbang dikarenakan sakit atau lain sebagainya.