Komunikasi Pembangunan Agama terkait Terorisme menurut Dr. K.H. Hasyim Muzadi

Komunikasi Pembangunan Agama terkait Terorisme menurut Dr. K.H. Hasyim Muzadi

Komunikasi Pembangunan Agama terkait Terorisme menurut Dr. K.H. Hasyim Muzadi

Hampir 20 tahun Indonesia mengalami gangguan keamanan nasional secara berkepanjangan, mulai dari bom diri skala kecil hingga skala besar. Ada banyak solusi dari stakeholder, namun ternyata kondisinya masih belum stabil.

Untuk menjaga toleransi dan mencegah terjadinya bom bunuh diri, setidaknya ada 5 langkah untuk mewujudkannya. Lima langkah ini sesuai apa yang disampaikan Dr. K.H. Hasyim Muzadi dalam muqadimah kitab Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri.[1]

  1. Aspek Ideologis dan Agama

Aspek ideologis dan agama ini sangat penting sebab aspek inilah sebagai dasar keyakinan seseorang. Masyarakat semua tahu bahwa dengan keyakinanlah (dogma) seseorang bisa melakukan dan mengorbankan apa saja yang dimiliki.

Dalam ranah ini, ormas Islam yang menjadi senior sepertihalnya Muhammadiyah atau NU seharusnya menjadi tulang punggung dari langkah ini. Bagaimanapun juga, kedua ormas ini adalah sesepuh yang sudah terbukti sanggup menjaga keutuhan NKRI. Di samping itu, kedua ormas ini juga memiliki wawasan kebangsaan yang mumpuni sehingga mampu mencegah terjadinya aksi-aksi radikalisme.

Aspek ideologi adalah aspek dasar yang perlu diperhatikan. Ia adalah akar permasalahan yang harus dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Pemahaman agama yang kurang menyeluruh berujung pada penyalahgunaan agama. Inilah yang harus diluruskan.

  1. Aspek Undang-undang dan Hukum

Aspek undang-undang dan hukum sangat penting digaungkan agar langkah penegak keamanan jelas dan terukur. Dalam hal ini, semuanya harus jelas. Jangan sampai hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Bela rakyat-rakyat lemah sehingga pemberantasan teroris bukan hanya terkait siapa yang melakukan, namun siapa di belakang yang mendanainya.

Langkah ini sangat penting mengingat terlepas siapa pelakunya kita semua masyarakat yakin bahwa semua agama mengajarkan perdamaian. Tidak ada satupun agama yang mengajarkan keburukan. Oleh sebab itu, penting kiranya pemerintah menelusuri lebih jauh siapakah dalang dan oknum di balik rentesan kasus yang telah terjadi.

Perlu dihindari, pemerintah hanya fokus di bawah, sedangkan mereka yang melakukannya barangkali adalah salah satu korban dari kesalahan pemahaman agama atau korban dari ideologi doktrin yang berseberangan.

  1. Pendekatan Intelejen dan Kewilayanan atau Zona

Masyarakat semua tahu bahwa gerak massif yang dilakukan oleh para terorisme adalah gerakan bawah tanah. Dalam hal ini, antara pihak kepolisian, pemerintah setempat dan masyarakat harus bahu-membahu berkomunikasi untuk menyamakan persepsi.

Jangan sampai, polisi bekerja sendirian di lapangan tanpa ada bantuan dan dukungan dari masyarakat. Hal ini guna memperkecil kemungkinan terjadinya salah penangkapan sekaligus memperkecil terjadinya miss communication antar masyarakat.

Dengan demikian, masyarkat juga dituntut untuk berperan aktif agar wabah terorisme tidak menggejala ke mana-mana. Mayarakat diajak peduli untuk bergerak bersama-sama agar tercipta masyarakat yang tentram, utuh dan madani.

  1. Aspek Sekuriti dan Represi

Sebab kasus teroris selalu menimbulkan pertanyaan, pihak kepolisian harus menuntaskan semua kasus yang pernah terjadi. Polisi harus menjadi pihak terdepan yang bertanggung jawab memberikan keamanan dan menjaminnya.

Dalam menuntaskan kasus demi kasus, pihak kepolisian sebaiknya tidak menggunakan cara kekerasan sebab cara kekerasan hanya akan melahirkan teroris baru. Hal ini berpijak pada penyalahgunaan ajaran sehingga balas dendam menjadi senjata utama semangat mereka dalam melakukan tindakan terorisme.

  1. Political Will

Langkah selanjutnya, upaya tegas dan cerdas juga harus dilakukan pemimpin tertinggi negeri ini. Bagaimanapun juga, bawahan akan tergantung pada atasan. Jika atasan dalam hal ini presiden menyuarakan dengan lantang untuk pemberantasan terorisme, maka pihak-pihak pemerintahan yang lain pun akan turut tergerak.

Dari nasional menuju lokal akan berupaya keras bagaimana menekan sekuat-kuatnya terorisme yang menyebar. Dengan demikian, dalam upaya pemberantasan terorisme, semua elemen bangsa ini tergerak maju bersama.

  1. Partisipasi Media

Dari kelima solusi yang ditawarkan Dr. KH. Hasyim Muzadi di atas, kiranya penulis menambah 1 solusi urgen yang perlu dilakukan yakni terkait partisipasi media. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, dalam pemberantasan terorisme, pihak kepolisian tidak bisa menggunakan cara kekerasan, terlebih cara tersebut disiarkan di televisi ataupun media sosial.

Tentu saja, hal yang akan terjadi adalah munculnya terorisme baru. Media baik offline maupun online perlu kesadaran untuk menahan ego dari kepentingan ekonomi guna memperkecil dampak negatif dari pemberitaan dengan cara memberitakan informasi-informasi yang cenderung bersifat persatuan dan tindakan bijaksana dari pemerintah.

Jangan sampai, media justru menjadi pengadu domba antara pihak pemerintah dengan teroris yang notabene mereka yang menjadi korban adalah masih satu kebangsaan.

KESIMPULAN

Dari uraian di atas, penting kiranya untuk menyelesaikan masalah terorisme terkait bom bunuh diri dengan cara yang memanusiakan manusia dan holistik. Pemerintah sudah saatnya mengupayakan mempersatukan semua elemen bangsa untuk memberantas hal-hal yang buruk bagi negeri dan menumbuhkan semangat-semangat baru yang lebih jernih.

Dengan persatuan, gotong royong dan keterikatan antar anak bangsa akan menjadikan strategi komunikasi pembangunan agama dalam hal penguatan toleransi akan semakin kuat, berkepanjangan dan berkesinambungan.

[1] Syaihk-Ul-Islam Dr. Muhammad Tahir-Ul-Qadri, Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri, (Jakarta: Minhajul Quran International, 2014), hlm. 15.

DAFTAR PUSTAKA    

Mahasiswa Magister KPI UIN Sunan Kalijaga, 2018, Komunikasi Pembangunan Agama; Sebuah pergeseran Paradigma, Bening Pustaka

Ikhsan, Muhammad, 2014, Komunikasi Pembangunan Islam, CV Sefa Bumi Persada

Nashiruddin Al Albani, Muhammad, 2012, Ringkasan Sahih Bukhari, Jilid 3 Bab Kitab Al Jizyah, Pustaka Azzam.

Tahir-Ul-Qadri, Syaihk-Ul-Islam Dr. Muhammad, 2014, Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri, Minhajul Quran International

Al-‘Asqalany, Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar, 2015, Kitab Bulughul Maram; Kitab Klasik Hadis Terpopuler, Mizan Media Utama.

al-Syirbhasi, Ahmad, 1994, Sejarah Tafsir al- Quran, ter. Tim Pustaka Firdaus.

Arif, Ahmad, 2010, Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Baidan, Nashruddin, 2002, Metodologi Penasfsiran Al-Quran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Abu Ja’far, 2009, Tafsir Ath-Thabari Jilid 18, Jakarta: Pustaka Azzam.

Salim, Abd. Muin, 1990. Beberapa Aspek Metodologi Tafsir Al-Quran, Ujung Pandang: Pandang: Lembaga Studi Kebudayaan Islam.Lembaga Studi Kebudayaan Islam.

Shihab, M. Quraisy, 1998, Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan.

Suryadilaga, M. Alfatih, dkk, 2005, Metodologi Ilmu Tafsir, Yogyakarta: TERAS.

Syamsuddin, Sahiron, 2010, Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadits, Yogyakarta: elsaq Press.

Syirbasi, Ahmad, 1999, Studi Tentang Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur‟anul Karim, Jakarta: Kalam Mulia.

Zulaiha, Eni, 2017, Jurnal Tafsir Kontemporer: Metodologi, Paradigma dan Standar Validitasnya, Bandung: Jurnal UIN SGD.

Hadis Komunikasi Interreligion Shahih Bukhari Nomor 1378

Hadis Komunikasi Interreligion Shahih Bukhari Nomor 1378

Hadis Komunikasi Interreligion Hadis Shahih Bukhari

BAB: DOSA PEMBUNUH ORANG KAFIR MU’AHAD TANPA ALASAN

حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

  1. Dari Abdullah bin Amr, dari Nabi, beliau bersabda, “Barangsiapa membunuh [jiwa 4/48] mu’ahad (orang kafir yang dalam perjanjian), maka ia tidak mencium bau surge dan sesungguhnya bau surge itu bisa didapatkan dari (jarak) perjalanan 40 tahun.”[1]

 

KONTEKSTUALISASI HADIS

Hadis Komunikasi Interreligion Shahih Bukhari Nomor 1378

Seakan menjadi lumrah, silih berganti kasus bom bunuh diri di Indonesia seperti tidak ada hentinya. Dari Sabang sampai Merauke, kasus bom bunuh diri merenggut korban yang tidak sedikit. Bukan hanya kalangan nonMuslim saja yang menjadi korban, Muslim, ibu-ibu hingga anak-anak pun turut menjadi korban.

Kasus bom bunuh diri tidak hanya menyerang tempat ibadah seperti gereja saja, bahkan dalam dasawarsa terakhir, kasus bom bunuh diri juga menyerang tempat-tempat ibadah ummat Muslim seperti di masjid Polrestabes, bahkan di tempat umum seperti kantor pos polisi maupun hotel.

Data terakhir menunjukkan, kasus-kasus bom bunuh diri terbesar ada sejak 20 tahun terakhir tepatnya sejak tahun 2.002 dimulai dari kasus bom bunuh diri Bali I hingga kabar terakhir bom bunuh diri di Polrestabes Medan.[2] Hal ini mengindikasikan betapa kasus bom bunuh diri selayaknya menjadi perhatian serius pemerintahan pusat dan masyarakat secara keseluruhan.

Jika dilihat dari berbagai sumber data, baik televisi, media cetak, radio dan media online lainnya, adanya kasus bom bunuh diri bisa diklasifikasikan menjadi 3 penyebab, pertama, pelaku bom bunuh diri mengaku bahwa ia terluka karena sebagian negara Muslim dianiaya sedangkan pemerintah hanya diam saja. Hal inilah yang menyebabkan pelaku bom bunuh diri berdalih membalaskan dendam negeri-negeri Muslim yang dijajah dengan memanfaatkan bom bunuh diri.

Kedua, anggapan bahwa jihad dengan bom bunuh diri dihalalkan. Hal ini juga menjadi sekian dari banyak alasan yang dikemukakan oleh para pelaku bom bunuh diri. Mereka beranggapan bahwa bom bunuh diri adalah bagian dari jihad yang mulia karena dilakukan negeri yang dzolim. Dengan bom bunuh diri, seseorang bisa mendapatkan syurga karena telah mengorbankan harta, diri dan nyawanya.

Ketiga, alasan yang dikemukakan para pelaku bom bunuh diri lantaran iming-iming surga dan bidadari yang akan menyambut mereka. Hal ini juga menjadi motivasi tersendiri bagaimana para pelaku bom bunuh diri nekad melakukan perbuatan tersebut.

Jika dilihat saksama dari 3 poin di atas, salah satu kesimpulan yang bisa dipetik adalah minimnya wawasan keagamaan dari pelaku bom bunuh diri. Seseorang yang memiliki wawasan yang luas dan pemahaman agama yang benar, ia akan berpikir 1.000 kali untuk melakukan tindakan bom bunuh diri, terlebih tindakan tersebut merugikan banyak orang.

Bagi para pelaku, bom bunuh diri bagian dari ekspresi untuk membalaskan dendam saudara-saudara mereka yang berada di negara lain yang saat ini terjajah. Padahal, Indonesia adalah negara aman. Di dalamnya terdapat para tokoh yang berjanji setia atas nama kedamaian. Dalam hal ini, ummat Muslim sudah terikat janji dengan ummat yang lainnya (kafir mu’ahid) untuk saling menjaga. Indonesia adalah negara yang aman sehingga tidak tepat jika sebagian ummat Muslim merusak perjanjian atas nama berjihad.

Di dalam Islam, jihad bisa dilakukan banyak caranya, termasuk salah satunya adalah jihad menahan hawa nafsu. Bagaimana seseorang mengelola nafsunya menjadi nafsul mutmainnah. Dengan demikian, jihad lebih melambangkan usaha sungguh-sungguh untuk kemajuan agama. Hal ini juga dijelaskan dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 3 Tahun 2004 tentang perbedaan terorisme dengan jihad[3];

1. Terorisme

  • Sifatnya merusak (ifsad) dan anarkhis/chaos (faudha).
  • Tujuannya untuk menciptakan rasa takut dan/atau menghancurkan pihak lain.
  • Dilakukan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas.

2. Jihad

  • Sifatnya melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dengan cara peperangan.
  • Tujuannya menegakkan agama Allah dan/atau membela hak-hak pihak yang terzalimi.
  • Dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syari’at dengan sasaran musuh yang sudah jelas.

Para pelaku bom bunuh diri juga terlupa bahwa daerah yang ia gunakan sebagai tempat bom bunuh diri bukan hanya tempat yang disinggahi oleh orang-orang kafir saja. Lebih dari itu, di sana juga terdapat banyak ummat Muslim lainnya yang barangkali bekerja atau hanya sekedar liburan.

Dalam hal ini, kiranya harus dipertegas lagi bahwa kafir itu sendiri juga terbagi menjadi beberapa kelompok[4];

  1. Kafir Mua’had kafir mua’hid adalah kafir yang tinggal dalam sebuah negeri yang didalamnya memiliki perjanjian.
  2. Kafir dzimmi adalah kafir yang tinggal di dalam sebuah negeri kaum Muslimin dan sebagai gantinya mereka mengeluarkan jizyah semacam upeti seabagai konpensasi perlindungan kaum Muslimin terhadap mereka.
  3. Kafir musta’man yaitu kafir yang hidup di dalam negari Muslim dan ia mendapat perlindungan dari penguasa Muslim maupun salah satu Muslim.
  4. Kafir harbi adalah kafir yang memerangi ummat Muslim. Dalam hal ini, kaum kafir harbi boleh diperangi kaum Muslimin.

Terakhir, salah satu masalah yang serius adalah tentang wawasan dan pemahaman keagamaan. Ketika orang beragama cenderung eklusif, ia hanya akan memilah dan memilih ayat-ayat yang mendukung akal dan pemahamannya saja. Ia enggan untuk membuka lembaran lain yang notabene dari satu ajaran ke ajaran lain memiliki relevansi dan konteks yang berbeda.

Seandainya para pelaku bom bunuh diri mau terbuka, diskusi dan berbesar hati untuk menerima perbedaan, tentu saja ia akan menjumpai berbagai ayat, hadis yang bisa merubah jalan pikirannya. Terlebih untuk kasus bom bunuh diri, banyak sekali hadis yang menjelaskan tentang bagaimana seharusnya seseorang berperilaku dan mengambil keputusan dalam berinteraksi antar agama di dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya hadis yang telah penulis sebutkan di atas. …, Padahal, harum surga dapat dicium dari jarak empat puluh tahun.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bom bunuh diri tidaklah dibenarkan, dalam kata lain diharamkan. Indonesia merupakan negara aman yang di dalamnya disangga tiang-tiang bangsa mulai dari ras, suku, agama dan lain sebagainya yang telah mengikat janji untuk setia, damai dan berada di bawah kesatuan Republik Indonesia.

Hadis Bukhori No. 1378 di atas menegaskan bahwa tidak semua kafir boleh diperangi, diusik, dicurangi dan diusir. Adapun di dalam Islam istilah kafir terbagi menjadi 4 kelompok antara lain kafir mu’ahad, dzimmi, musta’man dan harbi. Di Indonesia sendiri, dari keempat kelompok kafir di atas memiliki kecenderungan kafir mu’ahad, dzimmi dan musta’man sehingga keberadaannya wajib dilindungi.

[1] Muhammad Nashiruddin Al Albani, Ringkasan Sahih Bukhari, Jilid 3 Bab Kitab Al Jizyah, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2012), hlm. 653.

[2] https://www.kompas.com/tren/read/2019/11/13/102319565/ramai-soal-bom-bunuh-diri-di-medan-ini-rentetan-aksi-teror-dengan-target?page=all Diakses pada 26 Desember 2019, Pukul 13.13 WIB.

[3] Syaihk-Ul-Islam Dr. Muhammad Tahir-Ul-Qadri, Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri, (Jakarta: Minhajul Quran International, 2014), hlm. 35.

[4] Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalany, Kitab Bulughul Maram; Kitab Klasik Hadis Terpopuler, Cet. II, (Bandung, Mizan Media Utama, 2015), hlm. 698.

DAFTAR PUSTAKA

Nashiruddin Al Albani, Muhammad, 2012, Ringkasan Sahih Bukhari, Jilid 3 Bab Kitab Al Jizyah, Pustaka Azzam.

Tahir-Ul-Qadri, Syaihk-Ul-Islam Dr. Muhammad, 2014, Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri, Minhajul Quran International

Al-‘Asqalany, Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar, 2015, Kitab Bulughul Maram; Kitab Klasik Hadis Terpopuler, Mizan Media Utama.

al-Syirbhasi, Ahmad, 1994, Sejarah Tafsir al- Quran, ter. Tim Pustaka Firdaus.

Arif, Ahmad, 2010, Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Baidan, Nashruddin, 2002, Metodologi Penasfsiran Al-Quran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Abu Ja’far, 2009, Tafsir Ath-Thabari Jilid 18, Jakarta: Pustaka Azzam.

Salim, Abd. Muin, 1990. Beberapa Aspek Metodologi Tafsir Al-Quran, Ujung Pandang: Pandang: Lembaga Studi Kebudayaan Islam.Lembaga Studi Kebudayaan Islam.

Shihab, M. Quraisy, 1998, Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan.

Suryadilaga, M. Alfatih, dkk, 2005, Metodologi Ilmu Tafsir, Yogyakarta: TERAS.

Syamsuddin, Sahiron, 2010, Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadits, Yogyakarta: elsaq Press.

Syirbasi, Ahmad, 1999, Studi Tentang Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur‟anul Karim, Jakarta: Kalam Mulia.

Zulaiha, Eni, 2017, Jurnal Tafsir Kontemporer: Metodologi, Paradigma dan Standar Validitasnya, Bandung: Jurnal UIN SGD.

Jurnalisme Dakwah Republika Online dengan NU Online

Jurnalisme Dakwah Republika Online dengan NU Online

Jurnalisme Dakwah Republika Online dengan NU Online

(Sejarah Gerakan Dakwah New Media terkait Ucapan Salam Semua Agama Periode November 2019)

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang bagaimana media Islam membingkai pemberitaan terkait ucapan salam semua agama. Selanjutnya, peneliti menganalisis bagaimana penerapan jurnalisme dakwah yang penulis ambil dari berita-berita terkait kasus tersebut. Hasilnya, Republika lebih pro terhadap pelarangan ucapan salam semua agama. Republika memandang bahwa ucapan salam semua agama masuk ranah teologis. Adapun NU Online, media tersebut kontra dengan larangan ucapan salam. NU Online menganggap persoalan ucapan salam semua agama sudah masuk dalam ranah budaya. Adapun penerapan jurnalisme dakwah baik Republika maupun NU Online belum memenuhi kriteria yang ideal.

Kata kunci: jurnalisme dakwah, framing, salam semua agama

12 Keutamaan Membaca Surat Yasin

12 Keutamaan Membaca Surat Yasin

Mengambil 12 Hikmah dari Mendengarkan MP3 Surat Yasin

Jika membaca Alquran melibatkan mata, otak, mulut dan telinga juga hati, maka mendengarkan bacaan Alquran tidak perlu melibatkan mata dan sedikit melibatkan mulut dan hanya perlu mengoptimalkan telinga, otak, dan jantung. Selain membaca, ternyata mendengarkan ayat alquran juga sangat bermanfaat, salah satunya adalah dengan mendengarkan MP3 surat Yasin. Lalu apa keutamaan dari surat Yasin dan mengapa kita perlu mendengarnya?

Keutamaan Surat Yasin

Surah Yasin mengandung banyak kebaikan termasuk kebangkitan dan penghakiman. Baca Surah Yasin di setiap awal dan akhir setiap hari, Pastikan Anda membacanya dengan pengetahuan dan pemahaman.

Surah Yasin adalah surat ke 36 di Al-Quran yang terdiri dari 83 ayat. Surat Yasin adalah salah satu Surat Al-Qur’an yang dikagumi dan diturunkan kepada Nabi Muhammad di Mekah. Arti sebenarnya atau nyata dari kata “Yasin” hanya diketahui oleh Allah saja.

Jika seseorang ingin mencari pengampunan atas dosa-dosanya dari Allah SWT membaca Surat Yasin setiap hari, Allah pasti akan mengampuni dosa-dosanya.

Surah Yasin adalah Surah yang sangat diberkahi yang memiliki banyak manfaat dan kebaikan. Beberapa dari kebaikan ini adalah sebagai berikut :

  1. “Segala sesuatu memiliki jantung, dan jantung Al-Quran adalah Surah Yasin. Saya akan senang hati itu berada di hati setiap orang dari umat saya.” (Tafsir-al-Sabuni Vol.2)
  2. “Siapa pun yang membaca Surah Yasin sekali, Allah akan mencatat pahala membaca Quran sepuluh kali.” (Tirmidzi) “
  3. “Jika ada yang membacakan Yasin di awal hari, kebutuhannya akan terpenuhi.”
  4. “Siapa pun yang membaca Surah Yasin pada malam hari meminta pengampunan Allah, Allah akan memaafkannya.” (Ibn Hibban, Darimi 3283-A)
  5. “Siapa pun yang membaca surat Yasin pada awal hari, maka ia akan berada dalam kemudahan dan kebaikan sampai malam hari. Dan siapa pun yang membacakannya dalam malam hari, maka dia akan merasa tenang dan baik sampai pagi berikutnya “.
  6. “Jika ada yang membacakan Yasin untuk kesenangan Allah, dosa-dosa masa lalunya akan diampuni; jadi bacalah pada mereka yang sekarat.” (Baihaqi)
  7. Hadis Ataa bin Abi Ribaah (Radhiyallahu Anhu) mengatakan bahwa Nabi Muhammad (SAW) telah mengatakan, “Siapa pun yang membaca Surah Yasin pada awal hari, semua kebutuhannya untuk hari itu akan terpenuhi.”
  8. Menurut satu hadits, “jika ada yang membaca Surah Yasin setiap malam dan kemudian mati, mereka akan mati sebagai syahid”
  9. Meredakan kematian, Nabi kita tercinta Muhammad SAW bersabda, “Bacalah Surat Yasin pada mereka yang mati.” (Sunan Abi Dawud)
  10. Menurut sebuah hadits, “jika seseorang membaca Surah Yasin dan Surah As-Saaffat pada hari Jumat dan memohon sesuatu kepada Allah, maka doa mereka dikabulkan.”
  11. Surah Yasin juga dikenal sebagai “Raafi’ah Khaafidhah.” Dengan kata lain, apa yang meninggikan status orang-orang beriman dan menurunkan derajat orang-orang kafir.
  12. Menurut Riwayat, Nabi Muhammad (SAW) berkata, “Hatiku menginginkan Surah Yasin harus ada di hati setiap umatku.” Jadi, pastikan Anda menghafal Surah Yasin untuk mengumpulkan manfaatnya.

Ayat terakhir dari Surah Yasin diterjemahkan sebagai, “Maka Dimuliakanlah Dia dan Yang Mahatinggi di atas segalanya yang mereka persekutukan dengan-Nya, dan di Tangan Siapa adalah kuasa segala sesuatu, dan kepada-Nya engkau akan dikembalikan.”

Maqri (Rahmatullah Alaihi) berkata, “Jika Surah Yasin dibaca oleh orang yang takut pada penguasa atau musuh, orang akan menghilangkan rasa takut ini.”

Jika ingin menghafalkan surat Yasin, maka dengarkan secara online atau MP3 surat Yasin yang indah.

 

Mencari Makna Jurnalis di Kampus UINSA Surabaya (Pengalaman Nur Chafshoh)

Mencari Makna Jurnalis di Kampus UINSA Surabaya (Pengalaman Nur Chafshoh)

Gambar Kampus Universitas UINSA Surabaya

Bagi saya, ilmu jurnalis tidak hanya sekadar menulis berita. Namun sebagian masyarakat mengaitkan berita dengan kata jurnalistik. Saya adalah alumnus jurusan KPI di UINSA Surabaya. Pengalaman saya selama berada di bangku kuliah, meniti ilmu jurnalis sangatlah beragam. Waktu itu memang saya terobsesi untuk menjadi seorang penulis. Berawal dari memutuskan masuk di jurusan Komunikasi dan Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), saya pun menghela napas. Apa sih yang ada di Jurusan ini?

Mengikuti Kegiatan Kampus yang Selaras dengan Jurusan

Lambang Logo UINSA Surabaya

Selang beberapa hari di kelas, saya pun mulai mengerti, di jurusan ini pada intinya kita diajarkan untuk menulis. Semua memang berawal dari pandangan pertama, saya menganggap demikan, pokoknya bakalan diajari menulis. Saya pun jalan-jalan di sekitaran kampus sebagai mahasiswa baru (MABA), ada banyak UKM kampus yang mengadakan perekrutan anggota baru dalam UKM-nya. Saya pun melirik stand yang ingin mencari MABA yang tertarik dengan dunia jurnalistik. DJD Ara-Aita (diklat jurnalistik dasar) atau yang biasa disingkat LPM Arta, sebuah Lembaga Pers Kampus yang dimiliki oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Sebagai MABA pastinya kita-kita punya semangat dara muda yang menggelora. Termasuk saya. Lirikan mata saya kemana-mana, tapi saya pun harus memilih beberapa UKM yang singkron dengan jurusan saya. Salah satunya LPM Arta tersebut. Saya pun mencari tahu apa persyaratan mengikuti LPM itu, disuruh buat Artikel, terserah mau artikel apa. Lalu berkas disatukan dengan biodata yang lain. Syarat pun langsung saya buat dan layangkan ke stand Arta. Sebenarnya cuma buat keseriusan anggota saja, buat artikelnya, dan ingin tahu anak didiknya condong ke tulisan jenis apa.

Selama mengikuti pengkaderan, kami semua diarahkan untuk mengikuti acara di kampus selama tiga hari. Karena ini acaranya di kampus, kita tidak disuruh untuk menginap. Mulai dari jam 7 pagi hingga jam 8 malam selama tiga hari berturut-turut, kami digencar dengan materi jurnalistik, terutama berita. Baik dari tulisan Straigth News hingga Features. Sudah sejak awal saya telah mengikuti kegiatan yang berbasis jurnalis, saya pun mulai mengarah pada pandangan yang sama, yaitu KPI adalah jurusan yang mengajarkan jurnalistik berita.

Mengapa demikian? Karena di kelaspun banyak menyuguhkan materi tentang menulis berita. Dari mata kuliah Jurnalistik Cetak, Jurnalistik Online, Desain Media Jurnalistik, Desain Media Online, Creative Writing, Jurnalistik TV, dan lain sebagainya. Itu semua saya dapatkan pada semester lima kalau gak salah. Semester yang mengharuskan memilih konsentrasi, ada 2 Jurnalistik dan Public Speaking. Sesuai dengan nama Jurusannya, Komunikasi Penyiaran Islam. Ada kata komunikasi, dan penyiaran Islam.

Komunikasi berarti kita akan diajari untuk melakukan komunikasi yang baik, salah satunya dengan media tulisan. Karena saya mengambil konsentrasi Jurnalis, kami para jurnalis di kelas mengikuti materi dengan baik, bahkan kita disibukkan dengan kerja kelompok mengambil gambar untuk dijadikan video profil wisata, layaknya artis. Seru, kami menikmati. Begitulah anak mahasiswa, menikmati meskipun tidak punya uang. Bahkan posisi tidak punya uang pun dapat jalan-jalan.

Seperti yang kami lakukan para mahasiswa KPI, berkelana mengikuti seminar-seminar yang diadakan kampus lain. Waktu itu saya dan kawan-kawan mengikuti acara seminar di UB Universitas Brawijaya Malang. Tentunya diberikan wawasan mengenai hal-hal yang berubungan dengan jurnalistik, terutama Televisi. Serta informasi mengenai keadaan dunia jurnalistik di masa kini, waktu masih sedikit asing, jurnalistik yang akan segera viral, yaitu sebagai kontributor atau netizen.

Pendalaman saya tentang kepenulisan di jurusan ini masih seputar dunia berita. Ada banyak kegiatan yang dapat dihubungkan dengan kata jurnalis, tentunya yang masih selaras dengan dunia berita. Di dalam organisasi yang saya ikuti, tentunya Arta, di sana diajarkan menulis macam-macam jenre berita. Di kelas, ada banyak materi yang dapat dikaitkan dengan berita, tentunya lebih banyak seputar materinya saja. Jurnalistik Cetak, kami diajarkan untuk membuat berita yang menelisik lebih dalam kepada materi beritanya. Bagimana Jawa Pos dari mencari tema hingga menuliskannya, kita juga diajak kunjungan ke media tersebut yang kebetulan tempatnya dekat dengan kampus, di Graha Pena.

Kami juga diajarkan membuat desain Media Cetak pada mata kuliah Desain Media Cetak. Dengan beberapa aplikasi semacam coreldraw atau photoshop. Pada mata kuliah Creative Writing, kami diajarkan bagaimana cara menulis yang benar, tapi di sini lebih kepada teorinya saja sayangnya. Padahal waktu saya ingin materi yang lebih yaitu latihan, latihan, dan latihan. Tentu yang saya harapkan adalah bagaimana dosen dapat memberikan materi dan keilmuan yang sesuai dan benar-benar dapat dipraktikkan langsung oleh mahasiswanya, bukan hanya sekadar materi. Tapi pada kenyataannya banyak mata kuliah yang hanya menyuguhkan itu. Yang saya acungi jempol pada KPI UINSA sebenarnya kalau mata kuliah tentang praktik langsung, seperti desai media cetak, langsung diberikan kepada ASDOS yang pakarnya. Hanya saja pada waktu saya yang kurang mengikuti, sehingga lebih mudah lupa. Tapi kalau seputar menulis berita, jarang ada yang menyuruhnya untuk menulis berita.

Apa yang saya cari tentang materi dan praktek, malah ketemu di dalam sebuah organisasi. Arta. Kegiatan mencari berita, dijadikan Crew Newnew dulu, yaitu sebuah tim yang ada di pengkaderan sebelum dinobatkan menjadi bagian dari keluarga Arta. Di sana kami digembleng untuk menulis berita dan tulisannya akan diterbitkan dalam buletin yang terbit setiap satu minggu sekali. Dari proses rapat tema, pembagian jobdis penulis, hingga mencari berita yang membutuhkan usaha penuh. Wawancara yang kadang diam-diam, menggunakan nama inisial, hingga kajian pada tengah malam. Sungguh, baru saya tahu dunia wartawan sangat berat, padahal masih wartawan amatir yang belajar di dalam kampus, berita-berita pun seputar kejadian di kampus.

Di dalam jurusan sendiri sebenarnya ada pengkaderan, yaitu sebuah tim jurnalis yang diadakan HMJ, pada waktu di jurusan saya namanya masih HMJ sekarang diganti HIMAPRODI. Namun karena tim tersebut membutuhkan seleksi, dan saya daftar tapi tidak lolos, saya pun tetap fokus pada Arta. Keluarga wartawan yang menurut saya menyenangkan. Selama belajar di sana, saya menjadi sosok yang semangat dalam mencari berita dan nimbrung dalam setiap kegiatan yang dilakukan di organisasi tersebut.

Jurnalis Bukan Sekadar Penulis Berita

Setelah helaan napas panjang, menerjang api semangat menggiati literasi kejurnalisan bidang berita, saya pun mulai menepi sebentar. Suatu problem keorganisasian di Arta (Ara-Aita) saya rasakan, yang membuat rasa ingin tidak terlalu aktif di sana, meskipun rasa sayang terhadap para anggota Arta karena kebersamaan selama ini. Saya tahu, menjauh bukan suatu penyelesaian masalah, tapi saya ingin.

Di kelas konsentrasi jurnalis, ada sebagian dari mereka adalagh anggota Arta. Mereka tetap menjunjung nama berita sebagai sumbangsih terbesar dalam dunia kepenulisan jurnalis. Setiap apapun diskusi itu yang berada di dalam kelas, mereka berdiskusi dengan kritis. Tatapi saya yang sering duduk di bangku paling pojok dan jarang menemani serta melayani anak jurnalis untuk diskusi, saya memiliki pemikiran yang berbeda. Mungkin juga faktor organisasi yang kurang baik, atau gara-gara itu baru saya disadarkan untuk mendalami makna jurnalis yang sesungguhnya.

Hal yang positif saya aktif keorganisasian jurnalis adalah sata tahu dunia jurnalis ini sangat unik. Kadangkala seorang jurnalis harus mempunyai daya peka yang sangat tajam, kritis, dan independen. Tapi kadangkala jurnalis harus menyesuaikan diri dengan pendekatan sosial terhadap masyarakat, karena konon seorang jurnalis adalah pembela rakyat. Di balik perjuangannya dalam mengais berita dan begadang malam. Tapi itu semua adalah perjuangan menulis berita sebagai jurnalis.

Lalu ketika saya menepi dan lebih memilih menelaah arti jurnalis yanh sesungguhnya, poin utama yang saya dapatkan adalah jurnalis penulis segalanya. Tugas pokoknya sebagai penulis. Saya pun menyelam ke dunia literasi. Di mana di sana ada banyak jenis tulisa yang bisa dikategorikan sebagai bahan untuk para jurnalis menulis. Ada puisi, cerpen, cerbung, artikel dan tulisan jurnalis yang lainnya. Pikiran saya dibedah dan dibagi-bagi tentang apa arti jurnalis lain yang saya tidak tahu. Yaitu mendalami dunia sastra.

Sebagai mahasiswa saya dan kami sudah terbiasa dengan dunia googling mencari informasi melalui google. Meskipun itu adalah kegiatan yang dilakukan mahasiswa masa kini saja, yang kadangkala membuat khilaf para pelakunya mencari refrensi tugas dan mencomot artikel untuk dipindah ketugasnya. Tapi karena saya telah terlebih dahulu berada di dunia jurnalis khususnya berita, saya tidak terbiasa melakukan plagiasi.

Namun google masih sangat berguna bagi saya. Selain untuk mencari inspirasi tulisan, dari google dan baca-baca buku di perpustakaanlah yang menyadarkan saya bahwa ada tulisan jenis lain yang menyertai dalam dunia jurnalis. Seperti yang saya lakukan, mencari informasi mengenai tulisan sastra, gabung dengan grup menulis seperti GPSP ( goresan pena sang penulis), KBM (komunitas bisa menulis), dan lain sebagainya. Serta dapat mencari tatacara menulis sastra, bagaimana menulis puisi yang baik dan seterusnya.

Pendalaman saya juga mengantarkan saya belajar menulis jenre jurnalis berupa tulisan biografi. Saya pun gemar mencari refrensi sejarah-sejarah Islam lalu saya foto copy sebagai bahan tulisan. Hobi saya yang baru ini, membuat pikiran saya terbuka untuk mendalami dunia jurnalis yang sesungguhnya. Mengikuti acara-acara, pelatihan kepenulisan sastra seperti yang digagas oleh bu Wina Bojonegoro. Ia telah menulis banyak cerpen yang berhasil tembus koran-koran nasional seperti Jawapos dan Kompas. Tidak hanya itu, perkumpulan grup kepenulisan yang diadakan dalam rangka Kopdar di Jogja pun saya datangi. Berangkat sendiri pula. Begitulah saya, terlalu bersemangat dalam mendalami dunia literasi.

Kegiatan kliping mengeliping isi koran pun saya lakoni. Waktu itu sekitar semester lilma, saya punya program untuk diri sendiri membeli koran setiap akhir pekan, yaitu koran Minggu. Jenis tulisan yang saya cari adalah cerpen, puisi, dan artikel-artikel yang menarik. Lalu saya gunting dan ditempelkan di buku besar. Semua saya lakukan dalam rangka hobi dan kesenangan mendalami dunia jurnalistik. Saya mencoba melakukan peran sebagai manusia berpaham jurnalis yang idealis. Tulisan-tulisan itu saya jadikan patokan tulisan jurnalistik yang baik.

Sebagai bukti keseriusan saya, saya mencoba menerapkan dan memberi pemahaman kepada diri saya sendiri tentang makna jurnalis sesungguhnya. Jurnalis adalah kegiatan tulis-menulis lalu saya coba untuk memberikan pemahaman itu kepada orang lain. Selain ikut organisasi LPM Ara-Aita, saya juga aktif dalam UKM IQMA di sana ada banyak bidang. Saya masuk dalam bidang dakwah, dan saya percaya bahwa tulisan dapat dijadikan sebagai media dakwah.

Setelah saya berproses di IQMA dakwah dalam satu tahun, saya juga merasa mendalami konsentrasi bidang Public Speaking yang di sana juga diajarkan dalam Jurusan KPI. Tetapi saya lebih tertarik pada dunia tulis-menulis, saya pun dapat menerapkannya dalam ilmu dakwah tersebut, yaitu berdakwah dengan tulisan. Saya dan kawan-kawan pun diangkat menjadi pengurus. Lalu pemikiran itu saya terapkan kepada anak-anak didik saya. Mereka suka, terbentuklah grup FB berdakwah dengan tulisan, namun tidak bertahan lama. Karena saya sudah mendapat panggilan untuk menikah, yaitu pada semester tujuh.

Karena Jurnalis Juga Butuh Uang

Saya sebagai mahasiswi KPI Konsentrasi Jurnalis, bergelut dengan tulisan adalah hal yang biasa. Tetapi siapa yang tidak tahu, bahwa kebanyakan mahasiswa perantauan, memiliki keuangan yang tidak stabil. Kami dituntut untuk belajar dengan menyesuaikan jatah uang makan, kebutuhan hidup lainnya, serta untuk keperluan kuliah. Saya pun mulai tertarik untuk mencari pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu proses kuliah dan kegiatan di kampus. Salah satunya menjadi penulis lepas, dan mengikuti lomba-lomba menulis.

Setelah tahu, bahwa jurnalis tidak hanya menulis berita, saya pun mendapat ilmu tambahan dari pendalaman saya mengenai arti jurnalis sesungguhnya, terbiasa menulis cerpen, meskipun tidak ada yang lolos seleksi koran nasional. Terbiasa menulis puisi, meskipun belum ada yang lolos untuk diterbitkan. Tapi saya pernah satu kali mendapatkan uang berupa pulsa dari even yang ada di facebook yaitu menulis cerita singkat. Saya termasuk kategori favorit. Alhamdulillah terbantu pulsa, hal itu sungguh menggembirakan bagi mahasiswa perantauan.

Tidak cukup sampai di situ, saya juga berusaha mencari lowongan menulis artikel lepas di google, saya layangkan lamaran menulis di banyak tempat. Barangkali ada yang mau menerima saya menjadi salah satu penulis mereka. Melalui olx dan lainnya saya menemukan kontak WA, lalu kami melakukan pekerjaan sesuai yang tertera di dalam loker tersebut. Salah satunya menulis kata mutiara dalam 300 kata, selama kuliah kegiatan saya banyak, dan saya juga masih pemula dalam pekerjaan ini. Sungguh sangat membutuhkan kedisiplinan dan ketelatenan. Sampai-sampai di bus saat perjalanan pulang ke tanah kelahiran pun disibukkan dengan menulis, karena dikejar deadline.

Ternyata di tengah perjalanan saya tidak sanggup. Belum genap satu bulan, tidak saya teruskan, dan sepertinya kontrak putus dengan sendirinya, tanpa ada pertanyaan dari si pemilik lowongan tersebut. Kemudian berlanjut dengan lowongan berikutnya, saya memulainya dengan belajar lebih dalam tentang kepenulisan artikel sebagai salah satu genre Jurnalistik. Di sini pekerjaan saya lebih kepada tulisan artikel bertemakan kesehatan dan tips agar hidup sehat.

Saya pun sudah mulai mengerjakan tugas-tugas artikel itu, sudah hampir satu bulan, tiba-tiba saja saya lost kontak dengan tim pengelolanya, tiba-tiba saja nomor mereka tidak bisa dihubungi. Saya kecewa, tapi ya sudah lah. Mungkin belum rezeki saya. Tapi karena hal itu, saya tidak berani mencari lowongan kerja menulis artikel lagi. Saya pun lebih sering mengirim tulisan-tulisan saya ke media cetak, sembari mendalami ilmu jurnalistik saya. Dalam hal ini saya mengambil hikmah bahwa dengan mengikuti event-event dan belajar menulis di media massa, saya dapat lebih belajar praktik langsung di dunia kepenulisan.

Kesimpulan

Makna jurnalistik yang saya temukan adalah sebuah ilmu yang mempelajari dunia tulis-menulis. Tidak hanya sekadar menulis berita. Bisa jadi menulis artikel, menulis cerpen atau puisi. Begitu juga dalam Konsentrasi Jurnalis dalam mata kuliah Creative Writing, yang diberi pelajaran mengenai menulis cerpen meskipun hanya sekadar teori. Begitulah pengalaman saya ketika berada di KPI Konsentrasi Jurnalis, jangan hanya belajar di dalam kelas saja, kita jadi kurang berkembang ilmunya. Lalu belajarlah dengan giat, karena akan bermanfaat kelak ketika lulus kuliah.

Kriteria Khotib Jumat yang Ideal dalam Islam

Kriteria Khotib Jumat yang Ideal dalam Islam

Islam menyerukan kepada umat Islam untuk menunaikan Shalat Jumat. Menurut Prof. Faisal Islamil dalam bukuya Dinamika Kerukunan Antarumat Beragama, Shalat Jumat sebenarnya kewajiban individual (fadhua’ain) yang dikerjakan secara kolektif (berjamaah).

Shalat Jumat ditetapkan sebanyak dua rakaat dan didahului dengan khutbah yang disampaikan oleh seorang khotib. Dengan melaksanakan Shalat Jumat, berarti kewajiban Shalat Zhuhur sudah tidak ada lagi.[1]  Allah berfirman dalam Surah Jumah ayat 9.

Wahai orang-orang yang beriman, apanbila kamu sekalian diseru untuk menunaikan shalat pada hari jumat, amaka bersegeralah kamu menginat Allah dan tinggalkan jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Masih menurut Prof. Faisal Ismail, di dalam pelaksanaan Sholat Jumat tentu saja memerlukan kecakapan komunikasi seorang khatib. Berikut ini 8 ciri-ciri khotib yang layak menduduki mimbar-mimbar Jumat;

1.    Beriman kepada Islam

Sudah tentu bahwa keyakinan ini adalah mutlak. Seorang khatib hendaknya memegang teguh prinsip-prinsip akidah di dalam agama Islam. Dengan demikian, Islam harus dijadikan jalan hidup baginya.

2.    Sosok khotib hendaknya memiliki pandangan pluralis dan humanis yang memandang manusia seagama maupun yang berbeda agama sebagai kawan bukan musuh. Dengan demikian, sikap arif, santun, sopan dan mengutamakan kedamaian menjadi pribadi yang kuat dalam kesehariannya.

3.    Sorang Muslim yang pluralis dan humanis juga menaruh respek, penghargaan dan penghormatan kepada orang yang seagama maupun berbeda agama. Dengan demikian, kehidupan saling menghargai antarumat beragama bisa berlangsung.

4.    Sosok Muslim humanis pluralis juga seharusnya mengedepankan nilai-nilai toleransi dan keharmonisan dalam hidup, sehingga bisa menciptakan gotong royong dalam kehidupan bersosial.

5.    Sosok Muslim humanis pluralis hendaknya juga paham mengenai kitab suci. Ia tidak menafsirkan secara nafsunya semata, namun berdasarkan kebenaran dan fitrah manusia. Memahami teks tidak rigid namun fleksibel, dialektif dan kontekstual.

6.    Muslim pluralis humanis hendaknya juga mengedepankan nilai-nilai dan memperjuangkan rasa kemanusiaan. Adapun terkait  teologi, seorang humanis menyerahkan urusannya kepada masing-masing pemeluk agama.

7.    Seorang  Muslim humanis juga hendaknya memiliki sifat senang bermusyawarah untuk mencapai mufakat. Dengan karakter ini diharapkan seorang Muslim bisa mencai titik temu solusi yang sedang tejadi di tengah masyarakat; menang tanpa menyakiti, kalah tanpa merasa dilukai. Semua berlandaskan keadilan.[2]

Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga sendiri sudah melaksanakan program khutbah Jumat berbahasa isyarat ini kurang lebih 4 tahun, tepatnya sejak Januari 2014. Adapun detail pelaksanaannya sebagai berikut:

Prosesnya, perlu adanya jalinan komunikasi antara pengurus masjid, penerjemah bahasa isyarat dengan khotib. Pengurus masjid mula-mula memberitahukan kepada calon khotib, bahwa sebelum khotib naik mimbar, 3 hari sebelumnya sudah selesai membuat teks khutbah. Tujuan teks ini bukan untuk dibaca saat  naik mimbar, namun untuk dipelajari penerjemah khotib bahasa isyarat.

Setelah pengurus masjid menerima teks khutbah Jumat, pengurus masjid bisa mempostingnya di laman website masjid, atau mengirimkannya langsung kepada penerjemah bahasa isyarat  agar dipelajari. Dengan demikian,  penerjemah bahasa isyarat pun dituntut untuk menguasai isi khubah Jumat demi keefektifan pesan yang disampaikannya,

Di hari H-1, pengurus masjid mengingatkan kedua khotib bahwa Jumat esok adalah tugasnya. Tak lupa pula, pengurus masjid mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan seperti kelayakan mic, kebersihan, hingga kenyamanan kedua khotib.

Di Hari H, kedua khotib sudah bersiap  di shaf depan. Setelah master of ceremony mempersilahkan khotib pertama naik di atas mimbar, khotib kedua selanjutnya menyusul. Cara kerjanya cukup mudah, khotib penerjemah bahasa isyarat mengikuti apa yang disampaikan oleh khotib pertama.

Setelah khutbah pertama selesai, khutbah kedua pun sama seperti sebelumya, yakni khotib penerjemah bahasa isyarat mengikuti khotib pertama. Hal ini dilakukan sampai akhir tatkala hendak menunaikan Shalat Jumat. Terkait contoh teks khutbah Jumat, bisa dilihat seperti berikut ini;


[1] Faisal Ismail, Dinamika Kerukunan Antarumat Beragama, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 25

[2] Faisal Ismail, Dinamika Kerukunan Antarumat Beragama, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 29