Hadis Komunikasi Interreligion Shahih Bukhari Nomor 1378

Hadis Komunikasi Interreligion Shahih Bukhari Nomor 1378

Hadis Komunikasi Interreligion Hadis Shahih Bukhari

BAB: DOSA PEMBUNUH ORANG KAFIR MU’AHAD TANPA ALASAN

حَدَّثَنَا قَيْسُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ حَدَّثَنَا مُجَاهِدٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

  1. Dari Abdullah bin Amr, dari Nabi, beliau bersabda, “Barangsiapa membunuh [jiwa 4/48] mu’ahad (orang kafir yang dalam perjanjian), maka ia tidak mencium bau surge dan sesungguhnya bau surge itu bisa didapatkan dari (jarak) perjalanan 40 tahun.”[1]

 

KONTEKSTUALISASI HADIS

Hadis Komunikasi Interreligion Shahih Bukhari Nomor 1378

Seakan menjadi lumrah, silih berganti kasus bom bunuh diri di Indonesia seperti tidak ada hentinya. Dari Sabang sampai Merauke, kasus bom bunuh diri merenggut korban yang tidak sedikit. Bukan hanya kalangan nonMuslim saja yang menjadi korban, Muslim, ibu-ibu hingga anak-anak pun turut menjadi korban.

Kasus bom bunuh diri tidak hanya menyerang tempat ibadah seperti gereja saja, bahkan dalam dasawarsa terakhir, kasus bom bunuh diri juga menyerang tempat-tempat ibadah ummat Muslim seperti di masjid Polrestabes, bahkan di tempat umum seperti kantor pos polisi maupun hotel.

Data terakhir menunjukkan, kasus-kasus bom bunuh diri terbesar ada sejak 20 tahun terakhir tepatnya sejak tahun 2.002 dimulai dari kasus bom bunuh diri Bali I hingga kabar terakhir bom bunuh diri di Polrestabes Medan.[2] Hal ini mengindikasikan betapa kasus bom bunuh diri selayaknya menjadi perhatian serius pemerintahan pusat dan masyarakat secara keseluruhan.

Jika dilihat dari berbagai sumber data, baik televisi, media cetak, radio dan media online lainnya, adanya kasus bom bunuh diri bisa diklasifikasikan menjadi 3 penyebab, pertama, pelaku bom bunuh diri mengaku bahwa ia terluka karena sebagian negara Muslim dianiaya sedangkan pemerintah hanya diam saja. Hal inilah yang menyebabkan pelaku bom bunuh diri berdalih membalaskan dendam negeri-negeri Muslim yang dijajah dengan memanfaatkan bom bunuh diri.

Kedua, anggapan bahwa jihad dengan bom bunuh diri dihalalkan. Hal ini juga menjadi sekian dari banyak alasan yang dikemukakan oleh para pelaku bom bunuh diri. Mereka beranggapan bahwa bom bunuh diri adalah bagian dari jihad yang mulia karena dilakukan negeri yang dzolim. Dengan bom bunuh diri, seseorang bisa mendapatkan syurga karena telah mengorbankan harta, diri dan nyawanya.

Ketiga, alasan yang dikemukakan para pelaku bom bunuh diri lantaran iming-iming surga dan bidadari yang akan menyambut mereka. Hal ini juga menjadi motivasi tersendiri bagaimana para pelaku bom bunuh diri nekad melakukan perbuatan tersebut.

Jika dilihat saksama dari 3 poin di atas, salah satu kesimpulan yang bisa dipetik adalah minimnya wawasan keagamaan dari pelaku bom bunuh diri. Seseorang yang memiliki wawasan yang luas dan pemahaman agama yang benar, ia akan berpikir 1.000 kali untuk melakukan tindakan bom bunuh diri, terlebih tindakan tersebut merugikan banyak orang.

Bagi para pelaku, bom bunuh diri bagian dari ekspresi untuk membalaskan dendam saudara-saudara mereka yang berada di negara lain yang saat ini terjajah. Padahal, Indonesia adalah negara aman. Di dalamnya terdapat para tokoh yang berjanji setia atas nama kedamaian. Dalam hal ini, ummat Muslim sudah terikat janji dengan ummat yang lainnya (kafir mu’ahid) untuk saling menjaga. Indonesia adalah negara yang aman sehingga tidak tepat jika sebagian ummat Muslim merusak perjanjian atas nama berjihad.

Di dalam Islam, jihad bisa dilakukan banyak caranya, termasuk salah satunya adalah jihad menahan hawa nafsu. Bagaimana seseorang mengelola nafsunya menjadi nafsul mutmainnah. Dengan demikian, jihad lebih melambangkan usaha sungguh-sungguh untuk kemajuan agama. Hal ini juga dijelaskan dalam fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 3 Tahun 2004 tentang perbedaan terorisme dengan jihad[3];

1. Terorisme

  • Sifatnya merusak (ifsad) dan anarkhis/chaos (faudha).
  • Tujuannya untuk menciptakan rasa takut dan/atau menghancurkan pihak lain.
  • Dilakukan tanpa aturan dan sasaran tanpa batas.

2. Jihad

  • Sifatnya melakukan perbaikan (ishlah) sekalipun dengan cara peperangan.
  • Tujuannya menegakkan agama Allah dan/atau membela hak-hak pihak yang terzalimi.
  • Dilakukan dengan mengikuti aturan yang ditentukan oleh syari’at dengan sasaran musuh yang sudah jelas.

Para pelaku bom bunuh diri juga terlupa bahwa daerah yang ia gunakan sebagai tempat bom bunuh diri bukan hanya tempat yang disinggahi oleh orang-orang kafir saja. Lebih dari itu, di sana juga terdapat banyak ummat Muslim lainnya yang barangkali bekerja atau hanya sekedar liburan.

Dalam hal ini, kiranya harus dipertegas lagi bahwa kafir itu sendiri juga terbagi menjadi beberapa kelompok[4];

  1. Kafir Mua’had kafir mua’hid adalah kafir yang tinggal dalam sebuah negeri yang didalamnya memiliki perjanjian.
  2. Kafir dzimmi adalah kafir yang tinggal di dalam sebuah negeri kaum Muslimin dan sebagai gantinya mereka mengeluarkan jizyah semacam upeti seabagai konpensasi perlindungan kaum Muslimin terhadap mereka.
  3. Kafir musta’man yaitu kafir yang hidup di dalam negari Muslim dan ia mendapat perlindungan dari penguasa Muslim maupun salah satu Muslim.
  4. Kafir harbi adalah kafir yang memerangi ummat Muslim. Dalam hal ini, kaum kafir harbi boleh diperangi kaum Muslimin.

Terakhir, salah satu masalah yang serius adalah tentang wawasan dan pemahaman keagamaan. Ketika orang beragama cenderung eklusif, ia hanya akan memilah dan memilih ayat-ayat yang mendukung akal dan pemahamannya saja. Ia enggan untuk membuka lembaran lain yang notabene dari satu ajaran ke ajaran lain memiliki relevansi dan konteks yang berbeda.

Seandainya para pelaku bom bunuh diri mau terbuka, diskusi dan berbesar hati untuk menerima perbedaan, tentu saja ia akan menjumpai berbagai ayat, hadis yang bisa merubah jalan pikirannya. Terlebih untuk kasus bom bunuh diri, banyak sekali hadis yang menjelaskan tentang bagaimana seharusnya seseorang berperilaku dan mengambil keputusan dalam berinteraksi antar agama di dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya hadis yang telah penulis sebutkan di atas. …, Padahal, harum surga dapat dicium dari jarak empat puluh tahun.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa bom bunuh diri tidaklah dibenarkan, dalam kata lain diharamkan. Indonesia merupakan negara aman yang di dalamnya disangga tiang-tiang bangsa mulai dari ras, suku, agama dan lain sebagainya yang telah mengikat janji untuk setia, damai dan berada di bawah kesatuan Republik Indonesia.

Hadis Bukhori No. 1378 di atas menegaskan bahwa tidak semua kafir boleh diperangi, diusik, dicurangi dan diusir. Adapun di dalam Islam istilah kafir terbagi menjadi 4 kelompok antara lain kafir mu’ahad, dzimmi, musta’man dan harbi. Di Indonesia sendiri, dari keempat kelompok kafir di atas memiliki kecenderungan kafir mu’ahad, dzimmi dan musta’man sehingga keberadaannya wajib dilindungi.

[1] Muhammad Nashiruddin Al Albani, Ringkasan Sahih Bukhari, Jilid 3 Bab Kitab Al Jizyah, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2012), hlm. 653.

[2] https://www.kompas.com/tren/read/2019/11/13/102319565/ramai-soal-bom-bunuh-diri-di-medan-ini-rentetan-aksi-teror-dengan-target?page=all Diakses pada 26 Desember 2019, Pukul 13.13 WIB.

[3] Syaihk-Ul-Islam Dr. Muhammad Tahir-Ul-Qadri, Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri, (Jakarta: Minhajul Quran International, 2014), hlm. 35.

[4] Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalany, Kitab Bulughul Maram; Kitab Klasik Hadis Terpopuler, Cet. II, (Bandung, Mizan Media Utama, 2015), hlm. 698.

DAFTAR PUSTAKA

Nashiruddin Al Albani, Muhammad, 2012, Ringkasan Sahih Bukhari, Jilid 3 Bab Kitab Al Jizyah, Pustaka Azzam.

Tahir-Ul-Qadri, Syaihk-Ul-Islam Dr. Muhammad, 2014, Fatwa tentang Terorisme dan Bom Bunuh Diri, Minhajul Quran International

Al-‘Asqalany, Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar, 2015, Kitab Bulughul Maram; Kitab Klasik Hadis Terpopuler, Mizan Media Utama.

al-Syirbhasi, Ahmad, 1994, Sejarah Tafsir al- Quran, ter. Tim Pustaka Firdaus.

Arif, Ahmad, 2010, Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Baidan, Nashruddin, 2002, Metodologi Penasfsiran Al-Quran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Abu Ja’far, 2009, Tafsir Ath-Thabari Jilid 18, Jakarta: Pustaka Azzam.

Salim, Abd. Muin, 1990. Beberapa Aspek Metodologi Tafsir Al-Quran, Ujung Pandang: Pandang: Lembaga Studi Kebudayaan Islam.Lembaga Studi Kebudayaan Islam.

Shihab, M. Quraisy, 1998, Membumikan Al-Qur’an, Bandung: Mizan.

Suryadilaga, M. Alfatih, dkk, 2005, Metodologi Ilmu Tafsir, Yogyakarta: TERAS.

Syamsuddin, Sahiron, 2010, Hermeneutika Al-Qur’an dan Hadits, Yogyakarta: elsaq Press.

Syirbasi, Ahmad, 1999, Studi Tentang Sejarah Perkembangan Tafsir Al-Qur‟anul Karim, Jakarta: Kalam Mulia.

Zulaiha, Eni, 2017, Jurnal Tafsir Kontemporer: Metodologi, Paradigma dan Standar Validitasnya, Bandung: Jurnal UIN SGD.

Jurnalisme Dakwah Republika Online dengan NU Online

Jurnalisme Dakwah Republika Online dengan NU Online

Jurnalisme Dakwah Republika Online dengan NU Online

(Sejarah Gerakan Dakwah New Media terkait Ucapan Salam Semua Agama Periode November 2019)

Abstrak

Penelitian ini membahas tentang bagaimana media Islam membingkai pemberitaan terkait ucapan salam semua agama. Selanjutnya, peneliti menganalisis bagaimana penerapan jurnalisme dakwah yang penulis ambil dari berita-berita terkait kasus tersebut. Hasilnya, Republika lebih pro terhadap pelarangan ucapan salam semua agama. Republika memandang bahwa ucapan salam semua agama masuk ranah teologis. Adapun NU Online, media tersebut kontra dengan larangan ucapan salam. NU Online menganggap persoalan ucapan salam semua agama sudah masuk dalam ranah budaya. Adapun penerapan jurnalisme dakwah baik Republika maupun NU Online belum memenuhi kriteria yang ideal.

Kata kunci: jurnalisme dakwah, framing, salam semua agama

13 Model-model Komunikasi Aristoteles Dkk.

13 Model-model Komunikasi Aristoteles Dkk.

Model-model Komunikasi

Pernahkah terpikir di benak anda bagaimana manusia dapat berkomunikasi dengan siapapun? Jawabannya mungkin adalah dengan bahasa manusia bisa berbicara. Namun jika pertanyaannya dilanjutkan menjadi “seperti apa komunikasinya?”, maka disinilah tulisan ini akan menjelaskan seperti apa model komunikasi yang dilakukan.

Model sejatinya bukan hanya sekedar gambaran, bentuk, ataupun ilustrasi semata, namun menunjukkan bagaimana kepada kita tentang sebuah pemahaman hubungan-hubungan antar elemen, dalam hal ini tentu saja elemen komunikasi. Hubungan tersebut juga memiliki perbedaannya satu sama lain dalam perkembangannya. Hal ini memungkinkan kita dapat mengidentifikasi hubungan komunikasi bukan saja berdasarkan elemen, namun juga latar belakang dan kekompleksitasan komunikasi itu sendiri.

Lalu, apa saja elemen komunikasi itu? Secara sederhana terdapat lima elemen dasar dalam komunikasi, yaitu komunikator (orang yang berbicara), komunikan (penerima pesan), pesan (muatan informasi dan hambatan), media (perantara antara komunikator, komunikan dan massa secara luas) dan efek (implikasi dari pesan).

Namun dalam mempelajari model komunikasi, harus dicamkan bahwa elemen-elemen tersebut bisa berubah fungsi sesuai dengan konteksnya. Komunikator bisa saja menjadi komunikan, maupun sebaliknya. Media memang perantara, namun juga dapat menghasilkan efek sebagaimana komunikator atau komunikan. Semua itu tergantung pemahaman kita akan fenomena komunikasi dimanapun baik secara langsung maupun jika kita meriset secara mendalam.

Model-model Komunikasi

Model komunikasi berikut ini adalah hasil dari bacaan penulis yang dihimpun dari berbagai sumber:

1. Model Komunikasi Awal

Membicarakan model komunikasi tidak enak sebetulnya jika tidak berbicara suatu model awal atau “tertua”. Sebetulnya ini adalah model yang paling klasik dari semua model komunikasi. Yap, gambaran mudahnya adalah komunikasi akan berjalan dengan pesan satu arah, dari pengirim ke penerima pesan. Pengirim pesan akan mentransmisikan pesan secara langsung kepada pengirim pesan tanpa tedeng aling-aling, alias tanpa media ataupun hambatan lainnya seperti pada model komunikasi modern.

Model Komunikasi Aristoteles Model-min

Gambar 1. Model Aristoteles (Sumber: Adaptasi Penulis)

Model ini menurut jurnal seperti yang ditulis oleh Croft (2004) merupakan model yang pertama kali dideskripsikan oleh filosof kenamaan Yunani, yaitu Aristoteles. Bapak “Eureka” ini mendiskripsikan pesan yang nantinya diterima orang dalam skala yang banyak. Model ini saat ini bisa dikaji dalam bentuk tradisi retorika, salah satu tradisi tertua dalam ilmu komunikasi yang berpusat pada idea, bahasa, dan argumentatif-persuasif dalam memandang komunikasi itu sendiri.

2. Model Komunikasi Linear

Model ini merupakan model yang terbilang menjadi dasar perkembangan model komunikasi modern, sekaligus model dasar yang populer dipelajari dalam studi Komunikasi. Selain itu dikarenakan model ini sudah mengenai saluran dan efek, model ini masih dinilai relevan untuk menjelaskan secara mendasar bentuk-bentuk komunikasi.

Secara garis besar model awal ini memandang bahwa komunikasi terjadi dalam satu arah. Bisa komunikator ke komunikan, maupun dari komunikator ke massa. Model ini sangat dipengaruhi oleh situasi pasca Perang Dunia II, dimana perspektif mekanis dan teknis mulai berkembang dalam segala lini seiring pembangunan kembali negara-negara yang terdampak perang. Terdapat dua variasi yang lahir dalam model ini, yaitu:

a. Laswell Model

Model ini sebetulnya sudah memasukkan saluran sebagai perantara penyampaian pesan, tidak seperti model Aristoteles yang cenderung satu arah ke massa secara langsung. Dalam model ini prinsipnya adalah dengan siapa anda berbicara, dengan saluran apa dan apa efeknya.

Model Komunikasi Lasswell Model

Gambar 2. Model Lasswell (Sumber: Adaptasi Penulis)

Model yang dimaksud dalam hal ini adalah model yang dibawa oleh Harold Lasswell (1948). Dengan prinsip yang ia sebutkan tersebut maka bisa ditebak bahwa ketika dua orang saling berkomunikasi baik secara lisan dan tulisan pasti memiliki efek dan timbal balik. Hal inilah mengapa model ini menjadi dasar pengembangan model komunikasi lainnya, yang lalu tergambar secara jelas dalam model Shannon dan Weaver (1949).

b. Shannon dan Weaver Model

Inilah model yang selalu diperbincangkan sebagai salah satu bentuk dasar komunikasi. Idenya diambil dari cara kerja telepon kabel waktu itu. Tidak heran apabila model ini berbicara sesuatu yang agak mekanistis. Ya itu, karena telepon kabel kan salah satu alat mekanis yang canggih waktu itu.

Model Komunikasi ShannonWeaver

Gambar 3. Model Shannon and Weaver (Sumber: Adaptasi Penulis)

Dalam model ini sederhananya terdapat empat elemen ketika komunikasi itu dilakukan atau terjadi. Ada sumber pesan, pesan, saluran dan penerima pesan. Elemen ini dalam beberapa hal juga menyertakan feedback walaupun hanya secara samar. Ini dikarenakan waktu itu ketika model ini diciptakan manusia hanya mengenal timbal balik dalam satu arah yang sama. Tidak seperti sekarang dimana feedback dipahami sebagai suatu proses yang rumit dalam komunikasi.

Pada hal yang rumit itulah, lalu muncul keberatan dari sejumlah ahli dikarenakan model-model linear ini hanya bergerak satu arah dengan efek yang setelah didalami ternyata terbatas. Hal ini dikarenakan model ini mengacu pada penggunaan media massa awal dan propaganda. Hal yang hari ini sebetulnya masih bisa ditemui saat ini, namun dalam cakupan kecil atau mikro.

Namun secara gamblang model ini dapat menjelaskan dari siapa, apa pesannya, salurannya apa dan apa efek dan respon dari penerimanya. Itulah mengapa selanjutnya berkembang model komunikasi lain yang sebetulnya tidak jauh dari elemen dari model yang ditulis oleh Shannon dan Weaver ini, namun dengan variasi kompleksitas baru sesuai dengan perkembangan masyarakat modern hingga kekinian.

3. Model Komunikasi Sirkuler

Setelah munculnya model-model komunikasi yang memasukkan saluran, lalu muncul perspektif lain yang berkembang dan mencoba mengimprovisasi model sebelumnya yang cenderung masih satu arah atau cenderung straight vertical/horizontal dalam komunikasi. Model inilah yang sekarang kita perbincangkan.

Pandangan dari model ini adalah ketidakmungkinan bahwa komunikasi tidaklah sekaku dalam model-model linear, namun juga beragam dan muncul hambatan-hambatan dalam komunikasi. Clue point dari pendekatan ini adalah mencoba mengilustrasikan sebuah model komunikasi yang terdiri atas banyak arah dan sirkular, kompleks namun juga dinamis.

a. Model Komunikasi Schramm

Model inilah yang lalu mengubah peta model komunikasi selanjutnya. Model ini disebut juga model konvergen, dikarenakan model ini menjelaskan komunikasi secara dinamis sebagai bentuk hubungan yang didasarkan pada latar belakang seseorang.

Secara garis besar, model ini menggambarkan komunikasi tidak dalam cakupan komunikator ataupun komunikan. Melainkan menekankan proses perbincangan yang terjadi ketika sejumlah kesamaan dan perbedaan komunikasi bertemu.

Model Komunikasi Schramm Model

Gambar 4. Model Schramm (Sumber: Adaptasi Penulis)

Gambaran utamanya begini, jika anda memiliki sejumlah perbedaan yang besar dengan teman anda besar, maka area persamaannya akan semakin kecil. Hal ini juga berlaku sebaliknya, jika anda memiliki sejumlah persamaan yang besar dengan teman anda maka semakin kecil juga perbedaannya. Proses ini dinamakan sebagai encoding (menyandikan) dan decoding (memecahkan kode).

Artinya walaupun terdapat kesamaan dan perbedaan, keduanya tidak saling meniadakan. Akan tetapi model ini mereduksi sejumlah pandangan ketika terdapat sejumlah perbedaan yang begitu besar serta menguatkan persamaan yang dimiliki dalam proses komunikasi.

b. Model Komunikasi A-B-X

Karena model interaktif sangat menekankan proses komunikasi terlepas dari apapun elemennya, maka terdapat banyak model untuk menjelaskan bagaimana pesan yang berada ditengah-tengah komunikator dan komunikan dapat diterima ataupun berhubungan. Model yang satu ini dapat memahamkan kita secara simpel.

Model Komunikasi Newcomb Model

Gambar 5. Model Newcomb (Sumber: Adaptasi Penulis)

Model ini dikembangan oleh ahli komunikasi bernama Theodore M. Newcomb (1953). Ia berpendapat bahwa komunikasi dapat memperbaiki keseimbangan dalam sebuah sistem sosial (dalam Amudavalli, 2019:26). Model ini menggambarkan komunikator sebagai A dan komunikan sebagai B, yang ketika berkomunikasi mereka pada dasarnya sedang menciptakan topik (X).  Pada model ini, pesan bukanlah elemen satu atau dua arah. Tetapi pesan merupakan cara kerja dalam berkomunikasi itu sendiri.

Konsep ini mirip dengan ketika kita memahami sebuah wacana yang terlontar di media. Wacana akan bergerak menjadi topik perbincangan publik dari berbagai sudut pandang yang diangkat media tersebut. Walhasil terciptalah sebuah topik, dimana ia adalah kumpulan wacana dalam tema tertentu yang ditransmisikan oleh komunikator maupun media hingga diterima ke massa.

c. Model Komunikasi Helix

Model Komunikasi Helix Model

Model ini diperkenalkan oleh Frank Dance (1967). Pada dasarnya model ini merupakan model yang melengkapi model sebelumnya, bahwa interaksi yang terjadi dalam bentuk komunikasi menghasilkan sejumlah kesimpulan bersama atau konvergen. Perbedaannya dalam model Helix ini kesimpulan yang terjadi menuju arah yang lebih luas.

Dalam penggambarannya, sisi bawah dalam model ini merupakan titik awal komunikasi sebagai sebuah corong yang kecil. Ini menandakan bahwa awal dari komunikasi sebetulnya cenderung pelan, lalu menuju besar dan mencapai ke atas yang menandakan semakin besarnya sejumlah pemahaman dan kecepatan dalam menangkap pesan seiring berjalannya waktu.

Konsekuensinya model ini memasukkan unsur waktu sebagai titik pentingnya. Artinya setiap komunikasi yang terjadi pasti ditentukan oleh permulaan komunikasi tersebut. Semakin permulaan komunikasi dilakukan maka semakin cepat pemahaman yang dapat akan menentukan komunikasi selanjutnya.

d. Model Komunikasi Zig-Zag

Selain dua model sirkuler diatas, perlu diketahui sebetulnya terdapat satu model lagi untuk menjelaskan bagaimana sebuah komunikasi berjalan dinamis dan kompleks seperti yang penulis sebutkan diatas. Model yang satu ini dinamakan model Zig-Zag dikarenakan ilustrasi yang cenderung seperti berlompat dan menyentuh hampir dalam segala aspek. Model ini juga ditulis oleh Schramm (1967).

Model Komunikasi Zig-Zag

Gambar 6. Model Zig-Zag (Sumber: Adaptasi Penulis)

Model ini merupakan salah satu model komunikasi yang tidak mementingkan elemen seperti Model Helix. Akan tetapi berfokus pada bagaimana jalannya sebuah komunikasi. Wajar apabila model ini memiliki sejumlah kesamaan dengan model sirkuler pada umumnya, yaitu sama-sama mementingkan faktor interaksi untuk mereduksi sejumlah perbedaan. Karena komunikasi sebetulnya dalam pandangan model ini bukan sebagai mentransmisikan sejumlah informasi, melainkan sebuah proses yang  membutuhkan waktu dan pemahaman individu secara berkelanjutan.

e. Model Komunikasi Berlo

Bentuk komunikasi yang ada pada model ini berorientasi pada bagaimana antara komunikan dan komunikator bukan hanya memahami, namun juga menafsirkan pesan dalam proses komunikasi. Model ini diperkenalkan oleh Berlo (1960).

Model Komunikasi Berlo Model

Gambar 7 Model Berlo ((Sumber: Adaptasi Penulis)

Model ini lebih menekankan pada isi pesan mulai dari pengodean, lalu diterjemahkan masing-masing baik oleh komunikator maupun komunikan melalui kanal. Proses ini dinamakan sebagai SMCR (Source, Message, Channel dan Receiver).

Proses dalam SMCR inilah yang lalu terbagi berdasarkan masing-masing elemen komunikasi, mulai dari komunikator, pesan, saluran, dan lalu ke penerima. Elemen memiliki sejumlah perbedaan cara penerimaan dan penafsiran dalam memahami pesan. Itulah mengapa setiap elemen memiliki konten dan pengaruh ke sistem sampai kultur. Implikasinya, komunikasi dapat berpengaruh kepada setiap elemen yang “dilewati” tergantung pesan yang disampaikan.

Itulah beberapa model komunikasi yang dikenal dalam dunia ilmu komunikasi. Semua model tersebut pernah ada di zamannya dan tidak semua model komunikasi tersebut relevan untuk saat ini. Jelasnya, model-model tersebut dapat memberi kita gambaran tentang bagaimana komunikasi itu bekerja dan bagaimana komunikasi dapat mengaitkan antar satu elemen dengan elemen lainnya.

Referensi/Daftar Pustaka

Amudavalli, A, (2019). Theories and Models of Communication. Chennai: University of Madras. https//:epgp.inflibnet.ac.in/epgpdata/uploads/epgp_content/library_and_information_science/knowledge_society/05._theories_and_models_of_communication/et/4305_et_et.pdf. Diakses 6 Desember 2019.

Ardianto, Elvinaro dan Q-Anees, Bambang, (2011). Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Berlo, David K, (1960). The Process of Communication: An Introduction to Theory and Practice. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Croft, Richard S, (2004). Communication Theory. Oregon: Eastern Oregon University.

Newcomb, Theodore M, (1953). An Approach To The Study of Communication Acts. Washington: Journal of Psychological Review Vol.60, No.6, 1953.

Schramm, W, (1954). The Process and Effects of Mass Communication. Urbana-Champaigne: University of Illinois Press.

Shannon, C. & Weaver, W. (1949). The Mathematical Theory of Communication. Urbana-Champaigne: University of Illinois Press.

12 Keutamaan Membaca Surat Yasin

12 Keutamaan Membaca Surat Yasin

Mengambil 12 Hikmah dari Mendengarkan MP3 Surat Yasin

Jika membaca Alquran melibatkan mata, otak, mulut dan telinga juga hati, maka mendengarkan bacaan Alquran tidak perlu melibatkan mata dan sedikit melibatkan mulut dan hanya perlu mengoptimalkan telinga, otak, dan jantung. Selain membaca, ternyata mendengarkan ayat alquran juga sangat bermanfaat, salah satunya adalah dengan mendengarkan MP3 surat Yasin. Lalu apa keutamaan dari surat Yasin dan mengapa kita perlu mendengarnya?

Keutamaan Surat Yasin

Surah Yasin mengandung banyak kebaikan termasuk kebangkitan dan penghakiman. Baca Surah Yasin di setiap awal dan akhir setiap hari, Pastikan Anda membacanya dengan pengetahuan dan pemahaman.

Surah Yasin adalah surat ke 36 di Al-Quran yang terdiri dari 83 ayat. Surat Yasin adalah salah satu Surat Al-Qur’an yang dikagumi dan diturunkan kepada Nabi Muhammad di Mekah. Arti sebenarnya atau nyata dari kata “Yasin” hanya diketahui oleh Allah saja.

Jika seseorang ingin mencari pengampunan atas dosa-dosanya dari Allah SWT membaca Surat Yasin setiap hari, Allah pasti akan mengampuni dosa-dosanya.

Surah Yasin adalah Surah yang sangat diberkahi yang memiliki banyak manfaat dan kebaikan. Beberapa dari kebaikan ini adalah sebagai berikut :

  1. “Segala sesuatu memiliki jantung, dan jantung Al-Quran adalah Surah Yasin. Saya akan senang hati itu berada di hati setiap orang dari umat saya.” (Tafsir-al-Sabuni Vol.2)
  2. “Siapa pun yang membaca Surah Yasin sekali, Allah akan mencatat pahala membaca Quran sepuluh kali.” (Tirmidzi) “
  3. “Jika ada yang membacakan Yasin di awal hari, kebutuhannya akan terpenuhi.”
  4. “Siapa pun yang membaca Surah Yasin pada malam hari meminta pengampunan Allah, Allah akan memaafkannya.” (Ibn Hibban, Darimi 3283-A)
  5. “Siapa pun yang membaca surat Yasin pada awal hari, maka ia akan berada dalam kemudahan dan kebaikan sampai malam hari. Dan siapa pun yang membacakannya dalam malam hari, maka dia akan merasa tenang dan baik sampai pagi berikutnya “.
  6. “Jika ada yang membacakan Yasin untuk kesenangan Allah, dosa-dosa masa lalunya akan diampuni; jadi bacalah pada mereka yang sekarat.” (Baihaqi)
  7. Hadis Ataa bin Abi Ribaah (Radhiyallahu Anhu) mengatakan bahwa Nabi Muhammad (SAW) telah mengatakan, “Siapa pun yang membaca Surah Yasin pada awal hari, semua kebutuhannya untuk hari itu akan terpenuhi.”
  8. Menurut satu hadits, “jika ada yang membaca Surah Yasin setiap malam dan kemudian mati, mereka akan mati sebagai syahid”
  9. Meredakan kematian, Nabi kita tercinta Muhammad SAW bersabda, “Bacalah Surat Yasin pada mereka yang mati.” (Sunan Abi Dawud)
  10. Menurut sebuah hadits, “jika seseorang membaca Surah Yasin dan Surah As-Saaffat pada hari Jumat dan memohon sesuatu kepada Allah, maka doa mereka dikabulkan.”
  11. Surah Yasin juga dikenal sebagai “Raafi’ah Khaafidhah.” Dengan kata lain, apa yang meninggikan status orang-orang beriman dan menurunkan derajat orang-orang kafir.
  12. Menurut Riwayat, Nabi Muhammad (SAW) berkata, “Hatiku menginginkan Surah Yasin harus ada di hati setiap umatku.” Jadi, pastikan Anda menghafal Surah Yasin untuk mengumpulkan manfaatnya.

Ayat terakhir dari Surah Yasin diterjemahkan sebagai, “Maka Dimuliakanlah Dia dan Yang Mahatinggi di atas segalanya yang mereka persekutukan dengan-Nya, dan di Tangan Siapa adalah kuasa segala sesuatu, dan kepada-Nya engkau akan dikembalikan.”

Maqri (Rahmatullah Alaihi) berkata, “Jika Surah Yasin dibaca oleh orang yang takut pada penguasa atau musuh, orang akan menghilangkan rasa takut ini.”

Jika ingin menghafalkan surat Yasin, maka dengarkan secara online atau MP3 surat Yasin yang indah.

 

Pengalaman Kak Eva Kuliah di UT Banyuwangi Jurusan PGSD

Pengalaman Kak Eva Kuliah di UT Banyuwangi Jurusan PGSD

Logo Universitas Terbuka

Sejak kecil saya memang bercita – cita untuk menjadi seorang pengajar, dan masuk jurusan PGSD memang menjadi impian saya sejak masih di bangku SMA. Namun setelah tidak mengenakan seragam putih abu abu lagi, saya menjadi sadar jika kedua orang tua saya tidak mampu menguliahkan saya. Sehingga saya pun memutuskan untuk bekerja terlebih dahulu.

Berbagai macam pekerjaan telah saya coba, mulai dari menjadi karyawan di sebuah konter hp, karyawan di jasa perjalanan atau travel, hingga mencoba peruntungan dengan berbisnis online, jualan baju, jualan pulsa sampai jualan makanan sudah saya coba semuanya. Meskipun akhirnya bangkrut juga, jangankan mendapatkan keuntungan, modal awal yang saya keluarkan lenyap begitu saja.

Gagal di bisnis online, seorang teman sesama blogger mengajak saya untuk menjadi seorang volunteer di sebuah rumah belajar yang didirikan oleh temannya. Memang sejak SMA saya sudah aktif menulis dan ngeblog, sehingga memiliki banyak sekali teman sesama blogger.

Dari sinilah, akhirnya saya berkesempatan untuk menjadi tenaga pengajar meskipun dengan status volunteer, tapi memang sejak awal bercita – cita untuk menjadi seorang pengajar, saya tahu betul jika profesi ini membutuhkan banyak sekali pengorbanan dan keikhlasan. Jangan tanyakan soal berapa banyak uang yang bisa didapatkan sebagai seorang pengajar, namun berusaha untuk menjadi seorang pengajar yang mampu memberikan dampak positif untuk lingkungan sekitar dan membagikan ilmu sebanyak – banyaknya, seluas – luasnya.

Berawal dari hanya menjadi volunteer akhirnya saya benar – benar fokus dalam menjalani kegiatan di rumah sekolah tersebut, hingga akhirnya saya pun mulai memutar otak untuk tetap menghasilkan uang meski sibuk mengajar dari pagi hingga sore.

Akhirnya saya bertemu dengan teman – teman sesama blogger juga yang mengajak saya untuk bergabung dengan jasa penulis artikel. Bersama dia dan beberapa penulis lainnya saya akhirnya mampu menghasilkan uang dari kemampuan dan bidang yang paling saya suka, ya menulis.

Tak puas dengan hanya menulis bersama dengan seseorang, akhirnya saya memutuskan untuk membuka jasa pembuatan artikel sendiri.

Dari sini lah, penghasilan terbesar saya dapatkan yang awalnya hanya iseng, hobi dan mengisi waktu luang, kini menulis telah menjadi pekerjaan utama dan tetap dapat menjadi pengajar di rumah sekolah.

Dengan penghasilan dari menulis, saya mulai bisa menabung untuk biaya kuliah saya. Namun kendalanya terletak pada waktu, karena status saya yang bukan lagi volunteer melainkan pengajar tetap maka saya harus mencari cara agar saya bisa kuliah dan tetap mengajar di rumah sekolah.

Universitas Terbuka Banyuwangi

Mahasiswa Universitas Terbuka Banyuwangi

Di Banyuwangi sendiri terdapat banyak sekali Universitas mulai dari yang swasta hingga yang negeri, beragam progam yang dimiliki oleh beberapa universitas di kota berjuluk Sunrise of Java ini akhirnya membuat saya memutuskan untuk memilih Universitas Terbuka sebagai almamater saya.

Universitas Terbuka di Banyuwangi sendiri memang masih belum banyak diketahui, karena Universitas ini sebenarnya hanya cabang dari pusat Universitas Terbuka yang ada di Jember. Di Banyuwangi Universitas Terbuka ini bahkan tidak memiliki gedung, sehingga untuk belajar para mahasiswa Universitas Banyuwangi masih menggunakan gedung sekolah lain salah satunya seperti di SMA 2 Genteng Banyuwangi.

Terdapat tiga lokasi Universitas Terbuka di Banyuwangi yang bisa dipilih, yakni di Banyuwangi Kota, Kecamatan Genteng, dan Kecamatan Kabat. Saya sendiri memilih lokasi di Banyuwangi Kota.

Untuk penerimaan mahasiswa baru, Universitas Terbuka telah mengagendakan penerimaan mahasiswa baru dua kali dalam satu tahu. Artinya Universitas terbuka membuka pendaftaram setiap semester untuk mereka yang ingin menjadi mahasiswa di Universitas terbuka ini.

Pendaftaran mahasiswa baru untuk periode pertama biasanya akan dilangsungkan pada bulan Desember hingga bulan Februari, dan periode kedua biasanya dilakukan mulai bulan Juni hingga bulan Agustus setiap tahunnya. Akan tetapi pada tahun Akademin 2019 – 2020 pendaftaran mahasiswa baru dilakukan sepanjang tahun mulai dari bulan Agustus hingga bulan Januari.

Universitas Terbuka atau yang biasa disingkat dengan UT sebenarnya mempunyai sekitar 39 program studi yang terdiri dari 31 Program Sarjana, 2 Program Diploma dan 6 Program Magister atau Pascasarjana yang disediakan pada empat Fakultas yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP), Fakultas Ekonomi (FE), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Bahkan Universitas Terbuka ini kini memiliki dua program studi baru yakni S1 Sistem Informasi serta S1 Ekonomi Syariah yang dikemukakan oleh Mohammad Imam Farisi yang merupakan Direktur Universitas Jember.

Untuk melakukan pendaftaran atau registrasi terdapat dua cara atau dua jenis registrasi yang bisa dilakukan yakni pendaftaran mahasiswa baru atau mahasiswa pertama dan registrasi mata kuliah.

Pendaftaran mahasiswa baru atau registrasi pertama adalah proses pencatatan data pribadi atau DP mahasiswa serta mata kuliah apa yang akan diambil pada semester pertama. Pencatatan DP sendiri hanya akan dilakukan satu kali saja selama menjadi mahasiswa UT karena nantinya mahasiswa harus melakukan registrasi mata kuliah yang akan diambilnya pada setiap semester berikutnya.

Pendaftaran mahasiswa bisa dilakukan dengan beberapa cara, yang pertama kita bisa datang secara langsung ke kantor UPBJJ UT Jember, kemudian cara kedua kita bisa mendatangi kelompok kelompok belajar mahasiswa atau POKJAR secara langsung yang berada di setiap kabupaten atau kota yang berada di wilayah UT Jember, berikutnya jika jarak rumah kita berada jauh dari kota Jember mau pun kelompok belajar mahasiswa, kita juga bisa melakukan pendaftaran melalui online di http://sia.ut.ac.id.

Dalam perkembangannya UT kini bahkan mulai melakukan revolusi industri dengan mengedepankan pemanfaat kemajuan teknologi yang terkoneksi sehingga selama kita terhubung dengan jaringan internet maka kita bisa kuliah di mana pun dan kapan pun.

Tak hanya sistem registrasi atau pendaftaran saja yang bisa dilakukan secara online namun kini di UT kita juga bisa kuliah secara online, mulai dari belajar, mendapatkan bahan pembelajaran, hingga ujian semuanya bisa dilakukan secara online tanpa harus bertatap muka.

Hal ini memang menjadi fokus UT sejak lama karena ingin memberikan kemudahan bagi semua orang di mana saja untuk dapat kuliah dengan biaya terjangkau dan bisa dilakukan di mana saja meski berjarak ratusan kilometer dari lokasi Universitas terbuka. Bahkan UT kini juga memberikan kebijakan mengenai biaya pendaftaran gratis bagi setiap mahasiswa baru yang melakukan registrasi di Universitas Terbuka.

Di sini siapa pun bisa kuliah di UT dikarenakan tidak adanya batasan usia mau pun jumlah kuota untuk mahasiswa baru, UT tidak memiliki batasan umur, tahun kelulusan atau ijazah serta batasan wilayah atau lokasi sehingga siapa saja bisa kuliah di UT tanpa adanya batasan usia, waktu dan jarak.

Pengalaman Kuliah di Universitas Terbuka

Salah satu hal yang membuat saya mantap untuk memilih UT adalah fleksibilitas waktu, meski tempat tinggal saya cukup jauh dari Universitas UT yang berpusat di Jember, namun seperti yang sudah saya jelaskan di atas jika di Universitas Terbuka kita bisa melakukan belajar atau kuliah secara daring atau online sehingga hanya berbekal koneksi internet kita sudah bisa belajar di mana saja.

Namun karena di sekitar tempat tinggal saja terdapat kelompok kelompok belajar mahasiswa atau POKJAR yang tersebar di tiga lokasi di Banyuwangi, saya memilih untuk mengambil di Banyuwangi Kota dan untuk melakukan proses belajar mengajar kami masih memanfaatkan beberapa gedung sekolah lain.

Meski UT tidak mengenal batasan usia bagi calon mahasiswa yang ingin mendaftar, namun jangan membayangkan jika di dalam setiap kelompok belajar kita akan menemui orang – orang yang jauh lebih dewasa dari kita, karena kenyataannya mahasiswa baru di UT mayoritas adalah anak muda yang baru lulus sekolah menengah atas atau bisa seperti saya yang tidak langsung melanjutkan kuliah melainkan menunggu hingga beberapa tahun terlebih dahulu. Dengan demikian, teman teman belajar saya pun juga mayoritas anak muda dengan usia kisaran 20an tahun.

Meski di Universitas Terbuka sudah tersedia banyak sekali program studi namun di Banyuwangi yang disediakan hanya beberapa program studi saja seperti PGSD dan PGPAUD.

Itu pun program studi PGPAUD hanya tersedia di kelompok belajar Kecamatan Genteng saja, maka dengan begitu saya lebih memilih untuk mengambil program studi PGSD.

Waktu kuliah yang fleksibel dan tidak menghabiskan banyak waktu karena Universitas Terbuka memang diperuntukkan bagi mereka yang ingin kuliah sambil tetap bekerja. Setiap satu semester kita hanya belajar selama 2 bulan saja, di akhir pekan yakni pada hari sabtu dari jam 1 siang hingga jam 5 sore. Dan hari minggu dari jam 9 pagi hingga jam 1 atau jam 2 siang.

Kuliah di Universitas Terbuka tentu saja sangat berbeda dengan kuliah di universitas lainnya, karena di sini kami hanya fokus pada pembelajaran saja sehingga tidak ada kegiatan lain yang dilakukan selama masa kuliah. Hanya datang saat jam mata kuliah dan pulang setelah jam kuliah usai. Hanya seperti itu hingga 6 semester.

Ya, di Universitas Terbuka memang memiliki jumlah semester yang sedikit lebih banyak jika dibandingkan dengan universitas lain. Namun di Universitas Terbuka, Sidang akhir dan pembuatan skripsi ditiadakan. Hal ini karena Universitas Terbuka hanya fokus untuk membantu banyak orang yang ingin meraih gelar sarjana dengan kesibukan di dunia kerja mau pun kesibukan lainnya.

Sehingga kita hanya difokuskan untuk belajar saja tanpa memikirkan hal lain seperti kegiatan pendukung mau pun pembuatan skripsi di akhir masa kuliah.

Selama kuliah di Universitas Terbuka saya masih dapat menjadi pengajar di rumah sekolah dan menjadi penulis. Hingga pada akhirnya setelah beberapa tahun menjadi volunteer di rumah sekolah, saya berhasil mendirikan sekolah Taman Kanak Kanak yang saya dirikan bersama dengan teman saya.

Dari sini saya mulai belajar bagaimana cara mengatur waktu saat memimpin sekolah Taman Kanak Kanak sekaligus menjadi tenaga pengajar di sana, melakukan pekerjaan paruh waktu sebagai penulis dan mahasiswa di Universitas Terbuka.

Dengan masa kuliah yang hanya dua bulan saja di setiap semesternya, kuliah di UT memang jauh lebih fleksibel dalam hal waktu khususnya bagi mereka yang sudah bekerja mau pun berumah tangga. Sehingga waktu kuliah tidak terlalu mengganggu pekerjaan dan masih bisa membagi waktu bersama dengan keluarga.

Usai menyelesaikan kuliah di Universitas Terbuka, proses wisuda akan dilakukan di Universitas Terbuka yang berpusat di Kota Jember karena seperti yang sudah kami jelaskan jika di Banyuwangi Universitas Terbuka hanya berupa kelompok kelompok belajar mahasiswa saja dan masih belum memiliki gedung sendiri.

Meski banyak hal bisa dilakukan dengan menggunakan sistem online namun ada beberapa hal yang masih belum bisa dilakukan dengan menggunakan sistem online sehingga bagi mahasiswa yang membutuhkan tanda tangan mau pun surat keterangan kuliah di Universitas Terbuka untuk keperluan pekerjaan misalnya, masih harus dilakukan secara langsung.

Artinya kita harus datang ke Universitas Terbuka di Jember untuk mendapatkan surat keterangan resmi beserta dengan tanda tangan yang dibutuhkan.

Hal ini tentu cukup merepotkan karena jarak Universitas Terbuka yang berpusat di Jember cukup jauh dengan Banyuwangi dan membutuhkan waktu hingga satu hari penuh.

Ada banyak kemudahan memang yang bisa kita dapatkan jika kita menempuh pendidikan di Universitas Terbuka namun ada juga beberapa kendala yang harus dihadapi oleh mahasiswa pasalnya di Banyuwangi belum terdapat gedung Universitas Terbuka sehingga untuk proses belajar mengajar masih dilakukan di gedung sekolah lain, misalnya gedung sekolah menengah atas atau bahkan gedung sekolah dasar yang dipinjam untuk menjadi tempat belajar mengajar sementara.

Bahkan pada saat proses Ujian Akhir Semester atau UAS, lokasi nya pun bisa berubah – ubah tidak menggunakan gedung yang biasa dipakai untuk proses belajar mengajar. Bagi sebagian orang hal ini juga menyulitkan.

Padahal jumlah mahasiswa Universitas Terbuka di Banyuwangi sudah mulai banyak dan semakin meningkat setiap tahunnya.

Bukan hanya mereka yang sudah bekerja saja yang memilih Universitas Terbuka, namun banyak lulusan baru yang lebih memilih untuk kuliah di Universitas terbuka dengan berbagai macam alasan.

Yang pertama karena Universitas Terbuka mematok harga yang lebih terjangkau jika dibandingkan dengan universitas negeri mau pun universitas swasta di Banyuwangi. Memang jika dilihat dari biaya persemester di Universitas Terbuka lebih tinggi bahkan hampir dua kali lipat dari universitas negeri mau pun universitas swasta di Banyuwangi, namun biaya semester tersebut merupakan biaya keseluruhan selama kuliah satu semester.

Artinya mahasiswa sudah tidak perlu memikirkan mengenai buku dan biaya lainnya. Ditambah dengan tidak adanya kegiatan pendukung lain selama masa kuliah dan waktu kuliah yang singkat dalam satu semester membuat biaya yang dikeluarkan untuk membayar uang semester menjadi lebih terjangkau jika dibandingkan dengan universitas lainnya di Banyuwangi jika dikalkulasikan dengan biaya biaya lain seperti buku dan kegiatan kegiatan lain yang diadakan oleh universitas tersebut.

Fleksibilitas waktu juga menjadi alasan utama, banyak orang yang mungkin seperti saya, tidak memiliki orang tua yang bisa membiayai kuliahnya sehingga banyak yang akhirnya mengurungkan niat untuk kuliah dan lebih memilih bekerja terlebih dahulu dan mengumpulkan dana untuk membiayai kuliahnya sendiri.

Akan tetapi tentu cara ini tidak efektif, sebab seperti saya yang sudah berusaha menabung selama beberapa tahun pun ternyata tidak cukup juga untuk biaya kuliah hingga akhirnya saya menemukan Universitas Terbuka dan bisa kuliah sambil tetap bekerja.

Begitu pula dengan lulusan baru yang ingin kuliah namun terbentur dengan biaya. Keberadaan Universitas Terbuka yang memberikan biaya terjangkau dan fleksibilitas waktu kuliah yang membuat siapa saja bisa bekerja sambil kuliah, saya rasa menjadi salah satu alasan banyak orang di Banyuwangi kini lebih tertarik menempuh pendidikan di Universitas Terbuka.

Mencari Makna Jurnalis di Kampus UINSA Surabaya (Pengalaman Nur Chafshoh)

Mencari Makna Jurnalis di Kampus UINSA Surabaya (Pengalaman Nur Chafshoh)

Gambar Kampus Universitas UINSA Surabaya

Bagi saya, ilmu jurnalis tidak hanya sekadar menulis berita. Namun sebagian masyarakat mengaitkan berita dengan kata jurnalistik. Saya adalah alumnus jurusan KPI di UINSA Surabaya. Pengalaman saya selama berada di bangku kuliah, meniti ilmu jurnalis sangatlah beragam. Waktu itu memang saya terobsesi untuk menjadi seorang penulis. Berawal dari memutuskan masuk di jurusan Komunikasi dan Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), saya pun menghela napas. Apa sih yang ada di Jurusan ini?

Mengikuti Kegiatan Kampus yang Selaras dengan Jurusan

Lambang Logo UINSA Surabaya

Selang beberapa hari di kelas, saya pun mulai mengerti, di jurusan ini pada intinya kita diajarkan untuk menulis. Semua memang berawal dari pandangan pertama, saya menganggap demikan, pokoknya bakalan diajari menulis. Saya pun jalan-jalan di sekitaran kampus sebagai mahasiswa baru (MABA), ada banyak UKM kampus yang mengadakan perekrutan anggota baru dalam UKM-nya. Saya pun melirik stand yang ingin mencari MABA yang tertarik dengan dunia jurnalistik. DJD Ara-Aita (diklat jurnalistik dasar) atau yang biasa disingkat LPM Arta, sebuah Lembaga Pers Kampus yang dimiliki oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Sebagai MABA pastinya kita-kita punya semangat dara muda yang menggelora. Termasuk saya. Lirikan mata saya kemana-mana, tapi saya pun harus memilih beberapa UKM yang singkron dengan jurusan saya. Salah satunya LPM Arta tersebut. Saya pun mencari tahu apa persyaratan mengikuti LPM itu, disuruh buat Artikel, terserah mau artikel apa. Lalu berkas disatukan dengan biodata yang lain. Syarat pun langsung saya buat dan layangkan ke stand Arta. Sebenarnya cuma buat keseriusan anggota saja, buat artikelnya, dan ingin tahu anak didiknya condong ke tulisan jenis apa.

Selama mengikuti pengkaderan, kami semua diarahkan untuk mengikuti acara di kampus selama tiga hari. Karena ini acaranya di kampus, kita tidak disuruh untuk menginap. Mulai dari jam 7 pagi hingga jam 8 malam selama tiga hari berturut-turut, kami digencar dengan materi jurnalistik, terutama berita. Baik dari tulisan Straigth News hingga Features. Sudah sejak awal saya telah mengikuti kegiatan yang berbasis jurnalis, saya pun mulai mengarah pada pandangan yang sama, yaitu KPI adalah jurusan yang mengajarkan jurnalistik berita.

Mengapa demikian? Karena di kelaspun banyak menyuguhkan materi tentang menulis berita. Dari mata kuliah Jurnalistik Cetak, Jurnalistik Online, Desain Media Jurnalistik, Desain Media Online, Creative Writing, Jurnalistik TV, dan lain sebagainya. Itu semua saya dapatkan pada semester lima kalau gak salah. Semester yang mengharuskan memilih konsentrasi, ada 2 Jurnalistik dan Public Speaking. Sesuai dengan nama Jurusannya, Komunikasi Penyiaran Islam. Ada kata komunikasi, dan penyiaran Islam.

Komunikasi berarti kita akan diajari untuk melakukan komunikasi yang baik, salah satunya dengan media tulisan. Karena saya mengambil konsentrasi Jurnalis, kami para jurnalis di kelas mengikuti materi dengan baik, bahkan kita disibukkan dengan kerja kelompok mengambil gambar untuk dijadikan video profil wisata, layaknya artis. Seru, kami menikmati. Begitulah anak mahasiswa, menikmati meskipun tidak punya uang. Bahkan posisi tidak punya uang pun dapat jalan-jalan.

Seperti yang kami lakukan para mahasiswa KPI, berkelana mengikuti seminar-seminar yang diadakan kampus lain. Waktu itu saya dan kawan-kawan mengikuti acara seminar di UB Universitas Brawijaya Malang. Tentunya diberikan wawasan mengenai hal-hal yang berubungan dengan jurnalistik, terutama Televisi. Serta informasi mengenai keadaan dunia jurnalistik di masa kini, waktu masih sedikit asing, jurnalistik yang akan segera viral, yaitu sebagai kontributor atau netizen.

Pendalaman saya tentang kepenulisan di jurusan ini masih seputar dunia berita. Ada banyak kegiatan yang dapat dihubungkan dengan kata jurnalis, tentunya yang masih selaras dengan dunia berita. Di dalam organisasi yang saya ikuti, tentunya Arta, di sana diajarkan menulis macam-macam jenre berita. Di kelas, ada banyak materi yang dapat dikaitkan dengan berita, tentunya lebih banyak seputar materinya saja. Jurnalistik Cetak, kami diajarkan untuk membuat berita yang menelisik lebih dalam kepada materi beritanya. Bagimana Jawa Pos dari mencari tema hingga menuliskannya, kita juga diajak kunjungan ke media tersebut yang kebetulan tempatnya dekat dengan kampus, di Graha Pena.

Kami juga diajarkan membuat desain Media Cetak pada mata kuliah Desain Media Cetak. Dengan beberapa aplikasi semacam coreldraw atau photoshop. Pada mata kuliah Creative Writing, kami diajarkan bagaimana cara menulis yang benar, tapi di sini lebih kepada teorinya saja sayangnya. Padahal waktu saya ingin materi yang lebih yaitu latihan, latihan, dan latihan. Tentu yang saya harapkan adalah bagaimana dosen dapat memberikan materi dan keilmuan yang sesuai dan benar-benar dapat dipraktikkan langsung oleh mahasiswanya, bukan hanya sekadar materi. Tapi pada kenyataannya banyak mata kuliah yang hanya menyuguhkan itu. Yang saya acungi jempol pada KPI UINSA sebenarnya kalau mata kuliah tentang praktik langsung, seperti desai media cetak, langsung diberikan kepada ASDOS yang pakarnya. Hanya saja pada waktu saya yang kurang mengikuti, sehingga lebih mudah lupa. Tapi kalau seputar menulis berita, jarang ada yang menyuruhnya untuk menulis berita.

Apa yang saya cari tentang materi dan praktek, malah ketemu di dalam sebuah organisasi. Arta. Kegiatan mencari berita, dijadikan Crew Newnew dulu, yaitu sebuah tim yang ada di pengkaderan sebelum dinobatkan menjadi bagian dari keluarga Arta. Di sana kami digembleng untuk menulis berita dan tulisannya akan diterbitkan dalam buletin yang terbit setiap satu minggu sekali. Dari proses rapat tema, pembagian jobdis penulis, hingga mencari berita yang membutuhkan usaha penuh. Wawancara yang kadang diam-diam, menggunakan nama inisial, hingga kajian pada tengah malam. Sungguh, baru saya tahu dunia wartawan sangat berat, padahal masih wartawan amatir yang belajar di dalam kampus, berita-berita pun seputar kejadian di kampus.

Di dalam jurusan sendiri sebenarnya ada pengkaderan, yaitu sebuah tim jurnalis yang diadakan HMJ, pada waktu di jurusan saya namanya masih HMJ sekarang diganti HIMAPRODI. Namun karena tim tersebut membutuhkan seleksi, dan saya daftar tapi tidak lolos, saya pun tetap fokus pada Arta. Keluarga wartawan yang menurut saya menyenangkan. Selama belajar di sana, saya menjadi sosok yang semangat dalam mencari berita dan nimbrung dalam setiap kegiatan yang dilakukan di organisasi tersebut.

Jurnalis Bukan Sekadar Penulis Berita

Setelah helaan napas panjang, menerjang api semangat menggiati literasi kejurnalisan bidang berita, saya pun mulai menepi sebentar. Suatu problem keorganisasian di Arta (Ara-Aita) saya rasakan, yang membuat rasa ingin tidak terlalu aktif di sana, meskipun rasa sayang terhadap para anggota Arta karena kebersamaan selama ini. Saya tahu, menjauh bukan suatu penyelesaian masalah, tapi saya ingin.

Di kelas konsentrasi jurnalis, ada sebagian dari mereka adalagh anggota Arta. Mereka tetap menjunjung nama berita sebagai sumbangsih terbesar dalam dunia kepenulisan jurnalis. Setiap apapun diskusi itu yang berada di dalam kelas, mereka berdiskusi dengan kritis. Tatapi saya yang sering duduk di bangku paling pojok dan jarang menemani serta melayani anak jurnalis untuk diskusi, saya memiliki pemikiran yang berbeda. Mungkin juga faktor organisasi yang kurang baik, atau gara-gara itu baru saya disadarkan untuk mendalami makna jurnalis yang sesungguhnya.

Hal yang positif saya aktif keorganisasian jurnalis adalah sata tahu dunia jurnalis ini sangat unik. Kadangkala seorang jurnalis harus mempunyai daya peka yang sangat tajam, kritis, dan independen. Tapi kadangkala jurnalis harus menyesuaikan diri dengan pendekatan sosial terhadap masyarakat, karena konon seorang jurnalis adalah pembela rakyat. Di balik perjuangannya dalam mengais berita dan begadang malam. Tapi itu semua adalah perjuangan menulis berita sebagai jurnalis.

Lalu ketika saya menepi dan lebih memilih menelaah arti jurnalis yanh sesungguhnya, poin utama yang saya dapatkan adalah jurnalis penulis segalanya. Tugas pokoknya sebagai penulis. Saya pun menyelam ke dunia literasi. Di mana di sana ada banyak jenis tulisa yang bisa dikategorikan sebagai bahan untuk para jurnalis menulis. Ada puisi, cerpen, cerbung, artikel dan tulisan jurnalis yang lainnya. Pikiran saya dibedah dan dibagi-bagi tentang apa arti jurnalis lain yang saya tidak tahu. Yaitu mendalami dunia sastra.

Sebagai mahasiswa saya dan kami sudah terbiasa dengan dunia googling mencari informasi melalui google. Meskipun itu adalah kegiatan yang dilakukan mahasiswa masa kini saja, yang kadangkala membuat khilaf para pelakunya mencari refrensi tugas dan mencomot artikel untuk dipindah ketugasnya. Tapi karena saya telah terlebih dahulu berada di dunia jurnalis khususnya berita, saya tidak terbiasa melakukan plagiasi.

Namun google masih sangat berguna bagi saya. Selain untuk mencari inspirasi tulisan, dari google dan baca-baca buku di perpustakaanlah yang menyadarkan saya bahwa ada tulisan jenis lain yang menyertai dalam dunia jurnalis. Seperti yang saya lakukan, mencari informasi mengenai tulisan sastra, gabung dengan grup menulis seperti GPSP ( goresan pena sang penulis), KBM (komunitas bisa menulis), dan lain sebagainya. Serta dapat mencari tatacara menulis sastra, bagaimana menulis puisi yang baik dan seterusnya.

Pendalaman saya juga mengantarkan saya belajar menulis jenre jurnalis berupa tulisan biografi. Saya pun gemar mencari refrensi sejarah-sejarah Islam lalu saya foto copy sebagai bahan tulisan. Hobi saya yang baru ini, membuat pikiran saya terbuka untuk mendalami dunia jurnalis yang sesungguhnya. Mengikuti acara-acara, pelatihan kepenulisan sastra seperti yang digagas oleh bu Wina Bojonegoro. Ia telah menulis banyak cerpen yang berhasil tembus koran-koran nasional seperti Jawapos dan Kompas. Tidak hanya itu, perkumpulan grup kepenulisan yang diadakan dalam rangka Kopdar di Jogja pun saya datangi. Berangkat sendiri pula. Begitulah saya, terlalu bersemangat dalam mendalami dunia literasi.

Kegiatan kliping mengeliping isi koran pun saya lakoni. Waktu itu sekitar semester lilma, saya punya program untuk diri sendiri membeli koran setiap akhir pekan, yaitu koran Minggu. Jenis tulisan yang saya cari adalah cerpen, puisi, dan artikel-artikel yang menarik. Lalu saya gunting dan ditempelkan di buku besar. Semua saya lakukan dalam rangka hobi dan kesenangan mendalami dunia jurnalistik. Saya mencoba melakukan peran sebagai manusia berpaham jurnalis yang idealis. Tulisan-tulisan itu saya jadikan patokan tulisan jurnalistik yang baik.

Sebagai bukti keseriusan saya, saya mencoba menerapkan dan memberi pemahaman kepada diri saya sendiri tentang makna jurnalis sesungguhnya. Jurnalis adalah kegiatan tulis-menulis lalu saya coba untuk memberikan pemahaman itu kepada orang lain. Selain ikut organisasi LPM Ara-Aita, saya juga aktif dalam UKM IQMA di sana ada banyak bidang. Saya masuk dalam bidang dakwah, dan saya percaya bahwa tulisan dapat dijadikan sebagai media dakwah.

Setelah saya berproses di IQMA dakwah dalam satu tahun, saya juga merasa mendalami konsentrasi bidang Public Speaking yang di sana juga diajarkan dalam Jurusan KPI. Tetapi saya lebih tertarik pada dunia tulis-menulis, saya pun dapat menerapkannya dalam ilmu dakwah tersebut, yaitu berdakwah dengan tulisan. Saya dan kawan-kawan pun diangkat menjadi pengurus. Lalu pemikiran itu saya terapkan kepada anak-anak didik saya. Mereka suka, terbentuklah grup FB berdakwah dengan tulisan, namun tidak bertahan lama. Karena saya sudah mendapat panggilan untuk menikah, yaitu pada semester tujuh.

Karena Jurnalis Juga Butuh Uang

Saya sebagai mahasiswi KPI Konsentrasi Jurnalis, bergelut dengan tulisan adalah hal yang biasa. Tetapi siapa yang tidak tahu, bahwa kebanyakan mahasiswa perantauan, memiliki keuangan yang tidak stabil. Kami dituntut untuk belajar dengan menyesuaikan jatah uang makan, kebutuhan hidup lainnya, serta untuk keperluan kuliah. Saya pun mulai tertarik untuk mencari pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu proses kuliah dan kegiatan di kampus. Salah satunya menjadi penulis lepas, dan mengikuti lomba-lomba menulis.

Setelah tahu, bahwa jurnalis tidak hanya menulis berita, saya pun mendapat ilmu tambahan dari pendalaman saya mengenai arti jurnalis sesungguhnya, terbiasa menulis cerpen, meskipun tidak ada yang lolos seleksi koran nasional. Terbiasa menulis puisi, meskipun belum ada yang lolos untuk diterbitkan. Tapi saya pernah satu kali mendapatkan uang berupa pulsa dari even yang ada di facebook yaitu menulis cerita singkat. Saya termasuk kategori favorit. Alhamdulillah terbantu pulsa, hal itu sungguh menggembirakan bagi mahasiswa perantauan.

Tidak cukup sampai di situ, saya juga berusaha mencari lowongan menulis artikel lepas di google, saya layangkan lamaran menulis di banyak tempat. Barangkali ada yang mau menerima saya menjadi salah satu penulis mereka. Melalui olx dan lainnya saya menemukan kontak WA, lalu kami melakukan pekerjaan sesuai yang tertera di dalam loker tersebut. Salah satunya menulis kata mutiara dalam 300 kata, selama kuliah kegiatan saya banyak, dan saya juga masih pemula dalam pekerjaan ini. Sungguh sangat membutuhkan kedisiplinan dan ketelatenan. Sampai-sampai di bus saat perjalanan pulang ke tanah kelahiran pun disibukkan dengan menulis, karena dikejar deadline.

Ternyata di tengah perjalanan saya tidak sanggup. Belum genap satu bulan, tidak saya teruskan, dan sepertinya kontrak putus dengan sendirinya, tanpa ada pertanyaan dari si pemilik lowongan tersebut. Kemudian berlanjut dengan lowongan berikutnya, saya memulainya dengan belajar lebih dalam tentang kepenulisan artikel sebagai salah satu genre Jurnalistik. Di sini pekerjaan saya lebih kepada tulisan artikel bertemakan kesehatan dan tips agar hidup sehat.

Saya pun sudah mulai mengerjakan tugas-tugas artikel itu, sudah hampir satu bulan, tiba-tiba saja saya lost kontak dengan tim pengelolanya, tiba-tiba saja nomor mereka tidak bisa dihubungi. Saya kecewa, tapi ya sudah lah. Mungkin belum rezeki saya. Tapi karena hal itu, saya tidak berani mencari lowongan kerja menulis artikel lagi. Saya pun lebih sering mengirim tulisan-tulisan saya ke media cetak, sembari mendalami ilmu jurnalistik saya. Dalam hal ini saya mengambil hikmah bahwa dengan mengikuti event-event dan belajar menulis di media massa, saya dapat lebih belajar praktik langsung di dunia kepenulisan.

Kesimpulan

Makna jurnalistik yang saya temukan adalah sebuah ilmu yang mempelajari dunia tulis-menulis. Tidak hanya sekadar menulis berita. Bisa jadi menulis artikel, menulis cerpen atau puisi. Begitu juga dalam Konsentrasi Jurnalis dalam mata kuliah Creative Writing, yang diberi pelajaran mengenai menulis cerpen meskipun hanya sekadar teori. Begitulah pengalaman saya ketika berada di KPI Konsentrasi Jurnalis, jangan hanya belajar di dalam kelas saja, kita jadi kurang berkembang ilmunya. Lalu belajarlah dengan giat, karena akan bermanfaat kelak ketika lulus kuliah.