Pengertian Semiotika Komunikasi; Sebuah Teori Dusta

32 views
Pengertian Semiotika

Salah seorang pengamat politik Rocky Gerung mengungkapkan bahwa hari ini, media baik offline maupun online tak ubahnya seperti brosur pemerintah yang tiap harinya berisi program-program dan sanjungan kepada pemerintah. Beliau juga mengungkapkan bahwa dalam akhir-akhir ini, media seakan “bunuh diri” lantaran pemberitaannya yang berat sebelah. Di Metro TV sudah jelas bahwa ia memihak kubu Jokowi, sedangkan TV One sudah jelas berpihak di kubu Prabowo. Model-model media semacam ini sangat buruk untuk kelanggengan demokrasi.

Fakta di atas bukanlah khayalan semata, namun sudah riil di depan mata. Masyarakat sebagai pemirsa seakan-akan dijadikan penonton yang harus memilih antara Jokowi atau Prabowo. Pikiran masyarakat dipersempit sedemikian rupa menjadi dua kubu hingga seakan-akan tidak ada kubu lain yang berhak menjadi presiden daripada keduanya.

Dalam hal bermedia, tentu keadaan ini bukanlah sesuatu yang mengalir begitu saja, di dalamnya pasti terdapat berbagai kepentingan dari media tersebut. Pada dasarnya, media mempunyai dua kepetingan yang tidak bisa diganggu gugat yakni kekuasaan dan kepetingan ekonomi. Mengenai kekuasaan, hari ini pemilik media banyak yang mengajukan diri untuk menjadi caleg, begitu pula dalam hal ekonomi, tak sedikit pula media yang menjadi corong pemerintah demi mendapatkan dana segar.

Di samping itu, masih terdapat berbagai upaya media online untuk menghalalkan segala cara meraup pundi-pundi rupiah di tengah eksisnya media-media non-mainstream yang secara tidak langsung menjadi kompetitornya. Salah satu yang diunggulkan adalah, kecepatan produksi berita tanpa mengindahkan keakuratan, penggunaan judul-judul click bait dan lain sebagainya. Media mulai kehilangan akal sehatnya untuk mempertahankan kualitas dan keberimbangan, semuanya bergeser menjadi jurnalisme sensasi demi keuntungan ekonomi.

Media dan Konstruksi Realitas

semiotik berasal dari kata Yunani ‘semeion’ yang berarti tanda.Tanda itu sendiri dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dasarnya memang sudah terbangun jauh-jauh sebelumnya, tentu  saja dalam hal ini tanda bisa mewakili sesuatu makna

Pada dasarnya, media bukanlah sesuatu yang biasa-biasa saja. Media menunjukka dirinya sebagai penyampai informasi yang luar biasa dan berani beda. Hal ini bisa dilihat mulai bagaimana sebuah media merekrut calon reporter, wartawan dan seluruh awak media. Bukan hanya soal bagaimana media memilih HRD untuk menyeleksi calon awak media, lebih dari itu, media juga menggunakan syarat-syarat tertentu untuk mengambil tenaga  kerja sebagai awak media.

Berawal dari perekrutan itulah, bahwa media lahir bukan sebuah lembaga informasi yang netral, alih-alih independent. Bahkan, sebelum media didirikan pun, seorang investor atau pendiri media sudah merumuskan sebuah gagasan spesifik yang harus diperjuangkan. Mulai dari itulah, ketika memandang sebuah media mau tidak mau, suka atau tidak suka memang mempunyai kepentingan tertentu. Kepentingan inilah yang nantinya diusahakan oleh sebuah media melalui berita-berita yang disajikan, mulai dari komponen terkecil sebuah media, hingga yang terbesar.

Semiotika Media dan Tanda-tanda yang Bekerja

Semiotika Komunikasi

Hal di atas bila ditinjau dari kepentingan media berupa kekuasaan. Di sisi lain, kepentingan media yang tidak kalah ‘seksinya’ adalah kepentingan ekonomi. Dalam hal ini media bukan hanya berfungsi memenuhi penyampaian pesannya secara ideologis, namun juga pesan yang dikontruksi sedemikian rupa sehingga bisa sesuai dengan masyarakat. Pernyataan ini juga didukung oleh seorang tokoh Paul Watson yang juga merupakan pendiri Greenpeace bahwa media sebenarnya tidak menganut kebenaran sejati, namun kebenaran yang dianggap masyarakat sebagai sebuah kebenaran.[1]

Tanpa disadari, setiap manusia melakukan komunikasi-komunikasi non-verbal baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Dari komunikasi non-verbal tersebut, adakalanya tergerak lantaran adanya alam bawah sadar, namun juga adakalanya karena adanya kesadaran. Meskipun demikian, tidak dipugkiri bahwa dengan kegiatan tersebut manusia-manusia bisa produktif menghasilkan sebuah tanda yang memiliki sebuah makna.

Hal ini pulalah yang menegaskan keilmuan semoitik sebagai ilmu tanda. Semiotik sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar yang disebut dengan “tanda”. Degan demikian, semiotik mempelajari hakikat tentang keberdadaan suatu tanda.[2]

Sayangnya, tanda ini memang minim disadari oleh banyak orang, bahkan orang yang melihat hanya menganggap hal tersebut sebagai komunikasi verbal semata. Padahal, bila ditelisik lebih dalam, tentu saja tanda-tanda tersebut mempunyai tujuan tersendiri dan sudah sejak dahulu menjadi sebuah budaya.

Hal inilah yang menjadi fokus bagi para pembaca tanda, dalam hal ini biasa disebut dengan ilmu semiotika, atau ilmu tentang tanda. Secara etimologis, semiotik berasal dari kata Yunani ‘semeion yang berarti tanda.Tanda itu sendiri dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dasarnya memang sudah terbangun jauh-jauh sebelumnya, tentu  saja dalam hal ini tanda bisa mewakili sesuatu makna[3].

Di sisi lain, tokoh yang tidak bisa diremehkan lagi di dunia ilmu semiotika juga perlu disematkan bagaimana Ia memahami semiotika. Ia adalah Umberto Eco. Menurutnya, semiotika adalah teori dusta, “…pada prinsipnya adalah sebuah disiplin yang mempelajari segala sesuatu yang dapat digunakan untuk berdusta (lie).”

Lebih lengkapnya, Umberto Eco menjelaskan lagi di dalam sebuah kalimat umum yang menarik untuk dijadikan pedoman mengenai semiotika.


Bila sesuatu tidak dapat digunakan untuk mengungkapkan dusta, maka sebaliknya ia tidak dapat pula digunakan untuk mengucapkan kebenaran (truth); ia pada kenyataannya tidak dapa digunakan untuk “mengungkapkan” apa-apa. Saya  pikir definisi sebagai sebuah teori kedustaan sudah sepantasnya diterima sebagai sebuah program komprehensif untuk semiotika umum (general semiotics).[4]

Memang mencengangkan apa yang diungkapkan Eco, namun ungkapan tersebut sebenarnya menegaskan dari makna semiotika itu sendiri. Baginya, Ia memperjelas mengenai teori kedustaan lantaran apaa yang dikatakan dan ditulis tidak sesuai dengan realitas sesungguhnya. Lanjutnya, Eco mengungkapkan bahwa ada hubungan yang tidak simetris antara tanda dengan realitas. Bahkan, dalam beberapa kondisi memang tidak ada hubungan sama sekali sepertihalnya tanda, isi dan maknanya jauh berbeda. Apabila ada seorang yang memberikan wacana A, sementara realitas yang sesungguhnya adalah B.

Konkritnya, sebagaimana yang dijelaskan Rachmat Kriyantoro dalam bukunya Teknik Praktis Riset Komunikasi menekankan bahwa semiotik adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya, hubungannya  dengan tanda-tanda lain, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya.[5] Semiotik mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti.[6]

Adapun hubungannya antara semiotik dengan media tentu saja sangat erat, dalam hal ini pernah disampaikan oleh pakar semiotika Rolland Barthes yang juga sebagai pengawal telaah tentang  genre semiotika di media.[7] Melalui semiotika bergenre media ini pula, Roland Barthes mampu menerapkan tanda dasar yang ada di dalam tontonan media dan bagaimana semiotika bisa menunjukkan makna-makna implisit di dalam tanda tersebut.[8]

Di dalam tanda-tanda itulah sebuah media melakukan konstruksi guna memperjuangkan ideologinya. Sebagaimana yang diketahui secara umum bahwa banyak tanda-tanda yang ada. Di media sendiri ada berbagai macam tanda seperti gambar, warna, ukuran, space ataupun tata letak dalam sebuah berita. Namun, dibalik semua tanda itu, ada satu jenis tanda yang terpenting, yaitu tanda berupa kata-kata.[9]

Bagi media, kata-kata yang disusun menjadi sebuah bahasa dalam tulisan bukan lahir secara alamiah, namun di balik itu ada sebuah upaya menambah, mengurangi, menyamarkan atau memperjelas sebuah tanda sehingga realitas yang diberitakan bisa mejadi realitas seperti yang dinginkannya. Di dalam titik ini, media tidak lagi dikatakan sebagai media yang netral sebab media sudah melakukan sebuah produksi sebuah makna baru sesuai kepentingannya yang dianut. Di sinilah sebuah tanda-tanda bekerja untuk media.


[1] Alex Sobur, Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 87.

[2] Ibid.,

[3] Alex Sobur, Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 95.

[4] Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika; Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna, (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), hlm. 45.

[5] Rachmat Krisyantoro, Teknik Praktik Riset Komunikasi, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2006), hlm. 265.

[6] Ibid.,

[7] Marcel Danesi, Pengantar Memahami Semiotika Media, (Yogyakarta:jalaputra, 2017), hlm. 27.

[8] Ibid.,

[9] Arthur Asa Bergerf, Pengantar Semiotika: Tanda-tanda Dalam Kebudayaan Kontemporer, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2010), hlm. 1. {��4X6

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *