Bunuh Diri karena Susah Akses: Bukti Kuota Internet Tidak Cukup

28 views

Bunuh Diri karena Susah Akses Bukti Kuota Internet Tidak Cukup

Bunuh diri karena susahnya akses internet: Bukti Kuota Internet Tidak Cukup (Gambar: Pixabay.com)

Kemarin hari Minggu (18/10/2020) saya kaget ketika melihat berita tentang salah seorang siswi sebuah SMA di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan yang melakukan bunuh diri. Melansir dari Kompas.com, pelajar dengan inisial MI (16) melakukan bunuh diri menggunakan racun yang dicampur dalam sebuah teh.

Saya sebetulnya tidak habis pikir seorang siswi yang baru sekolah bisa senekat itu. Kebetulan ketika saya kuliah sering juga mendengar kasus bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswa akibat tidak bisa menyelesaikan skripsinya. Namun kalau bunuh diri dilakukan anak SMA, itu adalah sesuatu yang sangat tidak biasa dikarenakan usianya yang masih belia.

Usut punya usut, salah satu penyebab bunuh dirinya siswi SMA tersebut dikarenakan susahnya akses internet di tempat tinggalnya. Akibatnya tugasnya menjadi menumpuk. Tentu saja hal ini memprihatinkan mengingat

Bukti Kuota Internet Tidak Cukup: Mengapa?

Kasus ini memang lebih terkait dengan kesehatan mental siswa ketika pandemi Covid-19 ini hadir. Bunuh diri ini juga bisa dinilai dari fenomena burnout yang banyak melanda siswa ketika pembelajaran online ini berlangsung.

Namun harus diakui bahwa masalah fasilitas internet juga bisa dikatakan koheren dengan fenomena burnout tersebut. Siswa/i yang stres akibat pandemi bisa melakukan apapun yang tidak membuatnya nyaman, sementara proses belajarnya sendiri terganggu akibat fasilitas yang tidak memadai.

Bulan lalu saya sempat membuat tulisan mengenai program Kuota Internet untuk Belajar, bisa dilihat disini. Program ini memang harus diakui adalah solusi tepat di perkotaan.

Akan tetapi jika kita melihat banyaknya guru di daerah pinggiran yang melakukan pembelajaran dengan model tatap muka terbatas, sepertinya memang harus dipikirkan bahwa kuota internet tidak cukup.

Saya memang tidak tahu siswi SMA tersebut apakah tinggal di kota atau di desa. Namun susahnya akses internet ini sebetulnya justru memegang peran yang sama krusialnya dengan kuota internet yang dipermasalahkan.

Artinya dimanapun jika susah akses internet, akan berdampak ke semua elemen pendidikan. Melansir dari Kompas.com, Pemerintah pun sebetulnya sudah mengakui bahwa ada sekitar 41.000 sekolah yang belum terhubung dengan jaringan internet.

Betul bahwa jaringan internet tidak merata untuk saat ini. Namun artinya proses pembelajaran harus tetap berjalan dengan cara-cara yang tidak dilakukan sebelumnya. Namun jika pemerintah memaksakan pembelajaran online di wilayah yang masih susah akses internetnya seperti kasus ini, itu sama saja tidak memperhatikan kenyamanan guru dan siswa dalam pembelajaran.

Jaringan atau Pendidikan Alternatif

Pada dasarnya pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memiliki banyak opsi untuk menanggulangi hal tersebut. Dari banyak opsi tersebut, ada dua hal yang bisa dikerucutkan. Opsi tersebut adalah pengadaan jaringan di wilayah terdepan dan mendukung pendidikan alternatif.

Jika pemerintah memprioritaskan yang pertama, memang kendalanya adalah wilayah yang banyak diurusi sementara provider masih menimbang untung-rugi. Satu lagi, cara tersebut sebenarnya lebih cocok untuk jangka panjang dan investasi yang tidak sedikit.

Nah, akan tetapi jika pemerintah memprioritaskan kesuksesan siswa dalam belajar, pendidikan alternatif yang selama ini dilakukan guru-guru di daerah harus dan wajib didorong.

Belajar dengan pertemuan terbatas di rumah guru, terjun langsung menemui siswa, maupun menggunakan HT sebagai alternatif jaringan juga harus didukung selama jaringan internet belum tersedia. Utamanya jika itu dilakukan di wilayah 3M (terdepan, terpencil, dan terdampak), maka pemerintah dan stakeholder terkait termasuk relawan dapat membantu.

Kemendikbud boleh saja memprioritaskan kuota internet saat ini. Namun dengan hadirnya kasus ini harusnya kita semua “membuka mata” bahwa kuota internet saja tidak cukup.

 

Sumber:

Kompas, https://regional.kompas.com/read/2020/10/18/05450041/-korban-bunuh-diri-karena-depresi-banyaknya-tugas-online-dan-sulitnya-akses?page=all#page2. Diakses 18 Oktober 2020

 

Kompas, https://www.kompas.com/edu/read/2020/09/30/095832871/kemendikbud-41000-sekolah-belum-terhubung-jaringan-internet?page=all. Diakses 18 Oktober 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *