13 Model-model Komunikasi Aristoteles Dkk.

34 views

Model-model Komunikasi

Pernahkah terpikir di benak anda bagaimana manusia dapat berkomunikasi dengan siapapun? Jawabannya mungkin adalah dengan bahasa manusia bisa berbicara. Namun jika pertanyaannya dilanjutkan menjadi “seperti apa komunikasinya?”, maka disinilah tulisan ini akan menjelaskan seperti apa model komunikasi yang dilakukan.

Model sejatinya bukan hanya sekedar gambaran, bentuk, ataupun ilustrasi semata, namun menunjukkan bagaimana kepada kita tentang sebuah pemahaman hubungan-hubungan antar elemen, dalam hal ini tentu saja elemen komunikasi. Hubungan tersebut juga memiliki perbedaannya satu sama lain dalam perkembangannya. Hal ini memungkinkan kita dapat mengidentifikasi hubungan komunikasi bukan saja berdasarkan elemen, namun juga latar belakang dan kekompleksitasan komunikasi itu sendiri.

Lalu, apa saja elemen komunikasi itu? Secara sederhana terdapat lima elemen dasar dalam komunikasi, yaitu komunikator (orang yang berbicara), komunikan (penerima pesan), pesan (muatan informasi dan hambatan), media (perantara antara komunikator, komunikan dan massa secara luas) dan efek (implikasi dari pesan).

Namun dalam mempelajari model komunikasi, harus dicamkan bahwa elemen-elemen tersebut bisa berubah fungsi sesuai dengan konteksnya. Komunikator bisa saja menjadi komunikan, maupun sebaliknya. Media memang perantara, namun juga dapat menghasilkan efek sebagaimana komunikator atau komunikan. Semua itu tergantung pemahaman kita akan fenomena komunikasi dimanapun baik secara langsung maupun jika kita meriset secara mendalam.

Model-model Komunikasi

Model komunikasi berikut ini adalah hasil dari bacaan penulis yang dihimpun dari berbagai sumber:

1. Model Komunikasi Awal

Membicarakan model komunikasi tidak enak sebetulnya jika tidak berbicara suatu model awal atau “tertua”. Sebetulnya ini adalah model yang paling klasik dari semua model komunikasi. Yap, gambaran mudahnya adalah komunikasi akan berjalan dengan pesan satu arah, dari pengirim ke penerima pesan. Pengirim pesan akan mentransmisikan pesan secara langsung kepada pengirim pesan tanpa tedeng aling-aling, alias tanpa media ataupun hambatan lainnya seperti pada model komunikasi modern.

Model Komunikasi Aristoteles Model-min

Gambar 1. Model Aristoteles (Sumber: Adaptasi Penulis)

Model ini menurut jurnal seperti yang ditulis oleh Croft (2004) merupakan model yang pertama kali dideskripsikan oleh filosof kenamaan Yunani, yaitu Aristoteles. Bapak “Eureka” ini mendiskripsikan pesan yang nantinya diterima orang dalam skala yang banyak. Model ini saat ini bisa dikaji dalam bentuk tradisi retorika, salah satu tradisi tertua dalam ilmu komunikasi yang berpusat pada idea, bahasa, dan argumentatif-persuasif dalam memandang komunikasi itu sendiri.

2. Model Komunikasi Linear

Model ini merupakan model yang terbilang menjadi dasar perkembangan model komunikasi modern, sekaligus model dasar yang populer dipelajari dalam studi Komunikasi. Selain itu dikarenakan model ini sudah mengenai saluran dan efek, model ini masih dinilai relevan untuk menjelaskan secara mendasar bentuk-bentuk komunikasi.

Secara garis besar model awal ini memandang bahwa komunikasi terjadi dalam satu arah. Bisa komunikator ke komunikan, maupun dari komunikator ke massa. Model ini sangat dipengaruhi oleh situasi pasca Perang Dunia II, dimana perspektif mekanis dan teknis mulai berkembang dalam segala lini seiring pembangunan kembali negara-negara yang terdampak perang. Terdapat dua variasi yang lahir dalam model ini, yaitu:

a. Laswell Model

Model ini sebetulnya sudah memasukkan saluran sebagai perantara penyampaian pesan, tidak seperti model Aristoteles yang cenderung satu arah ke massa secara langsung. Dalam model ini prinsipnya adalah dengan siapa anda berbicara, dengan saluran apa dan apa efeknya.

Model Komunikasi Lasswell Model

Gambar 2. Model Lasswell (Sumber: Adaptasi Penulis)

Model yang dimaksud dalam hal ini adalah model yang dibawa oleh Harold Lasswell (1948). Dengan prinsip yang ia sebutkan tersebut maka bisa ditebak bahwa ketika dua orang saling berkomunikasi baik secara lisan dan tulisan pasti memiliki efek dan timbal balik. Hal inilah mengapa model ini menjadi dasar pengembangan model komunikasi lainnya, yang lalu tergambar secara jelas dalam model Shannon dan Weaver (1949).

b. Shannon dan Weaver Model

Inilah model yang selalu diperbincangkan sebagai salah satu bentuk dasar komunikasi. Idenya diambil dari cara kerja telepon kabel waktu itu. Tidak heran apabila model ini berbicara sesuatu yang agak mekanistis. Ya itu, karena telepon kabel kan salah satu alat mekanis yang canggih waktu itu.

Model Komunikasi ShannonWeaver

Gambar 3. Model Shannon and Weaver (Sumber: Adaptasi Penulis)

Dalam model ini sederhananya terdapat empat elemen ketika komunikasi itu dilakukan atau terjadi. Ada sumber pesan, pesan, saluran dan penerima pesan. Elemen ini dalam beberapa hal juga menyertakan feedback walaupun hanya secara samar. Ini dikarenakan waktu itu ketika model ini diciptakan manusia hanya mengenal timbal balik dalam satu arah yang sama. Tidak seperti sekarang dimana feedback dipahami sebagai suatu proses yang rumit dalam komunikasi.

Pada hal yang rumit itulah, lalu muncul keberatan dari sejumlah ahli dikarenakan model-model linear ini hanya bergerak satu arah dengan efek yang setelah didalami ternyata terbatas. Hal ini dikarenakan model ini mengacu pada penggunaan media massa awal dan propaganda. Hal yang hari ini sebetulnya masih bisa ditemui saat ini, namun dalam cakupan kecil atau mikro.

Namun secara gamblang model ini dapat menjelaskan dari siapa, apa pesannya, salurannya apa dan apa efek dan respon dari penerimanya. Itulah mengapa selanjutnya berkembang model komunikasi lain yang sebetulnya tidak jauh dari elemen dari model yang ditulis oleh Shannon dan Weaver ini, namun dengan variasi kompleksitas baru sesuai dengan perkembangan masyarakat modern hingga kekinian.

3. Model Komunikasi Sirkuler

Setelah munculnya model-model komunikasi yang memasukkan saluran, lalu muncul perspektif lain yang berkembang dan mencoba mengimprovisasi model sebelumnya yang cenderung masih satu arah atau cenderung straight vertical/horizontal dalam komunikasi. Model inilah yang sekarang kita perbincangkan.

Pandangan dari model ini adalah ketidakmungkinan bahwa komunikasi tidaklah sekaku dalam model-model linear, namun juga beragam dan muncul hambatan-hambatan dalam komunikasi. Clue point dari pendekatan ini adalah mencoba mengilustrasikan sebuah model komunikasi yang terdiri atas banyak arah dan sirkular, kompleks namun juga dinamis.

a. Model Komunikasi Schramm

Model inilah yang lalu mengubah peta model komunikasi selanjutnya. Model ini disebut juga model konvergen, dikarenakan model ini menjelaskan komunikasi secara dinamis sebagai bentuk hubungan yang didasarkan pada latar belakang seseorang.

Secara garis besar, model ini menggambarkan komunikasi tidak dalam cakupan komunikator ataupun komunikan. Melainkan menekankan proses perbincangan yang terjadi ketika sejumlah kesamaan dan perbedaan komunikasi bertemu.

Model Komunikasi Schramm Model

Gambar 4. Model Schramm (Sumber: Adaptasi Penulis)

Gambaran utamanya begini, jika anda memiliki sejumlah perbedaan yang besar dengan teman anda besar, maka area persamaannya akan semakin kecil. Hal ini juga berlaku sebaliknya, jika anda memiliki sejumlah persamaan yang besar dengan teman anda maka semakin kecil juga perbedaannya. Proses ini dinamakan sebagai encoding (menyandikan) dan decoding (memecahkan kode).

Artinya walaupun terdapat kesamaan dan perbedaan, keduanya tidak saling meniadakan. Akan tetapi model ini mereduksi sejumlah pandangan ketika terdapat sejumlah perbedaan yang begitu besar serta menguatkan persamaan yang dimiliki dalam proses komunikasi.

b. Model Komunikasi A-B-X

Karena model interaktif sangat menekankan proses komunikasi terlepas dari apapun elemennya, maka terdapat banyak model untuk menjelaskan bagaimana pesan yang berada ditengah-tengah komunikator dan komunikan dapat diterima ataupun berhubungan. Model yang satu ini dapat memahamkan kita secara simpel.

Model Komunikasi Newcomb Model

Gambar 5. Model Newcomb (Sumber: Adaptasi Penulis)

Model ini dikembangan oleh ahli komunikasi bernama Theodore M. Newcomb (1953). Ia berpendapat bahwa komunikasi dapat memperbaiki keseimbangan dalam sebuah sistem sosial (dalam Amudavalli, 2019:26). Model ini menggambarkan komunikator sebagai A dan komunikan sebagai B, yang ketika berkomunikasi mereka pada dasarnya sedang menciptakan topik (X).  Pada model ini, pesan bukanlah elemen satu atau dua arah. Tetapi pesan merupakan cara kerja dalam berkomunikasi itu sendiri.

Konsep ini mirip dengan ketika kita memahami sebuah wacana yang terlontar di media. Wacana akan bergerak menjadi topik perbincangan publik dari berbagai sudut pandang yang diangkat media tersebut. Walhasil terciptalah sebuah topik, dimana ia adalah kumpulan wacana dalam tema tertentu yang ditransmisikan oleh komunikator maupun media hingga diterima ke massa.

c. Model Komunikasi Helix

Model Komunikasi Helix Model

Model ini diperkenalkan oleh Frank Dance (1967). Pada dasarnya model ini merupakan model yang melengkapi model sebelumnya, bahwa interaksi yang terjadi dalam bentuk komunikasi menghasilkan sejumlah kesimpulan bersama atau konvergen. Perbedaannya dalam model Helix ini kesimpulan yang terjadi menuju arah yang lebih luas.

Dalam penggambarannya, sisi bawah dalam model ini merupakan titik awal komunikasi sebagai sebuah corong yang kecil. Ini menandakan bahwa awal dari komunikasi sebetulnya cenderung pelan, lalu menuju besar dan mencapai ke atas yang menandakan semakin besarnya sejumlah pemahaman dan kecepatan dalam menangkap pesan seiring berjalannya waktu.

Konsekuensinya model ini memasukkan unsur waktu sebagai titik pentingnya. Artinya setiap komunikasi yang terjadi pasti ditentukan oleh permulaan komunikasi tersebut. Semakin permulaan komunikasi dilakukan maka semakin cepat pemahaman yang dapat akan menentukan komunikasi selanjutnya.

d. Model Komunikasi Zig-Zag

Selain dua model sirkuler diatas, perlu diketahui sebetulnya terdapat satu model lagi untuk menjelaskan bagaimana sebuah komunikasi berjalan dinamis dan kompleks seperti yang penulis sebutkan diatas. Model yang satu ini dinamakan model Zig-Zag dikarenakan ilustrasi yang cenderung seperti berlompat dan menyentuh hampir dalam segala aspek. Model ini juga ditulis oleh Schramm (1967).

Model Komunikasi Zig-Zag

Gambar 6. Model Zig-Zag (Sumber: Adaptasi Penulis)

Model ini merupakan salah satu model komunikasi yang tidak mementingkan elemen seperti Model Helix. Akan tetapi berfokus pada bagaimana jalannya sebuah komunikasi. Wajar apabila model ini memiliki sejumlah kesamaan dengan model sirkuler pada umumnya, yaitu sama-sama mementingkan faktor interaksi untuk mereduksi sejumlah perbedaan. Karena komunikasi sebetulnya dalam pandangan model ini bukan sebagai mentransmisikan sejumlah informasi, melainkan sebuah proses yang  membutuhkan waktu dan pemahaman individu secara berkelanjutan.

e. Model Komunikasi Berlo

Bentuk komunikasi yang ada pada model ini berorientasi pada bagaimana antara komunikan dan komunikator bukan hanya memahami, namun juga menafsirkan pesan dalam proses komunikasi. Model ini diperkenalkan oleh Berlo (1960).

Model Komunikasi Berlo Model

Gambar 7 Model Berlo ((Sumber: Adaptasi Penulis)

Model ini lebih menekankan pada isi pesan mulai dari pengodean, lalu diterjemahkan masing-masing baik oleh komunikator maupun komunikan melalui kanal. Proses ini dinamakan sebagai SMCR (Source, Message, Channel dan Receiver).

Proses dalam SMCR inilah yang lalu terbagi berdasarkan masing-masing elemen komunikasi, mulai dari komunikator, pesan, saluran, dan lalu ke penerima. Elemen memiliki sejumlah perbedaan cara penerimaan dan penafsiran dalam memahami pesan. Itulah mengapa setiap elemen memiliki konten dan pengaruh ke sistem sampai kultur. Implikasinya, komunikasi dapat berpengaruh kepada setiap elemen yang “dilewati” tergantung pesan yang disampaikan.

Itulah beberapa model komunikasi yang dikenal dalam dunia ilmu komunikasi. Semua model tersebut pernah ada di zamannya dan tidak semua model komunikasi tersebut relevan untuk saat ini. Jelasnya, model-model tersebut dapat memberi kita gambaran tentang bagaimana komunikasi itu bekerja dan bagaimana komunikasi dapat mengaitkan antar satu elemen dengan elemen lainnya.

Referensi/Daftar Pustaka

Amudavalli, A, (2019). Theories and Models of Communication. Chennai: University of Madras. https//:epgp.inflibnet.ac.in/epgpdata/uploads/epgp_content/library_and_information_science/knowledge_society/05._theories_and_models_of_communication/et/4305_et_et.pdf. Diakses 6 Desember 2019.

Ardianto, Elvinaro dan Q-Anees, Bambang, (2011). Filsafat Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Berlo, David K, (1960). The Process of Communication: An Introduction to Theory and Practice. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Croft, Richard S, (2004). Communication Theory. Oregon: Eastern Oregon University.

Newcomb, Theodore M, (1953). An Approach To The Study of Communication Acts. Washington: Journal of Psychological Review Vol.60, No.6, 1953.

Schramm, W, (1954). The Process and Effects of Mass Communication. Urbana-Champaigne: University of Illinois Press.

Shannon, C. & Weaver, W. (1949). The Mathematical Theory of Communication. Urbana-Champaigne: University of Illinois Press.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *