Belajar Menulis Lead Artikel Opini, Nomor 1 sampai 13 Semua Mudah Dipraktikkan

Belajar Menulis Lead Artikel Opini, Nomor 1 sampai 13 Semua Mudah Dipraktikkan

Belajar Menulis Lead
Makerstore.cc

Penulis sempat berpikir, memang jangan banyak alasan, jika bisa, hiduplah tanpa alasan! Buat apa memikirkan alasan jika hanya mempersulit dan menghambat masa depan? Jadikan alasan sebagai koreksi diri, bukan untuk diluapkan ke sanak saudara agar mereka juga merasa simpati pada Anda. Lebih baik berlatih “menghisab” diri sendiri (sebelum dihisab beneran) dan curahkan segalanya kepada-Nya.

Sebelum melangkah untuk memulai menulis lead, Penulis ingin berbagi nikmatnya berusaha menemukan cinta dari Yang Maha Menciptakan Cinta. Soal mencurahkan perasaan ataupun curhat biasanya memang kita terlalu berharap kepada manusia, sanak-saudara kita untuk dapat membantu menyelesaikan masalah.

Itu tak masalah alias no problem. Masalahnya, hari ini yang kita ketahui masih sering meminta bantuan manusia namun lupa minta bantuan Yang Maha Perkasa segala-galanya. Hal inilah yang menjadi PR kita, bahwa Tuhan memang ada dan dekat dengan kita.

Dalam Alquran dijelaskan “(Dan) apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (Q.S. Al Baqarah: 186).

Oleh karena itu, meminta pertolongan kepada Allah seharusnya dilakukan terlebih dahulu, baru disusul ikhtiar kepada manusia. Allah senang jika hamba-hamba-Nya mengharapkan pertolongan-Nya seperti hadis yang mengatakan,

Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya karena sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu).” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Mas’ud).

Karena bagaimanapun juga, janganlah terlalu berharap kepada manusia, karena manusia sering kali lebih suka untuk dipahami daripada memahami. Lagi pula, setiap manusia juga tidak semua mengerti akan perasaan?

Hal di atas bukan berarti untuk hidup sendiri dan tak acuh tuk meminta pertolongan terhadap saudara kita, namun lebih pada siapa yang seharusnya diprioritaskan dalam hidup. Jika yang menjadi pembela adalah Allah, tentu pembawaan yang tenang akan didapat dan tidak terlalu silau oleh gemerlap.

Pasti fine-fine aja, tetap tenang meski sedang dilanda guncangan kesusahan ataupun diberi segunung emas pujian. Oleh karena itu, hendaknya kita melakukan salat Tahajud, karena di situlah kita dapat meluapkan segala masalah kita kepada Allah.

Di saat itulah Allah akan turun langsung dan pada momenmomen itulah insya Allah inspirasi akan selalu muncul, perasaan menjadi peka, pikiran menjadi tajam dan jernih. Penasaran? Coba aja, jangan lupa sebelum tidur berdoa dan mohonlah agar dibangunkan di sepertiga malam. Jadikan arti hidup lebih dari yang “itu-itu” Bung!

Untuk mengawali sebuah tulisan artikel, usahakan lead memang benar-benar menarik dan menggugah sehingga rasa penasaran untuk mengikuti kalimat-kalimat selanjutnya mampu menyihir pembaca sampai akhir. Oleh karena itu, lead jangan sampai diremehkan.

Lead harus benar-benar benar, maksud Penulis harus benar baik dari sisi kepenulisan, segi pengaturan rata kiri, rata kanan, dan kalimat-kalimat baku. Jika hal ini tidak serius mengerjakannya sudah tentu redaktur akan banyak pertimbangan untuk menerbitkannya.

Menulis Lead Tulisan
theleadweightcompany.co.uk

Bagi redaktur, adalah kewenangan tertinggi memperlakukan teks kita, tentu tak mau ambil pusing dalam menyeleksi. Selain per harinya kurang lebih ada seratusan artikel yang masuk, redaktur terkadang juga masih mengerjakan tugas yang lain.

Oleh karena kebiasaan itulah redaktur terkadang hanya melihat judul atau hanya lead-nya saja. Jika yang awal memberikan kesan yang baik, insya Allah akan dimuat. Maka jagalah kesan baik itu selamanya.

Mengutip bukunya Widyamartaya Seni Menuangkan Gagasan, bahwa ciri lead pembuka ataupun pengatar dapat berhasil apabila lead mampu mengetuk hati, memperoleh simpati, menggugat minat dan gairah orang orang lain untuk mengetahui lebih banyak. Adapun secara ringkas, paragraf pertama atau sebagai lead pengantar berfungsi:

  • Memberikan pokok persoalan ataupun masalah;
  • Menarik minat pembaca dengan memberitahukan latar belakang, pentingya pokok soal, atau terpecahkannya masalah; dan
  • Menyatakan ide sentral karangan, yaitu pendirian penulis. Pendirian ini dapat dinyatakan sepenuhnya, atau hanya sebagai persiapan ke arah pernyataan pendirian selengkapnya pada akhir karangan.

Paragraf pertama ataupun yang sering disebut paragraf topik merupakan paragraf yang bertugas sebagai payung agung bagi semua paragraf.

Paragraf inilah yang akan menentukan arah dan tatanan sebuah artikel. Paragraf pembuka artikel ini sangat berpengaruh pada minat pembaca. Lebih jelasnya mari kita rinci dan bahas satu-per satu:

 

1. Lead Model Sebetik Berita Hangat

Menulis Lead dengan Berita
newstoss.com

Tipe lead seperti ini sering digunakan mengingat sifat opini kebanyakan mengandung unsur kebaruan isu. Selain isu berita yang disampaikan merupakan berita terbaru, lead ini juga mempunyai magnet penyedot bagi siapa saja yang tertarik dan sangat minat terhadap permasalahan krusial yang sedang berlangsung.

Contoh yang akan Penulis kemukakan ini adalah contoh dari tulisan Saratri Wilonoyudho seorang Ketua Koalisi Kependudukan Jawa Tengah bertajuk “Urbanisasi Indonesia”:

Dua hari berturut-turut (15 dan 16 April) Kompas menyajikan dua tema menarik tentang pertumbuhan kota di Jawa yang mengarah kepada megapolitan, seperti Jabodetabekjur, Bandung Raya, Kedung Sepur, dan Gerbang Kertasusila. Megapolitan yang membentang dari arah barat sampai timur diperkirakan akan “menyatu” sehingga Jawa akan menjadi pulau kota. Kecenderungan serupa juga terjadi di seputar Kota Medan, Palembang, Makassar, dan sebagainya.

Penulis berharap lead seperti di atas membuat rasa penasaran mengapa lead yang digunakan merupakan berita yang ditayangkan di Kompas dua hari berturut-turut, dan diharapkan pembaca dapat melanjutkannya sampai paragraf-paragraf selanjutnya.

 

2. Lead Hari Bersejarah, Secuil Sejarah atau Riwayat Hidup Seseorang

Menulis Lead dengan Sejarah
probe.org

Ingatlah petuah Presiden 1 RI, “Jas merah” alias jangan sekali-kali melupakan sejarah. Agar kita tak terlupa sejarah, mari kita ingat petuah kebenaran sahabat Nabi Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmumu dengan tulisan.”

Orang yang gemar membaca dan menuliskannya dalam bentuk catatan harian maupun gagasan akan lebih teringat orang yang menuliskannya daripada yang sama sekali tidak menggoreskan tintanya. Mari Penulis ajak untuk menggunakan lead terkait secuil sejarah Palang Merah Indonesia (PMI).

“Bulan ini, tepatnya 17 September, kita memperingati Hari Palang Merah Indonesia (PMI) ke-69. PMI berperan membantu pemerintah dalam bidang kemanusiaan terutama dalam hal kepalangmerahan. PMI memegang teguh tujuh prinsip dasar gerakan PMI, yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan.

PMI tidak berbentuk begitu saja, tetapi melalui perjuangan cukup berat sejak zaman penjajahan Belanda 1873 melalui organisasi Netherlandsche Rode Kruis Afdeeling Indie (NERKAI), kemudian dibubarkan pada penjajahan Jepang dan akhirnya berhasil didirikan sebulan setelah Indonesia merdeka atas perintah Presiden Soekarno kepada Menteri Kesehatan saat itu. PMI berdiri berdasarkan Keppres No. 25 Tahun 1950 dan ditetapkan sebagai satu-satunya organisasi perhimpunan nasional yang menjalankan tugas kepalangmerahan melalui Keppres No. 246 Tahun 1986.”

Lead di atas terbentuk dari dua paragraf yang sekaligus Penulis ambil untuk memberikan contoh lead yang berawal dari pemaparan hari bersejarah kemudian secuil sejarah singkat terkait apa yang akan dituliskan.

Anda juga dapat membuat lead yang lain seperti yang Penulis petik dari artikel Dokter Titik Kuntar MPH di atas, misal jika bertepatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, kita pun bisa membuat lead yang lebih menarik dan menggugah lalu menceritakan sekilas perjalanan sejarahnya. Penulis yakin kita bisa lakukan itu!

 

3. Lead Cerita Pengalaman Pribadi

Menulis Lead dengan Pengalaman
bryankramer.com

Setiap orang pasti mempunyai pengalaman, entah itu menarik ataupun tidak yang jelas suatu saat akan ada manfaatnya bagi orang lain, terlebih bagi diri sendiri. Daripada pengalaman kita menumpuk lalu hilang, lebih baik jadikan pengalaman sebagai lead pengantar paragraf artikel kita. Berikut ini contohnya:

“Suara Politik Lansia jangan disalahartikan sebagai lansia yang memaksa jadi elite politik. Juga bukan lansia sebagai obyek politik. Sebaliknya, suara politik lansia seharusnya dipandang sebagai dukungan dari para lansia dan menjadikan lansia seagai aset bangsa demi masyarakat yang sejahtera. Namun, bagaimana supaya penduduk lansia bisa menyumbangkan suaranya dengan baik? Tentunya mereka harus mempunyai kualitas yang baik. Jika tidak, suara politik mereka akan hilang percuma. Pengalaman pemilu legislatif lalu, beberapa kasus penduduk lansia mengalami kesalahan pengisian formulir atau karena ketidaktahuan mereka sehingga mereka mengisi asal saja.”

Tulisan opini bertajuk “Suara Politik Lansia” (Kompas, 10/05/2014) yang dibawakan Lilis Heri Mis Cicih seorang peneliti di Lembaga Demografi FEUI; Kandidat Doktor Fakultas Kesehatan asyarakat Universitas Indonesia tersebut sangat unik.

Pasalnya, artikel opini tersebut sengaja ia ambil dari ide disertasinya yang berjudul Ketahanan Penduduk Lansia dalam Perspektif Penuaan Sehat, Aktif dan Produktif dalam Mewujudkan Ketahanan Nasional Bangsa. Tulisan tersebut tersirat merupakan pengalaman Lilis dalam meneliti lansia berkaitan persepsi yang selama ini disalahartikan.

Oleh sebab itu, Lilis sengaja menjadikan lead yang menarik untuk mengajak dan mengubah persepsi tentang peran keberadaan lansia. Selain itu, Lilis juga mengajak bersama terkait pentingnya memilih calon presiden yang memerhatikan nasib lansia dan mau mengadakan program kelanjutusiaan.

Terbukti, dari data yang dihimpun terbilang 53,4 persen masih produktif dan 80 tahun ke atas sebanyak 19,7 persen masih produktif bekerja.

 

4. Lead dengan Kutipan Orang Lain Langsung maupun Tidak Langsung

Menulis Lead dengan Kutipan
mra.ilovemelville.co.za

Lead semacam ini juga sering digunakan oleh penulis opini, yakni dengan menggunakan kutipan perkataan orang lain baik secara langsung atau secara tidak langsung mengutip peribahasa, puisi, prosa, pantun, kata mutiara, atau yang lainnya.

Lead seperti ini selain populer, juga merupakan pendapat para tokoh yang sudah teruji kapabilitasnya. Tak mungkin jika hanya orang biasa, dalam artian orang yang disebut itu merupakan orang yang telah mengeluarkan karya-karya besar sesuai keilmuannya.

Dengan demikian, yang perlu diperhatikan adalah orang yang kita kutip perkataannya memang benar-benar orang yang kompeten.

Pada contoh ini, penulis akan memberikan tulisan opini bertajuk “Pertumbuhan Dua Digit” yang ditulis Slamet Sutomo, Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ekonomi Regional.

Lead tulisan yang terbit di Kompas 22 April 2014 tersebut mengutip pendapat Presiden Boston Institute for Developing Economies, Profesor Gustav F. Papanek terkait masa depan ekonomi Indonesia. Perhatikan lead-nya berikut ini:

“Beberapa waktu yang lalu, Presiden Boston Institute for Developing Economies Profesor Gustav F Papanek menyatakan bahwa ekonomi Indonesia berpeluang tumbuh lebih baik, yaitu sekitar 10 persen, pada tahun-tahun mendatang dengan menekankan pada basis industri pengolahan padat karya.”

Contoh berikutnya dari tulisan Ikrar Nusa Bakti, seorang profesor riset di Pusat Penelitian LIPI bertajuk “Kampanye yang Mencerdaskan”.

Ikrar ingin menyampaikan pentingnya kampanye yang bermartabat. Ia memulai lead-nya dengan puisi seorang aktivis 98, Wiji Thukul, berikut adalah puisinya yang dijadikan lead pembuka opini:

“Jika rakyat pergi. Ketika penguasa berpidato. Kita harus hati-hati. Barangkali mereka putus asa/kalau rakyat sembunyi. Dan berbisik-bisik. Ketika berbicara membicarakan masalahnya sendiri. Penguasa harus waspada dan belajar mendengar/dan bila rakyat tidak berani mengeluh. Itu sudah gawat. Dan bila omongan penguasa. Tidak boleh dibantah. Kebenaran pasti terancam/atau apabila usul ditolak tanpa ditimbang. Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan. Dituduh subversi dan mengganggu keamanan. Maka hanya satu kata: LAWAN! (Solo: 1986).

Selain hal di atas, juga bisa melihat tulisan Ahmad Sahide, calon kandidat Doktor Sekolah Pascasarjana UGM. Tulisan bertajuk “Megawati dan Jokowi-JK” yang terbit 11 Agustus 2014 tersebut mengawali lead-nya dengan ungkapan dari Milan Kundera: “Politik adalah seni untuk mengabadikan diri.” Kemudian disusul dengan ulasan pemberitahuan mengenai hasil pemilu yang ditetapkan oleh KPU.

Artikel di atas mengangkat isu publik yang semakin menjamur terkait diragukannya Jokowi sebagai presiden. Hal ini dikarenakan Jokowi bukan merupakan pemimpin puncak partai namun hanya kader terbaik. Kesimpulannya, tulisan Ahmad Sahide tersebut menjelaskan agar jangan ragu terhadap kepemimpinan presiden terpilih.

Hal ini merupakan warna baru dalam perpolitikan Indonesia yakni bisa calon presiden bukan dari pemimpin puncak namun dari kader terbaik. Bukti legowo seorang pemimpin puncak partai sebagai penjaga ideologi sedangkan Jokowi dan JK selaku presiden dan wakil presiden bertugas menjalankan ideologi.

Satu lagi contoh yang menarik dari lead artikel Indra Trenggono bertajuk “Menunggu Ksatria Konstitusi” (Kompas, 21 April 2014);

“Rendra pernah bilang, rakyat tidak membutuhkan ratu adil, tetapi hukum yang adil. Pernyataan ini menghardik cara berpikir mesianistik yang lebih dekat dengan mitologi dan “klenik”, dua fakta mental yang tetap hidup dalam kebudayaan bangsa kita.”

Mudah, kan? Tentu masih banyak contoh yang lain. kita bisa menemukannya sendiri di berbagai tulisan opini-opini yang terbit di berbagai media massa.

 

5. Lead Latar Belakang, Suasana, atau Watak

Belajar Menulis Lead Latar Belakang
thechefandwife.com

Pernah kesal? Atau ingin marah namun tak tahu kepada siapa meluapkannya? Lewat lead saja, dan luapkan kekesalan atau bahkan sindiran kita terhadap suatu fenomena yang tidak kita kehendaki. Jika naluri kita bersih, tentu kita akan ngomel-ngomel sendiri atau meluapkannya di jejaring media sosial FB, Twitter, atau blog.

Berikut contoh dengan judul “Uang dan Sunyinya Suara Agama” (Kompas, 10/05/2014) yang disampaikan Paulinus Yan Olla MSF;

“PEMILU legislatif baru saja berlalu. Euforia pesta demokrasi berubah menjadi kabung nasional para caleg gagal. Janji-janji pemilu dan rezeki musiman yang ditaburkan para caleg dan dinikmati sebagian besar pemilik suara berubah menjadi petaka. Yang dihasilkan hanya caleg stres dan kepentingan umum yang terancam terabaikan oleh bayang-bayang politik uang.”

Seorang rohaniawan Dosen Sekolah Tinggi Widya Sasana Malang tersebut ingin menampilkan perubahan suasana yang mendadak pekat. Bagi yang lolos tentu merupakan sebuah kebahagiaan, karena usaha yang disangkanya atas hasil kerja keras bukan politik uang.

Begitu sebaliknya, yang tidak lolos tentu akan menjadi hari berkabung nasional karena segala pengorbanan berupa uang, harta, pertemanan, semua sudah dipertaruhkan.

Ketika suara agama sudah tidak laku dalam kancah perpolitikan, akibat digunakan rias pemolesan diri. Uang selalu hadir mengalahkan segala-galanya. Di tengah himpitan ekonomi, hal yang seharusnya dianggap bencana demokrasi malah berbalik sebagai berkah.Wah-wah.

 

6. Lead dengan Ringkasan Isi Karangan

Menulis Lead dengan isi
wisegeek.com

Menurut Anda, siapakah pembunuh yang paling membahayakan negara? Ternyata bukan teroris! Kalau boleh jujur, di Indonesia sendiri pemberitaan teroris terkesan sangat sadis seperti langit dan bumi semua membenci. Bukan bermaksud membela teroris, namun ada satu pembunuh lagi yang lebih berbahaya. Ia adalah koruptor.

Coba kita timang-timang, teroris mana pun, ia masih mempunyai rasa kebangsaan. Teroris beralasan bahwa apa yang dilakukannya demi mencintai negara Indonesia. Namun karena perbedaan ideologi, ia nekat mengorbankan dirinya demi keyakinan kebenaran ideologinya.

Sedangkan kelas koruptor kakap maupun teri sama sekali tidak memiliki rasa kebangsaan. Jubah kekuasaan hanyalah bermain pencitraan agar terkesan rakyat ada pembelaan. Ia menggerogoti sendi-sendi bangsa yang kasat mata menjadi rapuh bahkan jika terus-menerus akan punah.

Koruptor lebih berbahaya. Dengan korupsinya, berapa nyawa yang tak tertolong akibat pembangunan jembatan, perbaikan jalan yang rusak, perbaikan angkutan umum yang tak layak pakai yang tak kunjung diperbaiki akibat dikorupsi. Korupsi seperti kanker, terasa sakitnya jika sudah fatal puluhan tahun kemudian.

Jakob Sumarjo mencoba menguraikannya lewat artikel opininya “Koruptor Membunuh Negara” (Kompas, 09/05/2014). Dengan lead yang menukik masalah, beliau sengaja memberikan ringkasan isi artikel, lihat dan perhatikan:

“Kedudukan koruptor tidak berbeda dengan pemberontak negara, teroris, anarkis yang akhirnya meniadakan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika setiap teroris dan pemberontak dapat dikenai hukuman mati, belum ada koruptor yang dihukum mati.”

7. Lead Contoh Konkret Berkenaan dengan Pokok Pembicaraan

Belajar Menulis Lead lagi
alcohollicence.org

Menurut beberapa teman Penulis, memahami suatu teori, gagasan, ataupun ide lebih mudah dengan sampel contoh konkretnya terlebih dahulu. Seperti contoh tulisan M. Subhan S.D. yang mengangkat tulisan “Penunggang Demokrasi” (Kompas/10/5/2014).

Wartawan senior Kompas tersebut ingin menunjukkan bukti atau contoh konkret bahwa demokrasi bukanlah alat yang digunakan sebagai pertemanan abadi. Demokrasi menjadi alat untuk saling menjatuhkan tak hanya di lingkup antarpartai, namun dalam intern pun semua bisa dihalalkan.

Demokrasi ibarat wadah kosong, siapa yang mengisinya dia yang akan menang. Baik ataupun buruk tergantung siapa yang menjalankannya. Penunggang demokrasi sendiri berkisah betapa demokrasi mampu dibeli dengan uang. Popularitas maupun figur tak akan menjamin seseorang untuk bisa langgeng di kursi DPR seperti Nurul Arifin dan Eva Kusuma Sundari.

Demokrasi bisa ditunggangi dengan uang, tak perlu kapabilitas ataupun elektabilitas, yang jelas satu amplop sudah cukup untuk bisa memengaruhi bahwa dia sangat tepat untuk dipilih karena “kedermawanannya.”

Berikut contoh lead-nya:

“Pendamba demokrasi percaya popularitas dan figur akan linear dengan elektabilitas. Maka, politisi seperti Nurul Arifin (Partai Golkar) atau Eva Kusuma Sundari (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) bakal tak sulit mempertahankan kursinya di DPR. Nurul adalah mantan aktris top, penggerak kaum perempuan dan punya rekam jejak cukup bagus selama berkiprah di DPR 2009-2014. Eva juga dikenal piawai berpolitik. Namun, argum en rasional itu tiba-tiba irasional. Keduanya tampaknya terpental dari Senayan. Sebaliknya banyak yang bermasalah yang terpilih.”

8. Lead dengan Pernyataan yang Tegas

Belajar Menulis Lead dengan Pernyataan
niemanlab.org

Masih ingat kasus kekerasan seksual di Jakarta International School? Kasus tersebut sangat heboh di tengah maraknya kebobrokan dunia pendidikan yang semakin menggila. Hal tersebut tak terlepas dari sekolah yang bersangkutan merupakan sekolah yang mendeklarasikan diri sebagai sekolah bertaraf internasional.

Jelas, tidak hanya soal ekonominya saja yang tinggi, namun juga mutu dan kualitas menuntut untuk lebih tinggi dari sekolah-sekolah biasa.

Pada kasus tersebut Penulisngnya sejumlah aktivis LSM ataupun komunitas-komunitas yang hadir bukan malah memprioritaskan untuk menyejahterakan anak-anak yang menjadi korban. Mereka lalai dan akhirnya “sok jadi pahlawan” terlalu menyudutkan sekolah bahkan bergeser pada persoalan penting tidaknya soal taraf standar yang digunakan.

Pola pikir yang keliru, semestinya lebih fokus pada pencarian pelaku utama ataupun jaringan-jaringannya. Bukan masalah sekolah ataupun malah terlalu sibuk menghadapi wartawan dengan berbagai sudut pandang yang menyudutkan sekolah. Hal ini akan berdampak pada suramnya masa depan anak korban itu sendiri.

Itulah yang ingin diangkat Irwanto selaku Guru Besar Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta. Tulisan tersebut ia beri judul “Penangan Kasus JIS” yang terbit di Kompas 9/05/2014. Di bawah ini adalah paragraf pembuka yang sekaligus menggunakan tipe lead yang menekankan suatu pernyataan yang tegas:

“Kasus kekerasan seksual yang menimpa seorang siswa prasekolah Jakarta International School telah membangkitkan kemarahan publik. Kekerasan seksual terhadap anak atau siapa pun adalah bentuk kekerasan yang tidak dapat ditoleransi.”

9. Lead Definisi suatu Istilah

Belajar Menulis Lead dengan Definisi
tandemic.com

Di dalam surat kabar Kedaulatan Rakyat kolom opini, Dwi Arianta Kurniawan S.T. MSc. menulis artikel bertajuk “Kemacetan dan Masa Depan Kota” (17/09/2014).

Seorang peminat masalah perkotaan yang bekerja di pusat studi transportasi dan logistik (Pustral) UGM tersebut menyampaikan pendapat pribadinya terkait pengamatan macetnya sejumlah ruas jalan seperti Jalan Nyi Condrolukito (AM Sangaji), Jalan Affandi (Gejayan), serta Jalan Kaliurang terutama di Persimpangan dengan Jalan Lingkar Utara.

Berkaitan dengan pokok permasalahannya soal transportasi, Dwi memberikan lead berupa definisi yang umum dari para ahli, berikut coba perhatikan:

“Transportasi didefinisikan oleh para ahli sebagai kebutuhan turunan dari berbagai kegiatan ekonomi maupun sosial (lihat misalnya Morlock, 1985). Disadari, tipe kegiatan sosial ekonomi yang berbeda akan memiliki dampak kegiatan transportasi yang berbeda pula.”

10. Lead Pertanyaan yang Tajam dan Menyentak

Belajar Menulis Lead dengan Awal Pertanyaan
en.hdyo.org

Sebagai contoh awal dalam lead ini, Penulis pernah menulis opini di media online Edupost bertajuk “Kurikulum dan Darurat Kepahlawan Guru”. Sebagai pembuka paragraf, Penulis sajikan kisah sejarah yang bermuatan pertanyaan tajam.

Masih segar di ingatan kita sosok bijak Kaisar Jepang, ia adalah Kaisar Hirohito. Tahun 1945 Kaisar Hirohito kalah dalam perang melawan Sekutu. Ketika negerinya hancur, ia hanya menanyakan satu pahlawan sebenarnya, yakni guru. “Berapa banyak guru masih kita punya?”

Artikel tersebut sengaja Penulis paparkan demi memperlihatkan betapa pentingnya guru bagi pedidikan suatu bangsa. Oleh karena itu, contoh yang diambil pun adalah tokoh dari negara maju yakni Jepang yang bisa bangkit dari keterpurukan setelah Kota Nagasaki dan Hirosima diluluhlantakkan.

Selanjutnya, coba amati paragraf pembuka berikut:

“Indonesia saat ini menghadapi suatu paradoks pelik yang menuntut jawaban dari para pemimpin nasional. Setelah 16 tahun melaksanakan Reformasi, kenapa masyarakat kita bertambah resah dan bukannya tambah bahagia, atau dalam istilah anak muda sekarang semakin galau?”

Itulah tulisan pertama kali seorang calon presiden di SKH Kompas. Joko Widodo cerdik dalam menempatkan paragraf pertama dengan membuka pertanyaan yang unik sekaligus benar-benar terjadi dalam kehidupan akhir-akhir ini. Ya, semakin hari semakin galau itulah yang dirasakan seluruh masyarakat saat ini.

 

11. Lead Menggelitik dengan Perbandingan, Analogi, Kiasan, Kontras

Menulis Lead dengan comparison
valuescentre.com

“Hari-hari ini, media cetak dan elektronik sibuk memberitakan hirukpikuk, apa yang dikenal dalam bahasa sosial disebut “kicauan”. Di Jakarta, seorang Komisioner Komisi Kepolisian Nasional RI, terpaksa minta maaf kepada pihak Polri karena kicauannya mengenai Reskrim “ATM” Polri. “Kami menyatakan meminta maaf terkait penyataan kami khususnya dalam hal pemediaan. Kami mohon maaf kepada pihak Polri yang tersinggung begitu,” ujarnya.”

Lead di atas menjadi kontras dan menggelitik pembaca. Bagaimana tidak, koran ataupun media cetak yang seharusnya mengusung nilai-nilai berbobot perlahan-lahan menjadi penyaji kilas berita yang bersumber dari kicauan masyarakat. Sesuatu hal yang berlawanan dari karakter media yang “jual mahal”.

Prof. Sudjito mengangkat hal tersebut di kolom opini bertajuk “Menghukum Kicauan” (3/09/2014). Dalam hal ini Prof. Sudjito tak bermaksud menyalahkan media sebagai penyaji berita, namun lebih kepada masyarakat terlebih penyelenggara negara untuk menjaga etika dalam berkomunikasi.

Harapannya, jika mengungkapkan komplain maupun kekecewaan memang harus diselesaikan pada pihak yang bersangkutan atau merujuk kepada pihak yang berwajib. Jika tidak, hal yang kecil akan menjadi masalah yang besar dan semakin panas dengan munculnya kubu pro dan kontra.

Oleh karena itu Prof. Sudjito ingin menyampaikan betapa saat ini orang dapat dengan mudah terjebak dalam situasi yang serba tidak jelas. Penyelenggara negara khususnya penegak hukum harus menyadarkan masyarakat bahwa media sosial tidak akan menyelesaikan masalah dengan tuntas namun malah memperbesar masalah.

Jika tidak, lihat saja keotentikan hukum yang seharusnya menegakkan akan luntur. Hukum akan diambangkan media sosial yang berawal dari klaim kebenaran masing-masing pribadi masyarakat pengguna jejaring sosial.

 

12. Lead yang Mendebarkan

Belajar Menulis
youthopia.in

“Menulis mengenai masalah-masalah hubungan internasional dan diplomasi pada tahun 2014 ke depan akan menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi persoalan nasionalisme, regionalisme, dan multilateralisme sekarang berhadapan dengan jalur patahan (fault lines) tatanan hubungan internasional dan diplomasi selama lima tahun terakhir di semua sisi kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Artikel di atas ditulis oleh seorang senior wartawan Kompas, Rene L. Pattiradjawanee yang mengangkat judul “Melindungi Mimpi ASEAN” (Kompas, 21/04/2014). Tentu perasaan was-was sejak awal sudah terjadi ketika membaca kata “melindungi”.

Hal ini memang tema yang diangkat berkaitan persoalan hidup yang semakin kompleks bukan saja meliputi lingkup nasional ataupun regional, namun bisa saja regional berhadapan langsung dengan jalur tatanan hubungan internasional. Mudah, kan?

 

13. Lead Tanggapan

Belajar Menulis dengan Respon
trepod.blogsite.org

Inilah ruang bebas menyampaikan ide ataupun gagasan. Adanya tanggapan ini biasanya ada dua hal yakni mendukung ataupun melawan. Jika mendukung, tulisan artikel opini akan menambah opini ataupun fakta yang tambah meyakinkan khalayak bahwa yang disampaikan penulis pertama adalah benar.

Sebaliknya, jika respons dari tulisan pertama adalah ketidaksetujuan, jelas artikel opini yang dikemukakan akan berseberangan, melawan untuk mematahkan pendapat dari penulis pertama.

Di sinilah peran penting media dalam hal pendidikan. Masyarakat diajak berpikir dan bebas menentukan pilihannya sendiri. Tidak ada yang bisa menilai siapa yang akan menang dan kalah, bahkan medianya sendiri pun tak akan bisa. Semua kembali pada penangkapan pembaca masing-masing sesuai pengalaman, doktrin maupun gaya berpikir yang beraneka warna.

Contoh “perang opini” ada di Harian Republika, meskipun tanggapan-tanggapannya tidak selalu berada di koran tersebut namun Republika-lah yang menjadi awal adu gagasan terkait perbedaan Sunni-Syiah.

Di zaman yang serba kabur saat ini, masyarakat memang sulit untuk menentukan informasi mana yang valid. Penulis pun bersama teman-teman pengurus Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga pernah mengadakan seminar bertajuk “Dialog Sunni-Syiah”.

Dialog tersebut ramai dihadiri berbagai ormas Islam termasuk dari Sunni sendiri. Ada Prof. Dr. H. Machasin, dan dari tokoh Syiah ada Haidar Baghir yang menjadi pembicara dalam acara tersebut.

Acara tersebut sempat mendapatkan kritikan dari kaum Islam kiri yang menganggap bahwa judul yang lebih tepat adalah “Menyoal Islam-Syiah”, bukan antara Sunni-Syiah. Islam kiri tidak menganggap Syiah sebagai Islam karena beberapa hal yang bertentangan dari Islam pada umumnya.

Meskipun awalnya berjalan lancar, namun seminar terpaksa diberhentikan karena adu mulut kedua tokoh antara Syiah dengan Islam kiri tidak ada yang mau mengalah, bahkan saling tunjuk. Di saat itu pula, Prof. Machasin pun telah meninggalkan tempat terlebih dahulu karena suasana sudah mulai mengarah anarki.

Nah itulah sekelumit pengalaman menjadi takmir masjid kampus. Kembali ke awal, mari kita lihat kembali perang opini di Republika antara Haidar Baghir (dirut dan pendiri Mizan serta dosen pemikiran Islam di Islamic College), Mohammad Baharun (Ketua Komisi Hukum MUI Pusat dan Guru Besar Sosiologi Agama), Fahmi Salim (Wakil Sekjen Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia – (MIUMI) dan Aldian Husaini.

Berikut Penulis sebutkan “perang opini” yang Penulis kutip dari www. Fathiiii.wordpress.com;

Berawal artikel-artikel dari rubrik Islamia Republika yang ditulis Aldian Husaini, “Solusi Damai Sunni-Syiah” (Republika, 19/01/2014).

Selanjutnya, Haidar Baghir juga menulis “Syiah dan Kerukunan Umat” (Republika, 20/01/2012). Nah berikut adalah bantahan artikel Haidar Baghir yang ditulis Fahmi Salim berjudul “Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat” pada 21 Januari 2012 yang terbit di Eramuslim, coba perhatikan lead-nya;

“Di tengah kondisi umat dan bangsa yang sarat dengan problem sosial dan membutuhkan solusi konkret, Penulis menyambut baik tulisan Sdr. Haidar Bagir yang berjudul “Syiah dan Kerukunan Umat” yang dimuat di Harian Republika (20/1/2012). Apalagi Bung Haidar, yang tentu saja telah mencermati sikap dan reaksi para pengkritik Syiah sejak meletus kasus sampang akhir tahun lalu, dengan bijak menulis,”…harus diakui bahwa inti nasihat mereka kepada para pengikut Syiah di Indonesia mengandung kebenaran-kebenaran dan patut jadi renungan. Intinya agar setelah memahami bahwa antara dua mahzab ada perbedaan-perbedaan pandangan yang sulit atau bahkan tak bisa dipertemukan, para pengikut Syiah di Indonesia tidak sekali-kali berupaya untuk melakukan dakwah Syiah di Indonesia.”

Artikel Eramuslim di atas juga mendapat sambutan dari kolega Haidar Baghir dengan judul “Syiah dan Tuduhan Tahrif Alquran” di Iran Indoensia Radio, 22 Januari 2012. Berikut lead-nya:

“Setelah membaca tanggapan Bung Fahmi Salim yang berjudul “Distorsi Iktikad Baik Merukunkan Umat” yang dimuat di Eramuslim, pada Sabtu (21/1), Penulis melihat meskipun ia mengkritik tulisan Bung Haidar Bagir di Republika, namun ia menyampaikannya dengan cukup santun. Tetapi saat berbicara tentang Syiah, tampak sekali bahwa ia terlalu “pede” dengan hanya bermodalkan kutipan-kutipan dari satu atau dua buku bacaan.”

Itulah contoh lead yang menggunakan model tanggapan dari artikel yang ditulis sebelumnya oleh orang yang berbeda. Adapun kelanjutan kisah perang opini tersebut sempat juga direspons oleh Muhammad Baharun, “Kritik Syiah Sudah Proporsional” (Republika, 24 Januari 2012).

Tajuk “Syiah dan Kerukunan” pun dikirim Fahmi Salim di Republika 26 Januari 2012. Berangkat dari Distorsi Syiah, Muhammad Anis juga memberikan tanggapan di (Blog, 26 Januari 2014). Setelah itu, muncul pula Aldian Husaini “Menagih Janji Kaum Syiah” yang dimuat di Hidayatullah, 27 Januari 2012.

Haidar Baghir pun mempertegas kembali artikel pertamanya dengan tajuk “Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat” yang tembus di Republika, 27 Januari 2012. Tidak berhenti sampai di situ, Fahmi Salim masih menanggapi perbedaan tersebut lewat artikelnya “Syiah dan Kesalahpahaman ‘Pembelanya’” (Hidayatullah, 30/01/2012).

Dengan terang-terangan pula, Muhammad Baharun juga mengungkapkan gagasan artikelnya bertajuk “Beda ‘Rukun’, Tapi Bisa Rukun” yang dimuat di Republika 3 Februari 2012.

Terakhir ada close statement artikel menarik dari Holil Hasib dengan judul “Ukhuwah dan Keterbukaan” yang secara tidak langsung mewakili kedua belah pihak untuk menyatakan bahwa polemik Sunni-Syiah lewat jagat media dinyatakan cukup (Republika, 3/02/2012).

 

Arti Lagu Manuk Dadali

Arti Lagu Manuk Dadali

Analisis Wacana Manuk Dadali
Jsuhartono.blogspot.com

Arti Lagu Manuk Dadali

ARTI LAGU MANUK DADALI-Penulis tertarik untuk membedah lirik lagu Manuk Dadali. Selain pencipta liriknya seorang penyiar radio, beliau juga seorang jurnalis. Bila sama-sama jurnalis, semoga ada ketepatan makna meskipun secuil. Sebelum melakukan bedah lirik, penulis ingin menyampaikan sedikit terkait bagaimana membedahnya.

Pada dasarnya, kegiatan membedah lirik biasa dilakukan oleh pakar bahasa. Bahasa sendiri dapat dikaji melalui berbagai pisau analisis berupa analisis wacana, framing, isi, ataupun semiotika. Analisis wacana dibedakan menjadi dua, yakni wacana dan wacana kritis. Perbedaan tersebut terletak pada implementasi penelitiannya, wacana kritis tentu saja lebih mendalam dan menyeluruh karena melibatkan wawancara pencipta liriknya secara langsung.

Analisis framing adalah penelitian teks yang digunakan untuk mengetahui arah keberpihakan sebuah tulisan. Framing lebih diidentikkan dengan jendela, di mana jendela berada, di situ pula benda-benda apa saja yang terlihat oleh mata. Sedangkan semiotika adalah penelitian bahasa yang mengaitkan unsur-unsur teks ke dalam satu makna. Jadi, teks awal sampai akhir semua membentuk satu makna yang saling menguatkan.

Pada kesempatan kali ini, penulis cenderung memilih analisis wacana sebagai alat bedah. Mengapa demikian, karena penulis ingin mengetahui makna dibalik teks lirik yang terdapat dalam lirik lagu Manuk Dadali.

Deres juga ulasan terlengkap Lirik, Not Angka dan Tarian Manuk Dadali di sini

Pada bedah lirik ini, sesuai modelnya wacana, penulis tidak menggunakan wawancara sebagai sumber datanya. Penulis hanya memanfaat intepretasi sesuai pandangan subyektif penulis. Perlu diketahui bahwa pemilihan pisau analisisnya tidak harus menggunakan wacana, semua kembali pada pembedah.

***
Terbang melesat tinggi, jauh di awang-awang
Merentang sayapnya, tegak tanpa ragu
Kukunya panjang dan paruhnya melengkung
Siapa yang bisa menyaingi keberaniannya

Gagah perkasa tanpa tandingan
Dihormati dan disegani oleh sesama
Tanpa ragu tanpa takut, besar nyalinya
Menyongsong langit dengan cergas terbangnya

Lambang negara Indonesia adalah burung Garuda (Manuk Dadali). Tidak diragukan lagi, burung Garuda adalah pilihan yang tepat untuk menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat. Bangsa yang disangga berbagai pilar-pilar kebangsaan seperti suku, budaya, agama dan lain sebagainya.

Di atas tiang-tiang bangsa tersebut bangsa Indonesia bertekad menyatu menjadi NKRI. Faktor keberagaman itulah yang dapat mengguncang dunia di atas janji persatuan dalam bingkai kebhinekaan.

Merentang sayapnya merupakan penggambaran bahwa luasnya daerah Indonesia dari Sabang sampai Merauke menambah kekayaan bangsa. Di atas perbedaan itulah bangsa Indonesia semakin yakin bahwa kehidupan berbangsa membutuhkan tolong menolong. Itulah kehebatan rakyat Indonesia, tanpa disuruh semua tergerak untuk membantu bila ada bencana-bencana yang melanda.

Bangsa ini juga, di awal tak segan-segan menjadi sosok dengan sebutan Macan Asia. Garuda dengan macan adalah hewan yang mempunyai kuku panjang dan tajam. Kekuataan inilah yang digunakan bangsa ini untuk konsisten dalam menegakkan keluhuran budi. Bangsa ini hebat karena beradab. Membela negara-negara lain yang bernasib malang nan ditindas. Makna itulah yang terkandung dalam baris ke tiga kukunya panjang dan paruhnya melengkung.

Di masa awal bangsa ini, seluruh rakyat dan pejabatnya seperti tak ada jarak. Semua saling berkontribusi mengobarkan keberanian menyuarakan kebenaran melawan penjajah asing. Karena perjuangan yang tak mengharapkan dari bangsa-bangsa lain itulah bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sangat disegani.

Wacana Mauk Dadali daerah Sunda
flickr.com

Burung Garuda, burung paling gagah
Lambang sakti Indonesia jaya
Burung garuda, yang paling tersohor
Senang bersatu, rukun semuanya

Hidup berhimpun tanpa saling iri
Saling menyayangi, tak sungkan membela
Burung garuda adalah lambang kesatriaan
Untuk seluruh bangsa di negara Indonesia

Burung Garuda adalah lambang burung yang paling gagah. Lambang sakti Indonesia jaya. Lirik tersebut tidak lain menggambarkan rakyat Indonesia agar mengikuti sejarah-sejarah zaman dahulu. Adanya para pahlawan tidak lain lahir karena adanya ketulusan mencintai tanah airnya.

Tanpa ketulusan, kegagahan suatu bangsa tidak akan terbangun melalui individu-individu manusianya. Kegagahan itu sendiri bisa di dapatkan dari keberanian, baik keberanian dalam hal meminta maaf atau memaafkan bila ada kesalahan. Nantinya, kesaktian inilah yang akan membentuk budaya bangsa yang kuat bak lidi yang dikumpulkan menjadi satu.

Terakhir, bangsa ini perlu belajar akan keberanian dan kekuatan burung Garuda. Lambang Garuda adalah lambang kesatriaan yang landasan kehidupannya melalui kasih sayang. Pembelaan ataupun nasehat semua dilakukan atas dasar kasih sayang. Oleh sebab itulah, di tengah riuh-rendahnya gesekan antar anak bangsa saat ini, marilah sejenak menghayati lirik ini. Sudah seharusnya, sesama anak bangsa turut menjaga, menyayangi dan meninggalkan jejak bijak untuk cucu anak bangsa ke depan.

8 Tips Belajar Menulis Judul Artikel Opini Agar Dapat Meluluhkan Hati Redaktur

8 Tips Belajar Menulis Judul Artikel Opini Agar Dapat Meluluhkan Hati Redaktur

Belajar Menulis Judul Artikel Opini di Koran
salmonhousewriters.com

Judul adalah hal pertama yang dilihat sang redaktur. Biasanya, telah tersedia pikiran-pikiran atau kejadian-kejadian yang mempunyai news value di benak redaktur, oleh karena itu judul akan menjadi ajang eliminasi paling cepat.

Ketika membaca judul, redaktur akan melihat sekilas beberapa detik saja lalu membiarkannya. Jika judulnya saja tidak menarik dan memikat bagaimana redaktur bisa tergoda?

Dari hal di atas, maka judul sebuah artikel seharusnya menarik, bahkan menurut Bung Bram, judul sebuah artikel memang semestinya disengaja kontroversial dan provokatif.

Hal ini jugalah yang membuat opini menjadi menarik, berada jelas di salah satu pihak namun menggunakan bahasa eufimisme.

Di dalam proses pembuatan artikel, judul dapat disematkan di awal ataupun di akhir tulisan. Jika di awal sudah langsung menemukan judul yang cocok berbarengan penemuan tema, maka penulis tak perlu menggantinya.

Namun terkadang banyak penulis memang mengakhirkan dalam pemberian judul, demi menunggu kata-kata inspirasi yang menggugah, menggoda, tak lazim, mengagetkan, lucu, dan berkesan.

Memang butuh waktu untuk menemukan judul yang menukik dan mampu merebut hati sang redaktur. Penulis sendiri sering mengulang-ulang dan ganti judul karena pertimbangan-pertimbangan seperti kesesuaian isi dan judul harus luar biasa.

Pokoknya berbeda dari yang lain dan tentunya judul juga bisa membuat pembaca penasaran. Singkat kata, untuk melatih keunikan judul, perbanyaklah perbendaharaan kata. Bisa melalui kamus bahasa Indonesia ataupun perbanyak membaca artikel opini ataupun buku-buku.

Berkaitan dengan judul, Penulis menyarankan sesuai media surat kabar yang dituju karena memiliki karakter masing-masing. Tentu saja surat kabar harian (SKH) Kompas berbeda dengan surat kabar lokal seperti Kedaulatan Rakyat baik dari segi ideologi maupun visi dan misi surat kabar tersebut.

Berkaitan akan pentingnya judul dalam penulisan artikel populer, berikut akan Penulis paparkan kriteria judul yang peluangnya sangat besar di muat media massa:

1. Judul Singkat

Cara Membuat Judul
gillikinconsulting.com

Dua hal penting dalam menulis judul adalah adanya unsur singkat namun membuat penasaran. Usahakan, judul sebuah artikel yang kita buat adalah artikel yang singkat, padat, dan membuat penasaran. Judul yang singkat biasanya terdiri dari 1-5 kata.

Tentu saja dalam hal penulisan artikel populer dengan karya ilmiah ataupun skripsi sangat berbeda. Jika karya ilmiah ataupun skripsi paling tidak 8 sampai 12 kata.

Penulis sendiri sering menggunakan 2 sampai 4 kata ketika membuat judul artikel. Misal artikel opini mahasiswa yang terbit di Kedaulatan Rakyat bertajuk “Mahasiswa Krisis Kritis”.

Tulisan di atas ditulis oleh teman aktivis Bung Rosedy yang memberikan penjelasan bahwa di zaman akhir-akhir ini aktivis semakin kehilangan kritisnya dalam memahami masalah. Adapun sebuah judul ada yang menggunakan satu kata, biasanya dilakukan oleh penulis yang benar-benar terlatih kepenulisannya.

Namun selagi masa muda, kita pun bisa mulai mencobanya dari sekarang. Beberapa contoh judul dengan satu kata di antaranya, tulisan Goenawan Mohammad bertajuk “Racun”. Beliau adalah budayawan sekaligus pendiri Majalah Tempo. Tentu gaya penulisan seorang budayawan lebih bebas dan mengalir.

Selain tulisan Goenawan Moehammad, tulisan yang menyertakan satu kata dalam judulnya terdapat pada artikel seorang pemerhati kebudayaan Indra Tranggono. Bertajuk “Pesohor” yang termuat di halaman opini Tempo 25 Februari 2014. Indra bermaksud memaparkan secara gamblang posisi pesohor.

Apa yang dimaksud pesohor di sini adalah selebritas yang oleh rekaman media menjadi pihak kerja sama dalam jalinan emosional. Pesohor seolah menjadi korban yang selalu ada pada posisi aman. Motif relasi yang bermacam-macam seperti teman biasa, hubungan gelap, pacar gelap, ataupun istri simpanan merupakan kiasan yang sering terlontar.

Indra memaparkan bahwa tak semuanya para pesohor yang baru atau yang lama merupakan korban, ada pula dari mereka yang sengaja untuk turut serta menikmati uang hasil rampasan negaranya sendiri.

Ya, dalam hal ini, tak hanya koruptor yang dihukum, status pesohor pun harusnya layak dihukum. Tentu masih banyak lagi contoh-contoh judul yang menggunakan satu kata, judul di atas hanya sebagai contoh saja.

2. Mengundang Penasaran

Tips Menulis Judul Artikel
pixabay.com

Hal yang tak kalah penting untuk diperhatikan alias yang harus ada dalam judul artikel populer adalah buatlah artikel yang membuat orang penasaran dan menimbulkan kesan tersendiri. Dalam hal ini, kita dapat belajar dari karya-karya project Anti Tank yang terpampang di dinding-dinding kota.

Kata-kata yang dimainkan sangat berkesan dan membuat penasaran, misal kata Boediono: Antara Ada dan Tiada. Ya, kata-kata itu menunjukkan keunikan kesan dan penasaran tersendiri. Bagi kaum politisi tentu tahu yang dimaksud kata-kata di atas adalah kurangnya keaktifan seorang wakil presiden pada masa jabatannya.

Penulis pertama kali menggunakan judul yang agak “nyleneh” ketika memberi judul “Musim Kemarau Bagi Koruptor”. Artikel ini sempat terbit di Suara Mahasiswa KR dan mendapat beragam tanggapan. Kebanyakan tanggapan tersebut adalah: tidak paham.

Mereka sempat nyletuk,“Opo Mas hubungane koruptor dengan musim kemarau, kok ra nyambung banget!”.

Penulispun hanya senyum dan mendadak jadi dosen karena menjelaskan apa yang dimaksud dari judul artikel tersebut.

Sebelumnya, pembaca ada yang tahu? Tulisan tersebut sengaja penulis beri judul “Musim Kemarau” karena di saat menulis artikel tersebut sedang dilanda musim kemarau dan saat itu media sedang hangat-hangatnya dipenuhi berita korupsi.

Penulis berharap adanya musim kemarau bukan menyebabkan air menjadi kering, namun awal musim tertangkapnya koruptor-koruptor baik kelas teri maupun kelas kakap.

Selain judul artikel di atas, Penulis juga sempat menulis artikel bertajuk “Politik Dolanan”. Artikel tersebut memaparkan tingkah polah politisi yang semakin hari semakin memperlihatkan kebobrokan di instansi sana-sini. Artis berduyun-duyun mengajukan diri atas nama kepentingan rakyat, politik seperti dolanan (mainan).

Alhamdulillah, artikel tersebut sempat membuat Penulis bingung karena sebelumnya tak sedikit orang jika berpapasan mereka bilang, “Politik Dolanannya bagus Mas.” Penulis pun cuek karena tak ingat. Namun karena artikel tersebut, Penulis baru tahu mengapa mereka bilang begitu.

Perlu diketahui sebagai catatan, judul sebuah artikel populer sebaiknya huruf kapitalnya untuk awal huruf saja. Penulis yakin pembaca bisa lebih dari itu, jika mencoba dan terus mencoba. Selamat Mencoba!

3. Menukik Masalah

Judul yang Menukik Masalah
positivewriter.com

Pada pemaparan ini, Penulis kutip buku Menaklukkan Media karya senior KPI Andi Adrianto. Menurutnya, judul sebuah artikel haruslah menukik masalah. Judul yang menukik masalah adalah judul yang bila dipandang sekilas orang tahu isu apa yang hendak diopinikan, sehingga hal ini mempercepat kerja redaktur untuk memilah opini.

Beberapa contoh judul yang singkat dan menukik masalah banyak kita jumpai di berbagai surat kabar, di antaranya, artikel Wakil Presiden RI Boediono berjudul “Pendidikan Kunci Pembanguan” yang berhasil menembus Kompas, Senin, 27 Agustus 2012.

Artikel tersebut jelas memberikan gambaran sekilas bagi pembaca bahwa apa yang ingin disampaikan adalah terkait isu pendidikan. Artikel tersebut sedang hangat-hangatnya mengingat peringkat pendidikan Indonesia masih jauh berada di tingkat bawah negara-negara dunia.

Selain itu, simpang siur penghapusan RCBI pun saat itu marak. Soal pendidikan, Indonesia memang tak ada habisnya. Berbagai pakar di berbagai bidang dan jabatan tak luput ikut urun tangan menulis artikel opini sesuai gagasannya.

Contoh berikutnya Tulisan Cak Nun bertajuk “Merindu Nasionalisasi Indonesia” yang terbit di Harian Kompas, 22 September 2012. Jika dilihat sekilas, sang redaktur akan langsung mengarah pada isu nasionalisasi sumber daya alam Indonesia.

Ya, ini juga termasuk isu yang tak ada habis-habisnya dibahas mengingat Indonesia masih dibawah cengkeraman bandit-bandit kapitalisme. Judul-judul tersebut hanya beberapa contoh saja. Kita bisa menemukan dan berkarya lebih dari yang di atas.

4. Judul Provokatif

Cara Membuat Judul Provokatif
pixabay.com

Model judul seperti ini banyak kita jumpai di kalangan budayawan dan biasanya terbit di koran yang berani seperti Tempo, Kompas, dan surat kabar lainnya. Judul yang provokatif menarik pembaca untuk ingin tahu lebih lanjut sehingga hal ini merupakan modal yang bagus untuk menarik perhatian sang redaktur.

Tulisan dengan judul provokatif bukan berarti menyalahi etika dan norma, justru membuat tulisan berkesan lebih hidup lewat otak-atik gaya bahasa.

Berikut adalah contoh beberapa judul provokatif yang Penulis jumpai, yakni tulisan Azyumardi Azra, Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah bertajuk “Negeri Tawuran”, yang terbit di Kompas 8 Oktober 2012.

Tulisan tersebut menjelaskan bahwa negeri Indonesia sedang dilanda kekacauan berbagai kasus tawuran antara lain SMA N 70 dengan SMA N 6, tawuran antarmahasiswa, tawuran antarkampung dan bahkan tawuran yang dilakukan para pejabat elite.

Beliau ingin menjelaskan bahwa tawuran tak bisa diselesaikan dengan satu solusi. Dengan arti lain semua pihak harus terlibat baik orang tua, guru, maupun dua pihak yang saling bertikai.

Sebelumnya, apakah merasa kesulitan memahami artikel di atas? Tenang, bagi pemula itu wajar, karena tulisan di atas ditulis oleh kalangan akademisi yang bahasanya “tinggi”.

Adapun contoh judul yang provokatif lainnya dan mudah dipahami adalah tulisan Anis Baswedan, Rektor Universitas Paramadina bertajuk “Ini Soal Tenun Kebangsaan. Titik!” Tulisan tersebut terbit di SKH Kompas pada 12 September 2012.

Tulisan di atas ingin mengajak kepada segenap rakyat Indonesia untuk menjaga tenun bangsa yang semakin hari kian robek. Anis memaparkan bahwa bangsa ini didirikan untuk melindungi segenap tumpah darah bangsa, tidak peduli minoritas maupun mayoritas. Siapa saja yang berbuat salah harus segera diganjar hukuman yang menjerakan.

Penulis pun pernah menggunakan judul yang bisa dibilang provokatif. Bertajuk “Bangkitlah Aktivis!” yang terbit di Swara Mahasiswa Kedaulatan Mahasiswa. Judul provokatif tersebut sengaja Penulis gunakan untuk membangkitkan peran mahasiswa sebagai aktivis organisasi pergerakan.

Bisa dibilang memang pengaruh aktivis pergerakan lama-lama mengalami penurunan daya tawar. Mahasiswa sudah layu terlebih dahulu ketika berhadapan dengan bandit-bandit pejabat elite.

Hal ini diperparah dengan adanya sistem pendidikan yang melanggengkan penjajahan atasnama pendidikan. Penulis secara tegas menolak pemberlakuan kuliah dengan absen 75%. Selain tenaga pengajar belum profesional, ruang kuliah seakan-akan hanya terpaku menguasai teori tanpa implementasi.

Alhasil, banyak mahasiswa yang mampu menguasai teori namun berjarak ketika membaur di dalam bermasyarakat. No! 75% harus dikaji kembali sampai semua benar-benar siap dan memerdekakan.

5. Judul Atraktif

Cara Membuat Judul Menarik
pixabay.com

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan kata atraktif berarti mempunyai daya tarik atau bersifat menyenangkan. Judul memang harus mempunyai komponen sedemikian. Pada judul ini kata-kata dapat dibolak-balik, meloncat, dan dapat menggugah perasaan namun menimbulkan rasa senang dan terhibur.

Tulisan Indra Tranggono adalah contoh tulisan yang menggunakan judul atraktif. Terbit di Kompas, 15 Mei 2014 berjudul “Yang Terlempar dan yang Tertawa” mengisahkan Pileg tahun 2014 yang menjelaskan antara sang calon yang ingin mengajukan sebagai priyayi dengan calon pengusung priyayi (rakyat).

Indra menjelaskan banyaknya caleg yang gagal masuk dalam lingkar parlemen mengundang gelak tawa dari para rakyat. Rakyat tertawa melihat ulah caleg yang gila dan stres karena banyak kehilangan uang.

Di bab selanjutnya, Indra menjelaskan bahwa kesakralan politik memang sudah pudar oleh adanya uang. Rakyat tidak lagi ikut dalam situasi ideologis dan emosional namun cenderung pada hal teknis akibat suap para bandit. Ya, seperti dikatakan Sophocles berabad-abad lalu bahwa uang merupakan produk kebudayaan terburuk.

Di negeri inilah bukti nyatanya, demokrasi menjadi ajang transaksional yang mengaburkan tujuan sebenarnya.

6. Kiasan

Cara Membuat Judul kiasan
pixabay.com

Pernahkah mengikuti acara Maiyahan? Acara Maiyahan yang rutin berlangsung malam Kamis setiap tanggal 15 pekan kedua tersebut sarat akan makna kehidupan. Di acara tersebut sangat kental bahasa-bahasa sastra yang digunakan. Bahkan kita akan menemui pikiran yang tak terpikirkan sebelumnya. Misalnya, Cak Nun pernah menjelaskan bahwa kata “asu” tergolong konotasi atau memiliki kiasan negatif.

“Koe asu!” merupakan kiasan yang diberikan kepada orang yang wataknya seperti hewan “asu”. Ya, karena kata-kata itu diungkapkan dengan nada kesal, marah, dan bentakan. Berbeda dengan kiasan yang diungkapkan dengan nada yang santai sedang ronda di cakruk, “Asu koe…” adalah ungkapan yang biasanya dalam budaya Jawa digunakan untuk menambah keakraban.

Ya, walaupun memang hanya sebagian orang saja yang menggunakannya namun memang semua mempunyai budaya beragam dan sangat unik.

Dalam penulisan judul artikel, kiasan memang banyak digunakan untuk lambang perumpamaan. Seperti penjelasan di atas, kiasan memang ada yang bernada positif maupun negatif. Judul seperti ini biasanya dibuat oleh para budayawan yang mempunyai jiwa sastra sangat kental.

Namun jangan berkecil hati, kita pun bisa membuatnya jika akrab dengan dunia sastra. Tipe judul seperti ini memang tidak mudah ditebak apa yang ingin disampaikan oleh penulis opini. Untuk mengetahui apa yang ingin disampaikan, perlu membacanya secara keseluruhan.

Contoh judul kiasan ini dapat kita lihat pada artikel karya Andi Adrianto berjudul “Nestapa Pendidikan” di Kedaulatan Rakyat, Rabu 10 September 2008.

Perhatikan kata “nestapa”, jika dibahasakan secara umum bisa disamakan dengan keadaan yang genting dan serius berakibat kesengsaraan, memprihatinkan, atau kesusahan. Namun agar judul artikel menarik maka Andi Adrianto sengaja menggunakan diksi “nestapa.”

7. Judul Plesetan

Cara Menulis Judul Plesetan
sentimentsfromtheheart.wordpress.com

Beranilah berpikir! Mungkin itulah yang selalu Penulis ulang-ulang. Jika Penulis ulang-ulang berarti penting ya. Agar kita sebagai penulis pemula mampu menemukan plesetan yang bukan sekadar plesetan, syaratnya harus berani berpikir. Pikirkan saja apa yang ada di dekat kita.

Penulis pun sempat membuat sebuah artikel opini berjudul “UN: Ujian Ngawur”. Tulisan tersebut Penulis kirimkan di www. Hminews.com yang diposkan pada 16 April 2013. Tulisan tersebut lahir dari kegaulauan dan kegelisahan Penulis ketika melihat adik Penulis menjadi salah satu peserta UN.

Memang tak mudah, namun kesalahan pemerintah berulang kali telah mengabaikan amanat rakyat untuk menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Dari situlah rasanya ingin “melampiaskan” kekesalan menjadi sebuah opini yang menggugah dan menginspirasi. Semoga!

Adapun judul-judul yang lain bisa kita buat sendiri sesuai tema yang akan dibahas. Contoh lain yang tak kalah unik yang juga dikutip Andi Adrianto, terkait artikel opini plesetan yang sinis dan tajam ada pada judul artikel Reza Syawawi yang dimuat di Kompas, kamis 17 Maret 2011.

Artikel Reza tersebut berjudulkan “Dewan Pemburu Rente”. Judul tersebut sengaja dibuat untuk memplesetkan Dewan Perwakilan Rakyat yang kinerjanya sudah dianggap khalayak umum keluar dari rel keadilan. Dari judul di atas, Reza ingin menggambarkan betapa peran wakil rakyat khususnya yang berada di DPR melakoni kongkalikong dengan berbagai pengusaha asing untuk meraup keuntungan pribadi.

Tak tanggung-tanggung, Dewan Perwakilan Rakyat yang seharusnya mewakili rakyat dalam memutuskan persoalan berdalih atas nama rakyat. Hasilnya, uang 14,7 miliar pun digelontorkan tanpa izin dari rakyat.

Penulis pun pernah memplesetkan DPR menjadi Dewan Perwakilan Rentenir. Ya, meskipun judulnya diubah menjadi Negeri Rentenir, namun ide bermula dari DPR. kita pun bisa memplesetkannya sendiri sesuai kreativitas Anda. Tak harus kata DPR, bisa seperti contoh di atas UN menjadi Ujian Ngawur.

Di sinilah letak menulis itu tanpa memerlukan bakat. Karena menulis adalah ketekunan bagaimana terus mengasah gagasan-gagasan menjadi kreativitas yang unik, tajam, menarik, dan mempunyai daya tawar. Judul plesetan juga merupakan pelampiasan makna melawan, menghina, meremehkan, hujatan, kritik sosial, sampai pengalihan opini dari makna yang sebenarnya.

8. Reflektif

Cara Membuat Judul Reflektif
hsb.nfsb.qc.ca

Salah satu cara agar artikel kita segera dimuat adalah menulis artikel yang bersifat refleksi. Judul seperti ini sering kita temukan di surat kabar mengingat Indonesia adalah negeri yang pernah dijajah sekaligus mempunyai tingkat peradaban yang sangat tinggi. Ini adalah ladang rezeki untuk penulis!

Judul seperti ini biasanya digunakan untuk mengenang momen yang sangat penting ataupun berharga dalam sejarah hidup manusia. Momen tersebut bisa seperti hari bersejarah bangsa Indonesia mulai penjajahan sampai hari kemerdekaan. Semua bisa ditulis dan dijadikan bahan refleksi untuk mengenang jasa para pahlawan ataupun tokoh-tokoh yang mempunyai peran dan karya besar semasa hidupnya.

Tujuan pembuatan judul reflektif seperti ini tidak lain untuk menjadi koreksi generasi saat ini dan yang akan datang. Selain itu, judul reflektif juga mengajak agar pembaca mampu meneladani tokoh ataupun mengambil ibrah dari sisi berbeda gagasan si penulis. Tulisan seperti ini sangat disukai redaktur selain menggali butir-butir inspirasi kembali dari tokoh-tokoh yang ditulis juga merupakan perluasan ideologi terutama menyangkut kepentingan bangsa dan negara.

Contohnya dapat dilihat pada tulisan Dedi Haryadi Deputi Sekjen Transparansi Internasional Indonesia. Tajuk yang dibawakan Dedi, “Dewi Sartika dan Kartini Berduka” yang terbit 23 April 2014 memang patut diapresiasi. Tulisan yang dibuat untuk mengenang kehidupan R.A. Kartini sekaligus Dewi Sartika itu dibenturkan kondisi real perpolitikan kaum perempuan saat ini.

Artikel tersebut bercerita mengenai dua pionir tokoh pemberdayaan perempuan yang menganalogikan dua perasaan, sedih dan senang melihat perkembangan gender di tanah air. Intinya, saat ini perempuan sudah diangkat bahkan sejajar dengan kaum laki-laki dalam hal berpolitik dan kehidupan sosial lainnya.

Dari semua itu, hal yang paling menjadi perhatian adalah banyaknya kasus korupsi yang banyak melibatkan sejumlah perempuan antara lain: Angelina Sondakh hingga mantan Menteri Kesehatan Siti Fadhilah Supari yang menjadi tersangka kasus korupsi pengadaan alat kesehatan.

Adapun tulisan yang mempunyai judul reflektif namun dikemukakan secara implisit adalah tulisan Dr. Nurul Hak berjudul “Membangun Karakter Bangsa dan Tatanan Keadaban” yang terbit 13 Januari 2014 di Kedaulatan Rakyat.

Selaku Direktur Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga, beliau ingin meniupkan refleksi mengenai pentingnya karakter dalam membangun sebuah peradaban bangsa. Menilik sejarah sirah agung Nabi Muhammad Saw, beliau memaparkan bahwa suri tauladan Nabi Muhammad tak akan lekang oleh waktu dan tetap relevan dalam setiap zaman.

Ya, melalui pembangunan karakter dimulai dari pemimpin adalah salah satunya. Pemimpin harus menunjukkan teladan sebaik-baiknya bagi rakyat selaku pengemban amanah tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Masih berkaitan dengan artikel pengurus Masjid Sunan Kalijaga. Kali ini, opini yang tak kalah menarik milik Pembina Laboratorium sekaligus Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi bertajuk “Minal ‘Aidin Wal Faizin”. Jika dilihat dari judulnya, jelas bahwa artikel tersebut ingin menyampaikan makna Idulfitri.

Dua model judul di atas memang membahas bab yang sama. Namun ada yang mengungkapkan judulnya secara implisit ada juga secara ekplisit tergantung kita sebagai penulis.

Judul refleksi secara implisit maupun eksplisit biasanya turut menentukan mau dibawa ke mana artikel yang akan kita kirim. Bahasa memang memengaruhi ke mana kita akan mengirim artikel opini.

Simak juga ulasan selanjutnya tentang bagaimana menulis lead artikel opini ke media massa.

Makna Dibalik Lambang HMI

Makna Dibalik Lambang HMI

LAMBANG HMI-Tepat 5 Februari 1947, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) didirikan oleh mahasiswa islam di Yogyakarta. Salah satu penggagasnya Prof. Lafran Pane, salah seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Islam (STI) yang saat ini lebih dikenal sebagai Universitas Islam Indonesia (UII).

HMI Hijau Hitam
HMI adalah Organisasi Ekstra Kampus

Tujuan HMI

HMI didirikan dengan tujuan mengangkat derajat Bangsa Indonesia melalui perjuangan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari penjajahan asing. Tujuan yang kedua mewujudkan organisasi yang melestarikan dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam.

Adapun perjalanan panjang organisasi ini di awal-awal masa berdirinya banyak tergabung dalam perjuangan pengusiran melawan penjajah asing Belanda. Saat itu, Negara Kincir Angin itu melancarkan Aksi Militer II pada 19 Desember 1949. Perjuangan kala itu dilakukan sebab Belanda sengaja ingin menguasai tanah Indonesia dengan menerapkan neokolonialisme dan imperialisme yang perlahan menggerogoti kedaulatan Indonesia.

Karakteristik HMI

Karakteristik dari organisasi HMI yang paling menonjol adalah independensinya. Indepensi adalah langkah pertama untuk tidak menjadi organisasi pendompleng, bila independensi telah rapuh, kemungkinan kemerdekaan berpikir akan mulai pupus. Oleh sebab itulah mengapa dalam sejarahnya HMI, setiap keputusan yang diambil tidak pernah terpengaruh sedikit pun walau disekelilingnya terdapat partai politik Islam. Di sinilah HMI menegaskan bahwa organisasi ini untuk masyarakat terlebih harapannya untuk ummat. Misal, Pada tahun 1955, saat Pemilu pun HMI tidak mengharuskan setiap anggotanya memilih partai tertentu. Semua diserahkan kepada anggotanya masing-masing.

Selain independen, karakteristik kader HMI mempunyai daya juang yang tinggi. Daya juang inilah yang menjadi pemicu lahirnya pemimpin-pemimpin yang saat ini bertebaran di seluruh bumi pertiwi, bahkan internasional. Selanjutnya, kader HMI juga dituntut untuk menjadi penghimpun di dalam sebuah masyarakat. Inilah yang menjadi kunci mengapa kader HMI cenderung bisa diterima oleh kalangan masyarakat manapun. Selain tiga karakteristik tersebut, ada karakteristik-karakteristik lainnya yang melekat di setiap kader HMI.

Lambang HMI dan Makna Dibaliknya

Setiap organisasi mempunyai lambang sebagai pedoman nilai-nilai yang membangkitkan. Dengan adanya logo ataupun lambang, diharapkan setiap anggota dapat mengamalkan semua nilai-nilai dan mengakar di dalam diri setiap kader. Kali ini, penulis akan menyajikan makna dibalik logo HMI.

Logo HMI sendiri diciptakan oleh seorang kader HMI Cabang Bandung, Ahmad Sadali. Kanda Ahmad lahir di Garut Jawa Barat pada 1924. Kanda Ahmad sendiri menapaki jejak sebagai intelektual di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai guru besar.

Bentuk Huruf Alif

Huruf alif yang juga mirip dengan angka satu bermakna sebuah pengakuan diri setulus-tulusnya bahwa hanya ada satu tuhan yang berhak disembah yakni Allah Swt. Angka satu ini bermakna kepasrahan total kepada sang pencipta. Kepasrahan bisa diidentikkan dengan kebergantungan, dan kebergantungan adalah kekuatan.

Bentuk Perisai

Bentuk perisai dalam lambang HMI bermakna bahwa setiap kader HMI diharapkan menjadi pelopor penggerak perubahan sesuai cita-cita yang ditujunya- mengangkat derajat Bangsa Indonesia serta melestarikan ajaran Islam.

Bentuk Jantung

Sebagaimana mestinya fungsi jantung, komponen lambang ini menggambarkan bahwa perkaderan HMI menjadi sebuah jantung yang akan mempengaruhi efektif atau tidaknya sebuah perjuangan. Menurut Abdullah Hehamahua, pengkaderan HMI adalah pengkaderan yang memadukan keprofesionalan organisasi dengan perusahaan. Pengkaderan HMI menempati urutan ke 6 pengkaderan terbaik dunia.

Bentuk Pena

Bentuk pena ini bermaksud agar setiap kader dalam menjalankan aksinya dilandasi dengan intelektual. Oleh karena itu, keintelektualan kader menjadi sebuah keharusan di berbagai bidang. Kenanglah, bahwa doa Nabi Muhammad Saw pertama kali ketika menemui pagi bermula agar diberikan ilmu yang bermanfaat, lalu harta barokah selanjutnya baru amal yang diridhoi.

Gambar Bulan Bintang

Gambar bulan bintang melambang kejayaan ummat Islam di seluruh dunia.

Warna Hijau

Adapun warna hijau ini menggambarkan sebuah kehidupan yang makmur dalam keimanan. Hal ini berarti juga ada kehidupan di dalam masyarakat yang memiliki kedewasaan dalam keimanan.

Warna Hitam

Warna ini melambangkan kedalaman ilmu setiap kader yang aktif di HMI

Warna Putih

Warna putih mengisyaratkan akan sucinya perjuangan HMI seperti yang tertera dalam tujuan HMI di atas yakni perjuangan yang dilandasi keikhlasan, berharap Allah kan menerima.

Lagu HMI

Hymne HMI

Bersyukur dan ikhlas
Himupnan Mahasiswa Islam
Yakin usaha sampai
Untuk kemajuan
Hidayah dan taufik
Bahagia HMI

Berdoa dan ikrar
Menjunjung tinggi syiar Islam
Turut Quran dan Hadits
Jalan keselamatan
Ya Allah berkahi
Bahagia HMI

 

Mars Hijau Hitam

Bulan sabit kejayaan
Bintang lima kemenangan
Angka satu ketauhidan
Jantung pusat kehidupan

Hijau keteguhan iman
Hitam kedalaman ilmu
Putih ketulusan amal
Di bawah naungan Illahi

Panji kemanusiaan telah dikibarkan
Pene kebenaran telah ditorehkan
Perisai keadilan telah ditegakkan
Himpunan Mahasiswa Islam

Iman prinsip abadi
Ilmu bekal yang hakiki
Amal kendaraan diri
Menuju ridho Illahi

Panji kemanusiaan telah dikibarkan
Pena kemenangan telah dikibarkan
Perisai keadilan telah ditegakkan
Himpunan Mahasiswa Islam

Logo-Logo HMI

Pengertian HMI
Lambang HMI

 

Himpunan Mahasiswa Islam Organisasi Islam
Logo Himpunan Mahasiswa Islam

 

HMI 1947
Lambang Himpunan Mahasiswa Islam
Atribut Bendera HMI 5 Februari 1947
Bendera HMI

 

Korps HMIWati
Korps HMI Wati
Logo Korps Alumni HMI
Lambang Korps Alumni HMI

Lagu Hymne HMI

 

#Ayo tulis organisasi ekstra Kampus Anda mulai dari sejarah, visi misi dan keunikan-keunikan lainnya!

Lirik Lagu Manuk Dadali, Tarian dan Not Angkanya

Lirik Lagu Manuk Dadali, Tarian dan Not Angkanya

Lagu Daerah Sunda Manuk Dadali

LIRIK LAGU MANUK DADALI-Sewaktu kuliah di jurusan komunikasi, tibalah waktunya mengambil mata kuliah komunikasi budaya. Setiap mahasiswa dituntut mengenal mahasiswa satu dengan mahasiswa lainnya dari berbagai daerah. Kebetulan waktu itu di samping penulis ada seorang mahasiswa dari daerah Sunda.

Tukar menukar informasi inspiratif tentang sebuah peradaban pun berlangsung (baca Kata-Kata Mutiara Peradaban Islam), ia menyelami kebudayaan Yogyakarta dan penulis mulai merenangi luasnya budaya Sunda yaitu lirik lagu manuk dadali.

Dari gali menggali wawasan tersebut terdapat beberapa keunikan antara Yogyakarta dengan Sunda. Namun untuk kali ini penulis hanya ingin membagikan lirik lagu Manuk Dadali.

Pencipta Lirik Lagu Manuk Dadali Sambas Mangundikarta adalah seorang jurnalis sekaligus penyiar radio. Menurut informasi yang penulis dapatkan, sampai hari ini Lirik lagu Manuk Dadali masih sangat populer menggaung di radio-radio terutama Radio Republik Indonesia (RRI).

***

Setiap daerah memiliki cara tersendiri untuk membangkitkan rasa nasionalisme. Salah satu diantaranya melalui lagu daerah. Bagi masyarakat Jawa Barat, tentu tidak asing lagi dengan lagu daerah berjudul Manuk Dadali. Sebuah lagu yang diajarkan sewaktu menginjak Sekolah Dasar (SD).

Manuk Dadali berarti Burung Garuda, lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Lirik Lagu Manuk Dadali ini mengisahkan tingginya martabat NKRI yang diumpamakan seperti Burung Garuda.

Burung yang kuat, paling disegani, gagah dan memiliki daya juang tinggi. Selain itu, lagu daerah Jawa Barat Lirik Lagu Manuk Dadali ini juga menggambarkan persatuan Indonesia dalam bingkai Kebhinekaan Tunggal Ika

Selain menggambarkan kebesaran nyali sebuah negara, lirik lagu manuk dadali ini juga menceritakan kehidupan dalam bingkai Kebhinekaan Tunggal Ika. Kehidupan harmonis sebuah negara yang disangga tiang-tiang kebudayaan, ras, suku, agama dan elemen-elemen kebangsaan lainnya.

Semoga dengan mendengarkan, menghayati dan meresapi arti lirik lagu Manuk Dadali ini bisa mengembalikan semangat nasionalisme kita untuk tetap mencintai Indonesia. Seberapapun banyak orang yang ingin memecah-belah negeri ini, pasti akan selalu ada punggawa-punggawa yang tak kalah banyaknya demi memperkuat kesatuan dan persatuan Tanah Air Indonesia.

Pencipta Lagu Manuk Dadali

Beliau lahir di Bandung tepatnya 21 September 1926. Sebagaimana seseorang dalam mencapai tangga kesuksesannya, beliau tidak dengan mudah menjalaninya hingga sampai level nasional. Pada tahun 1946 sampai 1952, beliau menjadi anak buah Jenderal Dr. Mustopo.

Bertempat di Subang Jawa Barat, beliau diminta untuk membantu menjadi penyiar Radio Perjuangan Jawa Barat. Setelah itu, beliau ditugaskan di Madiun dan Blitar Jawa Timur. Baca Selengkapnya mengenai Profil pencipta Lirik lagu Manuk Dadali.

Dalam kegiatan reportasenya, beliau lebih sering ke olah raga sepakbola dan badminton. Kejuaran-kejuaraan olah raga tersebut antara lain Thomas Cup di Kuala Lumpur (1970), All England (1976, 1977 dan 1981), Pre World Cup di Singapura 1977 dan Uber Cup di Tokyo (1981).

Menginjak tahun 1982, Sambas tidak hanya melakukan reportase di bidang oleh raga, saat itu beliau juga pernah menjadi pembawa acara Dari Desa ke Desa. Acara tersebut dapat dibilang sukses karena mampu menyedot banyak perhatian masyarakat terhadap TVRI.

Perhatian tersebut tidak lain dikarenakan program yang dibawakannya banyak menyangkut aktivitas pedesaan meliputi cocok tanam, beternak dan aktivitas-aktivitas lain yang dilakukan wong cilik. Baca Profil lebih detailnya Sambas Mangundikarta Pencipta Lagu Manuk Dadali.

Makna Lirik Lagu Manuk Dadali

Lambang negara Indonesia adalah burung Garuda (Manuk Dadali). Tidak diragukan lagi, burung Garuda adalah pilihan yang tepat untuk menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat.

Bangsa yang disangga berbagai pilar-pilar kebangsaan seperti suku, budaya, agama dan lain sebagainya. Di atas tiang-tiang bangsa tersebut bangsa Indonesia bertekad menyatu menjadi NKRI. Faktor keberagaman itulah yang dapat mengguncang dunia di atas janji persatuan dalam bingkai kebhinekaan.

Merentang sayapnya merupakan penggambaran bahwa luasnya daerah Indonesia dari Sabang sampai Merauke menambah kekayaan bangsa.

Di atas perbedaan itulah bangsa Indonesia semakin yakin bahwa kehidupan berbangsa membutuhkan tolong menolong. Itulah kehebatan rakyat Indonesia, tanpa disuruh semua tergerak untuk membantu bila ada bencana-bencana yang melanda. Penjabaran makna Lagu Dadali bisa Anda baca di Arti Lagu Manuk Dadali.

Lirik Lagu Manuk Dadali

Lirik Lagu Manuk Dadali Versi Asli Sunda

Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang

Meberkeun jangjangna bangun taya karingrang

Sukuna ranggaos reujeung pamatukna ngeluk

Ngapak mega bari hiberna tari nyuruwuk

Saha anu bisa nyusul kana tandangna

Tandang jeung pertentang taya bandingannana

Dipikagimir dipikaserab ku sasama

Taya karempan kasieun leber wawanenna

Chorus

Manuk dadali manuk panggagahna

Perlambang sakti indonesia jaya

Manuk dadali pangkakon carana

Resep ngahiji  rukun sakabehna

Hirup sauyunan tara pahiri-hiri

Silih pikanyaah teu inggis bela pati

Manuk dadali ngandung siloka sinatria

Keur sakumna bangsa di negara Indonesia

Lirik Lagu Manuk Dadali Versi Bahasa Indonesia

Terbang melesat tinggi, jauh di awang-0awang

Merentang sayapnya, tegak tanpa ragu

Kukunya panjang dan paruhnya melengkung

Menyongsong langit dengan cergas terbangnya

Siapa yang bisa menyaingi keberaniannya

Gagah perkasa tanpa tandingan

Dihormati dan disegani oleh sesama

Tanpa ragu tanpa takut, besar nyalinya

Reff

Burung garuda, burung paling gagah

Lambang sakti Indonesia jaya

Burung garuda, yang paling tershor

Senang bersatu, rukun semuanya

Hidup berhimpun tanpa saling iri

Saling menyayangi, tak sungkan membela

Burung garuda adalah lambang kesatriaan

Untuk seluruh bangsa di negara Indonesia

Syair lagu Manuk Dadali English Translation

Shot flew high, far in the clouds

Stretch their wings, erect without hesitation

His nails are long and curved beak

Toward the with flying energetic

Who can compete with courage

Valor unexcelled

Honored and respected by his fellow

Without a doubt without fear, a large nerve

Chorus

Eagle, the most handsome birds

Powerful symbol of Indonesia jaya

Eagle, the most famous

Happy together, everything is harmonious

Rally live without envy each other

Love each other , do not hesitate to defend

Eagle is a symbol of chivalry

To all the people in the country of Indonesia

 

Not Lagu Manuk Dadali

Chordnya:

Kunci Chord Gitar Manuk Dadali

Intro C G F C-G-C

C…F C…G…C

C…

C

Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang

C                                                                F

Meberkeun jangjangna bangun taya karingrang

C                                                             F

Sukuna ranggaos reujeung pamatukna ngeluk

C                      G                          C

Ngapak mega bari hiberna tari nyuruwuk

C

Saha anu bisa nyusul kana tandangna

C                                                       F

Tandang jeung pertentang taya bandingannana

C                                    F

Dipikagimir dipikaserab ku sasama

C                        G                     C

Taya karempan kasieun leber wawanenna

Chorus

F

Manuk dadali manuk panggagahna

C

Perlambang sakti indonesia jaya

F

Manuk dadali pangkakon carana

D                G                           C

Resep ngahiji  rukun sakabehna

C

Hirup sauyunan tara pahiri-hiri

C                                             F

Silih pikanyaah teu inggis bela pati

C                                         F

Manuk dadali ngandung siloka sinatria

C                   G                                C

Keur sakumna bangsa di negara Indonesia

Back to intro

Chord Lagu Manuk Dadali
Sahabatkuseni.com

 

Tari Manuk Dadali

Tari adalah ekspresi jiwa. Biasanya, tarian hadir dengan diiringi sebuah lagu pengiring. Nah, karena kali ini academic Indonesia akan membahas Tari Manuk Dadali, maka lagu pengiringnya pun lagu tentu Lirik Lagu Manuk Dadali.

Adapun jumlah penari bisa 4 orang atau lebih bisa disesuaikan. Gerakan dan pola lantai yang ditampilkan sebagai berikut:

Ragam Gerakan Tari Manuk Dadali

  • Berbaris satu berbanjar

Hitungan 1-4 melakukan gerakan rapat nindik

Hitungan 4-8 melakukan gerakan berjalan rapat nindik dengan membentuk dua baris

  • Gerakan kepak geser

Hitungan 1-2 melakukan gerakan bergeser ke kanan

Hitungan 3-4 melakukan gerakan bergeser ke kiri

  • Gerakan selancar dengan hitungan 1-8
  • Gerakan kewer ganda dengan hitungan 1-8
  • Gerakan kepak jalan dengan hitungan 2 x 8

Hitungan 1-4 mengepakkan kedua tangan dengan berjalan mundur

Hitungan 5-8 mengepakkan kedua tangan dengan berjalan maju

Hitungan 1-4 mengepakkan kedua tangan dan membentuk satu berbanjar

Hitungan 5-8 mengepakkan kedua tangan dan membenntuk dua berbanjar

  • Gerakan kewer dengan hitungan 1-8
  • Gerakan plak blang dengan hitungan 1-8
  • Gerakan plak blang putar dengan hitungan 1-8
  • Gerakan selancar berbanjar dengan hitungan 1-4
  • Gerakan penutup bervariasi dengan hitung.

Video Lagu Manuk Dadali

 

The Simplicity

The Simplicity

The Simplicity — Pemuda itu simpel, jangan dibuat ribet. Pergi ke mana saja bebas, sekehendak hati. Cukup berbekal tas kecil bisa ke mana-mana. Pokoknya pemuda itu panjang langkah. Bila sudah berkeluarga nanti, Anda baru akan merasakan betapa Anda harus bawa ini bawa itu. Sebelum ribet itu datang, simpelkan terlebih dahulu masa muda Anda agar masa depan nanti penuh bahagia.

Sesederhana Saya dan Anda
kissablezebralipsandotherthings.com

Pemuda paling anti yang namanya aturan, apalagi tata tertib yang ribet-ribet itu. Yang ribet-ribet itu biasanya menindas. Alih-alih terpikirkan goal-nya, yang ada hanya ingat yang sebenarnya tak perlu diingat. Teringat yang jauh-jauh dan lebih menjauhkan substansinya.

Pernah penulis menerima luapan hati dari seseorang yang baru saja sakit hati karena di putus sang kekasih. Teman saya merasa dunia gelap, dan seakan tak ada lagi harapan untuk hari esok. Ia jadi orang yang sangat ribet sekali. Sedih ini, yang itu juga terkena sedihnya. Marah begitu, temannya pun terkena cipratannya. Satu masalah menjadi seribu masalah gara-gara dipikir ribet!

Itu belum seberapa. Lagi-lagi ribet akan membuat orang bermasalah menjadi tambah bermasalah. Belum-belum sudah mikir ini mikir itu, nanti kalo begini jadi begitu dan sebaliknya. Pokoknya hidupnya hanya dihabiskan untuk memikirkan hal yang akan datang. Pemuda ini bisa Anda disebut dengan peramal ilegal. Merasa hidupnya sendiri yang paling muram.

Sederhana itu simpel
searchahomeforsale.com

Ada lagi cerita yang unik. Mahasiswa yang kuliah sering mengeluh karena dosen pembimbingnya tidak serius. Mahasiswa tersebut lalu mulai menjauh dengan dosen tersebut. Ia menjadikan alasan tak mau mendekat lantaran dosennya tak ramah pada mahasiswa.

Berhari-hari ia habiskan hanya untuk memikirkan dosen tadi. Mendekat tak berani, berkonsultasi pun tak ada nyali. Seperti cicak-cicak di dinding, diam tak mau merayap.

Kali ini lain lagi, seorang pemuda ingin belajar menulis. Ia mempunyai semangat yang sangat menggebu,. Sewaktu dijelakan untuk segera menulis, dengan beberapa arahan sedikit pemuda tadi bergeming dan mengatakan “Belum siap”, “Tulisanku masih jelek”, “Saya malas”, “Saya banyak kegiatan”, “Saya bla bla bla…. Lho, yang butuh siapa?

Ada juga ribet di suatu organisasi. Organisasi ribet di dalamnya terdapat banyak aturan yang sebenarnya mudah dilakukan namun menjadi sulit dan terasa sulit. Mengapa demikian? Bisa Anda bayangkan, anggota 30-an orang di bagi menjadi 6 kelompok dan harus mengingat tanggal piketnya.

Bila seperti ini, anggota akan merasa serba salah untuk melangkah. Tidak ingat dengan target, namun ingat beratnya beban jadwal piket. Model-model seperti ini tak lain hanya akan menjadi pencetak manusia-manusia rigid.

Kopi menunjukkan kesederhanaan
cleaversmarket.com

Cerita di atas adalah cerita nyata. Berkali-kali menemui seseorang yang seperti itu terasa menggelikan. Tentu masih banyak cerita lain yang lebih unik, dan hampir semua serupa dibuat ribet.

Ya, pemuda-pemuda yang ribet akan cenderung terkungkung, terbebani dan sulit untuk move on. Bila sudah begini, bukan lagi satu orang yang ribet, dua-duanya jadi ribet karena yang simpel pun dianggap ribet!

Amati yang Dekat-dekat

pickywallpapers.com
pickywallpapers.com

Terkadang solusi atas masalah yang kita hadapi hanya ada di sekitar kita. Di dekat kita, dekat sekali. Misal dalam hal menulis, banyak yang beranggapan bahwa ide macet, padahal bila Anda peka dan mampu menangkap peluang di sekitar Anda, daun yang jatuh pun akan menjadi sebuah tulisan.

Di zaman yang serba modern ini, semua sudah sangat canggih dan serba ada. Contoh bila Anda melihat seseorang yang menanam pohon kelapa, Anda bisa menjadikan artikel dengan beberapa judul “Cara menanam pohon kelapa”, bisa juga Anda luaskan temanya tidak pohon kelapa, namun bisa pohon-pohon lainnya.

Ada juga hal-hal yangdekat yang jarang kita ingat. Saya tahu Anda jomblo. Dalam bahasa gaulnya, jomblo itu gak laku, tapi kalo single itu banyak pilihan. Nah bagi para jomblo, coba amati wanita-wanita yang di dekat Anda, di sekitar Anda. Karena jodoh juga tidak akan jauh-jauh. Sesederhana saya dan Anda hehe…

Di sinilah pentingnya kesederhanaan. Sering bahwa kita memilih yang jauh-jauh. Untuk menyelesaikan LGBT saja perlu referensi dari literasi berbagai luar negeri. Padahal sudah sangat jelas. Sudah sangat jelas. Jelas sekali. Mungkin negeri ini terlalu ribet ya… Tidak apalah idep-idep untuk memberi kesibukan anggota DPR biar bisa narsis di layar televisi.

Kesederhanaan itu Menyelamatkan

Kesederhanaan KPK
pixabay.com

Coba amatilah orang-orang di sekitar Anda. Pernah penulis tanyakan kepada Abdullah Hehamahua terkait kesederhanaan ini. Rasa ingin tahu tak tertahankan karena beliaulah Penasehat KPK yang selama ini sangat dipercaya. Bahkan, di tengah desas-desus ketidakjelasan bangsa ini, beliau tetap dingin. Beliau hanya menjawab dengan ringkas, “Sederhanalah”.

Orang yang perkataannya sederhana, ia akan selamat dari hal-hal yang menghinakan dirinya. Dalam makanannya, sederhana tak akan membawa dampak menuju ketamakan. Ia ambil secukupnya. Sederhana dalam hal perbuatan akan membawa arah kepercayaan, bahwa kepercayaan itu ada karena perkataan dan perbuatan seiringan.

Akhirnya, kenanglah bahwa hal-hal yang besar itu berasal dari kesederhanaan yang terus menerus dilakukan. Sebuah pengabdian suci tak tergoyah dari limpahan hiasan jasadiyah.

Kesederhanaan hendaklah meliputi segala hal, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Satu hal lagi, kesederhanaan bukan hanya milik orang-orang yang diberi kecukupan rizki, namun juga termasuk orang-orang yang diberi rizki lebih.

Sederhana itu kunci kebahagiaan manusia.