Duhai Anak Muda, Menikahlah Sebelum Mapan

Menikah Sebelum Mapan

MENIKAH SEBELUM MAPAN-Hai Anak Muda,
Menikahlah sebelum mapan. Agar anak Anda dibesarkan bersama kesulitan-kesulitan Anda. Agar Anda dan anak-anak Anda kenyang merasakan betapa ajaibnya kekuasaan Allah.
Jangan sampai Anda meninggalkan anak Anda yang tak paham bahwa hidup adalah perjuangan.
                                                                                                                                           Adriano Rusfi

Waktu berjalan cepat, kehidupan menuntut manusia untuk lebih cepat tanggap terhadap keadaan. Salah satu keadaan yang paling urgen adalah kedewasaan mental.

Salah satu bukti bahwa seseorang sudah dewasa secara mental adalah ketika seseorang sudah mampu mencukupi dirinya sendiri, bertanggung jawab dan sadar dengan apa yang dilakukannya. Keberanian untuk mengambil resiko kiranya menjadi mutiara yang berharga di tengah arus global yang sarat memanjakan harapan.

Kedewasaan mental tak diukur dari menjamurnya umur, namun diukur dari seberapa besar kemampuan untuk mengatur sebuah persoalan menjadi tantangan. Ya, masalah harus dihadapi dan tantangan harus diselesaikan.

Menikah sebelum mapan Kaum Adam di Indonesia harus bersyukur
loveinshallah.wordpress.com

Anak muda seperti ini tidak akan takut terhadap kalkulasi-kalkulasi dunia yang menggelembung seakan tak bisa dijangkau. Justru di tengah keterbatasan itulah terdapat beribu kebahagiaan bagi orang yang tak pernah putus asa. Sebab pahala kesabaran adalah pahala yang tidak ada ukurannya.

Di Indonesia, kaum adam mestinya lebih bersyukur karena bila mental sudah matang dapat lebih mudah melangkah ke jenjang pernikahan. Di negeri ini, kaum hawa tak banyak menuntut mahar yang mewah, tidak seperti di negara-negara lain. Di negara-negara tertentu, mungkin Anda akan menjumpai betapa mahar yang perlu dihadiahkan sangat besar sehingga tak jarang dari mereka menikah setelah berumur 30an.

Kini, Anda dapat selangkah lebih maju menjalani kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang dalam istilah Rosul adalah setengah dari agama. Kehidupan sarat berbagai pahala besar yang diidentikkan sebagai bagian dari ibadah terindah bagi anak manusia.

Di bawah ini terdapat enam point menurut Ustadz Adriano Rusfi mengenai pentingnya pernikahan sebelum mapan:

1. Keluarga yang Dibangun di Atas Mimpi-Mimpi Besar

Menikah sebelum mapan Keluarga kerja keras
denisehansard.com

Menikah di usia muda tidak cukup mengandalkan ketampanan. Lebih dari itu, seorang pemuda yang kedepannya menjadi seorang ayah harus mempunyai tanggung jawab yang matang. Tanggung jawab itulah kekayaan terbesar dalam sebuah rumah tangga. Sebuah rumah tangga akan berjalan sebagaimana mestinya bila kedua pasangan dapat memahami tanggung jawab dan peranannya masing-masing.

Selain itu, pasangan muda juga akan mengantarkan pasangan kaum muda untuk lebih fokus ke arah cita-cita besar. Bukan berpikir bagaimana yang penting bisa makan, namun berpikir bagaimana bisa memberi makan orang lain. Rumah tangga baru seperti inilah rumah tangga yang masih dipayungi semangat idealisme kepemudaan. Lambat laun pasti akan menemukan jalan kebijaksanaan dalam beridealisme.

2. Mendidik Anak Lebih Baik dari Orang Tuanya

Menikah sebelum mapan, Kedua orang tuanyalah yang menjadikan Muslim
gsb.stanford.edu

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya lebih baik dari dirinya. Melalui berbagai kegagalan ayahnya di masa muda, juga kebersamaan dalam menjalani rumah tangga dari nol justru akan menguatkan sebuah ikatan bahtera rumah tangga.

Nah, dari masalah-masalah yang timbul itulah sebuah keluarga akan menjadi kuat bila dihiasi dengan kesabaran yang terbaik. Dengan demikian, nasehat seorang ayah bukan hanya di bibir, namun dari hati seperti nasehat bijak seorang Lukman.

Pasangan yang menikah muda akan mendidik anaknya mencapai prestasi yang dituju. Belajar dari masa muda itulah seorang ayah mengajarkan kepada anaknya bahwa kesalahan itu sebuah resiko yang merupakan proses menuju tangga kebenaran.

Dengan kata lain, anak yang dilahirkan pasangan muda tidak akan takut mencoba hal-hal baru, justru hal-hal baru tersebut akan terus memacu anak untuk menemukan dan terus mencari sendiri kebenaran hakiki.

3. Hidup adalah Kerja Keras

Menikah sebelum mapan Perjuangan sebuah keluarga
horoscope.tips

Dengan segenap keterbatasan, pasangan muda akan memberikan pelajaran kepada anaknya bahwa hidup adalah perjuangan penuh kerja keras. Di dalam kehidupan, orang yang mempunyai bakat tidak akan berhasil tanpa adanya kerja keras. Karena kerja keraslah penentu keberhasilan seseorang. Tuhan hanya melihat kerja keras manusia, kesungguhan untuk meraih segala cita-cita.

Begitu pula di dalam rumah tangga, terlalu memanjakan anak dengan mudah memenuhi segala kebutuhan berakibat menghambat potensi anak. Selain itu, akan berbahaya juga bagi masa depannya karena hidup yang diketahui sebatas ingin dan segera terpenuhi. Terlebih, jangan sampai anak kita nanti tidak tahu bahwa hidup sebenarnya adalah penuh kerja keras.

4. Life is Begin at Fourty

Menikah sebelum mapan Umur 40 tahun adalah umur yang matang
wanderhotelier.ch

Hidup yang sebenarnya adalah hidup ketika menginjak umur 40 tahun. Usia 40 tahun adalah usia matang dan menjadi usia yang harus sudah mapan. Mapan di sini dapat diartikan sebagai kemapaman psikologis dan kemapanan materi.

Kemapanan psikologi dapat berupa kesempurnaan akhlak dan moral menuju masa depan yang sebenarnya. Sedangkan mapan secara materi, seseorang yang telah berumur 40 tahun sudah tidak lagi memikirkan hal-hal bersifat materi duniawi.

Jangan biarkan masa muda Anda berlalu begitu saja tanpa adanya percobaan hal-hal yang baru. Habiskanlah rasa penasaran, kegagalan dan seluruh kematangan rencana Anda di masa muda. Jangan sampai ketika masa tua Anda menghampiri, Anda baru sadar akan keinginan-keinginan dan ambisi Anda. Umur 40 adalah umur terbebasnya dari segala keinginan.

5. Menikah Solusi Kehidupan

Menikah sebelum mapan akan mengkayakanmu
forum.xcitefun.net

Menikah di usia muda juga akan membantu Anda menyelesaikan urusan-urusan dunia. Sebagaimana dalam Al Quran, bahwa menikah bukan hanya dicukupkan, namun Allah memberikan janji akan mengkayakan bagi setiap hambanya yang beriman. Maka, sebarlah kartu undangan pernikahan sesegera mungkin.

Menikah muda merupakan solusi agar ketika Anda berumur usia lanjut, Anda sudah tidak memikirkan biaya kehidupan Anda seperti biaya listrik, sekolah anak dan biaya-biaya lainnya. Biarlah anak Anda nantinya yang gantian akan menjaga Anda menikmati masa-masa penuh kebahagiaan.

6. Dunia Butuh Anda

Menikah sebelum mapan Save your earth
plus.google.com

Setelah melewati liku-liku perjalanan pernikahan di usia muda, akan tiba saatnya segala kebutuhan Anda terpenuhi. Kini, kesibukan Anda hanya ingin membantu dan membantu sesama manusia mewujudkan predikat manusia terbaik paling bermanfaat bagi sesama.

Kenanglah, bahwa peran Anda sangat dibutuhkan dunia. Sudah tiba saatnya Anda membangun apa yang dibutuhkan dunia, berkontribusi dan turut menyumbang secuil peradaban (Lihat juga Kata-Kata Mutiara Peradaban Islam Paling Fenomenal). Wariskanlah kepada anak cucu Anda nanti bahwa Anda dulu dikenal sebagai seorang ayah yang hebat!

Lalu, tunggu apalagi untuk menuju singgasana raja sehari? Dengan memohon keikhlasan Allah, semoga jalan Anda dipermudah.

Deres tulisan mengenai pentingnya masa muda saat menjadi mahasiswa, sudahkah tepat Peran Mahasiswa yang selama ini Anda pikirkan?

11 thoughts on “Duhai Anak Muda, Menikahlah Sebelum Mapan

  1. Setuju: Kedewasaan mental tak diukur dari menjamurnya umur, namun diukur dari seberapa besar kemampuan untuk mengatur sebuah persoalan menjadi tantangan

    Btw, kalo di daerah saya (Sulawesi Selatan) masiha da bagian dari adat yang disebut “uang naik” atau “uang panaik” (kalo searching d Google ttg ini, kayaknya bisa nemu, deh) di luar mahar. Nah, buat keluarga yang masih mementingkan hal ini, apalagi dari kalangan bangsawan, menikah itu harus mahal 🙁

    1. kalau di Jawa namanya “pasok tukon” ummi,

      #kebanyakan keluarga yang seperti itu, sebagian lebih merasa aman dengan harta daripada keimanan. Padahal Islam memudahkan, bukan menyulitkan 🙂
      ya begitulah dunia hehe

      wah salam silaturahim untuk saudari di Sulawesi 😀

  2. Dan apa sebetulnya jodoh itu, apakah orang yang kita nikahi adalah jodoh kita? Saya merasa trauma setelah kejadian ini, saya tetap berusaha untuk menemukan laki-laki, tapi saya takut, dan bagaimana seandainya sampai akhir hayat saya tidak juga menemukan laki-laki yang saya ingin nikahi, sedangkan orang tua semakin memaksa saya untuk menikah?

    1. Sejauh mata memandang, cobalah untuk menghidupkan malam2 dengan sujud tahajjud. Barangkali malam-malam lalu sering terlewat. Jujurlah mengenai masalah Anda, sampaikan semua masalah kepada-Nya melalui tahajud Anda. Di waktu-waktu itu, Allah turun ke bumi.

      Sering-seringlah bergaul dengan orang yang baik (orang soleh/solehah). Semoga Anda bisa menemukan ketenangan di sana. Di sana akan merubah pandangan hidup dan kebiasan-kebiasaan menjadi positif. Kenanglah, bila Anda bertemu dengan orang yang baik agamanya, bila ia bukan jodoh Anda, ia akan memuliakan Anda. Namun bila Ia jodoh Anda, ia akan datang ke orang tua Anda.

      Semua ada dua hal; Bila cara mendapatkan jodohnya sesuai tuntunan agama, maka baiklah jodohnya. Namun bila proses mendapatkan jodohnya kurang baik, hasilnya pun akan kurang baik. Ya, baik ataupun buruk dua-duanya masih bisa dinamakan jodoh.

      Semua butuh proses, semoga diarahkan menuju jalan kebahagiaan ya 🙂

  3. Kalau membaca tulisan di atas betul juga yah,,, salut dah! tapi apa kira kira anak muda tersebut gak gampang putus asa? karena dengan adanya berbagai kesulitan hidup bukan hanya pada diri sendiri namun juga pada istrinya bahkan anaknya? apalagi jaman sekarang mba,,, sangat ketat dalam persaingan. Jadi saya setuju dengan uraian Anda tapi menurut saya cukup beresiko juga terjadi perpisahan (kasiahan anaknya nanti), bagaimana mba?

    1. setiap keputusan yang kita ambil sebenarnya mengandung resiko. Hanya saja, kita memilih resiko yang disebabkan diam, atau resiko yang disebabkan berani mengambil keputusan.
      Resiko yang baik adalah resiko yang tetap berada di jalur yang benar, dengan cara yang benar dan dengan tujuan yang benar 🙂

  4. terima kasih inspirasinya.
    saya pernah menjupai dua kejadian,
    pertama ada yang pacaran dan runtang-runtung lama, sejak di semester 1 sampai lulus dan kemudian nikah… namun setelah beberapa waktu akhirnya cerai, saya tidak tahu apa penyebabnya.

    Kejadian kedua, setelah lulus dan bekerja lalu nikah, ada yang cerai dan ada juga yang sampai tua.

    Dengan dua kejadian tersebut.
    Sebaiknya mana yang dilakukan ya yang pertama atau yang kedua?

    Karena ada beberapa anak mudah yang menanyakan hal seperti itu.

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *