Skripsi dan Sebuah Pesan dari Harvard University

Sebuah Pesan dari Harvard University
pixabay.com

Beberapa pekan lalu, Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Muhammad Nasir mengeluarkan wacana untuk menghapuskan skripsi. Wacana tersebut diambil menyusul banyaknya temuan praktek jual beli skripsi demi memperoleh gelar sarjana (S-1) oleh pihak universitas di Jakarta.

Wacana tersebut sempat menimbulkan pro-kontra di kalangan akademik. Bagi kalangan pro, ada  yang beranggapan bahwa skripsi hanya mempersulit mahasiswa menyelesaikan jenjang S-1. Hal di atas tak terlepas dari adanya berbagai kasus mahasiswa yang drop out (DO) karena enggan menyelesaikan skripsi.

Sedangkan kalangan kontra menilai langkah tersebut mencerminkan kemunduran akademik yang selama ini telah berjalan. Pasalnya, skripsi bukan semata-mata hanya tugas akhir, namun juga proses intelektual yang utuh.

Bila dicermati, maraknya jual beli skripsi itu terjadi karena; Pertama, sejak awal mahasiswa memang sudah memiliki orientasi yang kurang sehat. Kedua, ketidakcocokan dengan pembimbing skripsi mengakibatkan kurangnya rasa percaya diri terhadap dirinya sendiri. Ketiga, kurangnya kesadaran untuk berproses sehingga memilih langkah-langkah instan.

Pada dasarnya, skripsi adalah sebuah kerangka keilmuan utuh yang sistematis. Mulai dari awal perumusan masalah, mahasiswa dipicu untuk peka terhadap lingkungan sekitar. Mulai dari rumusan masalah tersebut, mahasiswa juga dirangsang sampai solusi dapat ditemukan. Konkritnya, Bab I adalah ontologi penelitian, bab II dan III membahas epitemologinya sedangkan bab IV merupakan aksiologinya.

Pada aspek ontologis, mahasiswa dilatih untuk memberikan sebuah gambaran landasan penelitian. Gambaran inilah yang akan menjelaskan posisi penelitian apakah penelitian lanjutan  ataukah baru.

Pada bab II aspek epistemologis membicarakan proses rasional sebuah penelitian. Pada bab ini, mahasiwa diajarkan untuk mengkorelasikan antara kerangka teori dengan objek penelitian. Sementara pada bab III, mahasiswa dilepas untuk menyajikan analisis disertai data yang valid.

Disinilah aspek empirik pentingnya sebuah penelitian. Menginjak bab IV mahasiswa dituntut untuk menemukan aspek aksiologi yakni hasil sebuah penelitian yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pudarnya Keilmuan

skripsi dan kesakralan nya
pixabay.com

Sayangnya, khasanah keilmuan seperti di atas semakin lama semakin memudar. Saat ini yang ada hanya sebatas pemenuhan syarat-syarat administrasi. Padahal yang dibutuhkan adalah proses mengurai benang merah menjadi sebuah pemikiran mahasiswa.

Penulis tidak bisa membayangkan seandainya wacana yang digulirkan Kemenristek di atas benar-benar disahkan. Tidak akan ada lagi proses memadukan sudut pandang keilmuan antara dosen pembimbing skripsi dengan mahasiswa, bersabar dalam proses keintelektualan dan pentingnya pembelajaran prinsip.

Hemat penulis, sebaiknya Kemenristek semakin meningkatkan evaluasi. Baik evaluasi proses pembelajaran, evaluasi pendidikan karakter maupun evaluasi target kompetensi.

Hal ini mengingat mahasiswa dihadapkan dengan mesin pencarian google yang semakin mendistorsi kemampuan diri. Dengan demikian harapannya mahasiswa tidak terlalu mendewa-dewakan gelar S-1 apalagi selembar ijazah.

Begitu pentingnya evaluasi yang valid dan reliable, hingga universitas terbaik sedunia Harvard University mempunyai doktrin bahwa setelah menetapkan target kompetensi, maka yang terpenting selanjutnya merancang sistem evaluasi yang valid.

“Kalian tak harus kuliah, namun jika kalian lolos dari sistem evaluasi yang valid, maka kalian berhak mendapatkan ijazah”.

 

Baca juga bagaimana cara membuat skripsi yang mudah, semudah nge-tweet.

Ambil Keilmuan Jurnalistik — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Follow me @zamhari_jogja Whatsapps di 0812-8307-7972

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *