Cemberut, Bukanlah Bagian dari Raut Takwa

Cemberut apakah baik?
flickr.com

Cemberut. Sebuah aura mimik muka yang kesannya sederhana namun membawa dampak psikologi yang besar. Orang yang cemberut, biasanya ia mudah mengeluh, menyerah atau terlalu panik dengan sebuah keadaan.

Barangkali masih terlalu minim pengalaman sehingga mempunyai prasangka bahwa apa-apa masalah yang belum dicemberutin belum terasa memuaskan.

Mengapa setiap masalah selalu dicemberuti terlebih dahulu? Bukankah lebih damai apabila selalu dihadapi dengan senyuman yang berseri-seri?

Tahukah Anda, bahwa teman Anda sebenarnya membutuhkan keceriaan Anda, senangnya Anda dan wajah seri-seri Anda. Itu lebih baik daripada Anda datang lalu tiba-tiba cemberut. Cemberut sungguh menyesakkan, bukan hanya ada rasa iba, namun juga ada dorongan rasa untuk memeluk hatinya.

Tapi mana bisa? Itulah yang dinamakan menyesakkan,  inginnya menjadi bagian dari ketentraman hatinya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Kejadian-kejadian seperti itu mengingatkan penulis mengenai sebuah pepatah;

Bila senang jangan mudah berjanji, bila marah jangan banyak bicara (diamlah).

Anda harus mengetahui bahwa raut cemberut bukanlah raut yang tanpa sebab. Bisa jadi, cemberut itu juga berasal dari Anda sendiri. Anda yang suka berjanji namun kurang bisa menepati. Di saat senang, berapa kali Anda berjanji untuk melakukan ini, memberikan itu, begini dan begitu kepada orang lain?

Bukankah di saat senang seharusnya kita menghitung kesyukuran, bukan mengobral janji kesenangan?

Atau bisa pula kecemberutan itu berasal dari Anda yang suka salah, lebih tepatnya tak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Seseorang yang cemberut, ia lebih memilih untuk meluapkannya dengan berbagai bentuk kekesalan.

Maka, keadaan yang paling tepat adalah diam. Diam tentu saja diam yang mengalah, bukan diam yang egois maupun diam yang apatis. Oleh karena itu, marah itu seperti badai, maka diamkanlah dengan sebaik-baiknya diam untuk menenangkannya.

Belajar dari Didikan Allah kepada Rosul-Nya

Penulis teringat kisah Rosulullah Saw dalam surat ‘Abasa. Itulah moment-moment seorang nabi dan rosul ditegur langsung oleh Allah. Waktu itu, nabi sedang berdakwah menjelaskan hakikat Islam kepada para terkemuka Quraisy.

Tiba-tiba, datanglah seorang laki-laki dengan tangan meraba-raba. Laki-laki tersebut tidak lain bernama Abdullah bin Ummi Maktum, seorang laki-laki buta yang juga ikut dalam rombongan Nabi Muhammad berhijrah ke Madinah.

Dia bermuka masam dan berpaling. Lantaran datang kepadanya orang buta itu. Padahal adakah yang memberitahumu boleh jadi dia akan jadi orang yang suci.

Kini, semoga Anda dapat memahami apa pesan inspiratif dari judul di atas. Ya, seri mampu memunculkan aura tersendiri bagi diri Anda maupun orang lain. Dengan aura yang positif, Anda akan menebarkan energi positif. Positifnya inilah yang akan membawa Anda kepada tingkat kenyamanan dalam hidup. Anda akan mudah bergaul dan berinteraksi dengan siapa saja.

Bayangkan apabila Anda menemui beberapa perbedaan, namun Anda tak menyikapinya dengan raut yang tepat. Tentu saja masalah akan muncul masalah, baru dan baru yang membuat orang lain tambah gelisah.

So, itulah mengapa ada istilah;

Aura, menentukan kesuksesanmu.

Dengan aura, masa depan Anda sudah bisa ditebak. Maka berseri-serilah, cemberutlah di saat Anda benar-benar berada di waktu yang tepat untuk cemberut. Tataplah masa depan, limpahan Rahmat Allah begitu sangat luas. Bergantunglah dengan sebaik-baik pengharapan hanya kepada Allah.

Anda sedang menjalani roda kehidupan di zaman yang dikatakan sebagai ummat terbaik. Berserilah, semoga seri Anda menjadi setitik cahaya hidayah bahwa senyum nan berseri juga merupakan bagian dari takwa. Raut wajah yang akan mengingatkan seseorang pada cahaya Allah yang indah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *