Mengenal Kalender Hijriyah dan Sisi Menariknya

6 min read

Kalender Hijriyah

Di beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Kalender Hijriyah biasa digunakan untuk sistem penanggalan sehari-hari. Terutama untuk mengetahui hari besar dan juga hari penting lainnya. Di Indonesia sendiri, kalender ini biasa diletakkan di atas tulisan kalender Masehi dengan ukuran angka yang lebih kecil.

Pengertian Kalender Hijriyah

Menurut bahasa, kalender Hijriyah adalah at-taqwim al-hijri’ (Kalender Islam). Sedangkan menurut istilah kalender Hijriyah merupakan sistem penanggalan yang digunakan umat Islam untuk menentukan tanggal dan bulan. Penentuan ini berkaitan dengan waktu ibadah dan hari-hari penting umat Islam setiap tahunnya.

Berbeda dengan kalender Masehi yang menggunakan Matahari, kalender ini menggunakan Bulan sebagai acuan. Dikenal sebagai kalender Hijriyah, karena tercatat bahwa tahun pertama di kalender ini terjadi peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah tahun 622 Masehi.

Sama halnya dengan kalender Masehi, kalender Hijriyah juga memiliki 12 bulan dalam satu tahun. Namun, jumlah hari lebih pendek 11 hari dari kalender Masehi. Itulah yang menyebabkan mengapa kalender ini dibangun atas dasar rata-rata siklus sinodik kalender lunar/Bulan (qomariyah).

Awal penanggalan kalender Hijriyah adalah 1 Muharram 1 Hijriyah (1M 1H), atau dalam perhitungan kalender Masehi jatuh pada tanggal 15 Juli 622 Masehi (15 Juli 622M). Satu bulan dalam kalender Hijriyah terdiri dari 29/30 hari. Sedangkan dalam satu tahun terdiri atas 345/355 hari.

Sejarah Kalender Hijriyah

Pada mulanya, penetapan kalender Hijriyah diberlakukan pada zaman Khalifah Umar Bin Khattab. Tetapi, sebelumnya orang-orang Arab juga telah menggunakan sistem kalender Hijriyah, hanya saja mereka menetapkan nama-nama bulannya saja dan tidak menetapkan tahunnya.

Dengan tidak adanya tahun, hal itu membuat Khalifah Umar Bin Khattab kebingungan saat menuliskan surat-surat untuk Amirul Mukminin. Kemudian Khalifah Umar mengumpulkan beberapa sahabat untuk bermusyawarah membahas tentang kejelasan dan kepastian kalender Islam ini.

Mengenai awal penanggalan kalender Hijriyah ini, para sahabat banyak memberikan usulan dalam musyawarah. Beberapa sahabat ada yang mengusulkan berdasarkan hari pengangkatan Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul. Ada juga yang usul berdasarkan hari lahir Nabi Muhammad SAW.

Setelah melalui berbagai usulan dan pendapat, pada akhirnya usulan Khalifah Ali Bin Abi Thalib yang disetujui seluruh sahabat. Maka ditetapkan pada tahun pertama sistem penanggakan kalender Hijriyah adalah pada saat peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah tahun 622 Masehi.

Kegunaan Kalender Hijriyah

Seperti penjelasan di atas, kalender Hijriyah biasa digunakan untuk menentukan hari-hari penting umat Islam di setiap tahunnya. Hal ini membuat informasi kalender Hijriyah tetap dibutuhkan. Selain itu, kalender ini juga digunakan untuk kepentingan lainnya, seperti:

Menentukan Hari Raya Islam (Idhul Fitri dan Idhul Adha)

Bagi umat Islam, baik Idhul Fitri ataupun Idhul Adha, hari raya merupakan hari kemenangan yang dinanti-nanti. Hari raya Idhul Fitri datang setelah berakhirnya bulan Ramadhan berdasarkan kalender Hijriyah. Sedangkan Idhul Adha jatuh pada bulan Dzulhijjah.

Dalam sistem perhitungan kalender Hijriyah, kedua hari raya umat Islam ini ditentukan berdasarkan penampakan hilal atau yang disebut Bulan. Adapun beberapa metode yang digunakan para ahli untuk menentukan hari raya, yaitu kalender Hijriyah, Hisab dan Rukyat.

Menentukan Awal dan Akhir Puasa Ramadhan

Penentuan puasa di bulan Ramadhan seringkali memunculkan dilema khususnya bagi umat Islam Indonesia setiap tahunnya. Hal tersebut biasanya disebabkan karena perbedaan metode yang digunakan oleh beberapa kelompok atau ormas Islam.

Dengan kalender Hijriyah, umat Islam bisa menentukan kapan awal puasa Ramadhan dan berakhirnya. Meskipun tetap mempertimbangkan metode yang lain seperti Rukyatul Hilal dan Hisab, kalender Hijriyah juga dapat mempermudah penentuan puasa.

Mengetahui Jadwal Puasa-puasa Sunnah

Umat Islam memiliki banyak tanggal-tanggal penting untuk melakukan puasa sunnah setiap tahunnya. Biasanya menentukan kapan waktunya dengan melihat sistem perhitungan di kalender Hijriyah. Seperti puasa Muharram, puasa menjelang Idul Adha, Dzulhijah dan masih banyak lagi.

Di dalam kalender Hijriyah, seluruhnya telah ditetapkan dengan banyak perhitungan dan pertimbangan. Hal ini memudahkan umat Islam untuk melakukan ibadah-ibadah baik yang bersifat Wajib ataupun Sunnah.

Mengetahui Tanggal-tanggal yang Dilarang Berpuasa

Selain memiliki banyak tanggal yang di sunnahkah melakukan puasa, umat Islam juga memiliki tanggal yang dilarang untuk berpuasa. Untuk mengetahuinya, bisa dilihat dengan menggunakan sistem perhitungan kalender Hijriyah sesuai tahunnya.

Hari/tanggal yang dilarang berpuasa untuk umat Islam adalah hari raya 1 Idhul Fitri, hari raya Idhul Adha, 3 hari saat hari Tashriq, hari Syak yaitu hari terakhir di bulan Sya’ban dan puasa Al Wishal (puasa sepanjang masa).

Mengetahui Peristiwa-Peristiwa Bersejarah Umat Islam

Beberapa penamaan bulan pada kalender Hijriyah diambil dari peristiwa bersejarah umat Islam pada masa Nabi dan para sahabatnya. Contohnya selain pada penanggalan awal Kalender Hijriyah, juga pada ibadah puasa Sunnah dan ibadah Haji.

Seperti yang diketahui, adanya hari raya Idhul Adha pada kalender Hijriyah berasal dari peristiwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kemudian bulan-bulan Haji pada kalender ini juga ditengarai peristiwa Nabi Ibrahim dan masih banyak lagi yang lainnya.

Beberapa Keuntungan dan Manfaat Menggunakan Kalender Hijriyah

Masih banyak dari umat Islam yang begitu asing dengan kalender Hijriyah. Pada umumnya mereka lebih sering menggunakan kalender Masehi. Padahal, terdapat manfaat jika menggunakan kalender ini. Berikut adalah beberapa keuntungan dan manfaat yang didapatkan jika menggunakannya:

Salah Satu Cara Menjalankan Perintah Allah

Berkalender Hijriyah adalah salah satu cara menjalan perintah Allah. Sangat jelas yang termaktub dalam firman Allah Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 189 yang artinya, “Mereka bertanya padamu (Muhammad) tentang bulan sabit. Katakan itu adalah penunjuk waktu ibadah bagi umat manusia.”

Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan menggunakan penanggalan Masehi, terutama untuk kepentingan pendidikan, jadwal kerja, hari libur dan masih banyak lagi. Karena di Indonesia sendiri terdiri dari beragam suku bangsa.

Salah Satu Cara Menjauhi Larangan Allah

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, dalam kalender umat Islam, terdapat hari-hari dimana mereka dilarang untuk melakukan ibadah tahunan. Baik ibadah puasa maupun ibadah haji di tanah suci. Untuk mengetahuinya, umat Islam harus melihat dan menggunakan Kalender Hijriyah.

Memudahkan Umat Islam Mengetahui Waktu-Waktu Ibadah

Waktu-waktu ibadah umat Islam telah ditentukan dalam kalender Hijriyah. Seperti ibadah haji, jadwal-jadwal puasa Sunnah, hari raya umat Islam dan lain sebagainya. Dengan begitu, umat Islam tidak akan ketinggalan atau salah hari dalam menjalankan ibadah.

Berpegang Pada Sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin dan Ijma’ Para Sahabat

Dijelaskan dalam Imam Bukhari dalam hadis sahih-nya, mengatakan bahwa Sahl bin Sa’ad pernah berkata para sahabat menghitung (penanggalan) kalender Islam berdasarkan awal tahun dimana Nabi Muhammad masuk ke Kota Madinah untuk berhijrah.

Menunjukkan Keterikatan dengan Nabi Muhammad SAW

Karena pananggalan awal kalender Hijriyah berdasarkan peristiwa hijrahnya beliau ke Madinah, umat Islam menjadi bisa mengenang peristiwa bersejarah tersebut. Tidak hanya itu, umat Islam juga mengenang perjuangan Nabi Muhammad SAW dan segala macam kondisi pada masa itu.

Perbedaaan Kalender Hijriyah dengan Masehi

Umumnya orang-orang sudah mengetahui jika kalender hijriyah berbeda dengan kalender Masehi. Namun, tahukah Anda apa yang membedakan dari kedua kalender tersebut? Jika belum mengetahuinya, simak sepenggal informasi berikut ini:

Jumlah Hari

Jika jumlah hari dalam satu tahun kalender Hijriyah berkisar antara 354 hingga 355 hari, berbeda dengan kalender Masehi yang bisa mencapai 365 hari, kecuali tahun kabisat yaitu 366 hari. Sehingga, perjalanan penanggalan juga jauh berbeda.

Selain itu, setiap bulan dalam kalender Hijriyah umumnya terdiri antara 29 dan 30 hari, sementara kalender Masehi terdiri dari 30 dan 31 hari. Kecuali pada bulan Februari yang terkadang hanya 28 hari. Untuk Jumlah bulan pada kedua kalender tersebut baik Hijriyah dan Masehi memiliki 12 bulan dalam satu tahun.

Awal Patokan Sistem Penanggalan

Tahun 1 kalender Hijriyah dimulai pada tahun peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, yakni pada 622 Masehi. Sedangkan tahun Masehi dihitung mulai dari kenaikan Isa Al-masih.

Tahun Baru

Perbedaan selanjutnya yang sudah banyak diketahui yakni hari jatuhnya tahun baru. Karena adanya perbedaan dalam sistem penanggalan, kalender Hijriyah memiliki selisih 11 hingga 12 hari lebih sedikit jika dibandingkan dengan kalender Masehi.

Jadi tidak heran jika tahun baru kedua kalender tersebut memiliki sedikit perbedaan yaitu pada kalender Masehi tahun baru jatuh tepat pada tanggal 1 Januari. Sedangkan pada kalender Hijriyah tahun baru jatuh pada tanggal 1 Muharram.

Nama Hari

Dari segi jumlah hari, baik kalender Hijriyah dan Masehi memiliki jumlah yang sama yakni tujuh hari dan siklus harinya juga bersamaan. Yang membedakan dari kedua hari tersebut terletk pada nama-namanya. Nama dalam kalender Hijriyah diserap dari bahasa Arab.

Yaitu seperti Ahad (Minggu), Itsnayn (Senin), Tsalaatsa (Selasa), Arba’aa (Rabu), Khamsatun (Kamis), Jum’a (Jumat), dan Sabt (Sabtu). Dari nama-nama tersebut bisa diketahui bahwa sebenarnya nama hari dalam bahasa Indonesia juga berpedoman pada nama hari dalam Bahasa Arab, bukan Bahasa Inggris.

Sistem Penanggalan

Kalender Islam atau Hijriyah memiliki sistem penanggalan yang didasarkan pada siklus sinodis bulan, yaitu siklus dua fase bulan yang sama dan berurutan. Pergantian bulan baru juga berdasarkan pada penampakan hilal, bulan sabit terkecil yang dapat diamati dengan mata telanjang.

Di sisi lain, untuk sistem penanggalan kalender Masehi didasarkan pada pergerakan bumi yang mengelilingi matahari. Jumlah total hari dalam satu tahun kalender Masehi biasanya terdiri atas 365 hari dan setiap empat tahun sekali 366 hari yang disebut tahun kabisat.

Urutan Kalender Hijriyah

Nama bulan dikalender Masehi tentu sudah familiar di telinga, namun tahukah Anda bagaimana urutan nama bulan dikalender hijriyah. Nama-nama tersebut antara lain.

Pertama dimulai dari bulan Muharram yang artinya diharamkan atau menjadi pantangan. Di bulan ini masyarakat dilarang untuk berperang. Kedua adalah bulan Shafar yang  artinya, kosong. Makna dari bulan ini adalah, dahulu pria Arab pergi untuk merantau atau berperang.

Ketiga Rabi’ul Awal yang artinya masa kembalinya kaum lelaki yg merantau. Keempat Rabi’ul Akhir yang bermaksud akhir masa menetapnya kaum lelaki. Kelima Jumadil Awal yang artinya awal kekeringan atau mulai terjadi musim kering.

Keenam Jumadil Akhir yang artinya akhir kekeringan atau musim kering telah berakhir. Ketujuh Rajab yang artinya mulia, zaman dulu bangsa Arab sangat memuliakan bulan ini. Kedelapan Sya’ban yang artinya berkelompok, di kala itu biasanya masyarakat Arab berkelompok untuk mencari nafkah.

Kesembilan Ramadhan yang artinya, sangat panas. Maksudnya bulan yang mampu membakar dosa dan umat Islam diwajibkan berpuasa/shaum sebulan penuh. Kesepuluh Syawal yang artinya kebahagiaan, kemenangan, sebagai bulan baru setelah seluruh dosa dihapus selama bulan Ramadhan.

Kesebelas Zulqaidah yang artinya waktu istirahat bagi kaum lelaki Arab. Dan terakhir Zulhijjah yang artinya menunaikan haji, sehingga bulan ini disebut juga bulan haji.

Penentuan Penanggalan Kalender Hijriyah

Dalam penanggalan Hijriyah, hari baru berawal setelah Matahari terbenam dan berlangsung sampai saat terbenamnya Matahari di keesokan harinya. Untuk sistem penanggalannya sendiri biasanya dilakukan melalui beberapa cara yaitu:

Melihat Hilal

Di Indonesia cara ini digunakan untuk keperluan keagamaan, misalnya menentukan tanggal awal hari puasa atau hari raya. Dalam pelaksanaannya, tidak bisa menggunakan mata telanjang. Melainkan dengan bantuan alat untuk memperbesar jangkauan dalam melihat bulan.

Pengamatan hilal ini juga harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan sumpah suci pengamat sekaligus saksi. Di Indonesia pelaksananya dikenal dengan nama Badan Hisab Rukyat, bersama-sama dengan Departemen Agama yang bertugas mengamati hilal di suatu tempat tertentu.

Dalam hal ini, seorang Ilmuwan seperti ahli ilmu falak dan astronom juga tidak boleh ketinggalan. Karena dapat atau tidak terlihatnya hilal dapat diprediksi dengan perhitungan yang sudah menjadi keahlian dan bidang asli mereka.

Melalui Hisab

Untuk keperluan penanggalan sehari-hari, misalnya untuk negara mayoritas umat Islam yang menggunakan penanggalan Hijriyah sebagai kalender resminya. Penanggalan ini didasarkan pada perhitungan atau biasa dikenal dengan hisab.

Bulan umumnya terdiri atas 29 dan 30 hari secara bergantian dimulai dari bulan Muharram yang terdiri atas 30 hari, dilanjutkan dengan Shafar 29 hari, kemudian disusul Rabiul awal 30 hari dan seterusnya secara bergantian sampai bulan Dzulhijjah.

Tetapi, khusus untuk bulan terakhir jumlah hari bisa 29 atau 30. Untuk tahun kabisat, bulan Dzulhijjah terdiri dari 30 hari dan untuk tahun basithoh atau biasa bulan Dzulhijjah umumnya terdiri dari 29 hari. Sehingga, jumlah total hari dalam tahun kabisat akan menjadi 355 hari.

Perhitungan Bulan

Perhitungan kalender hijriyah juga didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi atau revolusi bulan. Bulan mengelilingi bumi dalam satu bulannya membutuhkan waktu selama 29,5 hari atau 29 1/2 hari. Dalam satu tahun ada 12 bulan, maka jumlah hari dalam 1 tahun adalah 354 hari.

Tidak hanya pada kalender Masehi saja, pada kalender hijriyah juga terdapat tahun kabisat. Tahun tersebut terjadi apabila dalam satu tahunnya memiliki jumlah hari 355. Sebagai tambahan satu hari yaitu terletak pada bulan zulhijah.

Selain itu, kalender Hijriyah juga lebih cepat dari pada kalender Masehi, hal ini disebabkan oleh revolusi bumi yang berakibat jumlah harinya lebih banyak 11 hari dibandingkan jumlah hari dalam 11 kali revolusi bulan.

Dengan adanya Kalender hijriyah membuat umat Islam mudah dalam menentukan beberapa kegiatan keagamaan di setiap tahunnya. Walaupun di Indonesia mayoritas umat muslim, namun kebanyakan instansi menggunakan penanggalan Masehi.