Yang Hilang di Hari Pahlawan

Sumber www.aliexpress.com
Sumber www.aliexpress.com

Setiap orang mempunyai kesempatan untuk menjadi pahlawan. Hadirnya pahlawan seperti dalam Imam sholat, Ia ditunjuk bukan mengajukan diri. Situasi saat ini justru bertolak belakang. Dengan kecanggihan teknologi, setiap orang mudah menamakan dirinya sebagai pahlawan. Bahkan, koruptor kelas kakap pun masih memburu gelar pahlawan!

Ada berbagai macam cara seseorang mengkonstruksikan dirinya sebagai pahlawan. Mulai dari membayar orang, hingga ritual-ritual guna mempoles citra diri. Misal, atas nama memperingati jasa-jasa para pahlawan lewat pertunjukan seni, penghargaan maupun upacara, para politisi mendompleng nama agung pahlawan.

Tak ketinggalan, situs-situs baik di internet ataupun di media sosial pun dibuat. Agar lebih mengena, tak sedikit yang membuat icon seperti patung, monument sampai nama jalan.

Inilah pekerjaan para politisi di Hari Pahlawan, mereka sibuk berduyun-duyun memburu gelar pahlawan. Kualitas pas-pasan, gaji besar dan yang terpenting mampu berorasi!

Alhasil, bukan teladan maupun pemikiran yang diusahakan, melainkan nafsu untuk memburu gelar agar disebut pahlawan. Politisi seperti ini biasanya main telikung sana-sini, suka menyerang tanpa cross check, dan lebih banyak tampil di media ketimbang kerja.

Makna Pahlawan

Pentingnya sebuah bangsa mempunyai pahlawan. Tanpa adanya pahlawan, sebuah bangsa seakan tiada bernilai. Melalui pahlawanlah, nilai-nilai luhur, perjuangan serta harapan masa depan dari sebuah negara ditancapkan. Dengan cakrawala pemikiran yang luas dan tertuju pada masterplan cita-cita, sampai detik ini lintas generasi masih menikmati indahnya dalam bingkai negara kesatuan.

Menyatukan memang lebih mudah, mempertahankannya yang sulit. Seperti prediksi Soekarno Presiden Republik Indonesia Pertama yang sangat populer,

“Perjuanganku hari ini terasa lebih mudah karena musuhku adalah bangsa lain, sedangkan perjuanganmu kelak akan terasa lebih berat karena musuhmu nanti adalah bangsamu sendiri.”

Kini, prediksi di atas menjadi kenyataan. Segenap anak bangsa terlihat gagap tak siap menghadapi realitas yang plural. Kepahlawanan menjadi sempit makna sebatas sesama golongan dan partainya. Disana-sini timbul peperangan, tawuran, bentrokan yang tak sedikit menelan korban jiwa. Nurani telah mati dibutakan doktrin-doktrin agama yang disebarkan secara serampangan.

Kenegarawan

Menarik bila mengamati situasi negeri saat ini. Gelar pahlawan hanya diberikan kepada mereka yang membela kelompok, golongan atau partainya. Tak dapat dipungkiri, ada paradoks dalam penyematannya. Di sisi lain ada yang menolak secara keras, sampai membela fanatik buta.

Situasi seperti ini akibat adanya pemahaman idealisme yang kurang tepat. Idealisme diartikan sebagai pembela kelompoknya tanpa mempertimbangkan salah benar. Akal sehat pun terkadang digadaikan demi persahabatan.

Ada satu warisan paling berharga yang saat ini dilupakan generasi bangsa, yakni soal kenegarawanan. Banyaknya golongan, agama terlebih partai politik di senayan tak menunjukkan sikap kenegarawanan.

Seorang Presiden, tokoh agama dan politisi berbicara bukan atas nama kepentingan seluruh rakyat Indonesia. Namun, kepentingan-kepentingan kecil yang sarat menciderai kebhinekaan.

Hari pahlawan merupakan moment yang tepat untuk mengembalikan sikap kenegarawanan. Founding fathers pun lebih dahulu memberikan teladan generasi bangsa lewat kisah-kisah perjuangan merebut kemerdekaan. Misal, teladan Haji Agus Salim saat beliau diamanahi untuk memegang peran sebagai Pemimpin Redaksi Hindia Baroe.

Saat menulis tajuk rencana, Agus Salim menanggalkan semua atribut baik dari sisi pemikiran maupun tulisan. Semua beliau sampaikan lewat tulisan demi kepentingan seluruh rakyat Indoneisa. Padahal, bisa saja Agus salim memframing atau mewacanakan tulisannya condong ke golongan tertentu karena saat itu Agus Salim menjadi petinggi Sarekat Islam (SI).

“…Saya tidak berbuat seperti pemimpin Sarekat Islam dan kalau menulis tajuk rencana, saya tidak berpikir seperti dalam rapat partai. Saya melihat di hadapan saya rakyat Indonesia pada umumnya,” kata Agus Salim (Roem, 1977).

Bangsa ini harus belajar menyesal sejak awal. Penganugerahan gelar pahlawan sangat berpengaruh pada generasi yang akan datang. Selain selalu dikenang, juga akan menjadi panutan dan teladan bagi generasi mendatang. Perlu kehati-hatian dalam menganugerahkan gelar pahlawan.

Seorang pahlawan tak akan mau disebut sebagai pahlawan karena ia mengabdi tulus ikhlas demi negara, bertindak tidak biasa, berpikir merdeka dan menghimpun semua kebaikan. Jalan sederhana selalu ditempuh karena hal itulah satu-satunya teladan paripurna.

Betapa tingginya nilai pahlawan hingga ia berani mengorbankan nyawanya. Jangan sampai kepahlawanan di negeri yang kaya pahlawan ini hilang oleh gelar-gelar pahlawan yang salah menyematkannya. Selamat Hari Pahlawan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *