Menelisik Bingkai Media Melalui Analisis Framing

Gagasan framing pertama kali disampaikan oleh Batterson tahun 1995. Perlu diketahui bahwa frame mulanya dimaknai sebagai struktur konseptual yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan dan wacana. Selain itu, framing juga memfasilitasi kategori-kategori standar untuk mengapresiasi sebuah realitas.

Pada tahun 1974, Goffman mengembangkan lebih jauh konsep tentang framing. Bagi Goffman, frame dianalogikan sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas. Saat ini, konsep framing telah merambah dalam literatur ilmu komunikasi untuk menggambarkan proses penyeleksian dan penyorotan isu khusus sebuah realitas media.[1]

Analisis framing diibaratkan jendela
househunting.es

Framing merupakan metode penyajian realitas yang tidak sepenuhnya mengingkari tentang kebenaran suatu fakta, melainkan dibelokkan secara halus.[2] Melalui framing, pembaca bisa mengetahui arah dan keberpihakan sebuah media dalam mengemas berita.

Wartawan sebagai agen produksi berita mempunyai kebebasan sesuai cara pandangnya terssendiri. Melalui hal itu, wartawan melakukan check and recheck terhadap berbagai isu yang dinilai penting, yang tidak merugikan perusahaan tempat ia bekerja sekaligus ideologi yang melabeli dirinya. Selanjutnya, wartawan mempunyai wewenang untuk memilih narasumber, sisi berita yang ditonjolkan atau disembunyikan untuk mendukung pesan yang ingin disampaikan wartawan kepada khalayak.

Model analisis framing Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki adalah model analisis teks media yang sering dipakai dan popular. Model ini adalah turunan dari wacana Vanjik yang mempunyai kelengkapan perangkat analisisnya. Model Pan dan Kosicki menganggap bahwa setiap berita mempunyai frame yang berfungsi sebagai pusat dari organisasi ide.[3]

Ide itulah yang akan menjadi dasar pengembangan elemen-elemen berita meliputi lead, sumber, atau pemakaian kata tertentu. Dengan demikian, berita dapat menjadi “jendela” untuk melihat sebuah peristiwa yang telah di-setting sedemikian rupa oleh wartawan. Adapun keempat struktur suatu rangkaian yang dapat menunjukkan framing dari suatu media menurut Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki sebagai berikut:

1. Struktur Sintaksis. Pengertian umum dari sintaksis adalah susunan kata atau frase dalam kalimat. Dalam berita, susunan ini menunjuk pada pengertian susunan dan bagian berita-headline, lead, latar informasi, sumber, penutup dalam satu kesatuan teks berita secara keseluruhan.

Elemen inilah yang nantinya membawa kemana arah berita yang disajikan wartawan. Adapun model sintaksis yang populer adalah model piramida terbalik. Yakni menempatkan informasi yang penting pada bagian atas, dan menempatkan informasi yang kurang penting di bawah. Piramida terbalik susunannya meliputi headline, lead, episode, latar dan penutup.

  • Headline adalah aspek sintaksis dan wacana berita dengan tingkat kemenonjolan yang tinggi. Disamping menunjukkan kecenderungan, juga hal yang paling diingat pembaca yang letaknya berada di baris pertama. Headline menjadi pisau pertama yang menyeret kemana suatu isu akan dikembangkan. Maka, pemakaiannya sering menggunakan tanda tanya, kutip atau bentuk label-label lainnya untuk memperjelas, mempertegas atau mempertanyakan.
  • Lead, pada biasanya memberikan sudut pandang dari perspektif wartawan terkait berita yang akan disampaikan.
  • Latar. Selanjutnya, latar adalah bagian yang berada pada baris bawah sesudah headline. Saat menulis berita, wartawan telah terpengaruh sikap pandangan subyektif terlebih dahulu sehingga apa yang ditulis di awal merupakan bagian dari pengalaman dan apa yang selama ini dilihat.Dengan demikian, penulisan berita berpengaruh pada penciptaan latar belakang suatu berita. Berita akan dikembangkan sesuai latar belakang yang menurut sudut pandangannya tepat. Otomatis, kesan yang ingin ditimbulkan pembaca pun akan langsung menyetujui apa yang ditulis wartawan karena latar belakang telah ditawarkan terlebih dahulu.
  • Pengutipan sumber berita. Dalam penulisan berita, sering keberpihakan itu sangat terlihat. Pengutipan sumber mampu menjadi cara untuk membangun objektivitas dan prinsip keseimbangan namun juga bisa disebaliknya. Hal ini juga akan memberikan power bagi wartawan untuk lebih meyakinkan pembaca terkait apa yang akan disampaikannya. Dalam arti lain, sebenarnya bukan hanya pendapat wartawan, namun wartawan menggunakan cara dengan mengutip narasumber di bidangnya agar tulisannya terkesan objektif.Ada tiga hal yang dijadikan perhatian utama dalam pengutipan sumber atas perangkat framing; Pertama, mengklaim validitas atau kebenaran dengan mendasarkan diri pada klaim otoritas akademik.Kongkritnya untuk member bobot dari para stakeholder agar tak terkesan omong kosong. Kedua, menghubungkan poin tertentu dari pandangan kepada pejabat berwenang. Ketiga, untuk melawan atau mencoba mengecilkan atau membesarkan suatu masalah. Dengan demikian, pihak yang minoritas dalam pengutipan sumbernya akan terkesan aneh, menyimpang, tidak masuk akal dan mengada-ada.

2. Struktur Skrip. Skrip adalah salah satu cara untuk menonjolkan salah satu hal dari pemberitaan yang banyak orang tidak menyadari. Skrip sering bertujuan melanjutkan laporan berita dan ditulis untuk orientasi menghubungkan teks sesuai lingkungan. Dua hal tersebut dibingkai dalam struktur lengkap berita yang meliputi 5W + 1H- who, what, when, where, why dan how.

Jelas, bahwa dalam penandaan framing, dari 5W + 1H ini tidak selalu disertakan. Hal ini berkaitan dengan pentingnya salah satu sudut pandang yang ingin ditonjolkan atau disembunyikan wartawan. Sebagai contoh, wartawan bisa saja menceritakan dari sisi korbannya terlebih dahulu, meniadakan penyebab kejadian, atau sisi-sisi yang lain sesuai kemauan wartawan.

3. Struktur Tematik. Pada bagian ini, wartawan seperti melakukan ujian hipotesis. Dari peristiwa yang diliput, sumber yang dikuti dan berbagai pernyataan sebenarnya dalam rangka untuk mendukung hipotesis yang dibuat wartawan. Unsur tematik ini lebih lekat dengan cara wartawan menempatkan berita dengan tuliasan. Mulai dari bagaimana kalimat yang digunakan hingga menempatkaan dan menulis sumber dalam teks secara keseluruhan.

  • Detail, berhubungan dengan kontrol informasi. Pada proses ini, wartawan selain memilah sumber yang akan dikutip, juga akan menambah maupun mengurangi apa yang menjadi bahan pembicaraan komunikator. Dengan demikian, efek untuk mempengaruhi khalayak akan lebih mengena.Tak dapat dipungkiri bahwa wartawan pun sebelum menuliskan berita telah mempunyai sebuah tema tersendiri. Tema itulah yang dijadikan pijakan untuk mengembangkan berita melalui unsur tematik, yakni dengan koherensi.
  • Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarkata proposisi atau kalimat. Koherensi sendiri ada tiga bentuk seperti yang biasa dilakukan untuk meliput berita diantaranya; Pertama koherensi sebab-akibat. Koherensi ini sering ditandai dengan penggunaan kata “sebab”, “karena”.Kedua, koherensi penjelas.Hubungan antarkalimat seperti ini digunakan dalam rangka memperjelas suatu kalimat utama. Seperti kata penghubung yang sering digunakan bisa berupa dan, lalu, kemudian dan lain sebagainya. Ketiga, yakni koherensi pembeda yang ditandai dengan kata “dibandingkan”, “sedangkan” sebagai cara wartawan mengabstrakkan dan menghubungkan sebuah peristiwa dalam berita.

4. Struktur Retoris, perangkat yang terakhir yakni perangkat terkait bagaimana wartawan meyakinkan para pembaca bahwa apa yang disampaikannya benar-benar terjadi. Sebagai perangkat terkahir, wartawan juga ingin menyampaikan pesan yang ingin ditonjolkan dari beritanya. Adapun elemen pada struktur retoris ini adalah:

  • Leksikon, struktur ini biasa menggunakan gaya atau pemilihan diksi untuk menonjolkan berita dari sisi tertentu sekaligus membuat citra. Adapun yang biasa digunakan wartawan adalah leksikon pemilihan dan pemakaian kata-kata tertentu untuk menandai dan menggambarkan suatu peristiwa. Pemilihan kata-kata seperti ini bisa dilakukan dengan eufimisme maupun peyonisme.
  • Grafis. Selain menggunakan pemilihan kata, juga dengan cara penambahan unsur grafis. Hal inilah yang menjadikan pesan menjadi kesan dan penekanan pesan menjadi sempurna. Unsur tersebut dapat berupa huruf tebal (bold) huruf miring (italic), pemakaian underline dan ukuran yang dibuat lebih besar. Termasuk di dalamnya juga pemakaian caption, raster, grafik gambar, foto atau tabel sebagai cara wartawan menyampaikan keberhasilan yang telah dicapai. Berikut kerangka model Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki:[4]
Framing analisis berita
framing.indiana.edu

Sintaksis
Cara wartawan menyusun berita
1. Skema Berita
Headline, lead, latar, informasi, kutipan, sumber, pernyataan, penutup.
SKRIP
Cara wartawan Mengisahkan fakta
2. Kelengkapan berita
5 W+ 1H
TEMATIK
Cara wartawan Menulis fakta
3. Detail
4. Koherensi
5. Bentuk Kalimat
6. kata ganti
Paragraf, Proposisi, kalimat, hubungan antar kalimat
RETORIS
Cara wartawan Menekankan fakta
7. Leksikon
8.Grafis
9. Metafora
Kata, gambar, idiom, gambar/foto, grafik

 

[1] Alex Sobur, Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik dan Analisis Framing, (Bandung; PT Remaja Rosda Karya, 2012), 162.

[2] Rachmat Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi, (Jakarta: Prenada Media Group, 2009), hlm. 255.

[3]  Eriyanto, Analisis Framing. konstruksi dan, hlm. 293.

[4] Ibid,.

Blogger Jogja Ambil Keilmuan Jurnalistik — Hobi Men-SEO-kan Konten — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Gabung dan Dapatkan Berbagai Info Kampus di Komunitas Academic Indonesia Whatsapps di 0812-8307-7972

4 thoughts on “Menelisik Bingkai Media Melalui Analisis Framing

  1. jurnalis seharusnya nggak berpihak, namun sulit untuk menghindari keberpihakan tersebut jadi lebih baik di minimalisasi saja condong pihak mananya dia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *