Innalillahiwainnailaihirojiun, Inna Lillahi wa inna ilayhi raji’un

9.783 views

Innalillahiwainnailaihirojiun. Kalimah yang menandakan sebuah pertanyaan; Pernahkah Anda takut kehilangan seseorang? Terlebih bila terbayang kehilangan ayah bunda, sanak saudara atau kekasih? Tentu pernah ya, itu bagian ujian. Masih ingat dengan tragedi kematian bpetugas PEMILU yang memakan korban hingga ratusan orang?

Itulah kalimat pembuka pada diskusi yang akan kami tulis berikut ini. Sebuah tema yang barangkali setiap orang akan mengalaminya; kapan pun dan di mana pun.

Ya, hal tersebut berkaitan erat dengan musibah, musibah berkaitan dengan sesuatu yang hilang (kehilangan) dan kehilangan tentu saja berhubungan dengan kalimah tarji; Innalillahiwainnailaihirojiun.

Pengertian Innalillahiwainnailaihirojiun

Pengertian Innalillahiwainnailaihirojiun itu sendiri dalam Islam sering disebut kalimah tarji, ada pula yang menyebutnya dengan kalimah istirja. Dua-duanya benar, tidak ada yang keliru.

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun itu sendiri merupakan frase ummat Islam ketika mendapat musibah. Baik yang mendapat musibah atau orang lain yang mendapat musibah, keduanya mengucapkan kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun.

Dari perspektif struktur kalimat, istirja ‘terdiri dari dua kalimat. Mereka adalah innaa lillahi dan innaa ilaihi raa’jiuun. Kata inna berarti kebenaran adalah kita, sedangkan kata lillah berarti Allah. Yang benar adalah kita adalah milik Allah. Konsep utama kepemilikan di sini adalah absolut. Kata kepemilikan sebenarnya berasal dari bahasa Arab dari kata dasar “malaka” yang berarti memiliki.
Dalam bahasa Arab, “susu” berarti penguasaan seseorang terhadap sesuatu (barang atau properti) dan barang-barang yang dimilikinya baik secara nyata maupun legal. Arti penguasaan di sini mencerminkan bahwa orang yang memiliki barang memiliki kekuasaan atas barang tersebut sehingga ia dapat menggunakannya sesuai dengan kehendaknya dan tidak ada seorang pun, baik secara individu maupun institusi, yang dapat mencegahnya dari menggunakan barang yang ia miliki.
Sesungguhnya, segala sesuatu yang ada di langit dan bumi hanyalah milik Allah. Apakah itu material atau tidak material. Baik dalam bentuk benda hidup atau benda mati. Baik terlihat atau tidak terlihat. Ini ditunjukkan oleh Allah dalam firmannya dalam surah Al Baqarah: 284,
Ayat ini menjelaskan dengan jelas bahwa Allah adalah satu-satunya pemilik semua yang Dia ciptakan, baik apa pun yang ada di bumi maupun apa pun yang ada di surga. Jadi, pastilah Allah yang memiliki hak untuk mengambil kembali segala sesuatu yang menjadi milik-Nya, dalam keadaan apa pun, kapan saja, dan bagaimanapun. Kewajiban umat manusia hanya untuk menjalani kodratnya sebagai manusia, untuk menghadapi dan menerima semua kondisi yang telah Allah tetapkan dengan sabar dan dengan segala ketulusan.
Jika seseorang telah mengakui sifat Allah sebagai pemilik segalanya, maka ia harus menyadari bahwa Allah memiliki hak untuk memerintahkan dan melarang kita, apakah dia suka atau tidak. Ia harus sabar dalam menghindari apa yang dilarangnya. Sabar dengan apa yang wajib baginya. Kita harus sadar bahwa diri kita sendiri juga harta benda kita dan keluarga kita (orang tua, saudara kandung, dan istri serta anak-anak) juga milik-Nya.Kata raaji’uun berarti kembali. Ilaihi raaji’uun berarti bagi-Nya (tempat) kami kembali. Makna kontekstual pengembalian adalah kembali selamanya dan tidak pernah kembali lagi. Segala sesuatu yang menjadi milik-Nya akan kembali kepada-Nya. Kata kembali, menunjukkan bahwa kepemilikan saat ini dalam kehidupan manusia benar-benar sementara. Suatu hari nanti cepat atau lambat semuanya akan kembali kepada-Nya.
Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Sebagai pemimpin tertinggi di antara makhluk-makhluk Allah di bumi, manusia diberkati oleh Allah dengan kecerdasan untuk berpikir, mengekspresikan pendapat, melakukan, bekerja, memutuskan, dan sebagainya.
Manusia hidup dengan menghayati kodrat mereka sebagai ciptaan Allah. Di mana ada pertemuan, biasanya berakhir dengan perpisahan. Di mana ada kelahiran, itu akan berakhir dengan kematian. Di mana ada permulaan, pasti akan bertemu juga dengan akhirnya. Jadi jika Allah menghendaki, maka pasti itu akan terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Untuk memahami tentang sifat Allah dan bagaimana menjalaninya, orang membutuhkan iman dan hati yang kuat untuk percaya pada Tuhan yang memerintahkan segalanya karena banyak orang berpikir negatif tentang nasib Allah.
Ketika Allah menguji mereka dengan kemalangan, mereka menganggapnya sebagai kerugian. Namun, banyak orang juga beranggapan bahwa Allah telah memihak mereka ketika Allah menyukai mereka dengan dana berlimpah. Allah telah menjelaskannya dengan jelas dalam surah Al-Qur’annya:
Padahal, Allah telah menentang prasangka manusia seperti yang ditunjukkan dalam surat Al Baqarah ayat 216:
Kehadiran atau keberangkatan harus menjadi bagian dari kisah hidup manusia yang tak terhindarkan. Allah adalah satu-satunya yang menghendaki semua yang terjadi. Melalui tes, itu dapat menunjukkan kualitas iman manusia kepada Tuhannya. Apakah dia mampu melewati setiap ujian dengan kesabaran dan ketulusan juga mempercayai Tuhannya untuk semua yang terjadi? Atau apakah dia hanya kembali ke sifatnya sebagai makhluk yang selalu putus asa dan mengeluh?
Ada banyak kebijaksanaan yang bisa diambil dari memahami lafadz istirja ‘. Lafadz ini tidak hanya diungkapkan ketika seseorang menghadapi musibah, tetapi juga bisa menjadi media untuk memohon bantuan Tuhan. Karena, ketika kita percaya bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya, tidak akan ada lagi rasa takut akan kehilangan daripada rasa takut kepada Allah. Oleh karena itu, tentu saja, keyakinan seorang pria yang percaya bahwa Allah adalah satu-satunya yang diandalkan telah tercermin dengan baik.
Menurut sifat kepemilikan, pemahaman yang sempurna tentang lafadz istirja ‘menyebabkan seseorang menjadi lebih tulus dalam mengambil segala sesuatu yang menjadi miliknya dan lebih sabar dalam menghadapi kehilangan sesuatu yang telah diambil darinya. Menjadi lebih mudah untuk melewati setiap ujian pahit dengan ketulusan dan kesabarannya.
Biasanya, tidak mudah bagi seseorang untuk benar-benar tulus dan sabar ketika Tuhan menguji dia dengan kehilangan. Entah kehilangan beberapa anggota keluarga, properti, posisi, kesehatan, dan sebagainya. Itu adalah sifat manusia, setelah melihat semua yang melekat pada mereka adalah milik-Nya.
Namun, ketika seseorang beriman kepada ayat Allah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa segala sesuatu hanya milik Allah telah mengalahkannya, maka itu juga kecenderungan untuk memiliki sesuatu yang perlahan-lahan terpisah darinya. Iman telah menghancurkan kekerasan hati dalam memiliki sesuatu yang tidak pernah ia miliki.
Ketika hati seseorang telah tumbuh iman murni pada Allah, maka hati akan tergerak untuk menyerah dan menaruh kepercayaan mereka hanya pada Allah. Sudah sepantasnya umat manusia menaruh kepercayaan pada Rabb-nya, karena tidak ada yang bisa disembah selain Allah. Dalam surah Hud ayat 123, Allah berfirman:
Dalam surah Al-Quran Hud ayat 123 yang disebutkan di atas, Allahlah yang akan melakukan apa saja yang terjadi di dunia ini. Hidup dan mati, awal dan akhir, pertemuan dan pemisahan, kebahagiaan dan kesedihan adalah sepasang sifat yang datang bergantian. Baik yang pertama maupun yang kedua adalah pelajaran yang sama-sama berharga bagi manusia untuk selalu melakukan introspeksi terhadap diri mereka sepanjang hidupnya.
Manusia hanya dalam dimensi berjuang melewati setiap tahap kehidupan, sambil mengandalkan dan tetap baik pada apa yang diinginkan Tuhan. Tuhan tidak pernah mau melukai makhluk-Nya. Tetapi ketika mereka berpikir bahwa sesuatu yang terjadi padanya adalah kerugian, itu terjadi karena tindakan mereka.
Karena itu, marilah kita selalu meminta maaf kepada Allah kapan pun dan di mana pun kita berada. Karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan ingin mengambil kembali jiwa yang sekarang melekat pada tubuh kita.

Tulisan Innalillahiwainnailaihirojiun yang Benar

إنّا لله وإنّا إليه راجعون

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun

Arti Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun

Arti Innalillahiwainnailaihirojiun kalimah tarji

Adapun arti kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun sendiri adalah;

“Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jualah kami kembali.”

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun di Dalam Al-Quran

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun di Dalam Al-Quran

Bila Anda menghafal Surat Al Baqarah, tentu ketika Anda sampai ke ayat 156, Anda akan menemukan ayat yang bunyinya Innalillahiwainnailaihirojiun. Itulah dasar ayat yang dijadikan pedoman ummat Islam mengenai anjuran diperintahkannya mengucpkan kalimat tarji ketika mendapat musibah.

Adapun arti lengkapnya sebagai berikut:

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan; Innalillahiwainnailaihirojiun”(Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jualah kami kembali). (Al Baqaarah 2: 156).

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun di Dalam Hadits

Kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun di hadits

Selanjutnya, kita akan membahas kalimat laailaahaillallah dari segi hadits.

Pada dasarnya, ketika ada ayat dalam Al Quran, ayat tersebut diperjelas lagi dengan keterangan hadits. Melalui hadits, kita dapat mengetahui kronologi bagaimana terjadinya sebuah ajuran atau perintah Allah kepada manusia.

Singkatnya dengan mengkaji hadits yang berkaitan dengan isi kandungan Al Quran, kita akan mengetahui asbabun nuzul diturunkannya ayat Al Quran.

Berkaitan dengan kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun, diriwayatkan oleh Äli bin Al Husain, dari kakeknya Rosululullah Saw, Ia bersabda;

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimt istirja’ (Innalillahiwainnailaihirojiun) melainkan Allah akan memberinya pahala sebanding hari ia tertimpa musibah” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Kitab Al Bidayah wan Nihayah, 8:221 oleh Ibnu Katsir).

Bentuk-bentuk Musibah dan kaitannya dengan kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun

Sebenarnya, Anda bergerak atau diam itu sama-sama ujian. Bila Anda bergerak, Anda bisa dikatakan menjemput ujian. Orang seperti ini biasanya menganggap bahwa ujian itu memang sudah pasti ada bagiannya masing-masing.

Orang yang bergerak juga akan menganggap bahwa ujian itu sebagai pemantik untuk mendewasakan keimanan. Dengan ujian, diri sadar bahwa sebenarnya hidup itu penuh perjuangan. Umur itu soal nomer, menjalani hidup totalitas itu sampai akhir hayat.

Begitu juga sebaliknya. Bagi orang yang diam, kadang mereka mengira bahwa dengan diam tidak akan mendapat cobaan. Padahal sama saja. Diam pun sebenarnya ujian.

Sayangnya, cukup disayangkan bila seseorang memilih diam. Sebab, diam merupakan cerminan orang yang kurang berani mengambil keputusan. Dengan diam, Anda akan stagnan berada di titik itu.

So, bergeraklah terus sampai Anda menemukan kebenaran.

Kaitannya dengan musibah tentu saja ada pada sebuah takdir. Mulai musibah yang kecil (sughro) sampai musibah yang besar (kubro) semua sudah digariskan.

Adapun musibah-musibah yang kecil seperti Anda tersandung, Anda kehilangan sisir Anda, atau ketika Anda lupa menaruh barang sebenarnya hal tersebut bisa Anda ucapkan kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun.

Begitu pula musibah yang bisa masuk tergolong kecil namun terasa musibah besar seperti wafatnya seseorang atau terjadinya bencana alam gunung meletus, kebakaran, banjir dan lain sebagainya; Anda perlu mengucapkan Innalillahiwainnailaihirojiun sebagai tanda takwa dan cinta kepada sunnah Nabi Muhammad Saw.

Oleh sebab itu, meskipun bentuk-bentuk ujian datang silih berganti, percayalah bahwa sebenarnya hal tersebut merupakan kasih sayang Allah.

Ya, Allah hendak menguji siapa di antara hamba-hamba-Nya yang benar sabar dan bersungguh-sungguh dalam hal keimanan.

So, dengan adanya berbagai musibah yang datang silih berganti menerpa diri; satu contoh kisah terbaik di dalam Al Quran yang dicontohkan Nabi Zakaria dalam doa yang lebut nan indah:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.

Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia ya Tuhanku seorang yang diridhai.” (Maryam: 4)

Hikmah Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun

 

Banyak hikmah yang bisa kita petik dari kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun. Sebenarnya, ketika kita mendapat musibah dan Allah mengajarkan kita untuk mengucapkan Innalillahiwainnailaihirojiun adalah bukti bahwa kita sedang dibimbing Allah.

Allah membimbing kita melalui kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun yang akan mentalqin, mengingatkan kembali bahwa sebenarnya semua itu milik Allah dan semua akan kembali kepada Allah.

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun inijuga memberikan kita arahan bahwa hendaknya dalam menjalani hidup kita senantiasa mendahulukan Allah; tauhid di atas segala-galanya.

Dengan demikian, ketika kita mendapat musibah atau masalah kita benar-benar mengembalikannya kepada Allah. Kenanglah bahwa Allah sangat merindui hamba-hamba-Nya agar meminta kepada-Nya. Dan, Allah juga malu bila tak mengabulkan doa hamba-hambanya. Maka dari itu teruslah meminta dan sandarkan hanya kepada-Nya.

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun juga mengajarkan kita bahwa selaku hamba-Nya hendaknya tidak sedih berlarut-larut ketika mendapatkan musibah. Tetap bersabar dan berprasangka baik kepada Allah.

Salah satu contoh ujian yang terberat adalah kehilangan orang yang kita sayangi, terlebih kedua orang tua. Ketika kita kehilangan mereka, hendaknya kesedihan jangan berlarut hingga menangis meraung-raung. Bersabarlah, ingatlah bahwa kedua orang tua kita sudah maksimal menjalani hidup; Ia pasti akan ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya.

Tugas sebagai seorang anak adalah menjadikan diri sesoleh mungkin agar bisa menjadi secuil syafaat nanti di alam sana. Ya, salah satu amal jariyah bagi kedua orang tua adalah doa anak yang soleh. So, tak perlu bersedih lagi sebab masih ada ikhtiar doa untuk bisa berkumpul kembali.

Talqin kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun juga mengajarkan kita bahwa hendaknya hidup di dunia jangan panjang angan-angan. Tentu saja panjang angan-angan yang direncanakan setan.

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun mengajarkan kita untuk senantiasa mengingat bahwa diri nantinya juga akan kembali kepada Yang Esa. Dengan banyak mengingat yang demikian, seseorang akan lebih berhati-hati dan senantiasa berusaha untuk melakukan amal kebajikan. Benarlah, bahwa kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun adalah kalimah yang mencerdaskan.

Terakhir, mari kita simak surat cinta dari Allah untuk hamba-hamba-Nya;

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan kebaikan yang dikerjakan secara terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al Kahfi 46).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *