Tidur Kurang dari Enam Jam Sehari dapat Meningkatkan Resiko Demensia

Tidur Kurang dari Enam Jam Sehari dapat Meningkatkan Resiko Demensia

Tidur Kurang dari Enam Jam Sehari dapat Meningkatkan Resiko Demensia (Gambar: Pixabay/1388843)

Mungkin sebagian dari anda sudah mengetahui bahwa tidur kurang dari enam jam sehari dapat menyebabkan timbulnya berbagai gangguan kesehatan. Penyakit seperti Alzheimer dan Demensia adalah satu dari sekian jenis gangguan kesehatan yang timbul. Namun satu yang menjadi masalah adalah banyaknya studi mengenai hal tersebut lebih bersifat individual ketimbang massal.

Kebutuhan tidur setiap orang yang berbeda-beda kenyataannya juga menyumbang kritik terhadap studi-studi tersebut. Hal ini juga didukung bahwa studi sejenis memiliki kemiripan satu sama lain dalam hal durasi tidur pada satu sisi. Namun tidak melihat keseluruhan pola hidup seseorang dalam sisi yang lain.

Keseluruhan pola hidup tersebut termasuk diantaranya adalah umur, dimana dalam studi-studi sebelumnya tidak diperkirakan sebelumnya. Hal ini dikarenakan usia juga memegang peranan penting dalam jangka waktu tidur seseorang sehari-hari.

Untuk itulah beberapa peneliti dari Universitas Paris mengadakan penelitian mengenai kurang tidur ini dari sudut pandang usia. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Communication.

Bagaimana Tidur Kurang dari Enam Jam Sehari bisa Meningkatkan Resiko Demensia

Séverine Sabia dari Universitas Paris yang memimpin tim penelitian ini menggunakan data yang cukup terkenal di dunia medis, yaitu Whitehall II cohort. Data yang mengungkap kesehatan lebih dari 10.000 pegawai negeri di Inggris tersebut salah satunya diduga yang membuat asumsi tersebut berkembang.

Data tersebut menyebutkan beberapa orang yang kurang tidur berusia 50, 60 dan 70 tahun. Mereka diasosiasikan 30% lebih beresiko demensia ketimbang orang yang memiliki tidur normal.

Namun data yang dipublikasikan pada tahun 1985 menurut peneliti sebenarnya tidak mengungkap langsung hubungan antara kurang tidur dengan demensia. Kenyataannya penelitian tersebut hanya menyebutkan secara mekanis bahwa terdapat hubungan antara kurang tidur dengan masalah kesehatan.

Oleh karena itulah dibutuhkan studi lanjutan untuk mengetahui hubungan antara kurang tidur dengan demensia menurut peneliti dari Universitas Paris tersebut.

Dalam studi ini, defenisi tidur normal adalah kondisi tidur selama minimal tujuh jam per malam. Defenisi ini termasuk diantaranya tidur delapan jam atau lebih. Masalahnya adalah dari data penelitian terbaru menyebutkan bahwa terdapat orang-orang yang terkena demensia meskipun tidur mereka normal.

Hal ini tentu sangat berbeda jika dibandingkan dengan data dari Whitehall II cohort tadi yang justru menyebutkan sebaliknya. Artinya peneliti awalnya menemukan adanya ketidakcocokan tersebut dan mengindikasikan sesuatu yang lain.

Tanda Awal Demensia

Tentu saja temuan tersebut membingungkan peneliti, terlebih data dari Inggris tersebut sangat sulit untuk membuktikan demensia dengan kurang tidur. Namun pada akhirnya peneliti menemukan bahwa kurang tidur mungkin bisa diasosiasikan sebagai penanda awal demensia.

“Karena demensia disebabkan perubahan di otak, tidaklah mengejutkan bahwa penderita demensia seringkali terganggu dengan pola tidurnya,” kata Tom Dening, seorang psikiater dan peneliti demensia dari Universitas Nottingham, Inggris.

“Mungkin hal tersebut hanya penanda awal dari penyakit demensia yang akan datang, tetapi juga sangat mungkin bahwa kurang tidur tidak baik bagi otak dan membuatnya rentan terhadap kondisi neurodegeneratif seperti Alzheimer,” tambahnya.

 

Sumber:

Science Alert/Peter Dockrill

https://doi.org/10.1038/s41467-021-22354-2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *