Istirahat Sejenak Ketika Sedang Bekerja bukan Ide yang Buruk

Mengambil Istirahat Sejenak Ketika Sedang Bekerja bukan Ide yang Buruk

Istirahat Sejenak Ketika Sedang Bekerja bukan Ide yang Buruk (Gambar: Pixabay/Engin_Akyurt)

Lazimnya orang ketika bekerja pastinya merasakan badan lelah dan letih dan beristirahat adalah jawabannya. Namun banyak perdebatan mengenai waktu istirahat yang tepat dan durasi yang dibutuhkan. Hal ini mengingat tidak semua pekerjaan dapat dipukul rata dan memiliki jam istirahat tersendiri.

Bahkan ada juga yang mengambil istirahat sejenak ketika pekerjaan masih berlangsung untuk setidaknya “mengambil nafas”. Banyak yang beranggapan bahwa cara ini termasuk cheating dan biasanya dilakukan oleh orang yang malas dalam bekerja.

Namun barangkali anggapan tersebut tidaklah benar sepenuhnya karena manusia memang membutuhkan istirahat sejenak untuk performa kerja yang lebih baik. Setidaknya itulah kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan dari North Carolina State University.

Mereka justru menemukan bahwa orang yang mengambil istirahat sejenak atau microbreaks ketika bekerja memiliki sejumlah manfaat. Dua diantara manfaat tersebut adalah dapat menghindarkan pekerja dari kelelahan di pagi hari dan hasil pekerjaan yang lebih baik.

Penelitian ini tertuang dalam tulisan berjudul “Daily Microbreaks in A Self-Regulatory Resources Lens: Perceived Health Climate As A Contextual Moderator via Microbreak Autonomy”. Penulis utamanya adalah Kim Sooyeol dari North Carolina State University beserta koleganya. Penelitian ini dipublikasikan oleh Journal of Applied Psychology.

Mengapa Mengambil Istirahat Sejenak Ketika Sedang Bekerja Bukan Ide yang Buruk

Istirahat sejenak atau microbreaks dalam istilah penelitian ini mengacu pada istirahat yang dilakukan dalam waktu maksimal lima menit ketika bekerja. Dalam kurun waktu yang singkat tersebut pekerja biasanya dapat memakan snack, berbicara dengan kawan kantornya, sekedar meregangkan otot, atau bermain puzzle.

Penelitian berbasiskan pda survey ini dilakukan dengan melibatkan responden pekerja dari dua negara, di Amerika Serikat dan Korea.

Pada studi pertama dilakukan dengan melibatkan 98 responden pekerja dari Amerika Serikat. Mereka diharuskan mengisi dua survey dalam waktu 10 hari berturut-turut. Dua survey tersebut diisi ketika pagi menjelang kerja dan ketika pekerja sudah mengakhiri hari kerjanya.

Sedangkan pada studi kedua dilakukan dengan melibatkan 222 responden pekerja dari Korea Selatan. Perbedaannya adalah dalam studi kedua ini pekerja diharuskan mengisi tiga survey dalam 5 hari secara berturut-turut. Tiga survey tersebut diisi responden ketika pagi sebelum bekerja, setelah makan siang dan ketika pekerja sudah selesai bekerja.

Survey tersebut kurang lebih berisi pertanyaan mengenai kualitas tidur, level kelelahan, hubungannya dengan pekerjaan dan pengalaman pada hari kerja tersebut. Survey tersebut juga mengungkap sejumlah data seperti kualitas tidur, kelelahan, kebiasaan kerja dan hubungannya dengan microbreaks.

Performa yang Lebih Baik dan Hubungan Baik Majikan-Pekerja

Hasilnya peneliti menemukan bahwa orang yang justru merasa lelah di pagi hari, akan mengambil istirahat sejenak ketika bekerja lebih sering. Namun dengan mengambil istirahat sejenak atau microbreaks, dapat meningkatkan hubungan dan permintaan kerja yang lebih baik.

Bahkan peneliti menyarankan bahwa sebaiknya beberapa orang mengambil istirahat sejenak ketika bekerja jika diperlukan. Hal tersebut dapat menambah kesehatan dan kesejahteraan pekerja dan majikannya.

“Ketika orang berpikir bahwa ia ingin melindungi kesehatan karyawannya, mereka merasa lebih berkuasa untuk secara bebas membuat keputusan tentang kapan pekerja mengambil istirahat sejenak dan seperti apa bentuknya,” ujar Sophia Cho yang terlibat dalam penelitian ini. “Dan ini sangat bagus untuk karyawan dan majikannya,” tambahnya.

 

Sumber:

Science Daily

http://www.ncsu.edu/

http://dx.doi.org/10.1037/apl0000891

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *