Manusia Lebih Percaya Komputer ketimbang Manusia Sendiri, Kok Bisa?

 

benarkah manusia atau kita sekarang ini benar-benar sepenuhnya percaya kepada komputer ketimbang manusia sendiri?

Manusia Lebih Percaya Komputer ketimbang Manusia Sendiri (Gambar: Pixabay/StartupPhotoStocks)

Bukan sudah rahasia lagi bahwa saat ini manusia sangat terbantu berkat teknologi yang ditawarkan dalam komputer. Sepertinya saat ini pekerjaan modern nampak bergantung kepada benda satu ini mulai dari sistem sampai urusan hulu dan hilirnya. Namun, benarkah manusia atau kita sekarang ini benar-benar sepenuhnya percaya kepada komputer ketimbang manusia sendiri?

Pada satu sisi hal tersebut mungkin terdengar ironi, namun itulah kenyataan yang didapat peneliti dari Universitas Georgia di Amerika Serikat. Beberapa peneliti disana menemukan bahwa manusia saat ini lebih mempercayakan semua keputusan pada algoritma.

Itulah mengapa manusia saat ini bisa dikatakan lebih percaya kepada komputer ketimbang sesama manusianya.

Penelitian ini tertuang dalam tulisan berjudul “Humans Rely More on Algorithms than Social Influence a Task Becomes More Difficult.” Penulisnya adalah Eric Bogert, Aaron Schecter, dan Richard T. Watson dari jurusan Manajemen Sistem Informasi, Universitas Georgia. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports.

Bagaimana Manusia Lebih Percaya Komputer Ketimbang Manusia?

Penelitian ini dilatar-belakangi penggunaan algoritma yang terus bekerja dan luas penggunaannya akhir-akhir ini. Menurut para peneliti membangun hipotesis bahwa terdapat kecenderungan orang-orang saat ini menggunakan algoritma untuk pekerjaan mereka sehari-hari.

Namun, ada satu hal yang dikhawatirkan oleh para peneliti dalam studi ini, yaitu bias algoritma pada kehidupan sehari-hari. Bias ini dikhawatirkan membuat tugas manusia lebih sulit ketimbang bias yang dihasilkan oleh kehidupan sosial. Bias dalam kehidupan sosial ini biasa kita temui juga sehari-hari, seperti bias nasihat orang tua misalnya.

Studi ini melibatkan 1500 responden yang ditugaskan untuk mengevaluasi hasil foto. Selanjutnya para responden akan dilihat bagaimana dan kapan responden tersebut bekerja dengan algoritma untuk memproses informasi dan membuat keputusan.

Lalu para peneliti meminta para relawan untuk menghitung jumlah orang dalam satu gambar dan memberikan sejumlah saran mengenai gambar tersebut. Hal yang sama lalu dilakukan oleh algoritma dengan memberikan saran juga pada gambar yang sama.

Jumlah orang dalam gambar sengaja ditambahkan jumlahnya dalam pengujian untuk menguji apakah manusia semakin bisa menilai atau justru “frustasi”. Tujuannya untuk melihat apakah setelahnya manusia akan menyerahkannya pada algoritma atau tidak.

Mengapa Algoritma Bisa Sangat Menentukan?

Walhasil dari pengujian tersebut para relawan tidak bisa menghitung dan memberikan saran dengan jumlah orang yang ada dalam satu gambar. Jawabannya bisa ditebak, mereka menyerahkan semuanya pada algoritma.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ini dikarenakan semakin banyak orang dalam foto yang harus dihitung dalam satu gambar. Hal ini membuat para relawan semakin berpikir ini adalah tugas algoritma untuk menghitung, bukan manusia lagi.

“Ini adalah tugas yang orang anggap sebagai keahlian komputer, meskipun mungkin lebih banyak subjeknya bias daripada menghitung objek,” kata Aaron Schecter yang terlibat dalam penelitian ini.

Hal inilah yang memengaruhi orang-orang untuk menggunakan algoritma dari tugas sederhana sampai pengambilan keputusan.

Algoritma Bias Budaya dan Sosial

Namun dari kesimpulan penelitian ini terdapat satu masalah yang mungkin dapat muncul dari penggunaan algoritma. Peneliti dalam penelitian ini menyebut bahwa penggunaan algoritma justru dapat melahirkan diskriminasi baik budaya maupun sosial.

Ini dikarenakan algoritma maupun Artificial Intelligence (AI) berdasarkan peneliti cenderung bias budaya dan sosial. Mereka dinilai kurang akurat dalam mencocokkan wajah dan preferensi pekerjaan berdasarkan studi yang lain.

“Salah satu masalah AI adalah masalah penghargaan, kredit atau menyetujui seseorang dalam pinjaman. Ada banyak angka yang masuk disana, termasuk pendapatan dan nilai kredit. Tapi kami tahu itu ketergantungan mengarah pada praktek diskriminatif dalam banyak kasus dikarenakan faktor sosial yang tidak dipertimbangkan,” kata Schecter dalam penelitian ini.

 

Sumber:

Science Daily

www.uga.edu (University of Georgia)

DOI: 10.1038/s41598-021-87480-9

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *