Tahun 2020 Terpanas Kedua Sepanjang Sejarah, Sebuah “Normal Baru”?

Tahun 2020 ini suhu iklim di seluruh dunia tercatat sebagai tahun kedua terpanas sepanjang sejarah. Hal ini sejalan dengan perkiraan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang sebelumnya memperkirakan lockdown Covid-19 tak berpengaruh apa-apa dalam perubahan iklim.

Tahun 2020 Terpanas Kedua Sepanjang Sejarah. (Gambar: Pixabay/sippakorn)

Tahun 2020 ini suhu iklim di seluruh dunia tercatat sebagai tahun kedua terpanas sepanjang sejarah. Hal ini sejalan dengan perkiraan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang sebelumnya memperkirakan lockdown Covid-19 tak berpengaruh apa-apa dalam perubahan iklim.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyatakan bahwa tahun ini adalah satu dari tiga tahun terpanas yang pernah tercatat. Kurang lebih dari tahun 2015 sampai 2020 jika dirata-rata merupakan periode waktu terpanas di bumi yang pernah tercatat sejak tahun 1850.

Hal ini dinyatakan oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Gutteres ketika berbicara di Columbia University, New York baru-baru ini. Menurutnya iklim dunia sudah rusak dengan menyebutnya sebagai “bencana iklim” seperti yang dikutip dari halaman Live Science (3 Desember 2020).

“Kiamat kebakaran dan banjir, badai dan topan bertambah sebagai sebuah kenormalan baru,” kata Antonio Guterres sembari menyematkan istilah “normal baru” dalam perubahan iklim.

“Umat manusia saat ini berperang melawan alam. Ini adalah bunuh diri. Alam selalu menyerang balik dan hal itu sudah terjadi dengan kekuatan dan amarah yang terus meningkat,” tambahnya.

Tahun 2020 Terpanas Kedua Sepanjang Sejarah: Sebuah “Normal Baru” bagi Perubahan Iklim?

Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas mengatakan bahwa tahun 2020 merupakan “tahun yang luar biasa” bagi perubahan iklim. Ini dikarenakan suhu iklim rata-rata yang meningkat dan dikhawatirkan bertambah parah pada tahun 2024.

“Suhu global rata-rata pada tahun 2020 ditetapkan menjadi sekitar 1,2 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri. Setidaknya satu dari lima kemungkinan suhu global melebihi 1,5 Celcius pada tahun 2024,” kata Taalas.

Padahal Perjanjian Paris di tahun 2015 telah menyerukan untuk membatasi pemanasan global di bawah dua derajat Celcius di atas tingkat pra-industri (1850-1900). Perjanjian tersebut juga menyerukan negara-negara untuk membatasi kenaikan suhu dunia hingga 1,5 C, yang berarti hampir mencapai batas perubahan iklim.

Sebelumnya WMO juga memperkirakan bahwa tahun ini emisi karbon dioksida dimungkinkan turun pada angka 4,2 sampai 7,5 persen sebagai akibat dari pandemi Covid-19. Namun itu tidak akan berarti banyak dikarenakan gas emisi yang terperangkap di atmosfer sudah “menumpuk” selama bertahun-tahun.

Hal ini menurut Taalas, ditandai dengan adanya cuaca ekstrem di beberapa wilayah dunia pada tahun ini. Kota Verkhoyansk di utara Siberia, Russia misalnya mencatatkan suhu terpanas mencapai 38 derajat Celcius pada 20 Juni lalu. Bukan angka lazim untuk ukuran kota di utara lingkaran Arktik.

Fenomena La Nina di akhir tahun ini juga menjadi pertanda perubahan iklim sangat terasa pada kenaikan temperatur. Hal ini juga belum ditambah dengan kebakaran hutan dalam skala besar di Australia, Siberia, West Coast (Amerika Serikat) dan Amerika Selatan.

“Banjir di sebagian Afrika dan Asia Tenggara mengakibatkan perpindahan populasi dan ancaman ketahanan pangan bagi jutaan orang,” kata Taalas.

Usaha WMO untuk Mengurangi Gas Emisi

Selain sejumlah “bencana iklim” tersebut, WMO mencatat sejumlah kenaikan air laut dua kali lipat di 80% area laut di bumi. Hal ini berdampak pada pencairan es di wilayah Greenland.

WMO juga mencatat ada 30 badai termasuk 13 angin topan melanda laut Atlantik. Rencananya laporan ini masih akan difinalisasi dan dipublikasikan pada bulan Maret 2021.

Namun bagaimana langkah yang dilakukan negara-negara untuk menyelamatkan bumi? Sejauh ini, pemerintah Selandia Baru telah mendeklarasikan apa yang disebut dengan “darurat iklim”. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern menginstruksikan parlemen untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhan untuk menyelamatkan generasi muda di negara kiwi tersebut.

Sementara itu China mendesak Sekjen WMO, Petteri Taalas untuk mendukung usulannya mengenai netralitas karbon pada tahun 2060.

Hal yang sama juga dinyatakan oleh presiden Amerika Serikat yang baru saja terpilih, Joe Biden. Namun AS meminta sepuluh tahun lebih awal atau pada tahun 2050 netralitas karbon harus tercapai.

Janji yang sama juga datang dari Uni Eropa, Jepang dan Kanada. Harapannya negara lain seperti Rusia dan India dapat mengikuti ajakan tersebut.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!