Sinar Matahari Ternyata Dapat Mematikan Virus Penyebab Covid-19 Lebih Cepat

Sinar Matahari Ternyata Dapat Mematikan Virus Penyebab Covid-19 Lebih Cepat

Sinar Matahari Dapat Mematikan Virus Penyebab Covid-19 Lebih Cepat (Gambar: Pixabay/Avi_Acl)

Pada awal pandemi Covid-19 terdapat saran yang menyatakan bahwa berjemur di bawah sinar matahari dapat berguna untuk melawan virus tersebut. Tidak sedikit ahli yang berpikir sebaliknya mengingat belum adanya penelitian ke arah tersebut. Selain itu bukti data yang dihadirkan kebanyakan merupakan data kebiasaan pasien, bukan data langsung untuk menjawabnya.

Namun peneliti dari Universitas California, Santa Barbara saat ini punya bukti bahwa sinar matahari dapat menon-aktifkan virus SARS-Cov2/Covid-19. Bahkan menurut peneliti disana, sinar matahari dapat mematikan virus tersebut delapan kali lebih cepat ketimbang prediksi sebelumnya. Hal ini didapat setelah peneliti mengadakan eksperimen dengan sinar matahari, seperti yang dikutip dari Science Alert (2 April 2021).

Penelitian ini diinisiasi oleh P. Luzzatto-Fegiz, PhD., seorang doktor di bidang teknik mekanis, Universitas California, Santa Barbara. Penelitian ini berjudul “UVB Radiation Alone May Not Explain Sunlight Inactivation of SARS-Cov-2” dan dipublikasikan dalam jurnal The Journal of Infectious Diseases.

Bagaimana Sinar Matahari dapat Mematikan Virus Penyebab Covid-19

Penelitian ini sebetulnya merupakan penelitian lanjutan yang sudah dilakukan sebelumnya pada bulan Juli 2020. Ketika itu beberapa peneliti melakukan tes terhadap air liur yang terkontaminasi dengan virus SARS-Cov2. Hasilnya waktu itu virus tersebut dapat mati hanya dalam waktu 10 sampai 20 menit di bawah sinar UV.

Lalu oleh Doktor Luzzatto Fegiz penelitian ini dilanjutkan dengan pemodelan untuk melihat seberapa cepat virus menjadi non-aktif di bawah sinar UV.

Pada dasarnya sinar matahari yang dikenal dengan istilah sinar ultraviolet (UV) memiliki sejumlah fitur yang berbeda. Tubuh kita dapat menyerap sinar UV dan diikat oleh senyawa asam nukleat dalam RNA dan DNA tubuh.

Peneliti menemukan bahwa sinar UVB, sinar matahari yang memiliki gelombang lebih panjang disebut peneliti dapat mematikan virus penyebab Covid-19. Cara kerjanya adalah sinar UVB dapat mengenai RNA virus dan merusaknya.

“Teori (dalam penelitian) ini berasumsi bahwa menon-aktifkan kerja virus oleh UVB (dengan cara) mengenai RNA virus, lalu merusaknya,” kata Luzzatto Fegiz menjelaskannya.

Selain UVB, sinar gelombang pendek atau UVC juga dinilai dapat melawan virus SARS-Cov2 yang menjadi penyebab Covid-19. Masalahnya adalah sinar UVC tidaklah langsung diterima atau menembus permukaan bumi. Hal ini dikarenakan sinar UVC biasanya langsung tersaring oleh gas ozon di permukaan atmosfer.

Meskipun begitu, patut untuk dicatat bahwa tidak semua jenis sinar UV berlaku sama dalam melawan virus penyebab Covid-19. Sinar UVA yang memiliki gelombang panjang disinyalir tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk menon-aktifkan virus tersebut.

Namun, apakah UVA tidak berguna sama sekali dalam melawan virus SARS-Cov2? Para peneliti menduga gelombang panjang UVA membutuhkan medium sebagai penghantarnya seperti molekul dalam air liur. Jadi sebetulnya UVA dalam beberapa hal juga membantu untuk menon-aktifkan virus ini dan bisa jadi solusi murah.

Kesimpulan Temuan

Peneliti menemukan bahwa virus SARS-Cov2 merupakan virus yang tiga kali lebih sensitif daripada virus lain seperti virus Influenza A. Sinar matahari dapat membuat 90 persen virus non-aktif dalam waktu setengah jam pada waktu tengah hari di musim panas.

Meskipun begitu, khusus untuk sinar UVA peneliti menyatakan bahwa hal tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut. “Analisis kami menunjukkan perlunya eksperimen tambahan untuk menguji secara terpisah efek panjang gelombang cahaya tertentu dan komposisi medium,” ujar Luzzatto Fegiz dalam kesimpulannya.

Lebih lanjut sepertinya kita harus tetap penggunaan masker dikarenakan kemampuan virus penyebab Covid-19 yang dapat menyebar di udara (aerosol). Lagipula tidak ada yang ingin berpanas-panas sepanjang hari bukan?

 

Sumber:

ScienceAlert/Tessa Koumoundouros

https://academic.oup.com/jid/advance-article/doi/10.1093/infdis/jiab070/6129304

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.