Pengertian Tesis, Antitesis, Sintesis dan Hipotesis, Mahasiswa Wajib Tahu!

 

Pengertian Tesis, Anti Tesis, Sintesis dan Apa Itu Hipotesis, Mahasiswa Wajib Tahu!

Pengertian Tesis, Antitesis, Sintesis dan Apa Itu Hipotesis (Gambar: Khairul A.R.)

Perkembangan penelitian pada dasarnya tidak lepas dari usaha para ilmuwan di berbagai bidang untuk menguji, membuktikan, mengulangi sampai sebuah kebenaran didapat. Usaha yang berkesinambungan dibutuhkan demi pengetahuan yang lebih baik. Serangkaian usaha yang dilakukan peneliti sebetulnya cukup banyak. Salah satunya metode berpikir, mulai dari pengertian tesis, antitesis, sintesis dan satu yang harus dibuktikan, hipotesis.

Hal inilah yang lalu dijadikan pedoman dalam apa yang disebut dengan berpikir dialektis atau dikenal dengan istilah dialektika. Metode berpikir tersebut sangat lekat pada usaha-usaha perkembangan ilmu pengetahuan tersebut. Tapi apakah itu dialektika dan seperti apa metodenya?

Pengertian Tesis, Antitesis, Sintesis

Sebelum masuk kepada tiga pengertian tersebut, anda mungkin harus mengetahui terlebih dahulu apa itu dialektika. Dialektika adalah serangkaian proses untuk menemukan kebenaran dari sebuah ilmu pengetahuan. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1874) atau sering disebut dengan Hegel adalah pencetus sekaligus bapak terminologi ini. Dalam menjelaskan metode dialektika inilah, ia lalu membaginya menjadi tiga metode, yaitu tesis, antitesis dan sintesis itu sendiri.

Namun untuk menjelaskan bagaimana pengertian tesis, antitesis dan sintesis bekerja, saya mencoba memasukkan satu pengertian lagi. Sebuah pengertian yang sifatnya masih diperdebatkan dan masih harus diuji, yaitu hipotesis.

  1. Hipotesis

Kata satu ini lebih banyak kita temukan ketika pembuatan proposal skripsi, utamanya jika menggunakan penelitian kuantitatif. Hipotesis pada intinya adalah asumsi atau pendapat dasar ketika melakukan penelitian. Jadi dia bukanlah tesis, melainkan sebuah pendapat yang masih harus diuji kevalidannya sesuai dengan kaidah ilmiah.

Itulah mengapa hipotesis memiliki banyak kriteria dan kata penyebut untuk membedakan satu hipotesis dengan lainnya. Hipotesis nol misalnya, yang bisa diartikan sebagai pendapat temporer mengenai hubungan antar variabel. Temporer disini merujuk pada pengertian dasar mengenai hubungan-hubungan yang dibangun peneliti sebelum melakukan penelitian tersebut. Hal inilah yang membuat dalam penelitian, anda harus menuliskan tidak hanya satu hipotesis saja. Ada beberapa hipotesis yang harus anda tulis dalam sebuah penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan mana saja pendapat yang bisa diterima sebagai tesis dan mana yang harus ditolak.

Contoh beberapa kata penyebut hipotesis yaitu: hipotesis penjelas, hipotesis nol, hipotesis alternatif, hipotesis satu-dua-tiga dan sebagainya.

  1. Tesis

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), tesis memiliki dua arti sebagai kata benda. Pertama, berarti pernyataan atau teori yang didukung oleh argumentasi yang diterbitkan dalam karya ilmiah. Sedangkan yang kedua adalah karangan ilmiah untuk mendapatkan gelar kesarjanaan. Pengertian yang terakhir ini sebetulnya bisa disamakan dengan pengertian skripsi dan disertasi. Hanya bedanya adalah di Indonesia, tesis digunakan untuk menyebut karya ilmiah untuk mendapatkan gelar master/magister setara S2.

Nah, kali ini kita berfokus pada pengertian istilah yang pertama tadi, yaitu pernyataan atau teori yang didukung oleh argumentasi dalam sebuah karya ilmiah. Pengertian ini adalah pengertian dalam artian yang sebenarnya, bahwa tesis merupakan pernyataan ilmiah. Jadi tesis merupakan pernyataan yang sudah diuji berdasarkan bukti dan argumentasi. Itulah mengapa dari tesis tersebut, sebuah teori dapat dilahirkan untuk menjadi “penjelas besarnya”.

Sedangkan pada pengertian kedua sebetulnya lebih kepada karya ilmiah yang dihasilkan. Dalam prakteknya, tesis dapat nantinya digunakan sebagai asumsi ilmiah yang merupakan pondasi dari sebuah teori. Teori ini biasanya dikemukakan dalam bentuk jurnal, buku ataupun disertasi.

  1. Antitesis

Bantahan atas tesis yang tadi kita bahas itulah yang dinamakan antitesis, sesuatu yang bertentangan dengan tesis atau pendapat umum. Antitesis merupakan jawaban atas pendapat dan argumentasi ilmiah sebelumnya yang memiliki sifat bertolak-belakang dengan tesis. Karena memiliki sifat yang berlainan dengan tesis tidak jarang bahwa pendapat antitesis kerap kali mengundang perhatian ilmuwan secara luas.

Namun untuk dikatakan sebagai antitesis, langkahnya haruslah sama dengan bagaimana kita membangun tesis. Sebuah antitesis haruslah diperoleh dari kajian ilmiah yang bisa dibuktikan, diulangi dan bisa dijelaskan dengan logis. Barulah ketika peneliti menemukan sesuatu yang berlawanan dengan pendapat umum ataupun sebuah tesis, dia bisa menyatakan bahwa pendapatnya antitesis. Artinya, antitesis juga melalui tahapan-tahapan metodologis yang teruji sebagaimana sebuah tesis.

Namun dalam prakteknya biasanya para peneliti tidak menyebutkan kata ini secara langsung dalam penelitiannya. Lebih kepada bantahan secara tidak langsung dengan menyatakan bahwa si peneliti membantah teori atau tesis sebelumnya. Praktek ini juga bisa dibilang usaha antitesis, yaitu usaha untuk membantah tesis sebelumnya dan ini normal dalam sebuah penelitian.

  1. Sintesis

Karena tesis dan antitesis bisa jadi sangat kontras antara satu dengan lainnya, maka diperlukan langkah-langkah untuk menentukan hal tersebut. Inilah yang lalu disebut dengan sintesis, yaitu mensinkronkan tesis maupun antitesis. Langkah ini digunakan untuk menentukan sekaligus “mendamaikan” tesis yang saling bertentangan.

Banyak yang menyamakan sintesis ini dengan jalan tengah, dengan mencampurkan dua tesis tersebut dan mengambil kesimpulan secara umum. Namun dalam prakteknya tidak semuanya seperti itu dikarenakan beberapa hal yang melatar-belakanginya. Ada juga pendapat yang harus disingkirkan salah satu dari dua tesis apabila mengganggu premis yang lebih kuat. Sintesis secara otomatis harus juga mempertimbangkan kekuatan dari sebuah kebenaran ilmiah yang paling bisa dipahami secara logis.

Hal inilah yang menjadikan tidak ada satu teori untuk menjelaskan semua hal yang terjadi, melainkan banyak teori untuk menemukan kebenaran. Sedangkan kebenaran itu banyak dan memiliki banyak sifat baik absolut maupun temporal.

  1. Pengertian Tesis, Antitesis dan Sintesis dalam Prakteknya

Sebetulnya ada banyak contoh dari praktek tesis, antitesis dan sintesis ini dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang anda pelajari. Mungkin juga kita bisa merasakannya dalam kehidupan sehari-hari baik secara sadar maupun tidak sadar. Ilustrasinya juga bisa dinamis meskipun sangat memungkinkan polanya tidak sama dengan lainnya. Hal ini mengingat pendekatan satu teori dengan lainnya mungkin masih bisa digunakan untuk menjelaskan ketiga hal tersebut.

Hal ini saya alami ketika mempelajari komunikasi dari segi pendekatan aktor dan sistem. Ada perdebatan antara penggunaan teori aksi komunikasi yang dipelopori oleh Jurgen Habermas (1981) dan teori sistem yang dipelopori oleh Niklas Luhmann (1984) dengan. Pendekatan teori pertama berpendapat bahwa aktor memegang peranan penting dalam sistem masyarakat dan komunikasinya. Sedangkan teori sistem menyatakan bahwa perkembangan masyarakat ditentukan oleh kekompleksitasan sistemnya dan komunikasi adalah bagian penting untuk menjelaskan sistem tersebut. Sedangkan. Lalu muncullah pendekatan ketiga sebagai sintesis, yaitu pendekatan strukturasi yang dipelopori oleh Anthony Giddens (1986). Dalam tesisnya, ia berpendapat bahwa pada dasarnya manusia dapat berperilaku dengan bebas. Namun dalam prakteknya manusia juga membutuhkan untuk tergabung dalam sebuah struktur sosial di lingkungannya, agar diterima oleh lingkungannya tersebut.

  1. Premis Sintesis dan Apa yang Harus menjadi Sintesis

Namun ketiga teori itu disusun berdasarkan tesis yang sudah teruji kevaliditasannya, sehingga ketiganya bisa digunakan untuk menjelaskan masalah masing-masing. Teori sistem sosial biasanya digunakan untuk menjelaskan suatu perubahan sistem di masyarakat. Teori komunikasi aksi dapat digunakan untuk menjelaskan ketergantungan masyarakat terhadap aktor sosial. Sedangkan teori strukturasi dapat menjelaskan mengapa manusia cenderung untuk bersosialisasi dan terlibat dalam lingkungannya.

Namun ketiga teori tersebut membuat teori lain sebelumnya menjadi kurang relevan untuk dikontekskan dengan permasalahan terkini. Teori AGIL (Adaptation, Goal Attainment, Integration dan Latency) yang dipelopori oleh Talcott Parson (1980) misalnya menjadi kurang relevan. Ini dikarenakan dalam teori tersebut, pendekatan tradisi dalam sebuah sistem menjadi bermakna sempit dan tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat. Namun teori ini masih dipelajari beberapa premisnya yang dalam beberapa hal masih bisa digunakan untuk menjelaskan perkembangan dalam ilmu sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *