Pengertian Agama menurut Bahasa Sansekerta & Inggris

Pengertian Agama

Pengertian Agama

Agama dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “a” yang berarti “tidak” dan “gama” yang berarti “kacau”. Jadi “agama” berarti “tidak kacau”, dengan pengertian terdapat ketentraman dalam berpikir sesuai dengan pengetahuan dan kepercayaan yang mendasari kelakuan “tidak kacau” itu. Atau berarti sesuatu yang mengatur manusia agar tidak kacau dalam kehidupannya. Pengetahuan dan kepercayaan tersebut menyangkut hal-hal keilahian dan kekudusan.[1] Dalam hal ini agama adalah ajaran tentang nilai-nilai yang seharusnya dilakukan manusia (das Sollen) agar kehidupan mereka menemukan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.[2]

Sedangkan Agama dalam bahasa Inggris disebut religion. Kata religion (religi) diambil dari kata Latin religare yang berarti “to bind together”.[3] Berasal dari bahasa Latin religio atau religare yang berarti “mengumpulkan”atau “membaca”.[4] Religi adalah “seperangkat kepercayaan, praktik-praktik dan bahasa (istilah) yang bercirikan khas sebuah komunitas yang berusaha mencari makna transendental dengan sebuah cara tertentu yang diyakini benar”.

Dengan demikian, religi merupakan pengorganisasian dari pengalaman kolektif dari sekelompok orang menjadi bentuk sistem kepercayaan dan praktik-praktik. Dengan cara ini, agama menjadi berbeda menurut komunitasnya. Perbedaan biasanya tampak dari simbol-simbol, ritual maupun istilah yang dipakai. Pengertian ini condong ke pengertian agama menurut Emile Durkheim dalam karya klasiknya The Elementory Forms of The Religious Life (1965) yang menyatakan bahwa agama adalah function of society.

Menurut Smith (1963), dalam mendefinisikan agama menggunakan dua istilah untuk menyebut hal-hal yang berkaitan dengan aspek religi ini; cumulative tradition and faith. “Cumulative tradition” menunjuk pada segala sesuatu yang dapat diamati dan merupakan akumulasi dari seperangkat aturan yang dibuat,seperti ritual-ritual,mitos-mitos, kode moral, kitab suci (Injil), institusi sosial dan lain-lain yang diturunkan dari generasi ke generasi dan dapat mengalami perubahan. Dalam pengertian ini,agama (religi) menjadi lebih sempit maknanya karena religi lebih relatif tetap dan tidak berubah. Istilah kedua, faith, menunjuk pada aspek kedalaman yang tak bisa diamati dan bervariasi antara satu orang dan orang lain.[5] Sedangkan E. B. Tylor dalam bukunya, Primitive Culture (1871) mendefinisikan agama sebagai “kepercayaan terhadap adanya wujud-wujud spiritual.”[6]

[1] Zulfi Mubarak, Sosiologi Agama, (UIN Maliki Press: 2010), hal. 3.

[2] Ridwan Lubis, Sosiologi Agama (Memahami Perkembangan Agama dalam Interaksi Sosial), (Prenadamedia Jakarta: 2015), hal. 136.

[3]  Taufiq Pasiak, Tuhan dalam Otak Manusia, (Mizan Bandung: 2012), hal. 185.

[4]  Zulfi Mubarak, Sosiologi Agama…, hal. 3.

[5] Taufiq Pasiak, Tuhan dalam Otak Manusia…, hal. 185.

[6] Betty R. Scharf, Sosiologi Agama, (Kencana Jakarta: 2004), hal. 34.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *