18 Motivasi dan Keutamaan Menghafal Al Quran di Usia Dini hingga Senja

111 views
Menghafal Al Quran
Menghafal Al Quran

ACADEMIC INDONESIA — Beruntung orang-orang yang diberikan anugerah terbesar menghafal Al Quran. Dengan Al Quran, hidup menjadi teratur sesuai petunjuk yang ada di dalamnya.

Ada banyak kisah tentang penghafal Al Quran, baik kisah yang romantis, sedih hingga kisah-kisah yang mengharukan.

Bila di antara kita pernah menghafal Al Quran, tentunya kita masih ingat perjalanan di antara kita. Apabila kita lalai sedikit pun, tentu hafalan menjadi agak kacau. Di situlah dzikir sebagai pembersih hati senantiasa harus dihadirkan di dalam diri.

Tentu kita juga ingat betapa beratnya memulai hafalan yang telah lama terbelengkalai. Jangankan 1 hari, 2 jam saja kita melakukan perbuatan yang tidak baik juga akan berdampak pada hafalan Quran kita.

Kita juga pasti masih ingat tatkala ada beberapa ayat yang sulit untuk kita hafal, barangkali amanah kita belum sampai di sana. Atau, barangkali ada makna yang belum kita amalkan. Atau…barangkali ayat tersebut benar-benar sebuah petunjuk agar kita benar-benar menghujamkan ayat tersebut di hati kita.

Bisa jadi, dengan demikian tak ada istilah berpikir negatif kepada Al Quran, sebab yang ada apabila kita menemukan ayat yang susah dihafal, kita akan semakin banyak menemukan mutiara-mutiara di Al Quran sesuai pengalaman hidup masing-masing. Masha Allah!

Terkadang, kita pun juga merasa kelu di saat menghafal Al Quran. Di situlah kisah-kisah romantis bermunculan. Memang, dari pengalaman beberapa sahabat, bahwa Al Quran tak bisa diduakan dengan apapun; apalagi ditigain atau lebih.

Al Quran juga mudah ‘cemburu’ sehingga perlu kehati-hatian untuk menjaganya. Leres? Kesetiaan untuk memprioritaskan Al Quran menjadi hal yang sangat penting untuk bisa mendekap Al Quran.

Okey, penulis mengumpulkan beberapa motivasi untuk menghafal Al Quran yang kiranya bisa bermanfaat bagi teman-teman. Motivasi ini penulis ambil dari berbagai sumber buku, blog dan kajian yang Insha Allah juga dilakukan oleh para penghafal sebelumnya.

Motivasi Menghafal Quran

  1. Al Quran Sumber Ilmu

Kita tahu bahwa ilmuan zaman dahulu tak luput dari aktivitas menghafal Al Quran. Sebut saja seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al Ghazali, Ar Razi dan ilmuan-ilmuan muslim lainnya. Tahukah Anda bahwa mereka adalah penemu rumus-rumus fisika, kimia, astronomi dan berbagai ilmu dasar lainnya.

Apa sih rahasia mereka sehingga sangat produktif menemukan ilmu-ilmu baru? Ya, mereka tidak meninggalkan tradisi menghafal Al Quran. Bagi mereka, hafal dan paham Al Quran merupakan harga mati yang harus dimiliki.

وَيَنْبَغِىْ أَنْ يَبْدَأ مِنْ دُرُوْسِهِ عَلَى المَشَايِخِ: وَفِي الحِفْظِ وَالتِّكْرَارِ وَالمُطَالَعَةِ بِالْأَهَمِّ فَالْأهَمُّ: وَأوَّلُ مَا يَبْتَدِئُ بِهِ حِفْظُ الْقُرْآنِ الْعَزِيْزِ فَهُوَ أَهَمُّ العُلُوْمِ وَكَانَ السَّلَفُ لاَ يَعْلَمُوْنَ الْحَدِيْثَ وَالفِقْهَ إلاَّ لِمَنْ حَفِظَ الْقُرْآنَ

 “ Hal Pertama ( yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu ) adalah menghafal Al Quran, karena ia adalah ilmu yang terpenting, bahkan para ulama salaf tidak akan mengajarkan hadis dan fiqh kecuali bagi siapa yang telah hafal Al Quran. “ Imam Nawawi, Al Majmu’,( Beirut, Dar Al Fikri, 1996 ) Cet. Pertama, Juz : I, hal : 66

Rektor Universitas Negeri Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Bapak Prof. Dr. Imam Suprayogo, pun dalam sebuah acara wisuda pernah menyampaikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, peraih predikat mahasiswa terbaik selalu diraih oleh penghafal Al Quran.

Tak berbeda dengan testimoni lainnya, seorang akademis Dr. Abdul Daim al Kaheel dari Kuwait pernah menulis sebuah artikel yang bertajuk, “Asrar al-Ilaj bi istima’ ila al-Quran di situs pribadinya: www.kaheel7.com.

وَيُمْكِنُنِيْ أنْ أُخْبِرَكَ عَزِيْزِيْ القَارِئُ أنَّ الْاِسْتِمَاعَ إلىَ الْقُرْآنِ بِشَكْلٍ مُسْتَمِرٍّ يُؤَدِّيْ إلىَ زِيَادَةِ قُدْرَةِ الْإِنْسَانِ عَلَى الْإِبْدَاعِ، وَهَذَا مَا حَدَثَ مَعِيَ، فَقَبْلَ حِفْظِ الْقُرْآنِ أَذْكُرُ أنَّنِيْ كُنْتُ لاَ أُجِيْدُ كِتَابَةَ جُمْلَةٍ بِشَكْلٍ صَحِيْحٍ، بَيْنَمَا الآنَ أقُوْمُ بِكِتَابَةِ بَحْثٍ عِلْمِيٍ خِلاَلَ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ فَقَطْ

Bisa saya informasikan pada para pembaca yang terhormat bahwa mendengarkan ayat al-Quran secara kontinyu akan menambah kemampuan berinovasi, sebagaimana yang terjadi pada diri saya. Sebelum hafal al-Quran, saya masih ingat, saya kesulitan menulis satu kalimat dengan baik dan benar, sementara sekarang saya mampu menulis karya ilmiah hanya dalam kurun waktu satu sampai dua hari saja.

  1. Masa-masa Keemasan

Bila Anda hari ini masih muda, jangan lewatkan kesempatan masa muda Anda untuk menghafal Al Quran. Masa muda Anda masih segar, Anda belum banyak beban pikiran sehingga hafalan bisa cepat meresap.

Masa muda adalah masa yang harusnya diisi dengan kegiatan penuh produktivitas. Dengan menghafal Al Quran, Anda bisa menemukan mutiara-mutiara di dalamnya dan mengamalkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan syukur masa muda, Anda masih bisa mengejar target sesuai teori keberhasilan, “Mencoba hingga 10.000 kali”.

Namun bukan berarti yang sudah berumah tangga tidak bisa, semua bisa jika bersungguh-sungguh. Kelebihan bila Anda menghafal Al Quran di usia matang adalah menang dalam hal banyak pengalaman.

Coba perhatikan masalah-masalah, perjalanan hidup Anda lalu bacalah terjemahnya bila Allah menghendaki akan ada banyak inspirasi yang akan didapat. Orang yang banyak pengalamannya pun bila menghafal akan cepat lantaran ayat-ayat yang dihafalnya membekas dihatinya.

  1. Yang Bisa dan yang Tidak Bisa Membaca Al Quran

Di usia kecil dulu, barangkali kita ingat betapa kita sering menangis karena dipaksa untuk berangkat mengaji atau istilahnya TPA. Di saat itu adanya hanya ngambek dan menggerutu, mungkin waktu itu kita belum tahu.

Namun setelah kita beranjak agak dewasa, rasa yang dahulunya ngambek dan serba negatif perlahan-lahan mulai mekar dengan perasaan syukur. Ya, sebab kita masih banyak seumuran kita masih belum bisa membaca Al Quran. \

Dengan syukur yang indah, kita bisa memanfaatkan momen tersebut dengan menggiatkan diri menghafal Al Quran. Kita bersyukur diberikan anugerah bisa membaca Al Quran, lalu kita memperdalam lagi dengan menghafalnya. All praises to Allah.

  1. Sebenarnya Banyak yang Merindukan untuk Menjadi Penghafal Al Quran

Sebenarnya banyak yang ingin menghafal Al Quran. Terlebih para akademisi, sebagian besar menginginkan untuk hafal Al Quran. Hanya saja, barangkali kita belum pernah menjumpai orangnya, atau kita terlalu sibuk sehingga tidak tahu bahwa di luar sana juga sangat banyak orang yang ingin menjadi hafidz Quran.

Seperti dikutip di Cahaya Quran, ada salah seorang dosen S3 di UIN Maliki Malang yang usianya sudah 50-an tahun, beliau mengatakan “saya sekarang menghafalkan Al Quran berapapun dapatnya tidak masalah, sebab Allah menghargai proses bukan hasil. Cita-cita saya sebelum meninggal semua ayat kalau bisa sudah dihafal agar memori otak penuh dengan file-file Al Quran.

عن أبي أمامة : إنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ اِقْرَؤُوْا الْقُرْآنَ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ هَذِهِ الْمَصَاحِفَ الْمُعَلَّقَةَ فَإِنَّ اللهَ لَنْ يُعَذِّبَ قَلْبًا وَعَى الْقُرْآنَ (رواه الدارمي)

Bacalah al-Quran, jangan sekali engkau tertipu dengan mushaf yang tergantung ini, karena Allah tidak akan menyiksa hati yang berisi al-Quran (HR. Ad-Darimi)

Ada juga cerita lain yang cukup mengagumkan, salah seorang pembantu rektor di UIN Malang pernah juga mengutarakan secara implisit bahwa beliau ingin sekali tahu bagaimana cara menghafal Al Quran sekaligus menjaganya ketika umur sudah beranjak dewasa.

Masih seperti dikutip oleh Cahaya Qurani, di beberapa pondok pesantren, ada seseorang yang sudah sepuh, ia menghafal Al Quran ketika berumur 55 tahun, hingga saat ini ia sudah menghafal 25 Juz.

Ada pula seorang santriwati berumur 50-an tahun, tepatnya di pesantren Darul Quran Singosari Malang. Beliau masih setia dengan Al Quran, menghafalnya setiap hari.

So, bila hari ini Anda masih setia dengan Al Quran Anda, berarti Anda melakukan hal besar yang banyak dirindukan oleh semua kalangan. Subhanallah bukan?

  1. Tidak Banyak yang Memiliki Niat untuk Menghafal Al Quran

Bila uraian point sebelumnya ada banyak yang rindu untuk menjadi penghafal Al Quran, di point ini pun bisa berlaku kebalikannya; ada yang tidak rindu atau tak ada niatan sama sekali untuk rindu.

Bersyukur kita diberikan niat untuk menghafal, baik niat yang datangnya baru saja atau niat yang datangnya sejak dari dulu.

Dengan adanya niat, berarti kita tahu apa nikmatnya menghafal Al Quran. Semoga semuanya diistiqomahkan ya…

  1. Banyak Anak Kecil yang Sudah Hafal Quran; Malukah?

Kita telah mendengar dan menyaksikan sendiri keajaiban-keajaiban orang yang hafal Quran. Bukan hanya orang dewasa saja, banyak diantara anak kecil bahkan balita sudah tuntas menghafal Al Quran.

Sebut saja balita dari Al Jazair bernama Abdurrahman Farih. Ia berumur 3 tahun dan telah menuntaskan hafalan Qurannya. Tak hanya itu saja, di Indonesia sendiri telah lahir banyak para penghafal Quran dari anak-anak, sebut saja Musa dan kawan-kawannya di Tahfidz Indonesia.

Bagaimana dengan kita yang semakin hari semakin berkurang jatah umur hidupnya? Insha Allah semua tidak ada yang terlambat bila kita niatkan dari sekarang.

Justru adanya anak-anak yang telah menghafal di atas bisa menjadi cambuk segar buat kita untuk terus mengaplikasikan niat kita. Sebab, akan ada masanya niat kita luntur tertelan kesibukan yang tak kunjung selesai.

Jagan berputus asa dari rahmat Allah, bila hari ini usia sudah mencapai 30-an tahun, Nabi Rasulullah Saw pun menerima wahyu di usia 40 tahun. Begitu juga bila usia Anda lebih dari 55 tahun, jangan berputus asa sebab Rasulullah Saw pun tuntas menerima wahyu tatkala di usia 61 tahun.

  1. Mahkota Cahaya untuk Kedua Orang Tua

Rasulullah bersabda:

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ الْجُهَنِىِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ضَوْؤُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِى بُيُوتِ الدُّنْيَا (رواه أبو داود)

Barang siapa yang membaca al-Quran dan mengamalkan isinya maka pada hari kiamat kedua orang tuanya akan diberi mahkota yang cahayanya lebih indah daripada sinar matahari di dunia.

Pernahkah kita berpikir bahwa kita sanggup membalas kebaikan kedua orang tua kita? Merekalah yang selalu menyayangi kita, memberikan rizki terbaik dan mengasuh kita sehingga menjadi seperti sekarang ini.

Merekalah yang apabila butuh tak pernah berterus terang kepada kita, bila sakit hanya dirasakan sendiri dan bila ia lelah tetap memberikan senyuman kepada kita.

Pabila kita mengingat kasih sayangnya, tentu hati akan terus luluh. Bayangkan saja wajah keriputnya, betapa setiap hari banting tulang untuk menghidupi keluarga. Masha Allah kita inginkan semua orang tua kita diberikan rahmah Allah semulia-mulianya.

Bila saat ini kedua orang tua masih diberikan usia, jangan tunggu lama untuk mencium kakinya meminta restu agar diberikan keikhlasakan bisa menyelesaikan hafalan. Bila orang tua sudah terlebih dahulu kembali ke Pangkuan-Nya, semua pahala dalam menghafal bisa Anda hadiahkan kepada kedua orang tua. Insha Allah mereka bahagia denga sorot cahaya Quran.

  1. Cahaya di Alam Kubur

Sebagai anak yang mencoba terus berbakti kepada orang tua, tentunya kita menginginkan kebahagiaan untuk mereka selamanya. Sepertihalnya apabila mereka telah pulang terlebih dahulu, kita masih bisa mendoakan, mengirimkan pahala-pahala hafalan Quran untuknya.

Abu Ja’far meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. Bahwa orang mukmin itu apabila diletakkan di dalam kuburnya maka kuburnya itu dilapangkan 70 hasta, ditaburi harum-haruman dan ditutup dengan kain sutera. Apabila ia hafal sebagian dari Al-Qur’an maka apa yang dihafalnya itu menerangi seluruh kuburnya, dan apabila ia tidak hafal, maka ia dibuatkan cahaya seperti matahari di dalam kuburnya. Ia bagaikan pengantin baru yang tidur dan tidak dibangunkan kecuali oleh isteri yang sangat dicintainya. Kemudian ia bangun dari tidurnya seakan-akan ia belum puas dari tidurnya itu.

  1. Pasangan Hidup yang Lidahnya Selalu Basah dengan Lantunan Ayat Suci Al Quran

Kebanyakan orang memperindah dirinya dengan hiasan-hiasan materi yang Nampak. Ada yang lupa memperindah dirinya dengan Al Quran, padahal Al Quranlah petunjuk hidup. Dengan Al Quran, sama saja kita memperbaiki akhlak, dan sebaik-baik akhlak adalah yang diajarkan melalui petunjuk Al Quran.

Begitu indah bila di dalam rumah tangga semuanya merupakan orang yang setiap harinya senantiasa berusaha untuk menghafalkan Quran. Rumah yang berkah penuh cahaya kegembiaraan akan janji-janji Allah.

Nah, tenang saja bagi para penghafal Quran, tak perlu mencari yang jauh-jauh sebab bagi penghafal Al Quran pasti dicari dan diharapkan.

  1. Al Quran adalah Bakti Orang Tua kepada Anak

Di sebuah seminar parenting, ada seorang bapak yang bertanya, apakah bila anaknya sholeh doanya akan terkabul?

Ustadz menjawab; “Belum tentu! Apakah orang tuanya sudah ‘berbakti’ kepada anaknya?”

Kemudian dipaparkanlah sebuah penjelasan yang membuat semua hati peserta seminar tersentuh.

Ya, kata bakti tidak harus disematkan kepada anak saja, ada kalanya kata bakti juga disematkan untuk kedua orang tua.

Salah satu bakti orang tua terhadap anaknya adalah orang tua mau dan berkenan mengajarkan Al Quran kepada anaknya. Bila tidak sempat, bisa diamanahkan di lembaga-lembaga informal seperti TPA.

Bagitu indahnya bila orang tuanya setiap hari mengajarkan Al Quran kepada anaknya. Ketika dewasa, tentu saja akan membalas semua budi menjadi anak yang berbakti kepada orang tua.

Pun dengan kedua orang tua, mereka akan lepas tanggung jawab karena telah mengajarkan al quran kepada Anaknya.

  1. Jangan Cemas Di Hari Tua; Ada Al Quran kok!

Setiap orang pasti pernah mencemaskan masa tuanya nanti. Terlebih bila sudah berumur 50-an tahun. Apa yang akan terjadi, apa yang akan dilakukan, dan siapa saja yang akan menemani hidupnya?

Itu wajar, sebab semua juga akan menjadi tua. Bila Anda khawatir dengan masa tua Anda, tak ada salahnya Anda mencari teman sejak saat ini. Al Quranlah teman yang paling setia.

Bila yang lainnya telah berkeluarga dan jarang bertanya kabar, bahkan jarang mengatakan rindu, maka Al Quran menjadi salah satu ‘teman’ yang akan berkata rindu.

Anda bisa membawa Al Quran di mana-mana, tak ada istilah “pengangguran” di masa tua, atau “tidak punya pekerjaan,” dalam istilah Jawa ‘Nglangut’ di masa tua. Sibukkan diri dengan Al Quran, insha Allah mata akan tetap sehat untuk melihat huruf-huruf Quran yang mulia.

Dan hal ini pun sesuai sabda Rasulullah agar nantinya kita pulang dalam kondisi membawa Al Quran;

إنَّكُمْ لاَ تُرْجَعُوْنَ إلىَ اللهِ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِمَّا خَرَجَ مِنْهُ يَعْنِيْ الْقُرْآنَ (رواه الحاكم عن أبي ذر الغفاري)

Sesungguhnya kalian tidak dikembalikan kepada Allah dengan membawa sesuatu yang lebih utama dibanding sesuatu yang keluar dari Allah yaitu al-Quran.

  1. Al Quran sebagai Syafaat

Sebagai manusia, tentunya kita tak akan terlepas dari salah dan dosa. Baik yang disengaja maupun yang tidak sengaja. Baik yang tidak direncanakan maupun dosa yang direncanakan (yang ini tutup mata).

Al Quran kelak akan menjadi syafaat bagi pembacanya, hal ini sesuai hadits Nabi Muhammad Saw:

قْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه (رواه مسلم عن أبي أمامة)

Bacalah al-Quran, niscaya dia kan datang pada hari kiamat sebagai penolong pembacanya.

Keistimewaan Al Quran pun bukan hanya bermanfaat untuk dirinya saja, bahkan Allah memberikan 10 tiket syurga untuk penghafal Al Quran dan yang mengamalkannya seperti dalam sabda Rasululla Saw:

علي بن أبي طالب قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم مـَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَاسْتَظْهَرَهُ فَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ أدْخَلَهُ اللهُ بِهِ الْجَنَّةَ وَشَفَّعَهُ فِيْ عَشْرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلِّهِمْ وَجَبَتْ لَهُ النَّارُ (رواه الترمذي)

Barang siapa membaca dan menghafal al-Quran lalu menghukumi halal dan haram berdasar al-Quran, maka Allah akan memasukkannya ke surga dan memberi hak untuk menolong 10 keluarganya yang telah dipastikan masuk neraka.

  1. Al Quran sebagai Hujjah Ilmu

Hari ini kita sangat berbahagia karena banyak perguruan tinggi di Indonesia yang memberikan beasiswa Hafidz Quran. Berbagai beasiswa disediakan bagi penghafal Al Quran seperti di kampus Universitas Negeri Islam Malang, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dan lain sebagainya.

Terlebih di luar negeri seperti Mesir, sebagai calon intelektual Muslim, beberapa kampus di mesir mensyaratkan hafalan Quran minimal 10 Juz.

Dengan hafal, seseorang akan berpotensi lebih paham maknanya dan bisa menjadi hujjah di setiap pengambilan keputusan terkait hukum-hukum kontemporer.

Tak perlu diragui, Al Quran mengkover semua disiplin ilmu, baik sosial, seni, politik dan keilmuan lainnya semua ada di dalam Al Quran. Tugas kitalah untuk terus menggali mutiara-mutiara Al Quran.

  1. Penghafal Al Quran Bagaikan Al Quran yang Berjalan

Dalam sebuah diskusi islami, seorang anggota diskusi bertanya kepada MH Ainun Najib, apakah seorang muslim wajib menghafalkan Al Quran?

Beliau menjelaskan; “Al Quran itu petunjuk hidup. Tentu saja orang yang hafal Al Quran akan lebih paham tentang petunjuk-petunjuk hidup. Dengan menghafal Al Quran, hidupnya akan dipandu dengan Al Quran.”

Begitu indah bila setiap harinya setiap aktivitas kegiatan kita selalu dihiasi Al Quran. Di saat makan, tidur, belajar semua disertai dengan Al Quran. Di kala sedih, gembira, cemberut, ngambek khawatir atau dalam keadaan campur aduk Al Quranlah sebagai sandaran.

  1. Bila Kita Menolong Al Quran, Maka Al Quran pun Akan Menolong Kita

Al Quran adalah kalamullah sekaligus mukjizat Nabi Muhammad yang hingga saat ini masih utuh tanpa berkurang atau bertambah sedikitpun.

Bila kita meniatkan diri untuk menghafal Al Quran, itu sama halnya kita juga turut merealisasikan jani Allah di dalam Al Quran.

“Sesungguhnya kamilah yang menurunkan Al Quran dan kamilah yang menjaganya.” 

Di dalam ayat tersebut, ada kata “inna” yang berarti kami. Sebagian mufassir menjelaskan bahwa maksud dari ayat tersebut adalah pelibatan manusia dalam hal penjagaan Allah terhadap Al Quran.

Dalam hal menghafal Al Quran, para ulama pun sepakat bahwa hukum menghafal Al Quran adalah fardlu kifayah dan keputusan tersebut diantaranya diambil dari ayat di atas.

Meskipun bukan niat untuk mendapatkan nikmat dunia, namun Allah sendiri yang telah menjamin rizki bagi penghafal Al Quran. Tak sedikit kisah dari kerabat yang telah menghafal Al Quran, mereka diberikan kesejahteraan lahir batin tanpa kekurangan apapun.

So, tak perlu khawatir tentang rizki, sebab setelah menghafal, pastilah susahnya perjuangan tersebut akan diganjar oleh Allah dengan kebahagiaan dari segala penjuru arah.

  1. Jangan Menunda-nunda

Perasaan wegah, memeng lan aras-arasen merupakan kebiasaan buruk yang bisa dialami siapa saja. Dan hal itulah yang menyebabkan manusia malas untuk melakukan sesuatu, termasuk menghafal Al Quran.

Alih-alih menghafal Al Quran, membuka lalu membacanya pun jika kita tidak diingatkan para ustadz, Kyai Ulama barangkali 1 bulan juga belum tentu kita buka.

Sebenarnya, ada banyak hal yang tidak perlu dipikirkan yang akhirnya akan membuat malas kita sendiri. Pikiran ini itu sebenarnya tidak perlu, hanya saja terkadang kekhawatiran yang dimunculkan syetan lebih menguasai daripada harapan rahmat kepada Allah.

Jangan tunda-tunda merupakan langkah terbaik untuk memulai menghafal Al Quran. Detik ini, sekarang, baik di kantor atau menghafal Al Quran di saat kuliah semua bisa dilakukan. Insha Allah semua kemudahan akan datang.

  1. Antara Lupa dan Melupakan

Salah satu hal yang sering dijadikan alasan untuk berhenti menghafal adalah lupa (Innalillahiwainnailaihirojiun). Sebagian berpendapat bahwa bila lupa dosanya akan besar.

Namun, di dalam buku Tetap Menghafal di Saat Keadaan Sibuk menjelaskan bahwa hal yang membuat dosa adalah MELUPAKAN Al Quran, bukan LUPA. Oleh sebab itu, selagi kita masih berusaha terus menderes Al Quran, insha Allah, Allah akan maklumi. Percayakan saja bahwa hanya Dia-lah yang bisa memberikan hafalan Al Quran.

  1. Yang Terbaik

Bila seseorang menghafal, tentunya hari-hari akan disibukkan dengan menderes Al Quran. Di saat itu mungkin kita akan lupa masa depan kita, rencana ataupun yang lainnya.

Namun jangan khawatir, sebab tanpa meminta atau berdoa pun Allah Maha Tahu keinginan hamba-hamba-Nya. Hal ini sesuai hadits yang berbunyi:

Dari Abu Sa’id r.a. berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Allah berfirman, barang siapa disibukkan oleh Al Quran daripada dzikir kepadaku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku dan keutamaan kalam Allah di atas seluruh perkataan adalah seumpama keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (Hr. Tirmidzi, Darami dan Baihaqi).

Begitu besar kesenangan yang telah diberikan Allah, lebih lagi bila Al Quranlah yang menjadi salah satu hal yang bisa membuat hati senang. Jika Allah menghendaki, Allah akan berikan semuanya. Ammmiiin.

 

Bila ada kebaikan dari tulisan ini

penulis berikan sebagai

wujud Seribu Penghargaan untuk Bunda Istilah

Semoga Allah limpahkan rizki terbaik untuknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *