What Does Globalization Do To Religion?

What Does Globalization Do To Religion?

What Does Globalization Do To Religion

Nama               : Zamhari, S.Kom. I/ 18202010007/ Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam

 

CRITICAL RESPONSE

Selasa, 23 Oktober 2018

Buku               : What Does Globalization Do To Religion?

Bab                  : 1 – Selesai

Penulis             : Vincent J. Miller

Dosen              : Dr. Joko Wicoyo, M.Si

 

Globalisasi datang tanpa permisi, seakan tiba-tiba datang begitu saja. Siap tak siap, globalisasi siap merayap di semua bidang; baik ekonomi, politik, sosial bahkan agama. Tulisan Vincent J. Miller bertajuk What Does Gobalization To Do Religion menjawab semua liku-liku arus globalisasi di bidang agama. Ia membuat suatu konsep utuh kehidupan beragama era globalisasi di Indonesia.

Menarik membaca tulisan Vincent, selain hanya berfokus di aspek kehidupan beragama, Vincent juga menghadirkan data-data valid yang memperkuat gagasannya. Sejak awal membaca tulisan Vincent, pembaca seperti diajak menyelami bagaimana cara beragama masyarakat Indonesia di era globalisasi.

Tulisan Vincent terasa lebih hidup dengan kalimat-kalimat sederhana yang mudah dipahami. Vincent mampu memadukan kesederhanaan kalimat dengan kejujuran realitas. Di posisi seperti ini, pembaca bukan lagi sebagai pembaca, namun merasa sedang berada di tengah-tengah gagasan Vincent.

Globalisasi sebagai Homogenisasi

Globalisasi tentunya membawa dampak besar bagi kebudayaan beragama di Indonesia. Dalam hal ini, Vincent membaginya dalam 2 jenis yakni efek Homogenisasi dan efek heterogenisasi.

Vincent; mengutip dari pendapatnya Nigeria Teresa Okure mengungkapkan bahwa salah satu dampak globalisasi sebagai hegemonisasi adalah hancur dan mengikisnya budaya lokal oleh gempuran-gempuran budaya global. Okure juga menegaskan bahwa budaya lokal tidak memiliki kekuatan untuk melawan karena adanya kecenderungan individualisme dan konsumerisme.

Sayangnya, barangkali Vincent minim perhatian dengan “kekreatifan” lokal. Vincent hanya memandang bagaimana kearifan lokal bertahan. Masyarakat Indonesia, terlebih di wilayah desa-desa yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai gotong-royong dalam hal berbudaya beragama memiliki banyak cara untuk bisa survive menghadapi arus globalisasi.

Di desa misalnya, masyarakat mulai membentuk komunitas-komunitas kecil yang siap menghadapi perubahan zaman. Dalam hal berbudaya beragama, banyak lahir komunitas lintas iman yang mempertemukan berbagai perbedaan di dalamnya. Semuanya saling terbuka dan udar prasangka demi perdamaian. Komunitas-komunitas inilah yang akhirnya menjadi akar kuat pencipta sekaligus penggerak “kekreatifan” lokal.

Globalisasi sebagai Heterogenisasi

Di bab ini, Vincent juga menegaskan dampak kedua tentang adanya globalisasi. Pandangan Vincent mengacu pada terbentuknya kantong-kantong komunitas sehobi yang kian lama kian menyempit dan kecil. Bayangkan saja, di era globalisasi, semua mudah didapatkan, seperti halnya detail-detail keinginan yang barangkali menjadi tujuan.

Vincent menggarisbawahi bahwa adanya dampak heterogenisasi ini membuat manusia lambat dalam hal kesadaran menerima realitas menghadapi perbedaan. Padahal, menurut penulis justru adanya keinginan yang mudah didapatkan akan membuat masyarakat lebih cepat beradaptasi.

Hal di atas tentu juga didukung media sosial yang memainkan perannya dengan apik. Melalui media sosial, masyarakat mulai cerdas untuk memilih informasi yang bermanfaat, termasuk bagaimana mengolah perbedaan informasi. Dengan demikian, kiranya sisi positif dari adanya globalisasi dalam hal berbudaya beragama masih mendominasi.

Globalisasi sebagai Deterritorialization

Secara sederhana, Vincent mengungkapkan bahwa deterritorialization mampu melipat jarak dan waktu menjadi lebih cepat dan kecil. Masyarakat tak perlu lama menunggu untuk mendapat informasi di berbagai belahan dunia.

Namun, kelemahan dari deterritolization itu sendiri terletak pada adanya identitas yang kental. Ya, informasi memang berseliweran, namun semua memiliki kepentingannya masing-masing sesuai identitasnya.

Di tataran inilah, dalam lingkup budaya religiusitas menjadi suatu hal yang hanya memamerkan keidentitasan. Ujung-ujungnya, setiap masyarakat yang menjadi pionir di zaman ini lebih sering memainkan simbol-simbol belaka daripada substansi yang ada.

Nama               : Zamhari, S.Kom. I/ 18202010007/ Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam

 Religion, Politics and Class Divisions in Indonesia

CRITICAL RESPONSE

Selasa, 23 Oktober 2018

Buku               : Religion, Politics and Class Divisions in Indonesia

Bab                  : 1 – Selesai

Penulis             : Gerry Van Klinken

Dosen              : Dr. Joko Wicoyo, M.Si

 

Tulisan Gerry dibuka dengan kalimat tanya yang menggelitik; “Apakah orang miskin dengan orang kaya memiliki pengelaman beragama yang berbeda?”

Studi ini secara tersirat juga memberikan gambaran bahwa orang desa merupakan kaum papa, sedangkan orang perkotaan merupakan orang kaya. Mengapa demikian? Hal ini tak terlepas dari luas sempitnya wawasan yang dimiliki yang imbasnya bagaimana cara menyikapi sebuah persoalan termasuk isu-isu agama.

Gerry juga membuat kiasan yang unik mengenai pekerja kelas menengah ke atas dan kelas menengah ke bawah. Bagi kelas menengah ke atas disimbolkan dengan pekerja kerah putih (kantoran), sedangkan kerah biru untuk menengah ke bawah yang cenderung bekerja sebagai buruh ataupun bertani.

Secara common sense, kesimpulan yang didapat, Gerry menjelaskan bahwa kaum papa lebih memilih diterapkannya hukum syariah, sedangkan kaum menengah ke atas lebih legowo menerima realitas yang saat ini dijalani.

Gerry melakukan penelitian ini dengan baik. Kedepannya, Alangkah lebih mengena bila penelitian lebih dikhususkan untuk orang-orang yang berkerah putih mengingat salah satu iming-iming hukum syariah juga mengacu pada kemakmuran. Dengan demikian, tidak ada jurang kelas sosial untuk menentukan setuju tidaknya hukum syariah diterapkan. Semua responden pure mengungkapkan gagasannya masing-masing.

Pena yang Tak Bertahta

Pena yang Tak Bertahta

Pena yang Tak Bertahta
Pixabay.com

Kau ada namun ditiadakan

Kau berpengaruh namun tak diperankan

Kau sangat penting namun ditipu dengan kepentingan

 

Wahai negriku

Di mana kau letakkan arti pahlawan?

Di jas yang bertahtakan kecurangan

Atau di meja persekongkolan

 

Di bagian sejarah mana kau jelaskan keberadaan mereka

Di episode yang keberapa kau tunjukan peran mereka

Malangnya namamu di bawah konspirasi dunia

Jatuhnya kedudukanmu dimata para perebut tahta

 

Merdeka….

Kala suaramu tak didengar

Merdeka…

Kala jasamu tak dikenang

 

Merdeka

Kala usahamu tak diabadikan

Dimana arti ulama  yang sesungguhnya

Diujung mimbar yang tak tegak

Dijahitan sorban yang tak sama

Atau di dalam masjid yang tak berimam?

 

Sedih kalaku dengar rampasan kebebasan yang kenal kedudukan

Jatuh air mata melihat kau dibungkam

Tapi… sejarah akan terulang

Saat suara mereka yang didengar

 

Takutlah para pendusta kemerdekaan

Saat ajakan mereka diaminkan getarlah para perebut kekuasaan

Karna kau adalah garamnya kehidupan

Karna kau adalah para pembawa cahaya iman

 

ASTI UMMAH REZEKI 
Mahasiswa STIT Alhidayah Kawalu Tasikmalaya
Kuliah Semester 4 Prodi PBA

 

Contoh Essai Masuk S2 UGM

Contoh Essai Masuk S2 UGM

Alat Hegemoni Demi Eksistensi:

Menakar Energi Positif dan Negatif Media Pemberitaan Berbasis Online dan Solusinya

Gambar Koran
pixabay.com/

Contoh Essai Masuk S2 UGM — Sejak tahun 2008 lalu, ada fenomena yang unik di Amerika Serikat. Beberapa media massa berbasis koran, ramai-ramai mengeluarkan edisi “end edition” alias edisi terakhir.

Konon mahalnya biaya produksi koran di sana membuat produsen beralih untuk menggunakan basis online untuk meneruskan hidup mereka. Media pemberitaan berbasis online memberi keuntungan dan biaya produksi yang lebih banyak dan proporsional.

Padahal beberapa media massa tersebut bisa dibilang sangat masyhur di negari Paman Sam itu. The Washington Post misalnya, memiliki hati tersendiri di kalangan pembacanya. Bahkan usianya sangat tua untuk ukuran media massa (139 tahun, berdiri pada tahun 1877).

Reputasinya sebagai media besar di negeri Paman Sam tersebut sudah tidak dipertanyakan lagi. Namun pada tahun 2013, media tersebut sahamnya jatuh dan mengalihkan produksi beritanya ke media online yang dinilai lebih menguntungkan.

Perubahan paradigma media massa di Amerika Serikat ini cukup menarik di tengah derasnya arus informasi yang menuntut cepat, akurat dan benar-benar informasinya dibutuhkan. Otomatis hanya ada dua bentuk media saja yang bisa mengakomodir keinginan pelanggannya.

Kalau tidak radio, apalagi kalau bukan media online itu sendiri. Keduanya memiliki fleksibilitas dan efisiensi dalam produksinya. Tidak salah apabila sekarang banyak perusahaan media yang besar dari TV atau koran, mengalihkan pandangannya pada media pemberitaan berbasis online.

Untungnya, media seperti The Washington Post hanya mengalihkan basis produksinya saja. Tidak sampai gulung tikar lalu ditutup total. Karena apabila ditutup total, sudah tentu pekerja media yang terkena dampaknya.

Hanya tentu saja hal ini cukup mengganggu reputasi dari The Washington Post sendiri yang besar bukan karena media online-nya. Otomatis reputasi mereka sebagai media besar akan sangat mungkin bergeser apabila minim dalam melakukan inovasi dan hanya berkutat untuk menyelamatkan nama besar mereka.

Bak Jamur di Segala Musim

Gambar Koran Lama
pixabay.com

Bagaimana dengan media pemberitaan di tanah air kita? Bisa dikatakan media seperti koran masih banyak peminatnya. Bahkan di wilayah perkotaan ataupun kawasan terpencil, muncul koran-koran baru yang hadir dengan perspektif yang makin beragam. Bahkan mulai menyaingi koran-koran besar atau koran dengan skala nasional.

Namun Indonesia juga merupakan negara dengan jumlah pengakses internet salah satu yang terbesar di dunia. Bahkan media sosial populer seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya “dikuasai” pengakses dari tanah air tercinta ini.

Jumlah pengakses internet di Indonesia yang mencapai kisaran 82 juta orang menurut data Kementrian Komunikasi dan Informasi (2015), membuat media pemberitaan yang sudah ada mulai melirik pasar ini. Ini belum termasuk media pemberitaan baru yang masih dalam taraf mencari nama. Potensi inilah yang coba dimanfaatkan beberapa media pemberitaan yang besar berkat televisi maupun koran. Mereka akhirnya terjun di pemberitaan berbasis online.

Tidak hanya media besar saja yang mengambil keuntungan. Banyak sebenarnya pemain baru dalam bisnis berita online ini. Nama media pemberitaan berbasis online yang diklaim tertua di Indonesia adalah Detik.com.

Mereka memang bisa dikatakan punya pengalaman dalam pemberitaan online. Sekalipun mereka juga sudah memiliki stasiun televisi berbasis digital (Detik TV), namun justru saluran televisi tersebut lahir belakangan. Terbalik dengan Kompas.com yang besar berkat korannya, atau Liputan6.com yang besar karena program acara beritanya di SCTV.

Uniknya, stigma umum masyarakat yang melekat terhadap media yang dibesarkan dari koran atau TV tersebut, ternyata juga masih melekat kuat. Media berita online Republika Online misalnya, selalu dikaitkan dengan basis massa Islam.

Sebuah stigma yang tadinya melekat kuat pada setiap pemberitaan media ini dalam bentuk koran. Kompas.com mengalami hal yang sama dengan bentuk TV-nya, stigma pemberitaan di koran yang menyasar kalangan terdidik dan non Islam masih melekat kuat di berita online-nya.

Lalu detik.com yang banyak dikaitkan dengan basis akar rumput dan anak muda. Vivanews.com dari sisi politis cenderung ke arah partai tertentu karena faktor kepemilikannya.

Ini menandakan bahwa media pemberitaan online juga memiliki politik media yang serupa dengan politik media yang kita lihat di setiap pemberitaan. Malah jika melihat situasi dan kondisi saat ini, bisa dikatakan media pemberitaan online memiliki kekuatan tersendiri untuk menggiring opini massa.

Kejadian 4 November lalu misalnya, penulis sendiri mengalami traffic pemberitaan online yang bisa dikategorikan “panas” dan selalu di update tiap beberapa menit bahkan detik. Itu belum termasuk pesan singkat via WA atau BBM yang uniknya mereka mengopi halaman dari sebuah berita online.

Menariknya lagi, mereka membuat penafsiran terhadap berita yang muncul. Inilah yang tidak bisa dilakukan oleh media mainstream seperti TV atau Koran.

Adanya media berbasis online juga menguntungkan bagi para penulis pemula. Ini bisa dibuktikan dengan banyaknya pengakses internet di Indonesia yang didominasi oleh anak muda. Para penulis pemula ini lebih banyak berbicara di media sosial. Sebagian kecil yang lain menulis di blog, website maupun forum.

Konsep yang “Merangsang”

Booming-nya media pemberitaan berbasis online belakangan ini tentu tidak bisa lepas dari kebutuhan primer manusia, khususnya di Indonesia. Kita tahu bahwa segala hal mengenai gadget, mulai dari handphone, smartphone, tablet, notebook bahkan PC sekalipun sudah menjadi bagian gaya hidup.

Gaya hidup ini sekarang sudah jadi kebutuhan yang mengikat. Ini bisa dibuktikan dengan hadirnya ponsel di kalangan pelajar dan anak-anak usia 6-12 tahun yang notabene adalah pelajar SD. Belum lagi kalangan remaja, usia dewasa maupun para pekerja yang membutuhkan mobilitas dalam pekerjaannya.

Melihat fakta itu, kebutuhan akan informasi berupa berita sangat penting untuk menunjang perkembangan dan pengetahuan mereka mengenai kejadian terkini. Adanya kebutuhan itu ditopang dengan berbagai alat komunikasi canggih, praktis dan fungsional. Sehingga saat ini kita bisa melihat bahwa media seperti televisi, koran dan radio memiliki sejumlah kelemahan yang mungkin perannya bisa saja bergeser atau berkurang.

Walaupun pemberitaan televisi dapat menyajikan suara dan gambar sekaligus, namun biaya produksinya terbilang mahal. Hanya pemodal besar saja yang bisa masuk area ini. Memang, di tanah air terdapat stasiun televisi swasta yang fokus pada konten pemberitaannya seperti Metro TV atau TVOne.

Namun sekalipun mencerdaskan, motif politik media kedua stasiun televisi tersebut menjadi tidak menarik di kalangan akar rumput yang lebih menghendaki stasiun TV yang kontennya bersifat hiburan. Reputasinya sebagai TV berita tidak lebih dari sekedar jargon untuk menutupi reputasinya yang lebih tepat penyebutannya; TV politis.

Berita Koran atau majalah memiliki sejumlah keunggulan terutama untuk mengedukasi masyarakat. Mengingat koran memancing orang untuk membaca, sehingga informasi yang ada bisa diserap masyarakat dan masyarakat bisa belajar banyak dengan mengembangkan berbagai perspektif.

Namun Koran juga memiliki kesan tidak praktis karena faktor penggunaan kertas yang besar dan cukup tebal. Sehingga bagi orang yang menginginkan berita yang cepat dan berisi hal semacam ini jadi kendala utama.

Untuk saat ini, dari segi teknis produksi dan penggemar mungkin media pemberitaan online hanya bisa disaingi oleh Radio. Sebagaimana berita online, pemberitaan di Radio memiliki kecepatan dalam pembuatan beritanya.

Terutama isi berita radio tidak membutuhkan kalimat yang rumit dan panjang. Selain itu radio bisa dijangkau juga hanya dengan gadget, walaupun harus menggunakan headset untuk sekedar mendengarkan saluran radio yang disukai. Terlebih radio punya penggemar setia dari segala usia dan segmentasi tertentu seperti komunitas, anak muda, keluarga kecil dan orang lanjut usia.

Namun radio bukanlah media yang bisa dijangkau secara nasional dengan mudah. Karena sistem radio di Indonesia bersifat lokal kedaerahan.

Alasan lain yang cukup mengganggu perkembangan radio adalah keharusan penggemarnya untuk membawa antena atau headset sebagai penerima sinyal. Mungkin kedengarannya sepele, namun tentu saja tidak ada orang yang mau susah atau “ribet” dengan barang bawaannya.

Kebutuhan arus informasi secepat dan sepraktis radio, namun mengedukasi pembacanya seperti koran dan penyampaian fakta objektif layaknya televisi inilah yang membuat berita online memiliki keunggulan.

Hanya dengan alat komunikasi terkini seperti smartphone saja sudah cukup untuk mengakses berita yang ada, dari manapun dan kapan pun. Dapat diakses 24 jam dan diperbaharui setiap hitungan menit dan detik menjadikan berita online dapat menjadi magnet tersendiri.

Konsep utama berita online sendiri lebih mendekati koran atau majalah. Karena sama-sama mengandalkan teks sebagai pengantar berita. Namun dalam pengemasannya tidaklah serumit koran yang membutuhkan penjelasan panjang lebar.

Sebagai gambaran, jika di koran estimasi kata yang dibutuhkan bisa mencapai 300 sampai 500 kata, maka berita online hanya membutuhkan 100 sampai 300 kata saja. Lengkap dengan gambar terkait sebagaimana koran, namun juga bisa disisipi video layaknya TV.

Satu kelebihan lainnya dari berita online adalah kebebasan untuk mengomentari berita yang tersaji. Memang selama ini radio dan televisi masih memungkinkan siapa saja untuk berkomentar seperti acara Editorial Media Indonesia (Metro TV) atau harian Kompas Pagi (Kompas TV).

Namun tetap saja memiliki keterbatasan karena tidak semua orang bisa “menembus” redaksi dan berkomentar secara langsung. Sedangkan media pemberitaan online memiliki kolom khusus untuk menampung semua komentar dari siapa pun.

Satu hal yang menarik adalah kita bisa melihat secara langsung berita yang tengah hangat atau populer dengan hanya melihat jumlah komentar terbanyak dalam beberapa berita.

Beberapa media online di tanah air juga mengembangkan berbagai konsep untuk menaikkan jumlah traffic pembacanya. Traffic pembaca adalah hidup dan mati media pemberitaan online. Karena selain mengandalkan pendapatan dari iklan, media online juga menggantungkan penghasilan dari pengelola jasa web yang ditentukan dengan adanya traffic.

Sebagai gambaran, Detik.com memiliki sekitar 600.000 visitor tiap hari. Satu halaman web yang yang diakses sekali bernilai $0,01 (server Indonesia, data saya dapatkan karena saya berkecimpung pada penulisan dunia maya). Jadi normalnya keuntungan per harinya ditaksir bisa mencapai $6000 atau 60 juta rupiah hanya dengan mengandalkan traffic.

Itu belum termasuk jika harga per website-nya terus meningkat (jika pengunjung website-nya meningkat, meningkat  pula harga halamannya) dan iklan yang tentu saja bisa menarik pendapatan yang lebih menguntungkan. Maka tidak heran media pemberitaan online saat ini di setiap halamannya disuguhi iklan dengan gambar besar maupun kecil.

Untuk berita yang panjang, biasanya media pemberitaan online akan membuat semacam tautan langsung ke halaman selanjutnya layaknya kata “bersambung pada halaman…” yang seperti kita temui pada koran. Namun konsepnya terdapat perbedaan antara satu media pemberitaan online dengan yang lainnya.

Detik.com lebih suka membuat halaman review berindeks (halaman 1-2-3 dipisahkan dengan tautan bernomor). Sedangkan pada Kompas.com dan Liputan6.com halaman yang panjang hanya tinggal diteruskan tanpa harus membuat indeks baru seperti Detik.com. Kompas.com sendiri membuat sebuah opsi “Show All” sehingga tanpa perlu pengurutan nomor. Pembaca dapat membaca berita keseluruhan tanpa harus mengklik lebih dari dua kali.

Satu konsep yang baru dikembangkan oleh beberapa media pemberitaan online adalah adanya tanggapan atau respons pembaca berupa kode smiley. Konsep ini sebenarnya lahir dari konsep “like” atau “suka” yang sudah ada di media sosial seperti Facebook. Konsep ini memungkinkan pembaca untuk menunjukkan respon terhadap suatu berita. Detik.com dan Liputan6.com adalah dua media yang mempunyai konsep ini.

Namun terdapat juga maksud tersembunyi sekaligus menguntungkan dalam konsep-konsep semacam ini. Tentu saja yang dimaksud adalah untuk menaikkan traffic kunjungan. Jadi seolah pembaca dirangsang untuk berkomentar dan menanggapi berita secara lebih praktis dan menguntungkan bagi media. Sekaligus menjadi ajang perdebatan tentang suatu berita atau fakta yang disajikan, serta tanpa batasan komentar tertentu.

Alat Hegemoni dan Solusi Mengatasi Energi Negatifnya

Koran Online
pixabay.com

Dari sejumlah kelebihan dan keuntungan media pemberitaan online yang ada, muncul beberapa pertanyaan terkait. Mungkinkah media pemberitaan online menjadi sebuah alat penguasa atau pihak yang berkepentingan untuk mempengaruhi massa dengan segala kemampuannya itu?

Kalau memang bisa menjadi alat untuk mempengaruhi massa, apakah media pemberitaan online juga memiliki pengaruh yang benar-benar kuat dengan segala konsep yang diusungnya

Untuk saat ini, pertanyaan itu sulit untuk dijawab. Terlebih rata-rata media pemberitaan online di Indonesia masih berumur jagung. Tidak seperti koran atau televisi yang jelas-jelas “tua” dari segi reputasi maupun politik medianya. Pengaruh dan eksistensinya juga tidak perlu dipertanyakan lagi.

Ibarat anak kecil yang sedang belajar merambat, media pemberitaan online sejatinya masih mencari bentuk. Rata-rata media online masih bersifat pelengkap saja dalam pemanfaatannya. Tercatat hanya Detik.com yang bisa dikatakan besar dan murni dari usaha pemberitaan online-nya.

Namun, jika kita berbicara mengenai anak muda dan usia produktif (18-40 tahun) nampaknya media pemberitaan online bisa dikatakan mulai berbicara.

Sedikit banyak mulai banyak pengaruh media pemberitaan online yang bisa menggerakkan massa atau bahkan “meracuni” massa. Adanya media sosial yang mendukung, tak jarang berita online disebarkan untuk memperkuat argumen subjektif penyebarnya.

Implikasinya mulai ada semacam perang perspektif dengan menggunakan berita online sebagai dasar untuk memperkuat argumen dan berita online mulai menjadi patokan dalam berpendapat.

Saya katakan “meracuni” karena ada beberapa media pemberitaan online yang terkadang tidak menggunakan etikanya dalam menulis berita. Munculnya pemberitaan yang tidak proporsional dan kelihatan dibuat-buat agar berita tersebut laku untuk dibaca.

Biasanya media pemberitaan online ini bisa dikatakan anti-mainstream sekaligus ekstrem. Media pemberitaan online yang sebelumnya tidak dikenal oleh siapapun. Bahkan kita tidak tahu siapa yang menggerakkan media pemberitaan online tersebut.

Ciri-ciri berita yang ditampilkan oleh media pemberitaan online ekstrem ini adalah isi pemberitaannya banyak mengandung opini atau “kepalsuan pernyataan” yang sering disebut Hoax di internet.

Bumbu kebencian sangat terasa dengan segala prasangka yang dilontarkan melalui berita. Anehnya tidak sedikit juga yang percaya bahwa berita tersebut benar. Lalu dengan mendasarkan berita hoax tersebut, akhirnya beberapa individu menyebarkannya lewat media sosial.

Hal ini tentu cukup mengganggu perspektif masyarakat. Internet sekarang ini sudah banyak dikritik karena dianggap tidak dapat memperluas perspektif masyarakat, namun justru menihilkannya. Terlebih dengan adanya pemberitaan online yang “ngaco” membuat masyarakat dikhawatirkan akan berpikir sempit dan bertindak sendiri.

UU ITE sendiri menurut saya pribadi masih kurang efektif dalam menalangi penyebaran berita seperti ini. Kekuatan hukumnya masih menjadi polemik lantaran banyak kasus serupa yang tersangkanya justru bukan dari pihak penyebar utama, melainkan orang yang ikut menyebarkannya saja yang justru terkena imbasnya. Belum pernah kita mendengar pemilik media pemberitaan online yang menyebarkan berita hoax tersebut ditahan atau diadili.

Tentu kita masih ingat tentang pemberitaan tentang Joko Widodo dan keluarganya yang disebut melakukan semacam ritual untuk memanggil Ratu Laut Selatan agar memenangkan pemilu presiden 2014 kemarin.

Berita ini pernah diangkat kisahnya di Mata Najwa edisi “Cerita Anak Presiden” yang pembicaranya merupakan dua anak Presiden RI, Kaesang Pangarep dan kakaknya, Gibran. Menurut keduanya berita tersebut tidak benar dan uniknya berita itu malah jadi bahan lelucon mereka.

Apakah mereka dirugikan? Bisa ya bisa tidak. Ya, karena pemberitaan itu nama mereka jadi melambung. Tidak, karena berita tersebut jelas tidak benar adanya, bahkan ada kesan menyudutkan keduanya. Apabila berita itu lebih dipercaya oleh masyarakat tentu keduanya justru nantinya dinilai negatif oleh masyarakat.

Inilah energi positif maupun negatif yang diperlihatkan media pemberitaan online di Indonesia saat ini. Bukan hanya bersifat “merangsang” dan membuka perspektif di kalangan usia produktif di tanah air. Namun juga ditambah dengan faktor ketimpangan informasi yang terjadi.

Tidak adanya sensor atau filter tentang berita di internet turut menyumbang “kebohongan” atas nama media pemberitaan. Tentu apabila ini dibiarkan filosofi informasi sebagai penambah ilmu pengetahuan menjadi terbalik; membodohkan masyarakat dan mempersempit perspektif.

Media pemberitaan online telah menjadi alat untuk meraih keuntungan sekaligus sebagai jalan untuk meraih pengaruh masyarakat. Tujuannya pun jelas, agar media pemberitaan tersebut selalu eksis dan dapat mempengaruhi masyarakat terutama anak muda dengan cara yang kotor.

Maka tidak heran apabila saat ini banyak kalimat kebencian (hate speech) yang justru menyebar dari media pemberitaan, lalu mengakar ke media sosial melalui tautan berita yang ada. Anak muda yang hanya bisa mengakses tanpa filter dalam diri mereka bisa teracuni dan dibodohi berita-berita semacam ini.

Mungkin sudah saatnya kita melebarkan sayap apa yang disebut sebagai literasi media. Literasi media baru menyentuh level pertelevisian saja. Belum menyentuh media berjaringan yang tingkat penyebaran informasinya lebih luas dan lebih dinamis.

Tentu kita tidak ingin media pemberitaan online yang sejatinya bisa dimanfaatkan untuk memperluas pengetahuan antar individu maupun kelompok, malah menjadi di kambing hitamkan sebagai sumber kebodohan dan kesempitan informasi yang kian marak terjadi serta dimanfaatkan sekelompok orang yang ingin berkuasa di negeri ini dengan cara yang tidak pantas.

Contoh-contoh Latar Belakang Makalah Penelitian

Contoh-contoh Latar Belakang Makalah Penelitian

Contoh Latar Belakang Makalah Di mana-mana namanya anak kuliahan sama aja. Kalau sudah tingkat akhir rata-rata masalahnya sama semua. Mulai dari cara bikin proposal, bikin skripsi sampai cara bikin dosen luluh hatinya, semuanya ditanyain. Kalau bisa sampai ketemu jodohnya. Kayak udah mau nikah aja… hehe

Contoh latar belakang makalah penelitian
ACADEMIC INDONESIA

Tapi ya itu serunya anak kuliahan. Saya sendiri rindu sekali dunia seperti itu, di mana ada saja cerita anak tugas akhir mulai dari nyesek dada sampai yang bikin nyengir. Seru! Jadi buat kalian yang masih kuliah nikmati saja dunia Anda itu.

Namun jangan kaget ya kalau sudah mau tahap akhir alias semester tua. Masalahnya akan sama saja dengan kakak angkatan. Sampai-sampai masalah administrasi kelulusan saja jadi bahan curhatan. Kebayang kan perjuangan mahasiswa tingkat akhir yang serba ruwet dan bikin kesel itu? Hehehe…

Itu kalau sudah melakukan sidang, bagaimana dengan mahasiswa yang baru mau mulai menulis tugas akhir macam skripsi? Tambah bingung lagi. Nulis proposal penelitian kayak nulis surat cinta. Sulit ditulis namun terbayang selalu dalam hati hehe…

Nah yang satu ini saya mau menjelaskan mengenai cara membuat latar belakang penelitian. Ini adalah penyakit yang bisa dibilang diderita anak tugas akhir. Lebih-lebih buat yang sudah mengajukan judul dan mau seminar proposal ini adalah penyakit akut. Karena tanpa latar belakang jelas, bagaimana semua orang akan tahu isi penelitian Anda?

Apa itu Latar Belakang Penelitian?

latar belakang masalah
ACADEMIC INDONESIA

Setiap kita dalam menyelidiki segala hal tentang kehidupan, pasti ada saja kita ingin tahu sebabnya. Serta setiap kita ingin memulainya, pasti ada alasan pasti kenapa harus dilakukan dan kenapa hal tersebut penting untuk diselidiki. Nah, dua logika itulah yang menjadi dasar kenapa latar belakang penelitian menjadi penting dalam setiap karya ilmiah.

Agar semua orang dapat mengerti apa yang kita akan teliti, maka kita butuh menuliskan alasan-alasan, sebab masalah, dan kata kunci yang ada dalam penelitian. Inilah dasar utama mengapa latar belakang penelitian harus dituliskan. Selain itu jika orang lain ingin paham dengan apa yang kita teliti, kita bisa bercerita dalam latar belakang penelitian.

Konsepnya kira-kira gambarannya seperti cerita berikut ini. Ketika kita masih kecil tentu bertanya-tanya kenapa kita harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Konyolnya (atau lugunya, hihihi), kita cuma mengikuti saja alias manut-manut mawon dengan tugas yang diberikan oleh Bapak/Ibu guru tanpa kita tahu apa manfaatnya.

Padahal di buku pelajaran SD, SMP bahkan sampai perguruan tinggi ada tertulis standar kompetensi yang diharapkan. Standar kompetensi itulah yang menjadi dasar kenapa pelajaran yang kita pelajari dituliskan.

Standar kompetensi hanya satu dari sekian banyak kenapa hal-hal semacam itu dituliskan. Konsepnya sama dengan latar belakang, namun lebih rinci dan sasaran yang dituju tepat, sedangkan latar belakang biasanya abstrak dan modelnya mirip cerita.

Latar belakang penelitian adalah dasar dilakukannya penelitian beserta apa yang ingin dicapai dalam penelitian tersebut. Dalam penelitian hal ini menjadi wajib karena tanpa itu kita tidak punya dasar ilmiah dalam melakukan penelitian. Kurang lebih berisi mengenai alasan kenapa latar belakang tersebut dituliskan.

Alasan penelitian tersebutlah yang nantinya menjadi dasar kenapa tulisan ilmiah baik itu jurnal, skripsi, tesis dan lain sebagainya dituliskan. Jadi bisa dikatakan latar belakang adalah langkah awal bagi kita dalam menulis penelitian.

Jadi ibarat rumah, latar belakang adalah pintu masuk menuju rumah. Sebelum masuk ke ranah penelitian, latar belakang harus dibuat agar apa yang akan kita teliti menjadi real dan konkret nantinya. Latar belakang merupakan langkah yang harus dipenuhi sebelum menuliskan hal-hal yang lain seperti rumusan masalah, tujuan, daftar pustaka dan sebagainya.

Manfaat Latar Belakang Penelitian

Manfaat latar belakang
ACADEMIC INDONESIA

Ibarat Archimedes menemukan sesuatu dan berkata “Eureka!”, pasti ada maksud yang tersirat. Nah bicara soal Archimedes mungkin saya punya jawaban yang menarik soal ini meskipun abstrak.

Suatu hari Archimedes diminta oleh raja untuk mengecek apakah mahkota yang baru digunakan olehnya memang benar-benar asli dari emas. Tentu Archimedes dituntut bukan saja menentukan apakah mahkota ini asli atau tidak, namun disertai dengan cara ilmiah bagaimana melakukannya.

Singkat cerita Archimedes menenangkan diri dan masuk ke dalam sebuah bak mandi. Nah ada yang menarik ketika ia masuk ke dalam bak mandi tersebut.

Air yang ada di dalamnya tumpah ke luar dan mengurangi volume dalam bak mandi itu. Archimedes langsung respek dan berkata “Eureka, eureka!” yang artinya “kutemukan”. Maksudnya ia telah menemukan jawaban atas masalah raja tersebut.

Kita bisa mengambil manfaat dari cerita tersebut. Archimedes memang tidak menuliskan secara langsung apa yang dialaminya. Namun mungkin cerita ini tidak akan sampai kepada kita tanpa ada yang menuliskannya.

Kita tidak tahu cara pikir Archimedes tentang hal tersebut apabila tidak dituliskan. Serta kita tidak akan tahu bagaimana alur berpikir Archimedes mengenai hal tersebut.

Nah, dari situlah kita bisa asumsikan bahwa Archimedes memiliki masalah. Sebelum ia menemukan jawabannya dalam bak mandi dia tentu telah berpikir, berproses dan berusaha untuk menemukan jawaban atas masalah tersebut. Dari situlah ia dapat menemukan jawaban secara rinci dan spesifik sesuai dengan problem awalnya.

Hal itulah mengapa latar belakang penelitian dituliskan. Manfaatnya kira-kira seperti yang ada di bawah ini:

  1. Menjelaskan dengan rinci kenapa kita melakukan penelitian.
  2. Menegaskan bahwa apa yang akan kita teliti bermanfaat baik. Bukan saja kepada ilmu pengetahuan, namun juga lembaga maupun siapa pun yang menjadi subjek penelitian.
  3. Memberi gambaran konkret dilakukannya penelitian bagi penguji dan pembaca.
  4. Dapat dikembangkan menjadi penelitian lain apabila tujuan dari penelitiannya terlalu lebar.
  5. Membuat pembaca dapat menentukan rincian atau detail penelitian sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami penelitian yang anda lakukan.
  6. Menjadi pijakan kita selanjutnya dalam melakukan penelitian agar fokus dengan masalah yang diangkat.

Cara Membuat Latar Belakang Masalah?

cara membuat latar belakang masalah
ACADEMIC INDONESIA

Banyak yang beranggapan bahwa menulis latar belakang penelitian hampir mirip dengan konsep segi tiga terbalik. Semakin ke bawah, semakin mengerucut atau makin spesifik. Eittss tunggu dulu, tidak sesederhana itu juga melakukannya.

Kenyataannya jika menggunakan konsep semacam itu mungkin tidak masalah di penjelasannya, tapi sangat kontras pada prakteknya. Kenapa? Karena latar belakang penelitian titik tekannya adalah alasan dan perumusan masalah. Bukan solusi macam opini, essay, atau artikel.

Karena titik tekannya alasan dan perumusan masalah, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Kerangka Latar Belakang

Setidaknya dalam menulis latar belakang penelitian kerangka yang harus ada yaitu:

  1. Dasar pendapat ahli mengenai suatu fenomena atau konsep dalam teori. Sehingga akan tergambar apa yang hendak dibahas.
  2. Masalah atau problematika yang akan diangkat. Nah di sinilah letak di mana anda harus menulis sebab-sebab dilakukannya penelitian.
  3. Menjelaskan subjek dan objek penelitian. Tentu setelah kita menulis masalah yang terjadi, anda memperkenalkan dengan singkat subjek dan objek yang akan diteliti beserta perbedaan permasalahannya.
  4. Arti penting sebuah penelitian. Di sinilah anda tuliskan mengenai apa yang akan anda cari dalam penelitian sebelum melangkah ke step selanjutnya.

Cara Menuliskannya

Setelah anda tahu kerangka penelitian yang anda hendak buat, sekarang merupakan langkah dalam penulisannya:

  1. Tulislah terlebih dahulu pendapat ahli beserta buku atau referensi yang hendak anda kutip. Gunakanlah perspektif anda dengan bijak dan terarah.
  2. Setelah itu jabarkanlah perspektif anda tentang masalah yang akan anda teliti. Apakah ada kemungkinan berbeda dengan teori atau konsep yang diangkat, atau justru ada yang hendak anda kritisi mengenai teori atau konsep yang ada.
  3. Menggunakan berbagai referensi sebenarnya semakin bagus mengingat tulisan anda akan “kaya logika dan perspektif”. Namun jangan sampai pendapat anda tertutupi oleh pendapat ahli tersebut. (Yang satu ini harus penulis akui, agak susah dan butuh latihan)
  4. Jika anda mengutip dari internet, pastikan bahwa itu hanya informasi mengenai subjek dan objek penelitian. Jangan anda mengutip untuk pendapat para ahli. Karena anda bisa dibilang melakukan plagiat.
  5. Panjangnya tulisan tidak dibatasi, namun akan lebih baik jika anda menulisnya dengan runtut, spesifik dan terarah.
  6. Terakhir tulislah apa yang hendak anda cari dalam penelitian. Sehingga orang lain akan memahami tulisan anda apakah hendak mengaplikasikan, memodifikasi atau mengkritisi teori dan konsep yang ada.

Tips dan Trik

tips trik membuat latar belakang masalah
Diambil dari Bouncee.con dengan Beberapa Gubahan

Menulis latar belakang penelitian baik untuk jurnal, skripsi, dan tulisan ilmiah lainnya sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Apalagi jika anda rajin membaca jurnal atau buku referensi pasti ada berbagai cara dan alternatif.

Hanya saja mungkin ini akan menjadi kendala bagi anda yang masih bingung apa itu penelitian dan arti pentingnya. Nah di bawah ini ada beberapa tips dan trik yang bisa dicoba.

  1. Menulis saduran pendapat ahli di latar belakang penelitian tidak seperti ketika kita menulis kerangka pemikiran atau kerangka teori. So, cukup satu atau dua saduran pendapat ahli saja. Lalu tinggal dipadukan dengan pendapat anda.
  2. Panjang tulisan terkadang memang menentukan kualitas anda. Namun alangkah lebih baik jika itu diimbangi dengan kualitas informasi yang didapatkan. Jadi jangan terpancang dengan panjangnya tulisan, kualitas informasinya yang lebih penting.
  3. Jangan lupa perhatikan tujuan penelitian. Ini penting untuk mengingat apa yang anda ingin tulis dalam latar belakang penelitian. Anda tentu tidak mau kan menulis latar belakang tapi ujung-ujungnya malah bikin pusing?.. Hehehe…
  4. Selalu koreksi dan teliti dalam penulisan. Explore sisi-sisi yang dianggap penting dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Terkadang sudut yang tidak penting justru bisa jadi penting karena informasinya dalam dan berhubungan.

Contoh Latar Belakang Penelitian

contoh latar belakang masalah
bsnscb.com

Agama dan Konflik:

Make-Up Pemberitaan Konflik Suriah pada Detik.com dan Kompas.com (Analisis Framing)

Kata konflik, berasal dari bahasa Latin confligere, yang berarti saling memukul. Dalam pengertian sosiologis, konflik dapat difahami sebagai suatu “proses sosial” di mana dua orang atau dua kelompok orang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.

Wujud konflik yang paling jelas adalah perang bersenjata, dimana dua atau lebih bangsa atau suku bangsa saling tempur dengan maksud menghancurkan atau membuat pihak lawan tidak berdaya.1 (Bambang Sugeng,  2007:1).

Adapun yang dimaksud dengan konflik antar agama disini tidak jauh berbeda dengan pengertian di atas, yaitu dimana ada dua pihak yang mengatasnamakan agama atau sekte untuk menyingkirkan agama atau sekte yang lain.

Tuduhan bahwa agama ikut andil dalam memicu konflik dan sebagai sumber konflik yang terjadi antar umat bergama memang sulit dibantah.

Secara historis, mulai dari adanya Perang Salib sampai insiden pengrusakan tempat ibadah di Situbondo, Tasikmalaya, Maluku, dan yang masih terus berjalan hingga sekarang di Ambon, Poso, serta beberapa kejadian di tempat lain di negara kita merupakan bagian kecil dari banyaknya contoh betapa agama masih tampil sebagai pemicu konflik.

Konflik ini tidak hanya terjadi antar umat beragama tetapi juga di kalangan intern umat beragama, seperti yang terjadi di Parung (Bogor) dan NTB, yakni penyerangan anggota FPI (Front Pembela Islam) terhadapan para penganut Islam golongan Ahmadiyah.

Ironis memang, karena agama di satu sisi mengajarkan dan mendambakan masyarakat yang religius, penuh kedamaian, saling mencintai, saling mengasihani dan saling tolong menolong; namun di sisi yang lain kondisi objektif masyarakat jauh dari tatanan ideal agama (Marzuki, 2012:1). Artinya secara tidak langsung harus diakui bahwa agama punya dua mata sisi pedang yang saling berlainan dan kompleks.

Terdapat beberapa faktor yang melatar – belakangi konflik antar agama itu sendiri seperti yang dalam tulisan Dr. Marzuki, M.Ag (2012) yaitu: 1) Sifat dari masing-masing agama yang mengandung tugas dakwah atau missi.

2)Kurangnya pengetahuan para pemeluk agama akan agamanya sendiri dan agama pihak lain 3) Para pemeluk agama tidak mampu menahan diri, sehingga kurang menghormati bahkan memandang rendah agama lain 4) Kaburnya batas antara sikap memegang teguh keyakinan agama dan toleransi dalam kehidupan masyarakat

5) Kecurigaan masing-masing akan kejujuran pihak yang lain, baik intern umat beragama, antar umat beragama, maupun antara umat beragama dengan pemerintah 6) Kurangnya saling pengertian dalam menghadapi masalah perbedaan pendapat. Poin yang terakhir merupakan concern utama dalam penelitian ini.

Nilai-nilai dari pemberitaan yang terkait dengan agama sering kita rasakan bahkan terkadang mempengaruhi ideologi seseorang. Ini tidak lepas dari framing media yang membingkai sebuah kasus sehingga dengan bingkai tersebut kita bisa melihat apa yang media tersebut tekankan.

Menjadi menarik lagi apabila kasus konflik tersebut merupakan kasus yang sifatnya mengglobal; dalam artian merupakan kasus yang bisa saja merembet di negeri kita tercinta. Tentu poin ke 6 yang peneliti batasi merupakan salah satu di mana sebenarnya hal tersebut bisa diatasi.

Media memiliki peranan dalam mencerdaskan pengetahuan di masyarakat dan membentuk masyarakat ke arah yang lebih baik. Fungsi media ini yang sekarang menjadi bias karena adanya kepentingan politik.

Namun karena kasus di Suriah merupakan kasus yang mendunia (global), maka akan sulit bagi media untuk mencoba berbeda dan seperti berusaha “menyamakan pendapat”. Pengemasan pesan di media untuk kasus semacam ini bisa saja sama dan menarik untuk dibahas.

Dua media online yang populer di tanah air, Detik.com dan Kompas.com adalah media yang juga memberitakan kasus konflik di Suriah.

Menarik bagaimana kedua media tersebut memberitakan kasus konflik ini dengan ideologi yang berbeda, sekaligus bagaimana keduanya memberitakan kasus ini dengan cara yang berbeda. Tentu peneliti ingin melihat sejauh mana kedua media tersebut melihat perspektif konflik di Suriah dengan cara masing-masing.

***

Cukup mudah kan membuat latar belakang penelitian? Ini bisa diaplikasikan ketika anda ingin membuat jurnal, skripsi, bahkan tesis. Kalau bagi saya penelitian itu merupakan kepuasan batin yang tidak ternilai. Hehe, dengan penelitian kita bisa menambah ilmu, keragaman, dan bahkan mengembangkan teori yang sudah ada.

 

So, what do you already for research?

99 Pertanyaan Cara Membuat Artikel dari Penulis Pemula

99 Pertanyaan Cara Membuat Artikel dari Penulis Pemula

Cara Membuat Artikel — Segala puji bagi Allah, di pagi yang agak gimana gini, jari ini bisa tergerak kembali atas izin-Nya.

cara membuat artikel
pixabay.com

Sebenarnya, artikel ini adalah pesanan salah satu teman di facebook Jasa Penulis Artikel. Di Facebook, Wa atau media chatting lain biasanya memang ada interaksi antara admin Facebook dengan para user.

Awalnya mudah saling tukar pikiran terkait dunia kepenulisan, namun lama-kelamaan ada beberapa yang intens jadi perlu dibuatkan tulisan khusus.

Nah, tulisan ini adalah jawabannya. Saya berharap semoga tulisan ini menjadi secuil manfaat bisa dibaca untuk dipelajari tanpa terikat waktu dan tempat.

Oh iya, selain dari website ini, Anda pun bisa belajar terkait dunia tulis menulis di Jurnalistik Online. Kepoin ya hehe…

Cara Membuat Artikel

cara menulis artikel dan cara membuat artikel singkat
pixabay.com

Artikel ini saya beri judul 99 Pertanyaan Cara Membuat Artikel dari Penulis Pemula. Saya lebay-lebaykan biar jadi best viewer haha…

Sesuai judulnya, artikel ini berisi pertanyaan, lalu saya jawab dengan pengetahuan yang saya miliki— atau dari guru-guru saya.

Saran saya, agar Anda merasa mudah ketika belajar menulis, cobalah Anda praktek terlebih dahulu barang  100 atau 1000 kali.

Tujuannya biar Anda tahu bahwa menulis itu susah. Nah, bila nantinya ada yang menjelaskan kepada Anda perihal menulis secara face to face, kemudian Anda paham, kiranya Anda akan mengatakan, “Oalah…Walah… cuma begitu?”.

Ok, apakah sudah siap? Mari kita awali artikel Cara Membuat Artikel ini dari pertanyaan pertama:

1. Bagaimana Agar saya Bisa Membuat Artikel yang Baik?

Bisa membedakan antara tulisan yang baik dan yang kurang baik adalah modal utama yang sangat penting. Misal, coba Anda membaca artikel di Kompas dengan artikel majalah amatiran. Analisislah di mana letak kekurangannya.

Jika Anda sudah bisa peka dan mampu membedakan mana tulisan yang baik dan mana yang kurang baik, berarti Anda sangat berbakat untuk menjadi penulis professional.

Salah satu cara yang bisa Anda praktekkan adalah dengan banyak-banyak membaca buku. Dengan membaca buku, wawasan Anda akan luas dan pengetahuan Anda akan semakin dalam.

Selanjutnya, Anda bisa meresensi buku yang sudah Anda baca. Kelompokkanlah buku-buku yang memiliki tema yang sama, lalu bedahlah satu persatu.

Carilah kelebihan dan kekurangan buku masing-masing, bila sudah cobalah Anda menulis tema yang sama pula jangan pula tambahkan dengan wawasan maupun pengalaman yang berasal dari diri Anda sendiri. Masih ingat materi resensi bukukan?

Selebihnya Anda hanya dituntut untuk memperbanyak jam terbang saja. Sehari sudah nulis berapa kali?

2. Bagaimana Cara Membuat Resensi Buku?

Hemm… Anda bisa membacanya secara mudah dan detail di artikel berjudul Cara Membuat Resensi Buku

3. Buku-buku Apa Saja yang Harus saya Baca?

Barangkali pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering disampaikan oleh beberapa teman-teman.

Terkait pertanyaan di atas, saran saya perbanyaklah membaca buku-buku yang berkualitas. Pertanyaannya, buku seperti apa yang berkualitas tersebut?

Bagi saya, buku yang berkualitas adalah buku yang didalamnya membahas sebuah tema secara spesifik dan menukik. Bila Anda pernah belajar mengenai lingustik, Anda akan tahu makna dari kata yang sebenarnya.

So, satu kata dibahas secara lengkap dan mendalam, mulai dari sebab-sebab munculnya sebuah kata sampai pergeseran-pergeseran makna kata yang selama ini terjadi.

Buku-buku yang saya rekomendasikan antara lain kitab-kitab para ulama; kitab-kitab mereka sangat popular dan abadi sepanjang masa. Anda juga bisa membaca buku-buku Cak Nun terkait pemikiran-pemikiran dan juga buku-buku dari Almarhum Gus Dur untuk melatih keruntutan sebuah tulisan.

Bagi saya sendiri, bila pikiran sedang ruwet saya sering membaca tulisan Gus Dur. Saya pun mengakui bahwa tulisan Almarhum Gus Dur adalah tulisan yang paling jelas mulai dari segi keruntutan, gagasan, sampai cara penyampaiannya. Begitu juga kata orang lain; banyak yang menilai sama.

Intinya, carilah buku-buku yang ditulis oleh pengarangnya langsung. Buku yang ditulis ulang atau direview kemudian berupa kumpulan artikel biasanya rentan terjadi kesalahpahaman.

4. Setiap Menulis, saya Selalu Berhenti di Tengah Jalan. Bingung dah Mau Nulis Apalagi. Apa yang Harus saya Lakukan?

Itu wajar. Ada salah satu guru menulis saya dia pernah bilang, kalau kalian sedang buntu ketika menulis di tengah jalan, maka tulis aja apa yang ada di pikiran. Jika di pikiran Anda hanya ada kata buntu, maka tulis aja “Buntu buntu buntu buntu…….” Terus… sampai Anda mendapatkan inspirasi untuk melanjutkan tulisan Anda.

Ada lagi cara yang lain. Bila Anda buntu saat menulis, istirahatlah sejenak. Bacalah buku-buku yang berkaitan dengan tema yang Anda tulis, atau Anda bisa keluar ngobrol-ngobrol dengan teman-teman Anda yang memiliki wawasan lebih.

5. Bagaimana Kiat Membuat Judul yang Baik

Itu mudah. Bacalah artikel di ACADEMIC INDONESIA bertajuk Cara Membuat Judul

6. Apa Perbedaan Bahasa Ilmiah dengan Bahasa Non Ilmiah?

Pertanyaan yang bagus. Pertanyaan ini akan terasa bermanfaat sekali apabila Anda sedang mengerjakan skripsi.

Bahasa ilmiah adalah bahasa yang mempunyai makna tunggal. Adapun bahasa non ilmiah adalah bahasa yang memiliki makna majemuk.

So, apabila Anda mengerjakan skripsi, fokuslah menggunakan bahasa ilmiah agar konsep masalah yang ada di skripsi Anda memiliki makna yang sama ketika dibaca siapapun. Termasuk dosen Anda hehe…

7. Mengapa Artikel saya Tak Pernah Dimuat di Media Massa Baik Online Maupun Offline; Bahkan di ACADEMIC INDONESIA pun tak dimuat? Padahal Sudah Mengirimkannya beberapa kali?

Haha… Kalau Anda benar-benar terjun di media massa, sebenarnya dunianya lebih keras. Bila hanya tulisan ditolak sebenarnya itu wajar-wajar saja. Yang tak wajar adalah tidak mau berbenah memperbaiki tulisan.

Maka dari itu, ketika Anda mengirim sebuah tulisan di media lain, cobalah periksa ketentuan yang diberikan media bersangkutan; seperti jumlah kata, kemudian apakah ada catatan untuk mencantumkan biodata lengkap, foto dan sebagainya.

Tapi ada sesuatu yang perlu Anda ingat. Bahwa ketika tulisan Anda ditolak, bukan berarti tulisan Anda tidak bagus.

Bisa jadi artikel Anda belum terbit lantaran untuk menguji seberapa kuat mental Anda ketika menulis. Jadi biasa-biasa saja ketika ditolak.

Terus produktif, kirim lagi, kirim lagi lupakan dan lupakan setelah dikirim. InsyaAllah nantinya juga ada satu, dua atau lebih yang dimuat. Itu namanya jurus najur. Gak tahu juga artinya, intinya begitu.

Nah, lebih lengkapnya lagi Anda bisa membuat kata pengantar artikel Anda. Bisa dibaca lebih lengkapnya di Cara Membuat Kata Pengantar

8. Bagaimana Menyiasati Artikel-artikel yang Tak Dimuat atau Tulisan-tulisan Tugas Kuliah yang Numpuk agar Bermanfaat?

Hemm, Iya “eman-eman” kalau dibiarkan begitu saja. Bahkan bila Anda masih semester muda, ada baiknya bila Anda mendapat tugas dari dosen Anda, tugas tersebut Anda jadikan artikel sekalian. Kirim deh ke koran atau media online. Double manfaat!

Bila Anda masih mempunyai artikel-artikel lama, cobalah modifikasi mulai dari judul, kemudian gagasan dan semua terkait kepenulisan. Barangkali bisa layak untuk dikirimkan di media massa.

9. Bagaimana saya Bisa Mendapatkan Ide Segar nan Brilian?

Sebenarnya, kunci menulis itu hanya ada di jam terbang ya. Sebab menulis itu kan ketrampilan, bukan teori.

Ya menulis itu seperti ketika Anda berlatih naik sepeda, bila awalnya Anda diberikan teori harus begini dan begitu, nanti akhir-akhirnya Anda sudah bisa mengendarai sepeda tanpa harus mengingat teorinya.

Begitulah dengan menulis, seorang wartawan yang jam terbang menulisnya sudah lebih dari 10 ribu kali, ketika melihat daun yang jatuh pun akan bisa jadi satu tulisan.

Begitu pula misal ada rombongan presiden lewat, Ia akan cepat menemukan hal-hal menarik untuk dituliskannya dari sudut pandang yang ia kehendaki.

Berbeda bila jam terbangnya masih belum tinggi, barangkali yang terjadi hanyalah kebingungan, “Mau nulis apa ya”, padahal di depannya banyak terdapat moment-moment yang seru.

Maka dari itu, cobalah perbanyak jam terbang. InsyaAllah belajar menulis tidak ada ruginya. Yakin deh!

10. Berapa honor yang diberikan Academic Indonesia dan etiskah bila saya mencantumkan nomor rekening saya?

Etis saja, itu baik. Yang tidak baik itu apabila Anda menulis namun tulisannya belum baik dan menyegerakan untuk mendapatkan hak.

Di ACADEMIC INDONESIA itu sendiri, kami akan memberikan reward kepada penulis artikel bebas apabila viewernya mencapai 5 ribu sampai  10 ribu dalam sepekan.

Bersama teman-teman satu tim ACADEMIC INDONESIA, kami baru merencanakan akan memberikan fee untuk kolom opini. Doakan saja semoga segera rilis.

11. Bagaimana Cara Membuat Feature?

Anda bisa membacanya di artikel Cara Membuat Feature

12. Bagaimana saya Memulai sebuah Tulisan? Sebab saya Sering Kesulitan untuk Memulai sebuah Tulisan

Belajar yang paling mudah adalah melalui pengalaman. Bila Anda ingin menulis novel, tinggal ceritakan saja pengalaman Anda. Di sana Anda pasti sudah mengetahui awal dan akhirnya karena yang mengalami Anda sendiri.

Bila Anda ingin menulis artikel, di bagian opini atau solusi tinggal Anda sertakan pengalaman Anda. Menulislah seperti Anda berbicara menceritakan pengalaman Anda sendiri.

13. Bagaiamana Cara Membuat Berita?

Gampang, coba baca artikel berikut ini

14. Terkadang saya Dirundung Rasa Bosan ketika Menulis, Tips Seperti Apa agar saya Bisa Selalu Menulis?

Coba simak artikel tips yang dinukil dari pendapat Andrea Hirata

15. Berapa Halaman atau Kata agar Tulisan Kita Mudah di Muat di Media Massa Cetak maupun Online?

Setiap media berbeda-beda. Tinggal Anda lihat dibagian kolom yang ingin Anda tuju. Ini penting sebab terbit atau tidaknya berkaitan dengan space rubrik media itu sendiri.

16. Bagaimana Cara Mengirimkan Naskah ke koran atau ke ACADEMIC INDONESIA Sendiri? Bolehkah Menyertakan Link?

Caranya bisa melalui email media masing-masing. Lihat juga ketentuan-ketentuannya ya.

Di ACADEMIC INDONESIA sendiri ketentuannya meliputi:

Artikel belum pernah dimuat di web atau blog manapun

Artikel terdiri dari 1000 – 2000 kata

Panjang per paragraph ada 2-3 baris

1 kalimat panjangnya 1 sampai 1,5 baris

Terdapat sub judul

Menyertakan identitas dan foto diri

17. Apakah Latar Belakang Penulis atau Pejabat Sangat Mempengaruhi Dimuatnya sebuah Tulisan?

Bila tulisan Anda menarik dan baik tentu saja tidak berpengaruh. Namun bila Anda adalah penulis pemula kemudian Anda ingin tulisan Anda segera dimuat ya hasilnya nihil.

So, sebenarnya pertanyaannya kurang tepat, sebab latar belakang atau jabatan yang Ia sandang merupakan kerja kerasnya selama ini. Semakin seseorang menekuni salah satu bidang keilmuan, semakin lama ia akan dikenal.

Semakin lama ia dikenal, maka semakin dipercaya pula ia dalam hal keilmuan tersebut. Ada satu keilmuan yang dikuasai.

Tentu saja akan lebih dimuat karena dari segi pengalaman, wawasan dan gagasan memang sudah lumrah unggul mereka yang sudah terlebih dahulu mengeyam banyak pil kepahitan.

Maka dari itu, ada pentingnya pula mengingatkan agar kiranya kita selaku insan akademis memilih satu keilmuan lalu kita kaji perdalam sampai akar-akarnya. Lakukan saja yang terbaik sesuai bidangnya masing-masing.

18. Bagaimana Tips Menulis Cerpen Menarik?

Silahkan baca tipsnya di Cara Membuat Cerpen

19. Apa yang Dimaksud Tulisan Parodi?

Tulisan parodi adalah tulisan yang bersifat mengejek atau ada unsur ejekan. Ejekan itu sendiri bisa mengarah kepada diri sendiri, atau mengarah ke person tertentu.

Bila unsur ejekan tersebut mengarah ke diri sendiri, Anda bisa mengambil contoh bertajuk Waktu.

Anda bisa menceretitakan waktu itu apa sih, sampai sedetail-detailnya. Kemudian Anda juga bisa mendeskripsikan kegiatan Anda dan mempertanyakan tentang kegiatan Anda sendiri. Ada unsur yang lucu, tak masuk akal atau konyol?

Bila artikel parodi bertjuan untuk menggambarkan orang lain, biasanya isinya terkait ejekan keseharian person yang ditulis. Mulai dari kekhasan bicaranya, kata-kata yang sering diucapkan atau terkait tingkah laku kebiasaannya sehari-hari.

20. Apa Perbedaan Opini dengan Esai?

Opini berangkat dari masalah dan dijelaskan dengan solusi. Adapun esai adalah tulisan yang berangkat dari masalah namun solusinya juga diakhiri dengan masalah. Bingung? “Sama”.

21. Apakah Penulis Cerpen Bisa Menulis Artikel?

Bisa. Sebab cerpen lebih mempunyai unsur-unsur yang lengkap. Kecuali kalo dibalik, kebanyakan besar mungkin penulis artikel kurang bisa menulis cerpen.

Hemm…. Tapi juga tergantung orangnya juga dink. Saya pikir ini bukan persoalan krusial.

22. Bagaimana Menuangkan Ide agar Karya Tulis Menjadi Utuh dan Idenya Tidak Loncat-loncat?

Di awal-awal gunakan saja rumus ATM alias amati, tiru dan modifikasi. Bila sudah terbiasa dan jam terbangnya sudah tinggi, nantinya ide akan runtut sendiri.

Memang awalnya terkesan wagu, bahkan ketika kita menulis pertama kali, mungkin kita membaca tulisan kita sendiri dengan satu mata tertutup karena malu membaca tulisan kita sendiri.

Tidak apa-apa, latih terus dan tinggikan jam terbang, nantinya juga terbiasa bisa.

23. Ketika Kita Menulis, Judul atau Isi Artikelkah yang Harus Kita Dahulukan?

Sebenarnya pertanyaan ini adalah pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan. Pertanyaan retoris namanya. Disebut begitu sebab bila tidak ditanyakan akan menambah pusing dan jika dijawab sebenarnya jawabannya pun “saya kembalikan pada diri Anda sendiri”.

Misal Anda sudah menemukan judul yang baik, maka bolehlah Anda menuliskan judulnya terlebih dahulu. Tapi misal Anda belum menemukan judul yang pas, maka Anda pun bisa menuliskan isi artikelnya dahulu.

24. Jika Kita Ingin Menulis, Utama yang Mana antara Menguatamakan Topik yang Hangat dengan Ide Tulisan?

cara membuat artikel beserta contoh artikel
pixabay.com

Kira-kira bisa tidak keduanya disatukan? Bila bisa, kenapa tidak? Malah saling mendukung donk jika bisa.

Namun bila belum bisa dan Anda sudah mempunyai kerangka yang utuh untuk menuliskan keduanya, maka pilihlah yang topiknya hangat terlebih dahulu.

Hal ini dikarenakan pilar media massa adalah kecepatan, jadi bagi mereka yang cepat merespon isu, maka tulisannya berhak dimuat.

25. Apa Perbedaan Pokok antara Tulisan Feature, Esai dan Artikel?

Feature adalah karangan berkisah dari kejadian nyata, dituliskan dengan gaya bahasa yang bebas dan tak terikat waktu. Maksudnya, kejadian lama pun bisa menjadi  feature.

Esai adalah tulisan yang berangkat dari masalah dan cara penyelesaiannya pun dengan menggunakan masalah. Pernahkah menemukan masalah dan ketika di rasa-rasa ternyata jawabannya juga masalah?

Artikel pun ada dua. Ada artikel popular; artikel ini biasanya ada di koran-koran atau media cetak lainnya. Disebut populer sebab dalam penulisannya menggunakan gaya bahasa yang umum dan mudah dipahami.

Adapun artikel ilmiah bisa Anda temukan di jurnal-jurnal ataupun tugas-tugas kuliah Anda. Artikel yang di dalamnya menggunakan bahasa ilmiah sesuai lingkup akademik.

Persamaan dari pengertian artikel sebenarnya ada pada datanya. Untuk bisa dikatakan sebagai artikel, maka Anda perlu menyertakan data, baik data yang diawali dengan teori sebagai penguat juga data riil dari lapangan.

Konkritnya, bila artikel tanpa teori atau data itu biasa disebut opini alias pendapat.

26. Bagaimana Cara Membuat Essai?

Anda bisa membaca tulisannya Mahasiswa S2 UGM Mas Khairul Arif berikut ini Cara Membuat Esai

27. Bagaimana Pedoman Bahasa untuk Menulis Artikel dan Cerpen?

Cukup sederhana. Artikel menggunakan bahasa ilmiah, sedangkan cerpen menggunakan non ilmiah.

28. Bagaimana Cara Mengatasi Kendala dalam Menulis— Dulu Lancar Sekarang Tiba-tiba Redup

Coba motivasinya dikaji ulang. Salah satu motivasi yang paling kuat yang dimiliki kebanyakan penulis adalah soal kepedulian, keprihatinan dan kegelisahan.

Lha Anda masuk yang mana?

29. Apakah Puisi Termasuk Kategori Jurnalistik?

Selama masih ada unsur mengumpulkan bahan kemudian mempublikasikannya maka selama itu pula tulisan tersebut bisa disebut jurnalistik.

30. Bagaimana agar penulis Tetap Idealis dan Tak Hanya Mengejar Nilai Pragmatisnya Semata?

Justru menurut saya seorang penulis itu harus idealis. Ini tidak boleh ditawar ya.

Maksud saya begini, idealis kan artinya mempertahankan kebenaran sesuai versi kita. Bila ada tulisan Anda yang kurang baik, atau Anda mendapat masukan atau arahan dari orang lain, alangkah lebih bijaknya Anda segera memperbaikinya.

Dalam hal keburukan jangan dijadikan idealis, sebab itu hanya akan membinasakan Anda sendiri. Tahukan kenapa huruf ‘p’ di dalam kata penulis itu selalu menggunakan huruf kecil?

Sebab penulis identik dengan kerendahan hati.

So, ketika seseorang benar-benar ingin terjun ke dunia kepenulisan, tetaplah idealis. Idealis berkaitan erat dengan kejujuran dan tulisan yang indah tentu saja adalah tulisan yang jujur. Bukan dibuat-buat.

31. Bagaimana Cara Menyusun Karya Tulis dengan Kalimat Efektif agar Tidak Membosankan Para Pembaca dan Memikat Hati Para Redaktur Surat Kabar?

Inti kalimat efektif sebenarnya hanya mengandung unsur kalimat S-P (Subjek-Predikat). Selebihnya Anda bisa menambahkan objek beserta keterangannya.

Berbicara mengenai kalimat efektif memang menarik, selain merupakan kesalahan yang sering dilakukan penulis, kalimat efektif biasanya juga tak sadar kita ucapkan.

Maju ke depan, mundur ke belakang. Ya iyalah! Masak mundur ke depan?

Nah itu contohnya hehe…

Mengenai kalimat efektif ini sendiri, saya pernah mendapat nasehat bahwa bila Anda mengirimkan artikel namun ada 3 kesalahan kalimat efektif saja, maka tulisan Anda akan langsung dibuang redaktur.

Kalimat efektif di dalam dunia kepenulisan memang sangat penting, terlebih bila Anda membuat tulisan fiksi, hal ini akan mempengaruhi jalan ceita Anda, bertele-telekah atau sebaliknya?

Baca mengenai Kalimat Efektif

32. Bagaimana Cara Menumbuhkan Minat Menulis?

Kalau Anda bukan anak seorang raja, namun Anda akan dikenal banyak orang maka menulislah.

Jika Anda ingin hidup selamanya, maka menulislah. Sebab, dengan menulis nama Anda akan abadi. Jasad boleh terkubur, namun ide dan gagasan tulisan Anda akan tetap ada; hidup.

Beberapa kawan yang menghubungi saya pernah bilang bahwa sebelum ia meninggal, ia ingin sekali mewarisi satu buku kepada anaknya.

Ia berharap kelak bila ia sudah tiada, buku tersebut tetap bisa menemani anaknya, menasehati dan membimbing anak-anaknya.

Cukup?

33. Bagaimana Cara Membuat Artikel Opini?

Anda bisa membaca tulisan saya di Cara Membuat Artikel Opini

34. Apakah kita Diperkenankan Membuat Karya Tulis dengan Mengutip dari Karya Penulis Lain; Sejauh Mana kita Bisa Membawa Pikiran Mereka ke Dalam Karya kita?

Saling merujuk berupa referensi itu bagus. Itu bukan berarti kita menjadi lebih rendah, justru dengan adanya berbagai referensi, kita terlebih dahulu melihat tulisan orang lain.

Maksudnya begini, bila kita melihat-lihat dulu tulisan yang ada, berarti secara otomatis kita mengetahui gagasan seperti apa yang belum ada, ada yang kurangkah, belum tepatkah atau belum sempurnakah.

Nah, tugas penulis selanjutnya adalah melengkapi tulisan yang sudah ada.

35. Bagaimana Cara Membuat Makalah?

Coba Anda bisa baca di artikel ini,… Jika Anda belum puas, Anda bisa chatting bersama saya atau mengundang saya sebagai pembicara jurnalistik hehe. . .

Contoh Kata Pengantar Makalah Agama

Contoh Kata Pengantar Makalah Agama

 Contoh Kata Pengantar Makalah Agama — Bingung mau membuat kata pengantar di dalam sebuah makalah? Apalagi jika makalah tersebut adalah makalah agama. Tenang saja, di bawah ini akan diulas mengenai 3 contoh  contoh kata pengantar makalah agama.

Contoh Kata Pengantar Makalah Agama
wikimedia.org

Kata pengantar adalah salah satu bagian penting yang tidak bisa terlewatkan dari sebuah makalah. Sebab suatu makalah akan dirasa mempunyai suatu kualitas yang bisa dikatakan lengkap.

Ya, suatu makalah bisa dikatakan lengkap. Jika saja, disertai dengan ucapan kata pengantar di dalamya dari seorang penulis atau pemakalah yang telah membuat makalah tersebut.

Sesuai dengan namanya, yakni kata pengantar. Artinya  adalah ucapan rasa syukur dan terima kasih serta sambutan dari penulis terhadap karya tulis yang telah dibuatnya.

Umumnya di dalam kata pengantar terdapat kalimat pengharapan dan juga penjelasan terkait tema dan isi makalah yang ia buat. Baik itu karya tulisan berbentuk makalah, buku, novel, antologi cerpen. Biasanya selalu terkandung kata pengantar di dalam buku tersebut.

Contoh Kata Pengantar Makalah Agama

Nah, contoh kata pengantar agama ini kami ulas bagi Anda yang sedang bingung menuliskan bagaimana sih menulis kata pengantar yang baik  dan benar? Apalagi dalam penulisan makalah agama.

Untuk lebih jelasnya ada 3 contoh kata pengantar makalah yang bisa Anda baca di bawah ini.

Contoh Kata Pengantar Makalah Agama Tema Dakwah Islam

KATA PENGANTAR

Syukur tiada henti penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT. Dengan anugerah-Nya penulis bisa menyusun makalah yang berjudul Prinsip-prinsip Dakwah.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Islam begitu universal dan mewakili segala permasalahan kehidupan. Dan Islam ada untuk didakwahkan, karena tujuan utama dakwah adalah mengajak ke jalan yang benar. Ud’u fi sabil li robbika.

Semakin dinamisnya zaman, nilai-nilai ajaran Islam yang indah dan universal  mulai ditolak karena beberapa alasan. Salah satunya adalah factor psikologis. Di mana manusia pada zaman yang serba globalisasi ini sudah semakin sulit untuk menerima materi-materi yang sulit dikaji.

Sedangkan materi dakwah merupakan komponen penting dalam berdakwah. Da’I dituntut untuk memilah dan memilih materi secara hikmah agar dakwahnya berhasil dengan baik. Pemilahan materi yang hikmah akan mudah didengar, mudah dicerna dan dilaksanakan oleh mad’u.

Namun Melihat kompleksitas yang terjadi pada mad’u saat ini, tak jarang para da’I berdakwah dengan memberi sedikit materi dengan dibungkus guyonan agar dakwahnya diangggap berhasil.

Tak jarang pula, lelucon-lelucon sang da’I lebih banyak keluar daripada inti dari materi dakwahnya. Karena guyonan semacam itulah yang dianggap menjual. Lalu bagaimana dengan  tujuan Islam sebelumnya dengan hakikat dakwah yang mengajak ke jalan yang benar? Apakah para da’i nya yang salah?

Dalam melaksanakan tujuan dakwah tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa para da’i perlu mempunyai prinsip-prinsip yang harus dipegang agar mampu melanjutkan risalah kenabian, yakni mengajak ke jalan yang benar melalui implementasi amar ma’ruf nahi mungkar.

Untuk itulah makalah ini kami sampaikan untuk menjawab problematika tersebut.  Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Dian Siswanto, M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Hadis Dakwah.

Penyusunan makalah ini tentu belum sempurna, seperti kata pepatah ”Tak ada gading yang tak retak”, maka dari itu kami mohon maaf apabila banyak kekurangan dalam pembuatan  makalah ini.

Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Khususnya menambah wawasan tentang prinsip-prinsip dakwah dalam Islam.

Kepada para pembaca yang bersedia memberikan saran-saran dan kritik yang bersifat membangun, untuk perbaikan makalah selanjutnya, kami terima dengan hati terbuka dan ucapan terima kasih.

Yogyakarta, 25 November 2015

Pemakalah

 

2. Contoh Kata Pengantar Makalah Tema Etika Komunikasi dalam Islam

KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWI. Allah SWT denga segala rahmat, taufik dan hidayahNya-lah kami dapat menyusun makalah yang berjudul Etika Komunikasi dalam Islam.

Sebagaimana ayat yang tertulis :

“Tuhan yang maha pengasih, yang telah mengajarkan Al-Qur’an , Dia menciptakan manusia, mengajarkan pandai berbicara atau berkomunikasi”

(Q.S 55:1-4)

Manusia adalah makhluk sempurna yang dianugerahkan kemampuan berkomunikasi. Manusia mengekspresikan apa yang dipikirkan dengan banyak cara, tidak hanya lewat kata, tapi bisa juga lewat tatapan mata.

Mimik wajah tiap orang berbeda-beda sesuai dengan situasi dari pemiliknya. Begitupun dengan gerak tubuh, yang mampu mengkomunikasikan sesuai dengan apa yang dipikirkan. Manusia bebas berekspresi, bebas berbicara menyampaikan opini.

Kebebasan berekspresi sangat luas sebagaimana ia merupakan hak asasi yang diberikan oleh Sang Penguasa Alam, yang keluasan ilmunya tiada tertandingi.

Begitu halnya ketika manusia mulai bersahabat dengan media massa. Pers hadir sebagai sahabat karib yang memudahkan urusan manusia abad modern ini. Pers menyajikan informasi, masyarakat memperoleh informasi. Pers menguak kasus para pejabat negeri, masyarakat jadi paham siapa pejabat siapa penjahat.

Seperti yang sudah diketahui bersama, Islam adalah agama yang memberi rahmat bagi semesta. Di dalamnya terdapat ajaran yang sempurna karena meliputi segala aspek kehidupan, baik itu yang bersifat duniawi maupun ukhrowi.

Lalu seperti apa etika komunikasi dalam Islam itu sendiri? Untuk itulah makalah ini kami sampaikan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang akan lebih dijelaskan di latar belakang dan rumusan masalah.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Nur Handayani, S.Sos, M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah Komunikasi Islam.

Harapan kami semoga makalah ini bisa memberi manfaat bagi para pembaca. Kami mengharap kepada para pembaca agar berkenan memberikan saran-saran dan kritik yang bersifat membangun.

Yogyakarta, 15 Desember 2015

Pemakalah

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus atas berkat dan anugerah-Nya. Di mana akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah dengan judul Menjadi Orang Kristen yang Taat

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Kristen Protestan. Dengan adanya makalah ini diharapkan bisa mengajak orang Kristen yang belum mengenal kasih Tuhan bisa taat kepada firman Tuhan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Yohannes selaku Dosen mata kuliah Pendidikan Agama Kristen Protestan. Beliau telah berkenan membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah makalah ini. Juga terimakasih untuk rekan-rekan yang turut serta membantu dan bekerja sama dalam penyusunan makalah ini.

Penulis begitu menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini tentunya masih terbatas dan jauh dari kata sempurna. Hal itu disebabkan adanya keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan waktu yang penulis miliki.

Meskipun demikian, penulis telah berusaha dan bekerja keras supaya buku ini bermanfaat bagi penulis khususnya. Juga bisa bermanfaat bagi pembaca sekalian untuk menjadi orang Kristen yang taat kepada Tuhan dan FirmanNya Tuhan.

Jakarta, 15 Desember 2015

Penulis

***

Seperti itulah, 3 ontoh kata pengantar makalah agama. Semoga bermanfaat.