14 Untaian Kata Penenang Hati Kaum Muslimin

Kata Penenang Hati

  1. Kudeta dan Campur Tangan Allah?

Menarik juga membaca celoteh penuh nalar di medsos tentang kudeta :

Dulu, si A berhasil dikudeta karena musuhnya banyak, asing bersekutu menjatuhkannya, AS tak suka, dan ia terlalu memihak agama.

Kini, si B gagal dikudeta karena ciptakan kemakmuran, bersikap lebih pragmatis, mampu merangkul lawan, dan boleh jadi itu kudeta rekayasa.

Maka, si C harus dikudeta. Ia pendusta, bikin rakyat sengsara, utangnya dahsyat, sangat pro aseng. Lagipula militer tak suka dengannya.

Saya hanya bisa tertegun. Dari semua analisis itu, di mana Allah, Sang Pemegang kunci tahta? Apakah Ia hanya penonton, bukan Penentu? Kok kita tak bertanya: Kenapa vonis-Nya berbeda atas hamba-hambaNya?

kata2 penenang hati
islamicsunrays.com
  1. Pesan untuk Tuan Erdogan

Nah, Tuan Erdogan, selalu saja ada pihak yang tak suka dengan anda. Jika anda bergantung pada popularitas, betapa rapuhnya kekuasaan anda. Bukankah ini pertanda bahwa yang anda butuhkan adalah ridhaNya?

Ya, ridha dari Dzat yang mampu menggerakkan jutaan hati untuk turun ke jalan di malam hari melawan kesewenang-wenangan. Karena, mustahil itu anda gerakkan lewat retorika atau kharisma semata.

Maka, kuatkan pijakanmu di bumi-Nya, bukan di golonganmu… Layanilah hamba-hambaNya, bukan partaimu… Jadilah mandataris Tuhanmu, bukan mandataris rakyatmu. Karena Ia pemilik segala kekuasaan.

  1. Cara Menyelamatkan Kekasih Hati

Terkadang, demi menyelamatkan orang-orang tercinta kita rela lakukan apa saja, entah itu perbuatan tercela, pelanggaran etika, pencideraan idealisme, bahkan berseberangan dengan mimpi kita sendiri.

Ya, cinta membuat kita mudah kehilangan akal sehat. Kita berpikir pendek dan bertindak ceroboh, yang kelak dapat membuat kita cacat moral, kelu menyampaikan kebenaran, dan tak pantas lagi bicara keluhuran.

Maka, tariklah nafas dan berpikirlah jernih. Cintailah Allah lebih dari cinta apapun. Percayalah, Allah akan menyediakan sejuta jalan lurus untuk selamatkan kekasih, selama Allah adalah yang Maha Dicinta.

  1. Ketika Karunia Berbalik Menjadi Petaka

Sobat, menjadi kaya itu mudah… menjadi sukses itu gampang… menjadi tenar itu tak rumit. Masalahnya adalah: sudah siapkah umur, fikiran dan hatimu menampung, memikul dan menyalurkan itu semua?

Jika belum, sungguh segala karunia itu akan berbalik menjadi petaka. Maka, ketika tanggul batinmu tak sanggup mensyukuri gelombang perhisan dunia, tak heran jika engkau terjerembab dalam narkoba.

Duh, kenapa tak engkau gunakan usiamu untuk mempersiapkan hati dan fikiran yang mampu bersabar dan bersyukur? Bukankah untuk setiap jiwa yang bersyukur Allah akan gandakan nikmatNya pada waktunya?

  1. Al Burruuj

Siang tadi, Surah Alburuuj dikupas, bercerita tentang pemuda yang justru ajarkan cara kematian dirinya kepada musuhnya. Agar kebenaran disaksikan dan diimani banyak orang. Gugur satu demi tumbuh seribu.

Ya, pemuda itu memilih “kalah” di dunia, karena kemenangan agung itu ada di akhirat sana. Ia memilih mati, karena ada Dzat Yang menghidupkan setelah kematian. Pemuda itu memilih akhirat, karena kemenangan dunia hanya bonus bagi yang membeli produk utama: surga.

Aku menangis dalam hati, betapa aku, atas nama agama dan kemuliaanNya, sebenarnya hanya sedang berburu dunia. Lalu, duniapun menjauh.

  1. Pentingnya Identitas Diri

Seorang gadis Jakarta asal Sumatra belakangan merebut perhatian. Ia menjadi pesohor dunia maya berkat vulgarisme yang disandangnya: tampil seronok, ucapan kasar, atau laku cabul berskala lebay

Namun bukan itu yang menarik. Tapi bahwa dulu ia begitu manis, berhijab, dan menyandang peringkat tiga Ujian Nasional se propinsi. Tampaknya ia telah diajari shalat, hijab, mengaji, matematika atau IPA.

Namun kita sering lupa, bahwa anak juga perlu memiliki identitas diri yang kuat, bertahan atas ganasnya budaya kota, percaya diri dalam keberbedaan, tangguh atasi derasnya arus sosial. Ya, pendidikan aqil-baligh.

  1. Ihsan

Dan Ihsan ialah “Engkau beribadah kepada Allah seakan engkau melihatNya. Jika engkau tak melihatNya, maka Ia melihatmu” Semoga kita tak lupa hadits ini. Karena tak cukup hanya iman dan Islam.

Ya, tanpa ihsan akhirnya kita beribadah tanpa menghayati sifatNya… Tanpa ihsan ternyata kita bersyari’ah tanpa membayangkan hakikat Nya… Tanpa ihsan kita mentaatiNya tanpa mengenang rububiyah dan uluhiyahNya.

Akhirnya kita beriman dan berislam begitu mekanistik, tanpa ruh dan visi, semata-mata mengikuti ajaran buku dan guru. Jangan-jangan kita beriman dan berislam seakan melihat buku dan guru, bukan “melihatNya”.

Deres pula 1000 Kata-kata Mutiara Peradaban Islam di ACADEMIC INDONESIA.

  1. Tantangan Zaman

Tempat paling aman buat sebuah kapal adalah di dermaga. Tapi kapal tidak dibuat untuk hanya berlabuh di dermaga. Kapal dibuat untuk mengarungi samudera. Menghadapi ombak dan badai, menerjang lautan, mengarungi samudera.

Tempat paling aman buat seorang anak adalah di rumah, bersama ayah bunda. Tapi sampai kapan mereka akan bersama kita. Akan ada waktunya mereka mengarungi kehidupannya sendiri.

Keadaan jaman saat ini memang membuat kita sebagai orang tua khawatir akan keselamatan anak anak kita. Kejahatan penculikan, pornografi, pelecehan seksual, serta masih banyak lagi hal hal yang mengintai buah hati kita. Hal ini membuat kita menjadi kelabakan dan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan anak anak dari ancaman ancaman tersebut. Sampai ada orang tua yang akhirnya menyembunyikan anak anaknya dari dunia luar.

Tapi pertanyaann nya sampai kapan…
Karena kita tidak akan selamanya ada didamping mereka. Mereka akan memiliki kehidupannya sendiri.
Alih alih memberikan proteksi yang berlebih, akan lebih bijak jika kita mempersiapkan mereka menghadapi dunia luar. Bukan menghindarinya.
Lebih baik mereka belajar bagaimana dunia yang mereka hadapi saat ini. Dan bagaimana sebaiknya mereka bersikap. Mereka akan menjadi orang-orang kuat, orang orang tangguh yang bisa survive menghadapi tantangan jaman.

  1. Evaluasi Ummat Islam

Mungkin orang lain akan mengevaluasi kinerja dan keberhasilannya di akhir tahun. Tapi tidak bagi ummat ini, kinerja dan keberhasilannya dievaluasi di dua pertiga tahun berjalan. Ya, di bulan evaluasi : Ramadhan

Ya, karena agama ini tak mengajarkan kita untuk memperbaikinya di tahun depan. Tapi, di tahun ini juga !!! Karena masih ada waktu tersisa untuk mencukupkan yang kurang dan memperbaiki yang lemah. Maka Allah hadirkan bulan Syawal : bulan akselerasi.

Sahabat, cukuplah sehari Iedul Fitri kita. Marilah kita bergegas tancap gas. Nun di akhir tahun telah menunggu hari raya besar kita: Iedul Adha.

  1. Paragraf Doa

Ya Allah, mungkin kami sering tak mensyukuri begitu banyaknya nikmatMu pada kami, sehingga kami lebih sering mengungkit segelintir cobaanMu atas ummat ini daripada limpahan karuniaMu atas hidup ini.

Namun, ya Allah, janganlah Engkau murkai kami dengan kekufuran kami… Janganlah Engkau amini buruk sangka kami terhadap realitas ini.

Untuk itu, di malam fitri ini, kembalikanlah fitrah kami sebagai basyar (manusia) yang mencintai basyirah (kabar gembira)… Fitrahkan kami kepada sangka bahwa setiap kesulitan berselimut begitu banyak kemudahan.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf atas khilaf.

  1. Kelembutan adalah Bukti Dalamnya Ilmu

Menjadi guru adalah pekerjaan mulia. Dan negara telah meneguhkan kemuliaan itu dengan menjadikannya sebagai profesi ke delapan. Sebagai profesi, ia punya hak dan kewenangan yang dilindungi etika.

Maka percayalah, meraih saripati ilmu dari seorang guru bukan semata menyimak apa yang diajarkannya, tapi yang lebih penting adalah memuliakannya dengan hati penuh takzim. Walau dari guru yang kasar.

Namun, wahai guru, jika anda lebih mengedepankan hukuman dan pukulan dalam mendidik, itu adalah pertanda bahwa ilmu Anda minim dan terlalu mudah kering. Sehingga Anda terlalu cepat kehilangan akal

  1. Ajarkan Kami Berpuasa

Telah hampir sebulan pengendalian diri kita lakoni. PerintahNya kita jalankan, laranganNya kita tinggalkan. Kita jalankan agenda Tuhan, bukan yang lainnya. Saat ada yang memancing emosi, kita khusyuk berkata : Aku sedang puasa.

Rabbana, masih mampukah kami tetap seperti ini kelak ? Atau, kami akan seperti kemarin lagi : selalu tergoda berkelahi ketika ada yang sengaja mengusik emosi ? Rabbana… ajarkan kami berpuasa, iimaanan wahtisaaban… Aamiin

  1. Passion-Mu

Aku menikahi istriku bukan karena passion, tapi karena dipilihkan. Namun aku ikhlas menerimanya, sehingga aku sangat passionate terhadapnya.

Dulu nilai-nilai Psikologi Anak-ku teramat buruk, karena aku tak punya passion atasnya. Kalau kini aku bergairah menjadi penggiat parenting, itu karena panggilan kemanusiaan atas pendidikan yang memburuk.

Ah, tapi aku tak sendiri. Muhammad SAW pun tak memiliki passion untuk menjadi rasul, sehingga beliau begitu gentar dan gemetar memikul amanah itu. Rabbi, demi dapatkan ridhaMu aku ikhlas ikuti “passion”Mu.

  1. Ridha Allah sebagai Passion

“Memang patut dikasihani, mengorbankan indahnya akhirat demi kesenangan sejenak di dunia fana.

Sungguh, manusia cerdas seharusnya memilih menderita bersama limpahan karuniaNya, daripada memilih kesenangan yang mengorbankan masa depan kekalnya.

Dan manusia beruntung adalah manusia yang sanggup menjadikan ridha Allah sebagai passionnya.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *