Inilah 15 Manfaat Luar Biasa Belajar Menulis Artikel di Media Massa

Ada banyak sekali manfaat menulis, baik bagi diri sendiri atau bagi orang lain, termasuk keluarga dan kampus di mana tempat kita menuntut ilmu. Adapun manfaatnya akan Penulis paparkan sebagai berikut:

1. Semiotika Kesyukuran

Manfaat Belajar Menulis Luar Biasa
aliexpress.com

Tahukah bahwa menulis itu semiotika kesyukuran? Acapkali sering kita berprasangka bahwa syukur hanya cukup dengan kata alhamdulillah. Dan sering kita mencari-cari kalimat zikir apa yang levelnya di atas alhamdulillah. Namun karena tak ada, kita terhenti pada kalimat tersebut dan merasa itu sudah cukup.

Pertanyaannya, benarkah sudah cukup? Lalu nikmat lain yang Allah berikan kepada kita bagaimana? Kepala, tangan, kaki, akal sehat, mata, dan yang lainnya?

Bagaimana jika kelak kita di sana akan dimintai pertanggungjawaban atas semua bakat dan kemampuan yang telah kita miliki namun tak kita usahakan? Sudahkah kita memanfaatkan semaksimal mungkin untuk karya yang akan kita persembahkan kepada Allah?

Menulis adalah jawabannya karena dengan menulis semua pancaindra bekerja secara maksimal. Mata, jari, pikiran, dan hati bersatu padu mewujudkan suatu karya yang bermanfaat bagi orang yang membacanya.

Jika dihitung, pastilah kita tak akan bisa menghitungnya, dan sudah barang tentu kita akan kewalahan dalam mensyukuri segala nikmat-Nya. Maka, menulislah agar rasa syukur yang maksimal mampu kita usahakan dengan sungguh-sungguh. Bukankah Tuhan hanya menilai kesungguhan kita, bukan pada hasilnya?

2. Berlatih Berpikir

thinkup.ae
thinkup.ae

Menulis melatih kita untuk berpikir. Penulis pun merasakan semenjak menekatkan diri untuk menulis, Penulis merasa selalu diajak berpikir. Dalam menulis, kita dituntut untuk mencari peluang, ide, gagasan, maupun inspirasi yang datang secara tiba-tiba.

Penulis jadi teringat nasihat teman Penulis bernama M. Khoirul K.H. Beliau pernah bilang bahwa sekarang ini memang sangat sulit mencari manusia-manusia yang berpikir. Berpikir untuk menemukan solusi melalui langkah-langkah yang sistematis. Yang ada justru hanya manusia-manusia yang menginginkan hal-hal praktis, semua pengennya instan.

Sebagai contoh, saat ini banyak mahasiswa yang menginginkan untuk bisa cepat menulis namun yang dilakukan hanyalah bermalas-malasan, ibarat si cebol ingin meraih bulan.

Sering kali merasa tak perlu belajar dan berproses, merasa semudah membalikkan telapak tangan. Padahal, menulis memerlukan proses, ketekunan dan kerja keras, bukan semata-mata menunggu suatu kejaiban yang jatuh dari langit. Tlebok!

Masih soal ini juga, pernah malam-malam Pak Direktur Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga, Dr. Nurul Hak, M. Hum. mengadakan sidak. Memang tak seperti biasanya, tapi alhamdulillah hal inilah yang menjadikan kami merasa diperhatikan.

Pak Direktur mengamati satu per satu cita-cita dan langkah-langkah yang tertulis di sudut-sudut kamar. Bisa ditebak, Pak Direktur pun tertawa terbahak-bahak karena setiap takmir memiliki cara-cara tersendiri dalam menyemangati dan memotivasi diri lewat tulisan-tulisan yang mengajak berpikir, menginspirasi, unik, dan menggelitik.

Malam itu pun Pak Direktur berpesan kepada kami agar selalu belajar keras. Ya, berawal dari pemaparan filosofi yang dikatakan oleh Iqbal, “Aku bekerja keras agar orang lain tak menanyakan apa alasan keberhasilanku.”

Lalu Pak Direktur pun menyambungnya dengan, “Dunia adalah hukum alam, Tuhan tak memandang apa agamamu. Semua mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses. Siapa yang bekerja keras pasti akan berhasil dan sukses.”

Sementara itu, di dalam buku bertajuk Nalar-Nalar Ayat Semesta karya ahli fisika, Agus Purwanto menyebutkan kata fakara muncul sebanyak 15 kali dalam Alquran.

Informasi dorongan agar masyarakat terdahulu berpikir yakni berkaitan dengan la’allahum yatafakkarun yang muncul tiga kali. Hal di atas menganjurkan kita bahwa bahan yang harus dipikirkan adalah kecenderungan nafsu dan hidup duniawi yang diibaratkan seperti anjing yang menjulurkan lidah (Q.S. Al A’raf [7]:176).

Selain berlatih untuk lebih dini dalam hal nafsu dan hidup duniawi, Alquran juga mengisyaratkan agar memikirkan feomena alam seperti turunnya air hujan yang menyuburkan dan tumbuhan yang terserang hama (Q.S. Yunus [10]: 24), khasiat madu menjadi bahan perhatian (Q.S. An Nahl [16]: 69), dan lain sebagainya.

Tekait fenomena alam semesta, juga disebutkan dalam Alquran yakni perenungan nonfisik atau jiwa. Seperti jiwa yang mengikat pernikahan (Q.S. An Nur [30]: 21), jiwa orang mati, tidur, dan bebas (Q.S. Al Zumar [39]: 42). Kita juga diperintahkan untuk merenungkan siapa kita, mau ke mana, dan bagaimana nantinya perjalanan akhir kita.

Oleh karena itu, menulis mampu mendorong individu-individu berproses dewasa dalam keimanan. Dengan menulis, kita mampu menghayati apa pun yang ada dalam lingkup kejadian kehidupan setiap detiknya dan sadar bahwa Allah selalu memerhatikan tingkah laku kita sekecil apa pun itu. Luar biasa, bukan?

So, jadilah penulis yang mampu berpikir “tidak biasa”. Tentu dengan berbagai pertimbangan pengalaman dan wawasan yang luas jika ada suatu masalah. Disinilah hebatnya penulis memang dituntut untuk memiliki wawasan yang luas salah satunya kritis dalam menganalisis melalui sebuah cara membandingkan antar referensi hal satu dengan hal yang lainnya.

Hal tersebut dilakukan agar kita senantiasa membenturkan pendapat satu dengan pendapat yang lain. Dengan membenturkan berbagai pendapat, maka kita mampu mengambil kesimpulan-kesimpulan dengan akal sehat kita yang akhirnya dinamakan sebagai hasil berpikir kita. Siap untuk menjadi inspirator yang mampu merubah hidup pembaca?

3. Menulis Menjadikan Entepreneur

Belajar Menulis dan Berwirasusaha
myentrepreneur.org

Hari ini kita banyak melihat dari berbagai profesi menjadi penulis, tak terkecuali dengan status pengusaha. Namun Anda jangan berkecil hati jika saat ini sudah menjadi penulis namun belum menjadi pengusaha. Justru inilah saatnya Anda menunjukkan bahwa Anda bisa menulis dan menjadi pengusaha.

Menulis apalagi menulis opini tentu keindependenannya sangat dikedepankan. Karena penulis yang profesional bukanlah penulis yang tulisannya bagus namun “melacurkan” tulisannya ke pejabat-pejabat maupun pihak-pihak pendukungnya untuk kejahatan. Tau maksud Penulis?

Lebih jelasnya begini, examp Anda adalah penulis terkenal yang mempunyai skill menulis yang tidak ada bandingnya. Suatu saat, Anda di temui oleh salah seorang bos besar yang sedang ada masalah dengan perusahaannya.

Bos tersebut menyuruhmu untuk menulis opini yang dapat mengelabuhi publik untuk pembohongan atau membuat publik tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi. Dan Anda pun diberi uang atas kerja Anda tersebut. Itulah yang dinamakan “pelacur” versi penulis opini.

Oleh karena itu, untuk menjaga keindependenannya, jika tingkatan iman and tergodanya kemewahan harta sering terjadi, Penulis sarankan untuk menjadi pengusaha. Dari pengusaha Anda akan bersusah payah dan dari kesusah payahan tersebut sedikit demi sedikit Anda akan percaya dan menemukan Tuhan.

Penulis yakin kegiatan menulis tak akan terganggu hanya gara-gara Anda menjadi pengusaha. Malah akan mendukung karena ilmu yang diolah bervariasi dan menambah kaya wawasan.

4. Melatih Menuangkan Gagasan

Belajar Menulis Ide
thinkcrowdfund.ticketleap.com

Gagasan adalah pesan dalam dunia batin seseorang yang hendak disampaikan kepada orang lain. Gagasan itu dapat berupa pengetahuan, pendapat, pengamatan, renungan, pendirian, keinginan, perasaan, emosi, dan sebagainya (Widyamartaya: 9).

Semua orang mempunyai gagasan, namun tak semua orang mampu meluapkannya lewat tulisan. Hal ini dikarenakan si empunya gagasan tersebut tidak suka menulis atau lebih mengutamakan lisan atau bahan lukisan. Namun yang jelas, gagasan dapat terserap sempurna lewat tulisan karena mampu dibaca berulang-ulang dan dapat dibahas dengan saksama.

Selain itu, menulis juga mampu menjadi bahan inspirasi generasi selanjutnya, menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan di masa yang akan datang. Boleh jadi, tulisan pengalaman yang kita punya tidak berarti apa-apa, namun bagi orang lain bisa sangat berharga.

5. Melatih Terampil Berbicara

Belajar Menulis Bisa Membuat Publick Speaking Top
briantracy.com

Anda belum mahir dalam berbahasa Inggris? Tenang, Penulis pun dalam proses menuju kemahiran, hehe. Penulis sempat teringat masa-masa SD sampai SMP. Di saat mental masih lemah dan sangat tidak pantas dikenang.

Sejak SD kelas 6 menginjak SMP, Penulis memang sering naik panggung untuk memberikan pidato sambutan. Karena belum tahu ilmunya, sering apa yang hendak disampaikan terlupa bahkan kosakatanya pun menjadi rancu.

Alhasil, ditertawakan masyarakat itu sudah menjadi makanan Penulis sehari-hari. Selain itu, kekurangan Penulis yang lain yaitu kurang jelas dalam pengucapan lafal. Bahkan ketika menampilkan nasyid, sempat menangis karena waktu tampil tidak hafal liriknya, sound system mati, dan grogi tingkat tinggi.

Oleh karena itu, jangan cemburui senyuman Penulis yang agak sinis mengejek ini, karena dulu memang Penulis pernah berkali-kali merasakan pahitnya perjuangan, menangis pun tak hanya satu kali, tapi berkali-kali.

Dari pengalaman di atas, ternyata tak perlu jauh-jauh cari resep obatnya, cukup ambil yang terdekat dan tergratis. Ya, menulis adalah obatnya. Sebuah penelitian membuktikan bahwa menulis mampu membantu kemahiran anak usia sekolah dasar (SD) dalam berbicara bahasa Inggris.

Penelitian tersebut sengaja membandingkan tingkat kepiawaian anak dalam berbicara bahasa Inggris antara anak yang tanpa didahului menulis dan juga dengan anak yang terlebih dahulu menulis.
Hasilnya luar biasa! Anak yang tadinya belum bisa berbicara bahasa Inggris, lambat laun mampu berbicara dengan baik bahkan terlihat lancar.

Dari hal di atas, menulis juga mengajak untuk berpikir apa yang akan kita sampaikan. Dengan hal itu, kita sudah mempunyai bayangan tentang apa yang akan kita ucapkan. Dai sekelas Jeffry Al Buchory saat beliau ceramah di Yogya pun sempat menyampaikan, bahwa beliau juga masih merasakan gugup tampil walaupun telah mempersiapkan jauh-jauh hari.

Ya, semua mengalami proses yang sama, pernah grogi, pernah gagal, pernah lupa, dan lain sebagainya. Ingatlah pepatah bijak: “Jika gagal merencanakan, maka sama saja merencanakan kegagalan!”

6. Rasa Bahagia

Belajar Menulis membuat Smile always
mademoisellemaurice.com

Menulis ternyata mampu membuat bahagia. Bagaimana bisa? Menulis adalah menuangkan harapan-harapan masa depan. Harapan itulah yang membuat kita optimis dan selalu bahagia.

Oleh karena itu, jangan melupakan kebahagiaan karena sebanarnya Anda sedang berbahagia. Selain itu, menulis juga mengurangi beban otak untuk menampung segala ide, gagasan, dan ilmu, menulis juga mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Bayangkan, ketika tulisan kita memberi solusi, inspirasi, dan pencerahan, tentunya kita akan merasa senang karena orang lain mampu mengambil pelajaran dari tulisan kita. Ali bin Abi Thalib juga pernah mengatakan bahwa ikatlah ilmumu dengan tulisan.

Hal ini berarti selain memperkuat daya ingat, menulis juga mampu menjadi dokumentasi dari ide atau gagasan yang muncul secara tiba-tiba. Tentu pernah terlintas satu atau bahkan dua kata yang sangat bermakna dan penuh inspirasi, kadang kala kita lupa dengan kata tersebut sehingga menimbulkan kerja keras untuk mengingat dua kata tersebut. Maka agar kita teringat, perlu kita ikat dengan tulisan.

7. Kepuasan Batin Intelektual

Belajar Menulis membuat Daya Intelektual Bertambah
tcabogados.co

Ada perasaan gembira, senang, dan sangat bangga setelah foto dan judul yang unik Penulis terpampang di media massa. Kali pertama itu sangat membekas, tepatnya tanggal 6 Maret 2012.

Saat itu, banyak SMS masuk mengucapkan selamat, bahkan ketika bertemu teman dan jamaah yang sering ke masjid, mereka memberikan jabatan tangannya seraya berucap, “Selamat, tulisannya sangat menarik.”

Di saat itu juga, Penulis merasa betapa indahnya dihargai itu. Walaupun dari awal memang Penulis tidak mau terlalu dipuji atau disanjung, tetapi demi sebuah keakraban ternyata saling menghargai karya itu sangat penting.

Soal tidak mau disanjung atau dipuji memang prinsip Penulis agar hal itu jangan terjadi, karena Penulis mudah lengah dan terlena ketika mendapatkan pujian.

Saran Penulis, tidak usah mengharap pujian. Jika pujian datang, maka biasa-biasa sajalah dalam menyikapinya. Jangan terlalu senang, terus evaluasi diri dan maksimalkan kerja keras.

Begitu pula sebaliknya, jika dikritik atau ditegur, jangan terlalu diambil hati. Ambil saja yang baik dan buang yang buruk. Pandai-pandailah memfilter, karena pujian dan kritikan sebenarnya sama-sama ujian.

Itulah karya, berkaryalah, namun ingatlah pesan Adriano Rusfi, seorang penasihat Masjid Salman ITB, “Jangan berkarya dengan prinsip tunduk seperti prinsip ekonomi, yakni berkarya sedikit namun hasilnya banyak. Teruslah berkarya tanpa mengenal lelah karena hal itulah yang menjadi investasi kita di akhirat kelak.

Allah hanya akan membeli karya, bukan hasil. Oleh sebab itu, berkarya hendaknya jangan sampai berhenti, jangan sampai hanya karena sudah dapat honor yang cukup untuk makan esok hari kita menjadi lupa dan lengah untuk berkarya.

Hindari sikap terlalu berbangga diri dengan apa yang diraih selama ini. Merasa pintar dan merasa hebat hanya akan menjadikan diri malas untuk memperbaiki diri. Di sinilah titik perbaikan diri akan terhenti pada sikap keangkuhan.

Semangat berkarya harus terus dipupuk, entah itu karya berupa buku, tulisan, kepemimpinan, dan yang terpenting adalah karya dalam ketakwaan kita. Semoga semakin lebih hebat, kita menjadi bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah-Nya.

Kepuasan dalam menulis artikel juga bukan hanya untuk penulis itu sendiri, namun juga kepuasan para pembacanya. Pernahkah merasa kesal terhadap suatu kasus atau peristiwa yang terjadi lalu kita menginginkan pelampiasan agar kekesalan kita hilang?

Atau sering melihat kasus yang membuat batin kita tak bisa terima? Nah! Jujur, Penulis pun awalnya menulis hanya ingin meluapkan kekesalan dengan bentuk pelampiasan karena terlalu seringnya melihat berita para pejabat di media televisi yang semakin memprihatinkan.

Ketika tulisan kita terpampang, otomatis pembaca akan merasa membenarkan dan terhibur oleh artikel kita. Bahkan opini kita mampu menggiring pembaca untuk turut serta mendukung gagasan yang telah kita sampaikan.

Ya, pembaca menjadi senang dan kekesalan pun ikut tersalurkan ketika membaca sebuah artikel yang berani, unik, dan mencerahkan dari penulis.

8. Karya yang Bermanfaat

Belajar Bermanfaat
consumewithcare.org

Sebuah karya ataupun dalam hal ini tulisan tentunya haruslah yang bermanfaat. Penulis sempat menemui beberapa penulis. Sebagian di antaranya mempunyai beberapa kriteria. Pertama, mereka penulis yang selalu menulis, alhasil banyak tulisan yang seakan jauh dari lingkungan atau masalah yang sedang terjadi di lingkungan, isinya hanya teori dari Barat saja.

Menarik sih menarik, namun jika terlalu mengunggulkan dan bercondong ke peradaban Barat, Penulis rasa kurang tepat. Ikatlah kata nasihat, “Jika ingin mengalahkan Jepang, jangan jadi Jepang, namun jadilah Indonesia!” Penulis seperti ini biasanya jarang berinteraksi sosial, mengasingkan diri, dan bahasa yang digunakan “ndakik-ndakik”.

Bukan bermaksud apa-apa, namun seiring berjalannya waktu, independensi media saat ini sudah tak bisa dipercaya lagi. Hal ini dikarenakan memang biaya produksi yang terlalu mahal.

Menurut penuturan Pak Dosen Amirudin Zuhri dalam kesempatan memberi kuliah produksi media cetak sekaligus redaksi di Harian Jogja, bersamaan era digital, saat ini banyak surat kabar yang telah berumur ratusan tahun di Amerika Serikat gulung tikar.

Hal tersebut dikarenakan harga kertas yang semakin melambung dan persaingan dunia digital menggeser peran media cetak. Salah satu yang sangat berpengaruh adalah media internet yang semakin mudah diakses.

Dari beberapa media yang bertahan, dikabarkan tak lagi menjunjung etika jurnalistik, yakni media yang menerima suap, menjadi wartawan abal-abal sampai kongkalikong dengan penguasa yang akhirnya merusak keindependensian sebuah media dalam meliput berita.

9. Mendongkrak Kepopuleran

Belajar Menulis seperti menaiki tangga
123rf.com

Percayakah bahwa menulis bisa mendongkrak kepopuleran? Oke, agar percaya, akan Penulis paparkan pengalaman presiden kita. Konon, Presiden SBY adalah orang yang gemar menulis di antara tentara-tentara lainnya, walhasil dia dikenal sebagai penulis ulung.

Dia pun mendapatkan gelar intelektual dari teman-temannya dan akhirnya mengajukan diri untuk menjadi presiden. Waw, Subhanallah-kan?

Nggak hanya sampai di situ, dosen-dosen juga cukup mengenal nama kita jika kita mau menulis. Bahkan dipamer-pamerkan sebagai mahasiswa yang rajin dan berprestasi. Padahal kenyataannya belum tentu hehe. Belum tentu salah maksud Penulis, hehe. Sudah jelas, nilai A ada di tangan.

10. Dapat Honor

Belajar Menulis untuk menghasilkan pendapatan
hourslogger.com

Menulis juga dapat honor lho, walaupun itu bukan tujuan utama kita, paling tidak mampu menjadi pendukung sedekah agar tambah berkah.

Jika kita menulis opini, uang lelah dalam menulis sangat bervariasi, mulai dari 50 ribu hingga satu juta dalam tataran media cetak nasional.

Berbicara soal uang memang sensitif, namun perlu disebutkan juga karena hal ini juga merupakan bagian dari kepenulisan artikel.

12. Meningkatkan Kedisplinan

Menulis membutuhkan mental yang kuat. Mental kuat akan terbangun dari ketulusan dan pengabdian. Di balik pengabdian itulah adanya keterbatasan yang membuat akal dan pikiran kita terus berjalan.

Maka, tak asing lagi pepatah mengatakan The power of kepepet. Ya, bersahabatlah dengan keterbatasan meskipun sudah kaya ataupun masih banyak kesempatan waktu. Teruslah berusaha semata-mata demi karya.

Menulis bisa meningkatkan kedisiplinan karena menulis membutuhkan ketelatenan, keuletan, dan tekad tak mudah menyerah. Ketika di pikiran kita terlintas hal yang penting, saat itulah kita sebagai seorang penulis tak ingin menyia-nyiakannya.

Itu adalah momen berharga! Maka perlu dituliskan dalam sebuah bentuk gagasan, berharap dapat menjadi karya dan sangat bermanfaat bagi orang lain ketika membacanya.

Dengan menulis, waktu kita akan semakin produktif dan efisien. Bahkan, Penulis sendiri merasakan semenjak mengenal dunia tulis-menulis terasa sangat betapa pentingnya waktu itu, betapa cepatnya hingga kadang dengan menulis kita merasa waktu seakan berjalan sangat cepat.

Semoga selalu terpanjatkan doa agar kita terhindar dari orang-orang yang menyia-nyiakan waktu!

13. Bekerja untuk Keabadian

Kenal tokoh-tokoh Islam terdahulu? Seperti Al Ghazali, Imam Bukhori, dan lain sebagainya. Pemikiran dan karya-karya kitab mereka senantiasa hidup. Adalah Ahmad Wahib, tokoh HMI yang usianya baru menginjak 21 tahun, namun namanya disejajarkan dengan intelektual-intelektual sekelas Buya Hamka, Muhammad Natsir, Gusdur, Nurcholis Majid.

Namanya hingga kini tetap hidup abadi, bahkan catatan-catatan pemikiran gagasannya masih sering digunakan untuk dialektika keilmuan.Di antara catatan harian yang fenomenal, Ahmad Wahib termasuk salah satunya. Selain itu terdapat nama-nama seperti Soe Hok Gie dan Kartini.

Tentu masih banyak catatan harian para pahlawan terdahulu, hanya saja tidak semua dituliskan ataupun dipublikasikan.

Mengingat tiga tokoh di atas yang namanya abadi, Penulis menjadi terpikirkan jikalau itu bisa menjadi ibadah tentu insya Allah akan menjadi jariah. Terkait isi dari ketiga catatan ataupun pemikiran-pemikiran dari ketiga tokoh di atas, Penulis sendiri tidak menganggap semuanya baik.

Ada beberapa memang yang tak bisa diterima dengan akal sehat Penulis dan nurani merasa menolak. Tapi yang jelas, Penulis mencoba mengambil yang baik-baik saja. Ya, semua mempunyai gayanya masing-masing!

14. Bukan Sekadar Memecahkan Masalah

Menulis mempunyai tujuan besar
ksmartin.com

Adalah penulis yang menulis untuk memecahkan masalah. Kita tahu, bahwa tidak semua tulisan kita mampu menyelesaikan masalah, bahkan jika tidak kita sadari, tulisan yang kita buat hanya memperumit masalah menjadi lebih besar.

Oleh karena itu, cukup dipertanyakan peran media saat ini, banyak mengungkap namun nihil dalam berbuat. Agar tulisan menjadi inspiratif, tentu tulisan harus mengandung solusi kreatif dan mudah dicerna. Sebab itu, tulisan yang diakui biasanya diutamakan dari bidang pakar keilmuan masing-masing.

Tentulah pikiran kita tak seberapa. Maka, fokus itu penting dan tak ada salahnya dalam lingkup memperdalam keilmuan.

Soal keterbatasan manusia, Penulis mempunyai pengalaman yang membuka hati dan pikiran Penulis. Ketika menjadi pengurus masjid di Kampus UIN Sunan Kalijaga, Penulis sempat tertipu oleh seseorang yang mengaku menjadi mualaf.

Laki-laki itu bercerita bahwa dia diusir keluarga bahkan hendak dibunuh. Setelah beberapa minggu lamanya, dikabarkan bahwa laki-laki itu ternyata buronan polisi. Masya Allah!

Sekelumit kisah di atas menunjukkan bahwa seistimewa apa pun analisis ataupun tingkat keilmuan kita, tetap saja ada kekurangan yang sangat berarti. Kesempurnaan hanyalah milik Allah Swt. Maka dari itu rendah hatilah, tawadu.
Dari pengalaman yang pahit itu, Penulis menyimpulkan bahwa menulis tidak sekadar hanya memecahkan masalah namun juga perlu adanya tujuan. Sebagai seorang muslim, tentu tujuan kita adalah Allah. Selanjutnya, tujuan yang tak kalah penting untuk diketahui bahwa menulis sebagai ajang memperjuangkan ideologi besar untuk memecahkan berbagai masalah.

Ya, tentu sebagai muslim Alquran dan sunnah menjadi rujukan utama meskipun tidak melulu dengan simbolik namun bisa juga diaplikasikan lewat nilai-nilai Islam yang universal. Tentu dalam rangka menegakkan nilai-nilai keislaman.

15. Menulis Sebagai upaya Mendekati Tuhan

Belajar Menulis agar bertakwa
in-islam.com

Pada akhirnya, manfaat yang tak ternilai harganya bagi seorang penulis adalah menemukan Tuhan, Allah Swt lewat jalan kepasrahan. Bulan Maret 2014 lalu Penulis dan teman-teman takmir Masjid Sunan Kalijaga sempat mengadakan seminar dengan Mantan Rektor UIN Alaudin Makassar, Bapak Prof. Azhar Arsyad, M.A. bertajuk Rasulullah dan Peradaban Islam.

Pesan beliau dalam pertemuan khusus yang paling berkesan adalah, ”Jjika yang kita lihat hanya yang tampak oleh mata saja, sudah barang tentu kita akan selalu tertipu.” Maksud dari yang tampak-tampak ialah hanya mencari hal yang bersifat duniawi saja, sedangkan yang tak tampak adalah hal-hal yang bersifat ukhrawi.

Petuah tersebut bermaksud bahwa apa yang kita lakukan saat ini usahakan dalam rangka mencari Tuhan. Beliau menceritakan dirinya yang telah meraih apa saja soal impiannya di dunia namun merasa kosong dan hampa.

Beliau tersadar ketika berbenturan dengan penelitian konsep tasawuf yang mengajarkan kedekatan kepada Allah Swt. Akhirnya, beliau bertekad untuk melakukan penelitian tasawuf dan menyarankan agar Allah Swt hendaknya yang dicari, diutamakan dan dinomor satukan, bukan dunia. Menulislah untuk mencari Tuhan yang “hilang” di dalam dirimu.

 

Blogger Jogja Ambil Keilmuan Jurnalistik — Hobi Men-SEO-kan Konten — Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta — Gabung dan Dapatkan Berbagai Info Kampus di Komunitas Academic Indonesia Whatsapps di 0812-8307-7972

One thought on “Inilah 15 Manfaat Luar Biasa Belajar Menulis Artikel di Media Massa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *