Belajar Menulis Membutuhkan 3 Pondasi Besar

Menulis Butuh Nyali
1freewallpapers.com

Ingat TKW yang mampu menulis buku? Dia adalah Eni Kusuma. TKW dari Hongkong. Dialah yang bertekad ingin membuktikan bahwa hambatan apa pun bisa ditaklukkan. Buku berjudul Anda Luar Biasa tersebut mendapat endorsment dari sekitar 27 tokoh ternama mulai dari aktivis, penulis, motivator, maupun pengusaha.

Dia tidak kuliah, namun bisa menyelesaikan buku. Menjadi penulis tidak harus pandai, pintar, apalagi bakat, semua orang bisa menulis asal mau belajar dengan sungguh-sungguh.

Ada masalah lagi? Umur Anda sudah 30 tahun? Tak masalah bung! Tahu Mo Yan? Yups bener beuts, beliaulah peraih Nobel Sastra 2012. Beliaulah yang mampu menyuguhkan karya sastra dengan menggabungkan fantasi dan realitas, sejarah dan permasalahan sosial sekaligus.

Dengan begitu, ia mampu mengkombinasikan sebuah tulisan terbaik seperti Willian Faulkner dan Gabriel Garcia Marquez dengan titik tolak pada sastra kuno Cina beserta tradisinya. Pantaslah ia mendapatkan Nobel Sastra pertama kalinya dari warga Cina.

Tapi tahukah Anta? Ia mulai menulis umur 31 tahun. Ia mulai menulis ketika menjadi tentara aktif. Kemudian ia aktif mengajar sastra pada tahun 1984 untuk sekolah militer di usia 34 tahun. Ia baru bisa mengeluarkan karya sastranya selang tiga tahun kemudian dengan tajuk novel Anggur Merah.

Bagaimana? Masih ada alasan tidak mau menulis? Coba khusus Anda yang sedang senyum-senyum sendiri membaca buku ini, ajukan seratus alasan, akan Penulis jawab dengan seribu solusi jawaban. (hh)

Ok, sepertinya masih perlu contoh-contoh lain yang menggugah hati kita. Tahu Nick Vujicic? Dialah lelaki tanpa lengan yang mampu menulis buku Life Without Limbs. Ia menulis dengan dua jari kaki di kaki kirinya dengan pegangan khusus yang meluncur ke ibu jari kakinya.

Lain Nick lain juga dengan Kyle Maynard yang belajar menulis dengan menggunakan dua sikunya. Dengan dua sikunya, ia mampu mengetik sampai lima puluh kata per menit pada keyboard normal. Bukunya No Excuses pun laris dipasaran menjadi buku motivasi yang menginspirasi.

Udah deh, nyerah aj, semua orang pasti bisa menulis. Hanya saja ada kemauan atau tidak. Soal manajemen waktu kan bisa diatur? Sekali lagi, semua orang bisa menulis! Menulislah mulai sekarang! Berikut ada dua pondasi yang harus dimiliki penulis pemula:

1. Revolusi Mental

Menulis Belajar
eincha.blogspot.com

Di awal-awal menulis dulu, Penulis sering malu menunjukkan tulisan opini Penulis kepada guru Penulis. Yah, Penulis sudah berpikir bahwa tulisan Penulis sangat dangkal, dan tidak layak untuk disebut tulisan. Namun itulah proses.

Penulis teringat yang disampaikan Bung Bram dalam workshop-nya, bahwa penulis besar seperti Mahfudz M. D. atau Amin Rais pun dulu juga mengalami hal yang sama seperti yang kita alami saat ini. So, mulai sekarang tak usah malu karena semua penulis pasti mengalami proses itu.

Berita terbaru yang disampaikan Republika menyebutkan bahwa Joko Widodo selaku presiden terpilih pun membutuhkan waktu dua pekan untuk menyelesaikan satu artikel opini yang berjudul “Revolusi Mental”.

Dalam berita tersebut dijelaskan bahwa sebelum mengirimnya di koran nasional Kompas, sebelumnya Jokowi mengajak timnya untuk diskusi dan menentukan gagasan utama yang akan disampaikan.

Nah, presiden terpilih saja awalnya membutuhkan waktu dua pekan untuk menulis. Kita pasti dapat lebih cepat karena kita bukan calon presiden yang tak sibuk hahaha…

Hal ini belum lagi jika tulisan yang kita kirimkan ke media massa, mesti menunggu hingga berhari-hari dan ternyata tidak dimuat. Saran Penulis, jangan sekali-kali berkecil hati.

Di dalam bukunya Bram Aji, Menembus Koran disebutkan bahwa sebagian redaksi memang ada yang menyengaja untuk menunda pemuatan agar mental sebagai penulis memang benar-benar terasah, yakni tak pernah menyerah.

Jika kita sudah lolos ujian ini, dan terus mengirimkan karya-karya yang berbobot, insya Allah tulisan kita akan dimuat. Alhamdulillah, dulu tulisan Penulis langsung dimuat dengan tajuk, “Premanisme dan Tawaran Pemuda”, di kolom Suara Mahasiswa Kedaulatan Rakyat. (Yang ini namanya ujian dalam kenikmatan.)

Itulah pengalaman, kita juga harus memperbanyak pengalaman untuk lebih banyak bertatap muka dengan berbagai ideologi yang berbeda. Jadilah perangkul. Mas Tito, Ketua Pemuda Payaman Utara mengatakan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang mampu berbaur dengan siapa saja. Semua menjadi anugerah yang tak ternilai harganya.

Meskipun hal tersebut secara tidak langsung memberikan solusinya, namun suatu saat pasti akan bermanfaat. Itulah, harusnya kita senantiasa tawadu, karena apa pun akan terjadi di luar dugaan kita. Termasuk ke mana kelak kita akhirnya, ke surga atau ke neraka kita tidak tahu, tak ada yang menjamin hal itu.

Jangan berharap masuk surga dulu, kadang karena kita ataupun masjid kita tertutup menyebabkan warna-warna keislaman yang lain markasnya menjadi di bawah tanah ataupun di rumah-rumah sehingga tidak ada lawan berdialektika bagi mereka.

Mereka semakin tertutup karena masjid tertutup dan terjadilah penyelewengan-penyelewengan atas nama agama akibat ketertutupan dan kesempitan mereka dalam memahami kehidupan yang serba kompleks ini.

2. Menolak Malas!

Menolak Malas Ketika Belajar Menulis
dialoguenb.org

Tahu tulisan Menolak Lupa karya Mas Adrew? Ya, tulisan-tulisan singkat itu banyak terpampang di tembok-tembok pinggir jalan. Dulu sih awalnya tak tahu, tapi lama-kelamaan tahu bahwa itu gambar seorang tokoh HAM bernama Munir. Tulisan sederhana namun mempunyai power yang berkesan dan membekas di ingatan. Nah, menolak malas ini terinspirasi dari Anti Tank.

Memang sulit dihindari, sering kali rasa malas datang tiba-tiba tanpa permisi. Di banyak waktu, kadang sering kita memilih untuk melihat televisi bahkan nongkrong ngobrol ngalur-ngidul. Ada beberapa hal yang Penulis lakukan ketika rasa malas menyerang dan mencoba merayu.

Pertama, bayangkan Rasulullah Saw, tentu kita tak mau kekasih Allah akan melihat kita dengan wajah bersedih karena kita malas dan menghambur-hamburkan waktu yang tersedia.

Penulis sempat iri ketika menjumpai kisah-kisah mereka yang mimpi bertemu Rasulullah. Mereka disemangati langsung oleh Rasulullah, betapa indahnya! Dunia yang seolah-olah panas, mengerikan, dan terasa susah serta menderita akan hilang begitu saja jika sudah pernah lihat pancaran nur dari wajah Rasulullah.

Bayangan nur yang membekas nan menjadi penyejuk sekaligus penenang selamanya. Maka dari itu, buatlah Rasulullah tersenyum. Semoga kita juga termasuk orang-orang yang diberikan kesempatan untuk bertemu Rasulullah di dunia walaupun hanya lewat mimpi.

Kedua, masih ingatkah doa orang tua ketika anaknya berlabuh ke kota untuk mencari ilmu? “Mugo-mugo anakku ketuk pikire” (Semoga pikiran anakku sampai). Bayangkanlah wajah ayah ibu yang menanti anaknya untuk menjadi anak teladan, anak yang dibangga-banggakan agar menjadi orang sukses.

Siapa lagi yang akan membahagiakan orang tua kita selain anaknya sendiri? Kapan lagi jika bukan sekarang? Maka menulislah demi kebahagiaan orang tua! Tolaklah rasa malas itu!

Ketiga, bayangkanlah orang-orang yang kita sayangi, janganlah kita sesekali mengecewakan mereka dengan menjadi sarjana yang serba apa-apa tidak bisa. Tunjukkan dan buktikan prestasi kita! Bahagiakan mereka dengan susah payah hari ini. Mereka menginginkan kita sukses!

Keempat, ingatlah masa depanmu. Kita yang menentukan masa depan kita sendiri. 99,99% diri kita sendiri. Teman kita tak akan menjamin kesuksesan kita. Ia hanya sebagai link yang kapan saja bisa pergi dan berlalu untuk membantu mencarikan pekerjaan. Jika skill tak ada, bagaimana bisa meraih masa depan? Kenanglah, belajarlah dengan tekun agar kita tak akan merasa susah menjadi orang bodoh!

Terakhir, jika hal di atas tidak mempan, jadi godaan setan memang besar. Tapi perlu diketahui bersama, jangan menganggap setan itu cerdas, pandai, ataupun hebat. Itu salah kaprah! Tanamkan dalam dirimu bahwa setan itu bodoh dan kenyataannya memang bodoh dan tak bisa apa-apa.

Angkuh dalam hal ini menurut Penulis dibenarkan mengingat setan adalah benar-benar musuh kita baik yang tersembunyi maupun yang tampak. Terkadang kita pun takut dan nyali ciut ketika mendengar kata “setan”, padahal setan itu bodoh, ya kita pikir saja sudah enak-enak di surga, setan malah mau di neraka dengan sebuah perjanjian menggoda manusia.

Oleh karena itu, jangan sekali-sekali malas karena jika malas berarti berhasil dirayu setan dan menjadi teman barunya makhluk bodoh bernama setan. Kesimpulannya, bolehlah kita galau, tapi jangan galau yang membuat malas, resah, atau bahkan patah semangat hidup.

Galaulah seperti Rasulullah Saw, sahabat serta ilmuwan terdahulu, mereka tak hanya sekadar asal-asalan galau, namun galau berkualitas dan memukau!

3. Langsung Aksi!!!

Belajar Menulis dengan Aksi
designafearlesslife.com

Setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda. Tak perlu dipaksakan, memang tugas seorang pengajar adalah memahamkan, bukan menyamakan. Sekali lagi memahamkan, bukan menyamakan! Di dalam menulis pun juga seperti itu, setiap orang mempunyai cara dan akhirnya mempunyai karakter tersendiri.

Bagi Penulis, cara membaca dan langsung aksi adalah yang sering Penulis terapkan. Jika kita sudah membaca, maka cermati sungguh-sungguh setiap kata, kalimat, sampai paragraf.

Jangan lupa juga amati hal-hal yang tersembunyi, karena hal inilah yang sering hilang dan terlupa begitu saja seperti makna di balik tulisan, maksud tulisan dibuat, dan lain sebagainya.

Carilah pengetahuan seluas-luasnya lewat membaca, merenung, berpikir, dan lewat pengalaman. Jika tidak begitu, maka kegiatan membaca kita sering terlupa dan tak berkesan.

Awalnya, Penulis sendiri belajar dari nol bahkan minus. Di bawah ini adalah hal-hal yang perlu ditekankan saat belajar menulis termasuk menulis artikel:

Baca juga tulisan lainnya terkait Rahasia-rahasia belajar menulis

 

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Belajar Menulis Membutuhkan 3 Pondasi Besar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *