Analisis Wacana Kritis; Sebuah Studi Ideologi Media

A) Pengertian Analisis Wacana dan Wacana Kritis

ANALISIS WACANA KRITIS-Kata wacana tidak hanya disebut dalam diskursus analisis teks media atau tepatnya komunikasi, namun juga beberapa disiplin ilmu antara lain seperti psikologi, sosiologi, politik atau sastra dan sebagainya.

Oleh karena perbedaan lingkup keilmuan, kata yang telah popular biasanya mempunyai multi makna atau beragam definisi baik menurut berbagai ilmuan dari bidang keilmuan diatas maupun apa yang beredar di masyarakat.

Menurut Roger Fowler, pengertian wacana adalah komunikasi lisan atau tulisan yang dilihat dari titik pandangkepercayaan, nilai, dan kategori yang masuk di dalamnya; kepercayaan disini mewakili pandangan dunia; sebuah organisasi atau representasi dari pengalaman.

Wacana yang dimaksud disini adalah analisis yang memfokuskan pada bentuk struktur atau bentuk wawancara serta praktik dari komunikatornya. Bahasa disini menjadi alat sebagai perantara memperpanjang tangan kekuasaan, dalam kacamata politik melalui penggambaran subjek yang di dalamnya terdapat kepentingan ideologi.

kanalisis kritis wacana
persmaideas.com

B) Perbedaan Analisis Wacana dengan Analisis Wacana Kritis

Di setiap institute yang ada di negeri ini tempat parker yang tersedia sangat beragam. Bahkan ada beberapa institusi yang menempatkan tempat parkirnya di garasi tersendiri.

Bagi kaum positivisme-empiris, mungkin saja hal itu akan mudah berlalu, karena kaum positivism-empiris beranggapan bahwa bahasa dilihat sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya.

Ciri dari pemikiran ini lebih mengutamakan kebenaran tata bahasa yakni kebenaran sintaksis dan semantic sebagai bidang utama dari aliran positivesme-empiris.

Oleh karena itu, sudah barang tentu jika ciri dari pemikiran kaum ini pun memisahkan antara pemikiran dengan realitas dan memandang setiap manusia dalam menyampaikan pengalaman-pengalamannya tanpa hambatan.Pandangan kedua adalah pandangan kaum konstruktivisme.

Aliran ini memandang bahwa apa yang telah disebutkan oleh kaum positivism-empirisme sangat bertolak belakang dengan kaum konstruktivisme. Menurut kaum ini, kebenaran bahasa bukan merupakan suatu jaminan untuk sekedar mengetahui sebuah realitas yang terlepas dari subjek.

Justru yang terjadi adalah bahasa dikonstruksi sedemikian rupa oleh komunikator sebagai tindakan pembentukan diri sekaligus pengungkapan jati diri. Oleh sebab itu, dalam aliran ini subjek berperan penting dalam pembuatan bahasa selain sebagai faktor sentral juga merupakan berkaitan apa yang menjadi pengalaman hubungan-hubungan sosialnya.

Jika seperti contoh diatas, maka akan timbul pertanyaan bagi peneliti apa makna atau maksud yang tersembunyi tempat parkir yang disendirikan? Apakah untuk menunjukkan klasifikasi sosial atau yang lainnya?

Selanjutnya, seperti dituliskan A.S. Hikam bahwa pandangan konstruktivisme masih belum menganalisis dalam ranah factor-faktor hubungan kekuasaan yang inheren dalam setiap wacana.

Wacana itulah yang nantinya akan membentuk subjek-subjek tertentu diikuti perilaku-perilaku. Oleh karena kurang komprehensifnya analisis tersebut maka lahirlah pandangan kritis sebagai koreksi dari pandangan konstruktivisme.

Pandangan kritis disini tidak menempatkan pada kebenaran bahasa ataupun strukturnya, namun lebih pada historis maupun institusional.

Hemat kata, pandangan kritis ini mengacu pada proses produksi, yakni komunikator berperan sebagai pembentuk tema-tema tertentu, subjek bahkan strategi-strategi tertentu. Kedua, pandangan ini juga mengacu pada institusi, atau dalam hal ini reproduksi berkaitan dengan perbaikan suatu wacana.

Dalam hal ini tentu saja bagian redaksi yang bertugas sebagai pemberi pengaruh besar karena berkaitan dengan kepentingan ideology media bersangkutan. Dengan hal itu, pandangan kritis ini sangat erat kaitannya dengan upaya membongkar apa yang tersembunyi dari pembuatan wacana tersebut.

C) Karakteristik Analisis Wacana

menghegemoni
columbiaspectator.com

Analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis/ CDA) adalah sebuah analisis yang menggunakan teks sebagai data utama. Namun demikian analisis ini tidak sama dengan studi bahasa dalam pengertian linguistic tradisional yang semata-mata hanya menggambarkan aspek kebahasaan. CDA adalah analisis data teks yang disertakan konteks sebagai perpanjangan untuk meraih tujuan tertentu dan praktik kekuasaan.

Mengambil tulisan Teun v Djik, Fairclough dan Wodak yang dikutip Eriyanto menyebutkan ada lima karakteristik wacana kritis.

1) Tindakan

Wacana merupakan suatu hal yang direncanakan, disusun sedemikian rupa kemudian diimplementasikan dalam tindakan. Atas dasar perencanaan dan penyusunan itulah seorang komunikator pasti mempunyai maksud paling tidak ia meraih eksistensi yakni sebagai bahan interaksi kepada orang lain.

Arti lainnya, wacana bukan diartikan sebagai hal yang stagnan dan diletakkan tertutup tanpa ada pengetahuan dari luar.

Wacana juga bukan sekedar kebiasaan tanpa adanya faktor pengontrol yang dilakukan seperti sudah menjadi kebiasaan yang tak disengaja seperti batuk atau yang lainnya.

Wacana yang dilontarkan atau dipublikan pasti mempunyai maksud tertentu ataupun tujuan entah sebagai pembela atas nama rakyat hegemoni media, menyanggah, mendebat, mengelabui atau tindakan lainnya yang diekspresikan secara sadar dan terkontrol.

2) Konteks

3) Historis

4) Kekuasaan

5) Ideologi

D) Pendekatan Utama dalam Analisis Wacana Kritis

1. Analisis Bahasa Kritis

2. Analisis Wacana Pendekatan Prancis

3. Pendekatan Kognisi Sosial

4. Pendekatan Perubahan Sosial

5. Pendekatan Wacana Sejarah

E) Paradigma Kritis

1. Paradigma Kritis

2. Media dan Berita Dilihat dari Paradigma Kritis

3. Analisis Teks Berita Dilihat dari Paradigma Kritis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *