Twitter disinyalir Bisa Mendeteksi Laporan Awal COVID-19, Kok Bisa?

19 views

Twitter disinyalir Bisa Mendeteksi Laporan Awal COVID-19, Kok Bisa?

Twitter (Gambar: Pixabay/Geralt)

Media sosial saat ini memegang peranan penting dalam mobilitas manusia. Facebook, Twitter sampai aplikasi chatting seperti WA bukan hanya penting untuk menghubungkan antar manusia, namun juga penting untuk menyebarkan informasi. Belakangan peneliti di Eropa menemukan hal menarik seputar media sosial, dalam hal ini adalah Twitter. Media sosial bercirikan ikon burung berwarna biru ini disinyalir bisa mendeteksi laporan awal COVID-19 menurut studi terbaru.

Ternyata hal ini bisa diketahui dengan topik yang paling sering dibicarakan di Twitter dalam kurun waktu tertentu. Peneliti menemukan hal ini berdasarkan topik pada kurun waktu Januari 2020. Pada kurun waktu tersebut orang-orang di Eropa tercatat sering men-tweet mengenai topik “batuk kering”, yang erat kaitannya dengan gejala COVID-19.

Penemuan yang memiliki sifat potensial ini tercatat dalam penelitian berjudul “Early Warnings of COVID-19 Outbreaks Across Europe from Social Media”. Penulis utamanya adalah Milena Lopreite, dari University of Calabria di Italia berserta sejumlah koleganya. Penelitian ini dimuat dalam jurnal Scientific Reports, seperti yang diberitakan Science Alert (27 Januari 2021).

Bagaimana Twitter bisa Mendeteksi Kasus Awal COVID-19?

Penelitian ini berbasiskan pada data di Twitter dengan 570.000 pengguna dan lebih dari 890.000 cuitan atau tweet. Lalu tim peneliti mencari kata kunci tertentu untuk mengumpulkan pada kurun waktu kapan cuitan tersebut mengalami peningkatan signifikan.

Peneliti lalu memasukkan kata kunci “Pneumonia”, salah satu ciri gejala COVID-19 yang sering dibicarakan oleh tenaga kesehatan. Kata kunci ini lalu dicari dan diterjemahkan ke tujuh bahasa di Eropa. Selanjutnya mereka mengomparasikan data dari musim dingin terakhir hingga musim dingin sebelumnya di tahun 2014.

Mereka juga mengomparasikan data di Twitter tadi dengan data yang ada di media massa pada kurun waktu yang sama. Hasilnya adalah mereka menemukan bahwa ada pertumbuhan signifikan tentang pencarian kata kunci tersebut pada musim dingin tahun 2019-2020.

Hal yang sama mereka temukan juga pada kata kunci “batuk kering” yang merupakan salah satu gejala COVID-19. Pada kurun waktu yang sama pencarian kata kunci tersebut juga memiliki pertumbuhan yang signifikan.

Penelitian ini juga menyebutkan secara lebih rinci berdasarkan cuitan yang ada di beberapa negara Eropa. Italia misalnya, cuitan di Twitter yang menunjukkan mengenai tempat virus bermula sudah ada pada minggu pertama di tahun 2020. Kemampuan deteksi ini bahkan lebih awal terjadi karena Italia mengumumkan kasus pertama virus COVID-19 baru pada 20 Februari 2020.

Spanyol, Britania Raya dan Polandia juga memiliki pola yang sama mengenai cuitan di Twitter soal COVID-19. Bedanya mereka memiliki selang dua minggu sebelum kasus pertama di umumkan oleh pemerintah masing-masing. Penemuan ini berimplikasi pada penemuan adanya jeda antara informasi penyakit baru dengan kemampuan pendeteksian.

Apa Gunanya?

Milena Lopreite dan timnya menyatakan bahwa hal ini berguna untuk melacak keberadaan penyakit baru yang tidak diketahui sebelumnya. Meskipun begitu mereka menyatakan cara ini bukanlah “alat ramal” penyakit, melainkan untuk melacak keberadaan gelombang baru COVID-19.

Meskipun begitu Lopreita dan timnya juga mencatat bahwa ada kemungkinan cara ini memang bisa disalahgunakan. Mengingat informasi di media sosial kerap kali diwarnai dengan hoax atau berita palsu (fake news). Jadi cara ini perlu adanya otoritas pengawasan secara independen dan berbagi data yang jelas jika benar terdapat gelombang penyakit baru.

Namun dengan keberadaan media sosial seperti Facebook atau Twitter dapat diandalkan untuk mendeteksi informasi awal dan gelombang penyakit seperti COVID-19. “Temuan ini menunjukkan urgensi untuk menyiapkan sistem pengawasan digital dimana media sosial dapat membantu secara lokal untuk mengetahui rantai penularan yang berkembang biak tanpa terdeteksi sebelumnya,” kata Lopreite dan timnya.

 

Sumber:

Science Alert/Tessa Koumoundouros

Scientific Reports/ https://dx.doi.org/10.1038/s41598-021-81333-1

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *