Contoh Resensi Novel Fiksi Laskar Pelangi, Perahu Kertas dan 5 cm

Contoh Resensi Novel Fiksi Laskar Pelangi, Perahu Kertas dan 5 cm

Contoh Resensi Novel — Pernahkah kalian membaca sebuah novel? Jika kalian tertarik pada sebuah novel karena isi ceritanya yang menarik, tentu sempat terbesit di benak kalian untuk mengulas novel tersebut. Kegiatan mengulas novel tersebut disebut dengan resensi novel.

Sebelum Anda melanjutkan artikel mengenai Contoh Resensi Novel, Anda juga bisa menyimak tulisan-tulisan sebelumnya bertajuk Contoh Resensi Buku Pengetahuan

resensi novel
pixabay.com

Novel adalah jenis karya sastra. Meresensi sebuah novel membutuhkan keilmuwan tentang dunia sastra dan memahami seluk beluk novel secara utuh.

Para penulis yang hendak menerjunkan diri pada resensi novel, perlu membekali diri dengan banyak membaca referensi kesusastrraan dan novel. Pasalnya, contoh resensi novel bukan sekedar mengambil ringkasan isi novel saja, melainkan berupaya mengaitkan dengan bedah sekaligus kritik novel secara umum. Misalnya Contoh Resensi Novel Hujan Tere Liye.

Pengertian Resensi Novel

resensi novel terbaru
pixabay.com

Sebelum membahas contoh resensi novel, ada baiknya kita memahami apa definisi dari resensi. Beberapa definisi resensi :

  1. Resensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Resensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan pertimbangan atau pembahasan tentang ulasan buku. Sedangkan kata “mengulas” itu sendiri memberikan penjelasan dan komentar, menafsirkan, memberikan penjelasan, menguraikan pendapat, mempelajari (menyelidiki). Singkatnya, kata “ulasan” mempunyai makna komentar, tafsiran, dan kupasan.

2. Poerwadarminta (dalam Romli, 2003:75)

Menurut WJS. Poerwadarminta berpendapat resensi merupakan pertimbangan atau perbincangan tentang sebuah buku. Perbincangan ini meliputi penilaian terhadap kelebihan atau kekurangan buku tersebut.

Apakah buku tersebut menarik atau tidaknya. Lalu menelusuri tema dan isi buku, memberikan kritikan, dan memberi arahan kepada khalayak. tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca, dipunyai dan dibeli.

Biasanya ulasan atau resensi buku tersebut dimuat di surat kabar atau majalah. Surat kabar atau majalah memberikan ruang khusus tentang resensi buku. Kolom resensi di surat kabar atau majalah berfungsi memberikan apresiasi kepada para penulis serta upaya untuk memperkaya kesusateraan Indonesia.

  1. Buku Bahasa dan Sastra Indonesia (ditulis Euis Sulastri dkk)

Buku Bahasa dan Sastra Indonesia (ditulis Euis Sulastri dkk) menjelaskan resensi berasal dari bahasa Belanda,  ‘resentie’ yang artinya suatu kupasan atau pembahasan.

Jadi, definisi resensi adalah suatu kupasan atau pembahasan tentang buku, drama, atau film. Publikasi hasil resensi melalui media massa, seperti koran, media elektronik dan majalah.

Kesimpulan resensi novel adalah kegiatan mengupas atau membahas sebuah karya sastra novel dengan pertimbangan, penafsiran, mengkritik dan mengomentari isi novel tersebut.

Tujuan Resensi Novel

contoh resensi novel singkat
pixabay.com

Bagi para pembaca, meresensi novel adalah sebuah kegiatan untuk mengetahui gambaran umum sebuah novel. Sementara bagi para penulis, meresensi karya sastra apalagi novel merupakan hal wajib sebab di dalamnya terdapat banyak pengetahuan yang luas..

Contoh resensi novel menjadi sarana bagi para penulis untuk menggali keilmuwan kesusastraannya. Seringnya, hasil dari resensi suatu novel tersebut dijadikan pijakan/acuan bagi para penulis untuk membuat karya novel lainnya yang lebih baik.

Namun secara umum tujuan meresensi novel sebagai berikut :

  1. Untuk membantu pembaca mengetahui gambaran umum dari novel.
  2. Untuk menjadi dasar penilaian tentang kelebihan dan kelemahan novel.
  3. Untuk mengetahui latar belakang dan alasan novel tersebut diterbitkan.
  4. Untuk menguji kualitas novel. Novel tersebut dibandingkan dengan tema novel sejenis lainnya.
  5. Sarana memberi masukan kepada penulis novel. Berupa kritik dan saran terhadap isi keseluruhan novel. Masukan dan kritikan diharapkan mampu menjadi bahan bagi penulis novel untuk membuat karya yang lebih baik lagi.

Manfaat Resensi

contoh resensi novel terbaru
pixabay.com

Penulisan resensi tentu banyak memberikan manfaat bagi pembaca, peresensi atau penulis resensi dan penulis novel. Penjabarannya sebagai berikut :

  1. Untuk menjadi sebuah bahan pertimbangan dan referensi para pembaca yang sedang membutuhkan novel tersebut. Muatan amanat dan nilai-nilai universal kehidupan dari novel dapat menjadi pembelajaran bagi pembaca.
  2. Bagi penulis, resensi bisa menjadi suatu tambahan nilai ekonomi. Penulis resensi mendapat fee dari novel yang telah diresensinya. Biasanya, penulis resensi meresensi novel baru, tulisan resensi dikirimkan ke majalah atau Koran.
  3. Bagi penulis novel, resensi bisa menjadi sarana promosi novel tersebut. Pasalnya, hasil resensi akan dipulikasikan di blog, media elektronik, atau media cetak. Secara langsung, resensi novel yang ditulis peresensi mempromosikan novel dan penulis novel tersebut.
  4. Bagi penulis, meresensi menjadi sebuah sarana  pengembang kreativitas penulis lainnya untuk menghasilkan sebuah karya – karya yang lebih baik lagi.

Jenis-jenis Contoh Resensi Novel

jenis dan contoh resensi novel
pixabay.com

Adapun jenis-jenis contoh resensi novel meliputi :

Resensi Informatif

Suatu resensi yang menekankan sisi informasi dari suatu novel. Resensi jenis ini menyampaikan isi novel secara singkat dan umum dari keseluruhan isi novel. Contoh: Judul Resensi “Memaknai Makna Mantra Man Jadda Wa Jadda” Resensi terhadap Novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi .

Resensi Deskriptif

Pembahsan secara deskriptif tiap bahasan dan bab-bab novel. Penyampaian pembahasan bersifat detil. Contoh: Judul Resensi “ Jalan Cahaya: Ketulusan Cinta Ilahi “ Resensi terhadap Novel Catatan Hati Seorang Istri karya Asma Nadia.

Resensi Kritis

Hal ini merupakan tingkat resensi tertinggi. Resensi kritis novel menempatkan peresensi sebagai kritikus novel. Secara gamblang dan objektif menguliti keseluruhan isi novel. Resensi jenis ini menggunakan metodologi ilmu pengetahuan tertentu. Contoh: Judul “Nilai Feminisme terhadap Novel Saman Karya Ayu Utami.”

Unsur-unsur Resensi Novel

unsur-unsur membuat cerpen
pixabay.com

Merujuk pada pendapat Daniel Samad (1997: 7-8) menyebutkan unsur-unsur resensi meliputi :

Membuat Judul Resensi

Buatlah judul resensi yang menarik dan mewakili seluruh isi tulisan.Penulisan judul bisa di awal tulisan atau akhir tulisan. Judul bersifat bebas. Judul justru lebih mudah ditulis sesudah tulisan resensi selesai. Sebab, judul akan lebih tepat atau menjiwai ketika tulisan telah selesai.

Coba Bandingkan dengan cerpen, lihat di artikel Unsur-unsur Cerpen

Menyusun Data Buku

Untuk mengawali menulis resensi tahap awal dengan menyusun data buku terlebih dahulu. Data buku biasanya disusun sebagai berikut:

  1. Judul buku

Jika buku itu termasuk buku hasil terjemahan tuliskan pula judul aslinya setelah penulisan judul terjemahan.

  1. Pengarang

Selain pengarang tuliskan pula tim dari pengarang. Tim ini meliputi penerjemah, editor, atau penyunting seperti yang tertera pada buku.

  1. Penerbit
  2. Tahun terbit beserta cetakannya. Edisi cetakan ke berapa
  3. Tebal buku
  4. Harga buku

Membuat Pembukaan

Dalam bab pembukaan sistematika penulisan resensi sebagai berikut :

Pertama, langkah awal ketika meresensi. Pertama-tama buatlah uraian tentang latar belakang pengarang. Cantumkan asal-usul pengarang, riwayat pendidikan, riwayat hidup singkat, buah karya yang pernah dibuat dan pencapaian prestasi pengarang.

Kedua, membandingkan novel resensi dengan novel pengarang lainnya. Ulasan perbandingan novel ersebut mengetengahkan kekhasan pengarang. Dalam artian, misal kecenderungan pengarang dalam menulis novel bertemakan sosial, tentu novel-novel tema sosial menjadi standar kriteria penilaian untuk mengulas antara novel resensi dengan novel lain milik pengarang.

Perbandingan antar karya novel pengarang mengungkap sisi keunikan novel. Misal novel sejenis tema sosial, dicari keunikan masing-masing novel. Selanjutnya, penjabaran kemudian ulasan berupa kritikan dan kelemahan novel.

Ketiga, tuliskan pujian terhadap kelebihan novel. Ulasan positif terkait dengan isi novel. Biasanya ulasan positif ini terletak pada gaa bahasa, pemilihan tema novel, dan alur cerita novel.

Keempat, memberikan kesan terhadap novel. Setelah mengulas novel, tugas meresensi selanjutnya adalah memberikan kesan novel tersebut. Perlu diingat, misalkan novel resensi mempunyai banyak kritikan dan kelemahan, namun seyogyanya peresensi tetap merekomendasikan novel tersebut dibaca oleh para khalayak.

Itulah mengapa bahwa sejatinya, tulisan resensi adalah tulisan yang bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan selaligus memperomosikan novel tesebut.

Kelima, bagian ini peresensi menguraikan secara ringkas profil penerbit.

Keenam, peresensi melontarkan pertanyaan dan membuka ruang dialog dengan pembaca. Gaya bahasa penulisan memposisikan peresensi sedang berbicara dengan pembaca. Pembicaraan 2 arah melalui ulasan resensi membahas novel resensi.

Catatan sistematika penulisan resensi novel akan berbeda dari standar penulisan resensi novel pada umunya. Seperti kasus resensi di kolom Koran atau majalah tertentu, tergantung pada jumlah karakter ruang kolom resensi dan jenis resensi.

Misal majalah X menerima resensi novel dengan model penyantuman identitas buku dan jenis resensi informatif. Sementara Koran Y memeberikan ruang resensi berupa ulasan singkat novel tanpa pencantuman identitas lengkap novel.

Cara Membuat Contoh Resensi Novel

cara membuat contoh resensi novel
pixabay.com

Setelah memahami jenis-jenis contoh resensi novel, selanjutnya, langkah-langkah cerdas untuk membuat resensi novel adalah sebagai berikut:

  1. Jika Hasil Resensi Akan Dikirim ke Majalah, Koran atau Media Lainnya.

Usahakan novel yang diresensi merupakan novel baru. Maksimal periode novel tersebut masih berada di jangka waktu setahun terbit pada tahun terbaru. Tema dan jenis novel yang banyak diburu pembaca. Namun apabila pembuatan resensi novel hanya sekadar keingintahuan dari sebuah novel, maka resensilah sesuai sistematika resensi secara umum.

2. Mengenali Novel yang Akan Diresensi.

Berupa mengenali tema novel, jenis novel, deskripsi isi novel, penerbit novel, pengarang novel, tanggal dan tempat terbit, format novel, tebal novel, jumlah halaman, harga novel, latar belakang pengarang, pendidikan pengarang, reputasi dan prestasi penagarang.

3. Membaca Novel yang Akan Diresensi.

Hal ini merupakan tahap wajib dan mutlak bagi peresensi. Bacalah novel dengan komprehensif, cermat, teliti, tidak terburu-buru. Tentukan dan temukan pokok permasalahan dari isi novel. Pahamilah peta permasalahan novel secara mendalam.

4. Mencari, Menandai dan Menulis Catatan Penting dari Pembacaan Novel.

Telitilah setiap kata, kalimat, paragraf hingga narasi teks novel, mencari bagian atau hal-hal penting untuk dijadikan bahan, data dan sumber tulisan resensi nantinya.

5. Buatlah Sinopsis atau Ringkasan Singkat dari Isi Novel Tersebut.

6. Membuat Kerangka Tulisan Resensi.

Kerangka membantu kita ketika menulis, mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar dan kriteria kerangka tulisan resensi :

Kerangka Contoh Resensi Novel

Memperhatikan kesinambungan antar bagian satu dengan bagian yang lainnya. Memperhatikan sistematika penulisan baik dan benar.

Isi Pernyataan

Aspek isi pernyataan meliputi penjabaran ide, analisis isi novel, penyajian data, pemikiran, bahasa dan ejaan sesuai Ejaan Yang Disempurnakan, penggunaan kata dan kalimat.

Aspek Teknis

Adapun aspek teknis meliputi aspek tata letak, tata wajah, kerapian,dan  kebersihan cetakan. Misal cetakan dobel, halaman cetakan ada yang hilang, tinta terlalu tebal atau tipis.

Contoh-contoh Resensi Novel

1. Tan Malaka: Antara Heroik dan Klenik

(Contoh Resensi yang Dimuat di Koran Media Indonesia)

contoh resensi novel kritis
ilustrasi Academic Indonesia
Contoh resensi novel kritis tentang sejarah
Academic Indonesia

Jenis Resensi Kritis

Peserta Obrolan Pembaca Media Indonesia menyelisik jejak Tan Malaka pada
kisah fiksi “Pacar Merah Indonesia 2”

Media Indonesia Rubrik “Jendela Buku” edisi Sabtu (28/8/2010)

Pada tanggal 17 Agustus 2010, pembaca Media Indonesia menyelenggarakan diskusi dan bedah buku Pacar Merah Indonesia (PMI) 2. Bedah buku tersbut bertujuan untuk mengenali sosok Tan Malaka secara mendalam. Sosok berjasa dalam perjuangan bangsa Indoensia. Buku PMI 2 menceritakan ulang kisah Tan Malaka dalam bingkai tulisan fiksi sejarah.

Sekitar tahun 1938, nama Patjar Merah Indonesia julukan Tan Malaka terkenal di Medan. Sosok pemuda itu menjadi tokoh utama dari karangan-karangan pengarang. Salah satunya kisah sejumlah roman picisan di Medan. Salah satunya karangan Matu Mona Spionnage-Dienst ( Patjar Merah Indonesia).

Secara singkat kisah roman picisan itu menceritakan sosok Tan Malaka. Pemikiran dan perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Roman picisan itu juga mengetengahkan masa getir Tan Malaka. Ketika mendapat intimidasi, ancaman dari pihak tertentu.

Buku yang dibedah memiliki judul asli Rol Patjar Merah Indonesia Cs, diterbitkan Publishing pada tahun 2010. Hasil diskusi terpulikasikasikan di rubrik Jendela Buku Media Indonesia. Catatan lengkap dapat mengakses Media Indonesia mulai September 2010.

Siapa Tan Malaka? Nama Tan Malaka sangat populer di kalangan para aktivis, dan akademisi. Tan Malaka dikenal sebagai sosok pemikir hebat. Namun kesohorannya belum mampu menandingi sosok Soekarno.

Meski demikian buku fiksi Patjar Merah Indonesia (PMI) 2 sangat menjunjung nama Tan Malaka. Buku tersebut menampilkan sosok Tan Malaka sebagai tokoh yang berjasa dan heroik.

Penggambaran sosok Tan Malaka dalam PMI 2 tampil berani. Pemikiran-pemikiran tajam dan kritis Tan Malaka sangat dominan. Hal ini berbeda dengan buku- buku tentang Tan Malaka lainnya. Seperti buku Madolig dan Dari Penjara ke Penjara.

Bahkan, perbedaan kontras kentara pada buku Dari Penjara ke Penjara. Pasalnya dalam buku tersebut menampilkan sosok Tan Malaka ‘underground’. Penggambaran Tan Malaka yang menutup diri dari publik. Mobilisasi pergerakan secara sembunyi-sembunyi.

Di sisi lain buku PMI 2 terlalu mengangkat sisi personalitas Tan Malaka. Imajinasi Matu Mona selaku pengarang (penulis buku) terlalu mendominasi. Kentara novel tersebut adalah novel sejarah yang dibumbui dengan romantisme perjalanan Tan Malaka.

Kelemahan cerita fiksi bercampur dengan sejarah, biasanya ada pengaburan fakta sejarah yang terjadi. Meski masih dalam koridor sejarah. Penonjolan karakter sosok publik (missal Tan Malaka dalam  buku PMI 2) sebaiknya sesuai takaran pembahasan masalah buku.

Matu Mona sendiri saat itu juga disebutkan memiliki informasi yang minim tentang Tan Malaka. Disebutkan Matu Mona hanya pernah bertemu dengan Tan Malaka selama 15 menit di Singapura. Kemudian catatan perjalanan Tan Malaka, biasa dia dapat dari surat-surat Tan Malaka yang di kirimkan ke pemimpin redaksinya.

Selain itu dalam pembacaan saya, terlihat Matu Mona kurang data dan informasi tentang Tan Malaka. Penggalian data masih kurang mendalam. Hal itu memberi nilai minus- pada komprehensif tulisan, dan akurasi buku PMI 2.

Matu Mona meyandarkan informasi pada catatan pertemuan Matu Mona dengan Tan Malaka selama 15 menit di Sinagapura. Serta catatan perjalanan Tan Malaka dari surat-surat Tan Malaka kepada pemimpin redaksinya.

Berdasarkan data minim itu membuat konteks pencitraan Tan Malaka menyerupai tokoh Minke dari buku fiksi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Pencitraan tokoh sangat dipengaruhi oleh imajinasi pengarang.

Jadi, jika terlontar pertanyaan siapa Minke? Minke adalah Minke. Minke tokoh imajinatif buatan Pramodya Ananta Toer. Ada sosok ke’aku’an Pram yang diwujudkan dalam tokoh Minke.

Model konstruksi tokoh seperti Minke dalam buku Bumi Manusia karya Pram, telah menjebak Ratu Mona dalam imajinasinya sendiri. Padahal poin utama buku PMI 2 tertletak pada pemikiran-pemikiran kritis Tan Malaka. Pembangunan konsep cerita ala Ratu Mona menempatkan Tan Malaka justru sebagai tokoh utama ‘novel’ biasa.

Ganjalan

Terlepas dari konteks penggambaraan Tan Malaka yang terlalu imajinatif. Secara garis besar saya sangat menikmati novel sejarah ini. Kisah perjalanan Tan Malaka berkujung dari ke negara-negara lain digambarkann secara detil.

Ratu Mona sangat piawai merekontruksi kisah perjalanan Tan Malaka. Melalui buku ini sosok Tan Malaka seolah hidup kembali. Sangat terasa jengkal-demi jengkal yang dilalui Tan Malaka dalam usahanya merebut kemerdekaan Indonesia. Sisi heroik buku PMI 2 menempatkan saya pada masa silam, menyaksikan sendiri leadership tokoh Tan Malaka.

Namun di sisi imajinatif sosok pribadi Tan Malaka yang apik, mampu menghidupkan cerita. Ratu Mona terperosok pada kisah-kisah klenik. Penceritaan Tan Malaka bercampur dengan kisah klenik sangat mengganggu.

Padahal pemikiran Tan Malaka logis dan kritis. Sekiranya kisah berbau klenik dihilangkan, saya kira tidak merusak jalan cerita. Justru cerita Tan Malaka jauh lebih fokus. Tidak menyimpang dari pengaburan fakta dan imajinasi.

Pasalnya urusan klenik dalam buku fiksi sejarah juga membutuhkan validitas. Klenik dan mitos membutuhkan kerangka logis agar cerita berbau klenik dapat diterima akal. Hal itu termasuk cara yang sulit, mengingatkan pada dasarnya kisah sejarah tidak jauh dari mitos dan  klenik.

Hal mengganjal lain dari buku PMI 2 kemunculan ‘Negara Palestina’. Saya masih mempertanyakan letak korelasi antara Tan Malaka dengan Palestina. Cerita tentang Palestina pun seolah hanya tempelan. Alur dan kronologisnya tidak lengkap.

Tapi secara keseluruhan saya terkesan dengan buku PMI 2. Sosok Tan Malaka yang akrab dengan komunis. Buah pemikiran kritis Tan Malaka menjiwai setiap pergerakan sosialnya. Paling dramatis diakhir kisahnya Tan Malaka berganti haluan ke agamis. Tan Malaka mewarnai perjuangan Islam.

Gaya Bahasa

Buku PMI 2 menggunakan gaya bahasa lama. Ejaan dan kosa kata lawas. Hal ini membutuhkan penyesuaian. Banyak pembaca akan kesulitan memaknai maksud tulisan. Mereka harus berikhtiar lebih membolak-balik kamus lama. Untuk mencari maksud dari kalimat tertentu.

Efektivitas kalimat juga menjadi sorotan utama. Banyak dijumpai kalimat-kalimat panjang. Pengarang terkesan memutar-mutar kalimat untuk menjelaskan satu pokok pikiran. Padahal untuk membahasa satu pokok pikiran bisa dengan satu atau dua kalimat pendek.

Tidak kalah penting pemakaian catatan kaki. Penggunaan istilah asing dan penjelasan masih kurang lengkap. Ada beberapa bagian istilah asing tidak mendapat catatan kaki.

Lalu ilustrasi foto atau gambar. Peletakan foto atau gambar beberapa tidak sesuai konteks. Peletakan gambar justru tidak bermanfaat karena tidak menjelaskan maksud tulisan.

Bagi pecinta ilmu mengenal sosok Tan Malaka melalui PMI 2 tidaklah sia-sia. Terlepas dari kekurangannya buku PMI 2 cukup memuaskan dahaga pembaca. Untuk menelusuri perjalanan dan pemikiran Tan Malaka.

Buku PMI 2 menjembatani kita untuk kembali ke masa lalu melalui pemikiran Tan Malaka. Hemat saya, sangat perlu buku PMI 2 memiliki kelanjutannya. Berupa buku PMI 3 babak episode lanjutan kisah Tan Malaka.

2. Resensi Novel Bunga Cantik di Balik Salju

contoh resensi novel informatif
Academic Indonesia

Jenis Resensi Informatif

Identitas Buku

Judul                     : Bunga Cantik di Balik Salju

Penulis                   : T. Andar

Penerbit                 : DIVA Press

Kota Terbit            : Yogyakarta

Tahun Terbit          : 2011

Cetakan                 : Ke-1

Deskripsi Fisik      : 458 hlm.; 19,5cm.

ISBN                     : 978-602-978-667-5

Sinopsis – Contoh Resensi Novel Bunga Cantik di Balik Salju

Lana adalah gadis muda yang berusia 19 tahun. Dia mempunyai sahabat baik Emi. Persahabatan Lana dengan Emi amat baik. Hingga ketika Emi melahirkan Lana selalu mendampinginya. Bahkan ketika Emi meningal, dia mempercayakan bayinya kepada Lana. Karena ayah kandung bayi itu, Brian tidak mau bertanggung jawab kepada Denniz. Brian tidak mau mengakui Denniz sebagai darah dagingnya.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Lana hidup bersama Denniz. Bak anak kandungnya sendiri, Lana sangat menyanyangi Denniz. Namun konflik terjadi dari keluarga Lana. Keluarga Lana setengah hati menerima Denniz sebagai anggota batu keluarga.

Lambat laun dengan kesabaran dan ketulusan. Mata hati keluarga terbuka. Perlahan-lahan mereka mau menerima kehadiran Denniz. Mereka mau merawat dan membanu Denniz.

Ketika usia Lana menginjak 25 tahun. Lana memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Lana memilih hidup sendiri bersama Denniz. Lana membiayai kebutuhannya dengan bekerja sebagai staf pengajar di sebuah lembaga pendidikan asing.

Meski sudah hidup mandiri, rupanya cobaan silih berganti terus menyerangnya. Lana sering mendapat caci, hinaan, ejekan dari tetangga dan lingkungannya. Lana terus mempertahankan Denniz. Lana sudah menganggap Denniz sebagai anak kandungnya sendiri.

Lana yang berkarakter tegar dan tegas. Tidak memperdulikan asumsi miring tentang dirinya.Lana terus optimis menatap ke depan. Memperjuangkan hidupnya dan Denniz.

Terlalu sibuk dengan Denniz, menjadikan Lana lupa dengan hidupnya sendiri. Di usia matang 25 tahun Lana masih sendiri. Hingga takdir mempertemukannya dengan Dhimas. Dhimas adalah lelaki tampan pujaan banyak wanita.

Dhimas mencintai Lana dengan tulus. Dhimas tetap menerima Lana meski mengetahui Lana seorang ibu beranak satu. Dhimas melihat jauh sisi pribadi Lana daripada sisi luarnya. Yang mengesankan Lana ibu beranak satu yang identik dengan janda. Dhimas belum mengetahui rahasia sebenarnya.

Keseriusan Dhimas kepada Lana mengantarkan hubungan mereka pada jenjang yang serius. Dhimas memperkenalkan Lana kepada keluarganya. Di saat momen itulah terbongkar rahasia besar Lana. Rahasia yang mengungkap Lana belum pernah menikah dan ibu angkat dari Denniz.

Terbongkarnya rahasia itu mengantarkan cinta Lana dan Dhimas pada pelaminan.

Unsur Intrinstik Novel

Setelah membuat sinopsis novel Bunga Cantik di Balik Salju. Langkah selanjutnya dengan mengulas unsure intrinsik dari novel. Unsur intrinsik meliputi :

Tema

Seorang wanita yang kuat dan tegar. Wanita tulus merawat seorang bayi sahabatnya ketika ia sendiri masih sangat muda.

Tokoh

    1. Tokoh Utama : Maulana Andara Restu
    2. Tokoh Kedua : Denniz
    3. Tokoh Ketiga : Dhimas Mahesa
    4. Tokoh Pembantu : Megan, Fany, Dhyas, Yudha, Rindra, Pak Sinclair, Ruben, Yudha, Brian
    5. Tokoh Piguran : Pak Rudi, Bu Rina, Hendra, Diki, Anggra, H. Bakrie, Emi

Penokohan

    1. Maulana Anadara Restu : Sosok perempuan yang kuat dan tegar, mandiri sejak muda, dan sangat menyayangi Emi sahabatnya yang telah meninggal, juga sangat menyayangi anak angkatnya yaitu Denniz.
    2. Denniz : Anak kecil yang lucu, pintar, cuek dan manja.
    3. Dhimas Mahesa : Sosok laki-laki tampan, cuek dan mapan. Ia sangat menyayangi Denniz dan Lana.

Alur

Alur maju mundur. Alur kisah novel dibuka dengan perkenalan kehidupan tokoh Lana. persahabatan Lana. Lalu muncul konflik batin antara Lana dengan keluarganya. Alur selang-seling maju dan mundur. Ending cerita bahagia dengan pernikahan Lana dengan Dhimas. Serta diterimanya Denniz sebagai bagian dari keluarga mereka.

Sudut Pandang

Sudut pandang orang pertama

Amanat

    1. Semua anak dilahirkan dalam keadaan suci. Tidak ada isitilah anak haram. Anak haram hanya stigma negative dari lingkungan sosial yang mengabaikan nilai kemanusiaan. Saling tolong-menolong sesame manusia.
    2. Hamil di luar nikah adalah perbuatan dosa. Yang berdosa adalah pelaku perbuatan itu. Bukan anak hasil hubungan mereka. karena anak mereka hanyalah korban.
    3. Selalu yakin dan percaya kepada takdir Tuhan. Jalan yang Tuhan pilihkan adalah yang terbaik untuk kita.

Keunggulan dan Kelemahan Novel

Keunggulan Novel

Menilai nilai positif dan nilai tambah dari isi novel :

  • Novel ini mengajarkan kita ketulusan arti tegar, kuat, mandiri
  • Kata-katanya mudah dicerna
  • Pewatakan tokoh mudah jelas
  • Alur cerita bagus. Perkenalan, klimak dan penyelesaiannya apik. Ramuan alur campuran maju-mundur mudah dipahami. Alur tersebut membuat kita menjadi semakin penasaran.

Kelemahan Novel

Menilai kekurangan keseluruhan isi novel :

  • ada beberapa bab cerita yang tidak perlu diceritakan. Terkesan pemborosan cerita. Yang belum tentu ada kaitannya dengan konteks cerita pokok.

Kesimpulan

Terlepas dari kekurangnnya, novel ini bacaan yang bermutu. Asupan gisi yang baik bagi para pembaca. Di dalamnya sarat muatan moral berupa ketulusan, dan berpikiran positif. Biasanya masyarakat mudah menghakimi seseorang tanpa menetahui kejadian yang sebebanrnya.

Novel ini juga mengajarkan pembaca tentang pentingnya optimisme, kerja keras, mandiri, tegas dan huznudhon kepada takdir Tuhan Yang Maha Esa.

Pesan Akhir Puisi

Aku tidak pantas di sini.

Ruangan ini tidak mampu memberiku pengertian atau aku yang memang tak pernah mengerti.

 

 

Karakterku yang bodoh dan menutup dari pamahaman umum.

Ketahuilah aku hanya mempertahankan prinsip impianku.

 

Maaf. Sebaiknya aku pergi. Selamat berjumpa di kehidupan yang akan datang.

Begitulah kuucap pesan akhir. Gadis keras kepala!

Widya.

Pistol Kematian

Pistol Kematian

Penulis

Winda Efanur FS, alumnus UIN Sunan Kalijga Yogyakarta. Beberapa karyanya terdokumentasikan dalam antolologi puisi dan cerpen seperti Tubuh Bencana, Hitam Putih Kata, Menjadi Indonesia dan Pelangi Kenangan. Email : efanurw@gmail.com

CERPEN ACADEMIC INDONESIA — Setiap orang takut dengan kematian. Padahal mati adalah jalan menuju keabadian. Pembebasan dari air mata dan pemberontakan. Aku tidak takut kematian sejak penangkapan itu. Penangkapan yang membuat keadaan rumah kacau.

pistol kematian
pixabay.com

Aku, dan ibu terpaksa mengungsi ke Desa Pandes. Desa tempat tinggal kakek. Kakek seorang lurah di sana menjamin keselamatan kita. Tapi bapak telah tertangkap pemberontak pada malam itu. Pada malam itu sekitar pukul Sembilan malam. Sekawanan orang mendobrak rumah kami. Mereka mencari bapak.

“ Parman, Parman buka pintunya!”

Bapak menyuruh kami untuk pergi lewat pintu belakang. Aku menolak pergi. Aku ingin melindungi bapak.

“ Marni, bawa Lesti pergi dari sini!” pinta bapak.

“ Tidak Mas, kami tidak akan pergi tanpa Mas”

Ibu dan kami bersikeras mengajak pergi. Tapi bapak memilih bertahan. Dia tidak ingin dirinya menjadikan celaka bagi kami. Pemberontak itu berniat jahat kepada bapak. Aku tak tahu kenapa bapak dimusuhi banyak orang.

Bapak itu orang baik pekerjaannya merawat musola di desa. Kalau pagi dia mengepel, membersihkan kamar mandi musola sesekali menjadi imam sholat kalau Pak Haji ijin mengimami sholat.

Tapi setelah  pemberontakan Darul Islam, bapak jadi dibenci banyak orang. Bahkan Pak Haji, Pak Samsul dan semua orang yang sering ke masjid sudah dibunuh. Aku tidak tahu kenapa bapak, dan orang-orang banyak dibenci oleh orang-orang. Tapi yang pasti aku benci para perusuh itu. Mereka telah menghancurkan keluargaku.

Dengan linangan air mata dan isak tangis yang coba aku tahan. Aku mengikuti langkah kaki ibu. Kami berjalan kaki di tengah malam. Menerobos kelam dan hutan. Dari kejauhan kami mendengar letupan pistol. Dadaku bergetar seketika.

“ Bapaakkkk!”

Ibu langsung menutup mulutku. Dia memintaku untuk tidak menangis. Tapi dia malah menangis. Air atanya membasahi pipi. Sejak saat itu aku terbiasa menelan air mata sendiri. Sepanjang perjalanan kami menzikirkan tangis dan bapak. Bayangan bapak terus menemani kami hingga sampai di rumah kakek.

***

Di rumah kakek aku semakin belajar menahan tangis karena pemberontak juga mengincar kakek. Kakek bersiap-siap untuk melarikan diri. Aku dan ibu pun ikut melarikan diri. Kami berniat pergi ke Jawa Timur melalui kereta api.

“ Aku lelah berlari Kek”

“ Kalau kamu mau hidup, kamu harus menyelematkan nyawamu”

“ Kenapa kita tidak melawan mereka, aku sanggup membunuh mereka”

“ Jumlah mereka sangat banyak, kamu melawan mereka sama saja kamu menggali kuburan sendiri”

Kakek tidak mengerti untuk apa berlari menjauhi mati. Toh, ajal itu pasti datang. Sejak kematian bapak. Aku tidak takut mati. Aku akan berteman dengan kematian.

“ Marni, situasi sudah sangat kacau, yang benar jadi salah, yang salah semakin salah. Kita jangan mendekati mereka bila tidak ingin cari mati. Pemberontakan Daurah Islamiyah adalah  bom waktu bagi rakyat. Pemberantasan pemerintah terhadap mereka, dimanfaatkan untuk menciptakan huru-hara saling mengadu domba”.

“ Tapi Parman jadi korban pak”

“ Aku tahu kesedihanmu, tapi kita tidak bisa menjadi cengeng. Ini zaman perang hanya dua pilihan hidup atau mati”

Kakek memberikan ibuku pistol untuk melindungi diri. Dia juga menyelipkan pistol di saku celanannya. Kakek tidak memberiku pistol.

“ Lesti kamu ingin pistol? Besok kakek belikan pistol-pistolan ya”.

***

Di dalam kereta kami beristirahat dengan tenang. Ibu dan kakek tertidur pulas. Saat mereka tidur, aku diam-diam mengambil pistol yang ibu sembunyikan di jaritnya. Aku masukan pistol itu di dalam bajuku.

“ Door!”

Sebutir peluru menembus kepala kakek. Sekawanan pemberontak itu mengikuti pelarian kami. Ibu terbangun. Dia langsung disergap lelaki kekar. Aku pun di tangkapnya. Kami diikat di bangku kereta. Sementara para penumpang lain langsung mundur ke gerbong lain. Mereka membiarkan kami melawan maut sendirian.

Pemberontak itu menyeret mayat kakek lalu membuangnya lewat pintu. Di lantai tercecer darah kakek. Aku menangis dan menelan tangisanku sendiri.

Belum puas disitu mereka menggoda ibu. Tali yang mengikat ibu dilepas. Disentuhnya tubuh ibuku dengan nakal. Mereka menjamah bagian intim tubuh ibu. Di depan mataku ibu meronta-ronta, menangis dan menjerit. Aku menjerit sekeras-kerasnya. Hingga aku ditendang. Saking kerasnya ikatanku terlepas.

“ Marni, Parman sudah mati, Kakek tua itu juga mati. Kini buat apa, kamu menangisi mereka. kita lebih baik bersenang-senang”,

Mereka melingkari ibu. Menyaksikan laki-laki kekar itu menelanjangi ibu. Aku bangkit dan mengambil pistol dari dalam baju.

“Door!”

Peluru menembus punggung lelaki kekar itu. mereka kaget berusaha menyerangku. Aku tembakan peluru membabi buta. Suara peluru saling beradu. Darah mengalir dari dadaku. Tiba-tiba aku merasa lemas. Aku melihat bayangan bapak, kakek, dan sayup-sayup suara ibu.

Cilacap, 24 Desember 2016

 

Pesan dalam Draft Ponselku

Pesan dalam Draft Ponselku

Winda Efanur FS, seorang penulis lepas.

Alumnus Fakukultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Email: efanurw@gmail.com

CERPEN ACADEMIC INDONESIA — “Apa cinta harus diutarakan?”, “ Apa cinta harus memiliki?” Pertanyaanmu kini tergiang-ngiang di telingaku. Pertanyaan itu memantul-mantul di hatiku. Kamu bertanya kepadaku. Aku pun tidak mengetahui jawabannya. Dalam diammku aku juga bertanya kepada hatiku sendiri.

cerpen academic indonesia
pixabay.com

Perasaan adalah getaran yang halus. Landasan berpikir, berucap hingga berbuat. Apalagi perasaan cinta. Cinta yang bersarang di hati seseorang. Cinta perasaan yang bersembunyi di balik lembutnya tutur katamu. Cinta juga keindahan yang terpancar dari senyumanmu.

Cintamu meminta kediaman dimana cinta itu memiliki ruang untuk tumbuh. Cintamu membutuhkan jawaban, apakah cintamu dapat mekar di hatiku. Cinta, cinta dan cinta. Ahh.. kamu memposisikanku sebagai orang jahat yang tidak memiliki perasaan.

Selama ini aku membahasakan cinta dalam perbendaharaan alam. Cinta layaknya sejuk embun yang hinggap di dedaunan kala fajar. Cinta bukan kata, bahkan perumpamaan. Cinta bahasa yang mengawinkan rasa dengan logika. Cinta tidak memiliki rupa namun mengikat manusia dengan alam benda.

Setiap detik waktu terjatuh, nafas cinta terus berhembus. Setiap ranting patah, ada getaran hati yang goyah. Ahh.. lagi-lagi kamu menjadikanku sebagai orang jahat yang tidak memiliki perasaan.

“ Ping!”

Pesan BBMmu mengaburkan percakapanku dengan diriku sendiri. Dalam pesanmu kamu pamitan ditugaskan kerja di luar kota.

“Jangan kangen lhoo, haha,”

“ Ee.. tidak lah, kan cuma dua hari,”

“ Biar kangen berapa hari,”? tanyamu.

“ Dua tahun, haha,” Jawabku singkat.

“ Hemm, ya sudah tiga tahun sekalian. Biar kangennn bangett, haha,”

“ Iya, haha,”

Begitulah aku dan kamu berkomunikasi. Kata-kata yang mengalir hanya gurauan. Aku dan kamu intens saling kirim kabar. Kita masing-masing merasa nyaman dengan hubungan ini. Ribuan kata telah kita uraikan bersama-sama. Kata-kata itu mengikat kebersamaan yang ada. Kata demi kata jatuh sambil lalu.

Seiring angin berhembus kata itu pun hilang. Namun aku merasakan maksud yang kamu sembunyikan, selama dua tahun kita berteman. Mungkin dua pertanyaanmu tempo hari. Dua kalimat, yang menjadi hukuman perasaanku. Aku ragu.

Aku kira tugasmu mendadak. Belum ada sehari kamu mengutarakan perasaanmu padaku. Kini kamu pergi ke luar kota. Sementara aku belum memberikan jawaban untukmu. Meskipun aku bisa saja mengirim pesan, bahkan menelponmu. Tetapi jawabanku seolah kurang afdhal.

Bila tidak mengatakan langsung kepadamu. Kepergianmu ke Samarinda, sejenak meloloskanku dari tikaman pertanyaanmu. Hal itu mengaburkan pertanyaanmu. Dengan objek lain yang semakin mendesak untuk kita bincangkan.

Jarum jam dikamarku menunjuk pukul 00.00 Wib atau pukul 01.00 di Samarinda kotamu. Genap sehari kamu meninggalkanku sendiri. Hari pertama di meja kerjaku tidak ada lembaran puisimu. Kata-kata gombal yang kamu muntahkan begitu saja. Jujur, aku geli membacanya karena kamu asal mencopot metafora kata. Niatmu membuat kata yang puitis justru terperosok menjadi kata-kata berantakan.

***

Di luar dugaan kantor mengulur waktumu di Samarinda untuk waktu yang tidak bisa dtentukan. Aku merasakan kekosongan begitu saja. Kini sudah memasuki 30 hari kepergianmu. Sebulan lamanya kita berpisah. Ada yang hilang dari diriku. Tetapi apa? Lagi-lagi pertanyaanku menggaung di hati. Aku ragu.

Sebenarnya aku ingin bercerita kepadamu, akhir-akhir ini aku sering melamun sendiri. Kadang-kadang aku memandangi lembaran-lembaran puisimu. Kadang pula, aku salah memanggil Rahman dengan namamu, Arman. Sontak Agus, Leli, Burhan, Sari, dan Erna membully-ku. Aku dibilang korban LDR- Bunga yang kesepian.

Kamu tentu akan tertawa mendengarnya atau justru tersenyum bahagia. Entahlah. Aku ingin ceritakan semua yang terjadi di sini selama kamu pergi. Tetapi lagi-lagi, semua cerita yang aku tulis gagal aku kirimkan. Semua pesan itu  tersimpan rapi  di draft pesanku. Selanjutnya aku mengetik kata-kata yang baru.

“ Ciye, sombong nih, yang sudah jadi bos kelapa sawit di Samarinda,”? Aku membuka percakapan.

“ Tidak juga, masih menjadi tukang foto kopi, kok”

“ Halah, pasti lagi foto kopi uang,”

“ Hahaha, inginnya sih begitu. Uang untuk melamar,”

“ Wuiih, mau melamar siapa nih,”? tanyaku serius.

“ Hemm, aku kasih tahu tidak, yah,”

Percakapan via BBM berlangsung selama 30 menit. Gurauan dan gelak tawa mewarnai percakapan kita. Lambat laun gurauan yang biasa terasa renyah perlahan menjadi hambar. Kamu tidak seperti dahulu. Si raja kocak, yang selalu bisa membuatku tertawa. Kali ini, aku merasa ada yang berbeda darimu. Aku berpikir itu karena menumpuknya pekerjaanmu di sana. Aku mengerti penempatan kerja di daerah, membuat karyawan lebih tertekan dibandingkan kerja di pusat.

Satu hal yang menyangkut di pikiranku. Tentang niatmu melamar seorang gadis. Tanpa aku duga, hatiku berdebar kencang saat kamu ingin melamar seseorang. Aku sungguh bahagia. Akhirnya kata-kata sejati mampu kamu ucapkan sekalipun sebatas gurauan. Karena hanya laki-laki sejati yang berani melamar wanita pujaannya.

Kamu telah menunjukan bahwa dirimu, bukan si raja gombal seperti dahulu. Kamu adalah Arman, seseorang yang berani mencintai dan menjaga cintamu. Ahh.. aku semakin yakin dengan jawabanku. Jawaban yang menggantungmu selama dua tahun.

***

Senin pagi begitu ceria. Cahaya mentari mengawali pagi ini dengan kehangatan. Aku membuka hari ini dengan sejuta senyuman. Aku lemparkan salam terhangat kepada semua karyawan kantor. Beberapa diantara mereka keheranan. “Si Bunga yang selalu menampakan muka serius, kali ini membuka topengnya.

Dia tampak bahagia sekali,”. Bisikan itu meski sayup-sayup, dapat aku dengar dengan jelas. Aku tidak peduli dengan pendapat mereka. Aku terus menebarkan kebahagiaan di kantor. Hari ini adalah hariku. Aku seolah terlahir kembali di dunia ini. Dunia yang menenggelamkanku pada lautan cinta.

Aku membuka komputerku. Aku setting gambar desktop komputer dengan foto aku dengan kamu. Kamu itu Armanku. Selanjutnya aku mengerjakan tugas kantor dengan begitu ringan. Oh, iya. Aku ingin mengucapkan selamat pagi kepadamu. Belum sempat aku menekan tombol kirim di ponselku. Tiba-tiba ada pesan masuk ke handpshone-ku. Lagi, aku menyimpan pesan untukmu di draft pesanku.

“ Bungaaa!!! Apa yang terjadi Arman meminang gadis lain? Mengapa bisa begini, kalian bukannya baik-baik saja,”?

Pesan singkat dari Leli, telah membunuhku. Hati ini remuk berkeping-keping. Aku tak berwujud lagi. Hanya ada lautan air mata dan aku tenggelam di dalamnya.

“Arman, Arman, Arman”,! Aku ingin mengatakan jawabanku. Aku mencintaimu dengan nafas dan denyut jantungku. Bodohnya, aku tak mampu mengungkapkannya. Kata-kata itu yang selalu gagal ku kirimkan padamu. Pesan yang aku simpan rapi dalam draft ponsel. Kini aku akan menghapusnya,” bisiku dalam hati.

Mendadak kepalaku pusing dan semuanya menjadi gelap.

Cilacap, 6 Oktober 2016

Selesai

Biografi dan Pemikiran Cak Nun

Biografi dan Pemikiran Cak Nun

Biografi dan Pemikiran Cak Nun — Semua orang pasti mengenal Cak Nun sebagai budayawan yang sudah tidak diragukan lagi kapabilitasnya. Tetapi tidak semua yang tahu Cak Nun mengenal betul siapa dia sebenarnya. Bahkan sebagian dari mereka tidak tahu nama lengkapnya.

Baca juga biografi Habib Syech di ACADEMIC INDONESIA

Profil Cak Nun
ACADEMIC INDONESIA

Mungkin jika ditanya, berapa istri Cak Nun dan berapakah putranya, kemungkinan besar mereka tidak akan tahu dengan pasti. Untuk itu, bagi yang merasa menjadi penggemar Cak Nun, ulasan singkat ini bisa digunakan untuk mengenalinya lebih intim. Berharap, semoga berbagai gagasannya bisa diserap dengan lebih utuh.

Biografi Cak Nun

Pemikiran Cak Nun
ACADEMIC INDONESIA

Cak Nun lahir di Jombang pada hari Rabu tanggal 27 Mei 1953 dan merupakan putra keempat dari 15 bersaudara. Orang tuanya MA Lathif, seorang petani memberinya nama Muhammad Ainun Nadjib yang akhirnya orang mengenalnya dengan nama Emha Ainun Nadjib.

Nama Emha itu sendiri awalnya singkatan dari Mh yang kemudian karena ejaannya, maka orang lebih mengenalnya dengan panggilan Emha.

Cak Nun merupakan salah satu cendekiawan muslim yang sangat getol memperjuangkan nilai-nilai budaya di seluruh pelosok negeri. Melalui syair-syairnya, Cak Nun mengkritik seluruh lapisan masyarakat agar bisa berubah menuju perilaku yang lebih baik.

Baca juga terkait Kata-kata Mutiara Peradaban Islam yang Akan membuat Anda berpikir dan Bersikap Bijak

Umbu Landu Paranggi; Sosok Guru Pribadi Cak Nun

Umbu Landu Paranggi Guru Cak Nun
netcafe.inc

Jenjang pendidikanya dimulai dari Sekolah Dasar di Jombang sampai tahun 1965, kemudian melanjutkan ke SMP dan SMA Muhammadiyah, Jogjakarta sampai tahun 1971.

Dilanjutkan dengan mondok di salah satu Pesantren Gontor Modern tetapi tidak betah lantaran tidak cocok dengan sistem yang diterapkan di pondok. Cak Nun juga pernah mengenyam pendidikan di UGM tetapi hanya sampai satu semester.

Cak Nun akhirnya lebih menyukai belajar sastra pada guru yang sangat dikaguminya yaitu Umbu Landu Paranggi. Beliau adalah seorang sufi yang kehidupannya penuh dengan tanda tanya sebagaimana yang biasa dijalani oleh kaum sufi lainnya.

Cak Nun belajar sastra kepada gurunya ini selama 5 tahun (1970-1975). Selain sastra, Cak Nun sangat gemar dengan seni teater yang pernah mengantarkannya ke berbagai negara di belahan dunia.

Teman seperguruannya pada waktu itu adalah penyanyi Ebiet G Ade, Eko Tunas yang dikenal sebagai cerpenis dan penyair serta EH. Kartanegara yang juga seorang penulis.

Kegemarannya itu sudah mendarah daging sampai akhirnya ia mendirikan Kyai Kanjeng sebagai wadah untuk mengekspresikan semua gagasannya guna membenahi kebudayaan umat.

Keluarga Cak Nun

Keluarga Cak Nun
ACADEMIC INDONESIA

Cak Nun memiliki 5 anak dari dua istri. Dari istri pertamanya, Neneng Suryaningsih, ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Sabrang Mowo Damar Panuluh. Tetapi harus terpaksa bercerai demi kebaikan bersama.

Dan dari istri keduanya, Novia S. Kolopaking, ia dianugerahi 4 putra yang masing-masing namanya adalah Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah dan Anayallah Rampak Mayesha.

Dari kesemua nama yang diberikan kepada anaknya ini menunjukkan bahwa Cak Nun memang seorang budayawan yang sekaligus Islami. Salah satu anaknya ada yang menjadi musisi sebagai vokalis band Letto yang biasa disapa dengan sapaan akrabnya “Nu” yang diambil dari salah satu suku kata Panuluh.

Letto di era 90an sampai era milenium merupakan salah satu band yang paling banyak penggemarnya. Grup musik yang digandrungi oleh kaum muda-mudi ini dikenal dengan lagunya yang sufistik. Dan sampai saat inipun masih memiliki banyak penggemar setia.

Sedangkan Novia, istri kedua Cak Nun merupakan wanita yang juga menggeluti dunia seni dan tarik suara. Dia merupakan salah satu penyanyi yang sudah keliling dunia.

Tetapi itu justru dilakukannya saat bergabung dengan Kyai Kanjeng. Walaupun begitu, dirinya tidak mau disebut sebagai artis. Bahkan jika ada yang masih ngotot menyebutnya sebagai artis, maka dia akan marah besar.

Sumbangsih Cak Nun

Sumbangsih Cak Nun
ACADEMIC INDONESIA

Selama pengabdiannya kepada masyarakat, Cak Nun sudah banyak memberikan sumbangan yang berharga. Di tahun 2010 dirinya mendapat penghargaan Satyalancana Kebudayaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang justru pada saat itu sering dikritiknya.

Penghargaan diberikan kepadanya karena dianggap sudah memberikan sumbangan yang besar terhadap kebudayaan dan karyanya berguna bagi masyarakat, nusa, bangsa dan negara.

Sebelum melalang buwana bersama Kyai Kanjeng, Cak Nun pernah menjadi pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Jogja tahun 1970. Menjadi wartawan sekaligus redaktur di harian yang sama  tahun 1973-1976.

Ia juga pernah memimpin teater Dinasti Jogjakarta. Dan yang terakhir menjadi pimpinan sekaligus pengasuh di Grup Musik Kyai Kanjeng serta masih aktif menulis puisi dan kolumnis di berbagai media. Disamping itu, ia juga dikenal sebagai penulis buku yang produktif.

Sejak menggeluti dunia teater, karyanya pernah dipentaskan ke berbagai belahan dunia seperti lokakarya teater di Filipina tahun 1980, International Writing Program di Universitas Iowa, AS tahun 1984, Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda tahun 1984 dan Festival Horizonte III di Jerman tahun 1985.

Tidak hanya itu, Cak Nun juga memiliki pengajian rutin yang memposisikan dirinya sebagai pembicara utama di komunitas Masyarakat Padang Bulan di berbagai daerah yang diadakan sebulan sekali. Cak Nun juga pernah diundang ke istana merdeka sebelum jatuhnya Soeharto untuk dimintai nasehat.

Selain Padang Bulan, Cak Nun juga terlibat dalam berbagai diskusi di berbagai komunitas seperti Jamaah Maiyah, Kenduri Cinta yang didirikan sejak tahun 1990. Forum silaturrohim yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki sebulan sekali ini merupakan wadah yang bebas diikuti oleh siapa saja dan berjenis kelamin apa saja.

Ada lagi komunitas Mocopat Syafaat Jogjakarta, Gambang Syafaat Semarang, Bangbang Wetan Surabaya, Paparandang Ate Mandar, Maiyah Baradah Sidoarjo, Obro Ilahi Malang, Hongkong dan Bali, Juguran Syafaat Banyumas Raya dan Maneges Qudroh Magelang.

Sedangkan beberapa karyanya yang pernah dipentaskan antara lain Keajaiban Geger Wong Ngoyak Macan (1989) yang menceritakan tentang kekuasaan di masa “Raja” Soeharto, Patung Kekasih (1989) yang bercerita tentang pengkultusan, Lik Par (1980) yang bercerita tentang pengeksploitasian rakyat jelata yang dilakukan oleh berbagai Institusi modern.

Pada tahun 1982 karya yang dipentaskannya adalah Mas Dukun yang bercerita tentang gagalnya kepemimpinan modern. Tahun 1990 bersama Teater Salahuddin, ia berhasil mementaskan Santri-santri Khidir yang pemainnya adalah seluruh santri Gontor.

Di tahun yang sama juga, Cak Nun berhasil mementaskan Lautan Jilbab di Jogjakarta, Surabaya dan Makassar. Tahun 1992 Perahu Retak sebagai bentuk kritikan dari masa Orba.

Sedangkan di tahun ini, ia juga berhasil mementaskan Sidang Para Setan, Pak Kanjeng dan Duta dari Masa Depan. Tahun 1993 mementaskan Kiai Sableng dan Baginda Faruq dan masih banyak lagi pementasan lainnya.

Sedangkan bersama Kyai Kanjeng sendiri, Cak Nun rata-rata manggung sebanyak 10 sampai 15 kali. Alhasil, jika ditulis berapa karya yang pernah dibuatnya, tulisan ringkas ini tidak akan mampu mencatatnya.

(Think Different) Pemikiran Ala Cak Nun

Renungan Cak Nun
ACADEMIC INDONESIA

Walaupun keilmuannya mumpuni, Cak Nun tidak pernah mau dipanggil dengan sebutan kyai. Ia memang bersahabat dengan banyak kyai besar di seluruh Nusantara. Tetapi ia lebih senang dipanggil Cak Nun.

Cak Nun sendiri merupakan sebutan akrab di daerah Jawa Timur. Dengan hanya dipanggil “Cak”, ia merasa dirinya bisa lebih mudah berbaur dengan masyarakat dan begitupun sebaliknya.

Dia adalah sosok yang tak senang dipuji, disanjung terlebih dihormati secara berlebihan. Menurutnya semua orang berhak duduk bersama, menikmati hidangan bersama, tertawa bersama, dan berdiskusi bersama dalam satu tempat yang tidak ada pembedaan kedudukan.

Sebagaimana dirinya yang disebut sebagai budayawan, maka pemikirannya tak jauh dari budaya itu sendiri. Berawal dari kegelisahannya terhadap apa yang sedang dan sudah terjadi di masyarakat membuat Cak Nun lebih agresif untuk membongkar dan mendekonstruksi pemikiran masyarakat.

Menurutnya, budaya merupakan sesuatu yang sangat kompleks. Dalam berbagai kesempatan, Cak Nun menjelaskan bahwa budaya merupakan paduan dari sesuatu yang nampak dengan sesuatu yang tidak nampak.

Bahkan yang sangat mempengaruhi sesuatu yang tampak adalah sesuatu yang tidak nampak. Itulah yang harus dirubah dan dikonstruksi. Masyarakat harus sadar betul bahwa semua yang terjadi dipengaruhi cara berpikirnya.

Tetapi ia seringkali dianggap menyalahi aturan karena masih banyak orang yang belum bisa mencerna apa yang disampaikannya.

Kebanyakan yang menjadi kritikan olehnya adalah masyarakat sendiri. sebab ia tidak mau melihat masyarakat yang kebanyakan dari mereka lebih suka ikut-ikutan. Bahkan untuk istilah kafir yang sering dilontarkan oleh kaum muslimin sendiri untuk muslim lainnya dianggapnya sebagai penodaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Hal yang paling diperjuangkan oleh Cak Nun adalah persoalan persatuan. Oleh karena itu, di saat banyaknya masyarakat yang saling menyalahkan dengan menuduh kafir, sesat, bid’ah dan lain sebagainya maka dirinya tidak akan tinggal diam.

Menurut Cak Nun, sebelum seseorang memutuskan untuk belajar agama, maka telebih dulu ia harus belajar menjadi manusia.

Manusia adalah orang yang memiliki hati, rasa, jiwa, ruh, pikiran dan raga. Kesemuanya itu harus digunakan untuk menyikapi segala apapun yang terjadi. Masing-masing komponen itu harus dipelajari sedetail mungkin. Dalam  kata lain, Cak Nun mengajak manusia untuk mempelajari dirinya sendiri.

Mengerti dirinya sendiri akan mengantarkan seseorang untuk bisa mengerti orang lain. Dalam penjelasan sederhananya, Cak Nun sering mengibaratkan bahwa kalau dirinya tidak suka dipukul maka tidak boleh memukul. Kalau tidak suka dihina maka jangan menghina. Jika tidak mau dicubit maka jangan mencubit dan begitupun seterusnya.

Baginya, klaim pengkafiran dan istilah penistaan lainnya akan memicu perpecahan. Padahal semangat perpecahan itu sudah digencarkan oleh kaum zionis yang dibelakangnya adalah kaum Yahudi.

Hasilnya, dengan banyaknya umat Islam sendiri yang saling tuduh, justru akan mempermudah kaum Yahudi untuk memporakporandakan umat Islam. Hal inilah yang sangat disayangkan oleh Cak Nun.

Semangat yang digaungkan oleh Cak Nun adalah semangat persatuan sebagaimana yang pernah diperjuangkan oleh para ulama’ zaman dulu. Cak Nun sangat mengutuk masyarakat yang tidak tahu apa-apa tetapi ikut-ikutan melakukan penuduhan, klaim dan penistaan yang berujung sampai kepada pertengkaran dan permusuhan.

Cak Nun dan Kyai Kanjeng

kiai kanjeng Cak Nun
ACADEMIC INDONESIA

Oleh karena itu, untuk bisa mengenduskan pemikirannya ke benak setiap lapisan masyarakat, Cak Nun kemudian membentuk Kyai Kanjeng. Cak Nun memilih jalur musik sebagai media dakwahnya karena dirasa lebih bisa familiar dengan masyarakat. Sudah banyak model dakwah yang melalui mimbar-mimbar.

Musik yang dipilihnya pun bernuansa budaya sebagaimana salah satu sahabat baiknya Habib Anis Sholeh Ba’asyin asal Pati yang juga menggunakan media dakwahnya orkes puisi Sampak GusUran.

Keduanya memang merupakan dua badan tetapi seperti satu jiwa. Pemikiran keduanya hampir sama. Dan melalui syair-syairnya itu, Cak Nun mencoba mendeklarasikan sebuah perubahan sudut pandang.

Cak Nun memahami bahwa tidak semua orang bisa mencerna dengan baik maksud dari syair-syairnya. Oleh  sebab itu di sela-sela pementasan atau di akhir pementasan biasanya akan diisi dengan penjelasan dari maksud puisi atau syairnya.

Tidak hanya itu, sebagai oran yang menggaungkan nilai-nilai kebudayaan, maka di tengah-tengah pentasnya, cak  nun mengajak audiens atau penonton untuk berdiskusi.

Selain untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman masyarakat, cara ini juga sangat efektif untuk membuat dirinya akrab dengan masyarakat. Kedekatan itulah yang disebutnya sebagai “paseduluran”. Istilah yang satu ini menjadi semangat berjuangnya dan juga ingin ditancapkan kepada setiap masyarakat.

Baginya orang yang menganggap orang lain sebagai saudaranya, maka jika saudaranya berbuat salah maka akan diingatkan dengan cara yang baik. Saudara tidak akan pernah mencaci maki apalagi mengkafirkan.

Jikalau memang ada yang dirasa sudah kafir, maka harus diajak bicara dengan baik dan diberi pengertian yang baik pula. Sehingga kehidupan keberagamaan akan terasa jauh lebih baik dan indah.

Cak Nun juga seringkali meluruskan pemahaman masyarakat tentang berbagai istilah dari sudut pandang etimologisnya. Sebab masyarakat yang tidak tahu asal usul suatu istilah akan lebih mudah ikut-ikutan.

Oleh karena itu, ia selalu menggembor-gemborkan agar masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang cerdas, bukan masyarakat yang pintar.

Selain itu, Cak Nun selalu mengajak masyarakat agar tidak mudah berburuk sangka. Baginya, buruk sangka merupakan salah satu sebab terjadinya banyak pertikaian dan permusuhan di antara saudara sendiri.

Saudara, sahabat, guru, orang tua dan semuanya bisa jadi musuh akibat burung sangka. Oleh karena itu, Cak Nun mengajak  untuk selalu berpikiran positif. Dengan berpikir positif orang akan lebih bisa mengerti, memahami dan akhirnya timbullah rasa sayang.

Orang yang salah besar sekalipun tidak pantas untuk dibenci sebagaimana yang sudah sering dilakukan oleh masyarakat. Tetapi orang yang berbuat salah, dosa, keji, jahat dan lain sebagainya merupakan orang yang harus dikasihani dan diberikan pengarahan agar bisa menjadi lebih baik lagi. Hal ini yang sulit dipahami oleh banyak orang.

Cak Nun mengibaratkan bahwa orang jahat dan memiliki banyak dosa merupakan orang yang sedang sakit hatinya. Dengan demikian, orang yang seperti itu perlu ditangani secara serius. Semakin banyak dosa ataupun kejahatan yang diperbuatnya, maka semakin parah penyakitnya sehingga harus semakin serius penanganannya.

Kesemua gagasannya itu dilatarbelakangi oleh kedalamannya mengkaji sebuah teks agama. Tetapi untuk bisa dipahami oleh masyarakat, Cak Nun mengemasnya dengan analogi yang biasa dikerjakan masyarakat.

Dan untuk menarik banyak kalangan, Cak Nun selalu membawa Kyai Kanjengnya. Hal ini bertujuan selain untuk memberikan pemahaman, Cak Nun juga ingin memberikan hiburan yang mendidik.

Ia tahu betul bagaimana tipikal masyarakat Indonesia yang sangat menyukai hiburan. Tetapi sayangnya kebanyakan hiburan yang ada jarang yang mengandung nilai-nilai sosial.

Oleh karena itu, Kyai Kanjeng merupakan salah satu bentuk metamorfosa seni musik sebagai hiburan yang sekaligus menjadi media penyalur nilai-nilai agama, budaya, sosial dan kebangsaan. Dan yang paling ditekankan oleh Cak Nun adalah…

 

“Jadilah manusia yang manusiawi, bukan yang lainnya.”

Hati yang Selesai

Hati yang Selesai

Hati yang Selesai – Istilah di atas saya dapatkan dari sebuah catatan kehidupan bersama warga Maiyah. Bagi penulis sendiri, bukan siapa dan di mananya yang terpenting, namun lebih pada maknanya.

Sepuluh tahun lalu, 5 tahun lalu, 1 tahun lalu, atau bahkan 1 detik lalu adalah sejarah suasana hati yang barangkali akan berbeda di setiap orangnya.

hati yang usai, ikhlas
scarletpensieve.blogspot.com

Sejarah suasana hati yang berjalan itu lama-kelamaan muncul rasa instropeksi diri. Ya, perjalanan hidup menyisakan berbagai problem “saya tidak sepakat dengan itu, saya tidak setuju dengan hal itu, saya begini, dan saya begitu.”

Bagi penulis sendiri, instropeksi pun memiliki dua wajah; antara wajah keberhasilan dengan wajah kegagalan instropeksi.

Bagi instropekster yang sukses, Ia akan melihat ketimpangan adalah sesuatu hal yang wajar, sebab dunia memang diciptakan seperti pelangi. Illah menguji siapa diantara manusia yang paling bertahan menghadapi cobaan bernama kasih sayang.

Bagi instropekster yang gagal, Ia akan melihat sebuah perbedaan sebuah hal yang sudah tak bisa lagi di jadikan karunia. Ya, perbedaan itu seakan menjadi terminal sebuah ikhtiar kebenaran sehingga yang ada hanyalah kutukan, penyesalan dan permusuhan.

Hati yang Selesai

Sudah. Rasa kekurangan memang tiada habisnya. Terlebih kepada dunia. Ada kalanya, kehendak kita, bisa diizinkan oleh Illah, namun adakalanya Ia sebagai ujian kesabaran.

Sudah. Bila hati senantiasa menuntut kesempurnaan, manusia hanya akan lelah dan menyalahkan. Bukankah manusia lebih baik mengingat kenikmatan-Nya daripada ujian dari-Nya?

Bila setiap manusia senantiasa mengingat kenikmatan-Nya, hidupnya akan dipenuhi dengan berbagai rasa kegembiraan akan rahmat Allah. Sebaliknya, bila yang dikedepankan adalah prasangka buruk kepada Allah, Ia hanya akan diliputi rasa bersalah, selalu menyalahkan dan menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar.

Selesaikanlah hati. Bila masa lalu, hari ini dan nanti masih ada ujian yang menyedihkan buat Anda. Kenanglah bahwa Allah ingin membimbing mental kita untuk tegar. Ya, bila manusia sering mengalami kesedihan demi kesedihan, Ia akan merasa terbiasa dengan kesedihan berikutnya. Hingga Ia akan menganggap sebuah masalah menjadi anugerah.