Wisata Alam di Ubud-Bali; Deretan Panorama Alam yang Tak Terbantahkan

Wisata Alam di Ubud-Bali; Deretan Panorama Alam yang Tak Terbantahkan

Wisata Alam di Ubud-Bali

Pernah berkunjung ke salah satu Wisata Alam di Ubud-Bali? Bali mempunyai tempat wisata yang banyak. Disini tersedia banyak sekali kegiatan liburan yang seru untuk semua orang. Salah satu tujuan wisata paling terkenal di Bali selain Kuta adalah di Ubud Bali. Karena Ubud punya banyak sekali tempat wisata yang biaya tiket masuknya terjangkau, bahkan ada juga yang gratis. Sehingga, hal ini membuat Anda bisa lebih hemat saat ingin liburan ke Bali.

3 Alasan Harus Berlibur ke Ubud Bali

Tentunya selain memiliki harga tiket masuk yang terjangkau, ternyata ada banyak beberapa hal menarik lainnya yang bisa ditemukan di Ubud. Karena hal inilah membuat tempat ini disukai semua orang. Karena selain bisa menghemat biaya liburan, tapi juga bisa menikmati berbagai macam objek wisata yang menarik di Ubud, Bali. Berikut ini adalah 3 alasan kenapa Anda harus memilih Ubud sebagai destinasi tujuan wisata Anda selanjutnya, antara lain:

Ubud Punya Banyak Tempat Wisata

Di antara Kuta dan Ubud, keduanya sama-sama populer di Bali. Namun, keduanya ternyata punya perbedaan yang menarik jika dilihat dari daya tarik wisatanya. Karena, di Ubud, tempat wisata yang paling menarik adalah wisata budaya, seni, penorama alam, istana kerajaan, dan beberapa kegiatan outdoor. Yaitu, bersepeda dan rafting. Sedangkan kuta lebih populer dengan pantainya.

Lokasi Wisata di Ubud

Ubud berada di tengah Bali dan terletak diantara persawahan dan jurang yang curam. Ubud memiliki 13 desa didalamnya. Disinilah Anda akan menemukan Istana Kerajaan Ubud yang terletak di pusatnya. Bila Anda berangkat dari Bandara Ngurah Rai, Anda bisa sampai ke pusat Ubud selama 1 jam 30 menit. Lokasinya cukup strategis. Karena Ubud berdekatan dengan beberapa tempat wisata yang terkenal di Bali, seperti Bali Safari Marine Park, wisata Kintamani, dan Bali Bird Park.

Akomodasi di Ubud

Kemanapun liburannya, jika Anda berkunjung ke Ubud, rasanya tidak akan ada masalah pada akomodasinya. Karena disini tersedia taksi meter dan persewaan kendaraan motor dan mobil yang bisa disewa. Sehingga, Anda bisa lebih menghemat biaya transportasi dengan menyewa kendaraan tersebut atau menggunakan jasa travel. Sehingga, perjalanan makin praktis. karena semuanya sudah diatur oleh mereka.

Daftar Tempat Wisata Alam Hemat di Ubud

Wisata Alam di Ubud-Bali; Deretan Panorama Alam yang Tak Terbantahkan

Ada banyak aneka wisata yang menarik di Ubud Bali. Beberapa di antaranya ada yang tidak dikenakan biaya tiket masuk, ada juga yang dikenakan biaya cukup mahal. Maka dari itulah, supaya lebih hemat, sebaiknya cari tahu dulu segala informasi yang berkaitan dengan objek wisata tersebut sebelum berangkat. Berikut ini akan kami sebutkan beberapa contoh daftar wisata yang hemat di Ubud, patut dikunjungi, antara lain:

Bukit Campuhan

Bukit Campuhan ini adalah objek wisata gratis yang bisa ditemukan di Ubud Bali. Tempat ini sangat terkenal di kalangan remaja hingga orang dewasa. Bagi remaja, tempat ini lebih populer dengan sebutan sebagai Bukit Cinta.  Bukit ini cocok sekali dikunjungi untuk mereka yang gemar berjalan-jalan di kawasan perbukitan. Karena pemandangannya benar-benar masih asri dan alami.

Tak hanya itu saja, disini juga tersedia sejumlah tempat peristirahatan yang banyak. Sehingga, ketika mulai lelah, Anda bisa beristirahat disana sekaligus menikmati udara segar yang jauh dari polusi disana. Untuk bisa sampai ke tempat inipun juga sangat mudah! Cukup temukan saja lokasi Warwixk Ibah Luxury Villas & Spa. Maka Anda bisa menemukan tempat ini dengan mudah.

Sebelum masuk ke dalam gerbang pintunya, Anda akan melihat jalan yang lebih kecil di kiri Warwick Ibah Luxury Villas  & Spa ini. Nama jalannya adalah Jl Bangkiang Sidem. Nah, dari sinilah Anda bisa langsung masuk ke jalan Bangkiang Sidem ini. Disinilah Anda akan melihat kawasan lingkungan yang hijau. Dimana nantinya lembah bukit campuhan akan segera terlihat oleh Anda.

Saat Anda melihat ada dedaunan tropis yang lezat, disitulah lokasi Bukit Campuhan Ubud ini. Lebih menariknya lagi adalah, disini tidak dikenakan biaya tiket masuk. Anda hanya harus membayar parkir kendaraan Anda saja. Jam kunjung terbaik supaya bisa menikmati pemandangan disini adalah jam setengah 5 sore. Umumnya, beberapa pengunjung menghabiskan waktunya disini selama 30 menit.

Wisata di Persawahan Koloni Burung Bangau

Wisata alam yang satu ini terletak di desa Petulu. Disinilah Anda akan melihat sebuah hal unik yang tidak akan ditemukan di tempat lain. Karena setiap kali jam setengah 6 sore, akan ada banyak burung bangau yang terbang menuju ke atas sawah. Setelah itu, mereka kembali lagi ke sarangnya dan bertengger pada 50 pohon besar yang ada di kawasan desa Petulu ini.

Karena banyaknya burung bangau dan segala keunikannya inilah membuat desa Petulu dijadikan sebagai objek wisata alam yang patut dikunjungi. Jenis bangau yang ada disini berwarna putih. Sehingga, namanya lebih populer dengan sebutan sebagai burung Kokokan. Meskipun Anda bisa melihat burung bangau putih ini di siang hari juga, namun tetap jam terbaik menikmati banyak burung bangau adalah di sore hari saat matahari akan tenggelam.

Untuk lokasinya sendiri terletak di desa Petulu. Lebih tepatnya berada sejauh 15 menit saat berkendara dari Puri Saren Ubud. Beruntungnya lagi adalah, jika Anda berkunjung ke tempat ini, Anda tidak harus membayar biaya tiket masuk. Karena disini wisatanya adalah gratis. Beberapa orang sering menghabiskan waktunya hingga 30 menit saat berangkat di jam 5 sore. Karena di jam itulah banyak burung bangau lewat dan hinggap di pepohonan.

Hidden Canyon Guwang Beji

Tempat wisata alam yang satu ini terletak di Ubud. Wisata alam yang satu ini termasuk salah satu surganya alam di Ubud yang tersembunyi. Penorama tebing batu disini juga berlika-liku. Karena bentuknya seperti pahatan abstrak. Sehingga, hal ini membuat keindahannya menjadi mempesona. Apalagi disini udaranya juga sangat sejuk, begitu juga dengan air sungainya yang segar. Hutan yang lebat menyelimuti kawasan ini membuat siapapun yang mengunjungi tempat wisata ini merasa seperti menjelajah di dunia lain.

Alam Sari Agroturism

Sekarang ini, Bali mulai mengembangkan kegiatan wisata agrotourism yang semakin menarik. Salah satu tempat wisata yang menarik di Ubud ini adalah wisata alam agrotourism kopi. dimana tempat paling dekat di area Ubud adalah di Alam Sari Agroturism. Ketika sampai di tempat wisata ini, akan ada banyak pemandangan alam yang benar-benar alami dan asri disana. Tentunya pemandangannya akan semakin memanjakan mata Anda.

Karena disinilah Anda bisa melihat biji kopi, pohon kopi, dan proses untuk mengolah kopi secara alami. Disini juga ada jenis kopi special untuk dicoba. Yaitu, kopi Luwak. Anda boleh mencoba berbagai macam kopi yang tersedia di tempat wisata ini secara gratis. Namun, salah satu jenis kopi yang tidak bisa dicoba secara gratis adalah kopi luwak. Karena kopi luwak ini masih langka dan harganya mahal.

Sehingga, tidak bisa dikonsumsi secara gratis. Namun meskipun begitu, Anda masih bisa mendapatkan keuntungan lainnya saat berkunjung ke tempat ini. Karena disini tidak ada biaya tiket masuk. Sehingga, Anda bisa lebih hemat. Jam terbaik untuk mengunjungi tempat ini adalah jam 3 sore. Umumnya beberapa orang menikmati segala pemandangan alam dan keunikan tempat wisata ini selama 45 menit, bahkan lebih.

Sawah Terasering Tegalalang Ubud

Meskipun Ubud punya banyak sekali tempat wisata yang menarik, namun Sawah Terasering Tegalalang inilah yang paling disukai oleh para wisatawan Indonesia saat berkunjung ke Ubud. Karena tempat ini terkenal memiliki pemandangan alam sawah yang sangat indah. Bagaimana tidak? Jika sawah disini berbentuk terasering. Sehingga, hal ini membuat pemandangannya semakin indah dan membuat siapapun betah berlama-lama disana.

Spot favorit para wisatawan ketika berlibur ke tempat wisata alam ini adalah di pinggir jalan. Umumnya di tempat inilah banyak wisatawan menggunakannya untuk mengambil gambar berlatar belakang sawah terasering. Lebih menariknya lagi adalah, disini tidak ada biaya tiket masuk. Anda hanya akan dikenakan biaya untuk parkir kendaraan Anda saja. Sehingga, hal ini membuat liburan makin seru.

Karena hanya dengan membayar biaya parkir kendaraan saja, Anda sudah bisa berfoto ria dengan background alam yang benar-benar memukau. Namun, bila Anda ingin mendapatkan foto yang lebih dekat dengan kawasan persawahan, Anda harus turun langsung ke area ini. Saat Anda menuruninya, maka akan dikenakan tiket masuk. Namun, tentunya masih dengan biaya yang terjangkau dan masih wajar. Jam terbaik berkunjung ke wisata alam ini adalah jam 3 sore.

Anand Ashram Ubud

Untuk Anda yang ingin menyelaraskan sisi spiritual Anda dengan alam, maka tempat wisata Anand Ashram Ubud ini sangat cocok sekali untuk Anda. Disinilah Anda bisa bermeditasi, tepatnya di tengah alam yang terbuka lengkap dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Langsung saja merapat ke tempat wisata Anand Ashram Ubud ini untuk mendapatkan pengalaman seru yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Disinilah Anda akan mendapatkan ketenangan batin. Karena Anda bisa mendengarkan kicauan dari para burung, bunyi para serangga, dan mendengarkan aliran air dan semua hal yang bisa menenangkan batin Anda. Disini juga terdapat panorama alam yang benar-benar menakjubkan. Sehingga, hal ini membuat siapapun yang membutuhkan ketenangan batin pasti akan betah berlama-lama di Anand Ashram Ubud yang terletak di Jalan Sri Wedari Km nomor 3, Ubud ini.

Air Terjun Tegenungan Kemenuh

Salah satu tempat wisata alam yang paling digemari para wisatawan di Ubud adalah air terjun Tegenungan Kemenuh. Objek wisata ini memiliki banyak sekali hal unik. Sehingga, hal ini menjadikannya sebagai daya tarik tersendiri ketika berkunjung ke Ubud. Karena disini memiliki pemandangan alam yang masih asri, indah, dan udaranya juga masih sejuk bebas dari polusi udara.

Jadi, tempat wisata alam yang satu ini juga sangat populer di kalangan para wisatawan. Khususnya untuk para remaja dan anak muda yang gemar mengambil gambar untuk diunggah ke media sosial. Air terjun tegenungan ini berdekatan dengan area pariwisata di Ubud lainnya. Sehingga, hal ini membuat beberapa orang yang berkunjung ke Ubud pasti tidak akan melewatkan tempat wisata yang satu ini.

Bahkan, hampir setiap hari tempat ini selalu ramai dengan pengunjung dari berbagai tempat. Hal ini dikarenakan tempat wisata ini sangat dekat dengan tempat wisata Bli Zoo Gianyar dan pasar seni Sukawati. Sehingga, hal ini membuat semua orang tertarik untuk mengunjunginya juga. Untuk ketinggian air terjunnya sendiri setinggi 16 meter dengan debit air yang sangat deras dan besar saat turun. Harga tiket masuknya sangat terjangkau. Yaitu, sebesar 5 ribu rupiah untuk anak-anak, dan 10 ribu rupiah untuk orang dewasa.

Selain memiliki arus air terjun yang deras dan besar, ada juga hal menarik disini. Yaitu, saat airnya terjatuh, biasanya akan tercipta suara gemuruh yang menggelegar. Sehingga, hal ini membuatnya berbeda sekali dengan tempat wisata air terjun pada umumnya di Bali. Misalnya saja, seperti air terjun sekumpul dan air terjun nungnung yang terletak di dataran tinggi.

Karena, justru tempat wisata air terjun tegenungan ini terletak di area dataran rendah di Bali. Fasilitasnya sendiri juga masih belum begitu banyak. Namun, hal ini cukup membuat para wisatawan nyaman saat berkunjung disana. Karena, selain memiliki pemandangan alam air terjun yang indah, disini juga tersedia pusat kuliner. Yaitu beberapa warung makan sederhana sampai dengan restoran. Untuk harga makanannya sendiri juga masih terjangkau dan banyak pilihan menunya.

Trekking Authentic Bali

Tempat wisata yang satu ini cocok sekali untuk pecinta adventure. Karena disinilah tersedia 8 rute trekking yang tidak sama. Dimana tingkatan kesulitannya juga tidak sama. Namun, umumnya jalur trekking disini bila diukur menggunakan cara berkendara mobil, dibutuhkan waktu berkendara selama 30 menit untuk bisa melewatinya. Karena rute jalanan yang akan dilewati berupa area hutan, persawahan, perkampungan warga, dan juga area irigasi.

Dengan melakukan kegiatan trekking disini, Anda bisa melihat lebih dekat dari suasana eksotisme dan budaya yang ada di Bali. Untuk harganya sendiri sangat terjangkau. Biasanya kegiatan ini memiliki tarif berdasarkan budget wisatawan sendiri. Dengan memanfaatkan kegiatan inilah akan membuat Anda seperti sedang liburan di tempat yang tidak biasa. Karena kegiatannya juga sangat seru sekali.

Cara Menikmati Liburan ke Ubud

Wisata Alam di Ubud-Bali Indonesia

Jadi, meskipun Ubud sangat terkenal di Bali, karena memiliki sejumlah tempat wisata yang gratis dan murah. Namun perlu diingat juga bahwa untuk biaya parkir kendaraannya masih tetap harus disiapkan. Karena Anda masih harus membayar biaya untuk parkir kendaraan. Selanjutnya, seperti itulah deretan tempat wisata di Ubud yang patut dikunjungi. Bila Anda ingin liburan ke Ubud, segera saja pesan tiket pesawat yang murah dan mencari hotel di Ubud dari Pegipegi. Karena PegiPegi menawarkan harga tiket pesawat dan hotel terjangkau.

Apalagi di Pegipegi juga menawarkan cara memesan hotel yang mudah. Sehingga, hal ini membuat Anda bisa memesan hotel tanpa harus keluar rumah. Cukup dengan memanfaatkan internet dan gadget di rumah. Kemudian akses aplikasinya langsung atau dari web PegiPegi langsung. Maka Anda bisa menemukan banyak pilihan hotel disana. Caranya, pilih menu hotel yang tersedia.

Setelah itu, tentukan tanggal booking dan daerahnya. Misalnya Anda ingin mencari hotel di kawasan Ubud, maka ketik saja Ubud dibagian lokasi setelah menulis tanggal booking hotel. Selanjutnya, tekan enter dan segala informasi hotel yang ada di Ubud akan muncul secara langsung. Baik itu dari bintang 1 sampai bintang 5. Sehingga, Anda bisa menyesuaikannya sendiri sesuai kebutuhan.

Tanggung Jawab Penuh

Tanggung Jawab Penuh

Tanggung Jawab Penuh
Pixabay.com

ACADEMIC INDONESIA — Di umur 24, saya pernah berjanji jika Allah berikan saya umur 25, saya baru akan serius untuk mencari ilmu tentang pernikahan. Sebuah ilmu yang kata Ayahanda M.H. Ainun Najib (Cak Nun) sebenarnya sangat dibutuhkan di dunia akademik maupun sosial; sebut saja Fakultas Rumah Tangga.

Memang bisa dikatakan demikian, mengingat ilmu rumah tangga merupakan ilmu yang sangat vital. Ilmu yang penerapannya dilakukan seumur hidup; dalam istilah orang Jawa “sakjeke urip”.

Bila diibaratkan, rumah tangga adalah bagian dari negara-negara terkecil. Maksudnya, bila ada seribu rumah tangga dan setiap rumah tangga mempunyai pondasi yang kokoh, tentu negara tersebut juga akan kokoh.

Berbicara tentang ilmu rumah tangga, tentu tak terlepas dari peran tanggung jawab. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk bisa lebih bertanggung jawab.

Dua tahun lalu, tepatnya ketika mengikuti panitia Idul Adha di Masjid UIN Sunan Kalijaga, saya ditugasi untuk mencari pembicara. Waktu itu terpilih Prof. Machasin, M.A seorang guru besar Sejarah Islam.

Ketika khutbah Idul Adha selesai, saya pun mengajak beliau untuk segera ke kantor sekedar makan bersama dan mengucapkan terima kasih.

“Prof, monggo ke kantor dulu…” kataku mengajak beliau.

“Di mana ya istri saya, saya menunggu istri saya sebentar ya…”, jawabnya.

“Baiklah prof….”, jawabku singkat.

Waktu itu masjid sangat ramai sehingga kami pun juga sangat kesulitan untuk melihat istri beliau. Namun selang beberapa menit, Alhamdulillah sudah bertemu. Kami pun menuju ke kantor.

Terbukti, melalui kepribadiannya, beliau merupakan teladan yang baik. Dia bertanggung jawab kepada istrinya meskipun hanya hal-hal kecil sepele; menunggu istrinya untuk menemani datang ke kantor. Dia tidak meninggalkan istrinya bingung, cemas sendirian.

Di sisi kehidupan lainnya, Prof. Machasin juga merupakan akademisi yang mempunyai akhlak luhur bukti ilmu pengetahuannya yang luas.

Pernah suatu ketika, kami sedang berdiskusi di sebuah forum, ada sekitar 10 ormas Islam yang hadir di sana. Seperti biasa, kami membahas tentang problema-problema yang menyangkut umat Islam.

Seorang penanya diberikan kesempatan di forum tersebut. Beliau pun menjawab dengan keluasan ilmu yang dimiliki beliau. Namun, tiba di tengah penjelasan, orang tersebut memotong pembicaraan beliau.

Suasana pun menjadi sedikit tegang lantaran ada beberapa orang yang kurang terbuka di dalam menerima perbedaan. Beliau pun memilih mundur dan menutup forum tersebut.

Dengan luasnya ilmu pengetahuan, beliau bertanggung jawab sekalipun hanya di dalam forum. Prinsipnya, beliau sangat menghindari perdebatan meskipun beliau benar. Masha Allah.

Mempermudah Peran Istri

Sebenarnya, ada banyak cara untuk bertanggung jawab. Sepertihalnya yang dilakukan abang saya ketika beliau menjadi suami, dia benar-benar bertanggung jawab secara lahir batin.

Tanggung jawab seperti keuangan, tempat tinggal dan hal-hal bathiniyah lainnya tentu sudah dilakukan. Namun kiranya ada banyak hal selain itu, seperti contoh-contoh kecil ketika sudah mempunyai rumah baru.

Seorang suami seharusnya bertanggung jawab mempermudah semua peran istri. Saya melihat rumah abang saya sangat tertata rapi, bila dia menyukai tanaman, dia siapkan kran air dan selang agar istrinya bisa menyiraminya setiap hari dengan mudah.

Bila di dalam rumah tersebut sudah dilantai keramik, maka suami menyediakan alat penyedot debu agar si istri bisa membersihkan rumahnya dengan mudah dan menyenangkan.

Begitupula dalam hal pembelian perabot rumah tangga, baginya hanya yang berkualitas-kualitaslah yang harus dibeli. Maknanya, adanya kualitas tentu akan ada harga. Namun hal itu lebih baik, satu berkualitas dipakai selamanya daripada murah cepat rusak yang akhirnya hanya tambah ngregeti rumah.

Beliau juga mengajarkan banyak hal tentang kehidupan. Apa saja yang perlu dipelajari, dia pelajari tanpa malu. Bila dia menjumpai makanan yang lezat sebuah restoran, dia bukan hanya sekedar makan, tapi dia juga melihat, bertanya bagaimana cara membuat makanan tersebut.

Pun bila soal kendaraan. Beliau merupakan suami yang menganggap bahwa kemewahan bukan untuk kemewahan. Kemewahan baginya adalah bagian dari tanggung jawab, dalam artian tanggung jawab untuk memuliakan istrinya. Punya mobil no problem jika bertujuan untuk memuliakan istrinya agar tidak kepanasan.

Tiga bulan sebelum kepergiaannya, dia abang saya juga masih sempat memikirkan tentang kemudahan-kemudahan untuk istrinya. Abang saya ini memang rajin menabung dan berinvestasi sehingga dia menyiapkan surat-suratnya; semua demi kemudahan istrinya bila dia sudah tidak ada.

Di kala sang surya mulai tenggelam, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Beliau meninggal dengan keadaan yang sangat mudah, bahkan beliau tidak membuat repot keluarga besarnya. Beliau adalah inspirasi bagaimana menjadi suami sejati. Tidak menyusahkan di kala hidup maupun menjelang akhir kepergiaannya.

Dia bertanggung jawab penuh di awal dan di akhir meskipun awal dan akhir itu sangatlah rapuh.

Berguguran

Berguguran

Ada batu kerikil yang mengisi ruang otakku. Bebal! Membuatku berat mengangkatnya pulang. Kutelan pahit berkali-kali. Aku hendak membela diri, sayang, nasibku justru malang tersudutkan oleh perbuatan yang telah kuulang. Maka, sebelum batin ini didengarkan, aku sudah menjadi tersangka utama.

Menangis? Sudahlah, tak ada penyelesaiaan memuarakan airmata di dagu. Biarlah Tuhan yang mengatur perjalanan langkah otak bebalku. Sungguhkah bebal? Aku tidak mengerti mengapa diri ini menganggap seperti itu. Mungkinkah, ada separuh ingatan yang dicuri malam?

Kantuk dan kesadaranku tak ubah perbandingan lautan dengan daratan. Banyak lautan! Banyak kantuknya. Tak khayal, aku sering kehilangan kosentrasi. Jika sudah, aku limbung. Tatapan sangsi kawan akan membuatku tersungkur dalam penjara deruji pengasingan. Mengigil ragaku di penghujung waktu. Mungkinkah waktuku berujung?

Berjam-jam lamanya kepalaku menderita. Lensaku tak mampu mencahayakan suasana. Nyawa alam yang ceria dalam pandangan umum, tetap gelap di mataku. Aku terduduk layu di meja kantor. Mencoret-coret kertas bekas. Tumpukan file di sisi kepala tak kuhiraukan. Aku lelah, hendak rebah. Kuabaikan ajakan teman-teman untuk pulang. Kepala kusandarkan di atas meja. ‘Kenapa selalu aku? Bukankah sebelumnya aku sudah menunjukkan tugasnya? Meminta persetujuan? Apakah seperti ini?’

Acuh tak acuh ditanggapi. Ya! Ya seperti itu! Aku menyungging. Bersemangat melanjutkan tugas. Membuat E-billing pajak lembaga. Lari ke kantor pos terdekat membayarkannya. Ini untuk pertama kalinya aku membayar pajak secara online.

‘Bisa?’  Aku mengangguk. Ucapan terimakasih diluncurkan.

Pada hari selanjutnya, saat aku duduk dengan tenang. ‘Kemarin yang dibayarkan lembaga KB kan?’ Sebuah kalimat mengobrak-abrik perasaan damai di hatiku.

Kawan, kau tak pernah melupakan pekerjaanku bukan? Aku terperangkap dalam dunia kanak-kanak. Masih sampai detik ini. Ia menjadi takdir hidupku. Terkadang duduk melingkar di kelas bersama anak-anak. Terkadang juga sibuk membuat surat di kantor. Lebih sering duduk terpaku di hadapan layar laptop, menginput dan output data lembaga sekolah. Baik TK (Taman Kanak-kanak) maupun KB (Kelompok Bermain). Yah, aku masuk ke dua dunia tersebut.

Dan hari itu, aku mendapat perintah untuk membayarkan pajak secara online. Aku meregristasikan salah satu lembaga sebagai bahan percobaan. Meminta persetujuan di sisi bendahara, bahkan ia melihat dengan mata kepala sendiri aku membuatnya. Aku memasukkan nomor NPWP TK. Jelas yang kubuat terlebih dahulu adalah TK.

‘Seperti inikah?’ Ia mengangguk. Aku menunjukkan layar laptopku ke hadapannya. Lantas disuruh memasukkan besaran juga jenis pajaknya. Kukerjakan taat. Kelar! Kucetak ID billingnya. Kutunjukkan kepada kepala sekolah, ia jauh lebih berwenang. Barangkali ada yang salah. ‘Apa seperti ini?’ Dicek sebentar. Dibaca sekilas, lantas diletakkan di atas tumpukan file. ‘Ya. Ya seperti ini, bayar saja ke kantor pos!’

 ‘Sudah benar?’

 ‘Ya!’

***

Kemarin yang dibayarkan lembaga KB kan?’ Tanya bendahara. Aku mengantisipasi akan ada masalah besar. Mendadak seperti ada paku yang menghantam kepalaku. Membuat kabur pandangan. Jantungku berdetak tak keruan. Leher hendak kugelengkan, namun aku tak memiliki keberanian cukup. Tertenggak air liur, g.e.t.i.r.

Kalimat itu tak perlu ditanyakan, ia sudah mengetahui jawabannya. Di hari sebelumnya ia mencariku, memerintahkanku membuat kode e-billing tanpa menyebutkan TK atau KB. Instruksi yang kurang jelas. Aku meminta NPWP diberikan dua lembaga. Tidak memberitahuku manakah lembaga yang harus dibayarkan pajak.

Suaraku mendesis. ‘Tekha…’

‘Masya Allah! KB yang dipajaki itu!’

 Aku diam menunduk. Kutahu sekretaris, bendahara dan termasuk kepala sekolah mendengus jengkel, amat dekat dengan kata kecewa. Pandangan mereka sudah menyudutkanku. Aku tak berani mengelak jika aku s.a.l.a.h…….. Bukan! Lebih jelasnya aku disalahkan! Batinku menggigit pilu.

Denyut nadiku protes, ‘ketika regristrasi ia berada di sisiku, sebelum mengisi data yang akan dipajakkan aku bertanya, apakah seperti ini? Menunjukkan akun online-nya! Bahkan sebelum membayar ke kantor pos aku mengprint ID bilingnya! Kumintai kepala sekolah mengoreksinya, ‘seperti inikah? Benarkah begitu?’ Mereka belum meneliti langsung bereuforia dengan keberhasilan regristrasi.

‘Kemarin saya membuatnya TK, saya tidak tahu kalau ternyata itu pajak KB!’

‘NPWPnya sudah saya berikan semua!!!’           

Batinku menggumam memang. Tapi… sudah tak perlu kukata berulang! Jawabannya sudah tertuang. Mereka semua sedang tak membutuhkan alasan. Aku pasrah mendapat label prasangka, sungguh nasib malang.

Hari itu pula aku salah mengambil cap lembaga. Kurang berkosentrasi. Sekitar 150 surat kucap salah! Dalam poin ini aku mengakui salah! Aku semakin tersudutkan. Tak tahu cara tersenyum. Jelas kali ini aku salah! Aku kurang teliti. Semula paku yang menghantam, kini bebatuan besar yang mengamuk otakku. Sakit. Takut. Khawatir dengan ekspresi guru-guru lain. Pasrah! Aku sungguh salah.

 ‘Lain kali TELITI! Masak cap sampai salah? Bagaimana jika dibawa ke dinas!’ Aku diam menunduk. Memandangi kehijauan karpet yang kuinjak.

Meja dengan tumpukan file menatap sangsi. Etalase berisi dokumen-dokumen juga jengkel dengan tingkahku. Jam dinding kurasa ikut mengumpat dengan mengeraskan detakannya. Di luar kantor, gerimis mengusap alam pilu. Kabut bertenggger di atas bangunan, menggeleng iba, ikut merasakan pedih yang menjerat dada. Maka, hujan ragu-ragu, ia tak mau menambahkan derita saat perjalanan pulangku nanti.

Dan aku lupa cara pulang. Saat yang lain bersiap-siap melesat, meninggalkan sekolah, aku masih termenung menyesali perbuatan yang telah menjadi l.a.l.u. Aku tak berontak. Aku hanya kesal dengan diriku, mengapa aku tidak bertanya itu untuk lembaga apa, mengapa aku tidak meneliti capnya juga! Mengapa dan mengapa? Jiwaku menggerutu muram.

Sudah! Jangan menyesal! Itu hanya akan membuatmu menderita! Pulanglah, istirahat, hadapi dengan lapang besok! Tegar, kau tak pernah menanggalkan senyummu di peraduan malam, Ra!’ Hati menasehati. Airmata justru menitik sendu. Aku terisak.

Pulang!’

 ‘Pulang!’ Waktu memerintah. Sekolah hening. Gerimis membalut sepi. Tak ada kicau anak-anak. Mereka telah duduk manis di pangkuan bunda di rumah masing-masing. ‘Pulang, Rara!’ Aku tunduk. Bangkit dari tempat duduk. Pulang.

Gerimis kubiarkan hinggap di tubuhku. Aku melangkah gontai. Kutelusuri gang kampung dengan raut wajah masam. Warga yang berpapasan denganku, tak kusapa. Payung warna-warni yang mereka bawa seolah mentertawakanku. Aku terlihat malang. SEDIH. Sangat sedih! Perasaanku terbujur pada ruangan hampa. Aku seperti menenggak seember perdu.

 ‘Anakku, wajahmu masam! Kenapa hujan-hujanan?’ Suara yang kukenal, sayang aku sedang malas menanggapi. Tak mau diganggu oleh siapa pun.

 ‘Kau tidak menyapa Nenek? Di mana senyummu?’ Aku mendengus. Kalimat ke dua menarik leherku.

 ‘Ya, Nek!’ Senyum yang sinis. Nenek yang sangat lihai memberi nasehat bekal kematian. Nenek yang di mataku unik dengan pekerjaannya menata sendal-sendal jepit jamaah. Ia duduk di beranda rumah bambunya. Kursi plastik bersandar di sisi pintu, bersama kekasihnya meja tua yang  sisinya sudah digerogoti rayap. Jemarinya menggenggam gelas dengan kopi yang mengepulkan asap.

Ia meletakkan kopi di atas meja, menghampiriku, membukakan pintu gerbang, yap pintu gerbang pagar bambu. Mawar yang hidup di halaman rumah menyapaku riang, senyum di kelopaknya sungguh memesona, merah kaya nilai keindahan. Tanaman hias lainnya berjajar rapi, bersih, tak ada gulma yang tumbuh liar. Hanya beberapa daun pohon kelengkeng berguguran diembus angin. Terbang landai sebelum tak berdaya di atas tanah. Disusul daun yang lainnya.

 ‘Kenapa murung?’ Aku menggeleng layu. Ia menarik lenganku, meyeretku masuk. Aku pasrah meski beberapa detik sempat terkesiap. ‘Duduklah, nenek buatkan kopi.’

 “Aku tidak minum kopi, Nek!”

“Teh manis?”

 Aku menggangguk. Setidaknya cairan itu dapat menghangatkan tubuhku yang dingin tak terasakan. Batinku membeku, jiwaku yang menggigil pun kulupakan. Luka yang tersemat di dada begitu dalam. Aku tak lagi mengurusi diriku yang lama diselimuti gerimis. Jilbabku menjadi sembab.

Bulir airmataku tersamarkan. Aku menyeka mata. Penglihatanku fokus pada pohon kelengkeng di halaman. Daunnya mengayumi rumah bambu ini. Jika cuaca mendukung, maka burung-burung bermalas-malasan di rangtingnya. Ada sangkar anak burung pula. Buahnya belum muncul, namun kehidupan ulat dan semut aktif berjalan. Tampak beberapa daun berlubang. Yang lain berjatuhan, warnanya tak lagi hijau, cokelat tanpa bernyawa.

Aku menyamakan persoalan yang barusaja melanda seperti dedaunan itu, gugur tak berdaya, meskipun semula aku berusaha menyejukkan alam sekitar dengan klorofilku, beberapa makhluk juga akan acuh dengan kebaikan tubuhku yang berusaha mengenyangkan pencernaannya. Pada akhirnya aku akan terbuang. Tak ada yang memungut. Hidupku berakhir. Bertambah kelu batinku. Napas sesak. Aku takut membayangkan esok. Cap salah! Membayar pajak salah!

Tentu wajah dan senyumku tak lagi menawan di pagi yang menggigil. Orang akan mewartakan kecerobohanku. Label bodoh menggerayangi akal pikirku. Penderitaan semakin kuat sebab sebelumnyaaku pun sering melakukan kesalahan dalam menulis surat, salah ketik! Ah, berita teraktual akan segera melesat! Besok tanggal terbitnya! Pada akhirnya daun itu akan dibuang ke tempat sampah. Menyedihkan. Hidup yang mengenaskan.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Tadi pagi kau tidak salat jamaah subuh?”

 Oh. Ia begitu memperhatikanku. Ya. Tadi pagi aku bangun terlambat. Tangannya pelan meletakkan segelas teh di meja. Uap masih mengepul. ‘Minumlah!’

‘Tidak ada apa-apa, Nek!’ Aku memaksa diriku untuk tersenyum. Kugapai gelasnya, kubelai dindingnya. Hangat. Nyaman. ‘Tadi pagi aku bangun terlambat, jadi tidak ke musola.’

“Hmmm… lantas mengapa waktu ini kau murung, Anakku?”

“TIDAK. Aku tersenyum.”

“Saya sudah paham dengan karaktermu juga pemuda-pemuda lain di kampung kita. Saya bisa membaca wajah mereka yang terbebani,” jelasnya. Aku meniup asap.

“Terkadang orang tidak meletakkan adil dalam tempatnya karena dirinya merasa sudah melakukan tindakan yang benar, maka seseorang yang salah semakin merasa bersalah.” Tuturku.

Aku menenggak teh. Tenggorokanku hangat. Sedikit lega perasaanku. Senja mulai mengintip di balik kabut. Gerimis belum usai. Mereka masih tertarik dengan mekarnya mawar di halaman. Menyerbuk di kelopaknya yang beraroma tentram. ‘Aku merasa seperti kehidupan akhir daun-daun kelengkeng itu, Nek!”

 “Sudah tidak dibutuhkan lagi oleh ulat, sudah tidak mampu memberikan kesegaran kepadaa alam, dan tak mampu bekerjasama dengan daun lain supaya membantu buah kelengkeng tumbuh.’ Pilu aku mengisahkan. Kembali kutenggak tehnya. Ada cairan yang hendak meluncur. Namun aku menahannya.

“Kamu salah mengartikan! Semakin banyak daun itu berguguran, semakin banyak daun muda yang akan tumbuh.”

“Ya karena dia tak lagi berguna, maka yang lain akan menduduki posisinya!’

 “Ia masih menjadi daun kelengkeng, yang menduduki juga tidak mungkin daun rambutan, dirinya yang mendudukinya, Anakku! Jangan berpikir bahwa daun itu adalah satu tubuh yang utuh, lihatlah!” Nenek mengarahkan pandanganku dengan telunjuknya. “Ia mempunyai batang pohon, mempunyai akar, tangkai, dahan, juga ratusan daun. Satu tubuh itu baru dinamakan pohon kelengkeng! Anggap saja daun yang gugur adalah persoalan hidup manusia.” Aku  tak merespon. Diam, menenggak minuman.

                “Satu daun gugur, satu daun akan tumbuh. Seratus daun gugur, seratus daun mempunyai kesempatan untuk tumbuh.”

 “Bagaimana jika semuanya gugur? Mengenaskan! Tinggal tulang! Tidak menarik!”

 “Jika ia hidup di tanah yang subur, maka daunnya akan tumbuh lagi, semakin indah, semakin hijau. Semakin berguna untuk kehidupan makhluk, burung-burung akan nyaman bersangkar di atasnya.”

 “Itu jika!’ Aku protes. ‘Daun gugur tetap daun gugur, saat ia jatuh ke tanah tetap tak akan menjadi berarti, disapu dibuang ke sampah, atau dikumpulkan dibusukkan menjadi pupuk kompas dengan daun-daun tanaman yang lain.” Aku merajuk.

 ‘Anakku, jangan berpikir hanya pada satu tahapan. Coba kau renungi sekali lagi, daun berguguran, ia memberi kesempatan daun lain untuk tumbuh, daun yang lebih hijau, yang masih muda, yang segar.. Itu artinya dengan masalah seseorang mempunyai kesempatan untuk menumbuhkan kebaikan di waktu yang lain.

Dalam arti ia tak akan mengulangi kesalahan yang sama, karena ia belajar dari pengalaman yang sesudahnya! Ditambah satu masalah lagi, dua kesempatan tidak salah, sepuluh masalah, maka sepuluh kesempatan, seratus masalah, seratus kesempatan memperbaiki masalah sebelumnya akan tumbuh.

Orang-orang hebat, atau pohon-pohon besar adalah pohon yang lebih sering menggugurkan daunnya, menyampahi halaman orang atau mengotori hutan-hutan. Begitu juga dengan nasib orang, tak ada orang yang hebat jika ia belum mempunyai berpuluh-puluh masalah, juga beribu-ribu persoalan!’ Nenek itu menjelaskan.

‘Tapi banyak yang mengumpat! Banyak yang berkata bahwa daun itu mengotori halaman, mereka mengusirnya!’

‘Tergantung siapa yang mengumpat! Nenek tidak pernah mengumpat, daun berguguran itu adalah keberuntungan, ia memberi kesempatan yang lain tumbuh, juga membuat tanaman yang lain subur saat bangkainya terurai menjadi pupuk dengan zat lain.’

‘Tapi banyak yang mengumpat! Tetangga kita!’

‘Karena satu orang mendukung apa yang kau lakukan lebih baik, daripada seribu orang yang mencelamu! Di dunia ini lebih banyakk orang tidak memahami daripada orang yang memahami, Anakku. Kau tahu bukan? Seseorang yang sedang  berjuang meraih apa yang ia inginkan akan mendapatkan masalah, dan sudah menjadi suratan takdir jika keinginannya kuat maka rintangannya berat, banyak yang memusuhi, sedikit yang mendukung! Ingat! Daun itu tetap berguna!’

‘Dan daun itu mati!’

‘TIDAK! Anakku, nenek sudah bilang, daun itu bukan tubuh yang utuh, ia disebut daun kelengkeng karena memiliki anggota yang lain. Ia gugur, maka yang lain tumbuh!’

Kalimat tumbuh diulang terus menerus. Ia menenggak kopi. Berdiri. Menarik tubuhku, mengajakku melangkah ke halaman. Gerimis masih bersemangat hinggap di bumi. Tak ia pedulikan rambutnya yang beruban dibutiri embun. ‘Perhatikan baik-baik pohon kelengkeng itu!’

Aku mendengus malas. ‘Coba perhatikan!’ Nenek menepuk bahuku. Akhirnya aku menurutinya. ‘Amati tubuhnya, ada ranting, batang, di dalamnya akar yang menguatkan, dahan-dahan kecil, daun-daun, kemudian bunga-bunga, barulah terakhir kelengkeng.’

‘Tapi pohon itu belum berbuah!’

                ‘Ya! Kau benar, namun ia masih tumbuh dan berjuang membuahkan dirinya. Itu sama dengan persoalan manusia, Anakku. Ada komponen lainnya yang membuat diri manusia itu menjadi utuh, ada kecerdasan, ada perasaan takut, ada lelah, ada cemas, ada khawatir, mengenaskan pada tahap akhir kegagalan.

Jika takut gugur mampu dihilangkan, maka keberanian akan tumbuh, jika khawatir gugur, keyakinan akan tumbuh, jika gagal berhasil digugurkan, maka kau tahu apa yang akan terjadi? KESUKSESAN memelukmu!’ Nenek berapi-api menjelaskan.

“Dalam arti jika gagal, pohon kelengkeng ini akan ditebang,” ketusku.

“Ya. Dia akan ditebang, tapi akan ada tunas-tunas yang tumbuh, lebih indah, berjuang dengan semangat ke dua, sebab akarnya masih menguatkan, ia memiliki arti hidupnya agar selalu tumbuh dan tumbuh, meski angin menghancurkan, panas melayukan, ia tetap akan tumbuh, sebab ia yakin suatu saat nanti akan ada musim penghujan seperti saat ini yang menggugurkan, barulah pada musim kemarau ia akan membuahkan kelengkeng yang manis,’

“Bertahun-tahun ia harus berjuang!”

“Karena tidak ada sukses yang instan, Anakku!” Aku kalah telak. “Jika kau berniat ingin menjadi orang yang berguna, maka jangan menyerah dengan kesalahanmu, jangan merasa orang lain tidak berbuat adil terhadapmu, tapi renungilah kesalahan itu sebagai pelajaran yang akan memuatmu lebih baik di kemudian hari.”

Aku menyeka airmata. Kali ini tak kuat menahan. Meluncur deras. “Jika takdir di hadapanmu akan menyukseskanmu, maka sejak sekarang kau akan diuji oleh berbagai masalah dan persoalan,”

“Aku kurang teliti dalam mengerjakan tugas di sekolah, Nek!”

“Tidak papa, lain kali kau akan lebih teliti.” Akhirnya aku menceritakan kesalahanku. Aku terisak.

“Sudah, jangan menyesalinya.”

“Tapi aku merasa bersalah, dan aku takut. Aku merasa tidak berguna.”

“Anakku, kau masih mempunyai kebaikan yang lain, kau memiliki kecerdasan lain, kau tetap dibutuhkan oleh kehidupan ini, juga kehidupan mereka, boleh kau merasa bersalah, namun jangan sampai rasa bersalah itu membuatmu layu. Ingatlah, semua makhluk termasuk pohon sekali pun ditakdirkan untuk memiliki kesempatan yang lebih baik, bagaimana denganmu yang justru diciptakan dengan adil, tentu Allah adalah dzat yang sudah mempertimbangkan sebab dan akibat sebelum kau diciptakan, Anakku!”

Bahuku berguncang. “Tersenyumlah esok nanti, jangan menangis lagi.”

Aku mengusap peluhku. Mencium tangan keriputnya. Pamit pulang. Gerimis masih abadi. Perasaanku terbelah menjasdi dua, antara sedih juga bersyukur diberi masalah. Nenek benar, aku masih mempunyai komponen lainnya. Dari permasalahan yang aku perbuat, aku mempunyai kesempatan agar ke depannya dapat lebih baik lagi.

Maka hari ini, aku tersenyum. Pagi mendung, hatiku tetap mendukung.

05 Jan 2017/05:00 WIB. Magelang.

Hati yang Selesai

Hati yang Selesai

Hati yang Selesai – Istilah di atas saya dapatkan dari sebuah catatan kehidupan bersama warga Maiyah. Bagi penulis sendiri, bukan siapa dan di mananya yang terpenting, namun lebih pada maknanya.

Sepuluh tahun lalu, 5 tahun lalu, 1 tahun lalu, atau bahkan 1 detik lalu adalah sejarah suasana hati yang barangkali akan berbeda di setiap orangnya.

hati yang usai, ikhlas
scarletpensieve.blogspot.com

Sejarah suasana hati yang berjalan itu lama-kelamaan muncul rasa instropeksi diri. Ya, perjalanan hidup menyisakan berbagai problem “saya tidak sepakat dengan itu, saya tidak setuju dengan hal itu, saya begini, dan saya begitu.”

Bagi penulis sendiri, instropeksi pun memiliki dua wajah; antara wajah keberhasilan dengan wajah kegagalan instropeksi.

Bagi instropekster yang sukses, Ia akan melihat ketimpangan adalah sesuatu hal yang wajar, sebab dunia memang diciptakan seperti pelangi. Illah menguji siapa diantara manusia yang paling bertahan menghadapi cobaan bernama kasih sayang.

Bagi instropekster yang gagal, Ia akan melihat sebuah perbedaan sebuah hal yang sudah tak bisa lagi di jadikan karunia. Ya, perbedaan itu seakan menjadi terminal sebuah ikhtiar kebenaran sehingga yang ada hanyalah kutukan, penyesalan dan permusuhan.

Hati yang Selesai

Sudah. Rasa kekurangan memang tiada habisnya. Terlebih kepada dunia. Ada kalanya, kehendak kita, bisa diizinkan oleh Illah, namun adakalanya Ia sebagai ujian kesabaran.

Sudah. Bila hati senantiasa menuntut kesempurnaan, manusia hanya akan lelah dan menyalahkan. Bukankah manusia lebih baik mengingat kenikmatan-Nya daripada ujian dari-Nya?

Bila setiap manusia senantiasa mengingat kenikmatan-Nya, hidupnya akan dipenuhi dengan berbagai rasa kegembiraan akan rahmat Allah. Sebaliknya, bila yang dikedepankan adalah prasangka buruk kepada Allah, Ia hanya akan diliputi rasa bersalah, selalu menyalahkan dan menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar.

Selesaikanlah hati. Bila masa lalu, hari ini dan nanti masih ada ujian yang menyedihkan buat Anda. Kenanglah bahwa Allah ingin membimbing mental kita untuk tegar. Ya, bila manusia sering mengalami kesedihan demi kesedihan, Ia akan merasa terbiasa dengan kesedihan berikutnya. Hingga Ia akan menganggap sebuah masalah menjadi anugerah.

Sungkem (Mencium Kaki Ibu): Sebuah Tradisi Revolusi Mental di Hari Raya

Sungkem (Mencium Kaki Ibu): Sebuah Tradisi Revolusi Mental di Hari Raya

Revolusi Mental di Hari Raya-Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan kita di Hari Raya Idul Fitri kali ini. Semoga kita dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin. Ya, bersuka ria namun di dalamnya ada banyak ibadah untuk senantiasa taat kepada-Nya. Baca mengenai contoh teks khutbah Idul Fitri selengkapnya.

suaramerdeka.com
suaramerdeka.com

Beberapa hari lalu, salah seorang teman saya bertanya; “Bos, ajari aku sungkem marang wong tua?”

Pertanyaan tersebut membuat saya larut dalam syukur menjelang Hari Raya Aidil Fitri kali ini. Hal yang paling membuat saya bersyukur adalah di moment hari raya kali ini saya masih bisa bersama dengan kedua orang tua.

Orang Tua Kitalah yang Menjadikan Kita Muslim

Barangkali, di luar sana ada beberapa teman kita yang sudah tidak bisa bersama orang tuanya lagi di Hari Raya Aidil Fitri. Sungguh, berhari raya bersama orang tua adalah satu kenikmatan yang tak terperi.

Namun, dibalik besarnya nikmat yang telah Alllah berikan, ada beberapa saudara kita yang enggan mensyukurinya. Bahkan, nikmat yang dirasa tak cukup sebab hanya harta yang ada di pikirannya.

Pepatah mengatakan bahwa; “Sesuatu yang telah hilang baru akan terasa keberadaannya”. Barangkali pepatah tersebut harus kita ambil hikmahnya dalam-dalam sebelum kita menyesal ke akhirnya.

Sebelum kita kehilangan semuanya hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik. Terlebih kepada kedua ibu bapak yang telah menjadikan saya dan Anda muslim sehingga kita bisa menikmati keindahan hidup berhari raya pada kesempatan kali ini.

Sudah sepantasnya di hari raya kita meminta maaf kepada kedua orang tua kita. Dalam bahasa jawa sering disebut sungkem ataupun ujung. Tak perlu malu, sebab untuk kebaikan tak perlu ada rasa malu.

Nah, bila biasanya kita membangun mental melalui pencegahan agar tidak korupsi maka lebih sempurnanya bila kita juga membangun mental melalui sungkem. Ingatlah bahwa keikhlasan Allah juga tergantung keikhlasan orang tua.

Bila orang tua telah ikhlas terhadap anaknya, insyaAllah setinggi apapun cita-cita akan mudah digapainya. Begitu pula seandainya orang tua telah ridha kepada anaknya, sebesar apapun godaan di dunia untuk berbuat dosa akan senantiasa tahan menghadapinya. Sebab doa-doa orang tua senantiasa tulus menjaganya.

Mari kita lebur segala dosa kita di hari raya ini dengan sungkem. Semoga perkataan “ah” yang telah kita ucapkan beribu-ribu kali kepada ayah ibu kita semua terampuni. Kenanglah bahwa kasih sayang ibu, kasih sayang Allah juga….

Kata-kata Sungkem

Kepareng matur dhumateng bapak/ibu/simbah/dll sowan kula wonten ing mriki ingkang sepisan silaturahmi. Ingkang kaping kalihipun ngaturaken sugeng riyadi ngaturaken sedaya  lepat nyuwun pangapunten.

Kaping tiga kula nyuwun donga pangestunipun supados kula saged dados putra ingkang sholeh migunani dhateng agami, nusa, bangsa lan nagari. Lancar anggenipun pados ilmu ingkang manfaat, gampil anggenipun pados rejeki ingkang halal lan thoyyib saha sukses nglampahi gesang wonten ing dunya lan akhirat.

Setalah kita sungkem, biasanya beliau orang yang kita sungkemi akan menjawab seperti ini;

Yo lee, sowanmu mrene tak tampa. Semana uga aku wong tua akeh lupute. Muga-muga isa kalebur ing dina riyaya iki. Tak dongakke apa sing dadi panggayuhanmu dikabulake marang gusti Allah.

 

Godaan Itu Bernama Kebaikan; Sebuah Renungan Mahasiswa Tingkat Akhir

Godaan Itu Bernama Kebaikan; Sebuah Renungan Mahasiswa Tingkat Akhir

Penulis

  • Khansa S@F
  • Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)

Tulisan ini hadir untuk teman-teman baik yang sedang mengerjakan tugas akhir (skripsi) maupun mengerjakan tugas yang lainnya. Semoga hadirnya tulisan ini bermanfaat. InsyaAllah.

Pernah dapat wejangan atau nasihat dari kakak-kakak tingkat kita yang sekarang sudah lulus menjadi sarjana?

Saya pernah mendapat nasihat dari kakak tingkat saya, dan ternyata memang apa yang dikatakan oleh mereka sekarang saya rasakan sendiri.

Gdaan-Godaan Skripsi
meetriver.com

Godaan-godaan di saat mengerjakan tugas akhir itu buanyak sekali, mulai dari A sampai Z pasti godaan itu datang silih berganti.

Kata teman-teman saya, godaan yang paling berat pada saat skripsi adalah…. malas!. Kata mereka, malas merupakan godaan yang paling berat. Namun uniknya, ada satu godaan yang sebenarnya itu bersifat ‘baik’ tapi karena kita salah mengartikan sehingga kitapun terayu dan akhirnya karena menurut kita ‘baik’ itulah membuat kita masuk bahkan terbuai. Hasilnya, mengerjakan skripsi engga fokus dan engga kelar-kelar. Na’uzubillah.

Godaan macam apakah itu? Penasaran? Baiklah mari kita bahas.

Kakak tingkat waktu itu pernah berkata kepada saya,

“Vi, nanti kalau udah semester akhir, kalau bisa dan memang kudu wajib fokus ngerjain, pasti akan banyak godaannya tapi harus diinget kamu kudu wajib selesaikan skripsi dulu, insya Allah kalau udah selesai skripsi, kamu bebas mau ikut kegiatan apapun”

Ketika itu, saya mengiyakan dengan semangat dibaluti dengan tekad yang kuat.

Tibalah saatnya saya memasuki masa-masa skripsi. Tahukah? Pada masa itu pula segala bentuk kebaikan kebaikan datang silih berganti.

Pusing karena skripsi
essay-writing.science

Pada saat itu, manakala hati ingin mendalami dunia kepenulisan, datanglah BC an/tawaran tentang pelatihan kepenulisan, manakala hati ingin memperdalam ilmu agama, datanglah BC an /tawaran dauroh-dauroh yang keren-keren, manakala hati berkata ingin melatih kemampuan kepemimpinan datanglah BC an/tawaran tentang itu pula.

Manakala hati ingin ini dan itu, seolah pada saat itu semua datang menghampiri. Bukankah semua itu baik? Tentu semuanya baik. Tapi… bagi saya orang yang sedang di kejar skripsi plus orang yang kurang mahir dalam membagi waktu itu adalah godaan dan saya harus menahan hawa nafsu saya. Tulisan ini tidak berlaku bagi mereka yang benar-benar bisa membagi waktu ya.

Akhirnya, sayapun termemung, ada apa ini? Ko di saat saya ingin itu dan ini seolah semuanya menghampiri? Alhamdulillah Allah selalu menegur saya manakala saya hendak melakukan ini dan itu. Misalnya begini, tatkala saya ingin mengikuti pelatihan atau ada dauroh, hati saya selalu berucap “Sabar, selesaikan dulu yang ini”.

Namanya juga nafsu, pasti akan selalu saja ada. Saya sangat bersyukur kepada Allah karena manakala saya ingin ini dan itu kata “sabar” selalu mendominasi.

Sabar teman, semua ada masanya. Banyak orang beralasan nunda skripsi karena ini dan itu. Saya akan coba bahas satu persatu alasannya, Insya Allah.

Alasan pertama, saya malas mengerjakan skripsi karena bagi saya lebih baik saya ikut dauroh/pelatihan/kelas ini karena disana dipelajari ilmu agama yang banyak, saya merasa waktu yang saya punya tidak terbuang cuma-cuma. Hmmm… bukankah itu baik?

Belajar ilmu agama siapa yang tidak mau? Pasti maulah apalagi kalau gratis. Tapi eitss tunggu dulu. Ada skripsi menantimu nak, fokuslah pada yang ini dulu, jangan anggap mengerjakan skripsi hanya membuang-buang waktu dan tidak bermanfaat loh, itu anggapan yang salah besar.

Nih saya kasih tau, cobalah rubah mindset kita, kerjakanlah skripsi karena Allah bukan karena yang lain, insya Allah lelahnya kita, kurang tidurnya kita, susahnya kita akan Allah nilai sebagai jihad. Insya Allah.

Alasan kedua, saya tidak mengerjakan skripsi karena saya masih dibutuhkan di kampus, masih banyak amanah yang harus saya selesaikan. Bukankah ini alasan baik? Tapi tunggu dulu, bukankah skripsi juga salah satu amanah yang harus diselesaikan?

Jangan berpikiran karena kita sudah skripsi amanah kita atau tugas kita di organisasi kampus akan terbengkalai, wahai para pemegang amanah, tahukah? Salah satu ciri orang yang amanah adalah bersungguh-sungguh menjalankan manah tersebut.

Bagaimana mau amanah wong ngerjain skripsinya aja enggak sungguh-sungguh. Sekalipun banyak teman saya yang walaupun belum selesai skripsi amanah, tapi saya merasakan semacam perbedaan antara orang yang amanah dengan mengerjakan skripsi dengan baik artinya (tepat waktu atau sedikit tidak tepat waktu artinya jedanya tidak terlalu jauh) dengan orang yang ananah dengan skripsi yang tidak kelar-kelar.

Saya merasakan saja perbedaannya, kalau bahasa gaulnya, aura/karisma yang di pancarkan sangat berbeda sekalipun keduanya sama-sama amanah. Kalau mau merasakan, coba praktekan sendiri dan rasakan perbedaannya hehe… Wallahu’alam ini hanya pandangan saya.

Alasan ketiga, saya engga ngerjain skripsi karena saya mau fokus hafal Qur’an. Bukankah ini alasan baik?memang baik tapi… fokusin skripsi dulu nak, Emang pas lagi ngerjain skripsi engga bisa ngafal Qur’an? Jangan jadikan alasan menghafal Qur’an untuk tidak mengerjakan skripsi.

Kalau masalah ini bagi orang yang pinter bagi waktu bisa saja, tapi bagi kita-kita? Saya ingatkan sekali lagi, target kuliah itu empat tahun, pihak kampus sendiri yang buat target. cobalah bersabar sedikit nak, ingat! Itu godaan kawan.

Jika alasannya ingin fokus ngafal Qur’an buat apa awal-awal mutusin untuk kuliah, ngabisin uang orangtua saja, belum lagi waktu tenaga pikiran dan lain-lain. Jangan jadikan alasan menghafal Qur’an untuk tidak mengerjakan skripsi, lihat para sahabat nabi, ujian mereka lebih besar di banding kita.

Ujian mereka berperang pertaruhkan nyawa lah ujian kita hanya fokus di skripsi apa susahnya? Saya punya jargon untuk alasan yang ketiga ini “Selesaikan skripsi karena Al-Qur’an menanti” hehehe

Banyak alasan-alasan lain yang harusnya saya sebutkan, namun qodarullah belum bisa disebutkan. Hehe…

Pada intinya sebenanrnya sesuatu itu baik namun sesuatu itu bisa menjadi tidak baik karena ulah/hawa nafsu kita sendiri.

Cobalah untuk berpikir jernih…
Cobalah bertanya pada hati yang bersih….
Teman, kerjakanlah skripsi karena Allah, tak bisa dipungkiri banyak tawaran pekerjaan atau dauroh yang diberikan kepada saya, tapi saya tahan dan saya anggap itu ujian dan cobaan yang Allah berikan. Lagi pula ada amanah orangtua yang harus segera ditunaikan, tak bisa di pungkiri keinginan mereka ingin melihat anaknya pake toga.

Saya pernah menghadiri salah satu teman saya wisuda, di sana banyak sanak famili yang terlihat amat bahagia, bukankah membuat orang bahagia itu berpahala? Apalagi membuat orangtua bahagia hehehe. Sebenarnya bagi saya yang terpenting ialah skripsi ini adalah jalan Allah untuk menguji kesungguhan saya.

Kita boleh ikut ini dan itu di masa skripsi tapi ingat ada kewajiban yang lebih harus kita penuhi, yaitu tetap fokus dan prioritaskan skripsi dulu. Semua itu ada masanya insya Allah dengan kita bersabar, akan menghasilkan kebaikan yang manis.

fokus skripsi
madeandi.com

Saya ingatkan sekali lagi, berabarlah kawan…Semua ada masanya.

Bagi yang tidak setuju dengan tulisan saya, silakan komentari dalam bentuk karya tulis juga mudah-mudahan dengan tulisan kita ada orang yang mendapatkan kebaikan.

Wallahu’alam….

Kirim tulisan Anda baik meliputi catatan hikmah kehidupan Anda, cerpen, puisi, artikel, materi pelajaran atau yang lainnya. Tulisan dapat Anda kirim ke redaksiacademic@gmail.com dengan jumlah kata antara 500 kata sampai 2000 kata.