Berguguran

Berguguran

Ada batu kerikil yang mengisi ruang otakku. Bebal! Membuatku berat mengangkatnya pulang. Kutelan pahit berkali-kali. Aku hendak membela diri, sayang, nasibku justru malang tersudutkan oleh perbuatan yang telah kuulang. Maka, sebelum batin ini didengarkan, aku sudah menjadi tersangka utama.

Menangis? Sudahlah, tak ada penyelesaiaan memuarakan airmata di dagu. Biarlah Tuhan yang mengatur perjalanan langkah otak bebalku. Sungguhkah bebal? Aku tidak mengerti mengapa diri ini menganggap seperti itu. Mungkinkah, ada separuh ingatan yang dicuri malam?

Kantuk dan kesadaranku tak ubah perbandingan lautan dengan daratan. Banyak lautan! Banyak kantuknya. Tak khayal, aku sering kehilangan kosentrasi. Jika sudah, aku limbung. Tatapan sangsi kawan akan membuatku tersungkur dalam penjara deruji pengasingan. Mengigil ragaku di penghujung waktu. Mungkinkah waktuku berujung?

Berjam-jam lamanya kepalaku menderita. Lensaku tak mampu mencahayakan suasana. Nyawa alam yang ceria dalam pandangan umum, tetap gelap di mataku. Aku terduduk layu di meja kantor. Mencoret-coret kertas bekas. Tumpukan file di sisi kepala tak kuhiraukan. Aku lelah, hendak rebah. Kuabaikan ajakan teman-teman untuk pulang. Kepala kusandarkan di atas meja. ‘Kenapa selalu aku? Bukankah sebelumnya aku sudah menunjukkan tugasnya? Meminta persetujuan? Apakah seperti ini?’

Acuh tak acuh ditanggapi. Ya! Ya seperti itu! Aku menyungging. Bersemangat melanjutkan tugas. Membuat E-billing pajak lembaga. Lari ke kantor pos terdekat membayarkannya. Ini untuk pertama kalinya aku membayar pajak secara online.

‘Bisa?’  Aku mengangguk. Ucapan terimakasih diluncurkan.

Pada hari selanjutnya, saat aku duduk dengan tenang. ‘Kemarin yang dibayarkan lembaga KB kan?’ Sebuah kalimat mengobrak-abrik perasaan damai di hatiku.

Kawan, kau tak pernah melupakan pekerjaanku bukan? Aku terperangkap dalam dunia kanak-kanak. Masih sampai detik ini. Ia menjadi takdir hidupku. Terkadang duduk melingkar di kelas bersama anak-anak. Terkadang juga sibuk membuat surat di kantor. Lebih sering duduk terpaku di hadapan layar laptop, menginput dan output data lembaga sekolah. Baik TK (Taman Kanak-kanak) maupun KB (Kelompok Bermain). Yah, aku masuk ke dua dunia tersebut.

Dan hari itu, aku mendapat perintah untuk membayarkan pajak secara online. Aku meregristasikan salah satu lembaga sebagai bahan percobaan. Meminta persetujuan di sisi bendahara, bahkan ia melihat dengan mata kepala sendiri aku membuatnya. Aku memasukkan nomor NPWP TK. Jelas yang kubuat terlebih dahulu adalah TK.

‘Seperti inikah?’ Ia mengangguk. Aku menunjukkan layar laptopku ke hadapannya. Lantas disuruh memasukkan besaran juga jenis pajaknya. Kukerjakan taat. Kelar! Kucetak ID billingnya. Kutunjukkan kepada kepala sekolah, ia jauh lebih berwenang. Barangkali ada yang salah. ‘Apa seperti ini?’ Dicek sebentar. Dibaca sekilas, lantas diletakkan di atas tumpukan file. ‘Ya. Ya seperti ini, bayar saja ke kantor pos!’

 ‘Sudah benar?’

 ‘Ya!’

***

Kemarin yang dibayarkan lembaga KB kan?’ Tanya bendahara. Aku mengantisipasi akan ada masalah besar. Mendadak seperti ada paku yang menghantam kepalaku. Membuat kabur pandangan. Jantungku berdetak tak keruan. Leher hendak kugelengkan, namun aku tak memiliki keberanian cukup. Tertenggak air liur, g.e.t.i.r.

Kalimat itu tak perlu ditanyakan, ia sudah mengetahui jawabannya. Di hari sebelumnya ia mencariku, memerintahkanku membuat kode e-billing tanpa menyebutkan TK atau KB. Instruksi yang kurang jelas. Aku meminta NPWP diberikan dua lembaga. Tidak memberitahuku manakah lembaga yang harus dibayarkan pajak.

Suaraku mendesis. ‘Tekha…’

‘Masya Allah! KB yang dipajaki itu!’

 Aku diam menunduk. Kutahu sekretaris, bendahara dan termasuk kepala sekolah mendengus jengkel, amat dekat dengan kata kecewa. Pandangan mereka sudah menyudutkanku. Aku tak berani mengelak jika aku s.a.l.a.h…….. Bukan! Lebih jelasnya aku disalahkan! Batinku menggigit pilu.

Denyut nadiku protes, ‘ketika regristrasi ia berada di sisiku, sebelum mengisi data yang akan dipajakkan aku bertanya, apakah seperti ini? Menunjukkan akun online-nya! Bahkan sebelum membayar ke kantor pos aku mengprint ID bilingnya! Kumintai kepala sekolah mengoreksinya, ‘seperti inikah? Benarkah begitu?’ Mereka belum meneliti langsung bereuforia dengan keberhasilan regristrasi.

‘Kemarin saya membuatnya TK, saya tidak tahu kalau ternyata itu pajak KB!’

‘NPWPnya sudah saya berikan semua!!!’           

Batinku menggumam memang. Tapi… sudah tak perlu kukata berulang! Jawabannya sudah tertuang. Mereka semua sedang tak membutuhkan alasan. Aku pasrah mendapat label prasangka, sungguh nasib malang.

Hari itu pula aku salah mengambil cap lembaga. Kurang berkosentrasi. Sekitar 150 surat kucap salah! Dalam poin ini aku mengakui salah! Aku semakin tersudutkan. Tak tahu cara tersenyum. Jelas kali ini aku salah! Aku kurang teliti. Semula paku yang menghantam, kini bebatuan besar yang mengamuk otakku. Sakit. Takut. Khawatir dengan ekspresi guru-guru lain. Pasrah! Aku sungguh salah.

 ‘Lain kali TELITI! Masak cap sampai salah? Bagaimana jika dibawa ke dinas!’ Aku diam menunduk. Memandangi kehijauan karpet yang kuinjak.

Meja dengan tumpukan file menatap sangsi. Etalase berisi dokumen-dokumen juga jengkel dengan tingkahku. Jam dinding kurasa ikut mengumpat dengan mengeraskan detakannya. Di luar kantor, gerimis mengusap alam pilu. Kabut bertenggger di atas bangunan, menggeleng iba, ikut merasakan pedih yang menjerat dada. Maka, hujan ragu-ragu, ia tak mau menambahkan derita saat perjalanan pulangku nanti.

Dan aku lupa cara pulang. Saat yang lain bersiap-siap melesat, meninggalkan sekolah, aku masih termenung menyesali perbuatan yang telah menjadi l.a.l.u. Aku tak berontak. Aku hanya kesal dengan diriku, mengapa aku tidak bertanya itu untuk lembaga apa, mengapa aku tidak meneliti capnya juga! Mengapa dan mengapa? Jiwaku menggerutu muram.

Sudah! Jangan menyesal! Itu hanya akan membuatmu menderita! Pulanglah, istirahat, hadapi dengan lapang besok! Tegar, kau tak pernah menanggalkan senyummu di peraduan malam, Ra!’ Hati menasehati. Airmata justru menitik sendu. Aku terisak.

Pulang!’

 ‘Pulang!’ Waktu memerintah. Sekolah hening. Gerimis membalut sepi. Tak ada kicau anak-anak. Mereka telah duduk manis di pangkuan bunda di rumah masing-masing. ‘Pulang, Rara!’ Aku tunduk. Bangkit dari tempat duduk. Pulang.

Gerimis kubiarkan hinggap di tubuhku. Aku melangkah gontai. Kutelusuri gang kampung dengan raut wajah masam. Warga yang berpapasan denganku, tak kusapa. Payung warna-warni yang mereka bawa seolah mentertawakanku. Aku terlihat malang. SEDIH. Sangat sedih! Perasaanku terbujur pada ruangan hampa. Aku seperti menenggak seember perdu.

 ‘Anakku, wajahmu masam! Kenapa hujan-hujanan?’ Suara yang kukenal, sayang aku sedang malas menanggapi. Tak mau diganggu oleh siapa pun.

 ‘Kau tidak menyapa Nenek? Di mana senyummu?’ Aku mendengus. Kalimat ke dua menarik leherku.

 ‘Ya, Nek!’ Senyum yang sinis. Nenek yang sangat lihai memberi nasehat bekal kematian. Nenek yang di mataku unik dengan pekerjaannya menata sendal-sendal jepit jamaah. Ia duduk di beranda rumah bambunya. Kursi plastik bersandar di sisi pintu, bersama kekasihnya meja tua yang  sisinya sudah digerogoti rayap. Jemarinya menggenggam gelas dengan kopi yang mengepulkan asap.

Ia meletakkan kopi di atas meja, menghampiriku, membukakan pintu gerbang, yap pintu gerbang pagar bambu. Mawar yang hidup di halaman rumah menyapaku riang, senyum di kelopaknya sungguh memesona, merah kaya nilai keindahan. Tanaman hias lainnya berjajar rapi, bersih, tak ada gulma yang tumbuh liar. Hanya beberapa daun pohon kelengkeng berguguran diembus angin. Terbang landai sebelum tak berdaya di atas tanah. Disusul daun yang lainnya.

 ‘Kenapa murung?’ Aku menggeleng layu. Ia menarik lenganku, meyeretku masuk. Aku pasrah meski beberapa detik sempat terkesiap. ‘Duduklah, nenek buatkan kopi.’

 “Aku tidak minum kopi, Nek!”

“Teh manis?”

 Aku menggangguk. Setidaknya cairan itu dapat menghangatkan tubuhku yang dingin tak terasakan. Batinku membeku, jiwaku yang menggigil pun kulupakan. Luka yang tersemat di dada begitu dalam. Aku tak lagi mengurusi diriku yang lama diselimuti gerimis. Jilbabku menjadi sembab.

Bulir airmataku tersamarkan. Aku menyeka mata. Penglihatanku fokus pada pohon kelengkeng di halaman. Daunnya mengayumi rumah bambu ini. Jika cuaca mendukung, maka burung-burung bermalas-malasan di rangtingnya. Ada sangkar anak burung pula. Buahnya belum muncul, namun kehidupan ulat dan semut aktif berjalan. Tampak beberapa daun berlubang. Yang lain berjatuhan, warnanya tak lagi hijau, cokelat tanpa bernyawa.

Aku menyamakan persoalan yang barusaja melanda seperti dedaunan itu, gugur tak berdaya, meskipun semula aku berusaha menyejukkan alam sekitar dengan klorofilku, beberapa makhluk juga akan acuh dengan kebaikan tubuhku yang berusaha mengenyangkan pencernaannya. Pada akhirnya aku akan terbuang. Tak ada yang memungut. Hidupku berakhir. Bertambah kelu batinku. Napas sesak. Aku takut membayangkan esok. Cap salah! Membayar pajak salah!

Tentu wajah dan senyumku tak lagi menawan di pagi yang menggigil. Orang akan mewartakan kecerobohanku. Label bodoh menggerayangi akal pikirku. Penderitaan semakin kuat sebab sebelumnyaaku pun sering melakukan kesalahan dalam menulis surat, salah ketik! Ah, berita teraktual akan segera melesat! Besok tanggal terbitnya! Pada akhirnya daun itu akan dibuang ke tempat sampah. Menyedihkan. Hidup yang mengenaskan.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Tadi pagi kau tidak salat jamaah subuh?”

 Oh. Ia begitu memperhatikanku. Ya. Tadi pagi aku bangun terlambat. Tangannya pelan meletakkan segelas teh di meja. Uap masih mengepul. ‘Minumlah!’

‘Tidak ada apa-apa, Nek!’ Aku memaksa diriku untuk tersenyum. Kugapai gelasnya, kubelai dindingnya. Hangat. Nyaman. ‘Tadi pagi aku bangun terlambat, jadi tidak ke musola.’

“Hmmm… lantas mengapa waktu ini kau murung, Anakku?”

“TIDAK. Aku tersenyum.”

“Saya sudah paham dengan karaktermu juga pemuda-pemuda lain di kampung kita. Saya bisa membaca wajah mereka yang terbebani,” jelasnya. Aku meniup asap.

“Terkadang orang tidak meletakkan adil dalam tempatnya karena dirinya merasa sudah melakukan tindakan yang benar, maka seseorang yang salah semakin merasa bersalah.” Tuturku.

Aku menenggak teh. Tenggorokanku hangat. Sedikit lega perasaanku. Senja mulai mengintip di balik kabut. Gerimis belum usai. Mereka masih tertarik dengan mekarnya mawar di halaman. Menyerbuk di kelopaknya yang beraroma tentram. ‘Aku merasa seperti kehidupan akhir daun-daun kelengkeng itu, Nek!”

 “Sudah tidak dibutuhkan lagi oleh ulat, sudah tidak mampu memberikan kesegaran kepadaa alam, dan tak mampu bekerjasama dengan daun lain supaya membantu buah kelengkeng tumbuh.’ Pilu aku mengisahkan. Kembali kutenggak tehnya. Ada cairan yang hendak meluncur. Namun aku menahannya.

“Kamu salah mengartikan! Semakin banyak daun itu berguguran, semakin banyak daun muda yang akan tumbuh.”

“Ya karena dia tak lagi berguna, maka yang lain akan menduduki posisinya!’

 “Ia masih menjadi daun kelengkeng, yang menduduki juga tidak mungkin daun rambutan, dirinya yang mendudukinya, Anakku! Jangan berpikir bahwa daun itu adalah satu tubuh yang utuh, lihatlah!” Nenek mengarahkan pandanganku dengan telunjuknya. “Ia mempunyai batang pohon, mempunyai akar, tangkai, dahan, juga ratusan daun. Satu tubuh itu baru dinamakan pohon kelengkeng! Anggap saja daun yang gugur adalah persoalan hidup manusia.” Aku  tak merespon. Diam, menenggak minuman.

                “Satu daun gugur, satu daun akan tumbuh. Seratus daun gugur, seratus daun mempunyai kesempatan untuk tumbuh.”

 “Bagaimana jika semuanya gugur? Mengenaskan! Tinggal tulang! Tidak menarik!”

 “Jika ia hidup di tanah yang subur, maka daunnya akan tumbuh lagi, semakin indah, semakin hijau. Semakin berguna untuk kehidupan makhluk, burung-burung akan nyaman bersangkar di atasnya.”

 “Itu jika!’ Aku protes. ‘Daun gugur tetap daun gugur, saat ia jatuh ke tanah tetap tak akan menjadi berarti, disapu dibuang ke sampah, atau dikumpulkan dibusukkan menjadi pupuk kompas dengan daun-daun tanaman yang lain.” Aku merajuk.

 ‘Anakku, jangan berpikir hanya pada satu tahapan. Coba kau renungi sekali lagi, daun berguguran, ia memberi kesempatan daun lain untuk tumbuh, daun yang lebih hijau, yang masih muda, yang segar.. Itu artinya dengan masalah seseorang mempunyai kesempatan untuk menumbuhkan kebaikan di waktu yang lain.

Dalam arti ia tak akan mengulangi kesalahan yang sama, karena ia belajar dari pengalaman yang sesudahnya! Ditambah satu masalah lagi, dua kesempatan tidak salah, sepuluh masalah, maka sepuluh kesempatan, seratus masalah, seratus kesempatan memperbaiki masalah sebelumnya akan tumbuh.

Orang-orang hebat, atau pohon-pohon besar adalah pohon yang lebih sering menggugurkan daunnya, menyampahi halaman orang atau mengotori hutan-hutan. Begitu juga dengan nasib orang, tak ada orang yang hebat jika ia belum mempunyai berpuluh-puluh masalah, juga beribu-ribu persoalan!’ Nenek itu menjelaskan.

‘Tapi banyak yang mengumpat! Banyak yang berkata bahwa daun itu mengotori halaman, mereka mengusirnya!’

‘Tergantung siapa yang mengumpat! Nenek tidak pernah mengumpat, daun berguguran itu adalah keberuntungan, ia memberi kesempatan yang lain tumbuh, juga membuat tanaman yang lain subur saat bangkainya terurai menjadi pupuk dengan zat lain.’

‘Tapi banyak yang mengumpat! Tetangga kita!’

‘Karena satu orang mendukung apa yang kau lakukan lebih baik, daripada seribu orang yang mencelamu! Di dunia ini lebih banyakk orang tidak memahami daripada orang yang memahami, Anakku. Kau tahu bukan? Seseorang yang sedang  berjuang meraih apa yang ia inginkan akan mendapatkan masalah, dan sudah menjadi suratan takdir jika keinginannya kuat maka rintangannya berat, banyak yang memusuhi, sedikit yang mendukung! Ingat! Daun itu tetap berguna!’

‘Dan daun itu mati!’

‘TIDAK! Anakku, nenek sudah bilang, daun itu bukan tubuh yang utuh, ia disebut daun kelengkeng karena memiliki anggota yang lain. Ia gugur, maka yang lain tumbuh!’

Kalimat tumbuh diulang terus menerus. Ia menenggak kopi. Berdiri. Menarik tubuhku, mengajakku melangkah ke halaman. Gerimis masih bersemangat hinggap di bumi. Tak ia pedulikan rambutnya yang beruban dibutiri embun. ‘Perhatikan baik-baik pohon kelengkeng itu!’

Aku mendengus malas. ‘Coba perhatikan!’ Nenek menepuk bahuku. Akhirnya aku menurutinya. ‘Amati tubuhnya, ada ranting, batang, di dalamnya akar yang menguatkan, dahan-dahan kecil, daun-daun, kemudian bunga-bunga, barulah terakhir kelengkeng.’

‘Tapi pohon itu belum berbuah!’

                ‘Ya! Kau benar, namun ia masih tumbuh dan berjuang membuahkan dirinya. Itu sama dengan persoalan manusia, Anakku. Ada komponen lainnya yang membuat diri manusia itu menjadi utuh, ada kecerdasan, ada perasaan takut, ada lelah, ada cemas, ada khawatir, mengenaskan pada tahap akhir kegagalan.

Jika takut gugur mampu dihilangkan, maka keberanian akan tumbuh, jika khawatir gugur, keyakinan akan tumbuh, jika gagal berhasil digugurkan, maka kau tahu apa yang akan terjadi? KESUKSESAN memelukmu!’ Nenek berapi-api menjelaskan.

“Dalam arti jika gagal, pohon kelengkeng ini akan ditebang,” ketusku.

“Ya. Dia akan ditebang, tapi akan ada tunas-tunas yang tumbuh, lebih indah, berjuang dengan semangat ke dua, sebab akarnya masih menguatkan, ia memiliki arti hidupnya agar selalu tumbuh dan tumbuh, meski angin menghancurkan, panas melayukan, ia tetap akan tumbuh, sebab ia yakin suatu saat nanti akan ada musim penghujan seperti saat ini yang menggugurkan, barulah pada musim kemarau ia akan membuahkan kelengkeng yang manis,’

“Bertahun-tahun ia harus berjuang!”

“Karena tidak ada sukses yang instan, Anakku!” Aku kalah telak. “Jika kau berniat ingin menjadi orang yang berguna, maka jangan menyerah dengan kesalahanmu, jangan merasa orang lain tidak berbuat adil terhadapmu, tapi renungilah kesalahan itu sebagai pelajaran yang akan memuatmu lebih baik di kemudian hari.”

Aku menyeka airmata. Kali ini tak kuat menahan. Meluncur deras. “Jika takdir di hadapanmu akan menyukseskanmu, maka sejak sekarang kau akan diuji oleh berbagai masalah dan persoalan,”

“Aku kurang teliti dalam mengerjakan tugas di sekolah, Nek!”

“Tidak papa, lain kali kau akan lebih teliti.” Akhirnya aku menceritakan kesalahanku. Aku terisak.

“Sudah, jangan menyesalinya.”

“Tapi aku merasa bersalah, dan aku takut. Aku merasa tidak berguna.”

“Anakku, kau masih mempunyai kebaikan yang lain, kau memiliki kecerdasan lain, kau tetap dibutuhkan oleh kehidupan ini, juga kehidupan mereka, boleh kau merasa bersalah, namun jangan sampai rasa bersalah itu membuatmu layu. Ingatlah, semua makhluk termasuk pohon sekali pun ditakdirkan untuk memiliki kesempatan yang lebih baik, bagaimana denganmu yang justru diciptakan dengan adil, tentu Allah adalah dzat yang sudah mempertimbangkan sebab dan akibat sebelum kau diciptakan, Anakku!”

Bahuku berguncang. “Tersenyumlah esok nanti, jangan menangis lagi.”

Aku mengusap peluhku. Mencium tangan keriputnya. Pamit pulang. Gerimis masih abadi. Perasaanku terbelah menjasdi dua, antara sedih juga bersyukur diberi masalah. Nenek benar, aku masih mempunyai komponen lainnya. Dari permasalahan yang aku perbuat, aku mempunyai kesempatan agar ke depannya dapat lebih baik lagi.

Maka hari ini, aku tersenyum. Pagi mendung, hatiku tetap mendukung.

05 Jan 2017/05:00 WIB. Magelang.

Bentuk Kebaikan

Bentuk Kebaikan

Nenek itu membungkuk. Jemarinya lihai memasangkan sendal-sendal jepit di hadapannya. Aku mematung di sisi. Nenek mempersilakanku keluar, memberiku ruang untuk melangkah. Ia mengambilkan sandalku, meletakkan di depan kakiku.



                                              Ilustrasi

Mukenahnya melambai ke bawah. Angin pagi mengembuskannya. Tragis, aku berkutik, pasrah, memandang saja. Fisikku mematung. Entah, entah mengapa waktu tak mengizinkanku bergerak sedikit pun.

Dadaku berdesir. Sungguh mulia renta itu. Ia memuliakan sendal juga memuliakan pemiliknya. Tak sungkan mengambilkannya, tak malu harga dirinya terjatuh di hadapan anak muda. Ia menegakkan tubuh, menatapku tersenyum manis. Lembut. Menentramkan. Matahari yang barusaja tersadar dari alam bakanya pun tersenyum. Sinarnya memerahkan langit.

Induk burung berlarian meninggalkan sarang di pohon nangka, hendak mencari makan untuk anak-anaknya. Kokok ayam bersahut-sahutan, lantas serentak diam, keluar dari sangkar, memilah-milah sampah, mencari cacing segar.  Kambing melolong. Kucing di atap rumah mengeong, ia barusaja loncat dari tetangga sebelah, menjatuhkan genteng rumah. Acuh, tak mau bertanggungjawab.

Kelinci di kandang saling mencicit. Pagi mulai beraktivitas. Terdengar gesekan lidi dan pertempuran di dalam dapur warga. Dan aku, di sini tak bergeming…. Musola hijau yang hening, disambut kejernihan embun pagi, juga menghilangnya siluet kegelapan dari langit. Gemiricik air di tempat wudunya terdengar nyaring.

“Pakai!” Perintahnya. Aku menurut. Kujepit sandalku. Melangkah maju. Pura-pura acuh dengan perlakuannya yang seperti itu. Ada perasan aneh yang menyangkut di dadaku. Mendadak langkahku terdiam. Jiwaku tersentak. Aku membalik tubuh. Berjalan mendekati sang renta. Hendak menahannya.

“Nek, apa visimu melakukan tindakan seperti ini? Bukankah orang lain sanggup mengambil sendal dan merapikannya sendirian?”

“Visi itu apa?” Kening Nenek berkerut. “Nenek tak sekolah tinggi sepertimu!”

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, sajadah kusampirkan di pundak. “Tujuan, Nek!”

“Anakku,” panggilan yang lembut. Nyaman untuk didengarkan. “Kita berbuat kebaikan hanya  untuk mengharapkan ridho pencipta.”

“Iya, bukankah ada kebaikan lain yang layak untuk dikerjakan? Sandal itu kotor, nodanya bisa menempel di tangan Nenek!”

“Membuat orang tersenyum dan senang itu merupakan salah satu dari kebaikan,” ungkapnya sembari menarik bibir retaknya untuk tersenyum. Wajah keriput disamarkan oleh percikan sinar rembulan. Bintang masih ingin menyaksikan tubuh ringkihnya masuk ke dalam rumah, meski pagi mulai menghancurkan pesona kerlipnya di alam malam.

“Saat saya menata sendal-sendal ini, pemiliknya tentu senang karena sendal mereka tidak berantakan, tak ditindih sendal yang lain, tidak juga berpisah dari pasangannya!”

“Iya, Nek. Tapi sendal itu kotor!” Aku membantah.”Sudahlah tidak usah memperlakukan tindakan itu lagi, toh orang-orang juga tidak akan peduli!” Aku menggerutu.

“Anakku, jangan pernah melihat bentuk kebaikan!” Aku bingung. Kuembuskan napasku yang sedikit berat. Petani mengambil cangkul, bergegas ke ladang. Anak sekolah menyiram tubuh. Wanita tua menggesekkan lidi. Menantu-menantu menanak nasi. Pemuda melirik ponsel di sisi telinga, kemudian menarik selimut kembali.

Pegawai kantor sibuk menyetrika seragam dinas. Ayam berkokok angkuh! Tak mau peduli. Seekor kucing mengintai makanan di gerobak tukang bakso yang didorong pagi buta. Burung yang bertengger di kabel-kabel listrikmenggumam, mungkinkah kucing doyan bakso?, lantas para tentara semutdi pohon nangka yangsedang bergotong-royongmengangkat bangkai ulat terbahak. ‘Ada-ada saja!’

“Kebaikan tidak ada yang kecil, tidak ada pula yang besar.”Serunya melanjutkan. Aku menyimak. Satu jamaah keluar dari musola. Memakai sendalnya yang telah berpasang rapi. Tersenyum pada sang nenek lembut, seolah hendak menyampaikan ungkapan terimakasih secara tersirat. Ia menyapa kami berdua sebelum akhirnya berlalu meninggalkan musola.

“Kebaikan letaknya di dada yang ikhlas, Anakku. Bentuk kebaikan tidak kotak, persegi, bulat, atau yang lainnya. Namun kebaikan ada di sini,” Nenek menunjuk bibirnya. “Bentuknya di sini, senyuman yang tenang, senyum puas, senyum orang lain yang ikhlas!”

 Aku mengembuskan napas. Tak ada yang salah dari penjelasannya.

“Bagaimana jika setelahnya kita tidak dihargai, Nek?”

“Dzat yang di atas, yang menciptakan alam semestah tak akan pernah tinggal diam!”

Hatiku juga mengiyakan. Bibirku bungkam. “Anakku,” Nenek menepuk bahuku. “Jangan pernah malu dan ragu jika ingin berbuat baik, serahkan semuanya pada Dzat yang menciptakanmu! Semakin banyak kau berbuat kebaikan, maka suatu saat nanti, saat kau dalam keadaan susah, akan ada banyak pula orang yang membantumu,”

“Nek! Orang ikhlas tidak mungkin mengharapkan imbalan dari orang lain!” Aku membantah sekali  lagi. Nenek tersenyum  menggelengkan kepalanya. Angin menyapu wajahku. Ia seakan hendak menampar diriku yang berbicara dengan nada tinggi pada seorang renta.

“Ini berbeda dengan mengharapkan imbalan, Anakku.”

“Lantas?” Aku memotong kalimatnya. Ia melepas sentuhannya di pundakku. Merapikan  rambut yang keluar di keningnya. Gelap nyaris sempurna lenyap. Timur, mulai merah merekah. Kicauanya membuat aktivitas penduduk bergairah. Bola api menyembul semringah. Beberapa burung terbang melintas di hadapannya. Satu jamaah keluar kembali.

“Perbuatan baik yang kau lakukan suatu saat nanti akan kembali pada dirimu sendiri.”

“Maksudnya?” Aku tidak paham. Nenek itu menepuk bahuku sekali lagi.

“Suatu saat kau akan memahaminya. Saya pulang dulu, sudah pagi!” Ia membalik tubuh, melangkah meninggalkanku yang masih bingung dengan kalimatnya. Aku menghelas napas berat.

Kutatap punggungya. Langkahnya tertatih-tatih, setengah membungkuk sambil menuntun tongkat, penopang tubuhnya. Nenek itu berbeda dari yang tinggal bersama cucu laki-lakinya di rumah yang lumayan mewah. Anaknya merantau ke luar negeri. Menantunya entah hilang ke alam mana. Jika senja datang, ia akan duduk di beranda rumah, menatap langit yang indah, menunggu cucunya pulang dari sekolah. Seorang pemuda yang hampir duduk di bangku kuliah.

Akvitas masih sama seperti pagi kemarin..

29, 12, 16. 03:30 WIB.

Sinopsis Novel Hujan Tere Liye Terbaik

Sinopsis Novel Hujan Tere Liye Terbaik

“Apa yang hendak kamu lupakan, Lail?”

“Aku ingin melupakan hujan,”

(Novel Hujan, Halaman 9)

Sinopsis Novel Hujan Tere Liye — Ada yang berbeda dari Novel Hujan karangan Tere Liye yang terbit pada awal tahun 2016 ini. Para penggemar Tere Liye harus bersiap kecewa dengan bahagia karena tema yang digarap Tere Liye mungkin sedikit nyentrik. Maka ijinkan saya sedikit berbagi sinopsis novel Hujan Tere Liye yang belakangan cukup laris di pasaran ini.

Tertarik membuat resensi novel? Yuk ikuti panduan cara membuat Contoh Resensi Novel

sinopsis novel hujan tere liye
Setumpuk Cerita

Sinopsis Novel Hujan Tere Liye; Sejauh Imajinasi Pengarang

Kali ini Tere Liye mencoba menyuguhkan suasana futuristik dengan mengambil latar dunia pada tahun 2042-2050. Masa depan bumi di mata Tere Liye begitu dekat dengan kerusakan-kerusakan lingkungan. Meskipun, beberapa adegan dalam novel ini kadang mengantarkan ingatan kita pada film-film Holywood yang gemar mengeksplorasi kecanggihan teknologi dan masa depan.

Diawali dengan kedatangan Lail di ruang operasi yang penuh peralatan modern. Lail meminta Elijah, seorang fasilitator kesehatan untuk membantunya menghapus sebagian memori otaknya yang berkait dengan hujan. Padahal hujan, pada awalnya, selalu menghadirkan kenangan-kenangan yang indah bagi Lail.

Namun hujan nyatanya tak selalu indah, Lail merasa hujan justru mengantarnya pada ingatan-ingatan yang menyakitkan. Lail ingin menghapus ingatan tentang sosok Esok. Seorang lelaki yang bagi Lail berkait dengan hujan, sekaligus lelaki yang dulu pernah mengubah takdir Lail.

Esok, bisa jadi merupakan satu-satunya sosok laki-laki yang menjadi tumpuan harapan Lail. Sebelumnya Ayah Lail telah tewas dalam bencana besar yang meluluh lantakkan hampir seluruh penjuru bumi. Tsunami besar melenyapkan Ayah Lail dan menjadikan Lail kecil yatim piatu.

Peristiwa gempa bumi dahsyat hampir saja merenggut nyawa Lail, jika lelaki kecil berusia lima belas tahun itu tak sigap menyelamatkannya. Di momen itu Lail harus kehilangan ibunya, tetapi Lail bahagia berkawan dengan Esok dan menjalani hari-harinya di tenda pengungsian. Perasaan cinta pun tak kuasa mekar di dada Lail, namun lagi-lagi Lail harus diuji dengan perpisahan.

Menjelang dewasa Lail berpisah dengan Esok. Lail menjalani hidup barunya di sebuah panti asuhan yang mempertemukannya dengan Maryam –yang kelak menjadi sahabat baik. Sedangkan Esok, yang belakangan memiliki kecerdasan luar biasa, diasuh oleh seorang walikota dan disekolahkan ke luar negeri hingga menjadi seorang ilmuwan hebat.

Kehadiran anak perempuan walikota yang cantik di dalam rumah walikota itu mau tak mau sedikit mengusik perasaan Lail. Lail sangat jarang bertemu dengan Esok, sedangkan anak walikota itu setiap hari selalu bersama Esok. Seiring berjalannya waktu, tumbuh juga perasaan cinta di hati anak walikota itu pada Esok.

Ketika bumi berada di titik nadirnya, Esok bersama ilmuwan luar negeri menciptakan pesawat ulang-alik yang bisa menyelamatkan penduduk bumi dari bahaya kehancuran.  Namun kenyataannya tidak semua penduduk bisa ditampung. Maka diadakan undian untuk menentukan siapa saja yang akan masuk ke dalam kapal ulang-alik.

Satu undian tiket yang diharapkan oleh banyak orang itu ternyata kembali didapatkan Esok. Kini ada dua tiket di tangan Esok, dia bisa menyelamatkan seorang lagi. Digelayuti perasaan penuh bimbang, Esok terus menimbang-nimbang, siapakah orang yang akan dibawanya ke pesawat; Lail atau anak walikota itu?

Sinopsis Hujan Tere Liye; Perpaduan Energi Cerita yang Memikat

Setting tempat yang tak terbayangkan di masa depan, dipadu dengan isu-isu krisis lingkungan. Novel ini begitu renyah dengan hentakan cerita yang naik-turun. Terkadang pembaca dibawa untuk bersiap kecewa, namun Tere Liye pintar membelokkannya ke sisi-sisi yang tak terduga.

Tere Liye tak perlu menggunakan gaya berbahasa yang mendakik-dakik untuk mengungkapkan pesan ceritanya. Kalaupun ada, kata-kata filosofis yang biasanya berat itu tak terlalu melangit. Tere Liye konsisiten menjaga kesederhanaan bercerita, sekaligus menunjukkan kepiawaiannya dalam bercengkrama dengan kata-kata.

Novel ini layak bagi Anda yang merindukan kisah-kisah roman ala Tere Liye. Kisah roman yang sederhana namun menggigit karena dikemas dengan penuh liku-liku di sana-sini. Tidak salah jika gaya bercerita Tere Liye kadang memberi kesan bahwa dia punya tujuan-tujuan edukatif  yang tersembunyi.

Banyak kandungan pesan yang coba ditaburkan Tere Liye baik secara tersurat maupun tersirat. Upaya Tere Liye dalam menghadirkan nilai-nilai itu −meski kadang sedikit kentara menggurui− namun kecerdikannya begitu halus. Sinopsis novel Hujan Tere Liye ini pun, saya pikir bukan satu-satunya ulasan yang −agaknya− kesulitan mendeskripsikan kelihaian bercerita si pengarang.

Secara tidak langsung, nampaknya Tere Liye berupaya menanamkan nilai-nilai perjuangan, kerja keras, dan bagaimana kita bisa merawat persahabatan. Di beberapa nuansa, ada juga pesan untuk ikhlas; mengikhlaskan yang seharusnya diikhlaskan, juga tentang cinta yang sejati. Terlepas dari keragaman cara pAndang akan kandungan nilai-nilai yang bersifat subyektif dan relatif.

Hujan sebagai kata kunci yang tadinya diduga akan mendominasi cerita, ternyata tidak. Tere Liye nyatanya tak banyak bercerita perihal hujan. Selain karena hujan adalah yang tadinya punya kesan tersendiri bagi Lail, hujan hanya pemicu konflik batin yang melatarbelakangi banyaknya rangkaian cerita.

Tidak mudah bagi seorang pencerita menyuguhkan ornamen-ornamen masa depan yang imajinatif. Apalagi ditambahi dengan situasi politik dalam bungkus KTT Perubahan Iklim Dunia yang semrawut. Mencampurkan dua keadaan itu, sangat riskan dipengaruhi penceritaan yang sering ditampilkan para sineas film Holywood.

Tema sains fiction, yang banyak para penulis sinopsis novel Hujan Tere Liye curigai, mungkin tersebab banyaknya ornamen teknologi dan medernitas. Namun sejauh pengamatan dan pembacaan, kadar sains fictionnya tak begitu kentara. Justru kisah kemanusiaan dan kritik lingkungan yang nampaknya ingin ditonjolkan.

Terkesan serius dan penuh ketegangan. Tere Liye nampak berusaha keras menjalani cara-cara bercerita yang lain. Meski dampaknya, tak seperti novel-novel lainnya yang “lebih gampang” dicerna alurnya, terkadang keseriusan itu memang sedikit mengganggu.

Tapi bagi para penggemar sejati Tere Liye, meski “keanehan”, atau tepatnya “kebaruan” itu begitu mudah dirasakan. Namun bagi Anda yang jarang membaca karya  Tere Liye, dan langsung membaca novel Hujan Tere Liye, kemungkinan besar akan terpesona seketika.

Keanehan tidak saja terasa pada cara Tere Liye menentukan tema. Pada format bukunya pun sama saja. Kita akan tercengang dan sedikit menggaruk-garuk kepala karena novel ini sengaja tak menyediakan ruang untuk daftar isinya.

Alhasil bagi yang masih tak percaya, mungkin akan mengira buku itu salah cetak atau apa. Namun itulah nuansa baru yang coba dihadirkan guna memanjakan pembaca. Sebuah bukti bahwa dalam proses berkarya Tere Liye selalu bekerja keras mencari inovasi-inovasi.

Fisik novel yang stAndar, tidak terlalu tebal dan tidak terlalu tipis cukup nyaman dibawa. Anda bisa menikmati cerita setebal 320 halaman itu dalam balutan suasana gerimis hujan. Jadi, setelah membaca sinopsis novel Hujan Tere Liye ini, apakah Anda mulai tertarik mendapatkan novelnya?

 

Contoh Resensi Novel Fiksi Laskar Pelangi, Perahu Kertas dan 5 cm

Contoh Resensi Novel Fiksi Laskar Pelangi, Perahu Kertas dan 5 cm

Contoh Resensi Novel — Pernahkah kalian membaca sebuah novel? Jika kalian tertarik pada sebuah novel karena isi ceritanya yang menarik, tentu sempat terbesit di benak kalian untuk mengulas novel tersebut. Kegiatan mengulas novel tersebut disebut dengan resensi novel.

Sebelum Anda melanjutkan artikel mengenai Contoh Resensi Novel, Anda juga bisa menyimak tulisan-tulisan sebelumnya bertajuk Contoh Resensi Buku Pengetahuan

resensi novel
pixabay.com

Novel adalah jenis karya sastra. Meresensi sebuah novel membutuhkan keilmuwan tentang dunia sastra dan memahami seluk beluk novel secara utuh.

Para penulis yang hendak menerjunkan diri pada resensi novel, perlu membekali diri dengan banyak membaca referensi kesusastrraan dan novel. Pasalnya, contoh resensi novel bukan sekedar mengambil ringkasan isi novel saja, melainkan berupaya mengaitkan dengan bedah sekaligus kritik novel secara umum. Misalnya Contoh Resensi Novel Hujan Tere Liye.

Pengertian Resensi Novel

resensi novel terbaru
pixabay.com

Sebelum membahas contoh resensi novel, ada baiknya kita memahami apa definisi dari resensi. Beberapa definisi resensi :

  1. Resensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Resensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) merupakan pertimbangan atau pembahasan tentang ulasan buku. Sedangkan kata “mengulas” itu sendiri memberikan penjelasan dan komentar, menafsirkan, memberikan penjelasan, menguraikan pendapat, mempelajari (menyelidiki). Singkatnya, kata “ulasan” mempunyai makna komentar, tafsiran, dan kupasan.

2. Poerwadarminta (dalam Romli, 2003:75)

Menurut WJS. Poerwadarminta berpendapat resensi merupakan pertimbangan atau perbincangan tentang sebuah buku. Perbincangan ini meliputi penilaian terhadap kelebihan atau kekurangan buku tersebut.

Apakah buku tersebut menarik atau tidaknya. Lalu menelusuri tema dan isi buku, memberikan kritikan, dan memberi arahan kepada khalayak. tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca, dipunyai dan dibeli.

Biasanya ulasan atau resensi buku tersebut dimuat di surat kabar atau majalah. Surat kabar atau majalah memberikan ruang khusus tentang resensi buku. Kolom resensi di surat kabar atau majalah berfungsi memberikan apresiasi kepada para penulis serta upaya untuk memperkaya kesusateraan Indonesia.

  1. Buku Bahasa dan Sastra Indonesia (ditulis Euis Sulastri dkk)

Buku Bahasa dan Sastra Indonesia (ditulis Euis Sulastri dkk) menjelaskan resensi berasal dari bahasa Belanda,  ‘resentie’ yang artinya suatu kupasan atau pembahasan.

Jadi, definisi resensi adalah suatu kupasan atau pembahasan tentang buku, drama, atau film. Publikasi hasil resensi melalui media massa, seperti koran, media elektronik dan majalah.

Kesimpulan resensi novel adalah kegiatan mengupas atau membahas sebuah karya sastra novel dengan pertimbangan, penafsiran, mengkritik dan mengomentari isi novel tersebut.

Tujuan Resensi Novel

contoh resensi novel singkat
pixabay.com

Bagi para pembaca, meresensi novel adalah sebuah kegiatan untuk mengetahui gambaran umum sebuah novel. Sementara bagi para penulis, meresensi karya sastra apalagi novel merupakan hal wajib sebab di dalamnya terdapat banyak pengetahuan yang luas..

Contoh resensi novel menjadi sarana bagi para penulis untuk menggali keilmuwan kesusastraannya. Seringnya, hasil dari resensi suatu novel tersebut dijadikan pijakan/acuan bagi para penulis untuk membuat karya novel lainnya yang lebih baik.

Namun secara umum tujuan meresensi novel sebagai berikut :

  1. Untuk membantu pembaca mengetahui gambaran umum dari novel.
  2. Untuk menjadi dasar penilaian tentang kelebihan dan kelemahan novel.
  3. Untuk mengetahui latar belakang dan alasan novel tersebut diterbitkan.
  4. Untuk menguji kualitas novel. Novel tersebut dibandingkan dengan tema novel sejenis lainnya.
  5. Sarana memberi masukan kepada penulis novel. Berupa kritik dan saran terhadap isi keseluruhan novel. Masukan dan kritikan diharapkan mampu menjadi bahan bagi penulis novel untuk membuat karya yang lebih baik lagi.

Manfaat Resensi

contoh resensi novel terbaru
pixabay.com

Penulisan resensi tentu banyak memberikan manfaat bagi pembaca, peresensi atau penulis resensi dan penulis novel. Penjabarannya sebagai berikut :

  1. Untuk menjadi sebuah bahan pertimbangan dan referensi para pembaca yang sedang membutuhkan novel tersebut. Muatan amanat dan nilai-nilai universal kehidupan dari novel dapat menjadi pembelajaran bagi pembaca.
  2. Bagi penulis, resensi bisa menjadi suatu tambahan nilai ekonomi. Penulis resensi mendapat fee dari novel yang telah diresensinya. Biasanya, penulis resensi meresensi novel baru, tulisan resensi dikirimkan ke majalah atau Koran.
  3. Bagi penulis novel, resensi bisa menjadi sarana promosi novel tersebut. Pasalnya, hasil resensi akan dipulikasikan di blog, media elektronik, atau media cetak. Secara langsung, resensi novel yang ditulis peresensi mempromosikan novel dan penulis novel tersebut.
  4. Bagi penulis, meresensi menjadi sebuah sarana  pengembang kreativitas penulis lainnya untuk menghasilkan sebuah karya – karya yang lebih baik lagi.

Jenis-jenis Contoh Resensi Novel

jenis dan contoh resensi novel
pixabay.com

Adapun jenis-jenis contoh resensi novel meliputi :

Resensi Informatif

Suatu resensi yang menekankan sisi informasi dari suatu novel. Resensi jenis ini menyampaikan isi novel secara singkat dan umum dari keseluruhan isi novel. Contoh: Judul Resensi “Memaknai Makna Mantra Man Jadda Wa Jadda” Resensi terhadap Novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi .

Resensi Deskriptif

Pembahsan secara deskriptif tiap bahasan dan bab-bab novel. Penyampaian pembahasan bersifat detil. Contoh: Judul Resensi “ Jalan Cahaya: Ketulusan Cinta Ilahi “ Resensi terhadap Novel Catatan Hati Seorang Istri karya Asma Nadia.

Resensi Kritis

Hal ini merupakan tingkat resensi tertinggi. Resensi kritis novel menempatkan peresensi sebagai kritikus novel. Secara gamblang dan objektif menguliti keseluruhan isi novel. Resensi jenis ini menggunakan metodologi ilmu pengetahuan tertentu. Contoh: Judul “Nilai Feminisme terhadap Novel Saman Karya Ayu Utami.”

Unsur-unsur Resensi Novel

unsur-unsur membuat cerpen
pixabay.com

Merujuk pada pendapat Daniel Samad (1997: 7-8) menyebutkan unsur-unsur resensi meliputi :

Membuat Judul Resensi

Buatlah judul resensi yang menarik dan mewakili seluruh isi tulisan.Penulisan judul bisa di awal tulisan atau akhir tulisan. Judul bersifat bebas. Judul justru lebih mudah ditulis sesudah tulisan resensi selesai. Sebab, judul akan lebih tepat atau menjiwai ketika tulisan telah selesai.

Coba Bandingkan dengan cerpen, lihat di artikel Unsur-unsur Cerpen

Menyusun Data Buku

Untuk mengawali menulis resensi tahap awal dengan menyusun data buku terlebih dahulu. Data buku biasanya disusun sebagai berikut:

  1. Judul buku

Jika buku itu termasuk buku hasil terjemahan tuliskan pula judul aslinya setelah penulisan judul terjemahan.

  1. Pengarang

Selain pengarang tuliskan pula tim dari pengarang. Tim ini meliputi penerjemah, editor, atau penyunting seperti yang tertera pada buku.

  1. Penerbit
  2. Tahun terbit beserta cetakannya. Edisi cetakan ke berapa
  3. Tebal buku
  4. Harga buku

Membuat Pembukaan

Dalam bab pembukaan sistematika penulisan resensi sebagai berikut :

Pertama, langkah awal ketika meresensi. Pertama-tama buatlah uraian tentang latar belakang pengarang. Cantumkan asal-usul pengarang, riwayat pendidikan, riwayat hidup singkat, buah karya yang pernah dibuat dan pencapaian prestasi pengarang.

Kedua, membandingkan novel resensi dengan novel pengarang lainnya. Ulasan perbandingan novel ersebut mengetengahkan kekhasan pengarang. Dalam artian, misal kecenderungan pengarang dalam menulis novel bertemakan sosial, tentu novel-novel tema sosial menjadi standar kriteria penilaian untuk mengulas antara novel resensi dengan novel lain milik pengarang.

Perbandingan antar karya novel pengarang mengungkap sisi keunikan novel. Misal novel sejenis tema sosial, dicari keunikan masing-masing novel. Selanjutnya, penjabaran kemudian ulasan berupa kritikan dan kelemahan novel.

Ketiga, tuliskan pujian terhadap kelebihan novel. Ulasan positif terkait dengan isi novel. Biasanya ulasan positif ini terletak pada gaa bahasa, pemilihan tema novel, dan alur cerita novel.

Keempat, memberikan kesan terhadap novel. Setelah mengulas novel, tugas meresensi selanjutnya adalah memberikan kesan novel tersebut. Perlu diingat, misalkan novel resensi mempunyai banyak kritikan dan kelemahan, namun seyogyanya peresensi tetap merekomendasikan novel tersebut dibaca oleh para khalayak.

Itulah mengapa bahwa sejatinya, tulisan resensi adalah tulisan yang bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan selaligus memperomosikan novel tesebut.

Kelima, bagian ini peresensi menguraikan secara ringkas profil penerbit.

Keenam, peresensi melontarkan pertanyaan dan membuka ruang dialog dengan pembaca. Gaya bahasa penulisan memposisikan peresensi sedang berbicara dengan pembaca. Pembicaraan 2 arah melalui ulasan resensi membahas novel resensi.

Catatan sistematika penulisan resensi novel akan berbeda dari standar penulisan resensi novel pada umunya. Seperti kasus resensi di kolom Koran atau majalah tertentu, tergantung pada jumlah karakter ruang kolom resensi dan jenis resensi.

Misal majalah X menerima resensi novel dengan model penyantuman identitas buku dan jenis resensi informatif. Sementara Koran Y memeberikan ruang resensi berupa ulasan singkat novel tanpa pencantuman identitas lengkap novel.

Cara Membuat Contoh Resensi Novel

cara membuat contoh resensi novel
pixabay.com

Setelah memahami jenis-jenis contoh resensi novel, selanjutnya, langkah-langkah cerdas untuk membuat resensi novel adalah sebagai berikut:

  1. Jika Hasil Resensi Akan Dikirim ke Majalah, Koran atau Media Lainnya.

Usahakan novel yang diresensi merupakan novel baru. Maksimal periode novel tersebut masih berada di jangka waktu setahun terbit pada tahun terbaru. Tema dan jenis novel yang banyak diburu pembaca. Namun apabila pembuatan resensi novel hanya sekadar keingintahuan dari sebuah novel, maka resensilah sesuai sistematika resensi secara umum.

2. Mengenali Novel yang Akan Diresensi.

Berupa mengenali tema novel, jenis novel, deskripsi isi novel, penerbit novel, pengarang novel, tanggal dan tempat terbit, format novel, tebal novel, jumlah halaman, harga novel, latar belakang pengarang, pendidikan pengarang, reputasi dan prestasi penagarang.

3. Membaca Novel yang Akan Diresensi.

Hal ini merupakan tahap wajib dan mutlak bagi peresensi. Bacalah novel dengan komprehensif, cermat, teliti, tidak terburu-buru. Tentukan dan temukan pokok permasalahan dari isi novel. Pahamilah peta permasalahan novel secara mendalam.

4. Mencari, Menandai dan Menulis Catatan Penting dari Pembacaan Novel.

Telitilah setiap kata, kalimat, paragraf hingga narasi teks novel, mencari bagian atau hal-hal penting untuk dijadikan bahan, data dan sumber tulisan resensi nantinya.

5. Buatlah Sinopsis atau Ringkasan Singkat dari Isi Novel Tersebut.

6. Membuat Kerangka Tulisan Resensi.

Kerangka membantu kita ketika menulis, mengoreksi dan merevisi hasil resensi dengan menggunakan dasar dan kriteria kerangka tulisan resensi :

Kerangka Contoh Resensi Novel

Memperhatikan kesinambungan antar bagian satu dengan bagian yang lainnya. Memperhatikan sistematika penulisan baik dan benar.

Isi Pernyataan

Aspek isi pernyataan meliputi penjabaran ide, analisis isi novel, penyajian data, pemikiran, bahasa dan ejaan sesuai Ejaan Yang Disempurnakan, penggunaan kata dan kalimat.

Aspek Teknis

Adapun aspek teknis meliputi aspek tata letak, tata wajah, kerapian,dan  kebersihan cetakan. Misal cetakan dobel, halaman cetakan ada yang hilang, tinta terlalu tebal atau tipis.

Contoh-contoh Resensi Novel

1. Tan Malaka: Antara Heroik dan Klenik

(Contoh Resensi yang Dimuat di Koran Media Indonesia)

contoh resensi novel kritis
ilustrasi Academic Indonesia
Contoh resensi novel kritis tentang sejarah
Academic Indonesia

Jenis Resensi Kritis

Peserta Obrolan Pembaca Media Indonesia menyelisik jejak Tan Malaka pada
kisah fiksi “Pacar Merah Indonesia 2”

Media Indonesia Rubrik “Jendela Buku” edisi Sabtu (28/8/2010)

Pada tanggal 17 Agustus 2010, pembaca Media Indonesia menyelenggarakan diskusi dan bedah buku Pacar Merah Indonesia (PMI) 2. Bedah buku tersbut bertujuan untuk mengenali sosok Tan Malaka secara mendalam. Sosok berjasa dalam perjuangan bangsa Indoensia. Buku PMI 2 menceritakan ulang kisah Tan Malaka dalam bingkai tulisan fiksi sejarah.

Sekitar tahun 1938, nama Patjar Merah Indonesia julukan Tan Malaka terkenal di Medan. Sosok pemuda itu menjadi tokoh utama dari karangan-karangan pengarang. Salah satunya kisah sejumlah roman picisan di Medan. Salah satunya karangan Matu Mona Spionnage-Dienst ( Patjar Merah Indonesia).

Secara singkat kisah roman picisan itu menceritakan sosok Tan Malaka. Pemikiran dan perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Roman picisan itu juga mengetengahkan masa getir Tan Malaka. Ketika mendapat intimidasi, ancaman dari pihak tertentu.

Buku yang dibedah memiliki judul asli Rol Patjar Merah Indonesia Cs, diterbitkan Publishing pada tahun 2010. Hasil diskusi terpulikasikasikan di rubrik Jendela Buku Media Indonesia. Catatan lengkap dapat mengakses Media Indonesia mulai September 2010.

Siapa Tan Malaka? Nama Tan Malaka sangat populer di kalangan para aktivis, dan akademisi. Tan Malaka dikenal sebagai sosok pemikir hebat. Namun kesohorannya belum mampu menandingi sosok Soekarno.

Meski demikian buku fiksi Patjar Merah Indonesia (PMI) 2 sangat menjunjung nama Tan Malaka. Buku tersebut menampilkan sosok Tan Malaka sebagai tokoh yang berjasa dan heroik.

Penggambaran sosok Tan Malaka dalam PMI 2 tampil berani. Pemikiran-pemikiran tajam dan kritis Tan Malaka sangat dominan. Hal ini berbeda dengan buku- buku tentang Tan Malaka lainnya. Seperti buku Madolig dan Dari Penjara ke Penjara.

Bahkan, perbedaan kontras kentara pada buku Dari Penjara ke Penjara. Pasalnya dalam buku tersebut menampilkan sosok Tan Malaka ‘underground’. Penggambaran Tan Malaka yang menutup diri dari publik. Mobilisasi pergerakan secara sembunyi-sembunyi.

Di sisi lain buku PMI 2 terlalu mengangkat sisi personalitas Tan Malaka. Imajinasi Matu Mona selaku pengarang (penulis buku) terlalu mendominasi. Kentara novel tersebut adalah novel sejarah yang dibumbui dengan romantisme perjalanan Tan Malaka.

Kelemahan cerita fiksi bercampur dengan sejarah, biasanya ada pengaburan fakta sejarah yang terjadi. Meski masih dalam koridor sejarah. Penonjolan karakter sosok publik (missal Tan Malaka dalam  buku PMI 2) sebaiknya sesuai takaran pembahasan masalah buku.

Matu Mona sendiri saat itu juga disebutkan memiliki informasi yang minim tentang Tan Malaka. Disebutkan Matu Mona hanya pernah bertemu dengan Tan Malaka selama 15 menit di Singapura. Kemudian catatan perjalanan Tan Malaka, biasa dia dapat dari surat-surat Tan Malaka yang di kirimkan ke pemimpin redaksinya.

Selain itu dalam pembacaan saya, terlihat Matu Mona kurang data dan informasi tentang Tan Malaka. Penggalian data masih kurang mendalam. Hal itu memberi nilai minus- pada komprehensif tulisan, dan akurasi buku PMI 2.

Matu Mona meyandarkan informasi pada catatan pertemuan Matu Mona dengan Tan Malaka selama 15 menit di Sinagapura. Serta catatan perjalanan Tan Malaka dari surat-surat Tan Malaka kepada pemimpin redaksinya.

Berdasarkan data minim itu membuat konteks pencitraan Tan Malaka menyerupai tokoh Minke dari buku fiksi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Pencitraan tokoh sangat dipengaruhi oleh imajinasi pengarang.

Jadi, jika terlontar pertanyaan siapa Minke? Minke adalah Minke. Minke tokoh imajinatif buatan Pramodya Ananta Toer. Ada sosok ke’aku’an Pram yang diwujudkan dalam tokoh Minke.

Model konstruksi tokoh seperti Minke dalam buku Bumi Manusia karya Pram, telah menjebak Ratu Mona dalam imajinasinya sendiri. Padahal poin utama buku PMI 2 tertletak pada pemikiran-pemikiran kritis Tan Malaka. Pembangunan konsep cerita ala Ratu Mona menempatkan Tan Malaka justru sebagai tokoh utama ‘novel’ biasa.

Ganjalan

Terlepas dari konteks penggambaraan Tan Malaka yang terlalu imajinatif. Secara garis besar saya sangat menikmati novel sejarah ini. Kisah perjalanan Tan Malaka berkujung dari ke negara-negara lain digambarkann secara detil.

Ratu Mona sangat piawai merekontruksi kisah perjalanan Tan Malaka. Melalui buku ini sosok Tan Malaka seolah hidup kembali. Sangat terasa jengkal-demi jengkal yang dilalui Tan Malaka dalam usahanya merebut kemerdekaan Indonesia. Sisi heroik buku PMI 2 menempatkan saya pada masa silam, menyaksikan sendiri leadership tokoh Tan Malaka.

Namun di sisi imajinatif sosok pribadi Tan Malaka yang apik, mampu menghidupkan cerita. Ratu Mona terperosok pada kisah-kisah klenik. Penceritaan Tan Malaka bercampur dengan kisah klenik sangat mengganggu.

Padahal pemikiran Tan Malaka logis dan kritis. Sekiranya kisah berbau klenik dihilangkan, saya kira tidak merusak jalan cerita. Justru cerita Tan Malaka jauh lebih fokus. Tidak menyimpang dari pengaburan fakta dan imajinasi.

Pasalnya urusan klenik dalam buku fiksi sejarah juga membutuhkan validitas. Klenik dan mitos membutuhkan kerangka logis agar cerita berbau klenik dapat diterima akal. Hal itu termasuk cara yang sulit, mengingatkan pada dasarnya kisah sejarah tidak jauh dari mitos dan  klenik.

Hal mengganjal lain dari buku PMI 2 kemunculan ‘Negara Palestina’. Saya masih mempertanyakan letak korelasi antara Tan Malaka dengan Palestina. Cerita tentang Palestina pun seolah hanya tempelan. Alur dan kronologisnya tidak lengkap.

Tapi secara keseluruhan saya terkesan dengan buku PMI 2. Sosok Tan Malaka yang akrab dengan komunis. Buah pemikiran kritis Tan Malaka menjiwai setiap pergerakan sosialnya. Paling dramatis diakhir kisahnya Tan Malaka berganti haluan ke agamis. Tan Malaka mewarnai perjuangan Islam.

Gaya Bahasa

Buku PMI 2 menggunakan gaya bahasa lama. Ejaan dan kosa kata lawas. Hal ini membutuhkan penyesuaian. Banyak pembaca akan kesulitan memaknai maksud tulisan. Mereka harus berikhtiar lebih membolak-balik kamus lama. Untuk mencari maksud dari kalimat tertentu.

Efektivitas kalimat juga menjadi sorotan utama. Banyak dijumpai kalimat-kalimat panjang. Pengarang terkesan memutar-mutar kalimat untuk menjelaskan satu pokok pikiran. Padahal untuk membahasa satu pokok pikiran bisa dengan satu atau dua kalimat pendek.

Tidak kalah penting pemakaian catatan kaki. Penggunaan istilah asing dan penjelasan masih kurang lengkap. Ada beberapa bagian istilah asing tidak mendapat catatan kaki.

Lalu ilustrasi foto atau gambar. Peletakan foto atau gambar beberapa tidak sesuai konteks. Peletakan gambar justru tidak bermanfaat karena tidak menjelaskan maksud tulisan.

Bagi pecinta ilmu mengenal sosok Tan Malaka melalui PMI 2 tidaklah sia-sia. Terlepas dari kekurangannya buku PMI 2 cukup memuaskan dahaga pembaca. Untuk menelusuri perjalanan dan pemikiran Tan Malaka.

Buku PMI 2 menjembatani kita untuk kembali ke masa lalu melalui pemikiran Tan Malaka. Hemat saya, sangat perlu buku PMI 2 memiliki kelanjutannya. Berupa buku PMI 3 babak episode lanjutan kisah Tan Malaka.

2. Resensi Novel Bunga Cantik di Balik Salju

contoh resensi novel informatif
Academic Indonesia

Jenis Resensi Informatif

Identitas Buku

Judul                     : Bunga Cantik di Balik Salju

Penulis                   : T. Andar

Penerbit                 : DIVA Press

Kota Terbit            : Yogyakarta

Tahun Terbit          : 2011

Cetakan                 : Ke-1

Deskripsi Fisik      : 458 hlm.; 19,5cm.

ISBN                     : 978-602-978-667-5

Sinopsis – Contoh Resensi Novel Bunga Cantik di Balik Salju

Lana adalah gadis muda yang berusia 19 tahun. Dia mempunyai sahabat baik Emi. Persahabatan Lana dengan Emi amat baik. Hingga ketika Emi melahirkan Lana selalu mendampinginya. Bahkan ketika Emi meningal, dia mempercayakan bayinya kepada Lana. Karena ayah kandung bayi itu, Brian tidak mau bertanggung jawab kepada Denniz. Brian tidak mau mengakui Denniz sebagai darah dagingnya.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Lana hidup bersama Denniz. Bak anak kandungnya sendiri, Lana sangat menyanyangi Denniz. Namun konflik terjadi dari keluarga Lana. Keluarga Lana setengah hati menerima Denniz sebagai anggota batu keluarga.

Lambat laun dengan kesabaran dan ketulusan. Mata hati keluarga terbuka. Perlahan-lahan mereka mau menerima kehadiran Denniz. Mereka mau merawat dan membanu Denniz.

Ketika usia Lana menginjak 25 tahun. Lana memutuskan untuk pindah tempat tinggal. Lana memilih hidup sendiri bersama Denniz. Lana membiayai kebutuhannya dengan bekerja sebagai staf pengajar di sebuah lembaga pendidikan asing.

Meski sudah hidup mandiri, rupanya cobaan silih berganti terus menyerangnya. Lana sering mendapat caci, hinaan, ejekan dari tetangga dan lingkungannya. Lana terus mempertahankan Denniz. Lana sudah menganggap Denniz sebagai anak kandungnya sendiri.

Lana yang berkarakter tegar dan tegas. Tidak memperdulikan asumsi miring tentang dirinya.Lana terus optimis menatap ke depan. Memperjuangkan hidupnya dan Denniz.

Terlalu sibuk dengan Denniz, menjadikan Lana lupa dengan hidupnya sendiri. Di usia matang 25 tahun Lana masih sendiri. Hingga takdir mempertemukannya dengan Dhimas. Dhimas adalah lelaki tampan pujaan banyak wanita.

Dhimas mencintai Lana dengan tulus. Dhimas tetap menerima Lana meski mengetahui Lana seorang ibu beranak satu. Dhimas melihat jauh sisi pribadi Lana daripada sisi luarnya. Yang mengesankan Lana ibu beranak satu yang identik dengan janda. Dhimas belum mengetahui rahasia sebenarnya.

Keseriusan Dhimas kepada Lana mengantarkan hubungan mereka pada jenjang yang serius. Dhimas memperkenalkan Lana kepada keluarganya. Di saat momen itulah terbongkar rahasia besar Lana. Rahasia yang mengungkap Lana belum pernah menikah dan ibu angkat dari Denniz.

Terbongkarnya rahasia itu mengantarkan cinta Lana dan Dhimas pada pelaminan.

Unsur Intrinstik Novel

Setelah membuat sinopsis novel Bunga Cantik di Balik Salju. Langkah selanjutnya dengan mengulas unsure intrinsik dari novel. Unsur intrinsik meliputi :

Tema

Seorang wanita yang kuat dan tegar. Wanita tulus merawat seorang bayi sahabatnya ketika ia sendiri masih sangat muda.

Tokoh

    1. Tokoh Utama : Maulana Andara Restu
    2. Tokoh Kedua : Denniz
    3. Tokoh Ketiga : Dhimas Mahesa
    4. Tokoh Pembantu : Megan, Fany, Dhyas, Yudha, Rindra, Pak Sinclair, Ruben, Yudha, Brian
    5. Tokoh Piguran : Pak Rudi, Bu Rina, Hendra, Diki, Anggra, H. Bakrie, Emi

Penokohan

    1. Maulana Anadara Restu : Sosok perempuan yang kuat dan tegar, mandiri sejak muda, dan sangat menyayangi Emi sahabatnya yang telah meninggal, juga sangat menyayangi anak angkatnya yaitu Denniz.
    2. Denniz : Anak kecil yang lucu, pintar, cuek dan manja.
    3. Dhimas Mahesa : Sosok laki-laki tampan, cuek dan mapan. Ia sangat menyayangi Denniz dan Lana.

Alur

Alur maju mundur. Alur kisah novel dibuka dengan perkenalan kehidupan tokoh Lana. persahabatan Lana. Lalu muncul konflik batin antara Lana dengan keluarganya. Alur selang-seling maju dan mundur. Ending cerita bahagia dengan pernikahan Lana dengan Dhimas. Serta diterimanya Denniz sebagai bagian dari keluarga mereka.

Sudut Pandang

Sudut pandang orang pertama

Amanat

    1. Semua anak dilahirkan dalam keadaan suci. Tidak ada isitilah anak haram. Anak haram hanya stigma negative dari lingkungan sosial yang mengabaikan nilai kemanusiaan. Saling tolong-menolong sesame manusia.
    2. Hamil di luar nikah adalah perbuatan dosa. Yang berdosa adalah pelaku perbuatan itu. Bukan anak hasil hubungan mereka. karena anak mereka hanyalah korban.
    3. Selalu yakin dan percaya kepada takdir Tuhan. Jalan yang Tuhan pilihkan adalah yang terbaik untuk kita.

Keunggulan dan Kelemahan Novel

Keunggulan Novel

Menilai nilai positif dan nilai tambah dari isi novel :

  • Novel ini mengajarkan kita ketulusan arti tegar, kuat, mandiri
  • Kata-katanya mudah dicerna
  • Pewatakan tokoh mudah jelas
  • Alur cerita bagus. Perkenalan, klimak dan penyelesaiannya apik. Ramuan alur campuran maju-mundur mudah dipahami. Alur tersebut membuat kita menjadi semakin penasaran.

Kelemahan Novel

Menilai kekurangan keseluruhan isi novel :

  • ada beberapa bab cerita yang tidak perlu diceritakan. Terkesan pemborosan cerita. Yang belum tentu ada kaitannya dengan konteks cerita pokok.

Kesimpulan

Terlepas dari kekurangnnya, novel ini bacaan yang bermutu. Asupan gisi yang baik bagi para pembaca. Di dalamnya sarat muatan moral berupa ketulusan, dan berpikiran positif. Biasanya masyarakat mudah menghakimi seseorang tanpa menetahui kejadian yang sebebanrnya.

Novel ini juga mengajarkan pembaca tentang pentingnya optimisme, kerja keras, mandiri, tegas dan huznudhon kepada takdir Tuhan Yang Maha Esa.

Pesan Akhir Puisi

Aku tidak pantas di sini.

Ruangan ini tidak mampu memberiku pengertian atau aku yang memang tak pernah mengerti.

 

 

Karakterku yang bodoh dan menutup dari pamahaman umum.

Ketahuilah aku hanya mempertahankan prinsip impianku.

 

Maaf. Sebaiknya aku pergi. Selamat berjumpa di kehidupan yang akan datang.

Begitulah kuucap pesan akhir. Gadis keras kepala!

Widya.

Pistol Kematian

Pistol Kematian

Penulis

Winda Efanur FS, alumnus UIN Sunan Kalijga Yogyakarta. Beberapa karyanya terdokumentasikan dalam antolologi puisi dan cerpen seperti Tubuh Bencana, Hitam Putih Kata, Menjadi Indonesia dan Pelangi Kenangan. Email : efanurw@gmail.com

CERPEN ACADEMIC INDONESIA — Setiap orang takut dengan kematian. Padahal mati adalah jalan menuju keabadian. Pembebasan dari air mata dan pemberontakan. Aku tidak takut kematian sejak penangkapan itu. Penangkapan yang membuat keadaan rumah kacau.

pistol kematian
pixabay.com

Aku, dan ibu terpaksa mengungsi ke Desa Pandes. Desa tempat tinggal kakek. Kakek seorang lurah di sana menjamin keselamatan kita. Tapi bapak telah tertangkap pemberontak pada malam itu. Pada malam itu sekitar pukul Sembilan malam. Sekawanan orang mendobrak rumah kami. Mereka mencari bapak.

“ Parman, Parman buka pintunya!”

Bapak menyuruh kami untuk pergi lewat pintu belakang. Aku menolak pergi. Aku ingin melindungi bapak.

“ Marni, bawa Lesti pergi dari sini!” pinta bapak.

“ Tidak Mas, kami tidak akan pergi tanpa Mas”

Ibu dan kami bersikeras mengajak pergi. Tapi bapak memilih bertahan. Dia tidak ingin dirinya menjadikan celaka bagi kami. Pemberontak itu berniat jahat kepada bapak. Aku tak tahu kenapa bapak dimusuhi banyak orang.

Bapak itu orang baik pekerjaannya merawat musola di desa. Kalau pagi dia mengepel, membersihkan kamar mandi musola sesekali menjadi imam sholat kalau Pak Haji ijin mengimami sholat.

Tapi setelah  pemberontakan Darul Islam, bapak jadi dibenci banyak orang. Bahkan Pak Haji, Pak Samsul dan semua orang yang sering ke masjid sudah dibunuh. Aku tidak tahu kenapa bapak, dan orang-orang banyak dibenci oleh orang-orang. Tapi yang pasti aku benci para perusuh itu. Mereka telah menghancurkan keluargaku.

Dengan linangan air mata dan isak tangis yang coba aku tahan. Aku mengikuti langkah kaki ibu. Kami berjalan kaki di tengah malam. Menerobos kelam dan hutan. Dari kejauhan kami mendengar letupan pistol. Dadaku bergetar seketika.

“ Bapaakkkk!”

Ibu langsung menutup mulutku. Dia memintaku untuk tidak menangis. Tapi dia malah menangis. Air atanya membasahi pipi. Sejak saat itu aku terbiasa menelan air mata sendiri. Sepanjang perjalanan kami menzikirkan tangis dan bapak. Bayangan bapak terus menemani kami hingga sampai di rumah kakek.

***

Di rumah kakek aku semakin belajar menahan tangis karena pemberontak juga mengincar kakek. Kakek bersiap-siap untuk melarikan diri. Aku dan ibu pun ikut melarikan diri. Kami berniat pergi ke Jawa Timur melalui kereta api.

“ Aku lelah berlari Kek”

“ Kalau kamu mau hidup, kamu harus menyelematkan nyawamu”

“ Kenapa kita tidak melawan mereka, aku sanggup membunuh mereka”

“ Jumlah mereka sangat banyak, kamu melawan mereka sama saja kamu menggali kuburan sendiri”

Kakek tidak mengerti untuk apa berlari menjauhi mati. Toh, ajal itu pasti datang. Sejak kematian bapak. Aku tidak takut mati. Aku akan berteman dengan kematian.

“ Marni, situasi sudah sangat kacau, yang benar jadi salah, yang salah semakin salah. Kita jangan mendekati mereka bila tidak ingin cari mati. Pemberontakan Daurah Islamiyah adalah  bom waktu bagi rakyat. Pemberantasan pemerintah terhadap mereka, dimanfaatkan untuk menciptakan huru-hara saling mengadu domba”.

“ Tapi Parman jadi korban pak”

“ Aku tahu kesedihanmu, tapi kita tidak bisa menjadi cengeng. Ini zaman perang hanya dua pilihan hidup atau mati”

Kakek memberikan ibuku pistol untuk melindungi diri. Dia juga menyelipkan pistol di saku celanannya. Kakek tidak memberiku pistol.

“ Lesti kamu ingin pistol? Besok kakek belikan pistol-pistolan ya”.

***

Di dalam kereta kami beristirahat dengan tenang. Ibu dan kakek tertidur pulas. Saat mereka tidur, aku diam-diam mengambil pistol yang ibu sembunyikan di jaritnya. Aku masukan pistol itu di dalam bajuku.

“ Door!”

Sebutir peluru menembus kepala kakek. Sekawanan pemberontak itu mengikuti pelarian kami. Ibu terbangun. Dia langsung disergap lelaki kekar. Aku pun di tangkapnya. Kami diikat di bangku kereta. Sementara para penumpang lain langsung mundur ke gerbong lain. Mereka membiarkan kami melawan maut sendirian.

Pemberontak itu menyeret mayat kakek lalu membuangnya lewat pintu. Di lantai tercecer darah kakek. Aku menangis dan menelan tangisanku sendiri.

Belum puas disitu mereka menggoda ibu. Tali yang mengikat ibu dilepas. Disentuhnya tubuh ibuku dengan nakal. Mereka menjamah bagian intim tubuh ibu. Di depan mataku ibu meronta-ronta, menangis dan menjerit. Aku menjerit sekeras-kerasnya. Hingga aku ditendang. Saking kerasnya ikatanku terlepas.

“ Marni, Parman sudah mati, Kakek tua itu juga mati. Kini buat apa, kamu menangisi mereka. kita lebih baik bersenang-senang”,

Mereka melingkari ibu. Menyaksikan laki-laki kekar itu menelanjangi ibu. Aku bangkit dan mengambil pistol dari dalam baju.

“Door!”

Peluru menembus punggung lelaki kekar itu. mereka kaget berusaha menyerangku. Aku tembakan peluru membabi buta. Suara peluru saling beradu. Darah mengalir dari dadaku. Tiba-tiba aku merasa lemas. Aku melihat bayangan bapak, kakek, dan sayup-sayup suara ibu.

Cilacap, 24 Desember 2016