Profil Najwa Shihab: Kecerdasan Dibalik “Mata” Najwa Shihab

profil najwa shihab
profil najwa shihab

Profil Najwa Shihab — Tidak ada surutnya ketika membicarakan sosok Najwa Shihab atau biasa dipanggil Nana baik di kalangan intelek maupun di kalangan biasa. Argumen dan kekritisannya terhadap isu-isu politik kerap menjadi diskusi menarik di kalangan mahasiswa/mahasiswi.

Kekritisannya mulai menjadi viral dalam sebuah acara di Metro TV, yaitu Mata Najwa kini seolah menjadi sorotan permanen dimata publik. Bahkan sebagian tokoh-tokoh terkenal di televisi bergeming sejenak untuk merespon pernyataan atau pertanyaannya.

Setiap sudut argumennya memiliki kekhasan tersendiri sehingga pernyataan dan pertanyaan menjadi berisi dan membekas. Sejalan dengan kekritisannya kedudukan narasumber juga menjadi peran pemicu untuk terus menggali ketajaman pikirnya.

Bukan karena tuntutan kamera atau penonton televisi, ia memang terlihat sebagai sosok pembawa acara profesional. Keluwesan di atas panggung mengiringi wibawa dan citra sosok Najwa Shihab. Tak lupa untaian kalimat bijak di pembuka dan penutup acara menambah kekhasan acara tersebut hingga menjadi suguhan berkualitas bagi penikmat Mata Najwa.

Pendidikan Najwa Shihab

najwa-2
pexels.com

Najwa Shihab adalah putri kedua dari seorang ulama terkenal di Indonesia yaitu, Quraish Shihab. Ia menempuh sekolah berbasis agama Islam dari jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP)  sedangkan jenjang seterusnya berbasiskan umum.

Pendidikan adalah dasar utama bagi Najwa Shihab, ia telah meraih sejumlah prestasi sejak usia belia. Saat memasuki Sekolah Menengah Umum (SMU) ia mendapat kesempatan America Field Service (AFS), semacam program pertukaran pelajar yang saat itu ditukar ke Amerika.

Atas keseriusannya dalam dunia akademik, ia melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata Satu (S1)  Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Dunia karirpun digelutinya dapat dikatakan sosok awal Najwa Shihab dikenal publik, khususnya media televisi sendiri ketika ia melaporkan peristiwa pada hari-hari petama setelah bencana tsunami di Aceh.

Setelah peliputan bencana tersebut, ia mendapat penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat dan PWI Jaya. Penghargaan itu diraih berkat andilnya dalam liputan tersebut sehingga mendorong masyarakat agar peduli dan empati terhadap korban tragedi tsunami Aceh.

Karir di Dunia Televisi

najwa-1
wikimedia.org

Ada segudang penghargaan yang diraih atas nama Najwa Shihab, terhitung delapan penghargaan yang diraihnya dalam ajang Panasonic Gobel Award dari tahun 2006 hingga 2015. Sebagian besar nominasi yaitu sebagai presenter talkshow, berita, dan informasi terfavorit.

Berkat kecerdasannya pula, ia berhasil menjadi wartawan pertama yang mewawancarai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah itu nama Najwa Shihab semakin muncul ke permukaan dan hampir sebagian besar tokoh-tokoh politik nasional pernah ia wawancarai.

Berbicara prestasi ataupun penghargaan yang diraih Najwa Shihab tentu seolah tak ada habisnya. Mungkin jika di dunia kayangan dewi keberuntungan tengah menaungi sosok Najwa.
Prinsip Ketekunan Bagi Najwa Shihab

Kita lupakan soal keberuntungan, pastinya tidak ada yang instan di dunia ini apalagi gratis. Setetes air di gurun pasir sangatlah berharga dibandingkan segudang emas. Itulah gambaran ilmu dan pentingnya pendidikan.

Prinsip seorang Najwa Shihab adalah tidak takut salah, selalu mencoba, tahan mental, dan tekun. Melalui sebuah video youtube fimela.com, Najwa mengutarakan setiap tahap perjalanan menuju kesuksesan sangatlah membutuhkan kesungguhan.

Tentu prinsip tersebut sangat berlaku bagi semua manusia jika pepatah mengatakan tidak ada manusia bodoh yang ada hanyalah manusia malas maka ketekunanlah kuncinya.

Najwa Shihab adalah salah satu wanita inspiratif, dapat dikatakan ia sudah menjadi sosok kompeten dalam profesinya. Tetapi cobalah kita tarik ke belakang mengenai latar belakang kehidupan dan sosok dari keluarga.

Mengenal Profil Najwa Shihab dari Sudut Pandang Lain

Dibesarkan di lingkungan keluarga yang agamis, berpendidikan, dan berkecukupan. Menempuh pendidikan formal sesuai standar akademik dan menjalani profesi sesuai minat dan porsi.

Adakah yang salah? Perlu diamati dahulu bahwa kesalahan belum tentu salah, banyak pula sosok yang sukses dalam hal tertentu berangkat dari kesalahan. Sikap ini menjadi daya tarik lain dari sosok Najwa Shihab.

Kontroversial mengenai jilbab yang asing dipakai Najwa sepertinya akan terus menjadi sorotan kedua publik setelah kekritisannya. Sebuah video youtube yang memuat ulang tayangan kajian Quraish Shihab di salah satu stasiun tv.

Saat itu salah seorang penonton di studio melontarkan pertanyaan kepada sang ustadz, yang secara bersamaan Najwa Shihab sedang duduk disamping ayahnya. Pertanyaan itu secara gamblang mengarah kepada Najwa Shihab, meskipun tersirat.

Secara singkat penonton tersebut menanyakan pendapat Qurais shihab mengenai jilbab dan penerapannya dalam keluarga. Sontak acara tersebut menjadi sorotan masyarakat berbagai kalangan.

Tak sedikit ulama mengutarakan dalil kontra terkait video tersebut. Tak sedikit pula tokoh masyarakat, kalangan umum menyampaikan sikap toleransi. Atas dasar hak asasi manusia dan tetap menghargai pakaian baik perempuan atau laki-laki asalkan dalam batas etika.

Lebih menariknya banyak komentar yang justru keluar dari pokok permasalahan. Mengambil kesempatan untuk menurunkan popularitas Najwa Shihab, mungkin karena kekritisannya terhadap politik atau isu-isu terhangat di negeri ini.

Persepsi seperti ini sangatlah lumrah dan maklum terjadi di negeri 1000 budaya, 1000 bahasa bahkan tempat tumbuh kembangnya setiap agama. Apalagi jika lebih di spesifikan dan mengingat sebuah kalimat bijak menurut saya, “jika ada seratus kepala dalam satu ruangan maka sebanyak itu pula ide dan perbedaan akan muncul”.

Najwa Shihab adalah salah satu diantara jutaan wujud kecerdasan dunia. Meraup kesuksesan di dunia televisi bahkan acara talkshow dengan brand nama sendiri, yaitu Mata Najwa berhasil menyita perhatian publik. Ribuan bahkan jutaan penonton berhasil menaikkan rating acara tv tersebut, tak sedikit masyarakat yang mengagumi kecerdasannya.

Perjalanan Najwa Shihab belumlah berakhir dengan pencapaian karir bak diatas Menara Eiffel. Tentu perjalanan merupakan proses yang sangat panjang seolah tak berujung. Dapat di sadari pula oleh kita sebagai pengamat bahwa langkah itu mungkin masih sepertiga perjalanan atau setengah.

Oleh karena itu biarkanlah manusia, siapapun itu berproses dengan cara langkahnya sendiri. Jika ia berbelok maka kita sebagai manusia yang diberi kepekaan hendaknya memberitahu. Ternyata jalan belok itu tetap ingin dilaluinya maka ada yang lebih berhak memberitahu dibanding diri kita yang masih penuh kekurangan.

Kesempurnaan tidaklah dipandang dari keseluruhan fisik dan materi yang ia dapat di dunia. Tetapi sejauh mana ia mensyukuri kelebihan itu, mencari celah kebaikan yang Allah berikan dalam harta dan fisik yang terbilang sempurna.

Apakah menunggu waktu atau waktu yang menunggunya, itu urusan hati dan pikiran dalam dirinya. Najwa Shihab tidak bodoh, tidak buta mata, dan bisa bergerak maka tugasnya adalah berusaha mencari ilmu paling benar.

Apapila ia kritis terhadap ilmu dunia maka tentu ia pun harus kritis terhadap ilmu agamanya sendiri. Apabila ia pandai merangkai kata untuk menyampaikan alasan dibalik sikap kontroversialnya maka ia pun harus memiliki alasan untuk pertanggungjawabannya kelak.

Saya sebagai penulis pun mungkin tidak bodoh, tidak buta mata, dan tentu bisa bergerak maka tugas saya adalah mencari ilmu yang paling paling benar lagi, ada sang Maha di atas segalanya.

Najwa Shihab bukanlah satu-satunya sosok kontroversial, apalagi urusannya dengan agama. Ada jutaan bahkan triliunan manusia mengatas namakan Islam yang lebih berseberangan dengan Islam itu sendiri.

Teringat dengan perkataan Francis Bacon yaitu “sedikit pengetahuan menjadikanmu seorang ateis. Pengetahuan yang mendalam menjadikanmu seorang yang beriman pada Tuhan”. Kecerdasan haruslah diimbangi dengan kejujuran, itulah mengapa Allah menjamin manusia yang jujur akan masuk surga bukan manusia cerdas.

Semoga artikel ini bermanfaat dan pembaca tidak puas dengan argumen saya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *