Perbandingan Hoax di Dunia Arab Versus Hoax di Indonesia

14 views

Perbandingan Hoax di Dunia Arab Versus Hoax di Indonesia

Hoax adalah kabar bohong, menipu sekaligus memanipulasi 100%. Hoax mulai marak di dunia maya tatkala masyarakat media sosial dengan leluasa berbicara dengan jari-jarinya tanpa diketahui orang lain. Bahkan, dengan hoax ini pula, setiap orang bisa menjadi penguasa media dadakan, ketenarannya bisa mengalahkan media resmi yang sudah diakui.

Apa Bedanya Hoax dengan Kebenaran Parsial?

Sekarang, adakah perbedaan antara hoax dengan kebenaran parsial? Saya sendiri menekankan bahwa kedua hal tersebut sangat berbeda jauh. Bagi saya, hoax benar-benar menipu sehingga kesan orang yang melihat, mendengar atau memerhatikannya langsung tertuju bahwa hal itu merupakan sebuah kebenaran.

Berbeda dengan kebenaran parsial, secara umum, kebenaran parsial bila ditinjau dari komunikator, ia menyampaikan sesuatu dengan tujuan dan niat untuk menyampaikan kebenaran paripurna. Berbeda dengan hoax, ditinjau dari komunikatornya saja, ia sudah berniat untuk menyebarluaskan berita bohong.

Bagaimana Cara Mengatasi Hoax?

Lalu bagaimana cara mengatasi hoax? Bisakah diteliti melalui bukti empiris dan berpikir logis? Benarkah hoax itu tidak logis?

Secara garis besar, hoax bisa saja sesuatu yang kelihatannya sangat tidak logis. Ketidaklogisan ini hanya bisa dilihat bagi mereka yang cenderung memiliki pendidikan, wawasan dan pengalaman lebih tinggi.

Bisa juga hoax itu adalah sesuatu yang nampaknya sangat logis, alamiah bahkan tanpa cacat sedikitpun. Kacamata seperti ini sering terjadi bagi mereka yang kurang mengandalkan pikirannya ketika menerima informasi. Alhasil, berita yang belum tentu kebenarannya sudah tersebar terlebih dahulu tanpa sempat cek dan re-check.

Perbandingan Hoax di Dunia Arab Versus Hoax di Indonesia

Banyak negara luar yang heran dengan Indonesia lantaran masyarakatnya yang tetap menjaga persatuan dan kesatuan di tengah-tengah hoax yang melanda. Bahkan, ada beberapa negara luar yang menyebutnya sebagai Laboratorium Sosial Terbesar di Dunia.

Terlepas benar salahnya sebutan itu, perlu kita syukuri bahwa Indonesia hingga saat ini masih utuh tanpa pecah sedikitpun. Pertanyaannya, apa sih yang menyebabkan Indonesia masih bisa bertahan di tengah-tengah arus informasi penuh kebohongan?

  1. Bahasa

Bila di antara kita pernah belajar bahasa Arab atau yang lainnya, pasti akan menemukan perbedaan yang cukup signifikan. Bahasa Arab lebih bermakna tunggal, sedangkan bahasa Indonesia bermakna plural.

Jelas, hal ini sangat mempengaruhi bagaimana berita hoax bisa menggerakkan massa ataupun tidak. Bahasa yang bermakna tunggal akan lebih berpeluang untuk menggerakkan karena akan menimbulkan persepsi yang sama.

Begitu juga sebaliknya, bahasa yang bermakna plural tidak akan berpeluang membentuk sebuah gerakan massa karena memiliki persepsi yang berbeda-beda.

Perhatikan bahasa Indonesia yang dinamis dan sangat cepat perubahannya. Kalimat “Masuk Pak Eko,….” mana ada di negara luar? “Telolet Om” sampai “Sontoloyo” hanya ada di Indonesia. Cepatnya perubahan bahasa inilah yang menyebabkan bahasa Indonesia memiliki makna plural.

  1. Yang Serius Menjadi Lucu

Masyarakat Indonesia sendiri merupakan masyarakat yang menyukai humoris. Coba kenang Bapak Pluralisme, bagaimana beliau menjadikan hal-hal yang serius menjadi lucu dan penuh humoris. Bahkan, beliau tak segan-segan menyampaikan sebuah pesan nasehat dengan penuh humoris.

Belum lagi bila kita amati meme yang bertebaran di media sosial dengan kata-kata yang penuh lelucon, gambar-gambar editan hingga emotion yang mengejek. Masyarakat Indonesia memang tak pernah menganggap masalah sebagai masalah, namun masalah sebagai hiburan.

  1. Nongkrong wal Ngopi

Bila barangkali disetujui, pahlawan selanjutnya adalah mereka yang gemar mengopi. Mengapa? Karena mereka termasuk orang yang sulit ditemui di level internasional. Coba perhatikan negara-negara terdekat saja seperti Malaysia, mana ada nongkrong sambil nggelar kloso di pinggir-pinggir jalan sampai 24 jam? Kalaupun ada ya hanya di resto selama 1-2 jam. Berbeda dengan yang ada di Indonesia, orang mau tidur di kafenya pun tak masalah hahaha…

 

Pemilik ACADEMIC INDONESIA
— Mahasiswa Program Magister (S2) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI)
— Tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta
— Follow me @zamhari_jogja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *