Tagar #BuSusi Mengemuka dan Mengapa Berita Penangkapan Koruptor selalu “Menyenangkan”

Tagar #BuSusi Mengemuka dan Mengapa Berita Penangkapan Koruptor selalu “Menyenangkan”

Tagar #BuSusi Mengemuka dan Mengapa Berita Penangkapan Koruptor selalu “Menyenangkan” (Gambar: Pixabay/USA-Reiseblogger)

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) yang juga wakil ketua Partai Gerindra, Edhy Prabowo ditangkap usai kunjungan kerja di Amerika Serikat pada Rabu dini hari (25 November 2020). Kabar mengagetkan ini membuat netizen di Twitter kembali memiliki bahan pemersatu dengan cuitan tagar #BuSusi mengemuka.

Sebenarnya bukan hanya tagar tersebut, netizen juga mengungkapkan kekesalan mereka dengan hashtag lain #MenteriKKPditangkap. Namun tagar #BuSusi tetap mengemuka lantaran sebelumnya jabatan menteri KKP tersebut dijabat oleh Susi Pudjiastuti.

Kekesalan lain yang cukup masuk akal adalah kerap berseterunya mantan menteri KKP tersebut dengan Edhy Prabowo. Perseteruan mengenai program yang “ditenggelamkan” oleh menteri baru itu adalah satu dari sekian banyaknya alasan mengapa tagar #BuSusi mengemuka.

Tagar #BuSusi Mengemuka dan Mengapa Berita Penangkapan Koruptor selalu “Menyenangkan”

Namun satu hal yang menarik adalah, berita penangkapan kali ini menjadi “menyenangkan” untuk disimak. Menyenangkan yang saya maksud disini adalah bagaimana netizen seolah menyambut baik penangkapan ini.

Sebagaimana berita mengenai kasus korupsi kelas  kakap lainnya, seperti kasus Setya Novanto yang terkenal dengan tagar #SaveTiangListrik. Kala itu kasus berat tersebut menjadi bahan lawakan nasional.

Kali ini mungkin tidak semenyenangkan itu, namun tetap saja menjadi menarik. Karena kali ini KPK tengah diuji kesigapannya pasca RUU KPK disetujui dan ketua KPK Firli Bahuri dicopot dari jabatannya.

Lantas, mengapa berita penangkapan koruptor selalu “menyenangkan”?. Ada beberapa alasan yang bisa dirunut mengenai hal tersebut.

  1. Personifikasi Koruptor “Kedjam nan Mevvah”

Koruptor dalam ranah sosial tidak ubahnya seperti mafia dalam cerita baik di novel dan film. Bedanya adalah mafia dalam novel atau film lebih banyak digambarkan dalam persona yang “kejam dan rahasia”. Identik dengan pembunuhan, transaksi ilegal namun kaya materi di satu sisi.

Personifikasi koruptor sendiri dianggap lebih nyata ketimbang berbicara mengenai “cukong” atau label mafia itu sendiri. Itu terlihat dari bagaimana media menonjolkan personifikasi dengan membahas lebih banyak mengenai nominal uang dan apa yang dilakukan dengan uang tersebut.

Misalnya, dalam kasus Menteri KKP tersebut media mulai mengulik jumlah nominal uang sitaan KPK dan menghubungkannya dengan bagaimana uang digunakan. Kabar terlahir dari halaman Kompas.com misalnya, mereka lebih tertarik mengulik penggunaan uang tersebut di Honolulu, Hawaii (26 November 2020). Bukan hanya itu, Kompas.com juga mengulik Jam Rolex yang kabarnya dibeli dari sana.

Apakah hanya Kompas yang melakukannya? Tidak juga, ada media lain yang juga mulai melakukannya. Ini hanyalah salah satu contoh mencolok saja sebagaimana kelihatannya. Jika anda sempat kembali melihat Kompas.com, maka anda akan melihat beberapa judul berita seperti tadi.

  1. Penggunaan Istilah Identik: “Tenggelamkan”

Berita mengenai penangkapan koruptor sangat identik dengan penggunaan istilah khusus kepada subjek kasusnya. Seperti yang tadi saya jelaskan mengenai Setya Novanto dengan tagar #SaveTiangListrik, kasus tersebut artinya bukan satu-satunya yang memiliki ciri khas semacam itu. Namun kasus kali ini juga memilikinya.

Satu hal yang mungkin membedakan penangkapan OTT kali ini adalah seringnya netizen dan media menggunakan istilah “tenggelamkan”. Yap, istilah ini adalah istilah yang terkenal dari Susi Pudjiastuti kala masih menjadi menteri KKP.

Tenggelamkan disini adalah kata dari konteks yang tegas. Alasannya adalah Susi Pudjiastuti kala itu dikenal dengan kebijakannya menenggelamkan kapal asing. Namun tidak cuma itu, kenyataannya beliau menggunakan istilah itu hampir di setiap kesempatan dan kebijakan.

Pernah saya mendengar salah satu program yang dipromosikan oleh KKP soal Susinisasi, yaitu sebuah program untuk mewajibkan kita memakan ikan. Tagline yang cukup dikenal waktu itu adalah “Kalau tidak makan ikan, maka saya tenggelamkan”. Pertama kali saya mendengar tagline ini ketika saya mendengarkan radio.

Tegasnya pengucapan istilah ini pada satu sisi menguatkan citra kepemimpinan Susi Pudjiastuti sebagai menteri KKP. Bahkan ketika ia sudah tidak menjadi menteri, kata-kata ini masih bisa kita jumpai dalam pembicaraan yang relate maupun candaan di masyarakat kita.

Karena itulah istilah “Tenggelamkan” pada akhirnya digunakan untuk “menghukum” menteri KKP yang saat ini menjabat. Hal ini bisa dilihat dari beberapa media yang menggunakan istilah ini dalam beritanya. Misalkan berita detik.com “KPK Tenggelamkan Menteri KKP Edhy Prabowo” (25 November 2020).

Istilah satu ini telah bertransformasi menjadi kata yang menggelitik, alih-alih tegas. Namun kata tersebut tetap memiliki makna yang positif untuk mengingatkan kejahatan seorang koruptor.

Kesimpulan

Baik personifikasi maupun istilah identik yang digunakan, keduanya adalah hal penting dalam memahami fenomena mengapa berita penangkapan koruptor menyenangkan. Kedua hal tersebut memiliki asosiasi dengan humor.

Personifikasi koruptor yang selalu digambarkan dengan perilaku mafia dengan sederet kemewahan yang dikulik oleh jurnalis membuat berita tersebut menjadi dramatis. Sesuatu yang dramatis memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pembaca sebagaimana novel dan film. Namun karena ini adalah kisah nyata, tanpa perlu bumbu berlebihan efek dramatis tersebut sudah jadi menarik.

Istilah identik yang disematkan pada koruptor merupakan hal lain yang menjadikannya menyenangkan untuk dibaca. Menyenangkan dalam hal ini adalah tingkat absurditas yang dipertontonkan dalam berita tersebut.

Jadilah kombinasi dramatisasi dan absurditas tadi menjadi menyenangkan untuk dilihat layaknya humor atau lawakan. Littlejohn dan Foss (2009) menyatakan bahwa humor bisa digunakan untuk mengkritik sampai pada perlawanan personal. Jadi wajar sebagai kontrol sosial berita dengan penekanan semacam itu muncul.

Namun berita yang dipertontonkan otomatis lebih kepada hiburan daripada pelajaran. Detail mengenai kasus penangkapan dan seperti apa terjadinya korupsi belum banyak dibahas. Seharusnya ini yang lebih penting untuk diketahui pembaca di sisi lain.

 

Sumber:

Littlejohn, Stephen W.; Foss, Karen A. (2009) Encyclopedia of Communication Theory. London: Sage Publications.

 

Berita Detik.com

Berita Kompas.com

 

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!