Mengatasi Sisi Negatif Internet Menurut Ilmuwan

Mengatasi Sisi Negatif Internet

Mengatasi Sisi Negatif Internet (Gambar: Pixabay/Free-Photos)

Internet selama ini telah banyak membuat banyak revolusi digital muncul. Sisi positifnya kita bisa melihatnya hari ini. Betapa mudahnya kita mengakses untuk bebagai hal mulai dari komunikasi, sosial sampai kebutuhan pribadi. Namun internet juga menyebabkan sisi negatif seperti betapa mudahnya teori konspirasi muncul, hoax, sensasionalitas dan bahkan ekstremisme.

Mengutip dari Science Daily (21 Desember 2020), para ahli psikologi dan ilmu sosial telah menyusun rekomendasi untuk mengatasi sisi negatif internet tersebut. Rekomendasi ini didasarkan pada pendekatan kognitif. Pendekatan ini dalam dunia psikologi erat kaitannya dengan memahami perilaku manusia itu sendiri.

Inti penelitian para ahli ini adalah menekankan perlunya seseorang untuk mengambil sejumlah langkah kontrol terhadap dunia digital di sekeliling kita. Hal ini dirasa perlu utamanya dalam hal pengembangan literasi media digital.

Hal ini tertuang dalam penelitian berjudul “Citizens Versus the Internet: Confronting Digital Challenges with Cognitive Tools”. Penulisnya adalah Anastasia Kozyreva, Stephan Lewandowsky, dan Ralph Hertwig dari Center for Adaptive Rationality at the Max Planck Institute for Human Development, Jerman. Penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Psychological Science in The Public Interest.

Mengatasi Sisi Negatif Internet: Pendekatan Kognitif

Penelitian ini pada dasarnya merupakan penelitian yang berangkat dari keilmuan psikologi. Itulah mengapa pendekatan perilaku (kognitif) diajukan sebagai ujung tombaknya.

Namun menurut peneliti dari Max Planck Institute menyatakan bahwa pendekatan psikologi dan pengetahuan kognitif dapat mengintervensi permasalahan dalam sisi negatif internet. Bentuk dari intervensi tersebut diantaranya adalah menyediakan kurikulum mengenai, petunjuk dan regulasi, hukum dan etika, literasi digital dan pengetahuan mengenai teknologinya.

Hal itu secara otomatis mendeteksi dan menambal kekurangan dari internet tersebut baik pada seseorang maupun penyedia jasa internet dan layanannya. Hal ini dapat menambah apa yang disebut peneliti sebagai “mendesain pilihan arsitektur online”.

Ada tiga jalan pendekatan yang diajukan oleh peneliti untuk mengatasi sisi negatif dari penggunaan internet secara umum. Pertama, mendorong perilaku orang ke arah yang lebih positif. Caranya yaitu dengan mengatur sistem yang lebih menghargai privasi.

Kedua, mengandalkan apa yang disebut sebagai “tekno-kognisi”, yaitu sebuah solusi teknologi yang diinformasikan dengan prinsip-prinsip psikologis. Singkatnya cara ini digunakan untuk menekan informasi yang salah beserta penyalahgunaan internet. Contohnya dengan menciptakan hambatan untuk menyinggung atau mem-bully seseorang secara online.

Ketiga, meningkatkan kompetensi kognitif melalui dorongan agar seseorang dapat memahami lingkungan digitalnya dengan meningkatkan penalaran dan ketahanan akan manipulasi. Hal ini cara kerjanya mirip dengan apa yang dilakukan dalam literasi media baik konvensional maupun digital.

Intervensi Kebijakan Internet

Para peneliti mengakui bahwa tidak ada “peluru perak” dalam mengatasi sisi negatif internet. Namun ketiga pendekatan tersebut menurut para ahli dibutuhkan dan dapat digunakan untuk melawannya.

“Ilmu psikologi dapat membantu menginformasikan intervensi kebijakan dalam dunia digital,” kata Anastasia Kozyreva, penulis utama penelitian ini dan peneliti Center for Adaptive Rationality at the Max Planck Institute for Human Development.

“Sangat penting bahwa ilmu psikologis dan perilaku (sosial) digunakan untuk memastikan pengguna tidak dimanipulasi untuk keuntungan finansial dan diberdayakan untuk mendeteksi dan menolak manipulasi.” pungkasnya.

Mendorong perilaku postifif dan memotivasi pengguna internet adalah pendekatan utama yang dapat digunakan dalam membaca lingkungan digital. Selain itu literasi digital yang bersifat “mudah digunakan” juga diperlukan dalam pendekatan kognitif ini untuk mengatasi sisi negatif internet.

“Alat kognitif ini dirancang untuk mendorong kesopanan wacana online dan melindungi akal dan otonomi manusia dari arsitektur pilihan manipulatif, teknik yang menarik perhatian dan penyebaran informasi palsu,” kata Kozyreva.

 

Sumber:

Science Daily

Association for Psychological Science

Psychological Science in The Public Interest

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *