Satu Ayat untuk Mahasiswa Tunarungu

Satu Ayat untuk Mahasiswa Tunarungu

Dua Khotib dalam Satu Khutbah

Mengembalikan Fungsi Masjid sebagai Rumah Semua Jenis Jamaah

Presentasi Mata Kuliah Toleransi Antar Ummat Beragama

Dosen Pengampu Prof. Dr. Faisal Ismail

Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga
Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga

Landasan Teologis

Surah Abasa 1-16
Surah Abasa 1-16

Arti Surah Abasa 1-16

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa) atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (alasan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran). sedangkan ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (malaikat), yang mulia lagi berbakti.

Suatu ketika, Rasulullah Saw sedang berusaha mendakwah/mengajak Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal bin Hisyam, dan Abbas bin Abdul Muthalib. Maka ketika itu, Ummi Makhtum berdiri kemudian berbicara, “Ya Rasulullah, ajarilah aku ilmu yang telah diajarkan Allah kepada Anda!”.

Kemudian Ummi Makhtum memanggilnya mengulang perkataannya lagi dalam keadaan tidak tahu bahwa Rasulullah Saw sedang sibuk memerhatikan ketiga orang lain tersebut.

Tampaklah pada wajah Rasulullah rasa kurang senang kepada Ummi Makhtum karena merasa pembicaraan beliau dengan para pembesar Quraisy terganggu. Rasulullah pun berpaling darinya dan tetap memerhatikan para pembesar Quraisy. Ibnu Ummi Maktum pun bertanya, “Apakah yang saya katakan ini salah?” Rasulullah menjawab, “Tidak”.

Maka, turunlah ayat Abasa watawalla[1] dst… Setelah itu, barulah Rasulullah memuliakan Ummi Makhtum dengan kalimat,

“Selamat datang wahai orang yang telah menjadikan aku ditegur Tuhanku.” (HR. Sl Tirmizi dan Al Hakim dari Aisyah).

Dari cerita di atas, ada beberapa hikmah yang perlu kita petik;

1. Allah Tidak Pernah Memandang Fisiknya

Kisah di atas menyadarkan kita bahwa dalam berteman, bertoleransi atau membangun hubungan silaturahmi hendaknya tidak memandang faktor fisik. Sebab, bagi Allah yang terpenting adalah kesungguhannya di dalam mempelajari agama Islam.

Begitu pula di dalam berdakwah, hendaknya dakwah tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang memiliki jabatan tinggi atau terhormat, bisa jadi orang kecil, berkebutuhan khusus atau orang miskin yang tidak mempunyai apa-apa, pun jika ia ikhlas ingin mempelajari agama Islam perlu kita beri perhatian.

2. Nabi Muhammad Dididik Langsung Oleh Allah

Kisah di atas juga menegaskan kita bahwa tidak ada keraguan untuk mengikuti apa yang telah disunnahkan Rasulullah. Bagaimana pun juga, Rasulullah adalah utusan Allah yang bila Beliau melakukan kesalahan langsung ditegur Allah. Rasulullah Saw adalah teladan paling sempurna, dalam hal ini mengenai toleransi bahkan toleransi kepada kaum minoritas, termarjinalkan dan terlupakan sepertihalnya tunanetra.

Profil Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga

Terkait sub bab ini, baca selengkapnya di Profil Laboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga

Khutbah Jumat Berbahasa Isyarat

Bersyukur kita masih diberikan pendengaran, penglihatan maupun nikmat-nikmat lain yang barangkali kita sering terlupa mensyukurinya. Kita sebagai hamba yang hanya mung sakderma tidak akan tahu apa yang akan terjadi esok hari. Yang jelas, setiap orang sebenarnya memiliki kerentanan yang sama untuk menjadi bagian dari difabilitas.

Ada salah satu hal yang membuat saya tergerak untuk menuliskan tugas ini, mungkin kita akan menyepelekan satu ayat yang melintas di kehidupan kita, karena mungkin setiap hari kita sudah belajar penuh selama 24 jam non stop.

Tapi coba bayangkan, bagi saudara seiman kita yang memiliki kekurangan pendengaran, tentu satu ayat menjadi sangat berarti bagi hidupnya. Bahkan, untuk menangkap bahwa itu merupakan satu ayat pun mereka perlu perjuangan keras.

Saking sibuknya, atau egoisnya kita, seringkali kita melupakan yang dekat-dekat. Mereka yang memiliki kekurangan dalam pendengaran adalah wujud konkrit saudara kita yang harus kita bantu.

Jangan sampai dalam beragama, kita hanya mengambil yang enak-enaknya saja lalu melupakan yang urgent. Sepertihalnya berlindung di balik kata “rukhsah”, atau alasan-alasan lain yang sebenarnya tidak perlu.

Bagaimana seharusnya relasi ulil amri (takmir masjid) dengan rakyat (jamaah) dalam hal ini untuk memenuhi hak-haknya?

Baca Pembahasannya di Khutbah Jumat Berbahasa Isyarat

 

Footnote

[1] Surah ‘Abasa juga dikenal sebagai nama Al-A’ma atau Al Safarah. Nama yang lebih dikenal yaitu ‘Abasa, diambil dari ayat pertma surah ini yang berbunyi “abasa watawalla”. Surah ini terdiri atas 41 ayat, 133 kata da 533 huruf, dengan nomor urut 80 setelah surah Al Naziat dan sebelum Al Takwir. Surah ‘Abasa termasuk surah Makkiyah dan diturunkan dengan nomor urut 24 setelah Surah An-Najm. Lihat selengkapnya di Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB, Tafsir Salman; Tafsir Ilmiah Atas Juz ‘Amma, Penerbit Mizan Pustaka, Bandung, 2014, hlm, 117.

 

Jangan Menunggu yang Sempurna,

Tapi Sempurnakan yang Ada….

Innalillahiwainnailaihirojiun, Inna Lillahi wa inna ilayhi raji’un

Innalillahiwainnailaihirojiun, Inna Lillahi wa inna ilayhi raji’un

Innalillahiwainnailaihirojiun. Kalimah yang menandakan sebuah pertanyaan; Pernahkah Anda takut kehilangan seseorang? Terlebih bila terbayang kehilangan ayah bunda, sanak saudara atau kekasih? Tentu pernah ya, itu bagian ujian. Masih ingat dengan tragedi kematian bpetugas PEMILU yang memakan korban hingga ratusan orang?

Itulah kalimat pembuka pada diskusi yang akan kami tulis berikut ini. Sebuah tema yang barangkali setiap orang akan mengalaminya; kapan pun dan di mana pun.

Ya, hal tersebut berkaitan erat dengan musibah, musibah berkaitan dengan sesuatu yang hilang (kehilangan) dan kehilangan tentu saja berhubungan dengan kalimah tarji; Innalillahiwainnailaihirojiun.

Pengertian Innalillahiwainnailaihirojiun

Pengertian Innalillahiwainnailaihirojiun itu sendiri dalam Islam sering disebut kalimah tarji, ada pula yang menyebutnya dengan kalimah istirja. Dua-duanya benar, tidak ada yang keliru.

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun itu sendiri merupakan frase ummat Islam ketika mendapat musibah. Baik yang mendapat musibah atau orang lain yang mendapat musibah, keduanya mengucapkan kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun.

Dari perspektif struktur kalimat, istirja ‘terdiri dari dua kalimat. Mereka adalah innaa lillahi dan innaa ilaihi raa’jiuun. Kata inna berarti kebenaran adalah kita, sedangkan kata lillah berarti Allah. Yang benar adalah kita adalah milik Allah. Konsep utama kepemilikan di sini adalah absolut. Kata kepemilikan sebenarnya berasal dari bahasa Arab dari kata dasar “malaka” yang berarti memiliki.
Dalam bahasa Arab, “susu” berarti penguasaan seseorang terhadap sesuatu (barang atau properti) dan barang-barang yang dimilikinya baik secara nyata maupun legal. Arti penguasaan di sini mencerminkan bahwa orang yang memiliki barang memiliki kekuasaan atas barang tersebut sehingga ia dapat menggunakannya sesuai dengan kehendaknya dan tidak ada seorang pun, baik secara individu maupun institusi, yang dapat mencegahnya dari menggunakan barang yang ia miliki.
Sesungguhnya, segala sesuatu yang ada di langit dan bumi hanyalah milik Allah. Apakah itu material atau tidak material. Baik dalam bentuk benda hidup atau benda mati. Baik terlihat atau tidak terlihat. Ini ditunjukkan oleh Allah dalam firmannya dalam surah Al Baqarah: 284,
Ayat ini menjelaskan dengan jelas bahwa Allah adalah satu-satunya pemilik semua yang Dia ciptakan, baik apa pun yang ada di bumi maupun apa pun yang ada di surga. Jadi, pastilah Allah yang memiliki hak untuk mengambil kembali segala sesuatu yang menjadi milik-Nya, dalam keadaan apa pun, kapan saja, dan bagaimanapun. Kewajiban umat manusia hanya untuk menjalani kodratnya sebagai manusia, untuk menghadapi dan menerima semua kondisi yang telah Allah tetapkan dengan sabar dan dengan segala ketulusan.
Jika seseorang telah mengakui sifat Allah sebagai pemilik segalanya, maka ia harus menyadari bahwa Allah memiliki hak untuk memerintahkan dan melarang kita, apakah dia suka atau tidak. Ia harus sabar dalam menghindari apa yang dilarangnya. Sabar dengan apa yang wajib baginya. Kita harus sadar bahwa diri kita sendiri juga harta benda kita dan keluarga kita (orang tua, saudara kandung, dan istri serta anak-anak) juga milik-Nya.Kata raaji’uun berarti kembali. Ilaihi raaji’uun berarti bagi-Nya (tempat) kami kembali. Makna kontekstual pengembalian adalah kembali selamanya dan tidak pernah kembali lagi. Segala sesuatu yang menjadi milik-Nya akan kembali kepada-Nya. Kata kembali, menunjukkan bahwa kepemilikan saat ini dalam kehidupan manusia benar-benar sementara. Suatu hari nanti cepat atau lambat semuanya akan kembali kepada-Nya.

Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Sebagai pemimpin tertinggi di antara makhluk-makhluk Allah di bumi, manusia diberkati oleh Allah dengan kecerdasan untuk berpikir, mengekspresikan pendapat, melakukan, bekerja, memutuskan, dan sebagainya.
Manusia hidup dengan menghayati kodrat mereka sebagai ciptaan Allah. Di mana ada pertemuan, biasanya berakhir dengan perpisahan. Di mana ada kelahiran, itu akan berakhir dengan kematian. Di mana ada permulaan, pasti akan bertemu juga dengan akhirnya. Jadi jika Allah menghendaki, maka pasti itu akan terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Untuk memahami tentang sifat Allah dan bagaimana menjalaninya, orang membutuhkan iman dan hati yang kuat untuk percaya pada Tuhan yang memerintahkan segalanya karena banyak orang berpikir negatif tentang nasib Allah.
Ketika Allah menguji mereka dengan kemalangan, mereka menganggapnya sebagai kerugian. Namun, banyak orang juga beranggapan bahwa Allah telah memihak mereka ketika Allah menyukai mereka dengan dana berlimpah. Allah telah menjelaskannya dengan jelas dalam surah Al-Qur’annya:
Padahal, Allah telah menentang prasangka manusia seperti yang ditunjukkan dalam surat Al Baqarah ayat 216:
Kehadiran atau keberangkatan harus menjadi bagian dari kisah hidup manusia yang tak terhindarkan. Allah adalah satu-satunya yang menghendaki semua yang terjadi. Melalui tes, itu dapat menunjukkan kualitas iman manusia kepada Tuhannya. Apakah dia mampu melewati setiap ujian dengan kesabaran dan ketulusan juga mempercayai Tuhannya untuk semua yang terjadi? Atau apakah dia hanya kembali ke sifatnya sebagai makhluk yang selalu putus asa dan mengeluh?
Ada banyak kebijaksanaan yang bisa diambil dari memahami lafadz istirja ‘. Lafadz ini tidak hanya diungkapkan ketika seseorang menghadapi musibah, tetapi juga bisa menjadi media untuk memohon bantuan Tuhan. Karena, ketika kita percaya bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya, tidak akan ada lagi rasa takut akan kehilangan daripada rasa takut kepada Allah. Oleh karena itu, tentu saja, keyakinan seorang pria yang percaya bahwa Allah adalah satu-satunya yang diandalkan telah tercermin dengan baik.
Menurut sifat kepemilikan, pemahaman yang sempurna tentang lafadz istirja ‘menyebabkan seseorang menjadi lebih tulus dalam mengambil segala sesuatu yang menjadi miliknya dan lebih sabar dalam menghadapi kehilangan sesuatu yang telah diambil darinya. Menjadi lebih mudah untuk melewati setiap ujian pahit dengan ketulusan dan kesabarannya.
Biasanya, tidak mudah bagi seseorang untuk benar-benar tulus dan sabar ketika Tuhan menguji dia dengan kehilangan. Entah kehilangan beberapa anggota keluarga, properti, posisi, kesehatan, dan sebagainya. Itu adalah sifat manusia, setelah melihat semua yang melekat pada mereka adalah milik-Nya.
Namun, ketika seseorang beriman kepada ayat Allah dalam Al-Qur’an yang menyatakan bahwa segala sesuatu hanya milik Allah telah mengalahkannya, maka itu juga kecenderungan untuk memiliki sesuatu yang perlahan-lahan terpisah darinya. Iman telah menghancurkan kekerasan hati dalam memiliki sesuatu yang tidak pernah ia miliki.
Ketika hati seseorang telah tumbuh iman murni pada Allah, maka hati akan tergerak untuk menyerah dan menaruh kepercayaan mereka hanya pada Allah. Sudah sepantasnya umat manusia menaruh kepercayaan pada Rabb-nya, karena tidak ada yang bisa disembah selain Allah. Dalam surah Hud ayat 123, Allah berfirman:
Dalam surah Al-Quran Hud ayat 123 yang disebutkan di atas, Allahlah yang akan melakukan apa saja yang terjadi di dunia ini. Hidup dan mati, awal dan akhir, pertemuan dan pemisahan, kebahagiaan dan kesedihan adalah sepasang sifat yang datang bergantian. Baik yang pertama maupun yang kedua adalah pelajaran yang sama-sama berharga bagi manusia untuk selalu melakukan introspeksi terhadap diri mereka sepanjang hidupnya.
Manusia hanya dalam dimensi berjuang melewati setiap tahap kehidupan, sambil mengandalkan dan tetap baik pada apa yang diinginkan Tuhan. Tuhan tidak pernah mau melukai makhluk-Nya. Tetapi ketika mereka berpikir bahwa sesuatu yang terjadi padanya adalah kerugian, itu terjadi karena tindakan mereka.
Karena itu, marilah kita selalu meminta maaf kepada Allah kapan pun dan di mana pun kita berada. Karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan ingin mengambil kembali jiwa yang sekarang melekat pada tubuh kita.

Tulisan Innalillahiwainnailaihirojiun yang Benar

إنّا لله وإنّا إليه راجعون

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun

Arti Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun

Arti Innalillahiwainnailaihirojiun kalimah tarji

Adapun arti kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun sendiri adalah;

“Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jualah kami kembali.”

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun di Dalam Al-Quran

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun di Dalam Al-Quran

Bila Anda menghafal Surat Al Baqarah, tentu ketika Anda sampai ke ayat 156, Anda akan menemukan ayat yang bunyinya Innalillahiwainnailaihirojiun. Itulah dasar ayat yang dijadikan pedoman ummat Islam mengenai anjuran diperintahkannya mengucpkan kalimat tarji ketika mendapat musibah.

Adapun arti lengkapnya sebagai berikut:

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan; Innalillahiwainnailaihirojiun”(Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah, dan kepada Allah jualah kami kembali). (Al Baqaarah 2: 156).

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun di Dalam Hadits

Kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun di hadits

Selanjutnya, kita akan membahas kalimat laailaahaillallah dari segi hadits.

Pada dasarnya, ketika ada ayat dalam Al Quran, ayat tersebut diperjelas lagi dengan keterangan hadits. Melalui hadits, kita dapat mengetahui kronologi bagaimana terjadinya sebuah ajuran atau perintah Allah kepada manusia.

Singkatnya dengan mengkaji hadits yang berkaitan dengan isi kandungan Al Quran, kita akan mengetahui asbabun nuzul diturunkannya ayat Al Quran.

Berkaitan dengan kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun, diriwayatkan oleh Äli bin Al Husain, dari kakeknya Rosululullah Saw, Ia bersabda;

“Tidaklah seorang Muslim tertimpa musibah, lalu ia mengenangnya dan mengucapkan kalimt istirja’ (Innalillahiwainnailaihirojiun) melainkan Allah akan memberinya pahala sebanding hari ia tertimpa musibah” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Kitab Al Bidayah wan Nihayah, 8:221 oleh Ibnu Katsir).

Bentuk-bentuk Musibah dan kaitannya dengan kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun

Sebenarnya, Anda bergerak atau diam itu sama-sama ujian. Bila Anda bergerak, Anda bisa dikatakan menjemput ujian. Orang seperti ini biasanya menganggap bahwa ujian itu memang sudah pasti ada bagiannya masing-masing.

Orang yang bergerak juga akan menganggap bahwa ujian itu sebagai pemantik untuk mendewasakan keimanan. Dengan ujian, diri sadar bahwa sebenarnya hidup itu penuh perjuangan. Umur itu soal nomer, menjalani hidup totalitas itu sampai akhir hayat.

Begitu juga sebaliknya. Bagi orang yang diam, kadang mereka mengira bahwa dengan diam tidak akan mendapat cobaan. Padahal sama saja. Diam pun sebenarnya ujian.

Sayangnya, cukup disayangkan bila seseorang memilih diam. Sebab, diam merupakan cerminan orang yang kurang berani mengambil keputusan. Dengan diam, Anda akan stagnan berada di titik itu.

So, bergeraklah terus sampai Anda menemukan kebenaran.

Kaitannya dengan musibah tentu saja ada pada sebuah takdir. Mulai musibah yang kecil (sughro) sampai musibah yang besar (kubro) semua sudah digariskan.

Adapun musibah-musibah yang kecil seperti Anda tersandung, Anda kehilangan sisir Anda, atau ketika Anda lupa menaruh barang sebenarnya hal tersebut bisa Anda ucapkan kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun.

Begitu pula musibah yang bisa masuk tergolong kecil namun terasa musibah besar seperti wafatnya seseorang atau terjadinya bencana alam gunung meletus, kebakaran, banjir dan lain sebagainya; Anda perlu mengucapkan Innalillahiwainnailaihirojiun sebagai tanda takwa dan cinta kepada sunnah Nabi Muhammad Saw.

Oleh sebab itu, meskipun bentuk-bentuk ujian datang silih berganti, percayalah bahwa sebenarnya hal tersebut merupakan kasih sayang Allah.

Ya, Allah hendak menguji siapa di antara hamba-hamba-Nya yang benar sabar dan bersungguh-sungguh dalam hal keimanan.

So, dengan adanya berbagai musibah yang datang silih berganti menerpa diri; satu contoh kisah terbaik di dalam Al Quran yang dicontohkan Nabi Zakaria dalam doa yang lebut nan indah:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.

Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia ya Tuhanku seorang yang diridhai.” (Maryam: 4)

Hikmah Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun

 

Banyak hikmah yang bisa kita petik dari kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun. Sebenarnya, ketika kita mendapat musibah dan Allah mengajarkan kita untuk mengucapkan Innalillahiwainnailaihirojiun adalah bukti bahwa kita sedang dibimbing Allah.

Allah membimbing kita melalui kalimat Innalillahiwainnailaihirojiun yang akan mentalqin, mengingatkan kembali bahwa sebenarnya semua itu milik Allah dan semua akan kembali kepada Allah.

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun inijuga memberikan kita arahan bahwa hendaknya dalam menjalani hidup kita senantiasa mendahulukan Allah; tauhid di atas segala-galanya.

Dengan demikian, ketika kita mendapat musibah atau masalah kita benar-benar mengembalikannya kepada Allah. Kenanglah bahwa Allah sangat merindui hamba-hamba-Nya agar meminta kepada-Nya. Dan, Allah juga malu bila tak mengabulkan doa hamba-hambanya. Maka dari itu teruslah meminta dan sandarkan hanya kepada-Nya.

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun juga mengajarkan kita bahwa selaku hamba-Nya hendaknya tidak sedih berlarut-larut ketika mendapatkan musibah. Tetap bersabar dan berprasangka baik kepada Allah.

Salah satu contoh ujian yang terberat adalah kehilangan orang yang kita sayangi, terlebih kedua orang tua. Ketika kita kehilangan mereka, hendaknya kesedihan jangan berlarut hingga menangis meraung-raung. Bersabarlah, ingatlah bahwa kedua orang tua kita sudah maksimal menjalani hidup; Ia pasti akan ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi-Nya.

Tugas sebagai seorang anak adalah menjadikan diri sesoleh mungkin agar bisa menjadi secuil syafaat nanti di alam sana. Ya, salah satu amal jariyah bagi kedua orang tua adalah doa anak yang soleh. So, tak perlu bersedih lagi sebab masih ada ikhtiar doa untuk bisa berkumpul kembali.

Talqin kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun juga mengajarkan kita bahwa hendaknya hidup di dunia jangan panjang angan-angan. Tentu saja panjang angan-angan yang direncanakan setan.

Kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun mengajarkan kita untuk senantiasa mengingat bahwa diri nantinya juga akan kembali kepada Yang Esa. Dengan banyak mengingat yang demikian, seseorang akan lebih berhati-hati dan senantiasa berusaha untuk melakukan amal kebajikan. Benarlah, bahwa kalimah Innalillahiwainnailaihirojiun adalah kalimah yang mencerdaskan.

Terakhir, mari kita simak surat cinta dari Allah untuk hamba-hamba-Nya;

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan kebaikan yang dikerjakan secara terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al Kahfi 46).

Contoh Kumpulan Teks Khutbah Idul Adha Terbaru Para Akademisi

Contoh Kumpulan Teks Khutbah Idul Adha Terbaru Para Akademisi

Pengertian Idul Adha

Islam mempunyai dua hari raya. Pertama adalah hari raya Idul Fitri, kedua adalah hari raya Idul Qurban, atau yang sering disebut-sebut sebagai hari raya Idul Adha.

Setelah kemarin kit bertakbir dalam rangka hari raya Idul Fitri, maka 70 hari setelahnya yakni pada tangga; 10 bulan Dzulhijjah, ummat Muslim akan kembali bertakbir untuk mengagungkan asma Allah dalam rangka memperingati hari raya Idul Adha.

Nah, bagi sahabat academic, tahukah apa pengertian Idul Adha itu? Di karya tulis ini akan kami sajikan beberapa contoh teks khutbah Idul Adha yang tergologng masih belum lama. Ya, teks tersebut pernah disampaikan kurang lebih 5 tahun yang lalu. Namun ada juga versi lama, selamat membaca!

Pidato Khutbah Idul Adha
kabarmakkah.com

Hari raya Idul Adha adalah hari raya yang jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Di waktu hari raya, seluruh ummat Islam dianjurkan untuk melaksanakan sholat Id dua rakaat. Adapun sholat Id diutamakan di tanah lapang yang luas agar ikatan persaudaraan menjadi saling sapa dan menjadi syiar yang besar.

Di hari raya Idul Adha, terdapat istilah Idul Qurban. Sebuah istilah yang mengingatkan kita mengenai kisah Nabi Ibrahim, Ismail dan ibundanya Siti Hajar. Selain Idul Qurban, hari raya Idul Adha juga sering disebut sebagai hari raya Haji sebab kala itu banyak jamaah Haji yang melakukan ibadah di Rumah Allah Makkah Al Mukarromah.

Maka tak heran bila kadang kita mendengar ada sanak saudara kita yang ketika Hari Raya Id sedang melaksanakan ibadah haji. Adapun seseorang yang belum mampu melaksanakan ibadah haji bisa diganti dengan melaksanakan ibadah qurban berupa hewan ternak. Semata-mata hewan qurban tersebut diniatkan untuk ingin dekat kepada Allah Swt.

Arti Idul Adha Menurut Bahasa

Secara terminologi, Idul Adha mempunyai dua arti, yakni arti qurban yang dirujuk dari bahasa Arab Qarib. Yaknisebuah penjelasan yang memaparkan bahwa Idul Adha adalah hari penyembelihan hewan qurban dalam rangka beruapaya mendekatkan diri kepada Allah.

Arti kedua, arti qurban mengarah pada udhhuyah, atau yang biasa dikatakan dhahiyyah yang bermaksud hewan sembelihan. Arti ini menyimpulkan bahwa hari raya Idul Adha adalah hari raya bagi ummat Islam yang dalam peringatannya dengan penyembelihan dalam rangka untuk kesalehan sosial.

Makna Idul Adha

Ada dua makna yang penulis akan ungkapkan terkait Idul Adha:

  1. Kesalihan Individu

Kesalihan individu adalah kesalihan yang dirancang untuk diri sendiri. Dalam hal ini tentu saja terkait hubungan vertical kepada Allah Swt. Dengan adanya kesalehan individu ini, manusia akan utuh dari dalam dan siap untuk mengabdi demi agama dan bangsa di lingkup sosial.

  1. Kesalihan Sosial

Makna yang kedua dari perayaan hari raya Idul Adha adalah pentingnya mengenai kesalihan sosial. Kesalihan sosial adalah hubungan horizontal yang berkaitan dengan hubungan persaudaraan baik sesame manusia ataupun secara umum sebagai khalifah di muka bumi kepada binatang dan tumbuhan.

Kesimpulannya, Islam sungguh telah sempurna mengajarkan keapda manusia mengenai dua hal yakni hubungan antara manusia dengan habluminallah dengan manusia berinteraksi dengan habluminannas.

Maka dari itu, sebagai Muslim hendaknya ada keseimbangan antara pencapaian dunia dan akhiratnya. Di sinilah indahnya Islam dalam hari raya Idul Qurban, tak hanya berkurban untuk Allah sang Penguasa Alam, namun juga berkorban untuk sesame manusia demi kemaslahan hidup sesuai fitrah suci manusia.

 

KHUTBAH IDUL ADHA TERBARU

MEMBANGUN KARAKTER UNTUK MENUMBUHKAN SIKAP RELA BERKORBAN DEMI KEMANUSIAAN*

Oleh: Drs. H. Muhammad Yusuf, MSI.

 

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الله أكبر 7×

اللهُ اَكْبَرُ كَبِيْراً وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَإلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ اَكْبَرُ وِللهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الأُمَم، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلاَلِ وَاْلإِكْراَمِ.

أَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

الَلَّهُمَّ صَلِّ وَاُسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِناَ المُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ

وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعاَ اِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجاَهَدَ فِيْ اللهِ حَقَّ جِهاَدِهِ.

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ!

Allahu Akbar 3x Wa Lillahil Hamd

Kaum Muslim yang berbahagia rahimakumullah,

Engkau Maha Besar, Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagiMu, dan segala bentuk  pujian hanya MilikMu.

Kita bersyukur, hari ini kita bersama-sama umat Islam di seluruh dunia telah disatukan dan digerakkan hati kita oleh kekuatan Tauhid dan rasa taat kita kepada Allah SWT agar kita menjadi sadar bahwa umat Islam hakikatnya adalah satu umat.

Sebagaimana sebagian saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji saat ini sedang menunaikan prosesi Wukuf di Padang Arafah, tempat yang disucikan dan dimuliakan oleh Allah Swt. Mereka menunaikan ibadah haji, bukan sebagai bangsa Arab, Timur Tengah, Afrika, Eropa, Amerika, Australia maupun Asia.

Kita bersama-sama umat Islam yang ada seantero dunia ini merayakan hari Agung dan suci ini karena diikat oleh satu ikatan Aqidah Islamiyyah, satu keyakinan, satu kepercayaan dan satu Tuhan yang kita sembah, yakni kepada Allah SWT semata dan segala yang telah disyariatkanNya kepada umat Islam. Sebagaimana keyakinan dan ketaatan sempurna yang dimiliki dan dicontohkan oleh nabi Ibrahim dan Ismail alaihimassalam.

Merayakan Idul Adha atau Hari Raya Qurban sesungguhnya kita  mengenang perjalanan sejarah seorang utusan Allah, yang sarat dengan peristiwa kemanusiaan dan sejarah kenabian seorang yang terjadi lebih dari 4000 tahun yang lalu, sekaligus menggali dan berusaha meneladani nilai-nilai keagamaan, pengorbanan dalam memikul amanah, kesalehan, ketulusan, kesabaran dan keteguhan hati yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim as.

Semata-mata demi untuk meraih kehidupan yang berkualitas dan rasa tunduknya kepada Allah SWT dan sekaligus. Nilai-nilai yang sangat berarti bagi kehidupan sosial, berbangsa dan beragama, yang sangat diperlukan bagi umat Islam dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dengan ditandai gerak cepat perubahan masyarakat dan dinamika kehidupan di era modern, lebih-lebih bagi bangsa kita Indonesia yang saat ini sedang mengalami tantangan dan ujian yang sangat berat.

Dari peristiwa sejarah ini pula kita berharap mampu menggugah kesadaran kita, tertanam nilai-nilai dan esensial ajaran, sekaligus untuk berusaha meneladani kepribadian, mentalitas, kecerdasan emosi, kualitas keimanan, dan kedekatannya dengan Allah.

Sudah barang tentu kesempurnaan kepribadian ini sangat kita rindukan dan kita idamkan, di saat bangsa kita sedang dilanda krisis dan problema dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama, mulai dari persoalan korupsi yang episodenya semakin panjang, mafia peradilan dan hukum yang kompleks, memudarnya citra para pemimpin negeri ini, merosotnya wibawa supremasi hukum, teraniayanya para TKW-TKI negeri orang yang makmur dan kaya raya.

Kasus-kasus penjualan bayi, anak-anak dan wanita, terusiknya wilayah NKRI oleh negeri  jiran, maraknya “perang” saudara antar warga masyarakat secara hoprizontal, rakyat dengan aparat secara vertikal, penjahat yang semakin nekad, pembunuhan secara mutilasi dan beranting, perbuatan anarkhi di beberapa wilayah nusantara, terganggunya keamanan dan kedamaian oleh bom para teroris. La Quwwata illallah. Apa makna di balik ini semua?

 

Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Jika kita cermati secara seksama situasi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam, dari waktu ke waktu mengalami rasa ketidakpastian dan shock terhadap perubahan yang terjadi, seiring dengan kemajuan sains, ilmu pengetahuan dan teknologi informasi lebih-lebih media, cetak maupun elektronika yang mengalami euforia publikasi, karena alasan demokratisasi kebebasan pers.

Sehingga sangat berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku kita sehari-hari, termasuk perbuatan yang cela dan tak terpuji, bahkan semakin banyaknya perbuatan yang terjerumus dalam lembah maksiyat dan kubangan dosa, baik itu dosa kecil sampai dosa besar.

Bukti yang paling konkret adalah semakin merebaknya penyakit masyarakat, pelanggaran hukum, praktik-praktik penyimpangan seksual, arogansi para penguasa, pelanggaraan norma-norma, perbuatan kriminal, hilangnya rasa malu, aksi-aksi anarkhi atas nama agama, dan tergerusnya nilai-nilai etika dan sopan-santun.

Sungguh sangat memprihatinkan, padahal dulu kita dikenal dan dinilai sebagai bangsa yang agamis dan dikenal oleh pihak dan bangsa lain sebagai bangsa yang santun, ramah dan menghormati adab kesopanan dan disegani oleh bangsa lain.

Mungkin, pasca reformasi sejak akhir awal tahun 1998 hingga sampai saat ini, semakin meningkat intensitas dan kualitasnya disebabkan oleh berbagai faktor kehidupan,  yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung.

Di sisi lain, saudara-saudara kita banyak mengalami musibah yang bertubi-tubi, yang pada gilirannya mereka menjadi rentan terhadap godaan-godaan dan gangguan psikologis yang bisa berakibat merugikan bahkan bisa fatal dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.

Meskipun demikian, sebagai kaum muslimin yang memiliki akidah kepada Sang Maha Pencipta, kitab suci tuntunan umat manusia, syariat yang humanis, suri tauladan, tentu bisa lebih arif dan bijak mensikapi perubahan tersebut.

Kita tidak boleh larut dan terlena, apalagi ikut terperosok, sehingga lupa kewajiban menjalankan segala perintah, tidak patuh dan taat kepada Allah dan RasulNya, sehingga menjadi umat yang ingkar terhadap nikmat Allah dan tidak pandai bersyukur. Naudzubillah min dzalik wa Lillah al-Hamd.

Rasulullah saw. sejak 14 abad yang silam telah memberikan isyarat peringatan (warning) melalui sebuah sabdanya, beliau mengungkapkan:

«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا، فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ، قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ، فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»  (H.R. Ahmad dan at-Tirmidzi)

“Hampir-hampir saja para umat itu mengerumuni kamu semua sebagaimana mereka mengerumi makanan di atas nampan. Ada yang bertanya, ‘Apakah karena jumlah kita yang saat itu memang sedikit?’ Baginda Nabi menjawab, ‘Tidak. Justru kalian ketika itu jumlahnya banyak, tetapi kalian laksana buih yang diombang-ambingkan oleh gelombang. Allah benar-benar akan mencabut dari dada-dada musuh kalian perasaan segan terhadap diri kalian. Dan Allah benar-benar akan menancapkan ke dalam hati kalian “al-wahn”. Di antara mereka ada yang bertanya: “Apakah al-wahn itu, wahai Rasulullah”? Beliau menjawab, ‘Mencintai dunia, dan takut akan kematian.’

Orang-orang sekarang banyak yang terjangkit penyakit al-wahn ini, sehingga bangsa kita yang besar ini mulai kehilangan wibawa dan buruk citra di mata dunia, padahal mayoritas beragama Islam.

Berbeda jauh dengan generasi awal Islam, masa Nabi dan Sahabat, yang berbekal dengan pengetahuan agama (al-Ulum ad-Diniyyah), berperilaku mulia (al-Akhlaq al-Karimah), diikat oleh persaudaraan (al-Ukhuwwah al-Islamiyyah), mampu menunjukkan prestasi gemilang dan sukses besar untuk kemaslahatan umat manusia, sehingga kewibawaan dan rasa enggan oleh bangsa lain, dan disegani oleh umat yang lain.

Suatu ketika Khalid bin Walid salah seorang sahabat Nabi, yang pemberani pernah memotivasi pasukannya Hurmuz dengan ucapannya:

« أَسْلِمْ تَسْلَمْ،… فَقَدْ جِئْتُكَ بِقَوْمٍ يُحِبُّوْنَ الْمَوْتَ كَماَ تُحِبُّوْنَ الْحَيَاةَ»

“ … masuk Islamlah kamu, maka kamu pun akan selamat… Aku sungguh telah datangkan kepadamu suatu kaum yang mencintai kematian, sebagaimana kalian mencintai kehidupan.”

Spirit mereka adalah kesediaan mereka untuk berkorban untuk kepentingan yang lebih jauh dan lebih penting dan dalam waktu yang tak terbatas. Pengorbanan itulah begitu mendalam tertanam dalam jiwa, sampai-sampai bisa menikmati kematian, sebagaimana orang-orang kafir menikmati kehidupan.

Kita tidak akan memperoleh kebahagiaan dan kesuksesan dalam kehidupan dunia ini dan di akhirat nanti, kecuali jika kita bersedia untuk mengorbankan apa yang kita cintai. Nabi Ibrahim as dengan ujian Allah yang sangat berat telah berhasil mencapainya sehingga mendapat predikat Khalilullah (kekasih Allah), karena telah merelakan dan pasrah mengorbankan sesuatu yang sangat dicintai, yakni anaknya Ismail.

Hal ini dijalankan karena semata-mata ketaatannya melaksanakan perintah Allah swt. untuk menggapi ridhaNya. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an:

Artinya:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.  (QS. Alu Imran, 3:92).

            Islam tidak pernah melarang mencari kehidupan duniawi selama tidak berlebih-lebihan, tetapi Islam juga mengajarkan secara serius bahwa kehidupan akhirat itu jauh lebih penting dan lebih memberikan kesenangan yang hakiki.

Setiap langkah kehidupan kita memerlukan pengorbanan, raga, biaya, tenaga, pikiran bahwa terkadang nyawa sekalipun untuk mencapai suatu kebaikan dan untuk mencari ridla Allah. Memang, kita sering salah persepsi terhadap kehidupan dunia dan samar-samar pandangan kita tentang kehidupan akhirat.

Allah SWT mengajari kita secara bijak kepada kita, umat Muhammad melalui firmanNya:

.. bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal sebenarnya ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal sessungguhnya ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.(QS. al-Baqarah, 2:216)

Oleh karenanya, di dalam menghadapi ujian kehidupan dunia ini, kita harus jeli dan teliti dalam menentukan pilihan dan memutuskan sesuatu, karena jangan sampai hamba Allah menjalankan kehidupan ini tidak mempertimbangkan aturan dan syariatNya, serta menyerahkan diri kepada Allah swt, sebagaimana yang dicontohkan nabi Ibrahim ketika diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri.

Berbeda dengan orang –orang yang tidak pandai bersyukur dan tidak memiliki keyakinan atas janji-janji Allah swt, mereka mudah goncang jiwanya, sehingga mengakibatkan putus asa, frustasi, shock, depresi, stress, bahkan menjadi hilang akal/gila.

Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd

Saat ini jumlah penduduk dunia sebanyak 7 milyard, dan bangsa Indonesia termasuk 5 besar berpenduduk mayoritas. Sudah barang tentu banyak persoalan yang muncul untuk memenuhi kebutuhan hidup dan tuntutan kesejahteraan.

Membangun manusia, tidak cukup dengan pendekatan  materi dan fasilitas fisik semata tanpa menyentuh dimensi-dimensi non-fisik, karena manusia tidak hanya terdiri dari unsur kasar, yakni darah, daging dan tulang, yang merupakan dimensi fisik.

Ada dimensi  lain, yakni ruh dan spiritual yang justru harus mendapat perhatian lebih ketimbang dimensi  fisik. Terbangunnya fisik akan melahirkan manusia robotik bersifat mekanistis yang tidak membutuhkan spiritual-ruhaniah.

Bukankah kita bisa hidup karena Ruh Allah yang ditiupkan ke dalam tubuh kita sebagai titipan suci untuk mengemban amanatNya sebagai Khalifatullah fil Ardh ? Maka, sudah seharusnya kehidupan seorang hamba selalu bertumpu pada jalan kehidupan yang telah digariskan oleh Sang Khaliq, “Shirathal Mustaqim”, “Sabilillah”, “Sabilul Huda”, “Sabilul Haqq” (Jalan yang Lurus, Jalan menuju Petunjuk yang Benar).

Jama’ah yang berbahagia, Jejak kehidupan Ibrahim dan Ismail as, adalah figur manusia dan hamba Allah yang sempurna, taat dan tunduk kepada Sang Maha Pencipta dengan melakukan pembebasan diri dari belenggu berhala materi dan sistem peribadatan yang syirik. Ketundukan dan keikhlasan mereka mengalahkan kekuatan egoisme dan hegemoni materialistik demi  meraih ridha Ilahi.

Manusia modern terjebak dalam permainan duniawi yang penuh rekayasa teknologi dan analisis matematik dengan memutarbalikkan logika dengan menanggalkan dimensi kebenaran dan kemaslahatan, seolah menghasilkan kebenaran.

Kaum Muslim rahimakumullah:

Kisah nyata yang sangat dramatis Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail —’alaihima as-salam— dihadirkan oleh Allah kepada kita untuk menjadi pelajaran dan teladan dalam kehidupan kita (‘Ibrah wa Uswah Hasanah), ketataan keyakinan, kepatuhan dan kepasrahan yang sempurna (muslim yang mukmin) dari seorang utusan Nabi Ibrahim dan Ismail kepada Tuhannya.

Sehingga hati mereka tertanam jiwa yang ikhlas dan terbuka untuk menyampaikan dan menjalankan kebenaran Allah dengan jalan melakukan pengorbanan yang besar terhadap kepemilikan yang tak ternilai harganya.

Ibrahim dengan sepenuh hati menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putra semata wayangnya,  Ismail, ia pun dengan rela dan pasrah, tanpa keberatan sedikit pun, bersedia disembelih oleh ayaha kandungnya tercinta.

Semua ini dilakukan semata-mata untuk membuktikan ketaatan mereka kepada Allah SWT. Mengorbankan sesuatu yang dicintainya bukanlah perkara mudah dan sulit dimengerti, bahkan kadang tidak masuk di akal (irrasional). Hanya kekuatan di balik itu semua yang mampu menjelaskannya. Allahu Akbar ‘Alimul Ghaybi wa asy-Syahadah.

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita dihadapkan berbagai kondisi dan situasi yang memaksa dan menuntut kita untuk melakukan pengorbanan, mulai dari hal-hal yang kecil sampai pada hal-hal yang sangat penting.

Banyak kejadian dalam lima tahun terakhir di Negara kita Indonesia yang kita cintai ini, mungkin tidak seluruhnya bisa kita rekam, karena terlalu banyaknya peristiwa-peristiwa alam dan dalam sandiwara kehidupan yang terjadi dan menuntut pengorbanan.

Belum lupa dalam memory kita, bagaimana dahsyatnya gelombang Tsunami di Aceh, Gempa Bumi 27 Mei 2006 di Bantul, Gempa bumi di Sumatera Barat, Tsunami di beberapa tempat Pangandaran, Cilacap, Angin Putting Beliung, tanah longsor di Wasior, menyusul Badai Tsunami di Mentawai, dan kemudian Aktivitas gunung Merapi.  Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd.

Sebagai manusia, sering melihat peristiwa alam hanya dilihat dari sisi kerugian materi dan bersifat kemanusiaan saja. Tetapi yang sering dilupakan adalah aspek Teologis (Ketuhanan), sebab dalam ajaran al-Qur’an Tuhan, manusia dan alam merupakan hubungan relasional yang bisa menyatu dan harmoni.

Karena, pada hakikatnya alam tidak bertindak sendiri tanpa sebab atau tanpa ada yang mengendalikan. Bahwa seluruh ciptaan Allah yang memenuhi alam raya ini, pada hakikatnya tunduk pada hukum alam dan hukum Allah (Sunnatullah).

Termasuk ketundukan Nabiyullah Ibrahim dan Isma’il ketika menjalankan perintah Allah melalui media mimpi yang benar. Jika demikian halnya, maka akan mendatangkan manfaat dan hikmah yang besar dan bermakna bagi kehidupan dan keseimbangan antara manusia dan alam.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah, bagaimana upaya kita untuk mampu menangkap isyarat-isyarat ilahiyah dibalik semua peristiwa, agar kita mampu mengungkap kebenaran Sang Maha Pencipta dan bisa mengambil pelajaran berharga dari ayat-ayat Allah tersebut agar setiap hamba Allah tidak mengalami kerugian ganda (materi dan keyakinan).

Kerugian harta benda dan jiwa bukan semakin menjaga jarak dan menjauhkan diri dari kemahakuasaan dan keadilan Allah. Justru dibalik itu semua ada ujian keimanan dan Allah akan melihat siapa di antara hamba-hambaNya yang lulus daalam ujian ini.

Kaum Muslim rahimakumullah:

Jika pada yaum Nahr (hari berkurban) ini, menyembelih hewan kurban di tanah suci bagi jamaah haji, pahalanya oleh Allah dihitung sebanyak tiap helai bulunya, maka bagaimana dengan pengorbanan total yang kita berikan kepada Allah sebagai manifestasi dari ketaatan kita dalam perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam dalam kehidupan sehari-hari?

Jika hari ini, jamaah haji yang tengah mengenakan pakaian ihram harus rela menahan sengatan panas matahari, sejak di Arafah, Muzdalifah sampai ke Mina, dengan keringat dan bau badan yang mengalir dari tubuh mereka, dan terhadap semuanya itu mereka dilarang untuk menutup kepala dan memakai wangi-wangian, karena kelak Allah akan membangkitkan mereka sebagai orang yang memenuhi panggilan-Nya.

Waktunya dihabiskan di perjalanan, hartanya pun habis dibelanjakan di jalan Allah, tentu mereka akan mendapatkan kemuliaan yang jauh luar biasa. Karena mereka bukan hanya menjalankan ketaatan untuk diri mereka sendiri, sebagaimana jamaah haji, tetapi ketaatan yang juga bisa ditebarkan kepada orang lain. Allahu Akbar 3x.

Inilah hasil dari pengorbanan yang lahir dari ketaatan, ketakwaan dan pandangan jauh ke akhirat itu. Orang-orang yang taat ketika dipanggil oleh Allah, mereka pun menjawab:

                         «لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ»

”Hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Ya Allah, hamba datang memenuhi panggilan-Mu. Hamba datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”

Allahu Akbar 3x wa Lillahil hamd

Kaum Muslim rahimakumullah:

Justru ketika Nabi telah menitahkan dalam Haji Wada’:

«فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ»

”Sesungguhnya darah kalian, harta dan kehormatan kalian adalah merupakan kemuliaan bagi kalian, sebagaimana kemuliaan hari ini, di bulan ini dan di negeri ini.”

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd

Kaum Muslim rahimakumullah,

Sementara kita, saat ini sedang menghadapi problem kehidupan yang bervariasi, berbagai cara manusia menempuh agar keluar dari problema tersebut. Dalam realitanya, sebagian kita tidak takut lagi melakukan perbuatan melanggar hukum, perbuatan dosa, bahkan pelanggaran terhadap agama. Padahal al-Qur’an mengingatkan kita, bahwa maksiyat itu akan mendorong munculnya cobaan dan fitnah, yang akan mendera setiap orang tanpa kecuali Allah berfirman:

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَآصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

”Takutlah kalian terhadap datangnya cobaan/fitnah yang tidak hanya akan menimpa orang yang zalim di antara kalian saja. Ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Keras balasan-Nya.” (QS. al-Anfal [08]: 25)

Allahu Akbar 3x wa Lillahil Hamd

Kaum Muslim Yang Dimulyakan Allah,

Padahal Allah telah menjadikan kita umat paling mulia dan umat terbaik. Lalu di manakah letak kemuliaan dan kebaikan kita sekarang?

Tidak ada lagi solusi lain dalam menjawab tantangan dan cobaan hidup, kecuali dengan kembali kepada ruh dan ajaran Islam secara konsekuen, konsisten dan kaaffah. Itulah yang menjadi penentu kemuliaan kita, sebagiamana dahulu Rasulullah saw. dan para sahabatnya —radhiyallahu ‘anhum— telah meraihnya.

Akhirnya, marilah kita berdoa semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan karuniaNya, sehingga kita mampu tetap bersabar dan tabah, sehingga kita tetap mampu menjalani kehidupan ini selalu dalam ketaatan dan kepatuhan menjalankan kehendak Allah SWT. Amin…

Innallaha wa Malaikatahu Yushalluna ‘alan Nabiy Ya Ayyuha-lladzina Amanu Shallu ‘alaihi wa Sallimu Taslima, warhamna ma’ahum birahmatika Ya Arhamar Rahimin.

أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ،  

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا      أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم دُعَائَنَا إِنَّكَ

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذ نوبنا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

Allahumma nawwir qulubana binuril ilmi, wahdina bi Hidayatil Qur’an, wa Tsabbit Imanana bikalimatikal Haqq ats-Tsabit “Asyhadu an La Ilaha Illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”.

Allahumma Sallimna minal ‘Afati wa mashaibid Dunya wa fitnati Adzabil Akhirah, Innaka ‘ala Kulli Sya’in Qadir Ya Aziz Ya Karim, Ya Rabbal ‘Alamin.

Allahumma Najjina min Qaumil Musyrikin, wa Najjina minal Qaumil Kafirin, wa Najjina min Qaumil Munafiqin, wa Najjina minal Qaumil Jahilin, La Ilaha Illa Anta ‘Alaika Tawakkalna wa Anta Rabbul Arsyil Adzim, La Haula wa La Quwwata Illa billahil ‘Aliyyil Adzim.

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْم

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، َسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

__________________________

*)  Khutbah disampaikan dalam Idul Adha di Masjid Darul Qur’an Al-Karim, Kampus Sekolah Tinggi Agama Islam masjid Syuhada’ (STAIMS) Pringgokusuman, Yogyakarta, Ahad 6 Nopember 2011/Idul Adha 1432H

 

KHUTBAH IDUL ADHA SINGKAT

“KESEDIAAN BERKORBAN SEBAGAI NILAI DASAR-DASAR UNTUK PEROLEH KEMAJUAN PERADABAN”

Oleh Prof. Dr. H. Amin Abdullah

Jamaah Salat Idul Qurban yang berbahagia

Marilah kita panjatkan puja dan puji kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan nikmat karuniaNya, kita semua yang berada disini dalam keadaan sehat wal’afiat sehingga dapat berkumpul dilapangan terbuka, untuk melaksankan salat Idul Adha, Salat sunnah hari raya qurban. Salawat dan salam kita limpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, yang membawa lentera iman, iman dan ihsan dalam kehidupan.

Pada pagi ini , titik fokus perhatian ummat Islam di seluruh dunia tertuju kepada pengorbanan seorabng Nabi, yang di jadikan teladan olrh ummat Yahudi, Nasrani dan lebih-lebih ummat Islam, yaitu Nabi Ibrahim As dan putranya Ismail As.

Nabi Ibrahim berjuang untuk menjadikan agama Tauhid, agama yang hanif, agama yang menjunjung tinggio nilai-nilai kedamaian dan nilai-nilai kemanusiaan universal sebagai pedoman hidup bagi manusia di muka bumi.

Satu perjuangan yang maha berat ditengah-tengah masyarakat polytheist yang menjunjung tinggi nilai-nlilai kebendaan materialist yang seringkali menjadi sumber kon flik yang abadi sepanjang umur manusia.

Dalam menghadapi perjuangan yang berat itu, Nabi Ibrahim hanya dapat berdoa:

“Ingatlah ketika Nabi Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah) negeri yang aman tentram-damai dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari penyembah benda-benda materi yang bersimbolkan berhala-berhala” (Q.S. Ibrahim 35)

Pada saat itu, tanah Tanah Mekkah memang tidak semakmur saat ini. Tanah disitu masih sangat gersang. Jangankan semburan minyak dari perut bumi padang pasir dan pentyulingan air laut secara besar-besaran seperti yang kita jumpai saat sekarang ini, mencari setetes air pun amat susah.

Lari-lari kecil yang disebut sa’I antara bukit Sofa dan Marwa, adalah merupakan serangkaian ibadah haji yang menggambarkan betapa susahnya Hajar, istri Nabi Ibrahim, perjunagn seorang ibu mencari setetes air untuk kelangsungan hidup anaknya, Ismail. Dalam keadaan susah payah seperti itu, Nabi Ibrahim melanjutkan doanya:

“Ya Tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku dilembah yang yang tidak mempunyai tanam-tanaman, di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan salat jadikanlah sebagian manusia cenderung kepada mereka  dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (QS. Ibrahim: 37)

Demikianlah sekelumit kilas balik sejarah perjuangan Nabi Ibrahim As dengan kota Mekkah yang masih tandus saat itu. Pada pagi hari ini, tanggal 10 Dzulhijjah, bersama-sama kita disini, tidak kurang dari dua juta orang muslim dari berbagai penjuru dunia, termasuk diantaranya adalah ratusan ribu jamaah haji Indonesia melaksanakan rukun Islam yang kelima, Ibadah haji, di Mekkah Al Mukarromah memenuhi panggilan Nabi Ibrahim As.

Jamaah Idul Adha Rokhimakumullah

Ada baiknya jika pada kesempatan yang berbahagia pagfi hari ini, kita merenungkan kembali makna dabn pesan Al Quran tentang “berkorban” bagi kehidupan masyarakat, beragama, berbangsa dan bernegara.

Menjalankan ajaran dan perintah agama dalam masyarakat kontemporer yang sangat kompleks seperti saat sekarang ini selalu memerlukan “kontekstualisasi”. Kontekstualisasi diperlukan agar pesan-pesan agama tidak kehilangan relevansi dalam kehidupanmanusia. Perintah dan Anjuran untuk melakukan kontekstualisasi bermula dari AlQuran sendiri.

Hari raya Qurban atau “Idul Adha” umumnya berkonotasi langsung dengan “hewan”  qurban. Karena aka nada daging hasil sembelihan hewan kurban yang dibagikan kepada fakir dan miskin. Hal itu penting, tetapi setelah hewan qurban  terkumpul dan disembelih, buru=-buru Al Quran mengingatkan dalam surat Al Hajj, ayat 37.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Allah, tetapi ketakwaanlah yang dapat mencapainya”

Ketakwaan adalah tujuan utama disunahkan atas manusia untuk berkurban. Ketika daging dan darah diangkat ketingkat yang lebih sublime, yang lebih tinggi, yang lebih atas, yakni”takwa”, maka terjadi proses pemuliaan niat, penataan ulang maksud hati, penjernihan tujuan.

Niat, maksud hati dan tujuan rupanya tidak bisa berangkat dari sesuatu yang hampa. Niat maksud hati dan tujuan tidak daoat dilepaskan dari “konteks”. Yaitu, konteks persoalan yang sedang dihadapi oleh seseorang secara pribadi, konteks persoalan yang sedang dihadapi oleh ummat manusia dan ummat Islam secara kelompok di antar dunia maupun di tanah air, konteks persoalan bangsa dan Negara, konteks perkenbangan ilmu pengetahuan dan begitu seterusnya.

Makna “Takwa” dalam AlQuran ternyata sangat kontekstual dan padat dengan muatan persoalan social. Ketika “taqwa” dikaitkan dengan ibadah puasa bulan Ramadan, (Al Baqarah, 183) jelas-jelas disini ketkwaan mempunyai konteks kesejarahan atau hubungan historis yang sangat erat dan kuat dengan praktik orang-orang beragama terdahulu jauh sebelum Nabi Muhammad membawa risalahnya dan membawanya.

Orang Muslim harus melakukan ibadah puasa sebagaimana orang-orang terdahulu melakukannya. Tetapi ketika makna “takwa” dikaitkan dengan anjuran untuk segera mohon ampun kepada Allah, (Ali Imran, 134) ternyata ketkwaan disini juga dikontekskan dan dikaitkan dengan kesediaan seseorang untuk melakukan tiga hal:

  • Kesediaan untuk memberikan bantuan kepada orang atau kelompok yang menghadapi kesulitan.
  • Kemampuan untuk menahan amarah
  • Kesediaan untuk member maaf kepada sesama

Dari keterangan AlQuran tersebut, jelas-jelas disebutkan adanya syarat-syarat dan kemestian-kemestian social yang harus dipertimbangkan dan dipenuhi oleh ummat Islam. Syarat-syarat social itu berlaku dimanapun manusia berada( universal).

Derajat “takwa” tidak bisa diperoleh, menurut al Quran, tanpa memperhatikan, mempedulikan dan mencermati syarat-syarat dan mematuhi hukum-hukum sosial. Dengan begitu konsep penting bahkan sangat sentral dalam agama Islam, yaitu “takwa” bukanlah konsep yang semata-mata  transedental dan ahistoris(tak terrkait dengan sejarah), lebih-lebih bukan konsep keberagamaan Islam yang anti social.

Konsep takwa bukanlah konsep agama yang anti kultur dan anti struktur seperti yang lazimnya dipahami oleh sebagian olleh ummat Islam yang mempunyai agenda tersendiri, tetapi ia sangat padat dan sensitive terhadap nilai-nilai social dan kultur.

 

Jamaah Idul adha yang berbahagia

Bagaimana memahami ulang atau melakukan kontekstualisasi makna”qurban” yang juga dikait-kaitkan dengan “takwa”? Tindakan pengorbanan Nabi Ismail memang unik dalam sejarah agama-agama.

Pengorbanan atau kesediaan untuk berkorban untuk menjalani tugas yang diberikan oleh orang lain, hal ini adalah baoaknya sendiri Nabi Ibrahim As. Setidaknya ada tiga makna yang mendasar yang terkandung dalam tindakan pengorbanan ini.

Pertama, ketaatan dan kepatuhan yang tanpa reserve terhadap anjuran, aturan, tata tertib, kesepakatan, kontrak, atau perikatan social yang telah disepakati bersama. Dalam hal ini kesepakatan antara bapak dan anak, antara pemimpin dengan yang dipimpin, antara pemerintah dan rakyat dan begitu pula sebaliknya. Ketaatan dan kepatuhan yang rasiuonal ini, dalam bahasa pergaulan dunia kontemporer disebut”disiplin” kerja.

Kedua, motivasi dari dalam diri pribadi yang  dapat membangkitkan semangat dan menghimpun tenaga yang berdaya kekuatan besar, yang dapat mengumpulkan tenaga untuk menjalan-jalankan tugas meraih cita-cita besar, luhur dan mulia. Inner driving force inilah yang sekarang disebut-sebut orang sebagai “etos” kerja.

Ketiga, kerelaan berkorban dengan tulus dari dalam (dedication), dengan tolak ukur (parameter) yang rasional, yakni adanya keinginan kuat untuk menyelesaikan tugas dengan baik-zaik dan sungguh-sungguh dan keyakinan akan adanya manfaat dan maslahat untuk kebaikan bersama. Inilah yang disebut-sebut sebagai jiwa yang rela berkorban(volunterism) untuk kebaikan social dan kesejahteraan bersama dan bukannya tindakan nekat bunuh diri seperti akhir-akhir ini yang sering diperbincangkan banyak orang(terrorism).

Ketiga nilai fundamental tersebut jelas-jelas ada dibelakang tindakan pengorbanan Nabi Ismail As yang kita peringati pada pagi hari ini. Ketiga nilai tersebut seharusnya melekat dalam jiwa seseorang jiwa muslim-muslimah, jika mereka ingin memperoleh derajat takwa seperti yang di idealkan oleh AlQuran . Ketiga nilai tersebut dapat diringkas menjadi

  • Kedisiplinan yang teguh
  • Kesungguhan untuk menyelesaikan tugas (etos kerja) dengan sebaik-baiknya
  • Kerelaan berkorban untuk kebaikan dan kemaslahatan bersama(dedication).

 

Jamaah Idul Adha yang berbahagia

Tiga Nilai  diatas sesungguhnya melapisi dan menjadi fondasi kuat bagi tumbuh berkembangnya peradaban besar bangsa-bangsa unggul di dunia. Para Nabi, para Rosul dan pemimpin-pemimpin bangsa terkemuka di dunia juga memiliki panduan-panduananyaman tiga nilai tersebut dalam gerak aktifitas mengatur tata pemerintahan memajukan ilmu pengetahuan , pendidikan sosiall, politik ekonomi, usaha kehidupan social keagamaan dan social kemasyarakatan.

Sebutlah Nabi Musa, yang kemudian menjadi pemimpin ummat Yahudi, Nabi Isa yang kemudiaan dijadikan panutan ummat Kristiani dan Nabi Muhammad yang menjadi  teladan panutan(u

swatun hasanah) ummat Islam serta semangat Konghucu dan Tao untuk Cina dan Jepang. Begitu pula pemimpin-pemimpin dunia yang mengukir sejarah peradaban manusia sejak dari abad 16 sampai  20 dan para peraih hadiah nobel perdamaian dan ilmu pengetahuan.

Mereka mempunyai disiplin yang kuat kesungguhan dan etos kerja yang tinggi, semangat berjorban yang prima, dorongan atau motivasi untuk bekerja memperbaiki keadaan yang sedang berjalan untuk memajukan peradaban ummat manusia.

Semuanya hamper-hampir di dorong oleh semangat keagamaan meskipun mereka tidak mengatakannya begitu. Istilah dedikasi, keikhlasan yang biasa digunakan untuk mengukur kinerja pimpinan pemerintahan, pimpinan masyarakat, dosen, karyawan, tak bisa dilepaskan dari contoh-contoh dan tauladan para pemimpin terdahulu di dalam melakukan darma baktinya kepada ummat, bangsa dan Negara.

Hampir seluruh perguruan tinggi umum dan universitas ternama di Negara-negara amerika utara dan eropa yang menyumbangklan jasa luar bisa untuk kemajuan bangsa dan peradaban manusia melalui  pendidikan, pengajaran, dan research, dulunya didirikan dan dimotivasi oleh etos dan semangat keagamaan.

Di Mesir di universitas Al Azhar dan Negara-negara lain tidak dapat dipisahkan dari semangat keagamaan yang sama. Dalam perjalananya yang panjang, Al Azhar pun akhirnya memasukkan ilmu-ilmu modern seperti kedokteran ke dalam kampus barunya, namun kemajuan ilmu-ilmu agamanya belum sebanding dengan kemajuan-kemajuan ilmu-ilmu lain sejenis.

Mencermati refleksi akhir tahun 2005 di berbagai media massa dan elektronik, baik nasional maupun lokal, ketika kita melihat nasib bangsa kita seperti ini, diperoleh kesan kuat bahwa justru ketiga nilai fundamental dalam kehidupan itulah yang sekarang sedang di abaikan oleh sebagian besar pemimpin bangsa Indonesia sehingga mengantarkan bangsa pada multi krisis yang tak berkesudahan.

Indonesia dengan 220 juta penduduknya, selalu menghadapi kesulitan-kesulitan baik sebelum maupun setelah era reformasi. Peringkat mutu pendidikan terus merosot tajam dibandingkan Negara-negara lain, prestasi olah raga pun ikut-ikut meluncur kebawah dengan cepat, tawuran pelajar merupakan hal yang biasa, tawuran antar RT di kota-kota besar, kekerasan dan keributan mahasiswa di berbagai kota besar.

Konflik antar pengikut agama yang berbeda di berbagai tempat, peledakan bom bunuh diri saling susul menyusul, pabrik ekstasi terbesar ketiga di dunia ada disini, kejahatan narkoba menggeroti generasi muda, pembabatan hutan, di ikuti banjir bandang di musim hujan terus berjalan tanpa kendali.

Kesemuanya adalh dampak dan akibat langsung dari rendahnya disiplin para pemimpin, lenturnya disiplin para penyelenggara Negara, lemahnya disiplin pribadi, kendornya disiplin masyarakat, keroposnya displin kelompok dan puncaknya pada hilangnya disiplin nasional.

Dengan begitu kita perlu mulai dari nol, dari sekolah-sekolah balai pendidikan. Apa yang bisa dilakukan untuk perbaikan bangsa jika tidak dimulai dari pendidikan pada setiap levelnya. Menumbuhkan kesadaran (rising awareness) tentang adanya kelemahan ini semua merupakan tugas kita semua, tak terkeculi.

Pelajaran Agama di sekolah tidak boleh hanya pada aspek ritual dan tak begitu peduli pada penegakan disiplin pribadi, disiplin social masyarakat, disiplin social beragama dan disiplin bernegara.

 

Jamaah Idul Adha yang berbahagia

Sangat terkait dengan disiplin nasional adalahbagaimana mengatasi dan mengendalikan tarikan-tarikan primodial yang beraroma egosentrik. Baik egoism kelompok, partai, egoism keilmuan yang membentang luas merintangi perjalanan panjang ke depan bangsa Indonesia.

Jika saja Nabi Ismail ingin mempertahankan hak-hak hidup individunya secara egoistis, tanpa mengenal kompromi, tanpa besar hati, dan tak bersedia mengorbankan sebagian hak-haknya untuk kepentingan yang lebih bersar, maka peristiwa yang disebut Idul Adha ini tak akan terjadi.

Peristiwa napak tilas pengorbanan umat manusia hanya dapat dimungkinkan, karena Nabi Ismail AS dapat berbsar hati, berlapang dada, bersedia dengan penuh kerelaan dan tanggung jawab untuk memberikan sebagian hak-haknya untuk kemaslahatan dan kepentingan yang lebih besar dan universal.

Perbedaan memang ada dimana-mana. Perbedaan dari segi warna kulit , ras , agam, etnisitas, usia tingkat ekonomi, tingkat pendidikan, kemampuan pribadi , pangkat dan jabatan dan begitu seterusnya.

Belum lagi perbedaan penafsiran  ajaran agama dan kepentingan politik dan ekonomi. Jika perbedaan ini tidak dipandu dengan niali-nilai  yang lebih tinggi yang dapat merengkuh dan mengayomi kehidupan bersama, maka kita dan bangsa Indonesia pada umunya akan mudah terseret dan terjebak pada tindak kekerasan(violence) dan anarkhisme akan muncul dimana-mana tanpa diketahui kapan akan berakhir.

Kerjasama antar kelompok masyarakat, tenggang rasa antar berbagai pihak, kemampuan menahan diri dan kelompok, menjaga keharmonisan social, mendahulukan kepentingan umum yang lebih besar adalah bagian upaya-upaya tak terpisahkan dari penegakan disiplin nasional.

Kekerasan social (violence) yang merebak dimana-dimana selain karena dipicu oleh ketidak adilan social dan ketimpangan struktur, namun andil masyrakat luas yang tak berdisiplin dalam membina rukun warga dan tetangga juga tidak dapat diabaikan.

 

Jamaah Idul Adha yang berbahagia

Barangkali kita yang hadir disini sepakat bahwa pendidikan adalah salah satu pilar harapan yang dapat dijadikan parameter maju mundurnya bangsa ini pada saat sekarang lebih-lebih  dimasa yang akan datang.

Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa “jika seseorang menginginkan akhirat, maka cara memperolehnya dengan ilmu pengetahuan; jika seseorang menginginkan dunia, maka cara memperolehnya juga dengan ilmu. Barangsiapa menginginkan keduanya, ia juga harus memperolehnya dengan ilmu pengetahuan”.

Peran pendidikan dalam setiap jenjangnya, dan lebih-lebih di perguruan tinggi adfalah cukup sentral. Disinilah tugas-tugasbangsa disesuaikan, dididik dan diberi bekal ilmu pengetahuan untuk memecahkan persoalan-persoalan akut dan kompkleks di depan.

Ketekunan civitas akademika para dosen dan mahasiswa untuk bersama-sama mengembangkan diri terus-menerus perlu didorong dan dikembangkan. Disini disiplin, etos kerja, etos belajar dan kesediaan berkorban ditanamkan.

Dan itu semua dimulai dari kesungguhan, keseriusan, keterpanggilan, kerelaan untuk berkorban, meluangkan waktu untuk membaca, belajar, meneliti, menulis, mengujicobakan teori, berlatih memimpin, mengisi dan mengikuti kuliah, berdiskusi, berseminar dengan sungguh-sungguh, mencintai perpustakaan, menguasai bahasa asing, menjaring kerjasama(networking) adalah bagian yang tak dapat dipisahkan dari upaya menaikkan upaya citra diri, keluarga, citra bangsa dan Negara.

Kesemuanya itu perlu etoskerja dan etos keilmuan yang tinggi ditopang kultur akademik yang kondusif. Ujung-ujungnya sekali lagi diperlukan kesediaan berkorban dan pengorbanan dari civitas akademika baik dosen, mahasiswa dan karyawan.

Mengakhiri renungan Idul Khutbah Idul Adha pagi ini, marilah kita ikuti jejek pengorbanan Nabi Ismail As. Marilah kita kontekskan pengorbanan Nabi Ismail  dengan persoalan kehidupan kita, hadapi masing-masing, baik sebagai anggota masyarakat, pemimpin masyarakat, sebagai dosen, mahasiswa, dan begitu seterusnya.

Marilah kita gelorakan “Semangat Berkorban” dalam setiap langkah derap kehidupan kita, untuk meraih cita-cita besar, kematangan pribadi, kejayaan bangsa dan kekokohan Negara. Kita tegakkan disiplin nasional, kita perkuat etos kerja dan kita rabuk etos keilmuan, kita kedepankan dedikasi yang prima dalam segala aspek kehidupan untuk mengejar ketertinggalan-ketertinggalan bangsa kita Selama ini dan mengukir peradaban baru dimasa depan.

Semoga datangnya tahun baru 2006 menghembuskan angin segar, dan memberikan harapan baru yang menggembirakan bagi kehidupan rakyat banyak sehingga kita kita semua dapat menatap masa depan dengan penuh percaya diri. Amin Ya Robbal’alamin.

 

Sebagi penutup marilah kita panjatkan doa bersama kehadirat Allah SWT.

Ya Allah peliharalah persaudaraan kami sesame ummat islam. Sesama penganut berbagai agama dan sesame bangsa Indonesia. Bimbinglah kami kejalanMu yang benar, jalan persatuan dan bukan jalan perpecahan, ampunilah segala dosa kami dan dosa kedua orangtua kami serta dosa para penghulu bangsa kami, karena Engkau Maha Pengampun.

`Ya Allah Ya Tuhan kami, jadikanlah Negara dan negeri kami Indonesia ini Negara dan negeri yang aman, adil, dan makmur sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa ini. Jadikanlah para warga yang hidup di dalamnya selalu bersungguh-sungguh dan bekerja keras membangun kesejahteraan masyarakatnya, serta dalam wktu yang sama tiada putus-putusnya menyembahMu dengan tulus dengan mempedomani nilai-nilai moral yang luhur yang Engkau ajarkan melalui nabiMu kepada kami.

Ya Allah ya Tuhan kami, kami menyadari bahwa apapun kedudukan kami di dunia ini, kami adalah makhluk yang lemah, apalagi jika dibandingkan dengan kekuasaanMu. Kami serinh alpa, bahkan secara sengaja melanggar garis batas ajarabMu, karena itu ingatkanlah kami, Tunjukilah kami jalan yang Engkau ridhoi, kemudian berikan kami daya dan kemapuan berupaya kembali menggapai petunjukMu dan ampunanMu.

Berikanlah kepada kami sebagian kudratMu agar kami mempunyai kebulatan niat untuk menjadikan hari agung Idul Adha ini sebagai titik pangkal baru dalam membenahi kehidupan kami, kehidupan perorangan kami, menegakkan keadilan dan hukum, serta memberantas segala bentuk korupsi,kolusi dan nepotisme sebagai sumber ketidak adilan social yang sedang melanda negeri kami.

Disampaikan Prof. Dr. Amin Abdullah pada Idul Adha 1426 H

 

PIDATO IDUL ADHA

MEMAKNAI HIKMAH IDUL QURBAN DAN HAJI

Oleh: Dr. H. Ahmad Abdul Syakur, M.A.

            Hadirin dan Hadirat yang dimuliakan Allah

Kalau pada idul fitri,kita umat islam disunahkan bertakbir dan bertahmid selama satu hari satu malam sejak terbitnya hilal tanggal 1 syawal pada setiap tahunnya, maka pada Idul Adha takbir dan tahmid tersebut disunahkan sejak malam Ied sampai berakhirnya hari tasyrik tanggal 13 Dzul Hijjah pada setiap tahunnya pula.

Ini berarti bahwa masa disunahkan bertakbir dan bertahmid pada idul adha lebih lama bila dibandingkan dengan masa bertakbir dan bertahmid pada Idul Fitri. Namun terlepas dari itu, kakbir dan tahmid merupakan sebagian dari tanda-tanda kesyukuran kita akan nikmat Allah swt yang telah dianugrahkan kapada kita semua, dalam jumlah yang tak terhitung karena banyaknya, Allah swt berfirman :

Dan Dialah (Allah) memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohon kepadaNya. Dan jika kamu menghitung nikmat ( yang diberikanNya kepada mu ), kamu takkan bisa menghitungnya, manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari nikmat (Allah tersebut). (Q.S. Ibrahim (14):34)

Allahu akbar Allahu akbar lailaha illallah Allahu akbar walillahilhamd

Ibu-ibu, Bapak-bapak dan Saudara-saudara yang berbahagia

Dalam kaitannya dengan Iedul Adha ini, paling tidak ada dua pristiwa penting yang perlu kita perhatikan, yaitu peristiwa Nahr atau Udlhiyyah yang selama ini kita kenal dengan islilah Qurban, dan pristiwa Haji yang kini sedang dikerjakan oleh saudara-saudara kita yang mampu dan berkesempatan untuk itu.

Mengenai Nahr atau Udlhiyyah yang sering kita sebut sebagai Qurban tersebut, pada mulanya berkisah dari Nabi Ibrahim as, yang diperintahkan oleh Allah swt untuk menyembelih putra satu-satunya yang sangat dicuntainya, yaitu Imail as. Nabi Ibrahim barsabda kepada puteranya Ismail sebagaimana yang difirmankan oleh Allah  dalam Alquran :

Maka tatkala (Ismail) mencapai umur dewasa (sanggup berusaha bersama ayahnya Ibrahim), berkatalah sang ayah : Wahai ananda (Ismail), sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku (diperintah Allah) menyembelihmu, maka fikirkanlah, apa pendapatmu? Ia (Ismail) menjawab : Hai ayahanda, laksanakanlah apa yang diperintahkan (Allah)kepadamu, Insya Allah, ayahanda akan mendapatkan ananda termasuk orang –orang yang bersabar. (Q.S. AsShaffat (37):102).

Hadirin dan Hadirat yang berbahagia.

Kisah tersebut menggambarkan kepada kita sekalian, bahwa Ibrahim di uji oleh Tuhan dengan memerintahkannya menyembelih  puteranya sendiri. Dan ia sanggup untuk itu.vbayangkan, betapa besarnya pengorbanan Nabi Ibrahim yang sanggup menyembelih putera satu-satunya yang ia miliki setelah kurang lebih 80 tahun lamanya memohon dan berdoa agar mempunyai putera.

Hati manusia mana yang sanggup dan tega berkorban dangan menyembelihputera mungil yang sangat dicintainya itu, kalau bukan Ibrahim yang cintanya kepada Allah jelas melebihi cintanya kepada puteranya sendiri?

Sementara itu , putera manapulakah yang sanggup berkoraban dengan cara disembelih dengan ayahandanya sendiri kalau bukan Ismail yang cintanya kepada Allah jelas pula telah melebihi cintanya kepada ayahnya sendiri?

Memang, perintah Allah kepada Ibrahim agar menyembelih puteranya Ismail betul-betul diterapkan dengan tawakkal dan penuh keikhlasan. Namu, karena perintah tersebut tampaknya bukan perintah dalam arti yang sesungguhnya, akan tetapi bersifat cobaan dan ujian terhadap Ibrahim selaku habibullah atau kekasih Allah, apakah ia benar-benar cinta dan taat kepada Allah selaku tuhan penciptanya, ataukah cinta dan ketaatannya itu palsu belaka.

Ketidakseriusan Allah Swt itu telah dibuktikan cara menggantikan Ismail yang akan digorok oleh ayahanda sendiri dengan domba besar, sebagaiman yang telah diceritakan oleh Allah dalam kitab suci Alquran :

Tatkala keduanya (Ibrahim dan Ismail) berserah diri dan Ibrahim membaringkan puteranya atas pelipisnya,(nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggilah dia, hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu (dengan membaringkan puteramu untuk kamu sembelih). Sesungguhnya yang demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus puteranya itu dengan sembelihan yang besar (berupa domba). (Q.S. As-Shaffat (37) :103-107)

Kisah yang nyata dalam sejarah perkembangan agama ini sungguh-sungguh merupakan pristiwa luar biasa, yang selanjutnya menjadi dasar dari syri’at agama yang menyangkut sunnah menyembelih binatang qurban setiap kali datangnya Iedul Adha.

Disyariatkannya menyembelih binatang qurban tersebut dikalangan umat Islam, bukanlah menunjukkan agar daging dan darahya dipersembahkan kepada Allah untuk mendapatkan ridhaNya, sebab Allah tak akan makan daging dan minum darah binatang yang disembelih itu.

Tetapi yang dibutuhkan Allah disini adalah bukti dari taqwa kita selaku hambaNya, dengan cara berqurban menyembelih binatang berupa kambing atau lembu, onta dan lain sebagainya untuk selanjutnya dibagikan dagingnya kepada fakir miskin dan siapa saja yang membutuhkan dengan penuh keikhlasan dan dengan tawadhu, bukan riya’ dan takkabur.

Hal ini tentu saja dalam rangka meneladani apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan yang diteruskan kepada kita oleh Nabi besar Muhammad saw Allah swwt berfirman:

Daging-daging unta dan lain-lainyang di sembelih berikut darahnya sekali-kali tidak akan dapat mencapai ridha Allah akan tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. (Q.S. Al-Hajj (22):37).

        Sesungguhnya berqurban dalam arti yang luas tidaklah hanya bentuk penyembelihan binatang qurban saja akan tetapi lebih dari itu. Menginfakkan sebgian dari harta kita yang sebenarnya titipan Allah untuk membangun tempat ibadah, lembaga pendidikan, bersedaka kepada anak yati piatu, dan para fuqoro dan masakin, bahkan termasuk dalam hal ini membiayai diri atau keluarga dalam ibadah haji dan sebagainya adalah merupakan bagian dari pelaksaan qurban, dalam arti yang luas tersebut.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

 

Ibu-ibu bapak-bapak dan saudara-saudara rahimakumullah,

Khusus yang menyangkut ibadah haji di tanah suci Mekkah, Shalat si Masjidil Haram tempat Ka’bah yang dibangun Nbi Ibrahim dan Ismail as, kemusian berjiarah kemesji nabawi di Madinah, pada hakekatnya merupakan realisasi dari qurban pendekatan diri pada Allah yang di lakukan oleh seorang muslim atau muslimah yang mampu untuk itu.

Betapa tidak lihat biaya-biaya yang dikeluarkan yang di antaranya berupa hasil tabungan yang di lakukan dalam waktu yang panjang, demikian besar, demi persiapan pelakksanaan ibadah haji yang sebenarnya berlangsung sekitar lima atau enam hari saja.

Di  samping itu bekorban meninggalkan putra-putri atau siapa saja yang disayangi dirumah dan kampung halaman, serta kepayahan dan kelemahan yang diderita karena kegiatan-kegiatan yang dilakukan, terutama dikalangan mereka tempat pondokannya relatif jauh dari Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Benar-benar merupakan pengobanan besar  yang dilakukan oleh mereka yang menunaikan ibada haji. Pantas kalau mereka dengan keikhlasan yang dimiliki dan taqwa semngkin meningkat, mereka dijanjikan oleh Nabi akan mendapatkan Haji Mabrur, yang balasannya yang tak lain dan tak bukan surga jannatunna’im yang penuh kenikmatan abadi yang tak ada akhirnya pada hari kiamat nanti.

Untuk mereka kita memohon dan berdo’a kehadrat Allah swt semoga mereka tetap segar dalam beribadah lillahi ta’ala dan selanjutnya pulang ke kampung halaman untuk berjumpa dengan keluarga, famili serta rekan-rekan dengan menggondol apa yang dikejar yaitu haji mabrur yaitu haji yang diterima Allah yang membawa perubahan bagi akhlak diri, sifat, ucapan dan perbuata dalam berbagai macamnya, sehingga mereka lebih bermanfaat sebelumnya bagi keluarga dan diri mereka, dan bagi bangsa dan negara.

Disamping itu kitapun memohon dan berdoa semoga pada saatnya nanti kita juga terpanggil untuk siap berqurban dengan menunaikan ibadah haji ketanah suci, serta mendapat petunjuk dan hidayah, sehingga kita dapat menerapkan nilai-nila yang tersembunyi di balik pelaksanaan tersebut, berupa peningkatan iman dan taqwa kita, serta memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa tanpa membedakan alira, golongan, suku dan organisasi, baik sosial kemasyarakatan ataupun sosila politik dsb. Amin yarabbal ‘alamin.

Akhirnya marilah kita akhiri ibadah kita dengan berdo’a sekhusyu’-khusyu’nya, dan dengan penuh keyakinan bahwa Allah pasti mengabulkan doa dan rintihan kita.

Disampaikan oleh Oleh: Dr. H. Ahmad Abdul Syakur, M.A. pada Idul Adha 1427 H

Pengertian, Fungsi, Keutamaan-keutamaan dan Managemen Memakmurkan Masjid Allah

Pengertian, Fungsi, Keutamaan-keutamaan dan Managemen Memakmurkan Masjid Allah

Pengertian Masjid

MEMAKMURKAN MASJID ALLAH-Sering kita mendengar bahwa melangkah menuju masjid itu berat, namun jika melangkah menuju tempat pariwisata, ataupun tempat untuk hura-hura begitu ringan. Mengapa demikian?

Nah, pada kesempatan kali ini penulis ingin sekali membahas mengenai cara memakmurkan masjid. Sebuah cara agar ummat Muslim semuanya sangat ringan bila melangkah ke masjid, terlebih masjid dapat dijadikan salah satu destinasi wisata. Yakni tempat yang digunakan untuk melabuhkan segala gundah gulana kepada Sang Pencipta.

Simak content viral Masjid di Jogja.

Masjid Terkenal Di Jogja
mustofaahyar.blogspot.com

Pengertian masjid sendiri menurut bahasa berarti tempat yang digunakan untuk sujud. Pengertian ini lebih luasnya dijabarkan bahwa masjid adalah tempat yang digunakan oleh kaum muslimin untuk berkumpul menunaikan sholat berjamaah.

Baca artikel Masjid Para Pencari Tuhan oleh Pakar Konsultan ESDM

Keutamaan  Memakmurkan Masjid

  1. Bukti Keimanan

Di zaman serba modern ini menuntu manusia untuk lebih produktif, yakni lebih efisien dalam melaksanakan segala hal termasuk pekerjaan maupun ibadah. Jujur saja di antara kita pastinya pernah merasakan yang namanya ibadah serasa membuang-buang waktu. Dengan alasan demikian, kita memilih untuk beribadah di rumah saja.

Tapi semakin bertambah usia, tingkat penghayatan keimanan memang perlu ditingkatkan. Bukti tingkat keimanan itu bisa dilakukan dengan gemar ke masjid semata-mata karena bersyukur kepada Allah. Nah, semoga penghayatan apapun yang kita lakukan semuanya membawa dampak kebaikan dan menuju ke keikhlasan-Nya.

Haits menyebutkan:

Apabila kamu sekalian melihat seseorang biasa ke masjid, maka saksikanlah bahwa Ia benar-benar beriman (HR. Tirmidzi dari Abu Sa’id Al Khudri).

  1. Di Hari Kiamat, Orang yang Memakmurkan Masjid akan Berada di Bawah Naungan Allah

Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: …Seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika Ia keluar hingga kembali kepadanya (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menjelaskan bahwa Allah tidak segan-segan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang hatinya terpaut dengan masjid. Dengan kecintaan itu pulalah seseorang dalam hidupnya tidak hanya memakmurkan masjid di kala beribadah saja, namun juga aktif dengan kegiatan sosial.

  1. Derajat yang Tinggi Sekaligus Ampunan

Tahukah Anda, bahwa setiap ayunan langkah untuk menuju ke masjid merupakan ampunan. Maka bila ada 10 ayunan langkah saja, Allah akan menghapus 10 dosa kita. Begitupula bila perjalanan yang kita tempuh semakin jauh, tentu saja ayunan langkah akan berjumlah banyak dan terhapusnya dosa akan semakin banyak.

Bukan hanya itu saja, setiap langkah kaki yang kita tujukan ke masjid untuk beribadah ke rumah Allah juga akan diganjar berupa derajat yang mulia di sisi Allah. Ya, setiap ayunan langkah akan menaikkan derajat kita di mata Allah. Oleh karena itu, ikutilah sunnah Rosulullah untuk melewati jalan yang berbeda bila dating atau pulang dari masjid.

Barangsiapa yang bersuci di rumahnya kemudian ia berjalan untuk mendatangi salah satu masjid diantara masjid-masjid Allah demi menunaikan suatu kewajiban dari kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, maka salah satu dari setiap langkahnya itu akan menghapuskan dosa serta langkah yang satunya lagi akan mengangkat derajatnya (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Tirmidzi dan Hakim).

  1. Ketenangan dan Rahmat dari Allah

Bila seseorang sudah akrab dengan masjid, tentu tidak heran dengan aura yang menyejukan. Terlebih suasana tenang dan kekhusyukan di dalamnya sungguh mengagumkan. Ya, Allah sendiri yang telah menjanjikan bahwa masjid sebagai rumah Allah adalah tempat rahmat.

Masjid itu adalah rumah setiap orang yang bertakwa, Allah member jaminan kepada orang yang menganggap masjid sebagai rumahnya, bahwa ia akan diberi ketenangan dan rahmat serta kemampuan untuk melintasi shiratal mustaqim menuju keridhoan Allah, yakni syurga (HR. Thabrani dan Bazzar dari Abu Darda Ra).

  1. Menantipun Berpahala

Begitulah keadilan di dalam Islam. Allah tidak menyia-nyiakan sedikit pun setiap usaha hambanya. Begitupula ketika seorang jamaah yang datang lebih awal ke masjid dengan yang terlambat, tentu Allah akan memberikan ganjaran lebih kepada orang yang lebih awal berada di masjid.

Hal ini sebagaimana dalam sebuah hadits yang menyebutkan bahwa Rosulullah Saw bersabda:

Selalu seseorang teranggap dalam shalat selama tertahan oleh menantikan shalat, tiada yang menahannya untuk kembali ke rumahnya hanya semata-mata karena menantikan shalat (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Semakin Jauh, Semakin Berpahala

Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad dan Abu Daud mengisahkan di zaman Rosulullah Saw terdapat tanah-tanah kosong di sekitar masjid. Maka, Bani Salamah pun pindah ke dekat masjid. Kabar tersebut sampai kepada Nabi, Rosulullah Saw pun bersabda: “Kudengar berita bahwa kamu akan pindah ke dekat masjid, benarkah itu?”.

Ujar mereka: “Benar Ya Rosulullah, kami bermaksud demikian”. Beliaupun bersabda: “Wahai Bani Salamah, tetap sajalah di tempatmu masing-masing, langkah-langkahmu pasti dicatat”. (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Begitulah kisah muia dari Bani Salamah bersama Rosulullah Saw, seketika itu Bani Salamah pun mengurungkan niatnya untuk pindah di tanah yang berdekatan masjid demi kemuliaan pahala dari sisi Rabb-Nya.

Selain kisah di atas, ad satu hadits lagi yang menjelaskan keutamaan orang yang jaraknya jauh namun tetap shalat ke masjid. Semoga hadits ini menambah keindahan hidup kita bahwa Allah-lah yang memberikan keutamaan-keutamaan berkunjung ke masjid.

Sesungguhnya orang yang terbesar pahalanya dalam shalat adalah yang paling jauh perjalanannya (HR. Muslim dari Abu Musa).

Ayat Memakmurkan Masjid

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Artinya: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS AT Taubah: 18).

Hadits Memakmurkan Masjid

صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَضْعُفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَسُوْقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِيْنَ ضِعْفًا وَذَالِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوْءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لاَيُخْرِجُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلاَّ رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَخُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيْئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّى عَلَيْهِ مَادَامَ فِى مُصَلاَّهُ مَالَمْ يحدثْ اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَيْهِ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلاَيَزَالُ فِى صَلاَةٍ مَاانْتَظَرَ الصَّلاَةَ –

Shalat seseorang dengan jamaah itu melebihi shalatnya di ruah atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Sebabnya ialah karena bila ia berwudhu dilakukannya dengan baik lalu pergi ke masjid sedang kepergiaannya itu tiada lain dari hendak shalat semata-mata, maka setiap langkah yang dilangkahkannya, diangkatlah kedudukannya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya. Dan jika ia sedang shalat, maka para malaikat memohonkan untuknya rahmat selama ia masih berada di tempat shalat itu selagi ia belum berhadats, kata mereka: Ya Allah, berilah orang ini rahmat, Ya Allah kasihanilah dia. Dan orang itu dianggap sedang shalat sejak ia mulai menantikannya (HR. Bukhari dan Muslim).

Fungsi Masjid

  1. Fungsi masjid sebagai ibadah

  2. Fungsi masjid sebagai pusat pembelajaran

  3. Fungsi masjid sebagai tempat untuk bermusyawarah

  4. Fungsi masjid untuk merawat orang sakit

  5. Fungsi masjid sebagai asrama

  6. Pusat informasi masyarakat

  7. Tempat menerima tamu-tamu negara

  8. Tempat resmi ruang tunggu tamu-tamu di zaman Rosulullah Saw

Managemen Masjid

Langkah-langkah Managemen Masjid

  • Menentukan wilayah dakwah masjid
  • Melakukan pendataan jamaah masjidMerencanakan kegiatan masjid
  • Mensosialisasikan kegiatan masjid
  • Membuat laporan kegiatan masjid

Prinsip Managemen Masjid

  • Melayani
  • Memahamkan
  • Mensosialisasikan
  • Mempertanggungjawabkan

Latar Belakang

  • Tidak tertatirknya warga untuk ke masjid
  • Warga merasa canggung untuk ke masjid

Tujuan

  • Mendekatkan warga ke masjid dan familier dengan masjid
  • Mencipatakan ikatan dengan warga

Bentuk Pelayanan

  • Kesehatan
  • Pendidikan
  • Kesenian
  • Sosial
  • Ibadah
  • Olah raga

Strategi Pelayanan

  • Harus jeli membidik potensi dalam masyarakta
  • Harus pandai melihat peluang yang ada dalam msayrakat
  • Harus cermat melihat kebutuhan masyarakat

Tujuan Pembinaan

  • Memahamkan warga tentang system islam
  • Meningkatkan peran warga di masjid
  • Mempererat ikatan yang sudah terbentuk
  • Terbentuknya masyarakat yang madani

Cara Memakmurkan Masjid dengan Sederhana, Mudah dan Ringan

Dekatkan anak ke masjid
kampongpuisi.wordpress.com
  1. Libatkan Anak-anak untuk Memakmurkan Masjid

Khutbah Jumat Memakmurkan Masjid

Demikianlah sekilas gambaran bagaimana pengertian masjid, keutamaan dan dari segi managemennya. Adapun materi di atas dapat Anda kutip sebagai referensi untuk dijadikan sebagai Khutbah Jumat dengan tema memakmurkan masjid.

Ya, sesekali kita perlu saling mengingatkan betapa indahnya memakmurkan masjid. Sebab, dengan memakmurkan masjid kita dapat menemukan rahmat Allah dengan keindahan luar biasa melalui keutaman dan ganjaran-ganjaran dari-Nya. Semoga Allah memberikan kita kesabaran untuk senantiasa istiqomah.

 

 

Referensi

Diambil dari rangkuman managemen masjid-masjid di daerah Yogyakarta

 

 

Inilah 8 Etika Komunikasi Ala Alquran yang Akan Membuat Anda Sukses dalam Segala Hal

Inilah 8 Etika Komunikasi Ala Alquran yang Akan Membuat Anda Sukses dalam Segala Hal

Pengertian Etika Komunikasi

Etika Komunikasi-Salah satu masalah kompleks yang kini kian mengikis kebhinekaan adalah rapuhnya kerukunan. Tanpa disadari, kerukunan menjadi sesuatu yang langka ditemui. Melemahnya kerukunan tidak hanya terjadi karena perbedaan antar agama, sesama agama pun sulit mewujudkan suasana rukun.

Bahkan, di lingkup terkecil seperti keluarga pun kerukunan nampaknya sudah jarang ditemui. Padahal, keluarga adalah pendidikan pertama yang seharusnya menanamkan nilai-nilai kerukunan.

komunikasi ala Nabi
makassar.tribunnews.com

Setiap manusia memerlukan komunikasi. Komunikasi menjadi hal yang urgen dalam kehidupan bermasyarakat. Tanpa komunikasi, manusia tidak dapat menyampaikan pesan yang ingin disampaikannya. Istilah komunikasi itu sendiri dalam bahasa Inggris “communication” berasal dari bahasa Latin “communication”, bersumber dari “communis” yang berarti “sama”. Sama disini bermaksud sebagai “sama makna”. Artinya, komunikasi adalah hubungan yang mempunyai “kesamaan makna”.[1]

Bisa diambil kesimpulan bahwa etika komunikasi adalah bagaimana cara atau adab dalam menyampaikan pesan. So, di samping pentingnya memahami ilmu komunikasi, sahabat juga perlu mengerti bagaimana cara menyampaikannya, dalam hal ini berkaitan erat dengan etika komunikasi.

Betapa pentingnya etika komunikasi, sampai-sampai adanya etika komunikasi sangat mempengaruhi apakah pesan tersebut akan sampai kepada mad’u hingga ke perilaku, atau hanya pesan yang hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Etika komunikasi mempunyai peranan penting dalam memengaruhi audiens.

Terkait komunikasi itu sendiri, Al Quran lebih awal menjelaskan terkait keberadaan komunikasi. Al Quran juga telah menjelaskan bahwa bermulanya hidup berasal dari komunikasi yang turun temurun hingga saat ini.

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama benda seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab: ‘Maha suci Engkau, tidak ada yang Engkau ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami”. Sesungguhnya Engkaulah yang maha mengetahui lagi maha bijaksana. Allah berfirman: ‘Hai Adam, beritahukanlah nama-nama benda itu. Allah berfirman; ‘Bukankah sudah Kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan yang kamu sembunyikan.” (QS Al Baqarah (2): 31-33).

Sayangnya, manusia seringkali meremehkan apa yang disebut komunikasi. Padahal komunikasi adalah kebutuhan sehari-hari yang bersinggungan langsung dengan perilaku. Tanpa berpikir panjang, sering banyak yang melupakan bahwa komunikasi hanya sebatas pembicaraan saja. Komunikasi hanya dianggap alat yang selalu benar tanpa memperhatikan susunan kosa kata, budaya setempat dan lain sebagainya.

Hal inilah bukti bahwa sebagian besar masyarakat meskipun berpenduduk Muslim masih jauh dari Al Quran. Al Quran seharusnya senantiasa standby di manapun dan kapanpun berada. Termasuk dalam ranah komunikasi baik sesama saudara, orang tua, pemimpin, bawahan, pemuka agama dan lain sebagainya. Al Quran telah jelas menerangkan keberadaan pentingnya komunikasi seperti termaktub dalam surat An Nahl ayat 105. yang artinya:

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan peajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengethaui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Tanpa mengamalkan hal di atas, kiranya akan terjadi kesalahpahaman di dalam masyarakat. Dalam hal ini, disebut prasangka (prejudice). Prasangka itu sendiri merupakan studi yang ditempatkan fokus utama dalam ilmu psikologi sosial.[2]

Cara Berkomunikasi yang Baik

Prasangka sebagai Penyebab Pentingnya Etika Komunikasi Massa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia definisi prasangka adalah suatu pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengenai.[3] Konkritnya, Sarlito di dalam bukunya Psikologi Prasangka orang Indonesia menjelaskan bahwa prasangka mempunyai fungsi heuristic (jalan pintas), yaitu langsung menilai sesuatu tanpa memprosesnya secara rinci dalam alam pikiran kognisi.[4]

Dengan tantangan komunikasi yang beragam di atas, tentu saja etika komunikasi al Quran sebagai panduan hidup sehari-hari perlu dipegang erat. Oleh sebab itu, tulisan ini akan menguraikan 8 etika komunikasi sesuai Al Quran baik lingkup individu maupun lingkup etika komunikasi massa.

Etika Komunikasi dalam Kantor, Bisnis, Masyarakat dan Negara

Dalam Sumpah Pemuda, 17 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan, para pemuda dari seluruh Nusantara sudah menyatakan tekad mereka sebagai bangsa. Para pemuda berusaha menerobos batas-batas sentimen etno-religius (etno-nationalism).

Para pemuda menawarkan fantasi inkorporasi baru berdasarkan konsepsi kewargaan yang menjalin solidaritas atas dasar kesamaan tumpah darah, bangsa dan bahasa kesatuan (civic nationalism).[5] Dalam sumpah tersebut, sayangnya kurang dijaga erat pengikatnya sehingga perlahan-lahan renggang.

Seperti judul di atas, kondisi kerukunan Indonesia saat ini masih sebatas “menjumput”. Mengapa demikian? Melihat peristiwa akhir-akhir ini seperti penyerangan masjid Adz Dzikra, perusakan gereja, dan lain sebagainya mengindikasikan bahwa kerukunan di negeri ini baru sebagian. Tak bisa bila jika dikatakan mengambil karena yang terjadi adalah sebagian Negara ini rukun dan sebagian lainnya konflik.

Mengamati berbagai peristiwa di atas, penyebab berbagai masalah konflik di atas hanyalah sederhana, yakni prasangka. Seperti yang penulis jelaskan pada bab pendahuluan tadi bahwa prasangka adalah anggapan buruk sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Check and recheck (tabayyun) yang jarang dilakukan membuat prasangka-prasangka tersebut menjadi sebuah ledakan besar disertai perilaku kejam.

Munculnya Berbagai Konflik karena Minimnya Pengetahuan Etika Komunikasi

Apa yang penulis saat ini tulis adalah bagian dari prasangka. Prasangka ingin mengikuti pioneer ke Sulawesi, prasangka ingin menjadi pemenang, prasangka agar lebih dekat dengan wanita idaman dan lain sebagainya. Ilmu psikologi telah membahasnya dalam definisi pertamanya. Di dalam teologi, logos digunakan sebagai kata yang menunjukkan Tuhan. Yakni suatu prinsip. Dengan demikian, psikologi ingin mengungkapkan prinsip kehidupan, jiwa dan roh.[6]

Hal di atas mengindikasikan bahwa di dalam psikologi terdapat analisis yang digunakan untuk menjawab kemunculan prasangka. Para ahli psikologi berpendapat bahwa prasangka itu sendiri memiliki ikatan erat terhadap individu. Menurut Idamsyah, menyebutkan ada tiga penyebab kemunculan prasangka.[7]

  • Frustasi

Frustasi adalah rasa gagal karena masalah yang sulit di tangani. Dari hal itu membuat kecewa dan mencari pelampiasan. Kegagalan yang dialaminya tidak berkaca pada kurangnya kemampuan pada diri sendiri, namun mencari kesalahan orang lain sehingga menimbulkan konflik.

  • Proyeksi

Proyeksi terdapat dua macam yakni proyeksi psikologis dan proyeksi sosial. Adapun pengertian proyeksi itu sendiri adalah penyangkalan-penyangkalan atribut yang bersifat negatif seperti jahat, malas dll. Sedangkan lawan dari proyeksi adalah introyeksi yakni menyukai atribut-atribut positif. Keduanya berdampak konflik jika tidak dikendalikan yakni jika proyeksi maka akan terjadi konflik karena merasa dihina. Sedangkan introyeksi akan berdampak konflik jika atribut-atribut tersebut melekat pada orang lain.

  • Kepribadian

Sering kita menjumpai sifat seseorang yang mempunyai kepribadian otoriter, demokratis dan lain sebagainya. Kita ambil pada contoh ototoriter tentu tidak baik dalam kepemimpinan. Watak kepribadian tersebut biasanya terlahir dari lingkungan yang keras sehingga menyebabkan kekerasan juga dalam memahami hidup. Jika tidak bisa dikendalikan, prasangka pembenaran tersebut akan menjadi konflik.

Etika Komunikasi Al Quran

komunikasi al quran
gizanherbal.wordpress.com

            “Sambunglah rasa terlebih dahulu sebelum sambung perilaku”.

Ungkapan di atas sengaja penulis sertakan untuk memudahkan pemahaman dalam makalah ini. Banyak yang beranggapan bahwa majunya dunia Barat dari segi teknologi, sains, matematika, fisika atau kimia hanya bertopang keilmuan itu saja.

Penulis mengajak para pembaca untuk merenungkan sejenak bahwa tanpa sambung rasa, sambung ilmu tentu tidak akan terbina. Dunia Barat dalam hal ilmu-ilmu komunikasi tidak meremehkan, bahkan dijadikan bahan ajar pertama yang harus tuntas. Dengan demikian, pijakan kultur pendidikan bahasa menjadi sarat majunya sebuah retorika.

Retorika tidak hanya seni bagaimana melakukan propaganda seperti yang kita lihat di TV-TV. Lebih dari itu, retorika menjadi gaya bagaimana memanage anak didik, memfokuskan bakat, mengkomunikasikan medan pikiran dan menjadi poros pelajaran bagaimana menjadi tuan dan puan.

Maka tak berlebihan jika ada ungkapan bahwa komunikasi adalah syarat untuk meraih gelar puan dan tuan. Dengan komunikasi yang baik, kita dapat mempengaruhi jiwa dan pikiran sehingga apa yang kita harapkan dapat terpenuhi.[8] Di dalam Al Quran sendiri, telah disebutkan 8 etika komunikasi Al Quran;

1. Qawlan Adhima

Maka Apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara Para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).

Dalam ayat tersebut yang dimaksud adalah kata-kata atau ucapan yang banyak mengandung kesalahan dan kebohongan besar. Dalam ayat tersebut mempunyai tafsir bahwa kaum musyrikin menganggap dan mengadakan pembohongan yang besar bahwa malaikat adalah anak Allah. Mereka mengatakan sesuatu yang tidak berdasar.

Penafsiran ayat di atas melukiskan bahwa dalam menjaga kerukunan, perlulah berhati-hati menyebarkan berita bohong. Apalagi saat ini adalah dunia cyber yang berlaku bahwa pembaca bukan sekedar pembaca namun juga pelaku distribusi berita.

2. Qawlan baligho

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka Perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.

Qawlan baligho dapat diartikan sebagai “sampai”, “mengenai sasaran” atau “mencapai tujuan”. Jika dikaitkan dalam dunia komunikasi berarti “jelas”, “fasih” dan tepat sesuai yang dikehendaki komunikator.

Dalam komunikasi menjaga kerukunan, perlu kiranya setiap individu mempunyai keyakinan bahwa apa yang disampaikannya tepat sesuai harapan kita. Jangan sampai apa yang kita ucapkan mengandung unsur kecurigaan yang menyebabkan adanya berbagai prasangka ingin mengelabuhi, menipu, atau yang lainnya.

Selain itu juga penting kiranya memahami siapa lawan bicara kita, dalam tuturan bahasa nantinya aka nada tingkatan tersendiri baik untuk serius, bercanda atau lain sebagainya. Hal ini dapat kita ambil iktibar dari surah Ibrahim ayat 4.

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya[779], supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan[780] siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

3. Qaulan Karima

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia[850].

Kata “kariman”, biasa disebut diterjemahkan dengan “mulia”. Di dalam ayat ini, komunikasi lagi-lagi menjadi sebuah ilmu yang luar biasa. Dijelaskan dalam ayat ini bahwa saat kita berbicara kepada orang tua, berbicara “ah” saja tidak diperkenankan apalagi lebih. Al Quran bukan saja mengajarkan kepada kita betapa pentingnya berbuat baik sesuai adat namun juga lebih baik dan lebih mulia dalam memuliakannya.

Dalam konteks kerukunan, berkomunikasi yang baik adalah komunikasi yang menasehati namun tidak terkesan menggurui. Jika  terkesan menggurui, tentu saja akan menimbulkan prasangka-prasangka yang bisa memudarkan kerukunan. Jadilah penginspirasi tanpa menggurui!

4. Qawlan Layyina

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

Layyin secara terminology berarti “lembut”. Qawlan layyinan juga berarti perkataan yang lemah lembut. Di dalam konteks kerukunan, ayat ini pas dengan situasi saat ini. Ketika Musa menasehati Fir’aun Allah perintahkan kepada Musa agar menggunakan kata-kata yang lemah lembut. Hal ini bukan berarti bahwa lembut tanpa kekuatan, namun lembut yang mengandung kebijaksanaan dan berharap akan kembali kepada Allah.

Cermin untuk saat ini adalah bahwa anak negeri sering mengutuk pemerintahan dengan cara-cara yang tidak pantas. Bahkan dengan berlaku kasar dan mengeluarkan kata-kata kotor. Hal ini jelas bertentangan dengan perintah Allah seperti termaktub di atas.

Ayat di atas juga pernah berlaku kepada kaum lemah, ketika itu Nabi Muhammad mengingatkan seorang Badui yang mengencingi masjid. Nabi tidak lantas mengusir atau memarahi orrang badui tersebut, meskipun para sahabat telah geram. Rosul dengan lembut menasehati dan berkata lemah lembut. Hasilnya, orang Badui tersebut mengakui bahwa akhlak Rosulullah memang luar biasa. Terkait sikap lembut, Allah juga telah menjelaskan dalam surat Ali Imran ayat 109.

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

5. Qawlan Ma’rufan

Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, Maka Katakanlah kepada mereka Ucapan yang pantas[851].

Para ulama menafsirkan ayat di atas ketika Nabi Muhammad menghindar ketika dimintai bantuan. Beliau malu karena tak bisa membantunya, maka Allah pun memberikan petunjuk lewat firman-Nya bahwa hendaknya dihadapi dengan menyampaikan kata-kata yang baik dan harapan di masa yang akan datang akan membantunya.

Dalam ranah menjaga kerukunan, Allah telah mengatur segalanya. Dengan demikian, meskipun kita tak bisa membantunya dalam waktu itu, namun hendaknya persaudaraan tetap terjaga sehingga sewaktu-waktu dapat membantunya. Pada akhirnya, jangan sekali-kali membuat tersinggung teman kita namun diberikan sikap optimis dan harapan bahwa esok akan lebih baik.

6. Qawlan Ma’rufan

Qawlan ma’rufan adalah perkataan yang “baik”, “sopan”, “terhormat”. Adapun ayat dalam Al Quran dapat kita jumpai dalam Al Baqarah ayat 235 yang menegaskan bahwa mutlak seorang pria dilarang mengucapkan sesuatu yang sedang menjalani ‘iddah kecuali yang baik-baik. Berkaitan dengan perasaan wanita juga terkandung dalam surat Annisa ayat 5.

Perintah berkata baik juga terdapat dalam surat An Nisa ayat 8 agar tidak mengatakan hal-hal menyinggung perasaannya. Bagaimanapun juga orang yang kurang akalnya lebih cenderung mengandalkan emosinya daripada logika dan pikirannya. Berikut surah Annisa ayat 8;

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat[270], anak yatim dan orang miskin, Maka berilah mereka dari harta itu [271] (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang baik.

7. Qawlan Saddidan

Qawlan saddidan adalah perkataan yang tidak “berbelit-belit”, “benar”, “lurus”. Dalam konteks menjaga kerukunan, perkataan yang dimaksud adalah “konsisten” atau “istiqomah”, Hal ini akan bersinggungan dengan lawan bicara yang kita beri janji atau informasi sehingga kita bertanggung jawab penuh terhadap apa yang terjadi. Jika kita konsisten kepada kebenaran, InsyaAllah kerukunan akan terwujud karena yang terjalin adalah rasa saling percaya. Hal ini termaktub dalam surah Al Ahzab ayat 70;

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar.

8. Qawlan Tsaqila

Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu Perkataan yang berat.

Dalam penafsiran kata berat pada ayat tersebut, mengacu pada saat Rosulullah menerima wahyu. Begitu dahsyatnya sehingga Aisyah Ra menceritakan keringat Rosul bercucuran meskipun saat itu musim dingin.

Di dalam ranah komunikasi menjalin kerukunan, bahwa kata-kata yang semestinya kita ucapkan berdasarkan kebenaran sesuai firman Allah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa makna berat dalam konteks ini adalah bermakna “mantap” tanpa keragu-raguan.

Kemantapan tentu berasal dari keyakinan akan kebenaran, bukan atas pengaruh dari pihak luar. Dengan demikian, kemerdekaan dalam bertutur kata sangat menentukan dalam menjaga kerukunan.

Filsafat Komunikasi

            Kerukunan merupakan suasana yang tak bisa berdiri sendiri. Namun demikian, kerukunan mampu menular tatkala salah satu pihak melakukan tindakan yang tepat. Satu-satunya cara yang tepat tidak lain hanya bersandar pada Al Quran. Bagi sesiapa yang percaya pada Al Quran, berarti Ia percaya bahwa Ia akan memperoleh kemenangan yang besar. Bukan saatnya ummat terbaik ini hobi menyalahkan satu sama lain karena hakikatnya kesalahan itu berasal dari diri kita sendiri (Yunus:108).

Katakanlah: “Hai manusia, Sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu Barangsiapa yang mendapat petunjuk Maka Sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. dan Barangsiapa yang sesat, Maka Sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu”.

Kerukunan adalah dambaan, oleh karenanya fokus kita sebagai generasi yang akan mewarisi dari generasi sebelumnya adalah berpijak pada satu tujuan yakni sebuah peradaban. Perlu dikethaui bahwa jikalau ummat ini hanya “hobi” menyelesaikan konflik, tentu konflik akan hilang satu per satu namun akan tumbuh menjadi seribu.

Berjanjilah mulai hari ini bahwa kita bukan ummat yang disudutkan, ummat yang menjadi korban alih-alih konspirasi. Kita adalah ummat terbaik yang memiliki visi tercerahkan sebagai pelaku utama. Kembalilah kepada Al Quran, engkau akan tinggi jika engkau beriman (Al Mujadilah ayat 11).

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Wallahu alam bisshawab.

 

[1] Wahyu Illahi, Komunikasi Dakwah, (Bandung: Rosdakarya, 2013), hlm. 4.

[2] Idhamsyah Eka Putra, Psikologi Prasangka, Sebab, Dampak Dan Solusi, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2012), hlm. 6.

[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia.

[4] Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Prasangka Orang Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2007) hlm. 2.

[5] Yudi Latif, Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012), hlm. xxiv.

[6] Lynn Willcox, Psikologi Kepribadian: Analisis Seluk Beluk Kepribadian Manusia, (Yogyakarta; IRCisoD, 2013) hlm. 23.

[7] Idhamsyah Eka Putra, Psikologi Prasangka, Sebab, Dampak Dan Solusi, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2012), hlm. 33.

[8]Wahyu Illahi, Komunikasi Dakwah, (Bandung: Rosdakarya, 2013), hlm. 168.

Simak Yuk, Inilah 13 Teladan Nabi Mulia untuk Meraup Banyak Pahala di Hari Raya Idul Fitri

Simak Yuk, Inilah 13 Teladan Nabi Mulia untuk Meraup Banyak Pahala di Hari Raya Idul Fitri

Sunnah-sunnah di Hari Raya Idul Fitri-Islam adalah agama mulia. Mulia karena salah satu yang menjadi ajarannya adalah mendahulukan akhlak. Begitu penting posisi akhlak di dalam agama Islam, baik akhlak yang kecil berdampak personal maupun akhlak untuk kepentingan orang banyak (jamaah).

albirrupertiwi.com
albirrupertiwi.com

Bila hari raya telah tiba, wajah berseri-seri menghiasi orang-orang beriman. Itulah hari kemenangan setelah sebulan mengendalikan hawa nafsu. Semoga kemenangan itu senantiasa kekal di hari dan bulan-bulan berikutnya di luar Ramadhan.

Sempurnanya Islam, sehingga di dalam suasana gembira, bahagia dan bersuka ria pun tetap ada tuntunan untuk menyuburkan fitrah di kalangan sesama insan. So, mari kita nikmati detik demi detik Hari Raya Idul Fitri kali ini dengan urusan yang telah diurus oleh Allah SWT untuk kebaikan para hamba-hamba-Nya.

1. Idul Fitri Mengikuti Keputusan Pemerintah

bangkutaman.com
bangkutaman.com

Lagi-lagi kita harus bersyukur, sebab awal pelaksanaan Ramadhan akali ini serentak. Begitupula keputusan tanggal hari rayanya, insyaAllah semua jatuh pada tanggal 6 Juli 2016. Terkait pentingnya amal jamai, Sabda Nabi menjelaskan sebagai berikut;

“Hari berpuasa (tanggal 1 Ramadhan) adalah pada hari di mana kalian semua berpuasa. Hari Raya Idul fitri (tanggal 1 Syawwal) adalah hari di mana kalian berhari raya dan Hari Idul Adha adalah hari di mana kalian semua merayakan Idul Adha” (HR Tirmidzi dinilai shahih oleh Al Albani).

2. Zakat Fitrah

Islam mengajarkan kita untuk senang berbagi. Dengan zakat, setiap Muslim satu dengan yang lainnya saling merasa senasib. Bila berbahagia di hari raya, maka semua saudara seiman juga harus bahagia tanpa kekurangan suatu apapun.

Sehingga, adanya zakat tidak lain untuk membantu para fakir miskin dan golongan-golongan lainnya yang berhak menerima zakat untuk juga bisa bahagia lahir batin menyambut hari kemenangan.

Karena di dalam harta diri kita terdapat harta orang lain, maka sepantasnyalah kita menyisihkan sebagian harta kita untuk orang lain. InsyaAllah harta tidak akan berkurang namun justru kian bertambah. Begitulah janji Allah yang Indah, yang tak pernah menginginkan sama sekali kerugian bagi hanba-hamba-Nya.

IIbnu Umar Radhiyallahuanhuma berkata, “Rosulullah Saw mewajibkan zakat fitri bagi Kaum Muslimin, budak maupun orang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak kecil maupun dewasa” (HR. Bukhari dan Muslim).

Adapun mengenai waktu pembayaran zakat yang paling utama dilakukan pada tanggal 1 Syawwal setelah Subuh sampai menjelang Shalat Ied. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahuanhu, “Rosulullah Saw memeintahkan agar zakat fitri ditunaikan sebelum manusia pergi Shalat Ied. (HR Bukhari dan Muslim).

Meskipun demikian, membayar zakat bisa dilaksanakan jauh-jauh hari sebelum Sholat Ied tiba, baik 1 atau 2 hari sebelumnya dengan tujuan turut meringankan tugas para mustahik dalam mengelola serta menyalurkan zakat para jamaahnya.

3. Takbir di Hari Raya

Sebuah suasana yang tak kalah keindahannya adalah gema takbir. Gema takbir ini memang ajaran yang diperintah Allah langsung lewat ayat suci Al             Quran. Dalam surah Al Baqarah ayat 185 kita dianjurkan untuk mengagungkan nama Allah agar dengannya kita bersyukur dan kembali mengingat betapa besar kekuasaan Allah.

“Agar kalian memenuhi puasa sepanjang hitungan bulan (Ramadhan) dan hendaklah kalian mengagungkan Allah (memperbanyak takbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, dan supaya kalian bersyukur.”

Adapun lafadz takbir yang didzikirkan yaitu Allahu akbar, Allahu akbar, Laa Ilaaha Illallahuallahu akbar, Allahu Akbar walillahil hamd (HR. Ibnu Abi Syaibah, dinilai Sahih oleh Al-Bani).

4. Mandi dan Berhias

Bila hari raya tiba, tradisi di negeri kita menggunakan pakaian serba baru. Meskipun tak baru pun tetap memuji kepada Allah, namun paling tidak jika kita berangkat Sholat Ied kita memilih pakaian yang terbaik.

Hal ini bukan tanpa sumber, sebab Rasulullah saw sendiri pun telah mencontohkan kita untuk berhias menggunakan pakaian terbaik. Adapun dalam bab berpakaian, Islam tetap membatasinya dengan syariat seperti bagi kaum laki-laki tidak boleh menggunakan sutra dan emas, sedangkan kamu perempuan tidak boleh menggunakan wewangian yang berlebihan.

Selain berhias, Rasulullah saw juga mencontohkan kepada ummatnya agar terlebih dahulu mandi. Dengan demikian, di hari raya Idul Fitri yang suci, manusia bisa suci batin serta ubo rampe yang melekat di dalam dirinya termasuk pakaian. Lihat selengkapnya di Zaadul Ma’ad, 1/425).

5. Makan Sebelum Melaksanakan Sholat Idul Fitri

Buraidah radhiyallahuanhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasalam biasa berangkat shalat Ied pada hari raya idul fitri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari raya Idul adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ied, baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (HR. Ahmad, dinilai Hasan oleh Syuaib Al Arnauth).

Adapun makanan yang biasa dimakan Rasulullah adalah kurma sebagaimana yang sebuah hadits dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pergi shalat Iedul Fitri sebelum makan beberapa kurma dan beliau memakannya dalam jumlah ganjil. (HR. Bukhari).

6. Pria, wanita dan Anak-anak Mendatangi Shalat Ied

Ummu athiyyah Radhiyallahu anha berkata, “Rasulullah Shallallhu alaihi wasallam memerintahkan kepada kami megeluarkan para wanita baik gadis, sedang haidh, dan pingitan. Adapun yang haidh mereka menjauhi tempat shalat, dan menyaksikan kebaikan dan doanya Kaum Muslimin” (HR. Bukhari).

Rasulullah Saw juga mengingatkan hendaknya ketika wanita hadir dalam pelaksanaan Sholat Ied senantiasa menggunakan hijab. Dengan demikian, semoga dihindarkan dari hal-hal yang sanggup menimbulkan godaan jahat seperti menampakkan perhiasan atau komunikasi dari lawan jenis yang berlebihan.

Begitulah indahnya Islam, melalui Sholat IED, semua berbondong-bondong menuju tanah lapang yang luas. Hal ini juga merupakan salah satu syiar Ummat Islam bahwa ummat terbaik ini  merupakan ummat yang mengutamakan kebersamaan. Terlebih kebersamaan dalam memohon ampun, mengagungkan asma Allah dan meminta petunjuk jalan lurus dalam setiap kata “amin” yang diucapkan pada akhir Al Fatihah.

7. Bertakbir

Di sepanjang perjalanan menuju tempat pelaksanaan Shalat Iedul Fitri, bagi jamaah laki-laki dianjurkan untuk bertakbir. Adapun tuntunan yang tepat bagi wanita, tetap dianjurkan mengucapkan takbir namun tidak mengeraskan suaranya.

Az-Zuhri berkata, “Rasulullah Shallahualaihi wasalam keluar pada hari raya Idul Fitri lalu beliau bertakbir sampai dating ke tempat shalat dan sampai selesai shalat. Apabila telah selesai sholat, beliau mengentikan takbir” (HR. Ibnu Abi Syaibah, dinilai shahih oleh Al Albani).

8. Jalan Kaki

Sa’ad radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wassalam biasa erangkat shalat Ied dan pulang darinya dengan berjalan kaki” (HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al Albani).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, “Termasuk perbuatan sunnah, kamu keluar mendatagi sholat Ied dengan berjalan kaki” (HR. Tirmidzi, dinilai shahih oleh Al Albani).

9. Jalan yang Berbeda

Ada banyak kebaikan bila kita banyak mencoba hal-hal baru. Di samping wawasan yang bertambah, barangkali dengan mencoba hal yang baru dan keluar dari kebiasaan yang biasa-biasa saja kita akan menemukan hal-hal yang luar biasa.

Rasulullah Shallallahu alaihi wasaalam sendiri mencontohkan dengan bijaksana pentingnya keluar dari kebiasaan yang biasa. Selain hikmah di atas, Rasululah berangkat dan pulang melalui jalan yang berbeda agar dapat menyampaikan salam lebih banyak dan kepada orang yang berbeda. Hal inilah yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam untuk menambah kehangatan Hari Raya Idul Fitri.

Jabir Radhiyallahuanhu berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasalam biasa berangkat dan pulang lewat jalan yang berbeda pada Hari Ied” (HR. Bukhari).

10. Di Tanah Lapang

sangpencerah.com
sangpencerah.com

Abu Said Al Khudri Radhiyallallahuanhu berkata; “Rasulullah shallallahu alaihi wasalam biasa keluar pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha menuju tanah lapang” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menganjurkan bahwa pelaksanaan Sholat Ied lebih utama dilakukan di tanah lapang yang luas. Harapannya, dengan tempat yang luas seluruh ummat Islam dapat berkumpul bersatu padu bersama beribadah kepada Allah melaksanakan Hari Raya Idul Fitri.

Anjuran di atas bisa berubah, atau mendapat keringanan. Apabila terjadi hujan, badai atau bencana alam yang sifatnya mendadak tempat pelaksanaan ibadah Sholat Ied bisa diganti di masjid ataupun tempat luas yang aman.

11. Mengikuti Sholat Ied

Dikutip dari Majmu’ Fatawa menjelaskan bahwa Ibnu Taimiyyah menyatakan pendapat hukum melaksanakan Sholat Ied adalah wajib. Pendapat ini lebih kuat sebab Nabi Mulia sendiri memerintahkan ibadah sholat ini.

Begitu pula ketaatan para sahabat, khulafaur rasyidin dan kaum Muslimin, mereka selalu menunaikan Sholat Ied seperti yang diajarkan Nabi Muhammad Saw.

Terlebih lagi, Rasulullah Saw pun tidak memberikan keringanan bagi wanita untuk meninggalkan Sholat Ied. Ya, Sholat Ied adalah syiar terbesar yang dilakukan Ummat Islam yang dilakukan setahun dua kali.

12. Mendengarkan Khutbah Idul Fitri

Setelah melaksanakan Sholat Idul Fitri dua rakaat, selanjutnya para jamaah dianjurkan mendengarkan khutbah Idul Fitri. Baca selengkapnya mengenai contoh teks Khutbah Idul Fitri.

Abu Said Al Khudri Ra berkata, “Rasulullah Saw dahulu keluar di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha ke tempat shalat (lapangan), yang pertama kali beliau lakukan adalah Shalat Ied, lalu salam. Kemudian, beliau berdiri di hadapan manusia yang masih duduk di shaf-shaf mereka” (HR. Bukhari).

13. Ucapan Hari Raya

Begitu sempurnanya Islam, dalam hal menyampaikan ucapan selamat pun telah diajarkan sedemikian rupa demi keharmonisan ummat manusia.

Jubair bin Nufair seorang Tabi’in berkata, “Para sahabat Rasulullah Saw apabila saling bertemu pada Hari Ied, sebagian mengatakan kepada sebagian yang lain: “Taqobbalallahu minna wa minkum” (Atsar yang dinilai hasan oleh Ibnu Hajar di Fathul Bari, 2/575).

Tiga belas point di atas merupakan sunnah yang diajar Nabi Mulia kepada kita selaku ummatnya. Semoga kita bisa mengamalkan sesuai kemampuan kita ya. Crew Redaksi ACADEMIC INDONESIA mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H.

Taqobalallahu Minna wa Minkum, Semoga Allah menerima amal kami dan kalian