Berikut Ini Hukum Menagih Hutang Di Berbagai Kondisi Dan Keadaan

Berikut Ini Hukum Menagih Hutang Di Berbagai Kondisi Dan Keadaan

Hukum Menagih Hutang

Hutang merupakan salah satu kewajiban manusia yang harus dibayarkan. Pemberi piutang juga berhak sewaktu-waktu untuk menagihnya. Hukum menagih hutang sendiri juga bermacam-macam dilihat dari kondisi, cara dan tujuan ketika menagihnya.

Bagaimana Hukum Menagih Hutang?

Menagih hutang merupakan suatu hal yang diperbolehkan. Dengan menagihnya Anda bisa menghindarkan penghutang dari siksa neraka, karena jika penghutang lupa dengan tanggungannya, ketika meninggal ruhnya akan di gantungkan sampai hutang tersebut terbayarkan.

Hukum menagih hutang juga sangat bermacam-macam. Tergantung dari tujuan dan kondisi yang bagaimana ketika Anda menagihnya. Ketika orang yang berhutang benar-benar belum mampu untuk membayarnya, maka diperbolehkan untuk pemberi piutang memberikan sedikit waktu untuknya.

Tidak memandang nominal atau barang apa yang dipinjamkan, ketika pemberi piutang belum ikhlas untuk memberikannya maka masih menjadi hak Anda untuk selalu menanyakannya. Tidak perlu malu atau sungkan karena hal ini dilakukan demi kebaikan kedua belah pihak.

Ayat diatas menerangkan orang yang berhutang, harus mengkesampingkan dahulu hawa nafsu untuk membeli barang-barang diluar kepentingan. Karena haram bagi siapa saja yang dengan sengaja mengesampingkan hutang-hutangnya disaat sang pemberi piutang sangat memerlukannya.

Menagih hutang sendiri bisa diawali dengan cara mengingatkan, jika dengan cara tersebut yang bersangkutan masih menyepelekan tanggungannya maka diperbolehkan untuk menggunakan cara yang sedikit lebih kasar.

Hukum Menagih Hutang Yang Sudah Lama Menurut Islam

Hukum menagih hutang yang sudah lama adalah boleh. Dengan iktikad yang baik maka sang pemberi piutang diperbolehkan untuk segera menagihnya. Jika terdapat unsur kesengajaan untuk tidak membayarnya, maka pemberi piutang bisa menyita harta benda miliknya.

Tidak mengenal waktu baik lama ataupun baru saja, yang namanya hutang akan terus dipertanyakan. Tak jarang memang gara-gara masalah hutang ini banyak keluarga ataupun saudara yang bertengkar terhadap sesama.

Menagih hutang yang sudah lama sendiri juga bukan merupakan hal yang salah. Mengingat hutang adalah suatu kewajiban yang harus segera dibayarkan. Haram hukumnya bagi mereka yang sudah mampu mengembalikannya namun malah menunda-nunda.

Untuk penagihan hutang yang sudah lama, tidak diperbolehkan untuk menaikkan jumlah nominal hutang dengan dalih harga jual barang sudah berbeda dari jaman dulu dengan sekarang. Namun, dianjurkan untuk mereka yang berhutang memberikan sedikit tambahan sebagai kompensasinya.

Contohnya, pada belasan tahun yang lalu si A meminjam uang kepada si B untuk membeli motor. Ketika sekarang si B menagihnya, dia menaikkan jumlah tagihan dengan alasan uang yang jaman dulu bisa untuk membeli motor sekarang sudah tidak cukup untuk membelinya.

Sesuai dengan syariat Islam, si B tetap tidak boleh menaikkan tagihan hutangnya, namun si A dianjurkan untuk memberikan sedikit tambahan ketika membayarnya.

Bagaimana Hukum Menagih Hutang Kepada Saudara Sendiri?

Menagih hutang kepada sanak saudara memang kadang terasa sedikit tidak mengenakan. Namun hukum menagih hutang kepada saudara juga boleh untuk dilakukan. Mengingat piutang masih menjadi hak Anda dan orang yang berhutang juga wajib untuk membayarkannya.

Bersikaplah tegas dan tidak perlu sungkan untuk menagihnya karena memang sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk segera melunasinya. Jika mereka menolak untuk membayarkan hutangnya dengan dalih saudara, maka Allah yang akan memberikan balasan kepada mereka.

Sesuai ayat di atas, hutang harus dibayar. Akan berbeda cerita jika Anda mengikhlaskan hutang tersebut. Hutang yang sudah di ikhlaskan akan berubah menjadi sedekah, ini menjadi hal yang lebih baik tentunya jika sang pemberi piutang sudah sangat ridho dengan perbuatannya.

Meskipun terhadap saudara, ketika seseorang sudah berani berhutang apapun konsekuensinya tetap harus berusaha bertanggung jawab untuk melunasinya. Agar kelak tidak ada perasaan mengganjal yang akan merenggangkan hubungan Anda sebagai sesama saudara.

Menagih Hutang Tanpa Bukti

Hampir seperti memfitnah, hukum menagih hutang tanpa bukti tidak diperbolehkan. Jika orang yang berhutang memang mengakui tanggungannya, maka menagih hutang masih boleh dilakukan. Mereka tidak merasa berhutang dan Anda menagih, maka hal ini sama dengan menuduhnya.

Untuk menghindari hal tersebut, maka dianjurkan untuk membuat catatan piutang baik berupa dokumen ataupun bukti transfer yang nantinya bisa menjadi salah satu bukti ketika orang yang berhutang mulai melupakannya.

Sebagai orang yang mempunyai nurani, jika memang benar berhutang dan tidak ada perjanjian tertulis sebagai buktinya, hendaklah kita jujur untuk mengakuinya. Ada beberapa tips untuk Anda yang sudah terlanjur melakukan hutang piutang tanpa perjanjian.

Yang pertama tagihlah hutang tersebut secara rutin agar kedua belah pihak tidak melupakannya. Kedua, segera buat surat pernyataan dan mintalah tanda tangan kepada yang bersangkutan selagi mereka masih mengingatkannya.

Cantumkan juga nominal secara jelas dan juga waktu jatuh tempo agar mempermudah Anda ketika menagihnya.  Lakukan hal ini jika dirasa yang bersangkutan memang sulit untuk dimintai pertangung jawaban.

Hukum Menagih Hutang Orang Yang Sudah Meninggal

Hutang masih akan menjadi tanggungan meskipun orang yang bersangkutan sudah meninggal. Jika tidak dibayarkan maka hutang tersebut akan terus dipertanyakan di akhirat kelak. Hukum menagih hutang orang yang sudah meninggal adalah diperbolehkan.

Hutang tersebut bisa ditagih melalui keluarga ataupun ahli waris yang mendapatkan harta benda peninggalannya. Jika harta peninggalan berupa sawah, maka sawah tersebut dapat dijual dan hartanya digunakan untuk membayar hutang.

Jika memang yang bersangkutan merupakan sebatang kara dan tidak ada harta ataupun keluarga yang ditinggalkan maka ada dua kemungkinan, yang bersangkutan tetap berdosa atau yang memberi piutang mendapatkan pahala jika benar-benar sudah mengikhlaskannya.

Masalah hutang memang bukanlah perkara ringan yang bisa disepelekan. Karena perhitungannya tidak hanya di dunia namun juga di akhirat. Tidak heran memang jika perkara hutang seperti ini sering memberatkan kedua belah pihak baik yang berhutang ataupun yang memberi piutang.

Hukum Menagih Hutang Dalam Agama Islam

Sebagai mahluk sosial sudah sepatutnya manusia hidup dengan saling tolong menolong terhadap sesama. Memberikan pinjaman untuk mereka yang membutuhkan juga merupakan salah satu bentuk bantuan yang biasa diberikan. Dalam Islam hukum menagih hutang juga tidak dilarang.

Contohnya, ketika salah satu tetangga membutuhkan biaya rumah sakit untuk persalinan istrinya, Anda memberikan hutang kepada mereka agar prosesnya persalinan bisa segera dilakukan. Dengan begini hanya dengan sekali uluran, dua nyawa bisa sekaligus terselamatkan.

Menagih hutang dalam Islam juga boleh untuk dilakukan, ketika Anda memang perlu untuk menagihnya, maka tidak perlu sungkan untuk mengingatkannya karena memang sudah menjadi hak bagi pemberi piutang untuk mendapatkannya kembali.

Tagihlah hutang dengan cara yang sopan agar orang yang berhutang segan untuk segera membayarkan hutangnya kembali, dan jika merek belum mampu untuk membayarkannya maka di perbolehkan untuk menambah jangka waktunya.

Dalam masalah hutang piutang, tentunya anda harus tegas dalam meminta hutang tersebut. Hukum menagih hutang mewajibkan seseorang yang berhutang melunasi hutang tersebut. Dengan begitu, kedua belah pihak merasa saling diuntungkan.

Penyelesaian Hutang Dalam Islam

Penyelesaian Hutang Dalam Islam

Hutang Dalam Islam

Hutang merupakan hal yang wajib dibayar. Hutang dalam Islam lebih menitik beratkan pada kesepakatan antara kedua belah pihak. Semuanya harus melakukan hutang-piutang dengan perjanjian yang jelas. Baik nominal ataupun waktu pengembaliannya.

Hutang Menurut Agama Islam

Hutang menurut Islam memiliki pengertian meminjamkan sebagian hartanya kepada orang lain untuk berbagai macam kepentingan. Pemberian tersebut harus dengan rasa ikhlas dan tidak terbebani. Waktu pembayaran tentunya harus diperhatikan agar tidak terjadi hal yang bisa merugikan.

Dari hadits di atas Anda dapat menyimpulkan bahwa Allah akan melipat gandakan harta yang telah dipinjamkan kepada seseorang. Jadi jangan mempersulit orang yang meminjam, baik uang ataupun benda yang lain.

Bagaimana Arti Hutang dalam Islam?

Arti hutang dalam Islam mempunyai pengertian bahwa orang yang melakukan pinjaman mempunyai kewajiban untuk mengembalikannya. Jika tidak, maka banyak hal buruk yang akan menimpanya. Bisa di dunia maupun di akhirat.

Seseorang yang di mintai pinjaman tentu mengharapkan uang kembali. Namun, dalam Islam tidak diperbolehkan meminta imbalan. Karena imbalan merupakan hal yang haram saat melakukan pinjam-meminjam. Jika peminjam memberikan imbalan tanpa diminta, maka terimalah.

Syarat Hutang Piutang dalam Islam

Dalam melakukan hutang, tentunya harus memperhatikan syarat dan ketentuan yang berlaku. Syarat tersebut harus disepakati oleh kedua belah pihak yang sedang melakukan pinjam-meminjam. Berikut beberapa syarat saat melakukan hutang:

1. Harta yang Dihutangkan Halal

Harta yang digunakan untuk hutang didapatkan dengan cara halal. Sehingga akan lebih aman dan tidak terdapat unsur madarat di dalamnya. Dalam Islam tidak boleh menghutangkan harta yang didapat dari sumber yang tidak jelas, apalagi hasil korupsi.

2. Pemberi Hutang tidak Mengungkit-Ungkit Masalah Hutang

Saat orang yang meminjam belum bisa mengembalikan tentunya harus bersabar. Hutang dalam Islam melarang Anda menjelek-jelekan orang yang melakukan pinjaman tersebut. Jika hal itu terjadi, akan menimbulkan keburukan dalam hidup.

3. Pihak yang Piutang Niatnya Harus Baik

Saat memberikan pinjaman Anda harus memiliki niat yang ikhlas. Tidak boleh memiliki niat dengan embel-embel tertentu. Misalnya saja, mengharapkan uang yang lebih saat jatuh tempo. Karena akan memberatkan pihak yang meminjam.

4. Harta yang Dihutangkan Tidak akan Memberi Kelebihan

Islam melarang melebihkan uang saat melakukan pinjaman. Jika hal itu terjadi, uang kelebihan akan menjadi haram. Oleh karena itu, tentunya uang kembalian harus sesuai dengan uang yang telah dipinjam. Jika ada lebih tentunya harus dikembalikan.

Adab Hutang Piutang dalam Islam

Dalam melakukan hutang tentunya harus memperhatikan beberapa adab yang telah diatur. Jika tidak bisa jadi mendapat beberapa masalah. Akibat hutang dalam Islam yang tidak dibayar, akan berdampak pada hubungan kedua belah pihak. Berikut beberapa adab hutang yang harus dilakukan:

1. Ada Perjanjian Tertulis dan Saksi

Saat melakukan hutang, tentunya harus mendatangkan saksi. Saksi digunakan untuk menjadi pengawas dalam melakukan hutang piutang. Selain itu, tentunya harus menuliskan perjanjian tentang hutang tersebut. Baik nominal ataupun pengembaliannya.

2. Pihak Pemberi Hutang tidak Mencari Keuntungan

Saat Anda memberikan pinjaman jangan mengambil keuntungan secara sepihak. Jika hal itu terjadi, keuntungan yang didapatkan akan menjadi haram. Harta dari keuntungan berhutang merupakan riba. Riba merupakan hal yang tidak disukai oleh Allah.

3. Pihak Piutang Sadar akan Hutangnya

Orang yang berhutang tentunya menyadari bahwa harus mengembalikan harta tersebut dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jika tidak bisa melunasi, bisa mengganti dengan barang yang mempunyai nilai yang sama.

4. Tidak Berhutang dengan Rentenir

Hutang dalam Islam melarang Anda meminta tolong kepada rentenir. Karena kebanyakan rentenir mematok bunga yang tinggi. Selain memberatkan, bunga hutang dalam Islam merupakan sesuatu yang dilarang. Penting kiranya menjauhi hal tersebut.

5. Berhutang Hanya dalam Keadaan Terdesak

Jangan berhutang kecuali dalam keadaan terdesak. Karena dengan berhutang, seseorang akan mempunyai beban yang lebih dan terus berfikir. Berfikir bagaimana caranya untuk mengembalikan hutang tersebut. Apalagi kalau orang tidak berkecukupan.

6. Hutang Piutang tidak Disertai dengan Jual Beli

Saat melakukan hutang, tidak boleh memperjual belikan barang atau hal lainnya. Tentunya Anda harus secara ikhlas dalam memberikan pinjaman. Bagi peminjam tentunya harus mengembalikan pinjaman sesuai dengan waktu yang ditentukan.

7. Memberitahukan kepada Pihak Pemberi Hutang

Saat hutang akan jatuh tempo, maka pemberi hutang wajib untuk mengingatkannya. Begitu pula sebaliknya, untuk peminjam tidak boleh banyak alasan jika belum bisa mengembalikan. Apalagi kalau disertai dengan emosi.

8. Pihak Piutang dengan Baik

Jika menjadi pihak yang melakukan pinjaman tentunya Anda harus baik hati. Mengembalikan pinjaman sesuai dengan perjanjiam. Lebih baik jika mengembalikan sebelum waktu yang telah ditentukan. Setiap peminjam tentunya mengharapkan hartanya kembali.

9. Pihak Piutang Melunasi Hutangnya

Lunasi hutang yang telah dipinjam. Jangan sampai kurang sedikitpun. Misalnya saja, saat jatuh tempo membayar hutang hanya memberikan separuh dari ketentuan yang disepakati. Hal itu akan membuat peminjam menjadi sakit hati.

10. Jika Kesulitan, Berikan Penangguhan Hutang

Jika peminjam merasa kesulitan, maka berikanlah penangguhan beberapa hari kemudian. Dengan begitu, orang tersbut akan mendapat sedikit nafas lega untuk mencari solusi lainnya. Dan pengembalian hutang akan berjalan dengan lancar.

Gejala Akibat Sikap Hutang Piutang

Jika seseorang melupakan hutangnya akan mendapatkan azab. Azab hutang dalam Islam akan didapat di dunia dan di akhirat. Azab didunia merupakan kerugian yang terjadi akibat sering kali berhutang. Berikut gejala yang akan didapatkan:

  • Menyebabkan stres
  • Merusak akhlak
  • Tertunda masuk surga
  • Pahala adalah ganti hutangnya
  • Urusannya masih menggantung

Bagaimana hutang bank dalam Islam?

Bank merupakan sarana terbaik untuk melakukan pinjaman hutang. Pihak bank cenderung memberikan kemudahan untuk para nasabah untuk melakukan peminjaman. Berikut beberapa pendapat mengenai hutang menurut beberapa tokoh Islam:

1. Menurut Rasyid Ridha

Beliau mengatakan bahwa berhutang pada bank merupakan riba. Riba merupakan hal yang harus dijauhi. Beliau berpendapat sesuai dengan Q.S. Ali Imron ayat 130. Ayat tersebut mempunyai inti bahwa hukum riba adalah haram.

2. Menurut M Quraish Shihab

M Quraish Shihab mengatakan bahwa hukum dari meminjam bank adalah riba. Karena saat melakukan pembayaran hutang, akan diberikan kelebihan yang harus dibayar oleh orang yang berhutang. Landasan pendapat beliau mengacu pada Q.S. Al Baqarah ayat 278.

3. Menurut Umar Shihab

Pendapat yang sedikit berbeda. Beliau berpedapat bahwa berhutang pada bank akan saling menguntungkan. Di zaman Rasulullah, berhutang akan mengembalikan dengan jumlah yang lebih banyak. Namun, bank justru memberikan keringanan dengan bunga yang sedikit pada nasabahnya.

Hutang dalam Islam memang boleh dilakukan. Namun, tentunya terjadi kesepakatan antara pihak pemberi dan peminjam. Serta disaksikan oleh beberapa orang dan memiliki jatuh tempo yang telah ditetapkan. Dengan begitu, tidak ada perselisihan antara kedua belah pihak.