7 Fakta Menarik Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jogja

7 min read

Universitas Nahdlatul Ulama UNU Jogja

Universitas Nahdlatul Ulama UNU Jogja

Negara yang mayoritas masyarakatnya penganut agama Islam seperti Indonesia, sudah sewajarnya memiliki banyak Perguruan Tinggi Islam. Mulai dari Perguruan Tinggi Swasta, hingga Perguruan Tinggi Negeri. Semuanya tersebar hampir di seluruh daerah di Indonesia.

Perguruan Tinggi Islam khususnya Perguruan Tinggi Islam Swasta yang ada di Indonesia, kita tahu di antaranya yang menyelenggarakan adalah organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan telah banyak mendirikan Perguruan Tinggi hingga level Universitas. Universitas Muhammadiyah ada hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia.

Selain Muhammadiyah, organisasi kemasyarakatan yang juga terdapat di Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama atau biasa disingkat dengan NU, juga merintis perguruan tinggi-perguruan tinggi sebagai upaya pengembangan pendidikan. Pengembangan pendidikan yang dimaksud di sini tentu pengembangan pendidikan hingga ke level perguruan tinggi atau Universitas.

Sama halnya denngan Muhammadiyah, perguruan tinggi yang dirintis oleh Nahdlatul Ulama juga tersebar di kota-kota besar, dan daerah basis Nahdlatul Ulama seperti di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Belakangan ini, tepatnya pada tahun 2017 Nahdlatul Ulama melalui Pengurus Wilayah NU Yogyakarta baru saja mendirikan Universitas yang diberi nama Universitas Nahdlatul Ulama atau disingkat UNU, yang akan dibahas pada tulisan ini.

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi kemasyarakatan yang memiliki jamaah sebanyak 40% dari total umat Islam di Indonesia. Mengenal NU, berarti sekaligus mengetahui akar NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang tidak bisa dilepaskan dari akar tradisi pesantren. Akar budaya dan tradisi pesantren kini dinilai sudah sangat kuat yang dapat menjamin kelangsungan pembentukan watak disiplin, kerja keras, sikap saling percaya dan menghargai.

Pembentukan watak-watak tersebut, salah satunya juga perlu terus didorong dengan upaya-upaya pengembangan pendidikan. Ikhtiar pengembangan pendidikan tersebut dibuktikan NU dengan mendirikan Perguruan Tinggi, salah satunya Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta. Melalui ikhtiar-ikhtiar pengmebangan pendidikan seperti halnya mendirikan kampus UNU, berarti NU juga terus mengupayakan untuk memajukan peradaban Indonesia.

Mengapa NU dipandang mampu menyelenggarakan perguruan tinggi? Jawaban atas pertanyaan ini dapat merujuk kepada pernyataan Zamakhsyari Dhofier, dalam bukunya “TRADISI PESANTREN: Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia”.

Di dalam buku tersebut dijelaskan, bahwa pada periode sekarang tradisi pesantren sudah memiliki pemikir-pemikir yang cakap yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mampu membimbing serta mengawal arah proses perubahan kemana pendidikan pesantren harus berkembang. Ketajaman pemikiran mereka telah dapat memberikan berbagai pilihan strategis yang dapat membimbing para pemangku Tradisi Pesantren untuk mengambil peranan lebih besar dalam pembangunan Peradaban Indonesia Modern.

Berangkat dari pandangan Zamkhsyari di atas, kita dapat memaknai bahwa menyelenggarakan perguruan tinggi bagi NU merupakan pengembangan arah proses perubahan yang menuju kemajuan peradaban. Tentu pertamakali yang ingin diangkat adalah Peradaban Indonesia Modern dalam makna modern yang positif. Dengan demikian, NU memiliki alasan yang benar dalam hal melakukan ikhtiar pengembangan-pengembangan khususnya dalam dunia pendidikan.

Kembali pada topik pembahasan kita, yaitu kampus UNU. Kampus yang terletak di Jalan Lowanu No.47, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta ini, diresmikan pertama kali oleh Menteri Negara Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir pada Jumat, 10 Maret 2017.

Acara peresmian yang dihadiri Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siradj, saat itu juga sekaligus melantik rektor pertama UNU, yaitu Prof Purwo Santoso. Prof Purwo Santoso sendiri, dalam struktur PWNU DIY merupakan wakil ketua bidang Kajian Strategis dan Perguruan Tinggi yang juga merupakan guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM).

Tentu sangatlah menarik dan penting untuk diketahui bagaimana awal mula atau latar belakang NU dapat mendirikan perguruan tinggi. Awal mula atau latar belakang UNU Yogyakarta bisa berdiri tentunya melalui proses diskusi panjang. Hal ini diungkapkan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY Prof Nizar Ali, di mana pernyataan ini juga diliput mejadi laporan berita di laman Republika, pada 10 Maret 2019.

Adapun mengenai desain atau konsep UNU Yogyakarta, juga menurut Prof Nizar Ali, UNU dirancang agar bisa mengajarkan Ahlussunah waljamaah yang merupakan faham yang selama ini dianut oleh para jamaah NU untuk dapat diajarkan kepada mahasiswa dengan leading sector-nya adalah dengan mengadakan Fakultas Dirasah Islamiyah.

Selain Fakultas Dirasah Islamiyah, di UNU juga terdapat beberapa Fakultas lain meliputi Fakultas Ilmu Pendidikan dengan jurusan; Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Teknologi Informasi dengan jurusan; Teknologi Informatika, Teknik Komputer, dan Teknik Elektro, Fakultas Ekonomi dengan jurusan; Manajemen dan Akuntansi, Fakultas Industri Halal dengan jurusan; Farmasi dan Teknologi Hasil Pertanian dan Agribisnis.

Fakta-fakta Menarik Kampus UNU Jogja

Logo UNU Jogja

Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berikhtiar membangun peradaban Indonesia, UNU menoreh fakta-fakta menarik sejak awal mula berdiri. Apa saja fakta-fakta menarik itu?

  1. Sambutan Sultan

Sebagai Perguruan Tinggi dengan leading sector Dirasah Islamiyah, ditambah beberapa Fakultas yang dimiliki UNU, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur DIY KGPA Pakualam X berharap UNU Yogya memiliki karakter khusus yang tidak dimiliki perguruan tinggi lain di Yogyakarta. Dengan pendidikan di UNU diharapkan lahir generasi yang cerdas dan bertakwa.

Apa yang disampaiakan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam menyambut kehadiran UNU di Yogyakarta tentu bukan isapan jempol belaka. NU, sebagai organisasi kemasyarakatan yang mengemban ikhtiar membangun peradaban melalui jalur pendidikan tentu dirasa mampu melaksanakan pendidikan dengan baik ke depannya. Mengingat kondisi positif akar tradisi NU sebagaimana dijelaskan di atas, merujuk Zamakhsary, khususnya dalam ranah intelektual NU dirasa sudah sangat mapan sehingga siap membentuk peradaban Indonesia lebih berkarakter sesuai ajaran Islam.

  1. Pemilik Fakultas Dirasah Islamiyah kedua Setelah UIN Jakarta

Dirasah Islamiyah merupakan fakultas yang baru ada dua di Indonesia. Yang pertama di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan yang kedua ada di UNU Yogyakarta. Fakultas Dirasah Islamiyyah ini menggunakan kurikulum Al-azhar Mesir. Nah, didalam Fakultas Dirasah Islamiyah ini ada Program Study Islam Indisipliner (SII). Dan baru di UNU Yogyakarta program study SII ini menempati S1, selama ini SII hanya ada di tingkat S2 dan S3.

Fakultas ini (Darasah Islamiyah) menjadi ruh yang diharapkan dapat mewarnai seluruh fakultas dan program study di UNU Yogyakarta sebagai Universitas kader. Fakultas Darasah Islamiya sendiri terdiri atas tiga basis keilmuan, yaitu Fakultas ini berbasis keilmuan pesantren dan akan merujuk pada Islam Nusantara.

Kedua Intensionalisasi, yaitu pengembangan dalam segi penguasaan bahasa meliputi bahasa Inggris. Pola pengembagan bahasa Inggris ini dimaksudkan agar para kader yang belajar di Fakultas Dirasah Islamiyah mampu menawarkan khazanah-khazanah keilmuan pesantren ke dunia luar. Dan terakhir, yang ketiga adalah pengkaderan dalam menjembatani ilmu-ilmu pesantren dengan ilmu-ilmu yang sudah ada di perguruan tinggi.

Dengan adanya fakta demikian, berarti kehadiran UNU yang mengadakan Fakultas Dirasah Islamiyah, telah berkontribusi menambah atau memperluas ketersediaan keilmuan Dirasah Islamiyah untuk diakses oleh para mahasiswa yang sebelumnya hanya ada di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

  1. Memiliki Sistem Tersendiri yang Khas

Perguruan Tinggi atau Universitas di manapun, pada umumnya menggunakan sistem kredit semester (SKS) dalam menjalankan program pengajaran materi keilmuan kepada para mahasiswanya. Namun sistem yang diterapkan di UNU memiliki perbedaan dengan sistem yang dipakai oleh kampus-kampus pada umumnya. Bagaimana sistem yang diterapkan di UNU?

Sistem Pembelajaran di Universitas Nahdlatul Ulama ini berbeda dari universitas lainnya di Indonesia. Jika di universitas lain menggunakan sistem kredit semester atau biasa disingkat SKS, maka UNU Yogyakarta Hadir menggunakan sistem pembelajaran blok. sistem perkuliahan Blok Tuntas, suatu model intensifikasi pembelajaran vokasional, yang diarahkan untuk menuntaskan seluruh proses satuan mata kuliah dalam durasi waktu tertentu.

Dengan sistem ini, maka mata kuliah dengan beban 3 SKS, misalnya, diselesaikan dalam 13 hari non-stop, kemudian dilanjutkan mata kuliah lain dengan waktu tertentu pula hingga tuntas, dan begitu seterusnya. Sistem blok ini biasa dipakai di fakultas kedokteran.

  1. Sistem Boarding School

Mahasiswa yang mengambil Fakultas Dirasah Islamiyah ini akan tinggal di boarding university dan dibekali dengan kemampuan metodologis ilmu-ilmu pesantren untuk melakukan analisis. Ketika lulus, para kader akan didistribusikan ke Pengurus Cabang NU, Majelis Wakil Cabang NU di berbagai daerah untuk memperkuat kajian keislaman dan mencetak kader-kader syuriah NU ke depan.

Sistem Boarding School dalam tradisi pendidikan NU ini tentu sudah tidak asing dan sudah menjadi kebiasaan dalam hal konsep penyelenggaraan pendidikan. Begitu halnya dalam mengadakan Perguruan Tinggi, UNU tetap mengadopsi tradisi pendidikan pesantren yang telah mengakar sejak lama yang diterapkan dan telah menjadi tradisi.

  1. Kampus Pilihan Para Tokoh Untuk Mengadakan Kajian

Kampus tentu dipahami sebagai lembaga pendidikan, tempat di mana transfer keilmuan dalam berbagai bidang dijalankan di dalamnya. Kampus mejadi tempat yang strategis sebagai tempat mendiskusikan berbagai diskursus, dan tempat yang representative untuk menggelar berbagai kajian untuk memproduksi khazanah khususnya khazanah keislaman. Begitupun dengan kampus UNU. Kehadiran UNU menambah jaringan intelektualisme islam di Indonesia, untuk menopang tumbuhnya peradaban Indonesia.

Kewibawaan UNU dalam segi intelektual ditunjukkan dengan seringnya para tokoh memilih UNU sebagai tempat mengadakan kajian. Di antaranya pada bulan Oktober tahun 2017, Gus Ulil Abshar Abdalla, yang terenal sering melakukan kajian melalui online, menjadikan UNU sebagai tempat kopdar ngaji kitab Ihya ‘Ulumuddin.

Selain itu pada bulan yang sama, sejarahwan sekaligus tokoh NU Agus Sunyoto mengadakan bedah buku karangannya “Fatwa dan Resolusi Jihad NU” juga di kampus UNU. Kehadiran serta aktivitas semua tokoh-tokoh tersebut adalah dalam rangka memperkaya wacana atau memperluas khazanah keilmuan Islam.

  1. Jas Almamater Berwarna Hijau

Perguruan Tinggi di manapun tentu memiliki jas sebagai identitas dari masing-masing lembaga. Kita menyebutnya jas almamater. Jas almamater yang dimiliki setiap perguruan tinggi memakai warna-warna tersendiri. Setiap perguruan tinggi memilik warna jas almamater sendiri.

Bagaimana dengan jas almamater yang digunakan UNU sebagai jas resmi mahasiswa? cukup sederhana menjelaskannya. Jika kita masuk ke kampus UNU, kita akan melihat mahasiswa yang mengenakan jas almamter. Apa warna jas almamter UNU? Ya, tepat sekali! Almamater mahasiswa menggunakan warna hijau merujuk warna khas NU yang juga menggunakan simbol warna hijau.

  1. Karakter Rektor yang Kesantrian

Sedikit mengenal sosok Rektor UNU, Prof Purwo. Kali ini mengenal prof Purwo dari segi keteladanan yang penulis ketahui, atau penulis saksikan langsung dalam kesempatan bertemu dengan Prof Purwa dalam suatu acara. Sekali lagi fakta ini penulis langsung yang menyaksikannya sendiri. Dalam kesempatan hadir di acara seminar, penulis menyaksikan betapa sifat kesantrian rektor tetap melekat. Pada menjelang seminar akan dimulai, Rektor Prof Purwo turut menata kursi-kursi yang digunakan untuk peserta seminar. Sungguh pemandangan yang jarang dalam hal keteladanan hari ini.

Prof Purwo selaku Rektor UNU, yang juga merupakan Dosen Besar Universitas Gajah  Mada (UGM) dalam pandangan penulis tentu sosok yang bersahaja. Sekalipun tingat keilmuan beliau tinggi, serta status beliau juga sebagai rector, namun beliau tidak segan-segan melakukan pekerjaan yang mestinya dikerjakan oleh pegawai bidang prasarana UNU. Namun begitulah faktanya, karakter yang melekat pada diri Prof Purwo menunjukkan teladan yang baik.

Biaya Pendidikan

Sebagai pembahasan akhir, disini akan dibahas mengenai biaya pendidikan di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta. Sebagai Universitas Swasta, dalam operasional program pendidikannya tentu mematok biaya-biaya yang dibebankan kepada setiap mahasiswa yang kuliah di UNU Yogyakarta. Di bawah ini dirinci biaya-biaya pendidikan meliputi beberapa item dari seluruh fakultas yang terdapat di UNU.

Namun, sebagai informasi tambahan, selain biaya reguler, Universitas Nahdlatul Ulama juga menyediakan banyak beasiswa bagi santri berprestasi kurang mampu. Jadi jalur prestasi ini yang memungkinkan memberikan kesempatan bagi mahasiswa kurang mampu, namun memiliki motivasi dan prestasi tinggi dalam menempuh bidang keilmuan untuk dapat kuliah.

Adapun biaya pendidikan di Univeritas Nahdlatul Ulama Yogyakarta meliputi uang gedung, SPP, dan Orientasi. Secara rinci, biaya setiap Fakultas:

  1. Fakultas Pendidikan dan Dirasah Islamiyah (Uang gedung= Rp 3.000.000, SPP= Rp 2.000.000, Orientasi= Rp 500.000);
  2. Fakultas Teknik (Uang gedung= Rp 4.000.000, SPP= Rp 3.000.000, Orientasi= Rp 500.000)
  3. Ekonomi (Uang gedung= Rp 4.000.000, SPP= Rp 2.000.000, Orientasi= Rp 500.000)
  4. Industri Halal (Uang gedung= Rp 5.000.000, SPP= Rp 3.000.000, Orientasi= Rp 500.000.

Demikian beberapa informasi serta fakta-fakta mengenai kampus UNU Yogyakarta. Informasi berisi ulasan perguruan tinggi ini sebagai tambahan pengetahuan bagi masyarakat sebagai tambahan opsi dalam memilih perguruan tinggi. Atau minimal sebagai informasi untuk diketahui masyarakat bahwa di Indonesia telah semakin banyak perguruan tinggi yang berdiri.

Salah satunya di Yogyakarta telah bertambah Perguruan Tinggi, yaitu Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) yang dibahas pada kesempatan ini. Dengan semakin bertambahnya perguruan tinggi di Indonesia, akan membantu proses pencerdasaan masyarakat. Dengan adanya pendidikan, masyarakat secara perlahan akan tercerahkan oleh cahaya ilmu yang dipelajari. Dengan demikian proses memajukan peradaban Indonesia menuju peradaban yang modern, serta peradaban sebagaimana yang dicita-citakan bangsa ini akan segera dapat tercapai.

Upaya untuk menuju cita-cita tersebut perlu dilakukan dengan upaya sungguh-sungguh seperti yang diupayakan organisasi kemasyarakatan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam ikhtiarnya masing-masing (Muhammadiyah dan NU) mengembangkan pendidikan atau menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas untuk dapat diakses oleh masyarakat secara luas. Sekali lagi hal ini sebagai upaya atau ikhtiar membangun peradaban.

Sebagai tambahan referensi dan info pendaftaran lebih lengkap, anda dapat mengunjungi pmb.unu-jogja.ac.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *