Pendidikan Seks Usia Dini; Diam Bukan Tanda Peduli

28 views
Pendidikan Seks Usia Dini; Diam Bukan Tanda Peduli

ACADEMIC INDONESIA — Belakangan ini sangat ramai berita menghebohkan mengenai kekerasan dalam hal seksual. Para stakeholder mulai bahu membahu, sebenarnya apa penyebab dari masalah yang kian hari kian larut ini.

Tentu kita semua masih ingat betapa silih berganti kasus demi kasus terus bermunculan. Tak hanya menimpa remaja saja korbannya, bahkan beberapa kali sering kita dengar bahwa korban merupakan anak di bawah umur yang seharusnya mendapat perlindungan.

Bila dirunut beberapa penyebabnya, ada pengaruh besar media dengan kehidupan saat ini. Bila dahulu orang hanya orang-orang tertentu yang bisa menonton siaran televisi, saat ini bahkan semua umur bisa menonton dengan leluasa kapan dan di mana saja.

Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius adalah luasnya peredaran film-film panas, iklan-iklan panas seperti obat pembesar alat vital, obat pembesar penis dan lain sebagainya. Sebenarnya, jika media tersebut tertuju pada kalangan yang membutuhkan bisa jauh lebih tepat.

Namun, jika media tersebut tertuju pada anak-anak dan remaja yang notabene belum siap menerima hal tersebut malah bisa menjadi masalah tersendiri.

Oleh sebab itulah, penting kiranya orang tua guru dan semua yang lebih dewasa untuk mengawasi tingkah laku anak-anak remaja. Bukan mengawasi dalam artian serba membatasi, namun mencoba memberikan peluang berkarya sesuai minatnya justru menjadi lebih baik.

Peduli Bukan Diam

Sebagai manusia, fitrah untuk bersosialiasi memang sudah menjadi lumrah dan menjadi sebuah kebutuhan. Terlebih sosialiasasi kepada para tetangga maupun kerabat lainnya. Satu hal yang perlu mendapat perhatian selain sosialiasasi adalah kepedulian.

Barangkali banyak di antara kita yang memilih untuk diam bila terjadi berbagai kekerasan dalam rumah tangga ataupun kekerasan dalam bentuk-bentuk lainnya dengan dalih tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga.

Hal tersebut tidak dibenarkan dalam hal bersosial, apalagi dalam hal jalinan saling menjaga. Bila ada kekerasan dalam rumah tangga atau keluhan anak pada orang tuanya, maka secara terbuka tetangga semestinya tau bagaimana tindakan yang tepat.

Jangan sampai diam mengakibatkan kekerasan terlanjur terjadi. Begitu juga, sebagai orang tua, anak seringkali merasa takut untuk menceritakan sesuatu yang terjadi di luar dugaannya. Hal yang perlu dilakukan orang tua selain memberikan sandang pangan tentu saja juga memberikan kenyamanan agar anak bisa tenang bercerita tentang masalah yang dihadapinya.

Pada dasarnya, setiap tetangga adalah keluarga yang bertanggung jawab atas keselamatan tetangga lainnya. Dengan menjalin ikatan yang kuat antar tetangga, kekerasan akan lebih mudah terselesaikan. Kita mulai dari kita sendiri untuk kuat membangun hubungan internal tetangga, selebihnya kita percayakan pada pembuat peraturan agar tersedia sistem yang benar-benar melindungi hak-hak perempuan.

Bergerak untuk keselamatan nyawa orang lain kiranya lebih bijaksana daripada diam dengan dalih tidak ingin ikut urusan pribadi. Bersosialah, sebab dengan bersosial, masalah sedikit demi sedikit akan ringan dan mudah mendapat solusi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *