Mencari Makna Jurnalis di Kampus UINSA Surabaya (Pengalaman Nur Chafshoh)

7 min read

Gambar Kampus Universitas UINSA Surabaya

Bagi saya, ilmu jurnalis tidak hanya sekadar menulis berita. Namun sebagian masyarakat mengaitkan berita dengan kata jurnalistik. Saya adalah alumnus jurusan KPI di UINSA Surabaya. Pengalaman saya selama berada di bangku kuliah, meniti ilmu jurnalis sangatlah beragam. Waktu itu memang saya terobsesi untuk menjadi seorang penulis. Berawal dari memutuskan masuk di jurusan Komunikasi dan Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), saya pun menghela napas. Apa sih yang ada di Jurusan ini?

Mengikuti Kegiatan Kampus yang Selaras dengan Jurusan

Lambang Logo UINSA Surabaya

Selang beberapa hari di kelas, saya pun mulai mengerti, di jurusan ini pada intinya kita diajarkan untuk menulis. Semua memang berawal dari pandangan pertama, saya menganggap demikan, pokoknya bakalan diajari menulis. Saya pun jalan-jalan di sekitaran kampus sebagai mahasiswa baru (MABA), ada banyak UKM kampus yang mengadakan perekrutan anggota baru dalam UKM-nya. Saya pun melirik stand yang ingin mencari MABA yang tertarik dengan dunia jurnalistik. DJD Ara-Aita (diklat jurnalistik dasar) atau yang biasa disingkat LPM Arta, sebuah Lembaga Pers Kampus yang dimiliki oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Sebagai MABA pastinya kita-kita punya semangat dara muda yang menggelora. Termasuk saya. Lirikan mata saya kemana-mana, tapi saya pun harus memilih beberapa UKM yang singkron dengan jurusan saya. Salah satunya LPM Arta tersebut. Saya pun mencari tahu apa persyaratan mengikuti LPM itu, disuruh buat Artikel, terserah mau artikel apa. Lalu berkas disatukan dengan biodata yang lain. Syarat pun langsung saya buat dan layangkan ke stand Arta. Sebenarnya cuma buat keseriusan anggota saja, buat artikelnya, dan ingin tahu anak didiknya condong ke tulisan jenis apa.

Selama mengikuti pengkaderan, kami semua diarahkan untuk mengikuti acara di kampus selama tiga hari. Karena ini acaranya di kampus, kita tidak disuruh untuk menginap. Mulai dari jam 7 pagi hingga jam 8 malam selama tiga hari berturut-turut, kami digencar dengan materi jurnalistik, terutama berita. Baik dari tulisan Straigth News hingga Features. Sudah sejak awal saya telah mengikuti kegiatan yang berbasis jurnalis, saya pun mulai mengarah pada pandangan yang sama, yaitu KPI adalah jurusan yang mengajarkan jurnalistik berita.

Mengapa demikian? Karena di kelaspun banyak menyuguhkan materi tentang menulis berita. Dari mata kuliah Jurnalistik Cetak, Jurnalistik Online, Desain Media Jurnalistik, Desain Media Online, Creative Writing, Jurnalistik TV, dan lain sebagainya. Itu semua saya dapatkan pada semester lima kalau gak salah. Semester yang mengharuskan memilih konsentrasi, ada 2 Jurnalistik dan Public Speaking. Sesuai dengan nama Jurusannya, Komunikasi Penyiaran Islam. Ada kata komunikasi, dan penyiaran Islam.

Komunikasi berarti kita akan diajari untuk melakukan komunikasi yang baik, salah satunya dengan media tulisan. Karena saya mengambil konsentrasi Jurnalis, kami para jurnalis di kelas mengikuti materi dengan baik, bahkan kita disibukkan dengan kerja kelompok mengambil gambar untuk dijadikan video profil wisata, layaknya artis. Seru, kami menikmati. Begitulah anak mahasiswa, menikmati meskipun tidak punya uang. Bahkan posisi tidak punya uang pun dapat jalan-jalan.

Seperti yang kami lakukan para mahasiswa KPI, berkelana mengikuti seminar-seminar yang diadakan kampus lain. Waktu itu saya dan kawan-kawan mengikuti acara seminar di UB Universitas Brawijaya Malang. Tentunya diberikan wawasan mengenai hal-hal yang berubungan dengan jurnalistik, terutama Televisi. Serta informasi mengenai keadaan dunia jurnalistik di masa kini, waktu masih sedikit asing, jurnalistik yang akan segera viral, yaitu sebagai kontributor atau netizen.

Pendalaman saya tentang kepenulisan di jurusan ini masih seputar dunia berita. Ada banyak kegiatan yang dapat dihubungkan dengan kata jurnalis, tentunya yang masih selaras dengan dunia berita. Di dalam organisasi yang saya ikuti, tentunya Arta, di sana diajarkan menulis macam-macam jenre berita. Di kelas, ada banyak materi yang dapat dikaitkan dengan berita, tentunya lebih banyak seputar materinya saja. Jurnalistik Cetak, kami diajarkan untuk membuat berita yang menelisik lebih dalam kepada materi beritanya. Bagimana Jawa Pos dari mencari tema hingga menuliskannya, kita juga diajak kunjungan ke media tersebut yang kebetulan tempatnya dekat dengan kampus, di Graha Pena.

Kami juga diajarkan membuat desain Media Cetak pada mata kuliah Desain Media Cetak. Dengan beberapa aplikasi semacam coreldraw atau photoshop. Pada mata kuliah Creative Writing, kami diajarkan bagaimana cara menulis yang benar, tapi di sini lebih kepada teorinya saja sayangnya. Padahal waktu saya ingin materi yang lebih yaitu latihan, latihan, dan latihan. Tentu yang saya harapkan adalah bagaimana dosen dapat memberikan materi dan keilmuan yang sesuai dan benar-benar dapat dipraktikkan langsung oleh mahasiswanya, bukan hanya sekadar materi. Tapi pada kenyataannya banyak mata kuliah yang hanya menyuguhkan itu. Yang saya acungi jempol pada KPI UINSA sebenarnya kalau mata kuliah tentang praktik langsung, seperti desai media cetak, langsung diberikan kepada ASDOS yang pakarnya. Hanya saja pada waktu saya yang kurang mengikuti, sehingga lebih mudah lupa. Tapi kalau seputar menulis berita, jarang ada yang menyuruhnya untuk menulis berita.

Apa yang saya cari tentang materi dan praktek, malah ketemu di dalam sebuah organisasi. Arta. Kegiatan mencari berita, dijadikan Crew Newnew dulu, yaitu sebuah tim yang ada di pengkaderan sebelum dinobatkan menjadi bagian dari keluarga Arta. Di sana kami digembleng untuk menulis berita dan tulisannya akan diterbitkan dalam buletin yang terbit setiap satu minggu sekali. Dari proses rapat tema, pembagian jobdis penulis, hingga mencari berita yang membutuhkan usaha penuh. Wawancara yang kadang diam-diam, menggunakan nama inisial, hingga kajian pada tengah malam. Sungguh, baru saya tahu dunia wartawan sangat berat, padahal masih wartawan amatir yang belajar di dalam kampus, berita-berita pun seputar kejadian di kampus.

Di dalam jurusan sendiri sebenarnya ada pengkaderan, yaitu sebuah tim jurnalis yang diadakan HMJ, pada waktu di jurusan saya namanya masih HMJ sekarang diganti HIMAPRODI. Namun karena tim tersebut membutuhkan seleksi, dan saya daftar tapi tidak lolos, saya pun tetap fokus pada Arta. Keluarga wartawan yang menurut saya menyenangkan. Selama belajar di sana, saya menjadi sosok yang semangat dalam mencari berita dan nimbrung dalam setiap kegiatan yang dilakukan di organisasi tersebut.

Jurnalis Bukan Sekadar Penulis Berita

Setelah helaan napas panjang, menerjang api semangat menggiati literasi kejurnalisan bidang berita, saya pun mulai menepi sebentar. Suatu problem keorganisasian di Arta (Ara-Aita) saya rasakan, yang membuat rasa ingin tidak terlalu aktif di sana, meskipun rasa sayang terhadap para anggota Arta karena kebersamaan selama ini. Saya tahu, menjauh bukan suatu penyelesaian masalah, tapi saya ingin.

Di kelas konsentrasi jurnalis, ada sebagian dari mereka adalagh anggota Arta. Mereka tetap menjunjung nama berita sebagai sumbangsih terbesar dalam dunia kepenulisan jurnalis. Setiap apapun diskusi itu yang berada di dalam kelas, mereka berdiskusi dengan kritis. Tatapi saya yang sering duduk di bangku paling pojok dan jarang menemani serta melayani anak jurnalis untuk diskusi, saya memiliki pemikiran yang berbeda. Mungkin juga faktor organisasi yang kurang baik, atau gara-gara itu baru saya disadarkan untuk mendalami makna jurnalis yang sesungguhnya.

Hal yang positif saya aktif keorganisasian jurnalis adalah sata tahu dunia jurnalis ini sangat unik. Kadangkala seorang jurnalis harus mempunyai daya peka yang sangat tajam, kritis, dan independen. Tapi kadangkala jurnalis harus menyesuaikan diri dengan pendekatan sosial terhadap masyarakat, karena konon seorang jurnalis adalah pembela rakyat. Di balik perjuangannya dalam mengais berita dan begadang malam. Tapi itu semua adalah perjuangan menulis berita sebagai jurnalis.

Lalu ketika saya menepi dan lebih memilih menelaah arti jurnalis yanh sesungguhnya, poin utama yang saya dapatkan adalah jurnalis penulis segalanya. Tugas pokoknya sebagai penulis. Saya pun menyelam ke dunia literasi. Di mana di sana ada banyak jenis tulisa yang bisa dikategorikan sebagai bahan untuk para jurnalis menulis. Ada puisi, cerpen, cerbung, artikel dan tulisan jurnalis yang lainnya. Pikiran saya dibedah dan dibagi-bagi tentang apa arti jurnalis lain yang saya tidak tahu. Yaitu mendalami dunia sastra.

Sebagai mahasiswa saya dan kami sudah terbiasa dengan dunia googling mencari informasi melalui google. Meskipun itu adalah kegiatan yang dilakukan mahasiswa masa kini saja, yang kadangkala membuat khilaf para pelakunya mencari refrensi tugas dan mencomot artikel untuk dipindah ketugasnya. Tapi karena saya telah terlebih dahulu berada di dunia jurnalis khususnya berita, saya tidak terbiasa melakukan plagiasi.

Namun google masih sangat berguna bagi saya. Selain untuk mencari inspirasi tulisan, dari google dan baca-baca buku di perpustakaanlah yang menyadarkan saya bahwa ada tulisan jenis lain yang menyertai dalam dunia jurnalis. Seperti yang saya lakukan, mencari informasi mengenai tulisan sastra, gabung dengan grup menulis seperti GPSP ( goresan pena sang penulis), KBM (komunitas bisa menulis), dan lain sebagainya. Serta dapat mencari tatacara menulis sastra, bagaimana menulis puisi yang baik dan seterusnya.

Pendalaman saya juga mengantarkan saya belajar menulis jenre jurnalis berupa tulisan biografi. Saya pun gemar mencari refrensi sejarah-sejarah Islam lalu saya foto copy sebagai bahan tulisan. Hobi saya yang baru ini, membuat pikiran saya terbuka untuk mendalami dunia jurnalis yang sesungguhnya. Mengikuti acara-acara, pelatihan kepenulisan sastra seperti yang digagas oleh bu Wina Bojonegoro. Ia telah menulis banyak cerpen yang berhasil tembus koran-koran nasional seperti Jawapos dan Kompas. Tidak hanya itu, perkumpulan grup kepenulisan yang diadakan dalam rangka Kopdar di Jogja pun saya datangi. Berangkat sendiri pula. Begitulah saya, terlalu bersemangat dalam mendalami dunia literasi.

Kegiatan kliping mengeliping isi koran pun saya lakoni. Waktu itu sekitar semester lilma, saya punya program untuk diri sendiri membeli koran setiap akhir pekan, yaitu koran Minggu. Jenis tulisan yang saya cari adalah cerpen, puisi, dan artikel-artikel yang menarik. Lalu saya gunting dan ditempelkan di buku besar. Semua saya lakukan dalam rangka hobi dan kesenangan mendalami dunia jurnalistik. Saya mencoba melakukan peran sebagai manusia berpaham jurnalis yang idealis. Tulisan-tulisan itu saya jadikan patokan tulisan jurnalistik yang baik.

Sebagai bukti keseriusan saya, saya mencoba menerapkan dan memberi pemahaman kepada diri saya sendiri tentang makna jurnalis sesungguhnya. Jurnalis adalah kegiatan tulis-menulis lalu saya coba untuk memberikan pemahaman itu kepada orang lain. Selain ikut organisasi LPM Ara-Aita, saya juga aktif dalam UKM IQMA di sana ada banyak bidang. Saya masuk dalam bidang dakwah, dan saya percaya bahwa tulisan dapat dijadikan sebagai media dakwah.

Setelah saya berproses di IQMA dakwah dalam satu tahun, saya juga merasa mendalami konsentrasi bidang Public Speaking yang di sana juga diajarkan dalam Jurusan KPI. Tetapi saya lebih tertarik pada dunia tulis-menulis, saya pun dapat menerapkannya dalam ilmu dakwah tersebut, yaitu berdakwah dengan tulisan. Saya dan kawan-kawan pun diangkat menjadi pengurus. Lalu pemikiran itu saya terapkan kepada anak-anak didik saya. Mereka suka, terbentuklah grup FB berdakwah dengan tulisan, namun tidak bertahan lama. Karena saya sudah mendapat panggilan untuk menikah, yaitu pada semester tujuh.

Karena Jurnalis Juga Butuh Uang

Saya sebagai mahasiswi KPI Konsentrasi Jurnalis, bergelut dengan tulisan adalah hal yang biasa. Tetapi siapa yang tidak tahu, bahwa kebanyakan mahasiswa perantauan, memiliki keuangan yang tidak stabil. Kami dituntut untuk belajar dengan menyesuaikan jatah uang makan, kebutuhan hidup lainnya, serta untuk keperluan kuliah. Saya pun mulai tertarik untuk mencari pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu proses kuliah dan kegiatan di kampus. Salah satunya menjadi penulis lepas, dan mengikuti lomba-lomba menulis.

Setelah tahu, bahwa jurnalis tidak hanya menulis berita, saya pun mendapat ilmu tambahan dari pendalaman saya mengenai arti jurnalis sesungguhnya, terbiasa menulis cerpen, meskipun tidak ada yang lolos seleksi koran nasional. Terbiasa menulis puisi, meskipun belum ada yang lolos untuk diterbitkan. Tapi saya pernah satu kali mendapatkan uang berupa pulsa dari even yang ada di facebook yaitu menulis cerita singkat. Saya termasuk kategori favorit. Alhamdulillah terbantu pulsa, hal itu sungguh menggembirakan bagi mahasiswa perantauan.

Tidak cukup sampai di situ, saya juga berusaha mencari lowongan menulis artikel lepas di google, saya layangkan lamaran menulis di banyak tempat. Barangkali ada yang mau menerima saya menjadi salah satu penulis mereka. Melalui olx dan lainnya saya menemukan kontak WA, lalu kami melakukan pekerjaan sesuai yang tertera di dalam loker tersebut. Salah satunya menulis kata mutiara dalam 300 kata, selama kuliah kegiatan saya banyak, dan saya juga masih pemula dalam pekerjaan ini. Sungguh sangat membutuhkan kedisiplinan dan ketelatenan. Sampai-sampai di bus saat perjalanan pulang ke tanah kelahiran pun disibukkan dengan menulis, karena dikejar deadline.

Ternyata di tengah perjalanan saya tidak sanggup. Belum genap satu bulan, tidak saya teruskan, dan sepertinya kontrak putus dengan sendirinya, tanpa ada pertanyaan dari si pemilik lowongan tersebut. Kemudian berlanjut dengan lowongan berikutnya, saya memulainya dengan belajar lebih dalam tentang kepenulisan artikel sebagai salah satu genre Jurnalistik. Di sini pekerjaan saya lebih kepada tulisan artikel bertemakan kesehatan dan tips agar hidup sehat.

Saya pun sudah mulai mengerjakan tugas-tugas artikel itu, sudah hampir satu bulan, tiba-tiba saja saya lost kontak dengan tim pengelolanya, tiba-tiba saja nomor mereka tidak bisa dihubungi. Saya kecewa, tapi ya sudah lah. Mungkin belum rezeki saya. Tapi karena hal itu, saya tidak berani mencari lowongan kerja menulis artikel lagi. Saya pun lebih sering mengirim tulisan-tulisan saya ke media cetak, sembari mendalami ilmu jurnalistik saya. Dalam hal ini saya mengambil hikmah bahwa dengan mengikuti event-event dan belajar menulis di media massa, saya dapat lebih belajar praktik langsung di dunia kepenulisan.

Kesimpulan

Makna jurnalistik yang saya temukan adalah sebuah ilmu yang mempelajari dunia tulis-menulis. Tidak hanya sekadar menulis berita. Bisa jadi menulis artikel, menulis cerpen atau puisi. Begitu juga dalam Konsentrasi Jurnalis dalam mata kuliah Creative Writing, yang diberi pelajaran mengenai menulis cerpen meskipun hanya sekadar teori. Begitulah pengalaman saya ketika berada di KPI Konsentrasi Jurnalis, jangan hanya belajar di dalam kelas saja, kita jadi kurang berkembang ilmunya. Lalu belajarlah dengan giat, karena akan bermanfaat kelak ketika lulus kuliah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *