Pengalaman Alifa Kuliah di Mesir Universitas Al Azhar

7 min read

Pengalaman Alifa Kuliah di Mesir

Pengalaman Alifa Kuliah di Mesir

Sebagai salah satu universitas terbaik di Mesir sekaligus di dunia, nama Al-Azhar barang kali sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dimulai dari sejarah berdirinya sampai sumbangsihnya dalam membangun peradaban Islam di dunia, menjadikan Al-Azhar memiliki kridibelitas tersendiri. Banyak dari alumni  yang kuliah di Mesir Al-Azhar menjadi pionir dan mengukir sejarah pembangunan. Baik dalam bidang agama, maupun politik.

Di Indonesia sendiri kita banyak mendengar nama Al-Azhar melalui tokoh-tokoh nasional yang sering muncul di layar kaca. Di antara tokoh-tokoh tersebut ada yang aktif dalam bidang politik di antaranya adalah Tuan Guru Bajang. Adalagi yang aktif dalam bidang dakwah seperti Ust. Abdus Shomad.

Sedangkan dalam bidang sosial dan akademik kita mengenal Habib Prof. Quraisyihab, KH Musthofa Bisri. Bahkan ada juga yang sampai menjadi presiden kita yaitu KH. Abdur Rahman Wahid atau yang sering kita panggil dengan sebutan Gusdur. Masih banyak lagi jebolan universitar ini yang kiprahnya diakui bangsa bahkan dunia.

Semua tokoh ini merupakan alumni Al-Azhar yang pernah kuliah di Mesir dan senantiasa mengabdi untuk menyebarkan manhaj Azhari di bidangnya masing-masing. Kuliah di Azhar memang cenderung gampang-gampang susah. Karena harus melalui banyak tes dan persyaratan yang lumayan banyak. Tapi tidak usah hawatir, Al-Azhar selalu membuka peluang seluas-luasnya untuk pelajar asing yang ingin belajar di sana.

Sejarah Universitas Al-Azhar

Kuliah di Mesir 2019

Al-Azhar dibangun pada tahun 932 oleh khalifah bani fatimiyyah yang saat itu menguasai Kairo. Kekhalifahan ini termasuk kekhalifahan yang cukup lama bertahan. Khalifah Fatimiyyah memerintah kurang lebih 400 tahun lamanya. Maka tidak heran jika peninggalannya dianggap bersejarah dan memiliki nilai yang sangat penting.

Pada Awalnya Azhar merupakan wadah untuk menyebarkan paham syiah yang kebetulan dianut oleh bani fatimiyyah. Sehingga pola ajar yang diberikan saat itu bukanlah pola ajar terstruktuf dan administratif seperti sekarang. Melainkan sistem doktrinisasi melalui talaqqi (yaitu sistem mendengarkan dan menyimak apa yang disampaikan oleh pengajar). Hal ini ditujukan agar perkembangan paham mereka lebih cepat menyebar dan diterima.

Taukah kalian kalau ternyata Al-Azhar sebenarnya adalah Masjid (Jami) bukan tempat perkuliahan (Jamiah)? Dahulu kala masjid digunakan tidak hanya untuk beribadah saja melainkan juga untuk menjadi pusat pembelajaran ilmu-ilmu Islam. Sehingga banyak digelar pertemuan-pertemuan akademik untuk mengkaji berbagai Ilmu. Adapun Ilmu yang dikaji lebih condong kepada Ilmu-ilmu agama. atau kitab-kitab klasik karya ulama-ulama Timur Tengah.

Seperti ilmu manthiq dengan kitab Sulamul munauraq, Ilmu Ushul Fiqh dengan kitab Al-Waraqat, Ghayatul Wushul, Ilmu tasir, Tafsir dan masih banyak lagi. Pelajaran-pelajaran ini diajarkan oleh ulama-ulama sepuh Al-Azhar yang kiprahnya tidak perlu diragukan lagi. Dan digelar di ruangan-ruangan dalam masjid yang disebut sebagai Ruwaq Azhar.

Seiring perkembangan masa, banyak perubahan-perubahan yang dilakukan. Akhirnya Al-Azhar membuka kelas-kelas resmi sebagai sebuah institusi pendidikan. Materi pelajaran yang diajarkannya pun juga tidak lagi hanya seputar ilmu-ilmu agama, melainkan juga tentang sains, ekonami, kedoteran dan ilmu-ilmu umum lainnya.

Kiranya dengan diubahnya Al-Azhar dari lembaga pendidikan yang tidak resmi menjadi lembaga pendidikan yang terstruktur dan resmi menjadikan banyak masyarakat berbondong-bondong masuk dan belajar di sana. Nilai plusnya adalah Al-Azhar semakin mencakup banyak pengetahuan, diterima banyak kalangan, dan kiranya mampu bersaing dalam membangun peradaban dunia.

Jangan dikira mahasiswa Al-Azhar identik dengan gamis, baju kurung, dan cadar ya. Mahasiswanya sangat beragam. Yang laki-laki tidak hanya diperbolehkan memakai baju gamis atau jubah saja, melainkan juga diperbolehkan memakai celana jeans dan kemeja biasa. Sedangkan yang perempuan juga tidak hanya memakai gamis dan cadar, tetapi juga diperbolehkan menggunakan rok dan blus, bahkan celana dan kaos panjang.

Realita ini mungkin berbanding lurus jika kita melihat mahasiswa-mahasiswa di universitas-universitas lain di Timur tengah. Seperti Sudan misalnya, yang mana mahasiswanya diwajibkan menggunakan gamis lebar, atau di Yaman yang mahasiswanya diwajibkan memakai cadar. Sedangkan di Tunisia justru kebalikannya, banyak yang tidak memakai jilbab. Jadi tidak heran jika Azhar semakin kesini dianggap sebagai kiblat moderatisme dunia.

Ideologi moderat ini nyatanya tidak hanya tercermin dari gaya busana saja. Jika teman-teman berkesempatan menggali lebih dalam kultur budaya yang berkembang di Azhar, maka kalian akan menemukan bahwa moderatisme dalam Azhar sudah ditanamkan sejak zaman pembaharuan oleh Mohammad Abduh. Hal ini ditandai dengan dibukanya kelas-kelas agar lebih banyak menampung mahasiswa baik laki-laki maupun perempuan. Dan merubah ideologi syiah yang terbawa oleh bani Fatimiyyah menjadi Sunni Ahlus sunnah waljamaah.

Peran Al-Azhar sebagai universitas dan masjid untuk menimba ilmu menjadikan Azhar selalu menyeimbangkan pembelajaran yang diberikan. Bukan hanya sebagai pusat pembelajaran Ilmu-ilmu agama, Azhar juga menjadi rujukan mahasiswa asing dari seluruh dunia untuk mengkaji dan mendalami ilmu-ilmu kedokteran, salah satunya adalah penjurusan spesialis gigi. Banyak sekali mahasiswa asing terutama dari asia yang mengambil kuliah kedokteran gigi di Azhar. Alasannya selain biaya administrasinya yang lebih murah, pendalaman yang diberikan juga lebih maksimal.

Satu hal yang sangat penting, bahwa universitas Al-Azhar tidak pernah memungut biaya semester bagi mahasiswanya yang mempelajari ilmu-ilmu agama. Mahasiswa hanya perlu membayar uang administrasi pertahun yang cukup murah sekitar 200 ribu rupiah saja. Dan selebihnya uang dialokasikan untuk membeli buku pelajaran. Untuk biaya hidup di Mesir juga tidak terlalu mahal.

Kira-kita mahasiswa hanya cukup mengantongi uang satu juta rupiah saja per bulan untuk membayar sewa rumah plus makan selama sebulan. Lebih-lebih jika para mahasiwa ini mendapatkan tunjangan hidup dari kampus atau luar kampus. Bisa-bisa bukan hanya tidak usah minta kiriman dari rumah, tapi juga bisa nabung untuk biaya hidup masa depan.

Beasisiwa atau tunjangan hidup ini banyak sekali diberikan oleh lembaga resmi baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah tunjangan dari kampus sendiri berupa uang tunai dan tempat tinggal. Bahkan mahasiswa yang beruntung mendapatkan beasiswa ini akan mendapatkan keringangan atau diskon saat membayar administrasi tahunan kampus dan saat membeli buku.

Para pelajar pun juga tidak perlu khawatir lagi soal biaya makan dan minum, asrama yang dimiliki sudah memfasilitasi sarapan dan makan malam lengkap dengan camilan dan susu. Sedangkan uang tunjangannya sekitar 500 rb bagi yang tinggal di asrama dan 700 rb bagi yang tinggal di luar asrama.

Selain tujangan yang diberikan kampus, para mahasiswa kerap kali mendapatkan beasiswa dari luar Mesir. Tunjangan ini diberikan oleh negara Kwait melalui lembaga badan pengelola zakat (Beit az-Zakat). Biasanya para mahasiswa sangat antusias belajar demi mendapatkan tunjangan satu ini, kenapa? Karena selain nilai tunjangan yang lumayan besar yaitu 20 dinar perbulan, prosesnya pun juga sangat cepat. Jadi kalo sudah berhasil, biasanya tidak sampai satu bulan uang sudah cair. Maklum, kantong mahasiswa kadang selalu kritis.

Untuk tunjangan satu ini para mahasiwa harus berusaha sedikit lebih keras. Karena syarat diterimanya kita harus memiliki nilai paling tidak Baik Sekali (jayyid jiddan) atu luar biasa (mumtaz). Kita juga harus konsisten menjaga prestasi jika tidak mau biaya hidup kita terputus. Tidak heran jika beberapa mahasiswa sampai mengadakan syukuran karena sudah resmi menjadi penerima beasiswa BZ ini.

Dan masih banyak lagi tunjangan-tunjangan yang bisa di dapat oleh mahasiswa baik dari personal guru atau masyayikh, ataupun dari lembaga resmi di luar Azhar. Yang terpenting untuk masalah tunjangan hidup masyarakat mesir dikenal sebagai masyarakat yang sangat dermawan kepada para penuntut ilmu. Sehingga untuk soal biaya hidup mahasiswa Mesir tidak perlu hawatir lagi.

3 Fakta Unik Universitas Al-AzharPengalaman Kuliah di Mesir

Selain menjadi salah satu universitas tertua di dunia, Al-Azhar juga dikenal dengan motode belajar mengajarnya yang berbeda dari yang lain. Lalu apa saja keunikan yang dimilikinya? Mari kita simak bersama-sama.

1. Al-Azhar Tidak Pernah Menerapkan Absensi

Kuliah di Mesir Al Azhar

Bagi seorang mahasiswa masuk kuliah dan mengikuti pelajaran barang kali adalah hal yang wajib. Karena akan sangat mempengaruhi nilai mata kuliah itu sendiri. Hal ini ternyata tidak berlaku untuk Azhar. Para mahasiswanya bisa dengan bebas mengikuti atau tidak mengikuti mata kuliah setiap harinya.

Entah apa sebenarnya motif dan tujuan kebijakan ini, yang pasti dengan begitu Azhar telah mengajarkan kepada para mahasiswanya untuk tidak pernah tanggung-tanggung dalam menuntut Ilmu. Alias dalam bahasa klisenya, para mahasiswanya diajarkan ikhlas. Artinya jika mau masuk ya masuk saja, tidak karena apapun, melainkan karena kesadaran bahwa kewajiban kita sebagai pelajar adalah belajar itu sendiri.

Walaupun demikian, Azhar tidak bisa dianggap enteng. Walaupun Absensi tidak diperlakukan, akan tetapi saat masa ujian datang para mahasiswa diwajibkan paham dan hafal apa yang sudah dipelajari. Dan itu tidak tanggung-tanggung, satu mapel saja bisa sampai dua buku yang masing-masing bukunya terdiri dari ratusan halaman.

Jadi bagi para mahasiswa yang tidak pernah masuk dan mengikuti mata kuliah, tidak masalah asalkan dia mampu memahami betul dan menghafal apa yang disampaikan oleh dosen baik yang tertulis dalam buku ataupun catatan dosen itu sendiri. Karena terkadang dosen tidak hanya terpacu pada buku pelajaran saja, melainkan mengeksplorasi berdasarkan ilmu dan pengalaman yang dimilikinya. Dan itu semua selalu diujikan.

Sampai-sampai ada ungkapan, bahwa Al-Azhar merupakan universtas tertua di dunia, tapi juga bisa menjadikan para mahasiswanya tidak lulus-lulus sampai menua. Walaupun hanya sebagai candaan, realitanya masih banyak mahasiswa Al-Azhar yang melampau batas umur wajar. Alias sudah sangat dewasa untuk ukuran pelajar setarta satu. Entah apa yang menyebabkan, tapi dipercaya bahwa kuliah di Al-azhar juga banyak dipengaruhi oleh faktor hoki atau barakah. Siap-siap mengadu nasib saja untuk kuliah di sana.

2. Tidak Menggunakan Periode Semester

Kuliah di Mesir Ilmu Hadits dan Al Quran

Kuliah di Al-Azhar tidak menggunakan sistem semester seperti perkuliahan-perkuliahan biasanya. Mereka menerapkan sistem termin. Dalam satu tahun para mahasiswa akan menjalani dua masa pembelajaran yaitu termin satu dan termin dua. Dalam masing-masing termin ini akan diajarkan mata perkuliahan yang berbeda-beda. Hitunglah jika dalam satu tahun ada 17 mata kuliah, maka masing-masing termin mahasiswa akan mengikuti kuliah 7-10 mata pelajaran. Namun biasanya mahasiswa akan lebih banyak mendapat mata kuliah di termin dua.

Mungkin sekilas nampak sama dengan sistem semester yang diterapkan oleh kebanyakan universitas. Akan tetapi dalam sistem termin  kita tidak akan bisa melihat hasil ujian kita lulus atau tidaknya di masing-masing periode setengah tahun. Seperti yang sering kita jumpai pada sistem semester. Jika satu semester ini tidak lulus, maka tidak bisa melanjutkan ke periode setangah tahun berikutnya. Alias mengulang semester sebelumnya.

Untuk di Azhar kita hanya bisa melihat nilai atau hasil ujian saat akhir tahun. Yaitu saat nilai sudah dikumpulkan dan diakumulasikan. Maka bagi mahasiswa yang tidak lulus lebih dari dua mata kuliah dia harus menunggu satu tahun lagi untuk mengikuti ujian ulang. Sangat diperlukan banyak kesabaran.

Namun akhir-akhir ini Azhar banyak menerapkan kebijakan baru untuk menjadikan para mahasiswanya lebih disiplin lagi. Mulai dari kebijakan DO bagi yang tidak lulus dua kali berturut-turut sampai cara berpakaian yang harus casual dan sopan saat mengikuti ujian. Yaitu memakai kemeja dan celana panjang bagi laki-laki. Untuk perempuan sampai sekarang belum ada kebijakan baru yang secara signifikan diterapkan kecuali pola ajar dan mata kuliah yang semakin moderat.

3. Satu Kelas Bisa Diisi Ratusan Mahasiswa

Kuliah di MesirJika kalian termasuk calon-calon mahasiswa baru yang tertarik untuk kuliah di Al-Azhar, kaliah harus siap-siap dikagetkan dengan kondisi kelas yang penuh dan riuh sesaat sebelum dosen datang. Ramenya ini tidak tanggung-tanggung, kebayangkan jika ada 300 mahasiswa berkumpul jadi satu ruangan dan tidak ada kordinasi. Apalagi kalo cewek pasti lebih banyak lagi yang diobrolin.

Ini adalah fakta yang terbilang unik. Jika kita baca sejarahnya lagi, bahwa salah satu tujuan diubahnya Al-Azhar jadoel menjadi Azhar yang kompetitif adalah agar bisa diterima dan merangkul banyak kalangan. Ya, itu memang terwujud bahkan mahasiswanya sampai sekarang terhitung mencapai ratusan ribu. Terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, ideologi, dan budaya yang berbeda-beda.

Untuk penjurusan sendiri, banyak mahasiswa yang lebih memilih untuk mendalami agama katimbang ilmu-ilmu umum. Hal ini bisa dilihat dari kuantitas mahasiswa yang berbanding 60:40 yang mempelajari ilmu agama dan umum. Barang kali selain karena faktor ekonomi, yang mana Azhar menggratiskan biaya kuliah jurusan ilmu syariat dan agama. Tetapi juga karena ketertarikan mahasiswanya untuk menggali lebih dalam peninggalan sejarah kemajuan peradaban bangsa Arab melalui buku-buku yang diajarkan.

Al-Azhar sendiri memiliki jurusan ilmu-ilmu agama yang banyak digandrungi oleh sebagian besar mahasiwa asing. Jurusan ini dibagi menjadi beberapa fakultas. Di antaranya fakultas Dirasah Islamiyah, Ushuluddin, dan Syariah Islamiyah. Untuk Usuluddin sendiri dibagi lagi menjadi beberapa penjurusan di antaranya adalah Tafsir dan ilmu-ilmu Al-Quran, Hadist, Aqidah dan Falsafah.

Sedangkan untuk jurusan ilmu-ilmu umum dan sains Azhar memiliki banyak sekali jurusan yang juga digemari oleh sebagian mahasiswa asing. Diantaranya adalah kedokteran gigi, psikologi, apoteker, dan arsitektur. Dan masih banyak lagi fakultas-fakultas yang tidak bisa saya sebutkan semuanya. Pada intinya Al-Azhar sampai sekarang selalu memegang teguh moderatisme dan ideologi sunninya. Hal ini selalu nampak dalam kultur budaya serta metode belajar mengajar yang diterapkan di sana.

Untuk kampus Al-Azhar sendiri tidak hanya berada di Kairo. Sampai sekarang Al-Azhar sudah memiliki puluhan cabang yang tersebar di seleruh negeri. Dari pedesaan sampai perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin kesini Al-Azhar semakin digandrungi dan diakui oleh masyarakat lokal maupun internasioanal.

Demikian beberapa fakta dan sejarah Al-Azhar yang barang kali bisa dijadikan referensi bagi kalian yang hendak melanjutkan studi ke sana.

 

Alifa Majmuah

Kuliah di Unniversitas Al Azhar Mesir

Jurusan Ilmu Hadits dan Ilmu Quran

One Reply to “Pengalaman Alifa Kuliah di Mesir Universitas Al Azhar”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *