Pengalaman Rahma Kuliah di Mesir Al Azhar Jurusan Bahasa Arab

7 min read

Pengalaman Kuliah di Mesir

Kesempatan menimba ilmu di negeri para nabi adalah impian sejak aku masih belajar di sekolah dasar. Impian itu semakin kuat ketika mendapat respon positif dari keluarga, terutama dari ibu tercinta-rahimahallah-.

Setelah melewati serangkaian ujian akhir di madrasah aliyah, bersama beberapa teman yang juga punya mimpi sama, dengan tekad dan iringan doa dari orang tua, keluarga, para guru dan orang-orang sekeliling, kami jalani tahapan demi tahapan. Hingga pada akhirnya, surat yang berisi keterangan kelulusan mengikuti tes penerimaan mahasiswa baru Al Azhar berhasil kami peroleh.

Cobaan-cobaan Sebelum Menuntut Ilmu

Dilema sebenarnya saat itu, akankah aku ambil kesempatan emas ini tapi di waktu yang sama keluargaku tengah dilanda cobaan. Bapakku baru saja kena tipu dari salah satu mediator travel umroh yang tanpa diketahui. Ternyata, travel tersebut illegal, di waktu yang sama kanker tengah menggerogoti tubuh ibu tercinta yang mengharuskannya terbaring guna mendapatkan perawatan dari salah satu rumah sakit di Solo.

Tepatnya sebulan usai akhirussanah di madrasah aliyah, hari demi hari, saya, bapak dan ibu harus menginap di rumah sakit. Tentu saja untuk mempersiapkan diri mengikuti tes harus aku lalui di rumah sakit, berkutat dengan buku-buku sambil  merawat beliau.

Saran dan berbagai masukan dari orang sekeliling agar aku melepas kesempatan itu karena kondisi ibu yang demikian membuat semangatku menurun. Hingga tiba saatnya H-1 keberangkatan pesawat menuju Kairo, teman-teman sudah mulai beranjak menuju Jakarta.

Aku justru masih berkutat dalam kebimbangan di rumah sakit. Namun justru kekuatan itu datang dari beliau yang tengah menahan rasa sakit yang entah seperti apa sakitnya agar aku melanjutkan perjuangan belajar di Al Azhar “Berangkatlah nak, doakan ibu dari sana!”.

Keyakinan beliau untuk bisa sembuh seperti sedia kala dan kelak kami dapat berjumpa kembalilah yang menguatkanku, meskipun pada akhirnya 2 bulan usiaku di mesir ibu dijemput sang ajal dan perjumpaan kembali antara aku dan dirinya hanya sebagai angan semata.

Ketika izin dari ibu sudah benar-benar kudapatkan, hari itu juga bapak membelikanku tiket pesawat dari Solo menuju Jakarta, karena bapak tidak mungkin meninggalkan rumah sakit sekaligus hemat biaya. Kenangan itu adalah pertama kali naik pesawat sekaligus tanpa ditemani seorangpun yang kukenal.

Tahun Pertama Kuliah di Mesir

Tahun pertama kuliah di Mesir, semua calon mahasiswa baru diharuskan untuk mengikuti semacam kursus pelatihan dan pendalaman bahasa Arab, itu sebabnya kami baru bisa benar-benar sah menjadi mahasiswa baru di tahun yang akan datang.

Berangkat dengan modal tekad yang kuat, tanpa ada beasiswa dan jauh dari orangtua, kenyataan tersebut mendorong semangat saya untuk secepat mungkin mendaftar di lembaga-lembaga penyedia beasiswa bagi mahasiswa asing.

Semua lembaga yang ada mensyaratkan harus melampirkan nilai dari ujian semester pertama dan kedua. Dari 540 kepala yang diberangkatkan, yang dapat mengikuti ujian semester satu dipastikan bisa dihitung dengan hitungan jari, sisanya harus menyelesaikan kursus tersebut selama satu tahun pertama dan ikut ujian semester satu di tahun berikutnya.

Aku termasuk dari mereka yang baru bisa ikut ujian di tahun depan. Kenyataan itu memang harus aku terima, meskipun dengan sedikit berat hati awalnya.

Nilai ujian semsester satu dan dua yang menjadi persyaratan mendaftar beasiswa itu baru bisa didapat setelah satu tahun ikut perkuliahan. Jika ditambah satu tahun untuk keperluan kursus meliputi biaya tiap tingkatan kelas, bukunya sekaligus kebutuhan sehari-hari.

Akan terasa semakin membebani bapak yang hanya bekerja sebagai salah satu tenaga didik di madrasah diniyah. Namun, kekuasaan Allah di atas segalanya. Itu kenyataan yang tidak dapat disangkal dan diragukan.

Entah bagaimana, ada diantara kami yang namanya tercantum dalam daftar mahasiswi baru yang berhak mengikuti ujian semester pertama, dan saya salah satu dari mereka. Secepat mungkin administrasi aku lengkapi, namun ternyata harus menyertakan tanda bukti kelulusan dari pihak penyelenggara kursus.

Setelah 3 kali ditolak akhirnya pihak administrasi membolehkan aku mengikuti ujian dengan syarat ketika ujian semester dua berkas tersebut harus sudah ada. Inilah awal dari aku yang sah sebagai mahasiswi fakultas studi Islam (karena untuk mahasiswi Al Azhar hanya ada satu fakultas) jurusan bahasa Arab di universitas impian, universitas Al Azhar.

Keputusan mengikuti ujian semester pertama ini bisa dikatakan terlalu nekad. Pasalnya, administrasi itu baru bisa aku selesaikan selisih 3 minggu menjelang ujian dilaksanakan. Selisih waktu yang sangat minim itulah kesempatan belajar materi 6 mata kuliah yang diujikan di semester tersebut. Ditambah dengan tantangan jurusan yang menjadi  momok sekian banyak orang.

Tidak sedikit cibiran atau omongan dari sekeliling yang meragukan keputusan untuk mengambil jurusan bahasa Arab, ”jurusan bahasa Arab itu susah”, “banyak yang nggak bisa lulus, atau lulus lebih dari empat tahun”, “lulusan bahasa Arab mau jadi apa?!” dan berbagai cibiran yang lain.

Namun tanggapan-tanggapan semacam itu justru membuatku semakin yakin dan semangatku semakin terpacu dan tertantang. Tidak ada yang susah jika mau berusaha. Semua jurusan terasa susah jika tidak belajar. Urusan nanti mau jadi apa, serahkan saja sama Yang Maha Kuasa. Tugas kita hanya 3: berusaha, berdoa dan berserah diri kepada-Nya.

Usai mengikuti ujian semester satu, dua peran sekaligus harus bisa aku jalani sebagai mahasiswi tingkat 1 fakultas bahasa Arab dan siswi di lembaga Kursus Bahasa Arab. Hal itu sempat menuai pertentangan dari pihak lembaga kursus, bahkan perkiraan semula aku akan dikeluarkan.

Kekhawatiran muncul. Bagaimana pemberkasan di akhir masa perkuliahan nanti jika aku tidak dapat menyelesaikan kursus dan mendapatkan ijazah resmi dari lembaga tersebut. Tapi, dunia tidak akan kehabisan stok orang baik. Benar saja, beberapa ustadzah dengan sabarnya membantu untuk melobi pihak administrasi kursus agar memberikan kesempatan agar aku dapat menyelesaikan kursus tersebut tepat waktu.

Tentu saja, dengan persyaratan tidak ada kata membolos dengan alasan hadir kuliah. Untungnya diperkuliahan saat itu belum diberlakukan sistem absensinya. Jadi, aku hanya dapat mengikuti kuliah dihari sabtu, karena hanya hari itu kursus libur.

Waktu berjalan, kedua peran dapat aku jalankan dengan cukup baik, meski  harus benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mempelajari sendiri mata kuliah yang tidak dapat kuhadiri.

Jika ada beberapa materi yang kurasa sulit atau tidak  kumengerti, seniorlah tempat rujukanku. Mungkin disinilah poin yang dijadikan pijakan orang-orang ketika mengklaim bahwa makul di jurusan bahasa arab susah. Sebab sebagian besar mata kuliahnya belum pernah ditemui di madrasah aliyah pada umumnya seperti ilmu arudh, ilmu lughoh, fiqh lughoh, ilmu dalalah dan lainnya.

Memasuki  waktu ujian semester dua, delapan mata kuliah yang harus kuhadapi di semester ini. Ujian diatas ujian kembali kutemui. Hari pertama ujian kuliah sekaligus menjadi hari ujian akhir di kursus, tidak ada pilihan antara keduanya yang sama-sama harus dihadapi.

Dan kebetulan saja keduanya di jam yang sama yaitu setngah sepuluh pagi. Jadwal ujian kuliah tidak dapat berubah, jika absen di jam itu, maka tidak lulus di makul tersebut jadi konsekuensinya. Puji syukur, pihak kursus memperbolehkan untuk mengikuti ujian akhir jam tiga sore.

Sedemikian rapi Allah mengatur urusan hamba-hambaNya. Ujian akhir sebagai penanda tidak ada lagi kelas kursus. Ketika teman seangkatan menikmati liburan dengan caranya masing-masing, aku harus berperang dengan modul-modul kuliah selama kurang lebih tiga minggu untuk ujian delapan mata kuliah di semester kali ini.

Atas izin-Nya semua dapat berjalan lancar. Saat itu sistem pengumuman  nilai hasil ujian di Al Azhar  akan dikeluarkan setiap dua semester sekali sekaligus, dan hasil dua semester itulah yang akan menentukan naik tidaknya ketingkat selanjutnya. Perasaan pasrah menerima segala kemungkinan sudah jauh-jauh hari aku siapkan, bahkan semenjak selesai mengerjakan ujian mata kuliah terakhir di semester satu lalu.

Pengalaman Remidial di Universitas Al Azhar

Tanpa dugaan sebelumnya, aku dinyatakan naik tingkat meskipun ada dua makul yang harus remedial. Hasil ujian tahun pertama ini kucoba ajukan kepada pihak Azhar yang saat itu hanya mensyaratkan “yang penting lulus” tanpa memerhatikan nominal nilai. Namun berkasku ternyata tergeser dengan mereka yang nilainya jauh lebih bagus.

Aku ditolak. Itu artinya hasil nilai tingkat pertama ini belum bisa kudaftarkan lagi ke lembaga penyedia beasiswa lain karena nilai yang belum mencukupi. Syarat mendaftar beasiswa di lembaga lain minimal harus jayyid, tidak boleh ada satupun matakuliah yang remidi.

Allah yang maha melapangkan rezki kepada makhluk-Nya, jika tidak ada di satu tempat itu berarti ada di tempat yang lain. Mungkin memang belum saatnya aku diizinkan untuk mendapat beasiswa tahun kedua ini. Harus cari cara lain agar tidak terus-menerus menjadi menjadi beban tanggungan lagi bagi bapak untuk mengirim uang.

Akhirya aku memberanikan diri menerima tawaran sebagai guru privat 2 anak SD Al Azhar dan memutuskan untuk pindah tempat tinggal di asrama orang Mesir karena tidak berbayar yang awalnya di apartemen dengan membayar uang sewa setiap bulannya.

Orang tua dari anak tersebut meminta agar aku mengajari semua mata pelajaran, agama, IPA, IPS, sastra, matematika. Untuk waktu privat, yaitu dari jam 2 siang sampai jam 9 malam, tentunya diselingi dengan beberapa waktu bermain, makan untuk si anak. Itu artinya aku harus benar-benar memanfaatkan waktu hadir di perkuliahan, karena hanya waktu itu aku bisa belajar materi kuliah.

Tahun Kedua Kuliah di Al Azhar Mesir

Waktu berjalan begitu cepat. Tahun kedua harus benar-benar aku optimalkan untuk mempersiapkan ujian term 3 dan 4. Selain untuk kuliah, waktu tahun kedua ini aku ikut berkecimpung sebagi devinisi pendidikan salah satu organisasi masisirwati. Karena bagiku pengalaman sangat penting dan mahal harganya.

Rasa khawatir yang berlebih serasa berubah menjadi semangat yang menggebu ketika ingat keikhlasan ibu melepasku pergi waktu itu. 2 semester ini ditambah remedial 2 makul tahun pertama dapat kumaksilmakan hingga nilai jayyid jiddan dapat kuraih. Tahun kedua ini aku berhasil mendapat beasiswa dari lembaga Bait zakat. Nilai jayid jiddan di jurusan kami dianggap nilai yang paling tinggi karena blm ada lagi yang berhasil mendapat nilai mumtaz semenjak tiga tahun  angkatan sebelumku.

Mengapa Memilih Jurusan Bahasa Arab

Tentu jika ditanya alasan memilih jurusan bahasa Arab, alasan utama adalah bahasa Arab merupakan bahasa kedua pedoman umat Islam, Alqur’an dan Hadits Rosulillah. Bagaimana bisa aku memahami kedua pedoman hidup tersebut jika tidak memahami bahasa yang digunakan dengan sebaik mungkin.

Tidak jarang ketika berinteraksi dengan Alqur’an, terlintas pertanyaan-pertanyaan yang erat kaitannya dengan kaidah-kaidah nahwu yang baru kupelajari dasarnya di madrasah. Seperti pada ayat yang berbunyi “wa la yuqbalu minha syafa’ah”  kenapa kata dengan tanda ta’nist, misal syafa’ah tapi dhomir atau kata ganti yang digunakan dalam kata kerjanya menggunakan kata ganti yang digunakan pada kata yang menunjukkan mudzakar?

Kenapa diperbolehkan hal-hal seperti demikian? Juga pertanyaan-pertanyaan lain seputar makna-makna perumpamaan yang dalam studi kajian balaghah dikenal dengan istilah tasybih, juga terkait rahasia-rahasia dibalik kisah-kisah yang Allah tuturkan dalam kitabNya dan berbagai pertanyaan yang seakan tidak ada hentinya semakin mendorong rasa penasaran untuk terus belajar bahasa arab.

Keberuntungan yang kurasakan bisa belajar bahasa dengan masuk kuliah jurusan bahasa Arab universitas Al Azhar adalah mempelajari bahasa Arab dari akarnya langsung dari beliau para pakar bahasa arab. Seperti yang pernah aku dengar langsung dari salah satu guru besar balaghah di Mesir yang juga merupakan pengampu mata kuliah balaghah di kelas khusus banin (mahasiswa) dan salah satu majelis ilmu di masjid azhar yang pernah kuikuti, “Syair-syair jahiliyah (puisi-puisi arab zaman jahili) merupakan gerbang pertama yang harus dilewati seseorang ketika ingin memahami bahasa Alqur’an”.

Tidak salah lagi di jurusan ini kami diperkenalkan dengan berbagai mata kuliah yang berhubungan dengan syair-syair tersebut. Runtun, mulai dari sejarah awal mula munculnya syair-syair tersebut, memaknai dan memahami maksud dari sususnan setiap bait-bait puisi tersebut. Selain itu, aku juga memahami lika-liku perjalanan puisis-puisi tersebut dari masa ke masa, membersamai setiap perjalanan sejarah umat Islam dari berbagai dinasti ke dinasti selanjutnya. Masing-masing memiliki ciri dan karakteristik berbeda antar satu dan lainnya, hingga masuk ke masa modern seperti yang kita temui seperti milik penyair ternama Ahmad Syauqi, Kahlil Ghibran, Ar Rumi dan lain sebagainnya. Hal tersebut yang aku rasakan sebagai keberuntungan belajar bahasa Arab di universitas ini dibandingkan dengan yang lainnya.

Belajar bahasa Arab sangat membantu dalam memahami literatur-literatur Arab seperti tafsir, hadist, fikih dan lainnya. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa studi kajian masing-masing tidak luput dari peran seorang guru sebagai penjelas.

Berbagai fenomena yang terjadi di Indonesia sendiri juga acap kali memantik semangat untuk belajar bahasa Arab di sumbernya ini, seperti penafsiran terkait salah satu ayat Alqur’an yang dengan mudahnya menimbulkan perselisihan yang sempat memanas beberapa tahun yang lalu.

Dari sini, semakin berjalannya waktu mimpi demi mimpi terus bermunculan di benak, dan semua mimpi tersebut tidak terlepas dari keinginan untuk dapat memahami, mentafsirkan, mengamalkan dan mengajarkan Alqur’an dan isi kandungannya kepada keluarga kelak ketika kembali ke tanah air, dan juga kepada khalayak umum baik itu secara lisan ataupun tulisan. Karena  “barakatul ilmi fi at ta’lim” keberkahan dari ilmu itu ada pada ketika ilmu itu diajarkan.

Sering para kiyai Indonesia ketika berkunjung ke Mesir dan berbicara di depan kami  para mahasiswa menuturkan agar kita mempersiapkan diri sebaik mungkin dan memanfaatkan kesempatan menuntut ilmu di negeri para nabi ini.

Masjid dan madrasah sudah banyak didirikan namun sangat disayangkan para imam, khotib dan para pengajarnya semakin mini yang ber-basic santri yang bermanhaj tawassuth menebarkan islam, penerus Rosulullah sebagai pembawa rahmatan lil’alamin.

Baca juga Pengalaman Kak Alifa Kuliah di Mesir

Ingin Belajar Bahasa Arab di Pare? Ikuti Kursus Bahasa Arab Pare

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *