Komunikasi Naratif; Paradigma, Analisis dan Aplikasi

3 min read

Komunikasi Naratif; Paradigma, Analisis dan Aplikasi
Komunikasi Naratif; Paradigma, Analisis dan Aplikasi

Ketika awal-awal kuliah Magister, saya tak menyangkabahwa banyak teman-teman saya yang berasal dari luar pulau Jawa. Mereka berasaldari Makassar, Sulawesi, Aceh, Jambi bahkan dari Papua. Seperti biasa, kamiberbincang-bincang mengenai keunikan daerah kami masing-masing. Kami berbicaratentang pakaian, wisata di Jogja, budaya hingga masalah perut atau istilah kerennya kuliner.

Di saat itu pula, ada salah seorang teman mahasiswa berkata bahwa makanan di Jogja rasanya manis-manis. “Eh, makanan di Jogja kok manis semua ya rasanya”.

Beberapa teman pun menyahut dengan senada bahwa dirinya juga merasakan hal yang sama; makanan Jogja manis-manis.

Sebagai orang Jogja asli, saya tentu kurang paham apayang dikatakan teman-teman mahasiswa luar Jawa di atas. Bagi saya sebagai wargaJogja, tidak semuanya rasa makanan di Jogja itu manis semua; ada kalanya asem,asin, pedas, gurih, ‘maknyoss’, ‘jrengg’ dan lain sebagainya.

Saya mencoba mengklarifikasi, apakah benar makanan di Jogja itu serba manis. Mereka bilang bahwa kebanyakan manis, bahkan semua makanan tak terkecuali seperti sayuran.

Dari percakapan di atas, saya pun terus kepikiran mengapa disebut manis. Saya kira, jika sayuran diberikan sambal, toh rasanya akan jadi pedas, masak cabe rasanya manis? Pun beberapa teman saya yang asli Jawa juga menjawabnya dengan inti yang sama, “sayur apa yang rasanya pedas?”, Ya sayur pakek sambal haha….

Jogja Orangnya Manis-manis

Dari cerita di atas, sebenarnya bukan soal makanan yang manis. Orang-orang Jogja memang terkenal dengan keramahan, sopan santun, tata krama dan unggah-ungguhnya. Tak heran bila banyak pendatang yang betah tinggal di Jogja.

Saking betah, ayem tentremnya dengan suasana Jogja, makan apa saja rasanya manis. Mau asin, asem, kecut atau gurih rasanya tetap kembali manis. Bahkan, mahasiswa yang minim ekonomi (generasi milenial yang gak punya uang) pun akan merasakan kemanisan hidup jika tinggal di Jogja haha….

Nah, itulah inti percakapan budaya, orang yang mengatakanmakanan di Jogja manis-manis sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa yang manisitu bukan makanannya, tapi orangnya, suasana dan kehangatannya.

Pengertian Analisis Naratif

Gaya penyampaian pesan di atas hanyalah salah satu contoh bagaimana menyampaikan pesan melalui cerita, atau yang biasa disebut naratif. Naratif itu sendiri bukanlah hal yang baru, namun sudah ada sejak lama. Coba bayangkan, dahulu bila Anda berkunjung ke rumah nenek, tentu naluri orang yang lebih berpengalaman akan memberikan nasehat atau kisah-kisah mitos berupa cerita.

Atau, ketika sebelum tidur, orang tua Anda setia mendampingi melalui cerita-cerita rakyat, Malin Kondang, Sejarah Candi Borobudur atau yang lainnya.

Yups, orang dulu menganggap bahwa metode penyampaian pesan melalui cerita adalah metode yang paling efektif dan berkesan. Tak disadari bahwa orang-orang dahulu sebenarnya sudah mempraktikkan ilmu ini sejak lama. Betul! Apabila ada seseorang yang bercerita, mendongeng atau curhat, sebenarnya mereka sedang melakukan komunikasi naratif.[1]

Dan hari ini, metode zaman dahulu yang sering digunakan nenek moyang kita tetap eksis digunakan. Hal ini terlihat di bidang keilmuan komunikasi yang menjadikan naratif bukan hanya sebagai pisau analisis saja, namun juga sebagai sebuah paradigma.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengertiananalisis naratif adalah analisis yang berkaitan dengan cara dan struktur ceritadalam sebuah teks. Menggunakan analisis naratif untuk teks media tak ubahnyamenjadikan berita seperti novel, cerpen atau film yang mempunyai alur cerita[2].

Karakteristik Naratif

  1. Rangkaian Peristiwa

Karakteristik narasi yang pertama adalah teks berupa rangkaian peristiwa. Maksudnya, teks benar-benar disusun layaknya sebuah cerita, baik mulai pendahuluan, pertengahan hingga akhir. Di dalam kasus atau kecelakaan misalnya, teks menggambarkan sebuah tragedi melalui kronologi pra, pas dan pasca. Titik poin dari karakteristik ini adalah adanya rangkaian peristiwa. Perhatikan contoh di bawah ini;

Peristiwa “Pesawat Tiger Air Tujuan Jakarta lepas landas dari Bandara Udaara Changi Singapura pukul 16.00 WIB,” bukan merupakan sebuah narasi. Namun ketika ditambah dengan kalimat “Pukul 17.00 WIB pesawat tiba di Bandara Udara Soekarno Hatta,” sudah menjadi narasi. Dalam kasus ini, ada dua peristiwa yakni Pesawat Tiger Air lepas landas dan pesawat tiba di Jakarta. Keduanya dirangkai.

  • Mengikuti Logika Tertentu

Di dalam teks, sebenarnya ada logika-logika tertentu yang terkadang tidak kita sadari. Makna logika di sini, teks tidak berarti pure murni disusun tanpa kesengajaan, namun teks sebenarnya disusun berdasarkan logika tertentu.

Umumnya, bila kita mengandaikan huruf itu A,B,C,D,E, urutan tersebut merupakan logika umum, bisa pula berubah menjadi B,C,E,D,A dan sebagainya. Keduanya tetap memiliki logika masing-masing meskipun tidak berurutan.

  • Pemilihan Peristiwa

Ciri ketiga yang tak kalah penting bahwa teksnarasi adalah teks yang tak bisa menampilkan secara utuh. Anda bisa analogikanbahwa teks seperti bayangan, tentu bayangan yang terbentuk berasal darisisi-sisi yang dikenai cahaya. Ada beberapa bagian- tertentu yang tidak tergambardi dalam bayangan. Begitulah naraasi, bersifat parsial.

Pengaplikasiannya di dalam berita, teks yang dihadirkan bisa saja sangat parsial, bahkan sangat bias. Ya, karena teks sangat terbatas untuk menggambarkan sebuah realitas.

Di sisi lain, teks juga digunakan untukmenciptakan bagian-bagian tertentu agar lebih menonjol, redup, hilang atausamar-samar. Penulis bisa beranggapan bahwa ada sisi-sisi peristiwa yang kurangpenting, ada juga sisi-sisi peristiwa yang dianggapnya sangat penting.

Ketiga ciri di atas (rangkaian peristiwa, mengikuti logika dan pemilihan peristiwa) adalah tiga syarat yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sebuah teks hanya bisa disebut sebagai narasi jikalau ketiga syarat tersebut hadir sekaligus.  

Analisis Naratif Komunikasi Retorika

Sebagaimana sebuah dongeng, sebenarnya seorang orator pun di dalam penyampaian pidatonya menyertakan unsur-unsur komunikasi naratif. Bisa dicermati bahwa di dalam orasi, selalu ada pendahuluan yang dibuat semenarik mungkin, bisa melalui cerita, fakta, data atau bahkan anekdot.

Di tengah orasi, seorang orator juga sudah menyusun sedemikian rupa agar materi yang disampaikannya menarik dan tidak membosankan. Bisa salah satunya dengan penyebutan nama salah satu tamu orasi, penyebutan yel-yel atau hanya berupa komunikasi non verbal seperti mata melotot, melirik dan lain sebagainya.

Di bagian akhir, seorang orator juga berusaha keras bagaimana sebuah orasi bisa benar-benar membekas, berkesan bagi siapapun yang mendengarnya. Seorang orator akan dianggap berhasil bila di awal dan di akhir mampu menyajikan orasi yang menarik.

Dari pemaparan di atas, sebuah orasi pun sebenarnya menggunakan sebuah paradigma naratif.


[1] Alex Sobur, Komunikasi Naratif, Paradigma, Analisis dan Aplikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014, hlm. iv

[2] Eriyanto, Analisis Naratif, Dasar-dasar dan Penerapannya dalam Analisis Teks Berita Media, Jakarta: Prenadia  Group, 2015, hlm.2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *