Islam dan Keindahan Hidup

Islam dan Keindahan Hidup

Islam dan Keindahan Hidup-Selepas maghrib itu, sewaktu hujan saya mencoba untuk searching di selasar facebook. Tak biasanya saya begitu, sebab biasanya hanya update status lalu saya tutup kembali. Khawatir saya terlalu lama bermain facebook.

Namun waktu itu memang berbeda, rasanya ingin sekali scroll sampai paling bawah. Ternyata tak ada ujungnya! Saya pun terhenti pada sebuah video yang menjadi banyak perhatian. Video tersebut adalah cuplikan perjalanan Dr. Zakir Naik di Jepang.

Dari video itulah saya ingin sekali menulis sebuah catatan kehidupan. Sepertinya, pekan ini saya memang baru digandrungi yang namanya keindahan. Dari situ saya lantas mulai mengidolakan sebuah kata, kata itu tidak lain adalah “Keindahan Hidup”.

Bangga menjadi Muslim
snopes.com

Keindahan hidup itu makin mekar tatkala saya melihat seseorang yang dengan ikhlas mengikrarkan dua kalimah syahadat. Begitu berserinya wajah itu, sampai-sampai serinya merasuk di dalam jiwa yang beku. Seri yang membawa kesejukan bagi mata yang memandangnya.

Saya pun mencoba mundur menemui kehidupan saya yang lalu. Segala puji bagi Allah, saya Muslim. Saya rasa, mengenal Islam adalah mengenal semuanya. Tanpa Islam, barangkali yang kita kenal tidak akan kita kenal dengan sempurna. Atau bahkan perkenalan yang tak membawa kebaikan. Sekali lagi, segala puji bagi Allah.

Di saat itu pula, pikiran saya terbang mengingat kejadian sebelum Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Hari raya orang Muslim yang membahagiakan. Namun, sekali lagi saya menemui berpasang-pasang kekasih sedang mengalami permasalahan. Entah apa masalahnya yang jelas ada muka masam yang diperihatkannya.

Di pinggir jalan itu, ada sepasang kekasih yang bertengkar, ada pula sepasang kekasih yang meninggalkan kekasihnya. Bukan itu saja, ada pula sepasang kekasih yang berdiaman di pinggir jembatan. Tampaknya memang serius.

Melalui kejadian di atas, saya menjadi berpikir jauh kedepan bahwa masih ada rasa syukur yang belum mampu menutupi kesedihan, amarah, kekecewaan dan kegundahan manusia. Barangkali kesyukuran tersebut belum sempurna, atau barangkali belum mengenal kesyukuran.

Padahal, bila kita berusaha mengedepankan rasa kesyukuran tentulah rasa sedih, merasa jadi korban atau perasaan-perasaan kufur lainnya akan nihil dari hati. Kesyukuranlah yang menjadikan bahagia, bangga terlebih semangat sebagai seorang Muslim.

Keindahan Hidup

Ambil yang indah-indah saja, sebab Allah pun menyukai keindahan. Kalimat itulah yang saya jadikan nasehat kepada seorang teman saya yang kebetulan sedang patah hati ditinggal kekasih.

Ia bercerita kepada saya dengan mimic wajah yang cukup membuat saya ingin menertawakannya. Adakalanya kita ajarkan seorang teman untuk menertawakan masalah (tertawa di dalam hati saja), bukan menangisinya berlarut-larut.

Tak ada salahnya menertawakan masalah, coba ingat riwayat hidup Anda selama ini. Tentu Anda pernah mengalami kegagalan yang itu dulu Anda pernah menangisinya sampai air mata tumpah satu liter. Nah, beberapa tahun kemudian, entah lima atau 10 tahun kemudian ketika Anda teringat, Anda pasti tersenyum sendiri bahkan tertawa sendiri.

Detik itu, Anda mungkin merasakan keindahan hidup yang berawal dari masalah yang dulu Anda tangisi. So, apa salahnya bila sesekali kita balik, kita tertawakan masalah terlebih dahulu, lalu nantinya menangis dalam bingkai pertaubatan. Bukankah itu lebih indah?

Kembali kepada salah seorang teman saya. Ternyata, teman saya baru sekali mengalami patah hati. Ia pun meluapkan segala perasaannya tanpa tersisa. Setelah itu, barulah Ia diam dan saya mencoba memahami apa yang Ia rasakan.

Kejadian curhat di atas cukuplah memberikan kita pelajaran penting bahwa ada yang indah saat kita merasakan kesedihan. Jadi begini, mengapa terkadang manusia sering lupa bahwa di luar sana barangkali ada seseorang yang tidak bisa mengenalnya, karena sesuatu hal. Dan malah sedih karena patah hati. Bukankah sebaiknya bersyukur karena telah mengenalnya?

Ada lagi, manusia memang sering menutupi kesyukurannya. Syukur yang tidak totalitas mungkin hanya akan menyebabkan hati kurang khusyuk dalam menikmati nikmat-Nya. Lebih dari itu, bayangkan saja, seseorang yang telah mengenal orang yang dikaguminya hendaknya lebih bersyukur. Harus bersyukur sebab telah dianugerahkan sebuah rasa.

Ada di luar sana yang merasakan cinta saja sudah tidak bisa, barangkali karena sudah tak diberi kesempatan lagi, atau lantaran memang sudah tidak mempunyai akal sehat. So, mempunyai rasa pun seharusnya manusia harus bersyukur.

Hmm… intinya, marilah berupaya untuk mendahulukan kesyukuran di atas segala-galanya. Sungguh,bila dihitung tentu tak akan bisa menyebutkan bilangannya. Segala puji bagi Allah, bagi seorang Muslim, tak ada waktu untuk sedih, gundah, kecewa ataupun malas.

Deres juga catatan Ibadah, Jangan Jadikan Alasan untuk Malas

 

Sungkem (Mencium Kaki Ibu): Sebuah Tradisi Revolusi Mental di Hari Raya

Sungkem (Mencium Kaki Ibu): Sebuah Tradisi Revolusi Mental di Hari Raya

Revolusi Mental di Hari Raya-Segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan kita di Hari Raya Idul Fitri kali ini. Semoga kita dapat memanfaatkannya semaksimal mungkin. Ya, bersuka ria namun di dalamnya ada banyak ibadah untuk senantiasa taat kepada-Nya. Baca mengenai contoh teks khutbah Idul Fitri selengkapnya.

suaramerdeka.com
suaramerdeka.com

Beberapa hari lalu, salah seorang teman saya bertanya; “Bos, ajari aku sungkem marang wong tua?”

Pertanyaan tersebut membuat saya larut dalam syukur menjelang Hari Raya Aidil Fitri kali ini. Hal yang paling membuat saya bersyukur adalah di moment hari raya kali ini saya masih bisa bersama dengan kedua orang tua.

Orang Tua Kitalah yang Menjadikan Kita Muslim

Barangkali, di luar sana ada beberapa teman kita yang sudah tidak bisa bersama orang tuanya lagi di Hari Raya Aidil Fitri. Sungguh, berhari raya bersama orang tua adalah satu kenikmatan yang tak terperi.

Namun, dibalik besarnya nikmat yang telah Alllah berikan, ada beberapa saudara kita yang enggan mensyukurinya. Bahkan, nikmat yang dirasa tak cukup sebab hanya harta yang ada di pikirannya.

Pepatah mengatakan bahwa; “Sesuatu yang telah hilang baru akan terasa keberadaannya”. Barangkali pepatah tersebut harus kita ambil hikmahnya dalam-dalam sebelum kita menyesal ke akhirnya.

Sebelum kita kehilangan semuanya hendaknya kita berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik. Terlebih kepada kedua ibu bapak yang telah menjadikan saya dan Anda muslim sehingga kita bisa menikmati keindahan hidup berhari raya pada kesempatan kali ini.

Sudah sepantasnya di hari raya kita meminta maaf kepada kedua orang tua kita. Dalam bahasa jawa sering disebut sungkem ataupun ujung. Tak perlu malu, sebab untuk kebaikan tak perlu ada rasa malu.

Nah, bila biasanya kita membangun mental melalui pencegahan agar tidak korupsi maka lebih sempurnanya bila kita juga membangun mental melalui sungkem. Ingatlah bahwa keikhlasan Allah juga tergantung keikhlasan orang tua.

Bila orang tua telah ikhlas terhadap anaknya, insyaAllah setinggi apapun cita-cita akan mudah digapainya. Begitu pula seandainya orang tua telah ridha kepada anaknya, sebesar apapun godaan di dunia untuk berbuat dosa akan senantiasa tahan menghadapinya. Sebab doa-doa orang tua senantiasa tulus menjaganya.

Mari kita lebur segala dosa kita di hari raya ini dengan sungkem. Semoga perkataan “ah” yang telah kita ucapkan beribu-ribu kali kepada ayah ibu kita semua terampuni. Kenanglah bahwa kasih sayang ibu, kasih sayang Allah juga….

Kata-kata Sungkem

Kepareng matur dhumateng bapak/ibu/simbah/dll sowan kula wonten ing mriki ingkang sepisan silaturahmi. Ingkang kaping kalihipun ngaturaken sugeng riyadi ngaturaken sedaya  lepat nyuwun pangapunten.

Kaping tiga kula nyuwun donga pangestunipun supados kula saged dados putra ingkang sholeh migunani dhateng agami, nusa, bangsa lan nagari. Lancar anggenipun pados ilmu ingkang manfaat, gampil anggenipun pados rejeki ingkang halal lan thoyyib saha sukses nglampahi gesang wonten ing dunya lan akhirat.

Setalah kita sungkem, biasanya beliau orang yang kita sungkemi akan menjawab seperti ini;

Yo lee, sowanmu mrene tak tampa. Semana uga aku wong tua akeh lupute. Muga-muga isa kalebur ing dina riyaya iki. Tak dongakke apa sing dadi panggayuhanmu dikabulake marang gusti Allah.

 

“UDAH, KITA TEMENAN AJA YA”, Fenomena Cinta Remaja Masa Kini

“UDAH, KITA TEMENAN AJA YA”, Fenomena Cinta Remaja Masa Kini

Masa muda penuh dengan cerita yang berbau melo-melo dan kadang sampai baper. Loh kok bisa? Hal ini karena masa muda adalah saat seseorang menemukan jati dirinya dan  mulai kenal dengan lawan jenisnya. Udah pasti nih, buat kamu yang sekarang udah memasuki masa muda sekitaran umur 17 tahun keatas haruslah bersiap-siap, baik mental atau pun fisik, bahkan kalau perlu siapkan juga tisu serta buku catatan kecil  untuk temen curhatmu.

loop.co.id
loop.co.id

Kecendrungan para remaja menikmati masa muda ini banyak dihiasi dengan warna merah jambu dalam bentuk hati yang bahan obrolan anak remaja bahkan sudah tak terlewatkan dalam setiap detik jarum jam yang berputar. Ini yang disebut fenomena kekinian sebagai wujud dinamisme kehidupan anak Adam dan hawa di dunia yang fana ini.

Bagi seorang perempuan yang memasuki masa muda, ujian yang terberat adalah seorang laki-laki dan sebaliknya seorang perempuan adalah ujian terberat bagi seorang laki-laki. Wah kok bisa gitu, apa sih akar masalahnya? Sebenarnya yang menjadi inti persoalannya adalah sebuah fitrah dari  sang pencipta yang dinamakan cinta.

Fitrah cinnta ini membuahkan banyak fenomena di kalangan anak muda mulai dari yang biasa hingga yang ekstrim seperti dalam sebuah lagu yang liriknya “putus nyambung, putus nyambung, putus nyambung”. Segitu fenomenalnya, cinta ini sangat laku di pasaran hingga banyak film-film, musik-musik bahkan novel-novel yang banyak menceritakan kisah cinta, so sweet banget nih.

Nah, sangking banyaknya fenomena percintaan di kalangan anak remaja nih, ada satu fenomena yang kerap terjadi yaitu fenomena komitmen antar dua orang anak remaja untuk serius mengarahkan hubungan percintaannya ke jenjang pernikahan. Ini yang menarik karna sudah ada niatan untuk serius menuju ikatan suci.

Tentunya bagi anak muda yang baru pertama kali merasakan keberanian ungkapin rasa ke si doi nih, fenomena komitmen ini menjadi tantangan terberat dengan resiko tersulit jika tidak memiliki mental yang kuat karna kegagalan dari sebuah komitmen ini bisa berbuah rasa sakit hingga luka mendalam di hati.

Al kisah, ada seorang pemuda sebut saja Iwan yang menjalin komitmen dengan seorang gadis sebut saja Siti. Iwan adalah seorang pemuda yang baru pertama kali berani ungkapin rasa cinta setelah 3 kali jatuh cinta pada seorang gadis, sedangkan Siti adalah seorang gadis yang 2 kali menjalin hubungan cinta dengan seorang pria bahkan sudah pernah punya mantan, luarbiasa.

Suatu malam, Iwan dibuat tidak bisa tertidur oleh Siti yang telah menjadi temen SMS nya selama bertahun-tahun dengan pesan singkatnya yang isinya meminta kepastian kepada Iwan tentang kode-kode yang diberikannnya pada Siti mengenai rasa cintanya pada gadis itu.

Saat membaca pesan singkat dari siti itu, Iwan sempat bingung, jantungnya berdebar dan sempat keringat dingin karna membaca kalimat “perempuan butuh kepastian” yang ada dalam SMS gadis itu. Singkat cerita Iwan pun ahirnya mengambil keputusan untuk memberanikan diri mengungkapkan perasaan cintanya pada siti yang kemudian perasaan itu berahir pada sebuah komitmen karna Siti juga menyambut perasaan Iwan dengan sebuah rasa cinta juga.

Singkat cerita, 7 bulan berlalu Siti dan Iwan menjalin komitmen untuk menuju pada sebuah pernikahan. Dalam perjuangan mempertahankan komitmen banyak ujian yang dialami oleh 2 insan muda itu. Baik yang menyenangkan hingga yang menyedihkan. Banyak hal-hal yang telah dibahas oleh pasangan muda tersebut baik yang dekat maupun yang jauh.

Hal ini yang menjadi bumbu dalam kisah perjalanan cinta antar anak manusia yang sarat akan peran-peran yang dimainkan ibarat main film sinetron dengan kisah berbeda di setiap episode, wah kayak artis aja nih.

Nah, balik lagi ke Iwan dan Siti nih. Di Bulan ketujuh, tiba-tiba ujian terberat harus dihadapi oleh pasangan ini. Siti yang semula mantap dengan Iwan menyudahi komitmen antara keduanya dengan mengatakan “kita temenan aja ya”. Hal ini serentak membuat Iwan kaget dan merasa gak nyangka banget terhadap kejadian ini.

Pemuda yang baru pertama kali menjalin komitmen ini sempat membujuk pasangannya untuk kembali menjalin komitmen dengan dirinya, namun gadis tersebut mengatakan “Ntar tak piker-pikir dulu ya. Melihat jawaban itu ahirnya Iwan pun bersikap tegas pada Siti untuk kembali membujuknya menjalin komitmen untuk menikah dengannya.

quoteslike.com
quoteslike.com

Ahirnya ketegasan yang dilakukan Iwan terhadap Siti berbuah manis, kemudian mereka pun kembali menjalin komitmen hingga ahirnya berhasil menikah, wah so sweet banget nih. Itulah realita kehidupan anak remaja dengan segudang kisah cinta yang sangat fenomenal.

Kisah di atas tentunya, memberikan hikmah buat kita semua nih, bahwa jika ingin mengambil keputusan haruslah dipikirkan dengan matang-matang nih, apa lagi kalau yang dah menyangkut soal cinta karna cinta itu bisa menjadi racun bila salah menempatkannya dan akan menjadi madu jika tepat menikmatinya.

Jika sudah menemukan pilihan hati, langsung saja diseriusin biar gak diambil orang loh, sebab setan akan selalu menggoda manusia hingga manusia itu jatuh dalam kesesatan. Nah, sebagai orang bijak, hendaknya di masa muda ini di isi dengan hal-hal yang positif. Jika ingin menjalin cinta dengan lawan jenis, cobalah tegas dan serius jangan main-main lagi seperti anak kecil.

Ubahlah kata-kata “Udah kita temenan aja” yang ada dalam fenomena komitmen yang kurang tegas menjadi “ udah kita langsung nikah aja” dalam sebuah komitmen yang tegas dan sungguh-sungguh, niscaya cinta yang tumbuh akan jadi spirit positif untuk masa depan.

27 Mei dalam Sebuah Paradoks

27 Mei dalam Sebuah Paradoks

r3dsnot.blogspot.com
r3dsnot.blogspot.com

Setengah lima pagi aku kembali terjaga,
“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah kami dimatikan dan kepada-Nya kami akan kembali.”
Berat sekali untuk bangun,
Udara dingin meyelimuti seluruh ragaku,
Aku tak berdaya, aku malas untuk mengambil air wudhu,

Aku pun duduk dan merenung
Iya, aku membuat hukum baru,
Karena dingin, aku tidak usah sholat saja,….

Aku pun bangkit dari tempat tidurku
Aku mulai mengambil buku pelajaran SMP
Aku mulai membuka satu persatu lembaran pengetahuanku,

Namun hati ini masih gelisah, buat apa aku belajar jika tak kuamalkan?
Kutepis segala kegelisahanku yang semakin menjadi
“Ah untuk kali ini saja aku undur sholat Subuhku,”
Pasti umurku masih panjang!

Aku mencoba menenangkan diri sendiri,
Waktu berlalu tanpa terasa,
Aku merasa bosan,
Aku hidupkan musik kesukaanku Shaffix

“Sesal Saja Tiada Guna”
Seandainya waktu dapat kembali
Inginku memulai cerita sekali lagi
Awali putihnya lembaran hidup ini
Tanpa menodainya dengan warna-warni
Duniawi ?

*)
Segalanya memang mungkin terjadi
Tapi waktu yang berlari takkan berhenti
Bahkan kesempatan tuk berbaik hati
Hanya penyesalan yang terjadi berulang
Kali?

Reff:
Iringilah perbuatan buruk dengan yang baik
Niscaya pahala akan menghapus dosa
Dan berserah dirilah hanya kepada Allah
Sesungguhnya pintu maaf Allah semesta alam

Back to *)
Allah semesta alam

Aku pun kembali tenang,
Aku kan sudah berbuat baik banyak?
Pasti dah seimbang amalanku

Pasti juga Tuhan Akan mengampuniku walaupun aku mengundur solatku
Namun, keresahan semakin memuncak
“prak, prakkk, prakkk”
Tipe recorder rusak lagi, gumamku.
Aku pukul keras-keras tipenya
Perlahan suaranya pun membaik dan aku bisa mendengarkan lagu itu dengan baik lagi

Waktu menunjukkan pukul 05.56
Aku pun semakin membesarkan suara tipeku
Namun, tiba-tiba saja suara gemuruh seperti pesawat lebih hebat terdengar,
Aku pun semakin keras memukul tipe recorderku yang sudah berusia tua.

militernews.net
militernews.net

Tiba-tiba tanah bergetar dan bergoyang hebat
Cor dinding, pecahan genteng jatuh tepat didepan mukaku,
Aku pun masih tetap tenang
Aku baru sadar baru terjadi gempa bumi barusan.

Aku pun keluar kamar, dan diluar sana juga masih aman-aman saja,
kecuali kamar mandi yang atap sengnya roboh
Aku bergegas mengambil handuk
Lalu dari arah utara ayahku pulang dengan segenggam kekhawatiran

Iya, mengkhawatirkan aku dan adikku
Ayahku berpesan, “Le jangan sekolah, negoro kono bubrah, rusak kabeh bangunane,”
Namun aku tetap tidak percaya, aku pun mandi dengan atap seng yang sedikit rusak dengan mandi sambil membungkuk

Aku pun bergegas mengambil handuk kemudian berganti seragam olahraga
Akuvpun keluar menuju tempat warga yang berkumpul tepatnya di gardu tempat biasa untuk ronda
Memang bnar, kata orang, di sana banyak terdapat bangunan yang roboh

r3dsnot.blogspot.com
r3dsnot.blogspot.com

Orang mati dipinggir jalan
Sangat mengerikan, bergelimpangan disana-sini
Mendadak dari arah selatan ada 3 orang pemuda berboncengan motor dan berteriak,
“Tsunami, tsunami, tsunami,..Sudah sampai Kretek Silok, tsunami,”

Aku pun menjadi sesak, sejuta bayangan buram tetang Provinsi Aceh menerpa ingatanku,
Iya, desaku ini akan menjadi tanah lumpur, kota mati dan rata dengan tanah
Namun aku masih tidak percaya, aku pun segera lari sambil melihat kanan-kiriku Adakah orang yang tertinggal, nampaknya sudah tidak ada orang di desaku,
aku pun berlari dengan cepat menyusul orang-orang,

Ada seorang ibu yang sedang hamil, ia sangat tergopoh-gopoh
Ketika ku tanya dia menjawab, aku tidak apa-apa.

Aku pun telah sampai di kaki Gunung Mojo
Di sana keluarga besar sudah menantiku, karena aku datang yang paling akhir
Di waktu itu, kami hanya pasrah menghadap ke Selatan berharap air besar tidak menerjang tanah kami tercinta seperti di Aceh

Akhirnya setengah sembilan berlalu
Aku kembali ke kampung dan turun ke desa-desa lagi untuk melihat keadaan

kampungcokrokusuman.blogspot.com
kampungcokrokusuman.blogspot.com

Aku sholat Subuh yang saya rangkaikan dengan Dhuha
Betapa, betapa Allah sangat sayang kepadaku,

Di masjid aku disambut dengan tangisan menderu oleh ibuku
Di mana anakku, di mana anakku denok denok denok,….
Aku bingung karena turunya tidak bersamaku
Aku dimarahi habis-habisan karena tidak bisa menjaga adiku

Aku dilanda rasa bersalah
Karena aku tk mampu menjaga adikku
Aku pun mencarinya dengan perasaan gelisah
Aku sangat bingung
Akhirnya aku dapat kabar adikku sudah bertemu, aku merasa sangat bersyukur

Glung, glung,……
Gempa susulan kembali terjadi dengan kekuataan besar
Semua orang panik
Tak terkecuali ibuku

Sore pun menjemput, semua menyiapkan tempat berteduh
Tak disangka di tengah gerimisnya air mata
Hujan lebat mengguyur desa kami
Semua orang menuju ke masjid dengan seksama untuk berteduh, alhamdulillah masjid masih megah

Di malam itu aku tidak dapat tidur sama sekali
Aku lalu ambil air wudhu
Disaat itulah aku ingin sholat sepanjang umurku
Beribadah setiap waktu kepada-Mu
Berdzikir kepada-Mu
Aku takut kiamat benar-benar terjadi

Air mataku berlinang
Jiwaku terhempas
Aku adalah hamba yang ceroboh
Aku adalah hamba yang hina
Ampuni aku ya Allah,..

Gempa susulan masih sering terjadi
Apakah ini akan kiamat?

Dalam diam sambil terbaring
Aku memikirkan satu persatu doa yang pernah kulalukan
Mulai dari ujung kaki sampai ujung kepala
Semua bersimbah dosa yang belum aku taubati satu persatu

Air mataku pun tak dapat kubendung
Tak terasa kumdang azan Subuh pun bergema di tengah lelapnya bayi-bayi yang tidur, ditengah gelap yang mencekam
Dalam shalat Subuhku pun air mata ini kembali berlinang

Berat mata ini menahan tangisan dalam hati yang tak dapat dibendung lagi
Selesai sholat Subuh usai,
Akupun terlelap dalam sebuah tidur yang panjang hingga menunjukkan jam 8

Hari-hari berlalu, keadaan semakin menceam
Gelapnya suasana disertai hujan deras, listrik terputus total
Terdengar berita dari dusun sebelah bahwa penjarahan terjadi di mana-mana
Semua pun terjaga untuk ronda malam
Mulai dari matahari tenggelam sampai malam usai

Sang penjarah dengan rakusnya mengambil dan memborong harta harta masyarakat yang tertinggal
Di tengah kesulitan korban gempa masih ada manusia yang menjarah,
Apakah manusai sudah tidak mempunyai nurani?
Di malam-malam berikutnya, nampak semua orang terperangah dengan kejadian yang membuat bisu bibir manusia

Kilat lewat tanpa tanda keramat
Sinarnya terang bagai matahari berlari dengan kecepatan super dahsyat.
Suasana semakin mencekam dengan adanya kejadian seperti itu
Malam itu pun aku tidak dapat memejamkan mata lagi

Sampai di akhir Subuh, aku penyakitku kambuh, asma
Dadaku pun sesak dengan hebat, aku hampir tewas
Pagi pun kugunakan untuk memulihkan kesehatanku, aku lemas dengan makanan Sarimi

Ya Sarimi, Sarimi Australia entah apa namanya….

*Catatan Gempa Jogja 27 Mei 2006
Teks asli dengan beberapa gubahan EYD

Godaan Itu Bernama Kebaikan; Sebuah Renungan Mahasiswa Tingkat Akhir

Godaan Itu Bernama Kebaikan; Sebuah Renungan Mahasiswa Tingkat Akhir

Penulis

  • Khansa S@F
  • Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA)

Tulisan ini hadir untuk teman-teman baik yang sedang mengerjakan tugas akhir (skripsi) maupun mengerjakan tugas yang lainnya. Semoga hadirnya tulisan ini bermanfaat. InsyaAllah.

Pernah dapat wejangan atau nasihat dari kakak-kakak tingkat kita yang sekarang sudah lulus menjadi sarjana?

Saya pernah mendapat nasihat dari kakak tingkat saya, dan ternyata memang apa yang dikatakan oleh mereka sekarang saya rasakan sendiri.

Gdaan-Godaan Skripsi
meetriver.com

Godaan-godaan di saat mengerjakan tugas akhir itu buanyak sekali, mulai dari A sampai Z pasti godaan itu datang silih berganti.

Kata teman-teman saya, godaan yang paling berat pada saat skripsi adalah…. malas!. Kata mereka, malas merupakan godaan yang paling berat. Namun uniknya, ada satu godaan yang sebenarnya itu bersifat ‘baik’ tapi karena kita salah mengartikan sehingga kitapun terayu dan akhirnya karena menurut kita ‘baik’ itulah membuat kita masuk bahkan terbuai. Hasilnya, mengerjakan skripsi engga fokus dan engga kelar-kelar. Na’uzubillah.

Godaan macam apakah itu? Penasaran? Baiklah mari kita bahas.

Kakak tingkat waktu itu pernah berkata kepada saya,

“Vi, nanti kalau udah semester akhir, kalau bisa dan memang kudu wajib fokus ngerjain, pasti akan banyak godaannya tapi harus diinget kamu kudu wajib selesaikan skripsi dulu, insya Allah kalau udah selesai skripsi, kamu bebas mau ikut kegiatan apapun”

Ketika itu, saya mengiyakan dengan semangat dibaluti dengan tekad yang kuat.

Tibalah saatnya saya memasuki masa-masa skripsi. Tahukah? Pada masa itu pula segala bentuk kebaikan kebaikan datang silih berganti.

Pusing karena skripsi
essay-writing.science

Pada saat itu, manakala hati ingin mendalami dunia kepenulisan, datanglah BC an/tawaran tentang pelatihan kepenulisan, manakala hati ingin memperdalam ilmu agama, datanglah BC an /tawaran dauroh-dauroh yang keren-keren, manakala hati berkata ingin melatih kemampuan kepemimpinan datanglah BC an/tawaran tentang itu pula.

Manakala hati ingin ini dan itu, seolah pada saat itu semua datang menghampiri. Bukankah semua itu baik? Tentu semuanya baik. Tapi… bagi saya orang yang sedang di kejar skripsi plus orang yang kurang mahir dalam membagi waktu itu adalah godaan dan saya harus menahan hawa nafsu saya. Tulisan ini tidak berlaku bagi mereka yang benar-benar bisa membagi waktu ya.

Akhirnya, sayapun termemung, ada apa ini? Ko di saat saya ingin itu dan ini seolah semuanya menghampiri? Alhamdulillah Allah selalu menegur saya manakala saya hendak melakukan ini dan itu. Misalnya begini, tatkala saya ingin mengikuti pelatihan atau ada dauroh, hati saya selalu berucap “Sabar, selesaikan dulu yang ini”.

Namanya juga nafsu, pasti akan selalu saja ada. Saya sangat bersyukur kepada Allah karena manakala saya ingin ini dan itu kata “sabar” selalu mendominasi.

Sabar teman, semua ada masanya. Banyak orang beralasan nunda skripsi karena ini dan itu. Saya akan coba bahas satu persatu alasannya, Insya Allah.

Alasan pertama, saya malas mengerjakan skripsi karena bagi saya lebih baik saya ikut dauroh/pelatihan/kelas ini karena disana dipelajari ilmu agama yang banyak, saya merasa waktu yang saya punya tidak terbuang cuma-cuma. Hmmm… bukankah itu baik?

Belajar ilmu agama siapa yang tidak mau? Pasti maulah apalagi kalau gratis. Tapi eitss tunggu dulu. Ada skripsi menantimu nak, fokuslah pada yang ini dulu, jangan anggap mengerjakan skripsi hanya membuang-buang waktu dan tidak bermanfaat loh, itu anggapan yang salah besar.

Nih saya kasih tau, cobalah rubah mindset kita, kerjakanlah skripsi karena Allah bukan karena yang lain, insya Allah lelahnya kita, kurang tidurnya kita, susahnya kita akan Allah nilai sebagai jihad. Insya Allah.

Alasan kedua, saya tidak mengerjakan skripsi karena saya masih dibutuhkan di kampus, masih banyak amanah yang harus saya selesaikan. Bukankah ini alasan baik? Tapi tunggu dulu, bukankah skripsi juga salah satu amanah yang harus diselesaikan?

Jangan berpikiran karena kita sudah skripsi amanah kita atau tugas kita di organisasi kampus akan terbengkalai, wahai para pemegang amanah, tahukah? Salah satu ciri orang yang amanah adalah bersungguh-sungguh menjalankan manah tersebut.

Bagaimana mau amanah wong ngerjain skripsinya aja enggak sungguh-sungguh. Sekalipun banyak teman saya yang walaupun belum selesai skripsi amanah, tapi saya merasakan semacam perbedaan antara orang yang amanah dengan mengerjakan skripsi dengan baik artinya (tepat waktu atau sedikit tidak tepat waktu artinya jedanya tidak terlalu jauh) dengan orang yang ananah dengan skripsi yang tidak kelar-kelar.

Saya merasakan saja perbedaannya, kalau bahasa gaulnya, aura/karisma yang di pancarkan sangat berbeda sekalipun keduanya sama-sama amanah. Kalau mau merasakan, coba praktekan sendiri dan rasakan perbedaannya hehe… Wallahu’alam ini hanya pandangan saya.

Alasan ketiga, saya engga ngerjain skripsi karena saya mau fokus hafal Qur’an. Bukankah ini alasan baik?memang baik tapi… fokusin skripsi dulu nak, Emang pas lagi ngerjain skripsi engga bisa ngafal Qur’an? Jangan jadikan alasan menghafal Qur’an untuk tidak mengerjakan skripsi.

Kalau masalah ini bagi orang yang pinter bagi waktu bisa saja, tapi bagi kita-kita? Saya ingatkan sekali lagi, target kuliah itu empat tahun, pihak kampus sendiri yang buat target. cobalah bersabar sedikit nak, ingat! Itu godaan kawan.

Jika alasannya ingin fokus ngafal Qur’an buat apa awal-awal mutusin untuk kuliah, ngabisin uang orangtua saja, belum lagi waktu tenaga pikiran dan lain-lain. Jangan jadikan alasan menghafal Qur’an untuk tidak mengerjakan skripsi, lihat para sahabat nabi, ujian mereka lebih besar di banding kita.

Ujian mereka berperang pertaruhkan nyawa lah ujian kita hanya fokus di skripsi apa susahnya? Saya punya jargon untuk alasan yang ketiga ini “Selesaikan skripsi karena Al-Qur’an menanti” hehehe

Banyak alasan-alasan lain yang harusnya saya sebutkan, namun qodarullah belum bisa disebutkan. Hehe…

Pada intinya sebenanrnya sesuatu itu baik namun sesuatu itu bisa menjadi tidak baik karena ulah/hawa nafsu kita sendiri.

Cobalah untuk berpikir jernih…
Cobalah bertanya pada hati yang bersih….
Teman, kerjakanlah skripsi karena Allah, tak bisa dipungkiri banyak tawaran pekerjaan atau dauroh yang diberikan kepada saya, tapi saya tahan dan saya anggap itu ujian dan cobaan yang Allah berikan. Lagi pula ada amanah orangtua yang harus segera ditunaikan, tak bisa di pungkiri keinginan mereka ingin melihat anaknya pake toga.

Saya pernah menghadiri salah satu teman saya wisuda, di sana banyak sanak famili yang terlihat amat bahagia, bukankah membuat orang bahagia itu berpahala? Apalagi membuat orangtua bahagia hehehe. Sebenarnya bagi saya yang terpenting ialah skripsi ini adalah jalan Allah untuk menguji kesungguhan saya.

Kita boleh ikut ini dan itu di masa skripsi tapi ingat ada kewajiban yang lebih harus kita penuhi, yaitu tetap fokus dan prioritaskan skripsi dulu. Semua itu ada masanya insya Allah dengan kita bersabar, akan menghasilkan kebaikan yang manis.

fokus skripsi
madeandi.com

Saya ingatkan sekali lagi, berabarlah kawan…Semua ada masanya.

Bagi yang tidak setuju dengan tulisan saya, silakan komentari dalam bentuk karya tulis juga mudah-mudahan dengan tulisan kita ada orang yang mendapatkan kebaikan.

Wallahu’alam….

Kirim tulisan Anda baik meliputi catatan hikmah kehidupan Anda, cerpen, puisi, artikel, materi pelajaran atau yang lainnya. Tulisan dapat Anda kirim ke redaksiacademic@gmail.com dengan jumlah kata antara 500 kata sampai 2000 kata.