Bolehkah Aborsi Dilakukan? Begini Ulasan Perspektif Ilmu Fiqh

11 views

Di era millenial pergaulan bebas marak terjadi yang sampai akhirnya banyak yang hamil pra nikah. Kejadian tidak siap hamil di usia muda atau akibat dari pergaulan bebas ini tentunya yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan meminum obat aborsi. Apa sebenarnya hukum aborsi ini? Apa diperbolehkan?

Jika melihat dari segi hukumnya maka aborsi masih mengalami pro dan kontra. Namun ada beberapa kalangan baik dilihat dari segi negara ataupun hukum agama membolehkan melakukan aborsi. Apa saja hal-hal yang membolehkan melakukan aborsi?

Hal Diperbolehkannya Aborsi  Dilihat Dari Perspektif Ilmu Fiqih

Aborsi sering kali dilakukan dengan berbagai penyebab dan alasan. Dalam ilmu fiqih terbagi beragam macam yang membolehkan aborsi ini dilakukan. Berikut beberapa hal diperbolehkan aborsi di tinjau dari ilmu fiqihnya:

1. Aborsi Spontan (Al-Isqath Al-Dzati)

Dalam aborsi ini kenapa dibolehkan karena janin yang keluar terjadi secara alamiah tanpa ada unsur kesengajaan dan perencanaan. Janin keluar dari rahim ibu hamil begitu saja. Masyarakat umum sering menyebut istilah ini dengan kata keguguran. Banyak faktor yang terjadi adanya aborsi sepontan ini, misalnya seperti kelainan kromosom yang menyebabkan keguguran.

Aborsi spontan memang kebanyakan penyebab utamanya karena kelainan kromosom. Meskipun ada juga yang disebabkan oleh faktor lain seperti kelainan hormon, kelainan rahim dan infeksi, akan tetapi hal ini sangat minim sekali terjadi.

Aborsi atau dalam KBBI disebut juga keguguran yang ditimbulkan akibat kelainan kromosom akan sangat bahaya bagi janin karena nantinya mudghah tidak akan tumbuh normal. Biasanya bayi yang lahir dengan adanya kelainan kromosom ini nanti akan lahir dengan cacat.

2. Aborsi Sebab Darurat (Al-Isqath AL-Dharry)

Untuk jenis aborsi yang diperbolehkan dalam pandangan agama karena aborsi sebab keadaan darurat. Keadaan ini yang bisa membuat sang ibu menyebabkan kematian jika tidak dilakukakannya aborsi. Tentunya ini sudah dilihat dari ilmu kedokteran jadi bukan analisa yang asal-asalan saja.

Berdasarkan kaidah fiqih yang membolehkannya aborsi ini yaitu jika ada 2 perkara dan keduanya dapat menimbulkan bahaya maka bisa memutuskan untuk memilih atau menghindari yang risikonya tidak lebih membahayakan.

Melihat dari kaidah fiqih tersebut, aborsi adalah jalan yang paling ringan mengingat keselamatan nyawa sang ibu yang menjadi taruhannya jika berpegang untuk meneruskan kehamilan sampai lahir. Maka ini menjadi pilihan untuk menekan risiko yang paling ringan.

3. Aborsi Karena Khilaf Atau Tidak Disengaja (Khatha’)

Nah, pada aborsi jenis ini diperbolehkan karena adanya unsur ketidaksengajaan. Banyak faktor yang menjadikan terjadinya aborsi seperti misalnya Tertembaknya sang ibu hamil yang sedang berjalan di ladang sehingga menimbulkan keguguran. Padahal pemburu tidak secara sengaja menembak sang ibu karena niat awalnya adalah untuk menembak binatang yang menjadi perburuannya ternyata malah meleser sasaran.

Jika yang terjadi demikian adanya, maka aborsi tersebut tidak sengaja terjadi. Jika dilihat dalam hukum ilmu fiqih maka pelaku yang meleset dalam perburuannya tetap harus bertanggung jawab atas apa yang diperbuat.

Hukum yang diberikan kepada pelaku bisa dengan membayar denda atau membayar sebuah uang atau yang senilai untuk keluarga si janin jika sampai meninggal ketika janin tersebut keluar dari perut sang ibu. Hukum ini hukumnya wajib karena walaupun tidak sengaja menyebabkan bahaya bagi nyawa orang lain.

4. Aborsi yang menyerupai kesengajaan (syibh ‘amd)

Dalam pandangan agama memang sangat memperhatikan hukum ini secara detail. Dalam ilmu fiqh aborsi dihukumi boleh jika aborsi tersebut menyerupai kesengajaan. Apa maksud dari menyerupai kesengajaan ini?

Jadi ketika niat awal mau melakukan sebuah serang kepada sang ibu lalu akibat yang ditimbulkan dari serangan tersebut menyebabkan sang janin yang kebetulan saat itu dikandung sang ibu meninggal sehingga janin keguguran. Hal ini yang dimaksud menyerupai kesengajaan.

Dalam hukum fiqih pihak yang menyerang ibu hamil maka sudah sepantasnya diberi hukuman dan wajib. Hukum yang diberlakukan kepada laku tingkat keberatannya bertambah jika janin yang akan keluar dari rahim sang ibu sempat ada sebuah pertanda kehidupan.

Hal Diperbolehkannya Aborsi  Dilihat Dari Segi Medis

Meskipun sampai saat ini banyak pertentangan yang terjadi mengenai aborsi yang dilakukan oleh seorang wanita namun ada hal yang harus dilakukan. Ada kasus tertentu yang menyebabkan terjadi keguguran atau mengharuskan aborsi. Hal tersebut tentunya karena alasan kuat yang dilihat dari medis. Kira-kira seperti apa menurut pandangan medis ini? Simak dibawah ini selengkapnya:

1. Kepastian Akan Terjadi Keguguran

Masalah yang sering terjadi di beberapa kasus yang dialami wanita menunjukkan bahwa keguguran menjadi resiko terbesar yang berpengaruh bagi kesehatan jika dibandingkan dengan dilakukannya tindakan aborsi.

Keguguran banyak sekali faktor dan sebab yang menjadikan keguguran seperti mengalami rasa sakit yang berlebihan, ketidaksuburan dan pendarahan yang dialami. Ketika dilihat dari ilmu medis janin yang terkandung akan mengalami keguguran maka harus dilakukan aborsi.

Ciri bayi yang tidak akan bertahan lama atau pasti terjadi keguguran dapat dideteksi sejak dini. Hal ini dalam ilmu medis bisa diketahui ciri-cirinya. Diantara ciri-ciri yang paling jelas dilihat dari detak jantung si bayi. Biasanya detak jantung bayi ini hilang sehingga sudah dipastikan meninggalkan di perut ibu.

2. Bayi Cacat

Sekarang ini teknologi yang dimiliki oleh ilmu medis sudah sangat canggih sekali. Hal ini dibuktikan karena masalah kehamilan yang sedang dialami ibu hamil bisa dideteksi. Banyak cara yang dilakukan ilmu medis ini dalam mendeteksi ketidakberesan wanita hamil.

Beberapa langkah yang biasa dilakukan untuk pendekteksian ini seperti tes darah, pemeriksaan ultrasonik dan banyak lagi metode lainnya. Dengan metode yang dilakukan tersebut maka anak yang nanti akan lahir bisa diketahui cacat atau akan normal.

Dikarenakan masalah tersebut tenaga medis pasti akan melihat terlebih dahulu seberapa parah tingkat kecacatan yang nanti akan dialami. Jika cacat yang terjadi sangat tinggi maka tidak ada jalan lain kecuali melakukan tindakan aborsi ini. Jika mengalami hal tersebut sebaiknya kehamilan memang tidak dilanjutkan. Bahaya yang terjadi pada akhirnya anak belum tentu bertahan lama atau bisa jadi langsung meninggal.

3. Kondisi Kesehatan Ibu

Ibu hamil memang butuh kesehatan yang lebih dan tidak jarang yang mengalami penurunan kesehatan dari kehamilan sang ibu tersebut. Jika melihat kondisi dari sang ibu cukup memperhatikan sehingga khawatir akan keselamatan sang ibu maka aborsi sering dilakukan.

Ada faktor lainnya juga yang mengharuskan janin harus digugurkan atau melakukan tindakan aborsi. Jika pada kehamilan terdeteksi ada sebuah penyakit membahayakan seperti kanker misalnya dan jalan terbaik adalah dengan aborsi atau mengonsumsi obat penggugur kandungan maka hal tersebut harus dilakukan.

Untuk langkah yang diambil dalam melakukan aborsi ini, harus dengan persetujuan semua keluarga. Sang ibu, keluarga dan suami yang pasti harus menyetujui jika akan dilakukan tindakan tersebut.

Nah, itulah tadi beberapa hal yang diperbolehkan melakukan aborsi ditinjau dari ilmu fiqih dan ilmu medis. Perbedaan hukum yang terjadi memang belum memiliki titik temu. Namun, praktek aborsi saat ini sering dijalankan jika mengalami sebuah kasus seperti yang sudah disampaikan diatas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *