Beasiswa LPDP 2017 Siapkan Dana Sebesar 3 Triliun Rupiah Untuk 12 Ribu Calon Penerima Beasiswa

Beasiswa LPDP 2017 Siapkan Dana Sebesar 3 Triliun Rupiah Untuk 12 Ribu Calon Penerima Beasiswa

Beasiswa LPDP 2017 — Siapa yang tak mengenal beasiswa yang satu ini. Beasiswa yang bisa dibilang merupakan beasiswa paling bergengsi di antara beasiswa-beasiswa lainnya.

beasiswa lpdp 2017
beasiswa lpdp 2017

Kabar gembiranya, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)  di tahun 2017 ini mengalokasikan dana sejumlah 3 triliun rupiah. Dana yang sangat besar tersebut akan disalurkan kepada calon penerima beasiswa LPDP kurang lebih sebanyak 12.119 orang.

Ditegaskan oleh Direktur Utama LPDP, Eko Prasetyo menjelaskan perihal perkembangan beasiswa LPDP bahwa setiap tahunnya, alokasi dana LPDP mengalami peningkatan. Jika dibandingkan tahun lalu, dana beasiswa LPDP hanya berkisar 1,4 triliun, sedangkan untuk tahun 2017, dana beasiswa LPDP yang akan disalurkan kepada calon penerima beasiswa kurang lebih mencapai 3 triliun.

“Kami laporkan di tahun 2015, penerima beasiswa yang sedang jalan dan sudah diberikan pendanaan beasiswa berjumlah 4.789. Di tahun selanjutnya, yakni tahun 2016, angka penerima beasiswa LPDP meningkat 2 kali lipat sebanyak 8.906,” ungkap Eko saat  rapat panitia kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat di Gedung DPR (Kamis, 22/09/2016).

Adapun rincian beasiswa LPDP tersebut meliputi beasiswa LPDP magister & doktor, beasiswa disertasi dan tesis, beasiswa LPDP afirmasi dan beasiswa spesialis bidang kedokteran.

Tak hanya itu saja, beasiswa LPDP bekerja sama dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi juga memberikan beasiswa untuk dosen, baik dosen yang ingin melanjutkan kuliah di dalam negeri maupun di luar negeri.

“Program beasiswa yang telah dicanangkan oleh LPDP di sepanjang tahun 2016 ini sudah memberikan beasiswa kepada 2.160 dosen di berbagai perguruan tinggi. Jumlah itu tentu hanya sebatas jumlah penerima beasiswa pada tahun 2016 saja dan jumlah tersebut membuktikan adanya  lonjakan yang sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” tutur Eko.

So, tunggu apalagi Sobat Academic, kini persiapkan sematang-matangnya untuk turut memburu beasiswa yang satu ini. Semoga berhasil ya!

Sumber: Dilansir dari Laman Resmi LPDP

Pistol Kematian

Pistol Kematian

Penulis

Winda Efanur FS, alumnus UIN Sunan Kalijga Yogyakarta. Beberapa karyanya terdokumentasikan dalam antolologi puisi dan cerpen seperti Tubuh Bencana, Hitam Putih Kata, Menjadi Indonesia dan Pelangi Kenangan. Email : efanurw@gmail.com

CERPEN ACADEMIC INDONESIA — Setiap orang takut dengan kematian. Padahal mati adalah jalan menuju keabadian. Pembebasan dari air mata dan pemberontakan. Aku tidak takut kematian sejak penangkapan itu. Penangkapan yang membuat keadaan rumah kacau.

pistol kematian
pixabay.com

Aku, dan ibu terpaksa mengungsi ke Desa Pandes. Desa tempat tinggal kakek. Kakek seorang lurah di sana menjamin keselamatan kita. Tapi bapak telah tertangkap pemberontak pada malam itu. Pada malam itu sekitar pukul Sembilan malam. Sekawanan orang mendobrak rumah kami. Mereka mencari bapak.

“ Parman, Parman buka pintunya!”

Bapak menyuruh kami untuk pergi lewat pintu belakang. Aku menolak pergi. Aku ingin melindungi bapak.

“ Marni, bawa Lesti pergi dari sini!” pinta bapak.

“ Tidak Mas, kami tidak akan pergi tanpa Mas”

Ibu dan kami bersikeras mengajak pergi. Tapi bapak memilih bertahan. Dia tidak ingin dirinya menjadikan celaka bagi kami. Pemberontak itu berniat jahat kepada bapak. Aku tak tahu kenapa bapak dimusuhi banyak orang.

Bapak itu orang baik pekerjaannya merawat musola di desa. Kalau pagi dia mengepel, membersihkan kamar mandi musola sesekali menjadi imam sholat kalau Pak Haji ijin mengimami sholat.

Tapi setelah  pemberontakan Darul Islam, bapak jadi dibenci banyak orang. Bahkan Pak Haji, Pak Samsul dan semua orang yang sering ke masjid sudah dibunuh. Aku tidak tahu kenapa bapak, dan orang-orang banyak dibenci oleh orang-orang. Tapi yang pasti aku benci para perusuh itu. Mereka telah menghancurkan keluargaku.

Dengan linangan air mata dan isak tangis yang coba aku tahan. Aku mengikuti langkah kaki ibu. Kami berjalan kaki di tengah malam. Menerobos kelam dan hutan. Dari kejauhan kami mendengar letupan pistol. Dadaku bergetar seketika.

“ Bapaakkkk!”

Ibu langsung menutup mulutku. Dia memintaku untuk tidak menangis. Tapi dia malah menangis. Air atanya membasahi pipi. Sejak saat itu aku terbiasa menelan air mata sendiri. Sepanjang perjalanan kami menzikirkan tangis dan bapak. Bayangan bapak terus menemani kami hingga sampai di rumah kakek.

***

Di rumah kakek aku semakin belajar menahan tangis karena pemberontak juga mengincar kakek. Kakek bersiap-siap untuk melarikan diri. Aku dan ibu pun ikut melarikan diri. Kami berniat pergi ke Jawa Timur melalui kereta api.

“ Aku lelah berlari Kek”

“ Kalau kamu mau hidup, kamu harus menyelematkan nyawamu”

“ Kenapa kita tidak melawan mereka, aku sanggup membunuh mereka”

“ Jumlah mereka sangat banyak, kamu melawan mereka sama saja kamu menggali kuburan sendiri”

Kakek tidak mengerti untuk apa berlari menjauhi mati. Toh, ajal itu pasti datang. Sejak kematian bapak. Aku tidak takut mati. Aku akan berteman dengan kematian.

“ Marni, situasi sudah sangat kacau, yang benar jadi salah, yang salah semakin salah. Kita jangan mendekati mereka bila tidak ingin cari mati. Pemberontakan Daurah Islamiyah adalah  bom waktu bagi rakyat. Pemberantasan pemerintah terhadap mereka, dimanfaatkan untuk menciptakan huru-hara saling mengadu domba”.

“ Tapi Parman jadi korban pak”

“ Aku tahu kesedihanmu, tapi kita tidak bisa menjadi cengeng. Ini zaman perang hanya dua pilihan hidup atau mati”

Kakek memberikan ibuku pistol untuk melindungi diri. Dia juga menyelipkan pistol di saku celanannya. Kakek tidak memberiku pistol.

“ Lesti kamu ingin pistol? Besok kakek belikan pistol-pistolan ya”.

***

Di dalam kereta kami beristirahat dengan tenang. Ibu dan kakek tertidur pulas. Saat mereka tidur, aku diam-diam mengambil pistol yang ibu sembunyikan di jaritnya. Aku masukan pistol itu di dalam bajuku.

“ Door!”

Sebutir peluru menembus kepala kakek. Sekawanan pemberontak itu mengikuti pelarian kami. Ibu terbangun. Dia langsung disergap lelaki kekar. Aku pun di tangkapnya. Kami diikat di bangku kereta. Sementara para penumpang lain langsung mundur ke gerbong lain. Mereka membiarkan kami melawan maut sendirian.

Pemberontak itu menyeret mayat kakek lalu membuangnya lewat pintu. Di lantai tercecer darah kakek. Aku menangis dan menelan tangisanku sendiri.

Belum puas disitu mereka menggoda ibu. Tali yang mengikat ibu dilepas. Disentuhnya tubuh ibuku dengan nakal. Mereka menjamah bagian intim tubuh ibu. Di depan mataku ibu meronta-ronta, menangis dan menjerit. Aku menjerit sekeras-kerasnya. Hingga aku ditendang. Saking kerasnya ikatanku terlepas.

“ Marni, Parman sudah mati, Kakek tua itu juga mati. Kini buat apa, kamu menangisi mereka. kita lebih baik bersenang-senang”,

Mereka melingkari ibu. Menyaksikan laki-laki kekar itu menelanjangi ibu. Aku bangkit dan mengambil pistol dari dalam baju.

“Door!”

Peluru menembus punggung lelaki kekar itu. mereka kaget berusaha menyerangku. Aku tembakan peluru membabi buta. Suara peluru saling beradu. Darah mengalir dari dadaku. Tiba-tiba aku merasa lemas. Aku melihat bayangan bapak, kakek, dan sayup-sayup suara ibu.

Cilacap, 24 Desember 2016

 

Pesan dalam Draft Ponselku

Pesan dalam Draft Ponselku

Winda Efanur FS, seorang penulis lepas.

Alumnus Fakukultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Email: efanurw@gmail.com

CERPEN ACADEMIC INDONESIA — “Apa cinta harus diutarakan?”, “ Apa cinta harus memiliki?” Pertanyaanmu kini tergiang-ngiang di telingaku. Pertanyaan itu memantul-mantul di hatiku. Kamu bertanya kepadaku. Aku pun tidak mengetahui jawabannya. Dalam diammku aku juga bertanya kepada hatiku sendiri.

cerpen academic indonesia
pixabay.com

Perasaan adalah getaran yang halus. Landasan berpikir, berucap hingga berbuat. Apalagi perasaan cinta. Cinta yang bersarang di hati seseorang. Cinta perasaan yang bersembunyi di balik lembutnya tutur katamu. Cinta juga keindahan yang terpancar dari senyumanmu.

Cintamu meminta kediaman dimana cinta itu memiliki ruang untuk tumbuh. Cintamu membutuhkan jawaban, apakah cintamu dapat mekar di hatiku. Cinta, cinta dan cinta. Ahh.. kamu memposisikanku sebagai orang jahat yang tidak memiliki perasaan.

Selama ini aku membahasakan cinta dalam perbendaharaan alam. Cinta layaknya sejuk embun yang hinggap di dedaunan kala fajar. Cinta bukan kata, bahkan perumpamaan. Cinta bahasa yang mengawinkan rasa dengan logika. Cinta tidak memiliki rupa namun mengikat manusia dengan alam benda.

Setiap detik waktu terjatuh, nafas cinta terus berhembus. Setiap ranting patah, ada getaran hati yang goyah. Ahh.. lagi-lagi kamu menjadikanku sebagai orang jahat yang tidak memiliki perasaan.

“ Ping!”

Pesan BBMmu mengaburkan percakapanku dengan diriku sendiri. Dalam pesanmu kamu pamitan ditugaskan kerja di luar kota.

“Jangan kangen lhoo, haha,”

“ Ee.. tidak lah, kan cuma dua hari,”

“ Biar kangen berapa hari,”? tanyamu.

“ Dua tahun, haha,” Jawabku singkat.

“ Hemm, ya sudah tiga tahun sekalian. Biar kangennn bangett, haha,”

“ Iya, haha,”

Begitulah aku dan kamu berkomunikasi. Kata-kata yang mengalir hanya gurauan. Aku dan kamu intens saling kirim kabar. Kita masing-masing merasa nyaman dengan hubungan ini. Ribuan kata telah kita uraikan bersama-sama. Kata-kata itu mengikat kebersamaan yang ada. Kata demi kata jatuh sambil lalu.

Seiring angin berhembus kata itu pun hilang. Namun aku merasakan maksud yang kamu sembunyikan, selama dua tahun kita berteman. Mungkin dua pertanyaanmu tempo hari. Dua kalimat, yang menjadi hukuman perasaanku. Aku ragu.

Aku kira tugasmu mendadak. Belum ada sehari kamu mengutarakan perasaanmu padaku. Kini kamu pergi ke luar kota. Sementara aku belum memberikan jawaban untukmu. Meskipun aku bisa saja mengirim pesan, bahkan menelponmu. Tetapi jawabanku seolah kurang afdhal.

Bila tidak mengatakan langsung kepadamu. Kepergianmu ke Samarinda, sejenak meloloskanku dari tikaman pertanyaanmu. Hal itu mengaburkan pertanyaanmu. Dengan objek lain yang semakin mendesak untuk kita bincangkan.

Jarum jam dikamarku menunjuk pukul 00.00 Wib atau pukul 01.00 di Samarinda kotamu. Genap sehari kamu meninggalkanku sendiri. Hari pertama di meja kerjaku tidak ada lembaran puisimu. Kata-kata gombal yang kamu muntahkan begitu saja. Jujur, aku geli membacanya karena kamu asal mencopot metafora kata. Niatmu membuat kata yang puitis justru terperosok menjadi kata-kata berantakan.

***

Di luar dugaan kantor mengulur waktumu di Samarinda untuk waktu yang tidak bisa dtentukan. Aku merasakan kekosongan begitu saja. Kini sudah memasuki 30 hari kepergianmu. Sebulan lamanya kita berpisah. Ada yang hilang dari diriku. Tetapi apa? Lagi-lagi pertanyaanku menggaung di hati. Aku ragu.

Sebenarnya aku ingin bercerita kepadamu, akhir-akhir ini aku sering melamun sendiri. Kadang-kadang aku memandangi lembaran-lembaran puisimu. Kadang pula, aku salah memanggil Rahman dengan namamu, Arman. Sontak Agus, Leli, Burhan, Sari, dan Erna membully-ku. Aku dibilang korban LDR- Bunga yang kesepian.

Kamu tentu akan tertawa mendengarnya atau justru tersenyum bahagia. Entahlah. Aku ingin ceritakan semua yang terjadi di sini selama kamu pergi. Tetapi lagi-lagi, semua cerita yang aku tulis gagal aku kirimkan. Semua pesan itu  tersimpan rapi  di draft pesanku. Selanjutnya aku mengetik kata-kata yang baru.

“ Ciye, sombong nih, yang sudah jadi bos kelapa sawit di Samarinda,”? Aku membuka percakapan.

“ Tidak juga, masih menjadi tukang foto kopi, kok”

“ Halah, pasti lagi foto kopi uang,”

“ Hahaha, inginnya sih begitu. Uang untuk melamar,”

“ Wuiih, mau melamar siapa nih,”? tanyaku serius.

“ Hemm, aku kasih tahu tidak, yah,”

Percakapan via BBM berlangsung selama 30 menit. Gurauan dan gelak tawa mewarnai percakapan kita. Lambat laun gurauan yang biasa terasa renyah perlahan menjadi hambar. Kamu tidak seperti dahulu. Si raja kocak, yang selalu bisa membuatku tertawa. Kali ini, aku merasa ada yang berbeda darimu. Aku berpikir itu karena menumpuknya pekerjaanmu di sana. Aku mengerti penempatan kerja di daerah, membuat karyawan lebih tertekan dibandingkan kerja di pusat.

Satu hal yang menyangkut di pikiranku. Tentang niatmu melamar seorang gadis. Tanpa aku duga, hatiku berdebar kencang saat kamu ingin melamar seseorang. Aku sungguh bahagia. Akhirnya kata-kata sejati mampu kamu ucapkan sekalipun sebatas gurauan. Karena hanya laki-laki sejati yang berani melamar wanita pujaannya.

Kamu telah menunjukan bahwa dirimu, bukan si raja gombal seperti dahulu. Kamu adalah Arman, seseorang yang berani mencintai dan menjaga cintamu. Ahh.. aku semakin yakin dengan jawabanku. Jawaban yang menggantungmu selama dua tahun.

***

Senin pagi begitu ceria. Cahaya mentari mengawali pagi ini dengan kehangatan. Aku membuka hari ini dengan sejuta senyuman. Aku lemparkan salam terhangat kepada semua karyawan kantor. Beberapa diantara mereka keheranan. “Si Bunga yang selalu menampakan muka serius, kali ini membuka topengnya.

Dia tampak bahagia sekali,”. Bisikan itu meski sayup-sayup, dapat aku dengar dengan jelas. Aku tidak peduli dengan pendapat mereka. Aku terus menebarkan kebahagiaan di kantor. Hari ini adalah hariku. Aku seolah terlahir kembali di dunia ini. Dunia yang menenggelamkanku pada lautan cinta.

Aku membuka komputerku. Aku setting gambar desktop komputer dengan foto aku dengan kamu. Kamu itu Armanku. Selanjutnya aku mengerjakan tugas kantor dengan begitu ringan. Oh, iya. Aku ingin mengucapkan selamat pagi kepadamu. Belum sempat aku menekan tombol kirim di ponselku. Tiba-tiba ada pesan masuk ke handpshone-ku. Lagi, aku menyimpan pesan untukmu di draft pesanku.

“ Bungaaa!!! Apa yang terjadi Arman meminang gadis lain? Mengapa bisa begini, kalian bukannya baik-baik saja,”?

Pesan singkat dari Leli, telah membunuhku. Hati ini remuk berkeping-keping. Aku tak berwujud lagi. Hanya ada lautan air mata dan aku tenggelam di dalamnya.

“Arman, Arman, Arman”,! Aku ingin mengatakan jawabanku. Aku mencintaimu dengan nafas dan denyut jantungku. Bodohnya, aku tak mampu mengungkapkannya. Kata-kata itu yang selalu gagal ku kirimkan padamu. Pesan yang aku simpan rapi dalam draft ponsel. Kini aku akan menghapusnya,” bisiku dalam hati.

Mendadak kepalaku pusing dan semuanya menjadi gelap.

Cilacap, 6 Oktober 2016

Selesai