Berikut Ini Hukum Menagih Hutang Di Berbagai Kondisi Dan Keadaan

Berikut Ini Hukum Menagih Hutang Di Berbagai Kondisi Dan Keadaan

Hukum Menagih Hutang

Hutang merupakan salah satu kewajiban manusia yang harus dibayarkan. Pemberi piutang juga berhak sewaktu-waktu untuk menagihnya. Hukum menagih hutang sendiri juga bermacam-macam dilihat dari kondisi, cara dan tujuan ketika menagihnya.

Bagaimana Hukum Menagih Hutang?

Menagih hutang merupakan suatu hal yang diperbolehkan. Dengan menagihnya Anda bisa menghindarkan penghutang dari siksa neraka, karena jika penghutang lupa dengan tanggungannya, ketika meninggal ruhnya akan di gantungkan sampai hutang tersebut terbayarkan.

Hukum menagih hutang juga sangat bermacam-macam. Tergantung dari tujuan dan kondisi yang bagaimana ketika Anda menagihnya. Ketika orang yang berhutang benar-benar belum mampu untuk membayarnya, maka diperbolehkan untuk pemberi piutang memberikan sedikit waktu untuknya.

Tidak memandang nominal atau barang apa yang dipinjamkan, ketika pemberi piutang belum ikhlas untuk memberikannya maka masih menjadi hak Anda untuk selalu menanyakannya. Tidak perlu malu atau sungkan karena hal ini dilakukan demi kebaikan kedua belah pihak.

Ayat diatas menerangkan orang yang berhutang, harus mengkesampingkan dahulu hawa nafsu untuk membeli barang-barang diluar kepentingan. Karena haram bagi siapa saja yang dengan sengaja mengesampingkan hutang-hutangnya disaat sang pemberi piutang sangat memerlukannya.

Menagih hutang sendiri bisa diawali dengan cara mengingatkan, jika dengan cara tersebut yang bersangkutan masih menyepelekan tanggungannya maka diperbolehkan untuk menggunakan cara yang sedikit lebih kasar.

Hukum Menagih Hutang Yang Sudah Lama Menurut Islam

Hukum menagih hutang yang sudah lama adalah boleh. Dengan iktikad yang baik maka sang pemberi piutang diperbolehkan untuk segera menagihnya. Jika terdapat unsur kesengajaan untuk tidak membayarnya, maka pemberi piutang bisa menyita harta benda miliknya.

Tidak mengenal waktu baik lama ataupun baru saja, yang namanya hutang akan terus dipertanyakan. Tak jarang memang gara-gara masalah hutang ini banyak keluarga ataupun saudara yang bertengkar terhadap sesama.

Menagih hutang yang sudah lama sendiri juga bukan merupakan hal yang salah. Mengingat hutang adalah suatu kewajiban yang harus segera dibayarkan. Haram hukumnya bagi mereka yang sudah mampu mengembalikannya namun malah menunda-nunda.

Untuk penagihan hutang yang sudah lama, tidak diperbolehkan untuk menaikkan jumlah nominal hutang dengan dalih harga jual barang sudah berbeda dari jaman dulu dengan sekarang. Namun, dianjurkan untuk mereka yang berhutang memberikan sedikit tambahan sebagai kompensasinya.

Contohnya, pada belasan tahun yang lalu si A meminjam uang kepada si B untuk membeli motor. Ketika sekarang si B menagihnya, dia menaikkan jumlah tagihan dengan alasan uang yang jaman dulu bisa untuk membeli motor sekarang sudah tidak cukup untuk membelinya.

Sesuai dengan syariat Islam, si B tetap tidak boleh menaikkan tagihan hutangnya, namun si A dianjurkan untuk memberikan sedikit tambahan ketika membayarnya.

Bagaimana Hukum Menagih Hutang Kepada Saudara Sendiri?

Menagih hutang kepada sanak saudara memang kadang terasa sedikit tidak mengenakan. Namun hukum menagih hutang kepada saudara juga boleh untuk dilakukan. Mengingat piutang masih menjadi hak Anda dan orang yang berhutang juga wajib untuk membayarkannya.

Bersikaplah tegas dan tidak perlu sungkan untuk menagihnya karena memang sudah menjadi kewajiban bagi mereka untuk segera melunasinya. Jika mereka menolak untuk membayarkan hutangnya dengan dalih saudara, maka Allah yang akan memberikan balasan kepada mereka.

Sesuai ayat di atas, hutang harus dibayar. Akan berbeda cerita jika Anda mengikhlaskan hutang tersebut. Hutang yang sudah di ikhlaskan akan berubah menjadi sedekah, ini menjadi hal yang lebih baik tentunya jika sang pemberi piutang sudah sangat ridho dengan perbuatannya.

Meskipun terhadap saudara, ketika seseorang sudah berani berhutang apapun konsekuensinya tetap harus berusaha bertanggung jawab untuk melunasinya. Agar kelak tidak ada perasaan mengganjal yang akan merenggangkan hubungan Anda sebagai sesama saudara.

Menagih Hutang Tanpa Bukti

Hampir seperti memfitnah, hukum menagih hutang tanpa bukti tidak diperbolehkan. Jika orang yang berhutang memang mengakui tanggungannya, maka menagih hutang masih boleh dilakukan. Mereka tidak merasa berhutang dan Anda menagih, maka hal ini sama dengan menuduhnya.

Untuk menghindari hal tersebut, maka dianjurkan untuk membuat catatan piutang baik berupa dokumen ataupun bukti transfer yang nantinya bisa menjadi salah satu bukti ketika orang yang berhutang mulai melupakannya.

Sebagai orang yang mempunyai nurani, jika memang benar berhutang dan tidak ada perjanjian tertulis sebagai buktinya, hendaklah kita jujur untuk mengakuinya. Ada beberapa tips untuk Anda yang sudah terlanjur melakukan hutang piutang tanpa perjanjian.

Yang pertama tagihlah hutang tersebut secara rutin agar kedua belah pihak tidak melupakannya. Kedua, segera buat surat pernyataan dan mintalah tanda tangan kepada yang bersangkutan selagi mereka masih mengingatkannya.

Cantumkan juga nominal secara jelas dan juga waktu jatuh tempo agar mempermudah Anda ketika menagihnya.  Lakukan hal ini jika dirasa yang bersangkutan memang sulit untuk dimintai pertangung jawaban.

Hukum Menagih Hutang Orang Yang Sudah Meninggal

Hutang masih akan menjadi tanggungan meskipun orang yang bersangkutan sudah meninggal. Jika tidak dibayarkan maka hutang tersebut akan terus dipertanyakan di akhirat kelak. Hukum menagih hutang orang yang sudah meninggal adalah diperbolehkan.

Hutang tersebut bisa ditagih melalui keluarga ataupun ahli waris yang mendapatkan harta benda peninggalannya. Jika harta peninggalan berupa sawah, maka sawah tersebut dapat dijual dan hartanya digunakan untuk membayar hutang.

Jika memang yang bersangkutan merupakan sebatang kara dan tidak ada harta ataupun keluarga yang ditinggalkan maka ada dua kemungkinan, yang bersangkutan tetap berdosa atau yang memberi piutang mendapatkan pahala jika benar-benar sudah mengikhlaskannya.

Masalah hutang memang bukanlah perkara ringan yang bisa disepelekan. Karena perhitungannya tidak hanya di dunia namun juga di akhirat. Tidak heran memang jika perkara hutang seperti ini sering memberatkan kedua belah pihak baik yang berhutang ataupun yang memberi piutang.

Hukum Menagih Hutang Dalam Agama Islam

Sebagai mahluk sosial sudah sepatutnya manusia hidup dengan saling tolong menolong terhadap sesama. Memberikan pinjaman untuk mereka yang membutuhkan juga merupakan salah satu bentuk bantuan yang biasa diberikan. Dalam Islam hukum menagih hutang juga tidak dilarang.

Contohnya, ketika salah satu tetangga membutuhkan biaya rumah sakit untuk persalinan istrinya, Anda memberikan hutang kepada mereka agar prosesnya persalinan bisa segera dilakukan. Dengan begini hanya dengan sekali uluran, dua nyawa bisa sekaligus terselamatkan.

Menagih hutang dalam Islam juga boleh untuk dilakukan, ketika Anda memang perlu untuk menagihnya, maka tidak perlu sungkan untuk mengingatkannya karena memang sudah menjadi hak bagi pemberi piutang untuk mendapatkannya kembali.

Tagihlah hutang dengan cara yang sopan agar orang yang berhutang segan untuk segera membayarkan hutangnya kembali, dan jika merek belum mampu untuk membayarkannya maka di perbolehkan untuk menambah jangka waktunya.

Dalam masalah hutang piutang, tentunya anda harus tegas dalam meminta hutang tersebut. Hukum menagih hutang mewajibkan seseorang yang berhutang melunasi hutang tersebut. Dengan begitu, kedua belah pihak merasa saling diuntungkan.

Penyelesaian Hutang Dalam Islam

Penyelesaian Hutang Dalam Islam

Hutang Dalam Islam

Hutang merupakan hal yang wajib dibayar. Hutang dalam Islam lebih menitik beratkan pada kesepakatan antara kedua belah pihak. Semuanya harus melakukan hutang-piutang dengan perjanjian yang jelas. Baik nominal ataupun waktu pengembaliannya.

Hutang Menurut Agama Islam

Hutang menurut Islam memiliki pengertian meminjamkan sebagian hartanya kepada orang lain untuk berbagai macam kepentingan. Pemberian tersebut harus dengan rasa ikhlas dan tidak terbebani. Waktu pembayaran tentunya harus diperhatikan agar tidak terjadi hal yang bisa merugikan.

Dari hadits di atas Anda dapat menyimpulkan bahwa Allah akan melipat gandakan harta yang telah dipinjamkan kepada seseorang. Jadi jangan mempersulit orang yang meminjam, baik uang ataupun benda yang lain.

Bagaimana Arti Hutang dalam Islam?

Arti hutang dalam Islam mempunyai pengertian bahwa orang yang melakukan pinjaman mempunyai kewajiban untuk mengembalikannya. Jika tidak, maka banyak hal buruk yang akan menimpanya. Bisa di dunia maupun di akhirat.

Seseorang yang di mintai pinjaman tentu mengharapkan uang kembali. Namun, dalam Islam tidak diperbolehkan meminta imbalan. Karena imbalan merupakan hal yang haram saat melakukan pinjam-meminjam. Jika peminjam memberikan imbalan tanpa diminta, maka terimalah.

Syarat Hutang Piutang dalam Islam

Dalam melakukan hutang, tentunya harus memperhatikan syarat dan ketentuan yang berlaku. Syarat tersebut harus disepakati oleh kedua belah pihak yang sedang melakukan pinjam-meminjam. Berikut beberapa syarat saat melakukan hutang:

1. Harta yang Dihutangkan Halal

Harta yang digunakan untuk hutang didapatkan dengan cara halal. Sehingga akan lebih aman dan tidak terdapat unsur madarat di dalamnya. Dalam Islam tidak boleh menghutangkan harta yang didapat dari sumber yang tidak jelas, apalagi hasil korupsi.

2. Pemberi Hutang tidak Mengungkit-Ungkit Masalah Hutang

Saat orang yang meminjam belum bisa mengembalikan tentunya harus bersabar. Hutang dalam Islam melarang Anda menjelek-jelekan orang yang melakukan pinjaman tersebut. Jika hal itu terjadi, akan menimbulkan keburukan dalam hidup.

3. Pihak yang Piutang Niatnya Harus Baik

Saat memberikan pinjaman Anda harus memiliki niat yang ikhlas. Tidak boleh memiliki niat dengan embel-embel tertentu. Misalnya saja, mengharapkan uang yang lebih saat jatuh tempo. Karena akan memberatkan pihak yang meminjam.

4. Harta yang Dihutangkan Tidak akan Memberi Kelebihan

Islam melarang melebihkan uang saat melakukan pinjaman. Jika hal itu terjadi, uang kelebihan akan menjadi haram. Oleh karena itu, tentunya uang kembalian harus sesuai dengan uang yang telah dipinjam. Jika ada lebih tentunya harus dikembalikan.

Adab Hutang Piutang dalam Islam

Dalam melakukan hutang tentunya harus memperhatikan beberapa adab yang telah diatur. Jika tidak bisa jadi mendapat beberapa masalah. Akibat hutang dalam Islam yang tidak dibayar, akan berdampak pada hubungan kedua belah pihak. Berikut beberapa adab hutang yang harus dilakukan:

1. Ada Perjanjian Tertulis dan Saksi

Saat melakukan hutang, tentunya harus mendatangkan saksi. Saksi digunakan untuk menjadi pengawas dalam melakukan hutang piutang. Selain itu, tentunya harus menuliskan perjanjian tentang hutang tersebut. Baik nominal ataupun pengembaliannya.

2. Pihak Pemberi Hutang tidak Mencari Keuntungan

Saat Anda memberikan pinjaman jangan mengambil keuntungan secara sepihak. Jika hal itu terjadi, keuntungan yang didapatkan akan menjadi haram. Harta dari keuntungan berhutang merupakan riba. Riba merupakan hal yang tidak disukai oleh Allah.

3. Pihak Piutang Sadar akan Hutangnya

Orang yang berhutang tentunya menyadari bahwa harus mengembalikan harta tersebut dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jika tidak bisa melunasi, bisa mengganti dengan barang yang mempunyai nilai yang sama.

4. Tidak Berhutang dengan Rentenir

Hutang dalam Islam melarang Anda meminta tolong kepada rentenir. Karena kebanyakan rentenir mematok bunga yang tinggi. Selain memberatkan, bunga hutang dalam Islam merupakan sesuatu yang dilarang. Penting kiranya menjauhi hal tersebut.

5. Berhutang Hanya dalam Keadaan Terdesak

Jangan berhutang kecuali dalam keadaan terdesak. Karena dengan berhutang, seseorang akan mempunyai beban yang lebih dan terus berfikir. Berfikir bagaimana caranya untuk mengembalikan hutang tersebut. Apalagi kalau orang tidak berkecukupan.

6. Hutang Piutang tidak Disertai dengan Jual Beli

Saat melakukan hutang, tidak boleh memperjual belikan barang atau hal lainnya. Tentunya Anda harus secara ikhlas dalam memberikan pinjaman. Bagi peminjam tentunya harus mengembalikan pinjaman sesuai dengan waktu yang ditentukan.

7. Memberitahukan kepada Pihak Pemberi Hutang

Saat hutang akan jatuh tempo, maka pemberi hutang wajib untuk mengingatkannya. Begitu pula sebaliknya, untuk peminjam tidak boleh banyak alasan jika belum bisa mengembalikan. Apalagi kalau disertai dengan emosi.

8. Pihak Piutang dengan Baik

Jika menjadi pihak yang melakukan pinjaman tentunya Anda harus baik hati. Mengembalikan pinjaman sesuai dengan perjanjiam. Lebih baik jika mengembalikan sebelum waktu yang telah ditentukan. Setiap peminjam tentunya mengharapkan hartanya kembali.

9. Pihak Piutang Melunasi Hutangnya

Lunasi hutang yang telah dipinjam. Jangan sampai kurang sedikitpun. Misalnya saja, saat jatuh tempo membayar hutang hanya memberikan separuh dari ketentuan yang disepakati. Hal itu akan membuat peminjam menjadi sakit hati.

10. Jika Kesulitan, Berikan Penangguhan Hutang

Jika peminjam merasa kesulitan, maka berikanlah penangguhan beberapa hari kemudian. Dengan begitu, orang tersbut akan mendapat sedikit nafas lega untuk mencari solusi lainnya. Dan pengembalian hutang akan berjalan dengan lancar.

Gejala Akibat Sikap Hutang Piutang

Jika seseorang melupakan hutangnya akan mendapatkan azab. Azab hutang dalam Islam akan didapat di dunia dan di akhirat. Azab didunia merupakan kerugian yang terjadi akibat sering kali berhutang. Berikut gejala yang akan didapatkan:

  • Menyebabkan stres
  • Merusak akhlak
  • Tertunda masuk surga
  • Pahala adalah ganti hutangnya
  • Urusannya masih menggantung

Bagaimana hutang bank dalam Islam?

Bank merupakan sarana terbaik untuk melakukan pinjaman hutang. Pihak bank cenderung memberikan kemudahan untuk para nasabah untuk melakukan peminjaman. Berikut beberapa pendapat mengenai hutang menurut beberapa tokoh Islam:

1. Menurut Rasyid Ridha

Beliau mengatakan bahwa berhutang pada bank merupakan riba. Riba merupakan hal yang harus dijauhi. Beliau berpendapat sesuai dengan Q.S. Ali Imron ayat 130. Ayat tersebut mempunyai inti bahwa hukum riba adalah haram.

2. Menurut M Quraish Shihab

M Quraish Shihab mengatakan bahwa hukum dari meminjam bank adalah riba. Karena saat melakukan pembayaran hutang, akan diberikan kelebihan yang harus dibayar oleh orang yang berhutang. Landasan pendapat beliau mengacu pada Q.S. Al Baqarah ayat 278.

3. Menurut Umar Shihab

Pendapat yang sedikit berbeda. Beliau berpedapat bahwa berhutang pada bank akan saling menguntungkan. Di zaman Rasulullah, berhutang akan mengembalikan dengan jumlah yang lebih banyak. Namun, bank justru memberikan keringanan dengan bunga yang sedikit pada nasabahnya.

Hutang dalam Islam memang boleh dilakukan. Namun, tentunya terjadi kesepakatan antara pihak pemberi dan peminjam. Serta disaksikan oleh beberapa orang dan memiliki jatuh tempo yang telah ditetapkan. Dengan begitu, tidak ada perselisihan antara kedua belah pihak.

Adab Bertetangga Menurut Hukum Islam

Adab Bertetangga Menurut Hukum Islam

Adab Bertetangga

Tetangga merupakan orang-orang yang menetap dekat dengan tempat tinggal Anda. Mereka adalah orang-orang yang akan datang dengan segera apabila dibutuhkan. Artinya menjalin hubungan baik dengan tetangga harus dilakukan dengan adab bertetangga yang sesuai dengan norma yang ada.

Bagaimana Adab Bertetangga Agar Lebih Harmonis?

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam bertetangga. Menurut hukum islam hal tersebut disebut juga dengan adab bertetangga. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kehidupan bertetangga lebih harmonis:

1. Saling Menghormati dan Menghargai

Membangun hubungan yang baik dengan tetangga tidak akan ada ruginya, pasalnya setiap kebaikan yang dilakukan seseorang akan dibalas dengan kebaikan yang lain. Jadi, jangan ragu untuk melakukan berbagai kebaikan, terutama dalam bertetangga.

Suasana bertetangga akan harmonis apabila antara satu orang dengan yang lainnya dapat saling menghormati dan menghargai. Bentuk rasa hormat tersebut dapat berupa sikap, perilaku, hingga omongan.

Berdasarkan hukum islam juga disebutkan bahwasanya, setiap orang harus saling menghormati terutama orang yang lebih tua. Hal ini merupakan adab bertetangga dalam ajaran islam yang perlu diperhatikan dengan baik.

2. Bersikap Ramah Antar Tetangga

Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain. Terutama membutuhkan orang-orang yang tinggal dekat dengan Anda, contohnya tetangga.

Sikap dalam bertetangga sangat penting, hal itu juga menjadi salah satu penentu keharmonisan bertetangga. Bersikap ramah akan menghindarkan percekcokan antar tetangga.

Selain itu, sikap yang ramah akan membuat seseorang disukai orang-orang di sekitar. Hal itu karena orang lain akan merasa nyaman ketika berbicara dan berada di dekat orang yang bisa bersikap ramah terhadap orang lain.

3. Berbicara yang Baik

Omongan seringkali menjadi pemicu pertengkaran. Omongan yang tidak sesuai fakta atau yang menyakitkan hati akan membuat orang cepat marah. Maka dari itu, menjaga setiap omongan yang akan dikeluarkan sangat penting.

Setidaknya orang harus memikirkan terlebih dahulu setiap omongannya sebelum dikeluarkan, apakah kata-katanya nanti menyakiti orang lain, membuat orang lain marah, atau membuat orang lain tidak nyaman. Adab bertetangga yang demikian harus diperhatikan dengan baik.

4. Tidak Membeda-bedakan

Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan, adat, suku, agama, dan kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga besar kemungkinan Anda akan hidup berdampingan dengan orang lain yang berbeda suku, adat, agama, dan kepercayaan.

Meskipun demikian, dalam bersikap dan berperilaku tidak boleh membeda-bedakan orang lain terutama tetangga berdasarkan perbedaan-perbedaan. Anda harus memperlakukan mereka sama.

Rasulullah telah memberikan contoh kepada Anda terkait adab bertetangga dengan non muslim. Ketika beliau menjadi pemimpin di Madinah. Beliau tidak pernah membeda-bedakan rakyatnya, bahkan memberikan perlindungan kepada non muslim.

4. Tolong Menolong dengan Ikhlas

Menolong orang lain harus dilandasi dengan perasaan ikhlas, jangan mengharapkan balasan yang akan didapatkan nantinya. Sesungguhnya Allah akan memberikan balasan lebih apabila seseorang ikhlas menolong orang lain.

Orang lain yang ditolong, pasti akan mengingat akan jasa yang telah dilakukan. Apabila suatu saat Anda membutuhkan pertolongan, mereka akan dengan sedang hati menolong tanpa diminta sekalipun.

5. Membantu Tetangga yang Kurang Mampu

Keadaan ekonomi setiap orang di sekitar Anda pasti berbeda-beda, ada yang memiliki ekonomi kuat dan ada yang kurang mampu. Adab bertetangga yang baik dan benar menurut hukum islam, yaitu memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.

Bantuan yang diberikan tidak akan pernah sia-sia, karena setiap bantuan yang diberikan akan sangat membantu meringankan beban mereka. Jadi bantu saja semampu Anda, usahakan jangan apatis terhadap orang yang sedang membutuhkan bantuan.

Contoh Bertetangga yang Baik dan Benar

Adab Bertetangga Menurut Hukum Islam

Kata bertetangga tentu sudah tidak asing bagi setiap orang, pasalnya orang yang menetap di suatu tempat tertentu pasti akan selalu hidup bertetangga. Sejak dilahirkan tanpa sadar seseorang sudah hidup bersama orang lain yang Anda sebut dengan tetangga.

Hidup bertetangga yang baik tidak bisa dilakukan secara sembarangan, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Berikut contoh adab bertetangga yang baik sesuai dengan ajaran islam.

1. Menjenguk Tetangga Jika Ada Yang Sakit Atau Tertimpa Musibah

Budaya menjenguk tetangga yang sakit atau tertimpa musibah masih akan ditemukan di daerah pedesaan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk simpati kepada orang yang sedang sakit atau tertimpa musibah.

Tetangga yang datang biasanya akan membawakan sedikit makanan yang dimilikinya untuk diberikan kepada tuan rumah. Hal ini tentu akan sedikit meringankan beban tuan rumah yang sedang tertimpa musibah,

2. Membantu Tetangga yang Sedang Mempunyai Hajatan

Ketika tetangga sedang mengadakan hajatan, luangkan sedikit waktu untuk membantu mereka. Hajatan seperti syukuran kelahiran anak, mengirim doa, hingga acara pernikahan merupakan acara besar yang membutuhkan bantuan banyak orang.

Bukan hanya acara besar saja, tetapi mendirikan rumah biasanya juga membutuhkan bantuan bantuan banyak orang. Budaya yang demikian mungkin sudah jarang ditemukan di kota-kota besar, tetapi di desa masih diterapkan sampai sekarang.

3. Apabila Mendapat Undangan dari Tetangga Usahakan Untuk Hadir

Adab bertetangga selanjutnya yaitu berusaha untuk selalu hadir apabila mendapat undangan dari tetangga. Tetangga akan merasa dihargai dan senang apabila Anda datang untuk memenuhi undangan mereka.

Pahala akan didapatkan secara cuma-cuma hanya dengan membuat orang lain bahagia. Selain itu, mereka akan dengan senang hati datang apabila di rumah Anda sedang mengadakan acara.

4. Ikut Kerja Bakti di Lingkungan Tempat Tinggal

Disadari atau tidak, kerja bakti di lingkungan tempat tinggal tidak hanya agar lingkungan menjadi bersih, tetapi ada maksud lain yaitu agar antar tetangga saling mengenal dan berhubungan baik.

Kerja bakti sangat baik diadakan di lingkungan perkotaan atau perumahan, agar para penghuninya dapat saling menyapa. Biasanya orang-orang di perkotaan atau yang tinggal di perumahan, sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tidak jarang antar tetangga tidak saling kenal.

5. Tidak Pelit dengan Tetangga

Apabila memiliki makanan lebih biasakan untuk memberikan kepada tetangga yang membutuhkan, jangan biarkan makanan tersebut basi, hal itu berarti akan menyia-nyiakan makanan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang menyia-nyiakan makanan.

Apabila tetangga meminta sesuatu dan Anda sanggup memberikannya, jangan ragu untuk memberikannya kepada mereka. Memberikan sesuatu kepada orang lain secara ikhlas akan dicatat sebagai amalan shodaqoh.

Dalil Tentang Kehidupan Bertetangga

Rasulullah memerintahkan kepada kaumnya untuk membangun hubungan yang baik dengan sesama, terutama dengan tetangga dekat. Hal itu tercantum dalam ayat alquran dan hadits Nabi. Berikut ayat adab bertetangga yang menjelaskan pentingnya bertetangga.

1. Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim

2. Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim

3. Surat An-Nisa’ ayat 36

Dengan adab bertetangga yang baik dan benar agar kehidupan bertetangga semakin harmonis. Usahakan untuk memikirkan dan mempertimbangkan sesuatu agar sikap dan tingkah laku tidak menyakiti orang lain.

Nilai-nilai Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua Beserta Contohnya

Nilai-nilai Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua Beserta Contohnya

Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua

Berbakti kepada orang tua merupakan prinsip yang hendaknya dipegang erat oleh umat Islam. Bagi seorang anak maupun manusia secara luas, banyak sekali keutamaan berbakti kepada orang tua yang bisa didapat. Nilai keutamaan tersebut akan menjadi ketenteraman dalam keluarga umat muslim.

Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua dalam Islam

Dalam ajaran Islam melalui ayat-ayat Al-Quran, telah dijelaskan banyak sekali contoh keutamaan berbakti kepada orang tua. Jika tindakan tersebut diterapkan, maka seorang muslim akan mendapatkan kemuliaan ibadah dan keutamaan-keutamaan lainnya.

Berikut ini beberapa keutamaan berbakti kepada orang tua:

1. Mendapatkan Ridha Allah

Seorang anak yang mampu berbakti kepada kedua orang tuanya akan mendapatkan ridha dari Allah SWT. Sebab, melalui ridha kedua orang tua lah Allah akan meridhoi dan memberi kemudahan disetiap langkah umat Islam.

2. Perbuatan yang Dicintai Allah SWT

Berbakti kepada orang tua atau dalam ajaran Islam disebut “Birrul Walidain” merupakan perbuatan yang dicintai Allah sekaligus Rasulullah. Dalam riwayat Muttafaq alaih, hal tersebut dijelaskan pada saat Rasulullah ditanya salah seorang sahabat tentang amal apa yang paling dicintai oleh Allah.

Perbuatan yang di cintai Allah yakni sholat pada waktunya, kemudian sahabat itu bertanya lagi, dan jawab Rasulullah adalah berbakti kepada orang tua. Inilah poin penting dari berbakti kepada orang tua

3. Dimudahkan Segala Urusannya

Jika ridha Allah terletak kepada kedua orang tua, maka melalui sikap berbakti kepada orang tua dapat memudahkan urusan yang akan dijalankan.

Melalui restu orang tua, seseorang akan mendapatkan doa dan harapan terbaik yang dipanjatkan kedua orang tua. Doa itu lah yang merupakan restu dan ridha dari Allah SWT.

Perilaku demikian dapat menjadi pelajaran bagi seorang anak, bahwa mendapatkan kemudahan dan ridha dari Allah merupakan keutamaan berbakti kepada orang tua yang begitu berharga di dunia hingga akhirat.

4. Diluaskan Rezekinya dan Dipanjangkan Umurnya oleh Allah SWT

Bila Anda berada ditempat yang berjauhan dengan ke dua orang tua pasti yang dilakukan adalah mengunjungi mereka. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa berkunjung dengan niat baik atau silaturrahmi dapat memperluas rezeki dan memperpanjang umur umat muslim.

Jika silaturrahmi merupakan ibadah, maka silaturrahmi yang terbaik adalah kepada orang tua dan senantiasa menjaga komunikasi dengan mereka. Berkunjung kepada orang tua juga menjadi bukti bahwa kesuksesan seorang anak harus diimbangi dengan sikap bakti mereka.

5. Setara dengan Jihad

Dalam sebuah hadis Muttafaqun ‘alaih, Rasulullah didatangi oleh salah seorang pemuda yang meminta izin untuk mengikuti hijrah dan jihad dengan harapan mencari pahala dari Allah. Pemuda tersebut lebih disarankan untuk menemani dan berbuat baik kepada orang tuanya di rumah.

Perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua juga disampaikan oleh Allah dalam surat Luqman ayat 14, yakni:

Sikap berbakti kepada orang tua seperti penjelasan di atas juga membuktikan bahwa begitu tinggi pahala yang akan didapatkan seorang anak dengan terus berbuat baik kepada kedua orang tuanya.

6. Terhapuskan Dosa Besar

Tidak terkecuali, ada beberapa dosa yang dinilai cukup besar dalam ajaran Islam. Namun, dalam suatu kisah nabi ada seorang laki-laki yang mengaku telah melakukan dosa besar. Laki-laki tersebut kemudian meminta petunjuk untuk taubatnya.

Pada saat itu, nabi hanya bertanya apakah laki-laki itu memiliki ibu? Ternyata ia tidak memilikinya. Yang ia miliki hanya seorang bibi. Maka, nabi memerintahkan ia bertaubat atas dosa besarnya melalui bakti dengan bibinya.

Hadis ini telah menunjukkan betapa pentingnya sosok ibu dan penggantinya bagi kehidupan seorang anak.

Contoh Perilaku Berbakti kepada Orang Tua

Begitu banyaknya keutamaan berbakti kepada orang tua harusnya dapat dipraktikkan oleh semua umat manusia, terlebih bagi kaum muslim.

Sikap baik tersebut bukan hanya dilakukan ketika orang tua masih hidup saja, namun juga ketika orang tua telah meninggal dunia. Berikut ini adalah beberapa perilaku yang tergolong sebagai bakti kepada orang tua:

1. Tidak Berkata Kasar

Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua Beserta Contohnya

Ayat tersebut menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua dapat dilakukan dengan merawat mereka dan menjaga perkataan kasar, meski hanya “ah”. Perkataan yang menyakitkan ketika menolak permintaan, membentak, tidak sepatutnya dilakukan oleh orang Islam.

Islam telah mengajarkan cara penyampaian yang sopan dan musyawarah. Dalam ayat di atas  juga diperintahkan untuk selalu mendoakan kedua orang tua sebagaimana mereka telah mendidik dan merawat semenjak kecil.

2. Ringan Tangan Ketika Dimintai Pertolongan

Seringkali ketika orang tua memiliki pekerjaan yang menumpuk, sudah sepatutnya untuk membantu mereka. Namun terkadang, seorang anak begitu enggan ketika dimintai tolong atau bahkan melakukan dengan tanpa ketulusan. Akhirnya, pekerjaan yang dilakukan tidak maksimal.

Seorang anak jika memang dimintai pertolongan oleh kedua orang tuanya hendak melakukan dengan lapang dada.

Membantu pekerjaan orang tua merupakan cara berbakti kepada orang tua yang sangat mudah dilakukan setiap hari. Tentu saja, pekerjaan yang sesuai dan tidak melanggar ajaran agama Islam.

3. Bersikap Sabar dan Menahan Marah

Seiring bertambahnya usia orang tua, ada kalanya muncul sikap “rewel” yang membutuhkan banyak kesabaran. Sifat tersebut cenderung emosional dan dapat muncul karena beberapa faktor, salah satu yang terpenting adalah kondisi tubuh dan kesehatan orang tua yang menurun.

Dalam situasi seperti ini hendaklah seorang anak mampu menyeimbangi kondisi mental dan fisik orang tua. Melakukan perbincangan yang lebih ramah ketika ada masalah yang harus diselesaikan.

Serta mencoba untuk menahan amarah jika memang ada kesalahpahaman yang tidak dapat diterima oleh orang tua.

4. Merawat Ketika Sakit

Dalam kondisi tubuh yang lemah dan seringkali sakit, seorang anak harus siap untuk merawat orang tua ketika sakit. Sebagaimana ajaran Islam, bahwa merawat orang tua kita dalam kondisi tua dan sakit merupakan tindakan penting dalam berbakti kepada orang tua.

Kondisi fisik orang tua bisa berbeda-beda, ada yang rentan mendapatkan sakit dan ada yang tidak. Bagaimanapun juga, seorang anak sebagai bentuk bakti harus siap merawatnya. Sebab, orang tua lah yang telah merawat dalam segala kondisi seorang anaknya sejak kecil.

5. Mendoakan Orang Tua yang Sudah Meninggal

Ketika Anda harus menghadapi kenyataan bahwa orang tua telah meninggal dunia, bukan berarti tugas seorang anak berakhir. Sebagai seorang anak sudah seharusnya memandikan dan menghantarkan orang tua yang telah meninggal ke pemakaman sesuai syariat Islam.

Seorang anak yang mau mendoakan orang tua yang telah meninggal merupakan amal jariyah bagi orang tua. Amal tersebut menunjukkan bahwa orang tua telah berhasil mendidik anaknya. Tindakan ini merupakan sikap berbakti kepada orang tua yang telah meninggal dunia.

Setelah mengetahui keutamaan berbakti kepada orang tua, sudah sepatutnya dapat diamalkan oleh umat muslim. Ketika Anda mengamalkan nilai tersebut, tentu akan menjadi panutan. Seorang anak juga akan senantiasa bersikap baik terhadap orang tua dan lingkungannya.

Kenapa Allah Memberikan Keutamaan Menyantuni Anak Yatim?

Kenapa Allah Memberikan Keutamaan Menyantuni Anak Yatim?

keutamaan menyantuni anak yatim

Setiap anak tidak bisa memilih saat dilahirkan ke dunia dalam kondisi seperti apapun. Tidak ada yang meminta dengan kondisi orang tua yang tidak lengkap ataupun tidak ada ayah atau anak yatim. Oleh karena itu, keutamaan menyantuni anak yatim adalah hal utama yang harus dilakukan.

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim dalam Islam

Yatim berarti seseorang anak yang di tinggal oleh ayahnya dan anak tersebut belum baligh. Bagi anak yatim yang sudah baligh diwajibkan agar walinya mau menyerahkan harta kepadanya tetapi sesudah diuji. Keutamaan keutamaan menyantuni anak yatim dalam islam diantaranya :

  • Memperoleh rasa kedekatan dengan nabi Muhammad di surga, dan rasanya sedekat sela-sela jari tangan Anda. Betapa bahagianya seseorang yang dekat dengan beliau, melebihi suatu apapun di dunia ini.
  • Mendapat perlindungan pada hari kiamat yang akan datang. Karena dengan menyantuni anak yatim makan anak tersebut akan mendoakan. Dengan doa yang terbaik dan akan memudahkan jalan menuju surga.
  • Kebutuhan hidup akan terpenuhi. Jika menyantuni anak yatim itu dilakukan maka seperti berinfak di jalan Allah, dan Allah pun akan melipat gandakan harta seseorang yang mau menyantuni anak yatim.
  • Sifat murah hati merupakan keutamaan orang yang menyantuni anak yatim. Orang yang memberikan kasih sayangnya kepada orang lain maka dia juga akan memperoleh kasih sayang orang lain terhadapmu.
  • Menyantuni anak yatim akan membawa berkah ke dalam rumah. Karena, anak yatim adalah anak yang mulia dan selalu dijaga oleh Allah, apalagi kalau mengasuhnya di rumah.

Hadits tentang keutamaan menyantuni anak yatim tersebut diatas memberikan motivasi bahwa anak yatim membutuhkan bimbingan dan kasih sayang dari keluarga karena keuangannya yang tidak lengkap. Maka perlu orang lain yang menggantikan peran sebagai keluarga mereka.

Sayangi dan asuh anak yatim tersebut agar menjadi pribadi yang baik dengan akhlak yang baik serta pendidikan yang memadai. Jangan mengasuh anak yatim dan berbuat kejahatan kepada mereka.

  • Mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Didiklah anak yatim itu dengan akhlak yang baik, agar dimuliakan juga oleh Allah. Beri mereka ilmu dan bentuk pribadi mereka dengan selayaknya mendidik anak Anda sendiri.

Manfaat Untuk Orang yang Menyantuni Anak Yatim

Dengan menyantuni anak yatim Anda tidak akan menjadi miskin, sebab mengeluarkan harta untuk orang lain atau kepada anak yatim sangat bermanfaat untuk melipat gandakan harta Anda di akhirat. Anda hidup didunia agar dapat saling bermanfaat antar sesama.

Berikut Manfaat untuk orang yang menyantuni anak yatim:

  • Memperkuat keimanan Anda kepada Allah. Dengan menyantuni anak yatim akan menjadikan kekuatan iman yang besar dan tidak mudah terpengaruh.
  • Dapat saling berbagi dan memperoleh kesenangan. Orang yang membagi bahagianya bersama anak yatim pasti juga akan memperoleh kebahagian dan kepuasan dalam hati mereka.
  • Menjauhkan diri dari sifat riya, iri hati dan menang sendiri serta ikhlas dalam berbagi. Karena menyantuni anak yatim tidak perlu dibanggakan, hanya perlu ditanamkan dalam hati.
  • Menyantuni anak yatim bisa mengajarkan anak-anak Anda tentang kepedulian antar sesama, saling berbagi tanpa pamrih dan tidak mengharapkan suatu apapun kecuali pahala serta ridlo Allah.
  • Saling tolong-menolong dan bertaqwa kepada Allah. Tolong-menolong merupakan hasil dari ketakwaan Anda kepada Allah. Didik anak yatim dengan agama yang kuat.
  • Berkata-kata yang baik, sopan dan santun. Dengan berkata baik, sopan dan santun akan membuat setiap orang mendoakan yang terbaik dalam hal apapun.
  • Menyantuni anak yatim dapat menghindarkan dari azab yang pedih dengan syarat ikhlas memberi ke sesama manusia. Karena doa anak yatim akan diijabah oleh Allah karena kemuliaannya.
  • Menyehatkan jasmani dan rohani, agar tetap bisa beraktivitas seperti biasanya,tanpa kendala apapun berkat doa anak yatim yang disedekahi.
  • Harta akan dilipat gandakan sesuai isi hati Anda yang terdalam dengan perasaan ikhlas. Dengan Anda ikhlas menyantuni anak yatim maka timbal baliknya akan terasa di kemudian hari dengan harta yang berlipat-lipat.

Keutamaan Untuk Orang yang Menyantuni Anak Yatim

Keutamaan menyantuni anak yatim merupakan suatu akhlaq yang sangat mulia di mata Allah dan  sesama manusia. Dengan menyantuni anak yatim Anda akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda. Oleh karena itu, harus memberikan bantuan kepada anak tersebut.

Hadits keutamaan menyantuni anak yatim ini menunjukkan betapa besarnya keutamaan yang Anda peroleh dari menyantuni anak yatim. Pahala orang yang meyantuni anak yatim juga besar. Imam Bukhari mencantumkan hadits ini dalam suatu bab. Makna hadits ini adalah :

  1. Seorang yang menyantuni anak yatim di dunia akan berkedudukan yang tinggi di surga serta dekat dengan kedudukan Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam. Karena anak yatim adalah anak yang mulia di mata Allah dan akan ditinggikan derajatnya.
  2. Menanggung anak yatim, adalah mengurusi dan memperhatikan semua keperluan hidupnya, seperti makan dan minum, pakaian, mengasuh dan mendidiknya dengan pendidikan Islam yang benar.
  3. Anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya sebelum anak tersebut mencapai usia dewasa. Dan anak yatim tersebut membutuhkan kasih sayang dari seorang ayah yang tidak mungkin ia dapatkan kembali di ayah kandungnya.
  4. Hikmah menyantuni anak yatim ini berlaku bagi orang yang meyantuni anak yatim dari hartanya sendiri atau harta anak yatim tersebut jika orang itu benar-benar yang mendapat kepercayaan untuk itu.

Seseorang yang gemar menenyantuni anak yatim niscaya akan ditinggikan derajatnya oleh Allah. Apalagi kalau mengurus atau menanggung semua kebutuhannya. Hidup orang tersebut akan selalu diberi kebahagiaan dan kecukupan.

Hikmah Menyantuni Anak Yatim

Islam mendorong kepada umatnya untuk menyantuni anak yatim disekitar. Kasihanilah anak yatim tersebut karena ia sudah kehilangan ayahnya saat membutuhkan. Anak yatim butuh kasih sayang dan pertolongan. Karena tidak mungkin mendapatkan kembali dari ayahnya.

Berikut hikmah menyantuni anak yatim:

  1. Keutamaan dalam menyantuni anak yatim akan mendorong seseorang untuk memiliki akhlak yang mulia. Karena salah satu akhlak mulia adalah dengan menyantuni anak yatim.
  2. Hati akan menjadi lunak dan sabar jika menyantuni anak yatim dan merawatnya. Sebab orang yang menyantuni telah memposisikan dirinya seperti seorang ayah.
  3. Kebutuhan hidup didunia akan terpenuhi dengan menyayangi anak yatim. Karena seorang anak yatim akan membawa banyak rejeki bagi yang mengasuh dan membahagiakan hatinya.

Kasih sayang dan selalu berbuat baik kepada anak yatim. Hal ini, merupakan sebagian dari akhlak yang sangat mulia, tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang. Anda harus memiliki jiwa yang lembut dan kasih sayang yang besar.

Jadilah orang yang lemah lembut, penyantun dan selalu berupaya untuk berbuat baik kepada anak yatim dengan cara yang baik, berikan kenyamanan dan rasa aman ketika anak yatim tersebut dekat. Dengan begitu, secara tidak langsung mengamalkan keutamaan menyantuni anak yatim.

Hikmah dan Keutamaan Qurban

Hikmah dan Keutamaan Qurban

Keutamaan Qurban

Qurban merupakan ibadah dan perintah Allah SWT yang didasarkan pada kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Keutamaan qurban merupakan wujud rasa syukur seluruh umat Muslim kepada Allah atas segala karunia dan nikmat yang telah diberikan.

Beberapa Keutamaan Qurban

Dalam Islam sendiri, terdapat beberapa keutamaan dan hikmah qurban yang harus diketahui umat. Hal ini dikarenakan supaya umat Islam lebih termotivasi untuk melakukan qurban setiap tahunnya. Berikut beberapa keutamaan berqurban:

1. Menjalankan Perintah Allah SWT

Apa keutamaan qurban? Ibadah qurban merupakan salah satu pintu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana ibadah shalat, berqurban juga dapat meningkatkan ketaqwaan. Tidak hanya itu, berqurban juga dapat menjadi bukti ketaqwaan seorang hamba.

Dalam hal ini, Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa ibadah harta benda yang paling mulia pada hari Raya Idhul Adha adalah menyembelih hewan qurban. Sedangkan ibadah badan yang paling utama adalah shalat ‘Ied.

 

2. Saksi Amal Dihadapan Allah SWT

Seseorang yang melaksanakan ibadah qurban akan diberi ganjaran/pahala yang berlipat ganda oleh Allah SWT. Pahala ini akan diberikan kepada seorang hamba selama dalam menyumbangkan hartanya didasari rasa ikhlas dan tanpa pamrih.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, bahwa pada setiap lembar bulu hewan yang diqurbankan akan memperoleh satu kebaikan. Kelak pada hari akhir (kiamat), hewan yang diqurbankan tersebut dapat menjadi saksi dihadapan Allah SWT atas amal seseorang.

3. Berqurban Untuk Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

Keutamaan qurban selain untuk menjalankan perintah Allah SWT juga untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Allah SWT menyukai orang-orang yang menyumbangkan sebagian hartanya untuk beribadah dijalan-Nya.

Sesungguhnya harta yang Allah titipkan kepada manusia terdapat bagian orang lain pula (fakir miskin). Sudah sepantasnya sebagai orang yang mampu dalam segi perekonomian, berqurban adalah wajib dan sebagai bentuk sedekah kepada orang yang membutuhkan.

4. Melaksanakan Ajaran Nabi Ibrahim AS

Berqurban pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Ibadah ini kemudian menjadi ajaran turun-temurun kepada umat Islam hingga sekarang. Dari kisah ini, Allah SWT memberikan hikmah untuk bersedekah melalui qurban.

Berkurban termasuk menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim, yang ketika itu Allah SWT perintahkan ia untuk menyembelih putra tercintanya (Nabi Ismail AS). Pada peristiwa itu, kemudian Allah SWT menggantikannya dengan domba-domba yang dibawa malaikat turun ke bumi.

5. Meningkatkan Empati Sosial

Berqurban memiliki sisi positif pada aspek sosial. Ibadah ini juga dapat memupuk rasa solidaritas sesama umat Islam. Seseorang yang berqurban juga dapat menyedekahkan sebagian harta milik orang lain yang dititipkan kepadanya.

Sebagaimana diketahui bahwa memakan daging bagi fakir miskin adalah suatu yang sangat jarang. Dengan adanya qurban, maka semua akan merasakan. Distribusi daging qurban mencakup seluruh kaum Muslimin, baik dari kalangan fakir miskin maupun yang kalangan mampu.

6. Bukti Syukur Kepada Allah SWT

Setiap apa yang didapatkan umat Islam haruslah senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Begitupun harta yang dimiliki wajib untuk disyukuri. Sebagai keutamaan berqurban, salah satu cara untuk mensyukuri harta benda yang telah Allah SWT berikan adalah dengan menyedekahkannya.

Bentuk rasa syukur ini juga menjadikan rezeki yang didapatkan penuh keberkahan. Rezeki yang berkah akan membawa seseorang dalam hidup yang tenang dan cukup. Bersyukur bagi umat Islam hukumnya wajib, maka berqurban menjadi salah satu bukti bersyukur terhadap harta yang dimiliki.

Hukum Berqurban

Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i, hukum berqurban adalah Sunnah Muakad. Sedangkan secara hukum syara’, qurban hukumnya tidak wajib, kecuali berqurban sebagai bentuk nadzar yang wajib dilakukan kepada Allah SWT.

Namun beberapa ulama’ termasuk Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah qurban bagi yang mampu hukumnya adalah wajib, selama tidak dalam keadaan safar (bepergian).

Lagi pula, terlepas dari apapun hukumnya, tidak akan merugi seseorang yang selalu berqurban setiap tahunnya. Sebab dengan berqurban juga dapat menabung pahala di akhirat kelak. Islam mengajarkan seluruh umat untuk selalu menjalankan perintah-Nya.

Keutamaan Pelaksanaan Qurban

Idhul Adha atau hari raya qurban jatuh pada tanggal 10 bulan Dzulhijjah. Harus diketahui bahwa keutamaan pelaksanaan qurban hendaknya dilakukan pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat, yaitu setelah shalat Idhul Adha.

Para ulama bersepakat bahwa tidak diperbolehkan seseorang menyembelih sebelum fajar subuh terbit. Sebab hewan yang disembelih sebelum shalat ‘ied adalah daging hewan biasa yang diperuntukkan untuk keluarga sendiri, dan tidak dinamakan qurban. Demikian nukilan kesepakatan dari Ibnul Mundzir.

Keutamaan Hewan Qurban

Keutamaan hewan qurban adalah harganya yang mahal dan dagingnya yang banyak. Oleh karenanya, hewan yang diqurbankan haruslah hewan yang sehat, besar dan gemuk. Tingkatan utama hewan yang diqurbankan adalah unta, sapi, kemudian kambing.

Hewan yang disukai menjadi keutamaan qurban. Sedangkan menurut sifatnya, hewan yang diqurbankan harus memenuhi sifat-sifat yang sempurna dari binatang ternak. Diharamkan menjual bagian dari hewan qurban baik dagingnya, kulitnya atau pun bulunya.

Kriteria Hewan Qurban

Hewan qurban yang disembelih adalah hewan ternak seperti unta, sapi/kerbau, dan kambing/domba, baik jantan maupun betina, dengan berbagai jenisnya. Selain sehat dan tidak cacat seperti yang dijelaskan di atas, hewan yang akan disembelih haruslah Musinnah (hewan ternak yang sudah dewasa).

Berikut kriteria dan syarat hewan qurban:

1. Umur

Untuk hewan kambing minimal yang telah berumur 2 tahun dan dikhususkan untuk satu orang. Sedangkan domba minimal 6 bulan. Kemudian hewan sapi/kerbau minimal yang telah berumur 2 tahun dan dikhususkan untuk tujuh orang. Sedangkan unta minimal berumur 5 tahun untuk sepuluh orang.

2. Tidak Boleh Cacat

Kondisi hewan yang hendak diqurbankan harus terbebas dari cacat. Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadis, cacat yang dimaksud adalah terlihat buta sebelah, memiliki sakit yang jelas, terlihat pincang secara jelas, dan sangat kurus atau tidak memiliki sumsum tulang.

3. Jelas kepemilikannya

Syarat hewan qurban harus merupakan milik orang yang berqurban secara sah. Dapat berarti yang sudah dirawat sejak kecil maupun secara resmi dibeli dari orang lain. Hewan qurban tidak sah apabila berasal dari perampokan, pencurian, gadai atau pun hewan warisan yang belum dibagi.

Dari perayaan hari raya qurban dan keutamaannya, Anda bisa mendapatkan banyak manfaat dan kebaikan. Kebaikan yang membawa hubungan baik kepada Allah SWT dan sesama umat Muslim. Dan juga kebaikan yang tidak hanya dirasakan di dunia, namun juga di akhirat kelak.

Demikian beberapa keutamaan qurban yang dapat memotivasi umat Muslim untuk berqurban. Dalam setiap ajaran Allah SWT, selalu ada hikmah bagi kita semua. Hikmah ini menjadikan manusia lebih meningkatkan rasa syukur terhadap nikmat yang diberikan Allah SWT. Semoga bermanfaat!